14 Anak jadi Korban Kekerasan di Kudus

kekerasan

ilustrasi

MuriaNewsCom, Kudus – Kasus kekerasan dalam rumah tangga di Kudus, selama 2016 diklaim mengalami penurunan drastis.Ini berdasarkan data yang dikantongi pemkab setempat, Selasa (8/11/2016).

Kabid Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP&PA) di Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kudus, Yuliati mengatakan, secara akumulatif kasus yang terjadi memang menurun.  Terlebih selama 2016 ini belum dijumpai adanya kasus penelantaran anak.

“Kasus yang terjadi sampai pada November 2016, terdapat 18 kasus. Rinciannya adalah 14 kasus kekerasan terhadap anak,  4 kasus kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT). Pada tahun ini tidak ada penelantaran,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Berbeda dengan ditahun 2015, terdapat 29 kasus kekerasan hingga akhir tahun. Jumlah tersebut meliputi 11 kasus kekerasan terhadap anak. Kasus KDRT ada delapan kasus dan 10 kasus penelantaran anak. Jumlah tahun lalu dianggap tinggi yang mencapai puluhan.

Menurutnya, untuk meminimalisasi kasus kekerasan yang terjadi,  masyarakat segera melaporkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Yang saat ini sudah terbentuk, di masing-masing kecamatan.

“Bisa juga langsung menghubungi,  0858-0000-5756. Jika sudah ada laporan, kami bisa langsung mengunjungi korban ke rumahnya. Untuk memberikan pendampingan, baik secara moral dan sejenisnya,”ujarnya.

Untuk saat ini, lanjutnya kasus yang pernah terjadi, sudah ditangani oleh pihak kepolisian. Agar segera ditindak secara hukum. Kapolres Kudus AKBP Andy Rifa’i juga meminta masyarakat agar tidak takut dengan PPA. Sebab pihak kepolisian mengemas senyaman mungkin saat masyarakat lapor.

“Masyarakat butuh perlindungan, kami siap melindunginya dengan datang langsung. Identitas juga kami rahasiakan,” imbuhnya

Terpisah, Ketua Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Noor Haniah mengatakan, selama  2016 ini, pihaknya sudah menangani 27 kasus. Jumlah tersebut masih dapat bertambah sebab masih menyisakan 2 bulan di 2016 ini.

“Untuk kasus yang kami tangani, tiap tahun, rata-rata antara 40 sampai 50 kasus yang ditanganinya. Jadi tahun ini lebih rendah dibanding dengan rata rata tiap tahun,” jelasnya.

Menurutnya, kasus itu bisa ditekan, dengan mengikutsertakan peran aktif masyarakat. Keluarga yang menjadi prioritas, untuk menekan angka kasus. Karena kasus yang sering terjadi, palaku merupakan orang terdekat dan orang yang dikenalnya.

Editor : Akrom Hazami

Kasus Kekerasan Anak Tinggi di Jepara

bupati

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat menghadiri acara peringatan Hari Anak. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ternyata dari tahun ke tahun angka kasus kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga di Kabupaten Jepara masih tinggi. Tercatat pada tahun 2015 lalu, terjadi 48 kasus kekerasan terhadap anak-anak, 40 kasus KDRT dan Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) 12 kasus.

Sementara pada tahun 2016 hingga bulan Mei 2016, terjadi 27 kasus yang melibatkan anak-anak,10 kasus KDRT dan ABH 2 kasus.

Selain itu pada tahun 2015 juga terjadi 156 kasus  pernikahan dini dan tahun 2016 hingga bulan Juni tercatat 80 kasus yang tercatat di Pengadilan Agama. Penegasan tersebut disampaikan  Kepala BPPKB Kabupaten Jepara, Inah Nuroniah.

Menurutnya, permasalahan ini perlu mendapatkan penanganan bersama. Di antarnya melalui penyelenggaraan peringatan hari keluarga dan hari anak. Momentum ini  sangat penting dan strategis, mengingat peran keluarga merupakan lingkungan hidup primer dan fundamental terbentuknya kepribadian yang mewarnai kehidupan manusia.

“Keluarga juga perantara sosial pertama dan utama yang mengemban fungsi strategis (10 fungsi keluarga). Dengan demikian akan terwujud keluarga kecil yang berketahanan dan sejahtera.,” kata Nuroniah, Kamis (4/8/2016).

Sementara itu, pentingnya peringatan hari anak juga disampaikan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi pada peringatan Hari Anak Nasional Ke- 32 dan Hari keluarga Nasional ke – 23 Tahun 2016 tingkat Kabupaten di Gedung Wanita, Rabu (3/8/2016).

Menurut dia, peringatan hari anak pada dasarnya mengingatkan  kepada kita agar mampu mengasuh anak sebaik-baiknya.

“Anak adalah perantara kebahagiaan kita semua. Hingga ada istilah Jawa, “Mikul Duwur Mendhem Jero”. Artinya sebagai anak harus dapat menjunjung tinggi harkat dan martabat keluarga serta mengubur dalam-dalam-dalam kejelekan dan dosa kedua orang tua,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengajak semua pihak bergandeng tangan, berkomitmen bersama akhiri kekerasan dalam rumah tangga. Anak nakal jangan dihajar, tetapi yang terbaik anak harus disayangi jasmani dan rohani. Karena kelak anak-anak yang salah arah tersebut akan menghalangi jalan kedua orang tuanya masuk ke surga.

“Selanjutnya keluarga sebagai organisasi terkecil dan terikat orgasnisasi lain, harus kita wujudkan menjadi keluarga kecil yang bahagia, berketahanan dan sejahtera. Jika semua keluarga bisa “Sakinah Mawadah Warohmah”, maka kehidupan kamasyarakatan mulai dari RT, RW hingga Negara akan hebat dan kuat.

Cara mewujudkan nya adalah saling  menyayangi dan menghormati, antara Kepala Keluarga dan segenap anggota keluarga,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami