10 Hektare Hutan di Jepara Terbakar Lagi

Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan

 

JEPARA – Bencana kebakaran hutan kembali terjadi di lereng gunung Muria wilayah Jepara. Kali ini, 10 hektare lahan milik Perhutani dan sebagian milik warga hangus terbakar di wilayah Kecamatan Batealit Jepara.

Salah seorang warga setempat yang juga saksi mata, Slamet mengatakan, tak kurang dari 10 hektare lahan terbakar. Menurut dia, hutan yang terbakar masuk wilayah Hutan Lindung Nogosari yang terletak sebelah utara hutan pinus (Setro) Dukuh Cabe Desa Batealit.

“Api diketahui mulai muncul sekitar pukul 13.00 WIB. Kemudian warga beramai-ramai berusaha memadamkan api,” ujar Slamet kepada MuriaNewsCom, Selasa (27/10/2015).

Lebih lanjut dia menjelaskan, api diketahui oleh warga setelah muncul asap yang membumbung tinggi. Mengetahui adanya kebakaran, warga langsung menuju lokasi untuk memadamkan api dengan peralatan seadanya. Beruntung di sekitar lokasi kebakaran terdapat dua pipa yang mengalirkan air dari mata air ke rumah penduduk.

“Ada saluran air di dekat lokasi, sehingga kami manfaatkan untuk memadamkan api,” katanya.

Dia menambahkan, dengan 10 hektare itu, dimungkinkan kebakaran juga merambah wilayah Sumanding, Kecamatan Kembang. Di wilayah Batealit, api sudah bisa dikendalikan oleh warga sekitar pukul 16.30 WIB. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ternyata ! Sebagian Hutan di Jepara yang Terbakar Karena Disengaja

Foto Dokumen

Foto Dokumen

 

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jeparamenyampaikan hal yang cukup mengejutkan. Kepala BPBD Jepara LulusSuprayitno mengatakan, bahwa ada sebagian hutan yang terbakar diJepara disebabkan karena kesengajaan oknum yang ingin membuka lahan.

“Menjelang datangnya musim hujan, warga di sekitar kawasan hutanPegunungan Muria mulai membuka lahan untuk pertanian. Sebagiandiantara mereka membuka lahan dengan cara membakar hutan lewat
membakar alang-alang,” ujar Lulus Suprayitno kepada MuriaNewsCom,Jumat (23/10/2015).

Lebih lanjut dia mengatakan, cara warga membakar adalah denganmembakar alang-alang. Untung saja, hutan yang terbakar tidak terlaluluas. Hanya sebagian kecil yang terbakar, sehingga menimbulkan kepulan
asap kecil di beberapa titik di area lereng Gunung Muria.

“Misalnya di kawasan Dukuh Salakan, Desa Tanjung, Kecamatan Pakisaji,pada Kamis sore kemarin, ada kepulan asap disana. Ternyata, ada wargayang membakar alang-alang untuk membuka lahan pertanian,” ungkapnya.

Dia menambahkan, ketika warga membakar alang-alang di area hutan tidakmeluas, karena masih ditunggui. Ketika api akan meluas, warga sudahmengantisipasinya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

KEBAKARAN HUTAN : Kerugian Akibat Kebakaran Hutan Lindung di Lereng Gunung Muria Capai Ratusan Juta

Hutan di lereng Gunung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Hutan di lereng Gunung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Sedikitnya 28 hektare hutan lindung milik Perhutani di wilayahKabupaten Jepara terbakar sejak kemarin. Puluhan hektare itu tersebardi tiga titik. Masing-masing di petak 63 Desa Dudakawu, Kecamatan
Kembang seluas 10 hektare, petak 7 di Desa Papasan, Kecamatan Bangsriseluas 8 hektare serta di petak 14 dan petak 15 Desa Sumanding, Kecamatan Kembang seluas 10 hektare.

KRPH Sumanding GKPH Gajah Biru KPH Pati Seniman menjelaskan, akibatkebakaran ini Perhutani mengalami kerugian ratusan juta rupiah. “Tiaphektarnya kerugian sekitar Rp 7,5 juta, tinggal mengalikan saja,” kataSeniman kepada MuriaNewsCom, Rabu (21/10/2015).

Kebakaran hutan lindung di lahan milik Perhutani wilayah Jepara ini,lanjut Seniman, merupakan yang kedua. Sebelumnya, kebakaran yang lebihbesar juga terjadi tahun 2008 lalu. Dengan kondisi cuaca kering
seperti ini, langkah-langkah preventif terus dilakukan oleh Perhutaniagar kasus kebakaran tidak terjadi kembali.

“Yang kita lakukan mengimbau dan melakukan langkah persuasif kepada masyarakatsekitar hutan agar lebih berhati-hati, sehingga kebakaran bisa dihindari,”imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

KEBAKARAN HUTAN : Ini Penyebab Kebakaran Hutan Lindung di Jepara

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – KRPH Sumanding GKPH Gajah Biru KPH Pati Seniman menjelaskan,api yang membakar lahan hutan lindung milik Perhutani itu didugadiakibatkan ulah manusia. Untuk di Desa Papasan, Kecamatan Bangsridiakibatkan oleh puntung rokok. Sedangkan yang ada di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang diakibatkan sisa-sisa warga yang mencari lebah.

“Mengetahui ada kobaran api, kita bersama dengan warga dan instansiterkait langsung melakukan tindakan pemadaman dengan cara manual,yakni menggunakan kebyok dan air yang diangkut pakai jerigen. Karena lokasi yang cukupsulit, pemadaman hanya dilakukan secara manual,” ujar Seniman kepadaMuriaNewsCom, Rabu (21/10/2015).

Menurutnya, sebanyak 28 hektare hutan lindung milik Perhutani diwilayah Kabupaten Jepara terbakar, sejak kemarin. Puluhan hektare itutersebar di tiga titik. Masing-masing di petak 63 Desa Dudakawu,
Kecamatan Kembang seluas 10 hektar, petak 7 di Desa Papasan, KecamatanBangsri seluas 8 hektar serta di petak 14 dan petak 15 Desa Sumanding,Kecamatan Kembang seluas 10 hektar.

“Kejadian kebakaran sejak kemarin, ada beberapa titik. Lokasinyamemang cukup jauh dan tinggi, sehingga pemadaman dilakukan dengan caramanual,” kata Seniman. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

KEBAKARAN HUTAN : Kebakaran di Lereng Gunung Muria Dipastikan Telah Padam

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Hutan di lereng Guung Muria yang terbakar (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kebakaran yang terjadi di lereng Gunung Muria wilayahKabupaten Jepara dipastikan telah padam. Kepastian tersebutdisampaikan pihak Perhutani, Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) Jepara, Kepolisian setempat serta aktifis peduli lingkungan.

Perhutani, melalui KRPH Sumanding GKPH Gajah Biru KPH Pati Senimanmengatakan, api dipastikan telah padam setelah dilakukan pemadamansecara manual dengan bantuan warga dan relawan SAR.

“28 hektare hutan lindung milik Perhutani di wilayah Kabupaten Jeparaterbakar, sejak kemarin. Tapi saat ini sudah padam,” kata Seniman.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengatakan, kebakaran yang terjadidi Gunung Ngebos lereng Gunung Muria telah berhasil dipadamkan.Menurutnya pemadaman berhasil dilakukan pada pukul 23.00 WIB malamtadi.“Kebakaran yang terjadi kemarin sudah dapat dipadamkan,” katanya.

Lebih detail dikatakan aktifis lembaga peduli hutan, Amin Ayahudi.Menurutnya, untuk peristiwa kebakaran kemarin berhasil dipadamkanmalam tadi. Tapi, pagi hari tadi muncul api di lokasi yang sama.“Tapi menjelang siang tadi sudah dapat dipadamkan,” kata Amin.

Hal senada dikatakan Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono. Diamengatakan, pihaknya telah memastikan peristiwa kebakaran hutan yangada di wilayah perbatasan Desa Papasan, Kecamatan Bangsri dengan DesaTempur, Kecamatan Keling.“Semalam sekitar pukul 23.00 WIB sudah dapat dipadamkan,” kata Timbul. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

PMPH Bakal Dirikan Pos Penjagaan di Kawasan Argo Wiloso

Hutan di kawasan Gunung Muria yang terbakar beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Hutan di kawasan Gunung Muria yang terbakar beberapa waktu lalu (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait musibah kebakaran hutan Gunung Muria yang ada di lahan Argo Wiloso, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Senin, (28/9/2015) lalu, membuat warga yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) akan membuat pos penjagaan.

Pos penjagaan tersebut, nantinya akan diletakan di tiga titik pendakian. Sehingga disaat ada kegiatan kemasyarakatan untuk melakukan pendakian, akan bisa terlindungi. Baik itu pendaki dari luar daerah atau dari masyarakat sekitar.
Salah satu anggota PMPH sekaligus perangkat Desa Colo Sofil Fuad menjelaskan, pos penjagaan itu nantinya akan ditempatkan di tiga titik. Diantaranya adalah, bagian area air tiga rasa (Rejenu), petilasan Syech Subakir dan yang terakhir adalah puncak Argo Wiloso tersebut.

Dengan adanya pos penjagaan tersebut, nantinya bisa membuat keamanan lingkungan serta pendaki.”Bila pos penjagaan itu sudah ada dan di jaga oleh masyarakat, maka para pendaki, baik itu pencinta alam atau dari anak-anak sekolah, mereka bisa melaporkan kegiatannya. Sehingga keamanan juga bisa sama sama tercipta. Selain itu, juga bisa meminimalkan adanya pendaki yang nyasar,” paparnya.

Selain membuat pos penjagaan, pihaknya juga akan memperketat penjagaan dengan cara mengelilingi hutan Gunung Muria secara rutin.

”Untuk kelilin hutan Gunung Muria, bisa dilakukan satu bulan sekali atau dua kali. Dengan hal ini, akan bisa membuat wilayah semakin terpantau. Sehingga lingkungan juga bisa aman dari segala sesuatu yang negatif,”katanya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

Relawan: BPBD Kurang Maksimal dalam Penanggulangan Kebakaran di Argo Wiloso

Kondisi terakhir sebagian wilayah hutan Argo Wiloso yang berangsur padam hanya tinggal asap yang masih mengepul, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi terakhir sebagian wilayah hutan Argo Wiloso yang berangsur padam hanya tinggal asap yang masih mengepul, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Salah satu relawan dari Wilayah Cranggang, Kecamatan Dawe Toro mengutarakan aksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus terhadap kebakaran hutan belum maksimal.

”Yang kami lihat kurang aktifnya BPBD memberikan fasilitas terhadap pemadaman api ini. Seperti halnya tidak menyediakan obat-obatan, peralatan gergaji mesin (senso) untuk memotong kayu yang terbakar, masker dan lainnya untuk relawan dan warga,” katanya.

Ia menambahkan, sehingga peralatan membantu dalam pemadaman api tersebut, tidak begitu diperhatikan oleh BPBD untuk keselamatan serta kelancaran pemadaman api di hutan Desa Japan tersebut.

”Selain fasilitas, logistik atau konsumsi nasi bungkus selama tiga hari mulai Senin hingga Rabu ini masih berasal dari warga setempat. Setidaknya pimpinan BPBD juga ikut naik ke pos yaitu di petilasan Syech Subakir, supaya mengetahui jelas keadaannya serta memberikan arahan bagi relawan yang ada di atas,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala BPBD Kudus Bergas Catur yang juga sebagai Kasi Penanggulangan mengatakan, bukan berarti BPBD kurang aktif, namun pihaknya mengkalkulasi terlebih dahulu peralatan apa saja yang perlu dibawa naik.

”Misalkan membawa senso atau gergaji mesin, karena itu berat sekali. Malah nanti menimbulkan bahaya dalam perjalanan, sebab jalannya sempit berupa setapak. Untuk obat-obatan kami menitipkan kepada relawan lain,” terangnya.

Bergas melanjutkan, pihaknya juga mengakui konsumsi itu memang dari masyarakat. Akan tetapi pihaknya juga menyediakan personel relawan, hasil dari koordinasi pihak BPBD dan pihak kecamatan setempat. ”Setiap desa yang ada di Kecamatan Dawe mengirimkan 10 personel relawan. Dan itupun hari ini terlaksana dengan baik, bahkan ada sekitar 200 personel,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Kobaran Api di Argo Wiloso Tinggal 5%, Petugas Tetap Lakukan Pemadaman Ekstra

Kondisi terakhir sebagian wilayah hutan Argo Wiloso yang berangsur padam hanya tinggal asap yang masih mengepul, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kondisi terakhir sebagian wilayah hutan Argo Wiloso yang berangsur padam hanya tinggal asap yang masih mengepul, Rabu (30/9/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kepala polisi sektor Dawe Akp. Sunar mengungkapkan, kebakaran lahan hutan di Argo Wiloso, Desa Japan, Kecamatan Dawe saat ini tinggal 5% saja. Titik api tersebut berada area curam menuju Sungai Montel. Meski begitu, proses pemadaman api masih membutuhkan tenaga ekstra.

Alhamdulillah titik api berangsur padam, dan masih sekitar 5%. Meski titik api tersebut berada di jurang, semoga besok bisa padam,” katanya.

Pihaknya beserta TNI, dan tokoh masyarakat lainnya terus memantau perkembangan yang ada. Sehingga api bisa dipadamkan total.

Hal senada diungkapkan Komandan Koramil Dawe Kapten Infantri Mansur. Api berangsur bisa dikendalikan, namun sisanya berada di area curam. Sehingga tim pemadam harus bisa ekstra hati-hati.

”Yang menjadi api awet menyala ialah tanaman pakis tanah. Tanaman tersebut mempunyai akar berserabut seperti tembakau. Sehingga jika terkena percikan api sangat mudah terbakar,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan polusi asap atau abu yang ditimbulkan oleh musibah tersebut, saat ini ada beberapa wilayah yang terkena imbasnya. Salah satu relawan pemadam kebakaran yang berasal dari perangkat Desa Cranggang, Kecamatan Dawe Toro mengatakan, untuk polusi asap dan abu itu menyebar ke arah barat dan utara.

”Jika kerah utara itu diperkirakan sampai ke Jepara yakni Keling Kelet dan Bangsri. Sedangkan arah barat akan menyasar ke Desa Ternadi Kecamatan Dawe, dan Desa Rahtawu Kecamatan Gebog. Akan tetapi itupun tidak menimbulkan bahaya, sebab asap serta debu yang mengepul hanya sedikit tidak seperti bencana kebakaran di Kalimantan,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Meminimalisir Kebakaran Muria, Diperlukan Pendataan Ketat Para Pendaki

Kapten Infantri Subeki, Pasi Intel Kodim 0722/Kudus saat di pegunungan Muria memantau lahan hutan yang terbakar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapten Infantri Subeki, Pasi Intel Kodim 0722/Kudus saat di pegunungan Muria memantau lahan hutan yang terbakar. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Terkait adanya musibah kebakaran hutan di Desa Japan, Kecamatan Dawe. Maka perlu adanya pengetatan terhadap data atau jadwal kepada para pendaki atau biasa yang tergabung dalam komunitas pecinta alam.

Pasi Intel Kodim 0722/Kudus Kapten Infantri Subeki menjelaskan, hal itu bukan untuk menuduh kepada pihak tertentu. Namun untuk mencegah musibah kebakaran atau perusakan lingkungan.

”Alangkah bijaknya bila mahasiswa pecinta alam, siswa sekolah, atau elemen masyarakat yang melakukan pendakian harus dibuat pos-pos pengaduan,” katanya.

Dia menilai, pos tersebut ditempatkan di daerah pegunungan. Sehingga para pendaki itu selain bisa melaporkan ke koramil atau polsek setempat sebelum pendakian, mereka juga bisa lapor kepada pos jaga di wilayah gunung tersebut.

Sehingga jika ada musibah, misalnya kebakaran hutan bisa lekas terdekteksi. Apakah musibah tersebut akibat perilaku manusia atau bencana alam. ”Yang terpenting bagaimana menjaga hutan ini. Dan fungsi pos jaga itu juga bisa selalu memantau dan menjaga keselamatan para pendaki,” pungkasnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Ratusan Kodim dan Polisi Kepung Api Muria

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Guna mengamankan wilayah pegunungan dari amukan api. Maka tentara TNI serta petugas kepolisan juga berjaga di sekitar api. Mereka mencoba memadamkan, dan beberapa petugas tersebut juga berjaga jika ada hal yang bahaya di sana.

Hal itu diungkapkan Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan. Menurutnya, petugas atau tim berjaga di kawasan Muria yang terbakar untuk mengamankan.

”Ada petugas yang standbye di sana. Ada dari TNI dan Polri juga. Selain itu sejumlah warga juga bersiaga di sekitar sana,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Hal itu dibenarkan Kapolres Kudus AKBP M Kurniawan. Saat dihubungi MuriaNewsCom, dia menuturkan sejak kemarin petugas berjaga di kawasan Japan.

”Dari polres ada 15 personel yang disiagakan. Belum lagi ditambah dari polsek. Jadi para anggota kepolisian bertugas melokalisir wilayah tersebut,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Bahaya, Api Mulai Menuju Arah Perkampungan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Bahaya dari kebakaran di kawasan pegunungan Muria, nampaknya semakin melebar. Api di hutan yang tidak juga kunjung padam, membuat kebakaran semakin meluas. Dan kini, kebakaran yang menjalar malah mengarah ke areal pemukiman.

Hal itu diutarakan relawan BPBD Kudus Budi Juwana atau yang akrab dipanggil Mbah Bejo. Menurutnya api yang memakan hutan mengarah ke arah timur, yaitu ke area pemukiman para warga di Desa Japan Kecamatan Dawe.

”Saya lihat langsung karena saya juga di sana. Dan api yang di hutan langsung mengarah ke timur, atau daerah pemukiman warga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jika api tidak juga kunjung padam, bakal membuat puluhan rumah di daerah tersebut terancam. Terbukti dengan kepulan asap di sana.

Dia menuturkan, api akan semakin bahaya manakala mengarah ke arah timur atau selatan. ”Kalau ke selatan lebih gawat lagi, sebab mengarah ke makam Sunan Muria,” jelasnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Kebakaran Muria Semakin Meluas

Ilustrasi

Ilustrasi

 

KUDUS – Kebakaran yang tejadi di Gunung Muria, masuk Desa Japan, Kecamatan Dawe semakin meluas. Jika awalnya lahan hutan yang terbakar hanya seluas 20 meter persegi saja, kini kebakaran menghanguskan hutan hingga tiga hektare.

Kepala BPBD Kudus Bergas C Penanggungan mengatakan, berdasarkan kordinasi yang dilakukan dengan Perhutani, api berhasil melahap hutan hingga tiga hektare. Hal itu membuat kawasan hutan Muria semakin gundul.

”Hingga kini api masih juga belum padam. Sehingga kemungkinan kebakaran semakin melebar lagi,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Menurutnya, petugas beserta tim juga masih berupaya memadamkan api. Pemadaman yang tidak kunjung usai disebabkan dengan alat seadanya. Hal itu terjadi, sebab kondisi kebakaran yang sulit terjangkau.

“Kita masih mengupayakan api segera padam. Sebab kalau sampai tidak padam akibatnya dapat sangat fatal,” imbuhnya. (FAISOL HADI/TITIS AYU)

Hutan di Jepara Dipastikan Aman dari Ancaman Kebakaran

 

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno. (MuriaNewCom/Wahyu KZ)

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno. (MuriaNewCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di kawasan Gunung Muria membuat khawatir di daerah lain. Sebelum kekhawatiran itu terjadi di Jepara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara memastikan bahwa hutan di Jepara masih terbilang aman dari ancaman kebakaran.

Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno mengemukakan, di Jepara ada hutan yang cukup luas. Termasuk yang berada di kawasan gunung Muria. Namun, hutan yang berada di kawasan gunung Muria di wilayah Kabupaten Jepara masih aman dari ancaman bencana kebakaran.

“Sebab, hutan di Jepara bukan sebagai tempat untuk kegiatan perekonomian seperti yang ada di Kudus,” kata Lulus kepada MuriaNewsCom, Selasa (29/9/2015).

Menurutnya, mayoritas hutan di Jepara tidak terlalu tersentuh oleh aktivitas masyarakat. Terlebih masyarakat yang ada di area hutan tidak masuk ke hutan ketika musim kemarau seperti ini.

“Masyarakat tidak begitu beraktifitas di hutan, apalagi sampai membuka lahan. Di Jepara belum seperti itu,” imbuhnya. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

BPBD Jepara Tak Tega Hutan Muria Kebakaran

BPBD Hutan Muria 1 FOTO (e)

epala BPBD Jepara Lulus Suprayitno. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara tak tega hutan di Gunung Muria terbakar. Karenanya, mereka menyatakan siap untuk membantu mengatasi bencana kebakaran hutan di Gunung Muria. Hal itu dikatakan Kepala BPBD Jepara Lulus Suprayitno, Selasa (29/9/2015).

Menurut Lulus, pihaknya sudah menawarkan diri untuk merapat ke Kabupaten Kudus ketika beredar kabar hutan di kawasan gunung Muria tepatnya di area objek wisata air tiga rasa Rejenu turut desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus. Tapi kelihatannya dari pihak Kudus belum membutuhkan bantuan yang lebih besar. Sebab, area kebakaran hutan tidak terlalu luas.

“Dari informasi yang kami terima, kebakaran terjadi sekitar 2-3 hektare lahan saja,” kata Lulus.

Lebih lanjut Lulus mengungkapkan, jika pihaknya diminta untuk merapat, maka pihaknya berjanji bakal sesegera mungkin merapat dan memberikan bantuan. Sebab, bagaimanapun juga pegunungan Muria juga wilayahnya masuk di wilayah Kabupaten Jepara, meski area yang terbakar bukan di Jepara. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Japan Diselimuti Asap Kebakaran Hutan Gunung Muria

Alas-terbakar (e)

Warga berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di hutang di kawasan Gunung Muria, Kudus. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Kebakaran hutan yang berada di pegunungan Muria atau sekitar objek wisata air tiga rasa Rejenu, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kudus, kemarin (28/9/2015).
Saat ini kepulan asap masih menyelimuti wilayah tersebut. Warga setempat masih disibukan untuk memadamkan api tersebut.

Kepala Desa Japan Sigit Tri Harso mengatakan, warga desanya juga sudah berupaya memadamkan api. Mulai dari kemarin pukul 08.00 WIB sampai Magrib pukul 18.30 WIB. “Mereka menggunakan alat seadanya,” kata Sigit kepada MuriaNewsCom.

Alat seadanya itu antara lain, cangkul, ranting pohon, sabit dan sebagainya. Alat-alat itu dipakai karena di lokasi jauh dari sumber air.

Dari informasi yang diterimanya, kebakaran diperkirakan melahap lahan seluas 8-10 hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar sudah dipadamkan.

Masih adanya kepulan asap menyebabkan warga menuju lokasi lagi. Tujuannya untuk memastikan apakah api telah padam sepenuhnya, atau belum.

Disinggung faktor penyebab kebakaran. Sigit mengaku belum bisa memastikannya. “Mungkin karena puntung rokok yang dibuang orang-orang yang kemah di lokasi. Itu baru dugaan,” ujarnya.

(Edy Sutriyono/AKROM HAZAMI)