Pondasi Kuno dari Tatatan Batu Bata Kembali Muncul di Desa Banjarejo

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Di lokasi penambangan emas di areal sawah Dusun Medang inilah terlihat pondasi kuno dari tatanan batu bata. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk kedua kalinya, ditemukan pondasi kuno dari tatatan batu bata merah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Kali ini, lokasi munculnya pondasi kuno berada di areal sawah milik Jasmo yang masuk wilayah Dusun Medang. 

Pondasi kuno yang terlihat panjangnya hanya sekitar 1 meter dan lebarnya sekitar 80 cm. Bangunan kuno ini muncul dari lokasi penggalian untuk mencari perhiasan emas di areal sawah.

“Kedalaman penggalian sekitar 2,5 meter. Sedangkan luas lahan penambangan sekitar 2 x 2 meter. Sebelumnya, pondasi itu tidak begitu kelihatan karena tertutup air,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik, Kamis (8/12/2016).

Pada awal Oktober 2015 lalu, untuk pertama kalinya ditemukan pondasi serupa. Lokasinya di areal sawah di Dusun Nganggil. Pondasi yang ditemukan pertama yang sudah sempat tergali, panjangnya lebih dari 300 meter. Meski begitu, ujung pondasinya belum ditemukan.

Lokasi penemuan kedua berjarak sekitar 150 meter sebelah barat dari pondasi yang ditemukan pertama. Saat penemuan pondasi pertama, lokasi ini dijadikan tempat parkir kendaraan roda empat atau truk pengunjung.

Menurut Taufik, munculnya pondasi terbaru dinilai ada hubungannya dengan penemuan pertama. Selain jaraknya tidak terlalu jauh, arah bangunan ternyata berbeda.

Penemuan pondasi pertama, arahnya membujur dari utara ke selatan. Sedangkan, pondasi yang ditemukan barusan arahnya membujur dari barat ke timur. “Melihat kondisi di lapangan, jika dilakukan penggalian ke arah timur di lokasi yang kedua, kemungkinan bertemu dengan pondasi ditemukan pertama. Jadi, analisa saya, pondasi yang ketemu tahun lalu, arahnya tidak lurus ke utara tetapi berbelok ke barat. Untuk menyimpulkan lebih tepat, nanti biar disampaikan oleh ahlinya. Saya sudah koordinasikan pada beberapa instansi terkait soal ini,” kata pria yang hobi naik gunung itu.

Taufik menambahkan, jika dihubungkan dengan keyakinan warga dengan sebuah lokasi yang diyakini sebagai Keraton Kerajaan Medang Kamulan, posisinya juga tepat. Lokasi yang diyakini sebagai keraton itu berada di sebelah barat pondasi pertama. Sementara dari posisi pondasi kedua, letak keraton ada di sebelah utaranya.

“Dari keterangan ahli dari Balai Arkeologi Yogyakarta lalu, pondasi ini merupakan batas sebuah bangunan atau wilayah tertentu. Kalau melihat munculnya pondasi kedua, perkiraan bangunan ada di barat pondasi lama. Di situ, kebetulan selama ini diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan. Untuk membuktikan kebenarannya, masih butuh proses panjang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ingin Mengungkap Keberadaan Kerajaan Medang Kamulan di Grobogan? Ini Langkah yang Harus Dilakukan

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini sudah diurug kembali beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bangunan kuno yang ditemukan di Bajarejo. Bangunan kuno ini sudah diurug kembali beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya untuk mengungkap misteri Kerajaan Medang Kamulan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sangat mungkin untuk dilakukan. Caranya, dengan membongkar tanah yang ada di sekitar lokasi penemuan bangunan kuno dari tatanan batu bata di areal sawah Dusun Medang.

“Dari keterangan peneliti, tidak jauh dari lokasi ditemukannya pondasi kuno dari batu bata itu terdapat sebuah bangunan. Nah, untuk bisa mengungkapkan bangunan apa yang ada di situ harus menggali di sekitar kawasan tersebut. Pertanyaannya, mau apa tidak melakukan upaya ini,” kata Ketua Komunitas Grobogan Corner (GC) Badiatul Muchlisin Asti.

Untuk melakukan penggalian kawasan memang tidak bisa dilakukan dengan mudah. Ada beberapa kendala yang dihadapi di lapangan. Di samping itu, butuh biaya dan peralatan yang memadai untuk menggali di areal sawah berbentuk teras siring itu.

Terkait dengan kondisi itu, pihaknya meminta Pemkab Grobogan untuk segera mengambil langkah terkait ditemukannya bangunan kuno tersebut. Sebab, bangunan itu sudah bisa dipastikan peninggalan zaman yang tidak ternilai harganya.

Menurutnya, penemuan bangunan kuno itu harus segera disikapi segera dan serius. Sebab, ini jadi momentum membangkitkan kembali legenda besar yang nyaris tenggelam akibat ketidakpedulian selama ini.

“Karena kurangnya kepedulian, benda-benda kuno yang ditemukan di sana sudah banyak yang dijual pada pihak lain. Nah, hal ini jangan sampai terulang lagi. Jadikan momen penemuan bangunan kuno untuk menyingkap misteri yang ada di Banjarejo,” katanya.

Bangunan kuno itu sendiri saat ini sudah kembali ditutup tanah. Sebab, areal sawah tempat ditemukannya benda tersebut dipakai pemiliknya untuk bercocok tanam. Meski ditutup namun titik tempat adanya bangunan sudah ditandai. Sehingga sewaktu-waktu bisa digali dengan tepat.

Sebelum ditutup, panjang bagunan yang bisa dilihat mencapai 40 meter. Membentang dari arah utara menuju ke selatan. Namun pada kenyataannya, bangunan kuno itu panjangnya belum ketahuan dengan pasti. Soalnya, beberapa waktu lalu sempat dilakukan penggalian beberapa titik lagi dengan radis 500 meter ke arah selatan. Di setiap titik penggalian ini masih saja ditemukan pondasi kuno.

“Saya tidak tahu berapa panjang sebenarnya bangunan kuno tersebut. Bisa jadi ada 1 km panjangnya. Kami berharap, pemerintah bisa turun tangan untuk menangani masalah ini sehingga bisa membuka tabir kerajaan Medang Kamulan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Ia menambahkan, bangunan kuno itu ditutup karena dikhawatirkan rusak jika terkena air hujan. Sebelum diuruk, bangunan itu ditutup dengan paranet atau karung plastik yang berpori dan kemudian diurug tipis dengan tanah. Hal itu sesuai dengan rekomendasi dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Editor : Kholistiono

Bangunan Kuno dari Tatanan Batu Bata jadi Penemuan Paling Fenomenal di Banjarejo

Warga terlihat ramai melihat bangunan kuno yang ditemukan di areal persawahan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga terlihat ramai melihat bangunan kuno yang ditemukan di areal persawahan Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Dari sekian banyak benda bersejarah di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, barangkali penemuan bangunan kuno mirip pondasi yang terbuat dari tumpukan batu bata dinilai paling fenomenal. Sebab, sejak penemuan itu mencuat, ada ribuan orang yang berkunjung ke desa ini.

Tidak hanya warga Grobogan saja, banyak juga orang dari luar kota yang datang ke sana. Bahkan, ada juga orang dari Kalimantan Timur yang melihat penemuan itu lantaran muncul kabar jika bangunan kuno tersebut merupakan bagian Istana Medang Kamulan.

Bangunan kuno dari tatanan batu bata itu ditemukan di areal sawah di Dusun Nganggil (12/10/2015). Panjang pondasi yang sudah sempat digali dan terlihat ini ada 40 meter. Membentang dari arah utara menuju ke selatan.

Batu bata yang dipakai membuat bangunan itu bentuknya lebih besar dibandingkan batu bata yang lazim saat ini. Panjang batu bata itu 30 cm, lebarnya 20 cm, dan ketebalannya 8 cm. Warnanya juga lebih merah dibandingkan batu bata saat ini.

Tinggi bangunan mirip pondasi itu sekitar 40 cm. Lebarnya ada 30 cm. Tumpukan paling atas ditaruh batu bata yang dipasang dengan posisi melintang. Sementara batu bata pada tiga tumpukan dibawahnya dipasang dengan posisi berdiri.

Penemuan bangunan kuno itu terjadi secara kebetulan. Yakni, saat para petani tengah membuat sumur gali dengan dana bantuan dari Kementerian Pertanian. Saat menggali sedalam dua meter, petani menemukan batu bata di dalam tanah.

Adanya keyakinan jika Kerajaan Medang Kamulan berdiri di Desa Banjarejo menyebabkan penemuan itu langsung jadi pusat perhatian. Tidak lama setelah kabar itu menyebar, orang mulai berduyun-duyun datang ke sana. Setiap hari, tidak kurang 500 orang yang penasaran untuk melihat bentuk bangunan kuno tersebut.

“Pengunjung bangunan kuno waktu itu memang luar biasa banyaknya. Bahkan saat hari Minggu atau libur, pengunjungnya sempat sampai 2.000 orang,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Sementara itu, berdasarkan keterangan peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang datang ke lokasi, ditegaskan jika bangunan itu termasuk benda bersejarah. Sebab, dilihat dari cirinya, diperkirakan bangunan itu peninggalan abad 15 hingga 16.

Menurutnya, bangunan kuno itu dinilai merupakan sebuah batas ruang tertentu. Artinya, tidak jauh dari lokasi pernah ada bangunan yang lebih besar. Bisa sebuah rumah, pusat aktivitas waktu itu atau sebuah bangunan kerajaan.

Editor : Kholistiono

Aktivitas Rutin Tahunan Warga Banjarejo Ini Makin Menguatkan Adanya Kerajaan Medang Kamulan

 Warga Desa Banjarejo sedang mencari emas di areal persawahan. Hal ini biasanya rutin dilakukan tiap tahun jelang musim tanam padi (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Warga Desa Banjarejo sedang mencari emas di areal persawahan. Hal ini biasanya rutin dilakukan tiap tahun jelang musim tanam padi (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Sejak bertahun-tahun lalu ada aktivitas yang tidak lazim dilakukan para petani di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Di mana, mereka ini terlihat melakukan kegiatan layaknya orang mencari emas di kawasan pertambangan.

Dengan menggunakan tempayan, para petani mendulang tanah sawah untuk mencari emas. Kegiatan seperti ini ternyata seperti sudah jadi semacam tradisi menjelang musim tanam padi. “Menjelang musim tanam padi memang banyak petani nyari emas di areal sawah. Kegiatan ini akan berakhir ketika benih padi sudah ditanam di areal sawah,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurutnya, aktivitas tersebut masih terjaga, lantaran selama ini sudah banyak warga yang menemukan emas. Wujudnya bukan butiran emas seperti di daerah tambang, tetapi sudah berupa perhiasan. Seperti kalung, cincin, anting-anting, gelang dan pernak-pernik emas lainnya.“Kalau dipikir memang kelihatan aneh. Tetapi, kenyataannya memang itu betul terjadi dan bukti serta saksinya cukup banyak,” katanya.

Sebagian perhiasan yang ditemukan, masih ada yang disimpan warga. Namun, banyak di antaranya sudah hilang lantaran dijual pada pihak lain atau kolektor barang antik. Tidak semua wilayah Desa Banjarejo terdapat harta karun perhiasan emas. Selama ini, perhiasan emas itu banyak ditemukan di areal sawah yang masuk wilayah Dusun Medang. Wilayah inilah yang diyakini sebagai tempat berdirinya Kerajaan Medang Kamulan yang dulu dipimpin raja raksasa bernama Prabu Dewata Cengkar.“Kalau benda-benda peninggalan kerajaan, kebanyakan ditemukan di Dusun Medang. Kalau di luar itu biasanya berupa fosil binatang purba atau peralatan dari keramik,” jelas Taufik.

Beberapa warga ketika dimintai tanggapannya mengakui jika selama ini sudah banyak penemuan perhiasan di kawasan bekas Kerajaan Medang Kamulan tersebut. Terutama, saat datang musim hujan hingga menjelang masuknya masa tanam padi. Pada saat seperti ini, tanah di areal sawah sudah empuk lantaran tergenang air. Kondisi ini memudahkan warga untuk mendulang tanah guna mencari perhiasan.

“Tanah sawah di sini masih tadah hujan, belum kena jaringan irigasi. Jadi, kalau mau mencari perhiasan memang lebih mudah ketika musim hujan seperti ini. Kalau musim kemarau, tanahnya sangat kering dan keras sekali hingga tidak bisa ditanami,” imbuh Martono, warga setempat.

Baca juga : Tentang Istana Kerajaan Medang Kamulan di Banjarejo, Begini Prediksi Supranatural

Editor : Kholistiono

Desa Banjarejo Akhirnya Resmi Ditetapkan jadi Desa Wisata di Grobogan

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Bupati Grobogan Sri Sumarni bersama perwakilan FKPD memukul lesung sebagai tanda diresmikannya Banjarejo sebagai Desa Wisata, Kamis (27/10/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Upaya berbagai pihak untuk menjadikan Banjarejo sebagai salah satu desa wisata di Grobogan akhirnya terwujud. Penetapan Desa Wisata Banjarejo ini dilakukan langsung oleh Bupati Grobogan Sri Sumarni, Kamis (27/10/2016). Acara grand launching Desa Wisata Banjarejo ini dilangsungkan di balai desa setempat.

Selain bupati, peresmian desa wisata juga dihadiri Wakapolres Grobogan Kompol Wahyudi, Ketua DPRD Agus Siswanto dan perwakilan FKPD lainnya. Acara peresmian juga dihadiri hampir semua kepala SKPD, Muspika Gabus, Muspika Ngaringan dan Kepala Desa se-Kecamatan Gabus. Terlihat pula pejabat dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dalam kesempatan itu.

Acara peresmian Desa Wisata Banjarejo ditandai dengan pemukulan drum oleh Sri Sumarni. Kemudian dilanjutkan dengan pemukulan lesung oleh bupati dan jajaran FKPD yang hadir dalam acara tersebut.

Saat menyampaikan sambutan, Sri Sumarni menyatakan, selaku bupati, dia mendukung penuh dijadikannya Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sebagai salah satu desa wisata. Sebab, potensi yang ada di sana memang layak dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan.

“Potensi di Banjarejo, khususnya penemuan benda purbakala dan cagar budaya tidak terdapat di desa lainnya di Grobogan. Oleh sebab itu, potensi tersebut sangat layak dijadikan salah satu andalan pariwisata Grobogan pada masa mendatang. Oleh sebab itu, saya mendukung penuh dijadikannya Banjarejo sebagai desa wisata,” kata Sri Sumarni.

Dalam kesempatan itu, Sri berjanji akan membantu menyiapkan sarana pendukung. Terutama, perbaikan akses jalan menuju Desa Banjarejo supaya memudahkan bagi pengunjung yang akan datang ke sana.

“Beberapa ruas jalan menuju Banjarejo masih ada yang kurang bagus kondisinya. Nanti, perbaikan jalan itu akan kita prioritaskan untuk meningkatkan roda perekonomian sekaligus menunjung desa wisata,” katanya.

Editor : Kholistiono

Tentang Istana Kerajaan Medang Kamulan di Banjarejo, Begini Prediksi Supranatural

Warga berkunjung ke areal persawahan di Desa Banjarejo yang ditemukan bangunan kuno beberapa waktu lalu, yang juga diyakini dahulunya merupakan kerajaan Medang Kamulan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga berkunjung ke areal persawahan di Desa Banjarejo yang ditemukan bangunan kuno beberapa waktu lalu, yang juga diyakini dahulunya merupakan kerajaan Medang Kamulan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Banyaknya penemuan benda kuno di Desa Banjarejo ternyata juga menarik perhatian para ahli supranatural untuk berkunjung ke sana. Selain melihat kondisi nyata, para ahli ini juga melakukan penerawangan sisi lain yang tidak terlihat mata.

“Dari penerawangan yang saya lakukan, ada semacam energi cukup besar di areal persawahan sebelah timur Dusun Medang. Di kawasan itu, terdapat banyak bangunan dan satu di antaranya sangat besar. Kemungkinan, bangunan besar inilah istana kerajaannya,” ungkap Jajang Hidayat, ahli supranatural dari Jawa Barat yang sempat berkunjung ke Banjarejo.

Ia menyatakan, untuk bisa memunculkan bangunan besar itu bukan pekerjaan mudah. Sebab, dari gambaran yang didapat, bangunan itu sudah terpendam cukup dalam. Jika ingin menemukan lokasi itu, butuh peralatan pendukung, seperti backhoe untuk membongkar tanah guna menelisik keberadaan lokasi bangunan yang lebih besar dengan tepat.

Hasto Utomo, supranatural lainnya juga sependapat jika ada bangunan besar di sebelah timur Dusun Medang. Lokasinya ada di sebelah barat tempat penemuan pondasi kuno dari tatanan batu bata yang masuk wilayah Dusun Nganggil.

Secara fakta, hal itu bisa diperkuat dengan adanya penemuan aneka perhiasan emas dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar perhiasan itu ditemukan di sebelah barat bangunan kuno. Tetapi, lokasi penemuan itu tersebar di beberapa titik.

“Dari keterangan warga, perhiasan emas itu banyak ditemukan di sebelah barat. Sementara di sebelah timur lebih banyak ditemukan benda kuno dari batu. Jadi dari sini bisa saya simpulkan kalau lokasi sebelah barat mungkin tempat pemukiman besar,” kata supranatural dari Solo yang berkumis tebal itu.

Kemungkinan adanya bangunan besar atau induk di sisi barat memang juga mendapat pembenaran dari sebagian warga Banjarejo. Hal itu dikuatkan pula dengan adanya satu lokasi di sebelah timur Dusun Medang yang disebut ‘Kraton’ oleh warga setempat. Lokasi yang disebut kraton itu merupakan salah satu bagian dari 9 punthuk yang ada di Banjarejo. Posisinya berada di sebelah selatan sungai dan di sekitarnya merupakan areal persawahan.

Luasnya areal ini sekitar 500 meter persegi. Di lahan ini banyak terdapat belasan pohon. Beberapa waktu lalu, lokasi kraton dipakai untuk lahan parkir kendaraan pengunjung yang mau melihat pondasi kuno dari arah Dusun Medang. Posisi kraton ini berada di sebelah barat bangunan kuno mirip pondasi itu.

Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik ketika dimintai tanggapannya menyatakan, lokasi itu sudah disebut sebagai kraton sejak dulu. Dari cerita sesepuh desa, lokasi itu disebut kraton karena diyakini sebagai pusat Kerajaan Medang Kamulan.

“Cerita yang berkembang turun temurun memang seperti itu. Soal kebenarannya masih perlu dibuktikan lagi. Tetapi, kalau melihat kondisi riil, bisa jadi hal itu benar karena posisi pusat kerajaan zaman dulu kebanyakan ditempatkan dekat dengan sungai yang waktu itu berfungsi sebagai jalur transportasi,” katanya.

Baca juga :9 Gundukan Tanah di Areal Sawah Desa Banjarejo Masih jadi Misteri yang Belum Terpecahkan Sampai Sekarang

Editor : Kholistiono

9 Gundukan Tanah di Areal Sawah Desa Banjarejo Masih jadi Misteri yang Belum Terpecahkan Sampai Sekarang

Salah satu gundukan tanah yang berada di areal sawah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang kini masih jadi misteri (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu gundukan tanah yang berada di areal sawah Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang kini masih jadi misteri (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selain benda-benda kuno yang sudah ditemukan, masih terdapat satu lagi misteri di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus yang belum berhasil dipecahkan hingga saat ini. Yakni, adanya 9 gundukan tanah di areal sawah yang berada di Dusun Nganggil dan Dusun Medang. Oleh warga setempat, gundukan tanah di tengah hamparan sawah itu disebut punthuk. Lokasi punthuk itu menyebar. Jarak paling jauh antar punthuk berkisar 1 km. Sedangkan jarak terdekat sekitar 200 meter. Tinggi punthuk berkisar 1 hingga 1,5 meter.

Luas tiap punthuk tersebut berbeda-beda. Ada yang seluas lapangan badminton. Ada juga yang luasnya seukuran lapangan voli dan tenis. Lokasi punthuk ini juga berdekatan dengan tempat ditemukannya pondasi kuno dari tatanan batu bata.

Dari cerita warga, punthuk itu sudah ada sejak lama. Hingga sekarang, warga tidak berani meratakan punthuk tersebut dan membiarkannya tetap dalam kondisi seperti itu. Warga meyakini, punthuk-punthuk itu dinilai punya nilai historis dengan sejarah Kerajaan Medang Kamulan yang mereka yakini pernah berdiri didesanya ribuan tahun lalu. Makanya, warga setempat tidak berani mengganggu keberadaan punthuk yang didalamnya disebut-sebut jadi tempat penyimpanan barang berharga pada masa lampau.

“Keberadaan punthuk-punthuk itu barangkali sudah ribuan tahun lamanya. Hingga saat ini, keberadaan punthuk itu masih dilestarikan karena dinilai jadi bagian sejarah yang ada di Desa Banjarejo sini,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Soal anggapan kalau punthuk itu menyimpan benda berharga, Taufik tidak berani memastikan. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, memang ada benda-benda kuno yang ditemukan di lokasi punthuk tersebut atau disekitarnya. Baik berupa perhiasan emas atau peralatan kuno dari batu.

Sementara itu, saat berkunjung ke Desa Banjarejo beberapa waktu lalu, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta sempat melihat-lihat dan mengamati keberadaan salah satu punthuk yang ada di selatan pondasi kuno dari tatatan batu bata. Dalam skala arkeologi ruang, punthuk-punthuk ini menjadi bagian penting dan integral di dalam situs Medang. “Disekitar situ sempat ditemukan fragmen artefak yang cukup padat. Hal ini menjadi penting artinya untuk mengetahui “isi” dari masing-masing punthuk untuk mendapatkan data arkeologi di sana,” kata Sugeng Riyanto, ketua tim peneliti dari Balar Yogyakarta saat itu.

Dalam kunjungan pertamanya di Desa Banjarejo tahun 2014, sempat diambil beberapa sampel fragmen artefak. Yakni, dari fragmen keramik, tembikar, dan tulang. Berdasarkan analisis sementara atas fragmen keramik yang berasal dari Dinasti Sung, Ming, hingga Ching maka diperkirakan situs konologi di situs Medang berada antara abad ke-12 hingga abad ke-17 Masehi.

Baca juga : Keberadaan Museum di Desa Banjarejo Grobogan Diperlukan Menyusul Semakin Banyaknya Koleksi Benda Purbakala

Editor : Kholistiono

Keberadaan Museum di Desa Banjarejo Grobogan Diperlukan Menyusul Semakin Banyaknya Koleksi Benda Purbakala

 Ratusan koleksi benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo. Dengan banyaknya temuan tersebut, diperlukan adanya museum untuk menampung benda bersejarah itu (MuriaNewsCom/Dani Agus)


Ratusan koleksi benda purbakala yang ditemukan di Desa Banjarejo. Dengan banyaknya temuan tersebut, diperlukan adanya museum untuk menampung benda bersejarah itu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Keberadaan museum di Banjarejo saat ini tampaknya sudah sangat diperlukan. Sebabnya, jumlah koleksi benda purbakala maupun cagar budaya yang ada terus bertambah.

Saat ini, semua benda bersejarah ini sudah tersimpan jadi satu. Tepatnya, di rumah Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik. Banyaknya benda yang ada di situ menjadikan rumah Taufik saat ini terlihat seperti sebuah museum.

“Sejauh ini, kita belum punya tempat khusus yang representatif untuk menyimpan benda bersejarah tersebut. Makanya, untuk sementara saya tampung jadi satu dirumah. Tepatnya di ruang tamu depan,” cetus Taufik.

Taufik dan warga Banjarejo berharap agar kedepan ada museum yang didirikan disana. Minimal, ada tempat penampungan khusus terlebih dahulu.

Hal itu perlu dilakukan karena jumlah benda bersejarah terus bertambah tiap hari. Khususnya, benda purbakala yang mencapai 500 fosil berbagai hewan purba.

“Selama satu tahun terakhir, jumlah penemuan benda bersejarah ini meningkat pesat. Oleh sebab itu, kami butuh tempat khusus untuk menampung sekaligus memajang benda-benda bersejarah ini. Soalnya, pengunjung yang datang juga terus bertambah,” katanya.

Pada awalnya, ruang tamu di rumah Taufik masih bisa menampung benda bersejarah. Namun, saat ini agak kesulitan untuk menatanya lantaran bendanya bertambah dan lokasinya tidak terlalu luas.

Taufik mengaku, merasa bersyukur karena upaya pelestarian benda bersejarah itu mendapat dukungan warga dan berbagai pihak lainnya. Seperti dari pihak Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dan Balai Arkeologi Yogyakarta yang memberikan penyuluhan dan pelatihan cara merawat benda-benda bersejarah. Bahkan, tim ahli dari BPSMP sempat melangsungkan kegiatan di Banjarejo selama dua minggu pada akhir tahun 2015 lalu.

Selain melakukan penelitian, tim ahli juga melakukan upaya konservasi, registrasi, dan identifikasi benda purbakala yang sudah ditemukan selama ini. Mereka ini melakukan perawatan terhadap benda purbakala agar awet dan tidak rusak. Beberapa potongan fosil juga akan dikumpulkan sesuai jenis hewannya.

Baca juga :Warga Banjarejo Grobogan Sangat Yakin jika Kerajaan Medang Kamulan Berada di Desanya

Kemudian, tim ahli juga melakukan penataan benda-benda purbakala biar terlihat rapi. Tim ini juga membuatkan tulisan singkat berisi cerita tentang benda purbakala tersebut.

“Jadi, personel BPSMP yang datang ke Banjarejo cukup komplit. Ada, ahli arkelogi, kimia, biologi, hingga desain komunikasi visual. Dengan bantuan dari berbagai pihak inilah, kondisi ruang penyimpanan benda bersejarah jadi lebih menarik,” jelasnya.

Harapan masyarakat Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus agar didirikan sebuah musem di situ tampaknya bukan suatu hal yang mustahil diwujudkan. Hal itu berdasarkan pernyataan dari Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi.

“Soal pendirian museum di Banjarejo bisa saja dilakukan dalam jangka panjang. Kita lihat dulu seberapa besar potensi benda bersejarah yang ada disana. Saya sangat mengapresiasi upaya Kepala Desa Banjarejo untuk mengumpulkan penemuan selama ini dalam satu tempat,” tegasnya.

Sukron menyatakan, proses pendirian Museum Sangiran juga dilakukan cukup panjang. Berawal dari penemuan-penemuan benda purba sejak tahun 1934 yang awalnya juga disimpan di rumah kepala desanya.

Setelah banyak baru dibuatkan tempat tersendiri dan akhirnya didirikan tempat penyimpanan hingga akhirnya menjadi sebuah museum. Kemudian, pada tahun 2007 museum itu dirombak total dan dibangun sangat besar seperti yang terlihat saat ini.

Baca juga : Sebagian Temuan Benda Bersejarah di Banjarejo Grobogan Sudah Terjual

Editor : Kholistiono

Cincin Motif Kambing yang Ditemukan Busroni Ini Pernah Ditawar Rp 50 Juta

Busroni menunjukkan cincin yang ditemukan sekitar 500 meter di sebelah barat lokasi penemuan bangunan kuno dari batu bata yang bentuknya mirip pondasi di Desa Banjarejo, Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Busroni menunjukkan cincin yang ditemukan sekitar 500 meter di sebelah barat lokasi penemuan bangunan kuno dari batu bata yang bentuknya mirip pondasi di Desa Banjarejo, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Meski selama ini sudah banyak temuan benda bersejaran di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, dan banyak juga yang menjual barang temuan tersebut, namun masih ada juga warga Banjarejo yang menyimpan penemuannya hingga sekarang. Salah satunya adalah Busroni, Juru Kunci Batu Pasujudan Petilasan Aji Saka di Dusun Medang.

Benda yang ditemukan Busroni ini bentuknya cincin emas dan ada batu akik warna merah hati. Cincin emas itu beratnya 10 gram dengan kadar emas 85 persen atau setara 23 karat. “Cincin ini dipastikan ada kandungan emasnya karena sudah pernah saya cek ke tempat penjualan perhiasan,” katanya.

Selain kandungan emas yang tinggi, batu akik dalam cincin itu juga cukup unik. Yakni, jika diperhatikan dengan teliti, ada motif semacam gambar binatang mitologi yang terlihat. Ada yang mengatakan gambar itu mirip bentuk kambing.

Gambar yang terlihat itu bukan berasal dari ukiran di batu akik. Soalnya, jika dipegang, batu akik itu tampak halus dan rata. Tidak ada bekas goresan sama sekali.

Busroni mengaku sudah memiliki cincin itu cukup lama, lebih dari satu tahun lalu. Cincin itu ditemukan sekitar 500 meter di sebelah barat lokasi penemuan bangunan kuno dari batu bata yang bentuknya mirip pondasi.

“Penemuan itu terjadi kebetulan saja. Ceritanya, saya waktu itu sedang berteduh di bawah pohon di pinggiran sawah dan melihat ada benda berkilau. Setelah saya ambil ternyata cincin ini. Kemungkinan, ini dulu milik bangsawan yang tinggal di kerajaan sini,” jelasnya.

Menurut Busroni, cincin tersebut sudah pernah ditawar orang Rp 50 juta. Tetapi tidak diberikan lantaran dia tidak berniat untuk menjualnya. “Cincin ini adalah salah satu bukti sejarah di sini yang tidak ternilai harganya. Jadi, tidak akan saya jual,” cetusnya.

Baca juga :Ada 4 Era Peradaban Kuno yang Ditemukan di Banjarejo

Editor : Kholistiono

Sebagian Temuan Benda Bersejarah di Banjarejo Grobogan Sudah Terjual

Piring Kuno Dinasti Ming Bergambar Naga Biru Ditemukan Petani saat Mencangkul di Sawah Banjarejo Grobogan beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Piring Kuno Dinasti Ming Bergambar Naga Biru Ditemukan Petani saat Mencangkul di Sawah Banjarejo Grobogan beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Selama 10 tahun terakhir, benda bersejarah yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus sudah tidak terhitung banyaknya. Baik benda purbakala berupa fosil binatang purba maupun benda cagar budaya bekas peninggalan peradaban masa lalu.

Namun, tidak semua benda bersejarah itu bisa dilihat keberadaanya. Soalnya, sebagian di antaranya sudah dijual warga yang menemukan pada pihak lain.

“Memang banyak benda bersejarah yang ditemukan warga sudah dijual. Terutama, benda yang berupa perhiasan dari emas. Hal ini memang sangat disayangkan,” kata Kepala Desa Banjarejo Ahmad Taufik.

Terkait dengan kondisi itu, selaku kepala desa, Taufik sudah membuat upaya untuk menyelamatkan benda bersejarah yang ada di desanya. Termasuk di dalamnya adalah upaya untuk menguatkan adanya bekas Kerajaan Medang Kamulan di Banjarejo.

Cara yang dilakukan, dengan mengumpulkan benda-benda kuno yang sempat ditemukan warga beberapa waktu lalu dan saat ini masih ada barangnya. Sejauh ini, upaya yang dilakukan sudah membuahkan hasil.

Sejumlah warga dengan sukarela bersedia menyerahkan benda kuno yang masih disimpan. Antara lain, puluhan koin dari tembaga yang ada tulisan huruf Cina. Selain itu, ada pula peralatan dapur dari batu dan fosil binatang purba yang dikumpulkan.

Bahkan, foto barang temuan yang sempat didapat warga juga didokumentasikan. Meski barangnya sudah tidak ada lagi. Dengan adanya foto itu setidaknya bisa jadi bahan referensi oleh peneliti.

Selain itu, upaya lainnya adalah melakukan edukasi pada warganya tentang pentingnya barang bersejarah tersebut. Untuk edukasi ini, pihaknya melibatkan berbagai instansi tarkait lainnya. Seperti dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Disporabudpar.

Di samping itu, edukasi juga diberikan komunitas pecinta fosil dan pengunjung dari berbagai daerah. “Kesadaran warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus untuk menyerahkan benda bersejarah yang ditemukan terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Bahkan, anak-anak juga sudah sering menyerahkan fosil yang ditemukan,” katanya.

Baca juga : Kades Banjarejo : Ada Peradaban Besar di Tempat Ini, Tapi Belum Bisa Disimpulkan Itu Kerajaan Medang Kamulan

Editor : Kholistiono

Kerajaan Medang Kamulan Tidak Berhubungan dengan Asal Mula Grobogan

Fosil kepala kerbau yang ditemukan di Desa Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Fosil kepala kerbau yang ditemukan di Desa Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Kerajaan Medang Kamulan Tidak Berhubungan dengan Asal Mula Grobogan. Berdasarkan perjalanan sejarahnya yang terdapat dalam situs resmi Pemkab Grobogan, nama Grobogan sudah dikenal sejak masa kerajaan Mataram Hindu.

Pada masa kerajaan Medang dan Kahuripan, daerah Grobogan merupakan daerah yang penting bagi negara tersebut. Sedang pada masa Mojopahit, Demak, dan Pajang, daerah Grobogan selalu dikaitkan dengan cerita rakyat Ki Ageng Sela, Ki Ageng Tarub, Bondan Kejawan dan cerita Aji Saka.

Pada masa kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan termasuk Daerah Monconegoro dan pernah menjadi wilayah koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo  Adipati Surodiningrat.

Dalam masa Perang Prangwadanan dan Perang Mangkubumen, daerah Grobogan merupakan daerah basis kekuatan Pangeran Prangwedana (RM Said) dan Pangeran Mangkubumi.

Menurut cerita yang beredar di daerah Grobogan, suatu ketika pasukan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngudung dan Sunan Kudus menyerbu ke pusat kerajaan Mojopahit. Dalam pertempuran tersebut pasukan Demak memperoleh kemenangan gemilang. Runtuhlah kerajaan Mojopahit.

Ketika Sunan Ngundung memasuki Istana, dia menemukan banyak pusaka Mojopahit yang ditinggalkan. Benda-benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke Demak. Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati Sunan Ngudung. Sebagai kenangan, maka tempat tersebut diberi nama Grobogan.

Seperti diketahui, grobog adalah sebuah kotak persegi panjang yang digunakan untuk menyimpan uang atau barang yang dibuat dari kayu. Kadang-kadang berbentuk bulat, agar mudah membawanya dan dengan cepat dapat diselamatkan apabila ada bahaya mengancam, misalnya bahaya kebakaran.

Sebagai sebuah pemerintahan kabupaten, Hari Jadi Kabupaten Grobogan ditetapkan pada hari Senin, 21 Jumadilakir, 1650 atau 4 Maret 1726. Pada saat itu Susuhunan Amangkurat IV mengangkat seorang abdi yang berjasa kepada Sunan, bernama Ng. Wongsodipo menjadi Bupati Monconegari Grobogan dengan nama RT Martopuro.

Dalam pengangkatan ini ditetapkan pula wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya, yaitu Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan, dan beberapa daerah di Sukowati bagian Utara Bengawan Sala.

Dari penjelasan di muka, jelas bahwa pangangkatan Bupati Grobogan atas diri Ng. Wongsodipo atau RT Martopuro atau Adipati Puger disertai dengan penyerahan kekuasaan atas daerah-daerah yang menjadi wilayahnya. Ini berarti, bahwa pengangkatan Bupati di sini adalah sebagai Bupati Kepala Daerah.

Sebagai Bupati Patih adalah RT Suryonegoro. Dalam perkembangan selanjutnya sebagai Bupati Kepala Daerah, Adipati Puger menguasai daerah-daerah Demak, Santenan, Cengkal Sewu, Wirosari, Sela, Teras, Karas, Blora dan Jipang, serta daerah-daerah di Sukowati bagian utara Bengawan Sala. Sedang sebutan Adipati merupakan sebutan bagi seorang Bupati Monconagari yang memiliki kedaulatan atas daerah-daerah yang dikuasainya.

Editor : Kholistiono

Ada 4 Era Peradaban Kuno yang Ditemukan di Banjarejo

Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan penelitian di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta saat melakukan penelitian di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Salah seorang peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto menyebutkan, setidaknya ada empat era peradaban yang muncul di wilayah Banjarejo berdasarkan dari benda-benda yang sudah sempat ditemukan warga. Yakni, era purba yang dibuktikan dengan adanya penemuan fosil hewan purba. Salah satunya, kepala kerbau berukuran besar yang diperkirakan berusia 5.000 tahun.

Kemudian, perdaban kuno era megalitikum juga terdapat di Situs Medang. Hal ini ditandai dengan penemuan peralatan dari batu, seperti lesung, pipisan, gandik, dan yoni.

Peradaban pada era Hindu-Budha juga diperkirakan sempat ada di situ. Indikasinya, adanya penemuan peti mati dari kayu, uang kepeng Cina, aneka perhiasan emas, dan guci dari keramik.

Benda-benda kuno peninggalan Dinasti Ming yang  ditemukan warga Desa Banjarejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Benda-benda kuno peninggalan Dinasti Ming yang ditemukan warga Desa Banjarejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Satu era lagi diperkirakan juga ada di Banjarejo. Yakni, akhir era Hindu-Budha dan awal masuknya Islam. Salah satu indikasinya adalah penemuan bangunan kuno yang tertata dari batu bata. Dimana, ada penggunaan spesi dari tanah liat sebagai bahan perekat batu bata merupakan salah satu ciri bangunan pada era awal masuknya Islam.

“Peradaban yang ada di Situs Medang itu memang komplit. Di daerah situs lain, biasanya hanya terdapat satu atau dua era saja yang ditemukan. Melihat kondisi ini, kemungkinan daerah sini dulunya tanahnya sangat subur,” katanya.

Editor : Kholistiono

Kades Banjarejo : Ada Peradaban Besar di Tempat Ini, Tapi Belum Bisa Disimpulkan Itu Kerajaan Medang Kamulan

Kades Banjarejo menunjukkan arca yang ditemukan di kawasan bangunan tua yang ada di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kades Banjarejo menunjukkan arca yang ditemukan di kawasan bangunan tua yang ada di Desa Banjarejo beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Untuk mengungkap misteri keberadaan Kerajaan Medang Kamulan yang disebut—sebut berada di Desa Banjararejo, Kecamatan Gabus Grobogan, salah satunya memang harus dilakukan penelitian dan kajian ilmiah.

Sejauh ini, memang sudah ada berbagai penelitian di sana. Dari hasil penelitian memang menyimpulkan adanya sebuah peradaban besar yang pernah ada di Banjarejo. Hanya saja, hasilnya memang belum menyebutkan adanya kerajaan Medang Kamulan.

“Adanya peradaban besar di Banjarejo pada masa lalu memang sudah tidak diragukan. Hanya saja, belum dipastikan peradaban yang ada tersebut dari kerajaan mana. Ini, perlu ada penelitian khusus,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Sementara itu, salah seorang peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto yang sempat dua kali melakukan observasi di Banjarejo menegaskan, dari hasil penelitian, pengamatan dan penemuan warga, peradaban yang ada di sana dinilai cukup beragam.

“Situs di Banjarejo yang kita sebut dengan nama Situs Medang itu luar biasa. Situs Medang ini layak jadi unggulan dan prioritas penelitian,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Warga Banjarejo Grobogan Sangat Yakin jika Kerajaan Medang Kamulan Berada di Desanya

Ketua Komunitas Grobogan Corner Badiatul Muchlisin Asti (kanan) saat berbincang dengan juru kunci Busroni di Petilasan Aji Saka beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ketua Komunitas Grobogan Corner Badiatul Muchlisin Asti (kanan) saat berbincang dengan juru kunci Busroni di Petilasan Aji Saka beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, diketahui jika pernah ada sebuah kerajaan di Indonesia yang bernama Medang Kamulan. Namun, penguasa kerajaan ini tidak ada satupun yang menyebutkan nama Prabu Dewata Cengkar.

Kerajaan ini merupakan kelanjutan Kerajaan Mataram Kuno yang awalnya berada di daerah Yogyakarta, kemudian pindah ke wilayah Jawa Timur. Kerajaan Medang Kamulan (sering juga disebut Kerajaan Medang, Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) berdiri abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10.

Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi, baik yang bercorak Hindu maupun Budha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Dari literatur, ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. Yaitu, Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur. Masyarakat Banjarejo Meyakini Kerajaan Medang Kamulan Berada di Desanya.

Meski banyak yang meragukan adanya sebuah kerajaan betulan bernama Medang Kamulan dengan rajanya Prabu Dewata Cengkar, namun tidak demikian dengan masyarakat Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. Sebagian besar masyarakat meyakini jika kerajaan itu benar-benar pernah ada di situ pada ribuan tahun lalu.

Selain berdasarkan penemuan benda cagar budaya masa lalu, ada beberapa hal lain yang membuat masyarakat yakin adanya Kerajaan Medang Kamulan. Antara lain, adanya nama Dusun Medang di Desa Banjarejo.

Selama ini, di kawasan ini banyak sekali ditemukan benda-benda cagar budaya. Terutama aneka perhiasan yang terbuat dari emas. Di dusun ini juga terdapat sebuah gundukan tanah yang disebut-sebut tempat berdirinya Keraton Medang Kamulan. Ada juga sebuah batu yang diyakini pernah jadi tempat pasujudan Aji Saka sebelum bertanding melawan Prabu Dewata Cengkar.

“Dalam cerita legenda Aji Saka banyak nama atau tempat yang ada disini maupun sekitar Banjarejo. Misalnya, Bledug Kuwu, Kesongo dan nama Rara Congkek serta banyak lagi lainnya. Jadi, ketika ada keyakinan bahwa Kerajaan Medang Kamulan pernah ada di sini bukan tanpa alasan,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Baca juga : Sangat Dimungkinkan jika Tempat Ini Dulunya Kerajaan, Bukti Paling Mendukung Adalah…

Editor : Kholistiono

Sangat Dimungkinkan jika Tempat Ini Dulunya Kerajaan, Bukti Paling Mendukung Adalah…

Warga melakukan penggalian bangunan kuno yang dipercaya merupakan bekas Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga melakukan penggalian bangunan kuno yang dipercaya merupakan bekas Kerajaan Medang Kamulan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi masyarakat Grobogan, nama Kerajaan Medang Kamulan tidak terlalu asing terdengar. Khususnya, bagi kalangan orang tua. Sebab, diyakini kerajaan ini dulunya pernah berdiri di wilayah Grobogan. Tepatnya di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus.

Meski demikian, hingga saat ini, secara ilmiah, pembuktian adanya Kerajaan Medang Kamulan di situ belum pernah dilakukan. Adanya kerajaan ini hanya berdasarkan cerita turun temurun.

Munculnya nama Medang Kamulan itu erat kaitannya dengan cerita legenda Aji Saka, seorang pemuda sakti pada masa lalu. Dalam cerita itu disebutkan kalau Aji Saka sempat berkelana di Kerajaan Medang Kamulan untuk menghentikan tindakan Raja Prabu Dewata Cengkar yang suka memakan daging manusia.

Berkat kesaktiannya, Aji Saka akhirnya berhasil mengalahkan raja raksasa tersebut. Atas keberhasilannya itu, selanjutnya Aji Saka didaulat menggantikan Prabu Dewata Cengkar sebagai pemegang tahta Kerajaan Medang Kamulan.

Kabid Kebudayaan Disporabudpar Grobogan Marwoto ketika dimintai tanggapannya menyatakan, dalam cerita legenda, Kerajaan Medang Kamulan itu memang sangat populer. Terlebih dengan cerita rajanya Prabu Dewata Cengkar yang disebutkan punya kegemaran memakan daging manusia.

“Sejauh ini, Kerajaan Medang Kamulan yang dengan penguasanya Prabu Dewata Cengkar ini memang dikenal dari cerita legenda. Mengenai kebenarannya, perlu ada kajian ilmiah berupa penilitian khusus di sana,” katanya.

Bukti awal adanya sebuah peradaban masa lalu di Desa Banjarejo, memang sudah mendukung. Yakni, sudah munculnya banyak penemuan berbagai benda peninggalan masa lalu di kawasan tersebut.

Seperti, penemuan peralatan dari batu, seperti lesung, pipisan, gandik, dan yoni. Kemudian, ada peti mati dari kayu, uang kepeng Cina, aneka perhiasan emas, dan guci dari keramik.

Bukti paling mendukung adanya perkampungan besar dan bisa jadi sebuah kerajaan adalah ditemukannya bangunan kuno yang tertata dari batu bata di areal sawah di Desa Banjarejo.

Dalam tekstur bangunan kuno ini, ada penggunaan spesi dari tanah liat sebagai bahan perekat tatan batu bata. Hal ini merupakan salah satu ciri bangunan pada era awal masuknya Islam.

Jika hal ini dihubungkan kembali dengan Kerajaan Medang Kamulan memang cukup beralasan. Di mana, Aji Saka yang berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar disebut-sebut merupakan salah satu tokoh penyebaran Islam di Indonesia pada masa lalu.

“Bukti-bukti adanya peradaban masa lalu yang ditemukan di Banjarejo ini sudah cukup banyak. Untuk bisa mengungkap lebih jauh memang harus ada penelitian khusus yang dilakukan oleh para ahli di sana,” jelasnya.

Editor : Kholistiono