Kota Purwodadi Siap Dipenuhi Bendera Merah Putih

Lurah Purwodadi Hendro Sutopo mengumpulkan berbagai komponen masyarakat yang berada di jalan protokol kawasan kota di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rasa nasionalisme sebagian warga dinilai menurun saat ini. Salah satu indikasinya adalah banyaknya warga yang tidak memasang bendera merah putih di depan rumah saat momen HUT RI.

Bagi sebagian orang khususnya mereka yang mengalami masa penjajahan, kondisi ini dirasa cukup memprihatinkan.

“Dari pengamatan sejauh ini, memang pemasangan bendera merah putih saat Agustusan sudah kurang semarak. Terutama, di kawasan kota Purwodadi,” kata Lurah Purwodadi Hendro Sutopo, ditemui di Grobogan, Rabu (26/7/2017).

Terkait dengan kondisi itu, Hendro akan membuat gebrakan dalam momen HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Yakni, akan menyemarakkan kawasan kota dengan pemasangan umbul-umbul serta bendera merah putih. Utamanya, di sepanjang ruas jalan protokol kawasan kota.

Dalam rangka pemasangan atribut merah putih tersebut, pihaknya sudah mengumpulkan berbagai komponen yang berada di jalan protokol. Mulai dari warga, pengusaha, pimpinan BUMD / BUMN, kepala kantor pemerintahan dan swasta serta para ketua RW dan ketua RT se-Kelurahan Purwodadi. Pertemuan tersebut juga melibatkan jajaran Muspika Purwodadi.

Dari pertemuan itu, muncul tanggapan positif dan dukungan dari berbagai komponen masyarakat tersebut. Bahkan, mereka juga siap menyumbangkan bendera maupun umbul-umbul untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan.

“Sekitar 2.000 bendera maupun umbul-umbul nanti yang akan kita siapkan. Kita juga sudah siapkan petugas yang akan memasang. Rencananya, per 1 Agustus akan kita pasang. Para ketua RW dan ketua RT juga minta memberitahukan warganya untuk memasang bendera,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Uang Jutaan Rupiah Menanti Warga Dersalam

 

Kepala Desa Dersalam saat mengikuti karnaval (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kepala Desa Dersalam saat mengikuti karnaval (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Karnaval dalam rangka memperingati HUT RI ke- 70 yang digelar Pemerintah Desa Dersalam, Kecamatan Bae berlangsung sangat meriah. Untuk mengapresiasi hal itu, Pemdes telah menyediakan hadiah jutaan rupiah kepada peserta.

Salah satu panitia karnaval HUT RI ke-70 Desa Dersalam Heri Wahyu Muriotomo mengatakan, jika pihak panitia akan memberikan hadiah yang bakal diserahkan pada malam puncak peringatan HUT RI, bebarengan dengan hiburan rakyat, yakni kesenian ketoprak.

Untuk bisa mendapatkan hadiah tersebut, katanya, pihaknya sebelumnya telah mengimbau kepada peserta karnaval untuk bisa tampil dengan maksimal. Bukan hanya itu, peserta juga bisa menampilkan beragam kreasi menarik.

”Setiap RW sudah diminta mengkondisikan warganya untuk bisa tampil kompak serta membuat sebuah kreasi menarik yang diwujudkan dalam replika atau hal lainnya. Dari penampilan tersebut, panitia kemudian memberikan penilaian,” katanya.

Dirinya berharap, kegiatan seperti ini bisa makin merekatkan komunikasi antarwarga. Sehingga, desa bisa semakin maju, dengan adanya kebersamaan. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Warga Dersalam Rela “Gosong”, Demi Lihat Kadesnya Panas-panasan

Warga dersalam saat menyaksikan karnaval dalam rangka memperingati HUT RI ke 70. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga dersalam saat menyaksikan karnaval dalam rangka memperingati HUT RI ke 70. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Meriahnya karnaval budaya dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-70 yang berlangsung di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, mengundang antusiasme warga untuk menyaksikan secara dekat.

Bahkan, untuk bisa menyaksikan secara dekat, warga harus rela berada di bawah panasnya terik matahari. Warga semakin bersemangat ketika melihat kepala desanya juga rela untuk berpanas-panasan untuk mengikuti karnaval.

”Saya bangga melihat kades ini. Sebab dia mau panas-panasan ikut karnaval, mulai dari start sampai dengan finish. Kami juga tak menghiraukan panasnya matahari, karena acara ini sangat menarik,” kata Sumarti, salah satu warga Dersalam.

Menurutnya, acara karnaval kali ini lebih meriah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bahkan, antusiasme warga untuk ikut serta dalam karnaval semakin meningkat.

“Saya baru merasakan bahwa acara karnaval di tahun ini bisa meriah dibanding dengan yang lalu. Saya juga rela untuk mengikuti peserta karnaval dengan jalan kaki,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/K

Lebaran dan Ajaran Baru, Omzet Penjualan Bendera Menurun

Salah satu pembeli mengaku terbantu dengan adanya penjual bendera musiman di pinggir jalan. Karena tidak perlu repot mencari bendera ke toko. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Salah satu pembeli mengaku terbantu dengan adanya penjual bendera musiman di pinggir jalan. Karena tidak perlu repot mencari bendera ke toko. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Meski masih laku, namun para penjual bendera di pinggiran jalan mengaku omzet penjualannya menurun. Salah satu sebabnya, dekatnya momen hari kemerdekaan dengan masa Lebaran menjadikan sebagian warga tidak menyisihkan anggaran untuk pembelian bendera atau pernak-pernik lainnya.

”Dalam tiga tahun terakhir, penjualan bendera tidak seramai sebelumnya. Soalnya, momennya dekat dengan Lebaran dan masa sekolah. Sehingga kebutuhan untuk itu dulu yang diutamakan,” ungkap Deden, penjual bendera yang berjualan di seberang RSUD dr R Soedjati Purwodadi.

Warga asal Tasikmalaya itu menyatakan, baru tiga hari berjualan di tempat tersebut. Selama tiga hari tersebut dia mengaku sudah melayani banyak pembeli. Sebagian besar barang yang dibeli adalah umbul-umbul dan bendera ukuran kecil. Untuk harga bendera dan aksesoris lainnya berkisar Rp 5 ribu hingga Rp 75 ribu per biji.

”Biasanya, pembeli bendera ini ramai kalau mendekati hari kemerdekaan. Sekitar tanggal 10 sampai 16 Agustus,” imbuh Ujang, penjual bendera lainnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli bendera Eko Heri mengaku cukup terbantu dengan adanya penjual bendera di pinggir jalan tersebut. Kebetulan dia tengah mencari umbul-umbul untuk dipajang di depan rumahnya. Dengan adanya penjual di pinggir jalan dia tidak perlu repot harus mencari di toko-toko.

”Kebetulan, umbul-umbul yang lama sudah tidak layak lagi dipajang. Makanya, saya beli baru untuk menyemarakkan suasana kemerdekaan,” ujar pensiunan staf perekonomian Setda Grobogan itu. (DANI AGUS/TITIS W)