Mobil Polisi Wirosari Grobogan jadi Unik dan Bermanfaat bagi Korban Kekeringan

Polisi saat beraksi di dekat mobil yang didesain jadi lebih unik dan bermanfaat di daerah kekeringan di Wirosari Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan cukup menarik terlihat dalam pelaksanaan drop air di wilayah Kecamatan Wirosari, Grobogan, sejak beberapa hari terakhir. Hal ini terkait dengan adanya mobil dinas Polsek Wirosari yang ikut dikerahkan untuk menyalurkan air bersih di daerah kekeringan.

Kendaraan dinas jenis pikap ini dilengkapi tandon air di bagian bak terbuka. Tandon air warna oranye ini kapasitasnya sekitar 1.000 liter.

Dengan adanya tendon air, kendaraan ini jadi punya dua fungsi sekaligus. Yakni, untuk kegiatan patroli sekaligus memberikan bantuan air bersih pada warga yang membutuhkan.

“Sebagian wilayah Wirosari selama ini memang masuk daerah rawan kekeringan. Oleh sebab itu, kami ingin berupaya membantu masyarakat di wilayah Wirosari yang sebagian mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau,” ujar Kapolsek Wirosari AKP Tony Basuki, Selasa (29/8/2017).

Menurut Tony, modifikasi mobil patroli untuk sarana penyaluran bersih tidak mengganggu aktivitas pelayanan masyarakat lain, khususnya dalam hal pengawasan keamanan serta perlindungan masyarakat. Setelah, kegiatan drop air selesai dikerjakan, semua perlengkapan akan dikembalikan seperti semula. Jika dibutuhkan lagi, peralatan itu baru dipasang kembali.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Cantik Polres Grobogan Salurkan Bantuan Air Bersih

Sejumlah polwan dari Polres Grobogan memberikan bantuan air bersih di salah satu desa di Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan polwan Polres Grobogan menyalurkan bantuan air bersih ke desa di Kecamatan Karangrayung, Sabtu (26/8/2017).

Mereka memberikan bantuan kepada warga yang mengalami musibah kekeringan. Bantuan air bersih dilakukan dalam rangka menyambut HUT ke 69 polwan yang jatuh1 September.

“Penyaluran bantuan air bersih di daerah bencana kekeringan merupakan rangkaian acara memperingati HUT Polwan. Kegiatan sosial penyaluran bantuan air bersih ini merupakan salah satu wujud kepedulian kami kepada warga yang membutuhkan pasokan air bersih,” ungkap Aiptu Sri Lestari yang memimpin kegiatan distribusi air bersih tersebut.

Bantuan air bersih yang disalurkan sepanjang hari ini disalurkan ke tiga desa. Masing-masing, Desa Karangsono Cekel dan Telawah. Dia berharap bantuan yang disalurkan ini dapat meringankan beban warga yang terkena musibah kekeringan.

Warga menyambut gembira saat bantuan datang. Begitu mobil tangki datang, puluhan warga langsung berduyun-duyun membawa wadah untuk mengambil jatah air.

“Saya senang sekali ada bantuan air bersih. Saat kekeringan seperti in, kami harus ambil air cukup jauh atau membeli,” kata Suminah, salah seorang warga Desa Cekel.

Editor : Akrom Hazami

Krisis Air Landa Tiga Desa di Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air di Jepara mulai meluas. Kini ada tiga desa di dua kecamatan yang telah mengajukan permintaan droping air bersih, yakni Kedung Malang-Kedung, Kalianyar-Kedung, dan Raguklampitan-Batealit.

Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi BPBD Jepara Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memberikan bantuan air pada tiga desa tersebut. Dirinya menyebut, proses bantuan dilakukan dengan memberikan tandon air di beberapa titik yang kemudian diisi dengan air bantuan dari pemerintah.

“Seperti Desa Kalianyar, kita sudah mengirimkan tandon air kemudian sudah diisi dengan air bantuan. Kami jatah untuk di sana selama dua sampai tiga hari. Namun jika membutuhkan, setiap saat pemerintah desa bisa berkoordinasi dengan kami (BPBD),” ujarnya, Selasa (22/8/2017).

Ia mengatakan, dua dari tiga desa yang kini kekurangan air yakni Kedung Malang dan Kalianyar sejatinya telah tersalur fasilitas PDAM. Hanya saja di musim seperti ini, kondisi sumber air baku penyedia air bersih tersebut tidak maksimal, sehingga tidak mengalir ke dua desa itu. 

“Sementara kalau di Raguklampitan memang belum ada PAM. Kalau ngangsu (mengambil air) pun jauh karena letaknya berada di atas. Sehingga meminta bantuan dari BPBD untuk droping air,” tambahnya.

Menurutnya, hingga medio bulan Agustus 2017 pihaknya belum menerima permintaan droping air dari desa lain

Jamaludin mengatakan, pihaknya telah memetakan beberapa daerah yang rentan kekeringan. Di antaranya, Raguklampitan, Rajekwesi, Tunngul, Pandean, Bate Gede, Kedung Malang, Karangaji, Gerdu, Kaliombo, Sinanggul dan Kepuh. 

Adapun, di tahun ini BPBD Jepara menyiapkan anggaran sebesar Rp 22 juta, guna mengatasi dampak musim kemarau. Dana tersebut digunakan untuk penyaluran air pada daerah yang mengalami kekeringan.

Editor: Supriyadi

6 Daerah di Jateng Darurat Kekeringan, Pemprov Siapkan 3 Ribu Tangki Air

Warga di Kabupaten Grobogan ngangsu air dari tengah hutan, karena sudah mulai dilanda kekeringan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Semarang – Setidaknya enam daerah di Jawa Tengah telah mengeluarkan status darurat kekeringan, dan belasan lainnya krisis air bersih. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menyiapkan 3.000 tangki air jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Keenam daerah di Jateng yang menyatakan siaga darurat kekeringan itu, antara lain Boyolali, Temanggung, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap.

Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng, Sarwa Pramana mengatakan, enam kepala daerah itu telah mengeluarkan SK tentang siaga darurat kekeringan. SK tersebut menurutnya juga telah diperkuat dengan SK Gubernur Jateng.

Sarwa mengatakan enam pemerintah kabupaten/kota tersebut telah mengajukan bantuan ke Pemprov Jateng.

“Provinsi masih memiliki 3000 tanki air dan kita juga akan meminta bantuan kepada BNPB. Biasanya ada sih tiap tahun rata-rata Rp 800 miliar hingga Rp 900 miliar,” katanya.

Saat ini menurut dia, ada 12 daerah yang sudah dipasok air bersih. Terdiri dari 22 kecematan dengan 46 desa/kelurahan dengan total 158 tanki air yang sudah dipasok.

Bahkan menurut dia, daerah yang sebelumnya tak pernah dipasok air, tahun ini juga meminta bantuan, yakni Banjarnegara. Dalam melakukan penyaluran air 3000 tanki milik pemprov, terdapat mekanisme yang harus dilalui yakni melalui Pemkab, dan diteruskan ke pihaknya.

“Kita bekerjasama dengan PDAM, dan menggunakan mekanisme harga korporate. Kalau ada permintaan saya langsung transfer dana ke PDAM,” terangnya.

Meski belum ada kejadian gawat darurat bencana, namun sudah ada peristiwa kebakaran yang terjadi di Kabupaten Wonogiri. Di Wonogiri terjadi kebakaran lahan dengan sedkit kebakaran di Gunung Gandul. Kebakaran tersebut diakui Sarwa sudah diatasi secara manual. 

“Yang menjadi sulit ketika kita menangananinya di daerah kebakaran hutan dengan minim air di dalamnya. Kecuali ada aliran sungai atau waduk yang dekat dengan lokasi kebakaran. Gak mungkinlah pakai pesawat,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Kekeringan Grobogan, Warga Jual Bongkah Tanah Biar Punya Uang

Petani menjual bongkah tanah dari salah satu lahan sawah akibat kekeringan di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana kekeringan yang melanda wilayah Grobogan membawa kesedihan bagi sebagian petani. Sebab, kondisi ini menyebabkan mereka harus kehilangan penghasilan utama. Soalnya, tanah sawahnya tidak bisa ditanami apa-apa lantaran sulitnya mendapatkan air.

Menghadapi kondisi itu, sebagian petani ada yang menempuh jalan lain demi mendapatkan penghasilan. Yakni, dengan mengeduk tanah sawahnya dalam bentuk bongkahan untuk selanjutnya dijual kepada mereka yang memerlukan.

“Kondisi sawah di sini tidak bisa ditanami karena kering tanahnya. Dengan menjual bongkahan tanah bisa mendapatkan uang,” kata Sumarto, warga Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, Sabtu (14/8/2017).

Bongkahan tanah itu biasanya dibeli orang untuk menguruk pekarangan atau fondasi bangunan baru. Harga tanah bongkahan itu juga cukup murah. Yakni, berkisar Rp 100 hingga 150 ribu per rit atau truk engkel. Harga ini tergantung jarak sawah dengan jalan raya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Sumur Mulai Mengering, Warga Deras Grobogan Ngangsu di Sungai Tuntang

Sejumlah warga Dusun Krajan Desa Deras Kecamatan Kedungjati, Grobogan mengambil air dari Sungai Tuntang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dampak kemarau mulai dirasakan warga Desa Deras, Kecamatan Kedungjati, Grobogan. Minimnya hujan yang mengguyur daerah pelosok itu menyebabkan sumur milik warga mulai mengering.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa mengambil air dari Sungai Tuntang yang melintasi desa tersebut. Air dari sungai kebanyakan digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci.

Sebagian warga mengambil air dan selanjutnya dibawa pulang ke rumah untuk persediaan. Beberapa warga ada yang mandi dan mencuci di pinggiran sungai. Jarak sungai dengan perkampungan tidak terlalu jauh, sekitar 200 meter saja.

Untuk mengisi sumur, warga ada yang memanfaatkan jasa mesin sedot. Sekali pengisian sumur, biayanya Rp 35 ribu.

Setelah penuh, air dari sungai yang dimasukkan dalam sumur tidak bisa langsung digunakan. Tetapi harus menunggu dua hari setelah kondisi air menjadi agak jernih, karena sisa lumpurnya sudah mengendap.

Air dalam sumur yang diisi dengan mesin sedot ini bisa digunakan selama sepekan untuk mandi dan mencuci. Buat keperluan masak dan minum, warga membeli air isi ulang.

Dari keterangan warga, kondisi seperti itu sudah biasa terjadi hampir tiap tahun. Saat kemarau tiba, sumur milik warga mulai berkurang airnya.

“Sumur di desa ini kebanyakan tidak ada sumber airnya. Sumur yang dibuat warga lebih berfungsi jadi tampungan air hujan,” kata Kepala Desa Deras Rusdi, Jumat (11/8/2017).

Menurut Rusdi, pihaknya sedang berupaya untuk membangun sistem jaringan air bersih. Namun, biaya dan peralatan pendukung masih jadi kendala.

“Untuk kebutuhan jangka pendek, kami butuh bantuan air bersih. Kami berharap ada bantuan air,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

BPBD Grobogan Siapkan Dana Rp 135 Juta Tangani Kekeringan

Meski sudah masuk musim kemarau namun warga di desa langganan bencana kekeringan masih belum mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (MuriaNewsCom/Dani Agus)ben

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki awal musim kemarau, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mulai mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan. Terutama, persiapan untuk melaksanakan drop air bersih ke desa langganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 135 juta. Dana ini disiapkan untuk melakukan drop air bersih pada masyarakat.

“Saat ini sudah masuk kemarau tetapi belum ada laporan desa yang terkena bencana kekeringan. Meski demikian, upaya penanganan sudah kita siapkan. Kita juga sudah koordinasi dengan PDAM Grobogan untuk persiapan menyalurkan droping air jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelasnya.

Menurut Agus, dana untuk penanganan kekeringan tiap tahun selalu disiapkan. Namun, khusus tahun 2016 lalu, dana yang disiapkan praktis tidak terpakai.

Soalnya, tahun lalu curah hujan masih sering turun ketika musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak kesulitan air.

Dijelaskan, dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan. Sementara dari 19 kecamatan, hanya ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan. Yakni Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu.

Agus menambahkan, pada tahun 2015 jumlah desa yang terkena bencana kekeringan cukup banyak. Jumlahnya mencapai 100 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Tersandera Aturan, Ribuan Warga Rembang Terancam Kekeringan di Musim Hujan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Ribuan warga di sepuluh desa yang berada di wilayah Kabupaten Rembang terancam kekeringan di musim hujan. Ribuan warga tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kaliori, Sumber, dan Bulu.

Pasalnya, meski sudah memasuki musim hujan, namun desa-desa itu masih memerlukan dropping air bersih. Ironisnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang tak dapat menyalurkan bantuan dropping air, akibat terkendala aturan.

Kepala Seksi Logistik BPBD Rembang Ahmad Makruf mengatakan, pada tahun 2016 ini pihaknya menganggarkan Rp 300 juta untuk dropping air. Namun menurutnya, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Rembang menyebutkan, bahwa Rembang sudah memasuki musim hujan per tanggal 1 Desember 2015.

“Dana kekeringan tidak bisa digunakan, karena rekening kegiatan kita disebutkan pemberian bantuan air bersih di musim kering. Kalau dipakai di musim hujan, nanti kan kita yang salah,” ujar Makruf.
Pihaknya mengaku akan mengkonsultasikan kembali masalah tersebut dengan Pj Bupati Rembang. “Kami juga berharap pihak swasta ikut membantu menyediakan air bersih kepada warga yang membutuhkan,” katanya. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Ribuan Korban Kekeringan Ada di 10 Desa di Rembang

Kepala Seksi Logistik BPBD Rembang, Ahmad Makruf mengatakan 10 desa di Rembang masih kekeringan, Senin (18/1/2016).  (ISTIMEWA)

Kepala Seksi Logistik BPBD Rembang, Ahmad Makruf mengatakan 10 desa di Rembang masih kekeringan, Senin (18/1/2016). (ISTIMEWA)

 

REMBANG – Akibat curah hujan yang tidak menentu, ribuan warga desa di tiga kecamatan di Remang masih mengalami kekurangan air bersih. Setidaknya terdapat 10 desa di Kabupaten Rembang yang masih mengalami kekeringan.

Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, terdapat 10 desa dilanda kekeringan, yang menyebar di tiga kecamatan. Ketiga kecamatan yang dimaksud Kaliori, Sumber, dan sejumlah desa di Bulu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi Logistik BPBD Rembang, Ahmad Makruf , Senin (18/1/2016). Menurutnya, para petani setempat hingga kini belum mulai bercocok tanam, padahal di sejumlah daerah lainnya sudah memasuki musim tanam.

“Sementara yang kami peroleh sudah sekitar 10 desa yang menghubungi, mengeluh kekurangan air bersih. Dari beberapa wilayah tersebut juga belum mendapat aliran air PDAM,” ungkapnya.

Menurut Makruf, kekeringan di sejumlah wilayah disebabkan rendahnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir, berdasarkan pengamatan dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG).

“Informasi yang kita terima, Rembang termasuk daerah yang curah hujannya rendah. Selain itu kalau kita lihat di lapangan, memang ada perubahan arah angin dari angin baratan kembali ke timuran. Artinya kita kembali menghadapi musim kemarau,” bebernya. (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Kekeringan Masih Landa Wilayah Blora

kekeringan-e

Salah satu warga Desa Tutup yang setiap hari harus mengambil air untuk kebutuhan hidup sehari-hari (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Meski sudah beberapa kali hujan sudah mengguyur Blora, namun, sebagian wilayah di Blora masih mengalami kekeringan. Hal ini, terlihat masih banyaknya warga yang harus bersusah payah mencari air untuk sumber kehidupan.

Seperti yang terjadi pada warga Desa Tutup, Kecamatan Tunjungan, yang setiap hari harus mengais air dari desa tetangga yakni Desa Setro, Kecamatan Tunjungan. “Saya setiap hari mengambil air disini mas. Setiap satu kali berangkat, saya bawa 4 jerigen,” ujar Marjo  warga Desa Tutup.

Katanya, ia mengambil air di sumur tua, tepat disamping jalan raya Desa Setro itu sejak bulan Juni lalu hingga sekarang.

Begitu juga Marsudi, warga Desa Tutup yang setiap hari harus bolak balik sejauh 4 kilometer guna mengambil air. “Saya setiap hari seperti ini. Mengambil air di sumur tua ini,” tutur Marsudi kepada MuriaNewsCom.

Warga Setro sendiri mengaku, kalau setiap hari banyak dari warga yang masih harus bersusah payah guna mengambil air bersih. “Setiap hari tak kurang dari ratusan jerigen yang digunakan untuk mengambil air disini,” ungkap Emi  warga Desa Setro. (RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Koramil 07/Sambong Gelar Salat Istisqa

TNI dan warga Kecamatan Sambong melaksanakan Salat Istisqa (Istimewa)

TNI dan warga Kecamatan Sambong melaksanakan Salat Istisqa (Istimewa)

 

BLORA – Koramail 07/Sambong, Blora menggelar Salat Istisqa, untuk meminta kepada Tuhan, agar hujan lekas turun. Salat yang digelar di halaman SMPN 1 Sambong ini, juga diikuti ratusan masyarakat.

Bertindak selaku khotib dan imam, adalah Kiai Musyafak dari Desa Kendilan, Kecamatan Sambong.Dalam Khotbahnya, dirinya mengatakan jika Salat Istisqa tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memohon kepada Tuhan, agar segera menurunkan hujan.

”Semoga Allah segera menurunkan hujan, sehingga mata air di wilayah Kabupaten Blora dan khususnya di wilayah Kecamatan Sambong tidak mengering,” katanya.

Danramil 07/Sambong Kapten Inf Heri Waluyo berharap, seusaiSalat Istiqatersebut, hujan bisa segera turun di Blora.

”Dua hari yang lalu sepertinya sudah ada tanda-tanda hujan mulai turun, semoga adanya niat yang khusyuk dari warga melalui salat ini, hujan segera turun. Sehingga, mata air bisa kembali normal dan bisa di manfaatkan, warga,” ungkap Danramil. (KHOLISTIONO)

PDAM Jepara Jamin Embung Bapangan Nantinya Tak Akan Kering

Ilustrasi_Waduk

 

JEPARA – Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM) Kabupaten Jeparaberencana membangun embung dengan memanfaatkan sungai yang telah matidi Bapangan. Rencananya, bekas aliran sungai yang membujur dari DesaSenenan, Kecamatan Tahunan hingga Kelurahan Bapangan, Kecamatan Kota
Jepara dijamin tidak akan kering meskipun kemarau panjang.

Hal itu disampaikan Direktur PDAM Jepara Prabowo. Menurutnya,pihaknya telah menyusun skema pembangunan agar nantinya embung tetapterisi air ketika musim kemarau panjang.

“Kami juga menyertakan sebuah skema bagaimana embung dalam detailenginering detail (DED) yang kami susun. Nantinya memiliki volume airyang tetap, setidaknya tetap terisi dengan air meski saat musim
kemarau,” ujar Prabowo kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, embung nantinya memang akan mengambil air dari aliranSungai Bapangan dan air hujan. Air akan dialirkanke embung secara maksimal saat musim hujan. Dengan luasan area yangkemungkinan bisa mencakup 25 hektare serta memiliki kedalaman hinggadelapan meter, diyakini sudah cukup mampu menampung air, bahkan hinggamusim kemarau.

Hal ini ditambah lagi dengan kondisi Sungai Bapangan yang masih tetapmengalirkan air saat puncak musim kemarau, meski hanya sedikit. Aliranair yang kecil tersebut tetap akan dimanfaatkan. Dengan demikian,embung yang juga digunakan untuk instalasi pengelolaan air bersihtersebut akan tetap bisa berproduksi meski saat musim kemarau. (WAHYUKZ/KHOLISTIONO)

KORBAN KEKERINGAN BLORA : Warga Berebut Air dengan Sapi

Warga mengambil air bersih di salah satu belik di Blora.

Warga mengambil air bersih di salah satu belik di Blora.

 

BLORA –  Kades Sembongin, Kecamatan Banjarejo, Blora, Muntoha menjelaskan, kesulitan warganya untuk mendapatkan air bersih, merupakan penderitaan tahunan.

“Setiap musim kemarau tiba, seluruh warga Desa Sembungin akan bergelut dengan sulitnya mendapatkan air bersih,” kata Muntoha.

Bahkan di musim itu, air jadi barang mewah. Pembuatan belik di dasar sungai merupakan andalan warga untuk mendapatkan air bersih.

”Di sini itu untuk mencari air bukan saja untuk memenuhi orang saja, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan minum ternak sapi, karena kebanyakan warga Sembungin memelihara ternak sapi,” jelas Muntoha.

Selama ini sudah banyak bantuan air dari banyak pihak. Hanya saja jumlah droping dengan kebutuhan warga sangat tidak seimbang, sehingga tetap saja warga Sembungin kesulitan air.

Baru-baru ini, Kodim 0721/Blora, dan beberapa pihak juga melakukan droping air bersih ke Desa Sembongin. Danramil Banjarejo, Kapten Inf Sukemi, menjelaskan, dari 20 desa yang ada di wilayah Kecamatan Banjarejo, sengaja dipilih Desa Sembungi karena tingkat kesulitan warga untuk mendapatkan air bersih tergolong parah.

dengan sulitnya mendapatkan air bersih. (AKROM HAZAMI)

KORBAN KEKERINGAN BLORA : 2 Bulan Menderita

Warga mengambil air bersih di salah satu belik di Blora

Warga mengambil air bersih di salah satu belik di Blora

 

BLORA – Hujan deras telah turun hampir di sebagian besar di Blora. Namun bukan berarti derita warga Blora yang kesulitan air bersih lantas usai.

Sebagian besar warga di Blora masih kesulitan air bersih. Droping air dari banyak pihak ke sejumlah desa di Blora belum banyak membantu.

Di antaranya adalah Desa Sembongin, Kecamatan Banjarejo, Blora. Desa ini menjadi desa yang mengalami kekeringan parah.

”Sudah dua bulan ini, warga kesulitan air bersih sehingga selama ini andalannya adalah droping air dari berbagai pihak,” ungkap Dasir salah seorang warga setempat.

Jika tidak ada droping, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, sehari-hari warga Sembongin membuat belik (sumur kecil) di dasar sungai Lusi, yang airnya sudah mengering.

Dari pantauan, sedikitnya ada 25 belik yang ada di dasar Sungai Lusi yang dibuat warga.

Dari belik-belik itulah, warga sehari-hari mengambil air. Karena untuk menuju dasar sungai medannya cukup terjal, sehingga dalam sehari warga maksimal hanya bisa mengambil dua pikul air.

Kades Sembongin, Muntoha menjelaskan, kesulitan warganya untuk mendapatkan air bersih,merupakan penderitaan tahunan. Artinya di setiap musim kemarau tiba, seluruh warga Desa Sembungin akan bergelut dengan sulitnya mendapatkan air bersih. (AKROM HAZAMI)

Untuk Bantuan Air Bersih, Pemkab Kerjasama dengan Perusahaan

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS –  Pendistribusian air bersih kepada desa yang mengalami kekeringan, Pemkab Kudus sejauh ini melakukan kerjasama dengan perusahaan untuk melakukan doping air bersih.

Menurut Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan, beberapa perusahaan seperti Sukun, Djarum, Nojorono dan beberapa SPBU memiliki komitmen untuk mau membantu melakukan droping air bersih.

“Ini sudah terjadi setiap tahun, dan beberapa perusahaan di Kudus memang ada yang memiliki komitmen untuk melakukan droping air. Sedangkan, kami pemkab mempercayakan ke PDAM, karena anggaran berada disana,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, kemarau tahun ini diprediksi bakal berakhir sebentar lagi.“Sebab kabar yang kami terima dari BMKG, untuk Kudus musim penghujan akan datang pada akhir Nopember atau 10 hari terakhir pada bulan ini,” ugnkapnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

11 Desa di Kudus Andalkan  Bantuan Air untuk Kebutuhan Harian

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga saat menerima bantuan air bersih (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Setidaknya ada 11 desa di Kudus yang mengalami kekurangan air akibat dampak dari lamanya musim kemarau. Untuk mencukupi kebutuhan air dalam sehari-hari, mereka mengandalkan bantuan air bersih.

“Ada 11 desa, untuk di Kecamatan Kaliwungu itu ada Desa Papringan, Desa Kedungdowo, Desa Sidorekso, Desa Blimbing Kidul dan Prambatan kidul. Sedangkan untuk Kecamatan Mejobo, yakni Desa Temulus, Hadiwarno, Jojo. Untuk Jekulo yaitu  Desa Bulung Kulon, Bulung Cangkring dan Sadang,” kata  Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan kepada MuriaNewsCom.

Dirinya mengatakan, untuk pada awal kemarau dahulu, Kecamatan Undaan juga sempat mengalami kekurangan air, namun katanya, saat ini sudah terpenuhi. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Gawat, Kekeringan di Kudus Semakin Parah

Masyarakat mendapatkan droping air bersih saat kemarau panjang ini (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Masyarakat mendapatkan droping air bersih saat kemarau panjang ini (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kemarau panjang yang terjadi tahun ini, berdampak terhadap kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus. Kekeringan yang terjadi, pada saat ini cukup parah ketimbang tahun lalu. Bahkan, untuk bulan ini, jumlah wilayah yang mengalami kekeringan terus bertambah.

Hal itu diungkapkan Kepala Pemadam Kebakaran Kudus Hardi Cahyana. Pada tahun sebelumnya,katanya,  kekeringan hanya menimpa tiga desa saja, yaitu Desa Setrokalangan,Desa Papringan dan Banget. Begitu juga dengan dua tahun sebelumnya  yang hanya terjadi di dua desa saja.

“Sampai saat ini sudah ada 11 desa yang kami droping air.Dari sekian banyak desa yang kami droping air, beberapa di antaranya bahkan sampai berebut mendapatkan air lebih dulu,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Hingga kini, kata Hardi, mulai September lalu hingga kini lebih dari tiga juta liter air bersih diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan air.

“Kalau dalam beberapa hari tidak ada hujan, maka kekeringan akan semakin bertambah. Hingga kini saja banyak yang menghubungi untuk penambahan droping air,” imbuhnya. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Atasi Kekeringan, Ini Langkah yang Dilakukan BPBD Jepara

(ISTIMEWA)

(ISTIMEWA)

 

JEPARA – Untuk mengatasi kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara tak hanya melakukan droping air bersih tetapi juga membuat sumur. Rencana pembuatan sumur dikeluarkan beberapa waktu lalu dan kali ini sudah mulai direalisasikan.

Kepala BPBD Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin mengtakan, pihaknya sudah mulai merealisasikan rencana pembuatan sumur bagi warga korban kekeringan.

“Kami membuat empat sumur. Rinciannya, dua sumur bur, satu sumur pantek dan satu sumur gali,” ujar Jamaluddin kepada MuriaNewsCom, Rabu (4/11/2015).

Menurutnya, pembangunan empat sumur tersebut sudah direncanakan sejak tahun lalu. Kebetulan, tahun ini mendapatkan bantuan dari pusat.

“Alokasi bantuan itu memang khusus untuk penanganan bencana kekeringan terutama untuk pembuatan sumur,” katanya.

Dia menambahkan, sebelum melaksanakan pembangunan tersebut, pihaknya telah melakukan survei dilapangan. Hasilnya memang cocok dibangun sumur sebagaimana yang direncanakan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Penderita Ispa di Jepara Didominasi Usia 1 hingga 5 Tahun

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa) sangat rawan terjadi pada  pergantian musim atau musim pancaroba ini. Masyarakat diminta mewaspadai jenis penyakit ini meski tak terlalu berbahaya.

Dari catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, yang paling banyak terjangkit Ispa, yakni Balita pada usia 1 hingga 5 tahun. Pada tingkatan tertentu, Ispa bisa menjadi pneumonia yang membahayakan.

Kepala Dinkes Jepara Dwi Susilowati mengungkapkan, penyakit ini secara umum disebabkan pencemaran udara. Sehingga ada larangan membakar sesuatu yang menimbulkan asap berlebihan.

”Biasanya memang anak balita yang sering terkena Ispa, seperti pilek, batuk dan lainnya,” ungkap Susi kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Lanjutnya, gejala yang muncul akibat penyakit Ispa diantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dan tenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit. Meski dianggap bukan penyakit yang berbahaya.

Namun masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulai pengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yang begitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/TITIS W)

Waspada! ISPA Mengancam Jelang Musim Pancaroba

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah seorang warga memakai masker untuk menghindari debu agartidak terkena ISPA. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Menjelang perubahan musim dari kemarau ke musimpenghujan, sejumlah penyakit mengancam. Salah satu yang patutdiwaspadai adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Halitu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara, DwiSusilowati kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Menurutnya, semua wilayah di Kabupaten Jepara berpotensi tersebarvirus tersebut. Sebab, virus tersebut sangat mudah menyerang dalamkondisi cuaca yang tidak stabil. Terlebih dengan tingkat polusi dandebu serta bakteri yang banyak.

”ISPA berpotensi dimana saja, bahkan membakar sampah saja juga bisamenyebabkan ISPA, karena bisa menganggu pernafasan,” kata DwiSusilowati.

Lebih lanjut dia menjelaskan, penyakit ISPA umumnya disebabkan karenapencemaran udara. Pada tingkatan tertentu, ISPA bisa menjadi pneumoniayang membahayakan. Gejala yang muncul akibat penyakit ISPAdiantaranya, hidung tersumbat atau berair, batuk-batuk dantenggorokkan terasa sakit serta tubuh merasa sakit.

Jika hal itu terjadi, masyarakat diharapkan segera melakukan penanganan, mulaipengobatan maupun ke Puskesmas terdekat. Terlebih untuk anak-anak yangbegitu rentan terjangkit hingga tingkatan pneumonia. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Perpanjang Jadwal Suplai Air, BPBD Jepara Butuh Tambahan Dana

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin menyatakan, pihaknya meminta perpanjangan jadwal suplai bantuan air bersih kepada korban bencana kekeringan.

”Jadwal semula hanya sampai tanggal 4 November, tapi kami mengajukan tambahan satu bulan kedepan sampai 4 Desember,” kata Jamuddin kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Menurut dia, hal itu dilakukan karena dimungkinkan musim kemarau akan lebih panjang. Meski mengajukan permintaan perpanjangan jadwal, tapi untuk alokasi anggaran dari APBD 2015 masih tetap seperti semula.

”Anggaran sendiri semakin menipis. Tapi kami masih mengandalkan APBD dan jika nanti kurang akan mencari sumber dana lainnya,” ungkap Jamal.

Dia menambahkan, ada beberapa sumber dana lain, terutama dari CSR perusahaan yang ada di Kabupaten Jepara. Baru-baru ini, pihaknya juga mengaku telah ada yang mau member bantuan dana, tapi dia terpaksa menolak sebelum dana dari APBD habis.

”Meski dimungkinkan butuh tambahan dana ,tapi untuk saat ini masih belum,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Masih Kekeringan, Jadwal Suplai Air di Jepara Diperpanjang Hingga Desember

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jamaluddin, Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Memasuki November ini, sedikitnya 11 Desa yang ada di 8 Kecamatan di Kabupaten Jepara ternyata masih membutuhkan suplai air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Bahkan, ada beberapa desa yang minta tambahan jumlah tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno melalui Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Jamaluddin. Menurut dia, di beberapa wilayah di Jepara memang sudah ada yang sempat turun hujan. Meski demikian, bencana kekeringan belum berakhir.

”Justru kami minta perpanjangan jadwal suplai air yang seharusnya berakhir pada 4 November, tapi diperpanjang satu bulan sampai 4 Desember nanti,” kata Jamal kepada MuriaNewsCom, Senin (2/11/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, perpanjangan itu dilakukan karena melihat musim kemarau masih berlanjut. Apalagi baru-baru ini ada desa yang baru menginformasikan meminta bantuan suplai air.

”Seperti di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari. Pihak Desa baru minta bantuan suplai air. Tapi saya minta permintaannya menggunakan surat resmi agar tidak ada masalah di administrasi,” ungkapnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Paguyuban CB Pati Minta Pemkab Buat Solusi Kekeringan Jangka Panjang

Satu tangki air bersih dari Paguyuban CB Pati diturunkan di Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Satu tangki air bersih dari Paguyuban CB Pati diturunkan di Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Paguyuban Pecinta Motor Klasik CB Kabupaten Pati berharap, agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bisa memberikan solusi kekeringan yang bisa digunakan warga secara berkelanjutan dan jangka panjang.

Pasalnya, kekeringan di wilayah Pati Selatan seperti Tambakromo, Sukolilo, Kayen, Pucakwangi, dan Jakenan selalu dilanda kekeringan panjang dan kekurangan air bersih saat musim kemarau tiba.

Hal ini disampaikan Pengurus Paguyuban CB Pati Hartono saat memberikan bantuan air bersih di 15 titik, 7 desa, dan 4 kecamatan di Pati. ”Kami secara swadaya mengumpulkan dana dari anggota paguyuban dan ada juga donatur yang memberikan sumbangan untuk air bersih di wilayah Pati selatan yang menjadi titik darurat kekeringan,” ujarnya kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Ia mengatakan, bantuan air bersih memang sangat dibutuhkan masyarakat. Karena itu, selain memberikan bantuan air bersih secara langsung, pihaknya berharap agar Pemkab bisa berkolaborasi dengan sejumlah komunitas untuk memberikan solusi kekeringan dalam jangka panjang.

”Rencananya, paguyuban kami tidak sebatas sebagai komunitas yang mewadahi hobi motor klasik saja, tetapi juga peduli dengan sesama. Saat ini, kemampuan kami sebatas memberikan bantuan bersih saja sebanyak 150.000 liter. Kami berharap, pemerintah bisa memberikan solusi berkelanjutan untuk mengantisipasi kekeringan di wilayah Pati selatan,” pungkasnya. (LISMANTO/TITIS W)

Paguyuban Motor Klasik CB Bantu Air Bersih di Wilayah Pati Selatan

Sejumlah warga Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo, berebut air bersih dari Paguyuban Motor Klasik CB Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga Desa Ngeben, Kecamatan Tambakromo, berebut air bersih dari Paguyuban Motor Klasik CB Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 400 orang yang tergabung dalam Paguyuban Pecinta Motor Klasik CB Kabupaten Pati, menggelar bakti sosial dengan memberikan bantuan air bersih kepada warga Pati bagian selatan yang terkena dampak kekeringan. Kegiatan itu rencananya akan berakhir pada Kamis (29/10/2015) mendatang.

”Kami menargetkan ada 25 tangki air dengan masing-masing kapasitas 6.000 liter. Kemarin, sudah ada 15 tangki yang sudah kami salurkan ke sejumlah daerah di Kecamatan Kayen, Tambakromo, Pucakwangi, dan Jakenan,” ujar Pengurus Paguyuban Motor Klasik CB Pati Hartono kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Ia mengatakan, daerah tersebut memang selama ini dikenal sebagai wilayah yang terkena dampak kekeringan saat musim kemarau tiba. Terlebih, kata dia, musim penghujan yang mestinya sudah tiba tetapi tak kunjung datang.

Karena itu, bantuan air bersih dirasa perlu dilakukan untuk meringankan beban mereka. ”Bagi warga Pati selatan, air bersih menjadi harapan yang paling dinantikan. Semoga bisa sedikit mengurangi beban mereka,” harapnya. (LISMANTO/TITIS W)

Karena Tanggung Jawab Pusat, Normalisasi Sungai SWD II Disebut Lambat

Kondisi Sungai SWD II yang kini mengalami pendangkalan (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

Kondisi Sungai SWD II yang kini mengalami pendangkalan (MuriaNewsCom/Ayu Khazmi)

 

KUDUS –Kondisi pendangkalan yang terjadi pada Sungai SWD II karena sudah lama tidak dinormalisasi membuat Pemerintah Kecamatan Kaliwungu mengambil tindakan dengan melaporkan kondisi terakhir sungai ke dinas terkait. Sebab, kondisi ini bisa menyebabkan banjir ketika musim hujan tiba, dan warga yang bermukim di dekat aliran sungai akan terkena dampaknya.

“Namun SWD II tersebut menjadi tanggung jawab pusat bukan pemerintah kabupaten. Sehingga, untuk jalur pembenahannya perlu waktu. Kami juga sudah menyampaikan pada masyarakat untuk tanggap bencana,”  ujar M. Fitrianto, Sekretaris Kecamatan Kaliwungu kepada MuriaNewsCom.

Meskipun masyarakat di sekitar aliran sungai sudah terbiasa dengan banjir,  akan tetapi pihaknya tetap mengupayakan untuk keselamatan warga. Sebab, lokasi desa yang berada di sekitar aliran sungai posisinya juga rendah , sehingga membuat potensi banjir makin besar. (AYU KHAZMI/KHOLISTIONO)