Gadis Disetubuhi di Jepara Usai Berkenalan Lewat HP

Pelaku pencabulan gadis menjalani pemeriksaan di Mapolres Jepara. (Tribratanewsjepara)

Pelaku pencabulan gadis menjalani pemeriksaan di Mapolres Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Seorang gadis berinisial RH (15), menjadi korban pencabulan di Desa Gedangan, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. Pelakunya adalah HB (19). Pelaku mencabuli korban di rumahnya, pada 30 Juni 2016.

Kejadian berawal HB kenalan dengan RH melalui telepon seluler atau HP, pada Rabu 29 Juni 2016. Kemudian pada Kamis 30 Juni 2016, pelaku janjian ketemu di terminal Welahan. Kemudian korban diajak ke rumah tersangka dan sampai rumah diajak masuk kamar.

Pelaku mengunci pintu kamar. Kemudian, pelaku membujuk untuk bersetubuh layaknya hubungan suami istri sebanyak 2 kali. Satreskrim Polres Jepara setelah menerima laporan tentang persetubuhan terhadap anak ini langsung melakukan penyidikan. Setelah ditemukan ada bukti permulaan yang cukup, petugas segera melakukan penangkapan terhadap pelaku.

Polisi menangkap pelaku di rumahnya tanpa adanya perlawanan. “Selanjutnya pelaku dibawa ke Mapolres Jepara untuk dilakukan pemeriksaan,” tutur Kasatreskrim Polres Jepara AKP Suwasana.

Saat ini, pelaku masih dimintai keterangan polisi, guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Editor : Akrom Hazami

Sadis, Kakek 60 Tahun Ini Cabuli Bocah Usia Lima Tahun

Orang tua korban dugaan pelecehan seksual (dua dari kiri, red) saat memaparkan kejadian yang menimpa anak berusia lima tahun, yang diduga dilakukan tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Orang tua korban dugaan pelecehan seksual (dua dari kiri, red) saat memaparkan kejadian yang menimpa anak berusia lima tahun, yang diduga dilakukan tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Kudus – Satu lagi kasus dugaan pencabulan dilakukan terhadap anak balita. Pelakunya sudah tua, dan berstatus tetangga korban sendiri.
Kasus ini terbongkar, karena sang anak yang berusia lima tahun dan berinisial LS, menceritakan hal itu sesaat setelah kejadian berlangsung. Tentu saja orang tuanya kaget, dan akhirnya melapor ke pihak kepolisian.

Sejumlah pendamping kasus tersebut, Senin (20/6/2016) melakukan jumpa pers atas kasus itu, di Kedai Suko, Jalan Masjid Agung Kudus. Di sana turut dihadirkan ayah dari korban, bersama pendamping yang ditunjuk.

Korban yang merupakan warga Kecamatan Kaliwungu, menurut ayahnya yang berinisial S, menceritakan bahwa anaknya itu telah menjadi korban pelecehan seksual oleh tetangganya sendiri berinisial N (60).

Melalui pengacaranya Toni Triyanto, dikatakan bahwa kejadian itu terjadi pada Kamis (9/6/2016), sekitar pukul 10.00 WIB. Pada hari itu, korban akan membeli jajan di warung N.

”Namun setelah itu, korban diajak N untuk masuk ke kamarnya. Saat itu juga, celana korbaan dibuka oleh N. Kemudian N juga membuka celananya sendiri. Setelah itu, korban dipangku atau didudukkan oleh N,” kata Toni.

Dia melanjutkan, setelah itu, jari N dimasukkan ke kemaluan korban. Bukan sampai disitu saja, karena alat vital N digesek-gesekan ke tubuh korban, hingga keluar sperma.

Usai peristiwa itu, korban pulang ke rumah. Kepada ibunya, korban mengatakan ingin berganti celana karena basah. Ibunya yang heran, bertanya kenapa anaknya itu harus ganti celana.

”Kepada ibunya, korban kemudian menceritakan sebagaimana yang saya sampaikan di atas tadi. Curiga bahwa anaknya telah menjadi korban pencabulan, ibunya lantas membawa ke Puskesmas Kaliwungu,” terangnya.

Usai mendapatkan hasil visum dari puskemas, orang tua korban kemudian melapor ke pihak kepolisian. Toni mengatakan, selain melapor, orang tua juga meminta bantuan pihaknya untuk mendampingi.

”Karena itulah, bersama aktivis perempuan Mbak Eny Mardiyanti, kita terpanggil untuk ikut mendampingi korban. Supaya kasus ini dituntaskan, karena sangat membahayakan kalau dibiarkan begitu saja. Ini sudah menyangkut anak-anak yang harus dijaga masa depannya,” tuturnya.

Editor: Merie

Awas, Jaringan Perdagangan Anak di Pati Disebut Profesional

Kuasa hukum orangtua SN, korban perdagangan anak, Djunaedi tengah menjelaskan persoalan trafficking di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kuasa hukum orangtua SN, korban perdagangan anak, Djunaedi tengah menjelaskan persoalan trafficking di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ini barangkali baru sebatas dugaan. Namun juga perlu diwaspadai oleh semua pihak, termasuk para orang tua yang memiliki anak yang masih di bawah umur.

Pasalnya, perdagangan anak di bawah umur yang menjadikan SN (17), siswi dari salah satu madrasah aliyah (MA) di Pati sebagai korban, diduga melibatkan sebuah jaringan teroranisir.

Hal itu dikatakan Djunaedi, kuasa hukum orangtua korban. Dia menduga, pelaku yang menjual SN kepada tamu hotel, juga melibatkan sebuah jaringan atau sindikat yang terorganisir.

”Dari informasi yang saya himpun, pelaku mengaku membagi-bagikan uang hasil penjualan SN. Itu artinya, ada semacam jaringan yang terlibat,” ujar Djunaedi yang ditemui MuriaNewsCom, Rabu (13/4/2016).

Fakta mengejutkan lainnya, korban ternyata sudah berkali-kali dijual pelaku untuk melayani tamu di hotel. Dalam satu hari saja, korban mengaku melayani pria hidung belang hingga dua orang.

”Korban sempat mengaku melayani paling tidak dua orang dalam sehari. Itu artinya, kejadian itu berulang kali terjadi. Sehingga kami duga ada jaringan perdagangan orang yang sudah mapan di Pati,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya akan melakukan kajian mendalam untuk membongkar jaringan kejahatan perdagangan orang di Pati tersebut. ”Jangan sampai di Pati ada sarang perdagangan anak, yang merusak masa depan pelajar untuk kepentingan bisnis,” tegasnya.

Hingga berita ini turun, korban masih belum diketahui keberadaannya. Ada yang menduga, korban sengaja diamankan dan ”di-cut” sejumlah pihak, agar jaringan perdagangan orang di Pati tidak terbongkar.

Editor: Merie

Giliran Orang Tua Korban Trafficking Anak di Bawah Umur Tuntut Hotel Safin Pati

Kuasa hukum orangtua korban trafficking di Pati, Djunaedi memberikan keterangan pada awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kuasa hukum orangtua korban trafficking di Pati, Djunaedi memberikan keterangan pada awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Orangtua SN, korban perdagangan anak di bawah umur yang mencatut nama “Andro” menuntut kepada Hotel Safin Pati. Tuntutan itu diserahkan kepada kuasa hukumnya, Djunaedi.

Djunaedi saat ditanya MuriaNewsCom, Senin (11/4/2016) mengatakan, pihaknya sudah ditunjuk orang tua korban sebagai kuasa hukum untuk menangani dan menyelesaikan persoalan yang menjadikan anaknya sebagai korban trafficking.

“Dari orang tua korban mengajukan tuntutan kepada Manajer Hotel Safin atau pihak-pihak lainnya terkait dengan penjualan diri anak orangtua,” ujarnya.

Baca juga : Miris! Siswi Madrasah Aliyah di Pati Diduga Dijual untuk Pria Hidung Belang

Ia mengatakan, pelaku harus dihukum seberat-beratnya karena sudah memperdagangkan anak di bawah umur sebagai alat pemuas nafsu. Itu sebabnya, kasus itu diminta diusut tuntas supaya kasus serupa tidak terjadi lagi.

Sementara itu, orang tua korban mengaku kaget dengan peristiwa yang menimpa anaknya. “Saya hanya bisa nangis. Suami saya merantau di Sumatera. Saya minta keadilan ditegakkan dan usut tuntas pelaku, serta orang-orang yang terlibat,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda Jateng menangkap tangan Andro yang diketahui menjajakan pelajar salah satu madrasah aliyah (MA) di Pati kepada tamu di Hotel Safin. Kasus itu berbuntut panjang, mulai dari aksi demonstrasi hingga tuntutan kepada pihak manajemen.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Hotel Safin Pati Dituntut Tutup oleh Santri 

Hotel Safin Pati Dituntut Tutup oleh Santri

Koodinator aksi Sholikul Hadi berorasi di depan Hotel Safin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Koodinator aksi Sholikul Hadi berorasi di depan Hotel Safin. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Puluhan santri yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Pembela Santri Madrasah Indonesia (APSMI) Pati menggelar unjuk rasa di depan Hotel Safin, Jalan Diponegoro Pati, Rabu (30/3/2016).

Mereka menuntut agar Hotel Safin ditutup, setelah adanya kasus perdagangan anak di bawah umur yang melibatkan salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) beberapa waktu lalu. Dalam aksinya, mereka membawa spanduk bertuliskan tuntutan untuk menutup Hotel Safin.

Baca juga :  Miris! Siswi Madrasah Aliyah di Pati Diduga Dijual untuk Pria Hidung Belang 

“Tutup Hotel Safin. Jangan perdagangkan anak-anak kami. Jangan fasilitasi praktik prostitusi dan perdagangan anak di Pati. Waspada dan hindari praktik prostitusi dan trafficking. Waspada penyalahgunaan narkoba,” begitu bunyi spanduk yang dibawa puluhan santri.

Usai menggelar aksi demonstrasi, massa kemudian melakukan salat gaib di depan Hotel Safin. Hal itu dilakukan sebagai aksi kepedulian terhadap santri untuk melawan trafficking.

“Anak-anak itu aset bangsa. Kalau anak-anak diperjualbelikan, bagaimana nanti nasib bangsa ke depan? Kami harap trafficking jangan sampai terjadi lagi di Pati,” ujar Ketua APSMI Ali Ridlo di depan awak media.

Sementara itu, pihak manajemen Hotel Safin saat dikonfirmasi mengaku sudah melakukan manajemen hotel sesuai dengan standar hotel bintang tiga. “Kami hanya sebagai saksi. Pelaku itu sudah menjadi target operasi (TO) dan dijebak Polda Jawa Tengah. Kami tidak menyediakan wanita panggilan,” kata Vallient Isaak, manajer Hotel Safin.

Editor : Akrom Hazami

Pelaku Penjual ABG di Pati Terancam 15 Tahun Penjara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Andro, pelaku yang diduga menjual dua orang siswi dari salah satu Madrasah Aliyah (MA) di Pati diancam dengan Pasal 76 i jo Pasal 88 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Pelaku juga diancam Pasal 2 jo 17 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dengan jeratan tersebut, pelaku terancam mendapatkan hukuman pidana paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun.

Hal itu diamini Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto. “Atas perbuatannya, pelaku terancam mendapatkan hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun karena melakukan perdagangan terhadap orang,” ujar Kombes Pol AlloysiusLiliek kepada MuriaNewsCom, Jumat (25/3/2016).

Sementara itu, Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati yang saat itu memimpin penangkapan pelaku di salah satu hotel di Pati bersama dengan Satgas Perlindungan Anak (PA) Jawa Tengah mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan pengambilan keterangan dari para saksi korban.

“Saat ini, kasus itu masih kami dalami. Kami masih meminta keterangan dari para saksi, korban, dan tersangka. Kami berhasil menangkap tangan yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang saat mereka transaksi dengan tamu yang menginap di salah satu hotel di Pati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Miris! Siswi Madrasah Aliyah di Pati Diduga Dijual untuk Pria Hidung Belang

Miris! Siswi Madrasah Aliyah di Pati Diduga Dijual untuk Pria Hidung Belang

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Malang nian nasib STN yang berusia 17 tahun dan MF yang masih berusia 16 tahun. Perempuan di bawah umur yang mengenyam pendidikan di salah satu madrasah aliyah di Pati tersebut diduga dijual kepada pria hidung belang yang menjadi tamu di sebuah hotel berbintang di Pati.

Aksi itu terbongkar, setelah Andro, pria yang disebut-sebut sebagai penjual kedua perempuan di bawah umur tersebut dibekuk petugas kepolisian dari Polda Jawa Tengah. Pria itu dibekuk, karena diduga melakukan perdagangan terhadap perempuan di bawah umur.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, Jumat (25/3/2016), Andro tak hanya menjual dua bocah malang itu kepada tamu hotel. Andro juga diduga menyetubuhi keduanya.

Andro juga disebut mengancam kedua korban dengan menyebarkan video dan foto mereka bila tidak mau melayani nafsu bejatnya. Beruntung, petugas kepolisian dari Polda Jawa Tengah berhasil membongkar perbuatan bejat pelaku.

Kasat Reskrim Polres Pati AKP Agung Setyo saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengungkapan aksi perdagangan orang yang dilakukan Andro. “Iya, ada penangkapan. Itu ditangani langsung Polda Jawa Tengah,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Polisi Tunggu Laporan dari Korban, Terkait Kasus Sodomi di Desa Sidoharjo Pati

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Kasus sodomi yang diduga dilakukan seorang modin di Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati membuat warga setempat gempar. Pasalnya, modin tersebut dikenal juga sebagai guru ngaji di rumahnya.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom di lapangan, pelaku selama ini dipercaya masyarakat untuk mendidik anaknya di bidang agama. Bahkan, pelaku juga memiliki profesi sebagai tenaga pendidik di sebuah sekolah swasta.

Namun, kelainan seksual yang dialami pelaku yang diduga melakukan aksi sodomi kepada muridnya membuat warga setempat geram. Perbuatan bejat itu dilakukan, saat suasana rumah sepi. Momen itulah dimanfaatkan pelaku untuk “bermain burung” dengan korban yang tak lain muridnya sendiri.

Sekretaris Desa Sidoharjo Tarjo mengaku, si modin saat ini sudah mulai tidak masuk kerja ke balai desa. “Dia sudah dipecat. Saat ini, modin di desa tinggal dua orang saja,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho saat dikonfirmasi belum menerima laporan terkait dengan kasus asusila yang melibatkan anak tersebut. “Kami masih menunggu laporan. Kalau laporan sudah masuk, kami akan tangani. Kalau terbukti, pelaku akan di sidang di pengadilan,” tandasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Miris! Seorang Modin di Pati Diduga Lakukan Tindakan Asusila Terhadap18 Bocah

Miris! Seorang Modin di Pati Diduga Lakukan Tindakan Asusila Terhadap18 Bocah

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang modin berinisial MS (57), warga Desa Sidoharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Pati diduga melakukan pelecehan seksual pada 18 bocah. Hal itu dilakukan dalam kurun waktu empat tahun.

Dari informasi yang dihimpun, pelaku dipecat jabatannya sebagai modin I di desanya akibat aksi bejatnya itu. Aksi itu terbongkar pada Maret ini, setelah salah satu orangtua korban kaget dengan pengakuan anaknya yang tidak mau diajak bermain “burung” dengan sang modin.

Sebut saja Dewa (bukan nama sebenarnya). Bocah laki-laki ini mengaku acapkali diminta untuk memenuhi hasrat sang modin yang menjadi guru ngajinya itu. Sontak, pengakuan Dewa menyulut emosi warga.

“Berhubung warga menuntut supaya modin dicopot jabatannya, akhirnya modin mengundurkan diri. Kami sudah melaporkan permasalahan itu ke Camat Wedarijaksa dan Bupati Pati,” kata Bogi Yulianto, Kepala Desa Sidoharjo, Rabu (16/3/2016).

Ia mengatakan, sudah ada lima orang yang menjadi korban dari aksi bejat sang modin dalam kurun waktu 2016. Sementara itu, warga setempat menyatakan bila korban bisa mencapai 18 anak.

“Orangtua korban enggan melapor ke polisi, karena masih takut berurusan dengan hukum. Lantaran hal itu perbuatan tercela yang berpotensi merusak masa depan anak, warga akhirnya menuntut,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Waduh ! Ada Oknum Cabul Pasang Kamera Pengintai di Toilet Wanita Pemkab Rembang

Salah satu toilet wanita di lingkup Gedung Pemkab Rembang. (MuriaNewsCom)

Salah satu toilet wanita di lingkup Gedung Pemkab Rembang. (MuriaNewsCom)

 
MuriaNewsCom, Rembang – Kabar mengejutkan mencuat dari toilet wanita di Gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang lantai III. Informasi yang beredar, terdapat sejumlah kamera pengintai yang sengaja dipasang oleh oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mengintip aktivitas para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan setempat.

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, terdapat dua kamera pengintai yang bentuknya menyerupai bolpoin (pulpen) di toilet khusus wanita itu yang biasa digunakan oleh pegawai DPPKAD dan Bagian Hukum. Alat tersebut sengaja dipasang oleh oknum berotak cabul yang diduga dari kalangan PNS setempat.

Meskipun alat pengintai rahasia tersebut, sudah terbongkar dan diamankan oleh pihak Pemkab Rembang. Namun, identitas oknum berotak cabul yang merupakan pelaku pemasang sekaligus pemilik alat itu masih belum dibeberkan.

Perbuatan cabul yang baru ketahuan itu, spontan membuat puluhan pegawai perempuan di lingkungan Pemkab, merasa was-was dan mengecam keras pelakunya. Pegawai perempuan dari Bagian Humas, Desi Ambarwati mengatakan mulai Senin (14/3/2016) menjadi khawatir dan was-was ketika mau ke kamar mandi. Ia mengaku menjadi waspada setiap kali ke kamar mandi.

”Begitu dapat kabar ada salah satu PNS perempuan yang mengetahui, adanya alat pengintai terpasang di toilet wanita, saya kaget langsung tidak berani ke toilet. Namun, tidak mungkin kalau disuruh nahan terus. Kalau terpaksa ke kamar mandi, saya cek semua ruangan. Mulai dari atas, bawah, pojok, dan lainnya. Kalau aman, baru beraktivitas di sana,” akunya kepada MuriaNewsCom, Selasa (15/3/2016).

Ia berharap agar pihak berwenang untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Selain itu, ia meminta agar pelakunya segera ditangkap dan diberi sanksi yang setimpal. Sebab, toilet tersebut juga digunakan oleh tamu dari luar kalangan pegawai di Pemkab Rembang.

”Harapannya agar segera diusut tuntas dan pelaku diberi sanksi tegas. Mungkin bukan hanya pegawai di bagian DPPKAD, bidang Hukum dan Humas saja yang was-was dan malu. Tetapi kalau sampai ada tamu yang pernah menggunakan toilet itu mengetahui hal ini, tentunya juga takut dan malu,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Lakukan Aksi Bejatnya Berkali-kali Selama 3 Hari, Penjual Nasi Goreng Asal Pati Ini Diancam Hukuman Minimal 5 Tahun Penjara

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Remaja berinisial DW (17), warga Kecamatan Margorejo, Pati yang masih berusia 17 tahun digagahi seorang pria penjual nasi goreng yang diketahui bernama Anggit, warga Kecamatan Pati.

Baca juga : Cabuli ABG di Bawah Umur, Penjual Nasi Goreng Asal Pati Ini Ditangkap Polisi 

Hal itu terungkap setelah petugas Polres Pati membekuk pelaku saat menjual nasi goreng. Dari hasil pengakuan pelaku, korban awalnya digagahi sebanyak tiga kali pada malam tahun baru 31 Desember 2015 hingga 1 Januari 2016.

”Awalnya pelaku pamit kepada orangtua korban untuk memulangkan anaknya itu pukul 16.00 WIB. Tapi, korban tak kunjung pulang hingga malam hari, bahkan selama tiga hari,” kata Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas AKP Sri Sutati kepada MuriaNewsCom, Rabu (24/2/2016).
Hari kedua, korban bukannya dipulangkan ke rumah, tetapi justru kembali diinapkan ke hotel lain. Di sana, keduanya diduga melakukan hubungan intim sebanyak lima kali.

Setelah check out dari hotel kedua, korban masih belum dipulangkan ke rumahnya, tetapi justru diajak ke rumah temannya di Gabus untuk dimintakan baju ganti. Di sana, keduanya diduga kembali berhubungan intim.

”Orangtua bingung karena anaknya tidak pulang-pulang. Akhirnya orangtua melaporkan kejadian itu kepada polisi. Setelah dilakukan penyelidikan, kami akhirnya melakukan penangkapan kepada pelaku,” tambahnya.
Ia mengatakan, korban dipulangkan ke rumah sekitar pukul 03.00 WIB dini hari setelah korban diajak nongkrong di warung temannya. Itupun korban tak diantar sampai rumah, tapi sampai di gang menuju rumah.

Atas perbuatannya yang menggagahi remaja di bawah umur, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat 2 undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 dengan ancaman kurungan penjara antara lima hingga 15 tahun.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Baca juga : Sering Nonton Film Porno, Pria Paruh Baya Ini Cabuli Siswi SD

Cabuli ABG di Bawah Umur, Penjual Nasi Goreng Asal Pati Ini Ditangkap Polisi

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Seorang penjual nasi goreng bernama Anggit yang merupakan warga Kecamatan Pati terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian, lantaran diduga mencabuli remaja di bawah umur berinisial DW (17) asal Kecamatan Margorejo.

Pelaku dibekuk petugas Polres Pati, lantaran membawa remaja itu hingga berhari-hari dan dicabuli berkali-kali. Padahal, pelaku dan korban awalnya hanya berkenalan melalui handphone.

Setelah keduanya mulai akrab kenalan melalui HP, mereka lantas mencoba untuk jalan-jalan dengan menikmati malam tahun baru pada 31 Desember 2015 hingga menyewa hotel untuk menginap.

“Kami mendapatkan informasi dari orangtua korban, bahwa anaknya itu sudah hilang beberapa hari. Setelah kami menghimpun informasi dan melakukan penyelidikan, akhirnya kami tangkap pelaku di tempatnya berjualan nasi goreng,” ujar Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho melalui Kasubbag Humas Polres Pati Sri Sutati kepada MuriaNewsCom, Rabu (24/2/2016).

Saat ini, pelaku terancam dijerat Pasal 81 ayat 2 Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 tahun 2014 dengan ancaman kurungan penjara antara 5 hingga 15 tahun. Pasal itu berlaku, karena pelaku mencabuli perempuan yang masih di bawah umur.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Sering Nonton Film Porno, Pria Paruh Baya Ini Cabuli Siswi SD

Ini Versi Lain Terkait Kronologi Dugaan Pelecehan Seksual yang Dialami Seorang Siswi SMA di Lasem

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kanit Reskrim Polsek Lasem Iptu Edi Sismanto mengungkapkan terkait kronologi kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa seorang siswi salah satu SMA di Lasem yang terjadi pada Kamis (4/2/2016).

Menurutnya, gadis berinisial WAY yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual tersebut, sedang mengendarai sepeda ontel ketika berangkat sekolah pada pagi kemarin.

Sesampainya di perempatan Jalan dr.Ronald Desa Babagan, Kecamatan Lasem, tiba-tiba pemuda berinisial S (25), warga Pamotan yang menaiki sepeda motorkemudian mengambil posisi berdampingan di samping WAY yang mengayuh sepeda ontel.

Ketika sudah sejajar, kemudian pelaku langsung menjalankan niat cabulnya, dengan menyentuh bagian sensitif tubuh gadis itu. Korban berusaha menangkis dengan salah satu tangannya, namun keseimbangan korban jadi goyah dan akhirnya terjatuh dari sepeda dan mengalami luka di kepala.

“Jadi begini, yang laki-laki itu mau menyentuh bagian sensitif dari tubuh si perempuan itu. Perempuannya menaiki sepeda ontel mau sekolah, sedang laki-laki itu mengendarai sepeda motor. Ketika mau menyentuh, gadis itu terus menangkis, tapi keseimbangan perempuan ini tidak terjaga, akhirnya terjatuh,” kata Edi.

Setelah terjatuh, gadis yang bersangkutan melapor ke polisi. “Akhirnya dari pihak korban itu melapor ke Sat Reskrim Polres Rembang dan minta kasus tersebut diselesaikan secara hukum,” ungkapnya.
Sementara, terkait tindak lanjut kasus tersebut, Edi mengatakan,jika saat ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Hal itu, setelah ada koordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Rembang.

Baca juga :

Terlalu! Pemuda Ini Nekat Gerayangi Seorang Siswi SMA di Tengah Jalan

Editor : Kholistiono

Terlalu! Pemuda Ini Nekat Gerayangi Seorang Siswi SMA di Tengah Jalan

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Rembang – Seorang siswi salah satu SMA di Lasem mendapatkan pelecehan seksual dari seorang pemuda berinisial S, warga Kecamatan Pamotan, Rembang. Peristiwa ini, terjadi ketika siswi dengan inisial WAY tersebut berangkat ke sekolah pada Kamis (4/2/2016) pagi, sekitar pukul 6.30 WIB.

Saat itu, WAY sedang menuju sekolah, dan ketika sampai di Jalan dr Ronald, Desa Babagan, Kecamatan Lasem, dirinya dicegat oleh S. Kemudian, S melakukan tindakan tidak terpuji, yakni menggerayangi beberapa bagian tubuh WAY.

Tidak terima perlakuan S, kemudian WAY mencoba berontak dan melawan. Namun, karena tenaganya kalah kuat dengan pemuda itu, korban justru terjatuh dan mengalami luka memar di kepala bagian belakang.

Tak berselang lama, beruntung ada seorang warga mengetahui kejadian tersebut dan kemudian menolong korban. Warga tersebut kemudian menangkap pelaku dan membawanya ke rumah korban. Kasus ini, saat ini sudah sampai di kepolisian.

Kapolsek Lasem AKP Eko Budi Sulistyo membenarkan terkait kejadian tersebut. Menurutnya, saat ini kasus tersebut ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Rembang. “Kasusnya sudah ditangani oleh PPA Polres,” katanya singkat, ketika dihubungi MuriaNewsCom, Jumat (5/2/2016).

Editor : Kholistiono

BP2KB Jepara Tegaskan untuk Mengawal Kasus Dukun Cabul

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang dukun bernama Mukri (60) warga Desa Damarjati RT 05 RW 06 Kecamatan Kalinyamatan, Jeparamendapat perhatian khusus dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Bidang Perlindungan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Jepara.

Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Perempuan Sri Utami menjelaskan, pihaknya menyatakan komitmennya untuk mengawal kasus pencabulan dengan korban seorang anak di bawah umur dan ibu korban.

“Kami memiliki tim, baik dari psikolog, hukum, dan yang lainnya untuk mengawal kasus tersebut. Rencananya, Kamis besok kami akan mendatangi korban,” ujar Sri Utami kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/1/2016).

Menurutnya, pihaknya akan mengawal baik proses hukum bagi pelaku maupun perkembangan kesehatan dan psikologis korban. Sebab, kasus tersebut tergolong kasus yang keji sehingga harus mendapatkan perhatian yang lebih.

Sementara itu, terkait dengan jumlah korban pencabulan yang dilakukan oleh pelaku, pihaknya menyatakan, sementara ini baru dua orang, yakni seorang anak dan ibunya. Sedangkan untuk kemungkinan adanya korban yang lainnya, untuk saat ini belum ada laporan yang masuk lagi, baik kepada polisi maupun kepada pihaknya.

“Sampai saat ini masih ditangani pihak kepolisian. Dan sejauh ini memang baru dua korban itu, belum ada tambahan korban,” katanya.

Editor : Kholistiono

Bejat, Dukun Palsu Jepara Setubuhi Ibu dan Cabuli Anak Gadisnya

Ilustrasi MuriaNewsCom

Ilustrasi MuriaNewsCom

 

JEPARA – Polres Jepara telah mengamankan dukun cabul Mukri (60), warga Desa Damarjati, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Dia diduga dituduh melakukan pencabulan kepada pasiennya IPS (14). Tak hanya itu, pelaku juga menyetubuhi ibu korban.

“Dari hasil keterangan lebih jauh, pelaku juga melakukan hal yang sama kepada ibu korban. Modusnya mengobati penyakit, kemudian melakukan tindakan asusila,” ungkap Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwarsana kepada awak media, Selasa (19/1/2016).

Menurutnya, dengan modus yang sama, pelaku menyetubuhi ibu korban beberapa kali. Pelaku mengancam jika menceritakan tindakannya, maka korban yang merupakan pasiennya itu diancam penyakitnya akan lebih parah.

“Akibat tindakannya tersebut, pelaku terancam pasal 81 Jo 76 d Undang-undang RI Nomor 35 tahun 2014,” ungkapnya.
Dia menambahkan, dengan pasal yang dikenakan tersebut, pelaku terancam hukuman paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun. Sampai saat ini kasus tersebut masih ditangani pihak kepolisian.

Tercatat, peristiwa pencabulan tersebut terakhir dilakukan pada 10 Januari 2016 lalu, selang dua hari kemudian, pihak keluarga korban melaporkan hal itu ke pihak kepolisian.

Seperti diberitakan, pelaku merupakan seorang dukun pengobatan tradisional. Modus pelaku, saat proses pengobatan di ruangan khusus, mata korban ditutup dengan kain. Selanjutnya pakaian korban diperintahkan untuk ditanggalkan. Saat itu pelaku dengan leluasa menyetubuhi korban.

Usai melakukan tindakan asusila tersebut, pelaku memperingatkan korban agar tidak mengatakan kejadian tersebut kepada orang lain, jika tidak ingin penyakitnya kian parah. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Dukun Palsu Jepara Ini Tega Cabuli Gadis di Bawah Umur Dekat Ibunya

Ilustrasi MuriaNewsCom

Ilustrasi MuriaNewsCom

 

JEPARA – Berkedok sebagai penyedia pengobatan tradisional, seorang dukun ditangkap oleh pihak kepolisian Polres Jepara. Karena dia diduga menjadi dukun cabul setelah melakukan tindakan asusila kepada para pasiennya.
Ya, dia adalah Mukri (60) warga Desa Damarjati RT 05 RW 06, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara.

Mukri dilaporkan oleh salah satu pihak keluarga pasien yang menjadi korban asusilanya ke polisi, yang mengetahui tindakannya tersebut. Akhirnya pihak kepolisian pun mengamankan Mukri atas tuduhan tersebut.

Kasat Reskrim Polres Jepara AKP Suwarsana mengatakan, pelapor merupakan ayah dari korban berinisial IPS (14), seorang remaja asal Kecamatan Kalinyamatan. Korban tersebut dicabuli oleh tersangka saat berobat di kediaman tersangka pada Minggu 10 Januari 2016 lalu.

“Tersangka ini merupakan dukun pengobatan. Sedangkan korban merupakan pasien yang berobat kepada tersangka,” kata Suwarsana kepada awak media, Selasa (19/1/2016).

Menurut dia, saat itu korban IPS sedang berobat ke tempat praktik tersangka diantar oleh ibunya. Keluhan korban kepada tersangka adalah sakit mata. Kemudian, korban diminta untuk menutup matanya dan membuka pakaian yang dikenakannya. Selanjunya korban diminta tidur terlentang.

“Ketika itu, pelaku atau terlapor dengan leluasa melakukan tindak kejahatan asusilanya,” kata dia.

Dia menambahkan, korban diancam oleh pelaku jika apa yang telah dilakukan oleh pelaku tersebut diceritakan. Korban diancam, jika menceritakannya maka mata yang sakit akan menjadi bengkak atau membesar. Namun, kelakuan tersangka tersebut pun lama-lama diketahui oleh ayah korban dan akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Ini Kronologi Pemerkosaan Bocah 14 Tahun di Jepara

Ilustrasi Pemerkosaan. (MuriaNewsCom)

Ilustrasi Pemerkosaan. (MuriaNewsCom)

 

JEPARA – Peristiwa pemerkosaan mendera bocah di bawah umur, HI (14), warga Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara menjadi korban kebejatan lelaki.

HI diperkosa dua priatak bertanggung jawab di kebun di kawasan Sreni, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari.
Ayah korban, Ali Yudi membeberkan kronologi kejadian tersebut. Menurut dia, mulanya pada Sabtu, 14 November 2015 lalu, sekitar pukul 14.00 WIB anak semata wayangnya tersebut dijemput oleh teman perempuannya berinisial Er (14). Pamitnya mau ambil HP ke sekolah.

“Tetapi sampai malam hari tidak pulang-pulang, kemudian saya cari kemana-mana tidak ketemu. Dan baru pulang hari Minggu sekitar pukul 09.00 WIB,” terang Ali kepada MuriaNewsCom, Selasa (12//1/2016).

Menurutnya, tak lama kemudian dia mendapatkan informasi dari salah seorang guru yang mengaku diadu oleh anaknya kalau telah diperkosa. Kemudian dirinya menanyakan secara langsung kepada yang bersangkutan dan ternyata betul, bahwa anaknya jadi korban pemerkosaan.

Kasus tersebut sudah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jepara pada Senin, 16 November lalu. Termasuk ke Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Jepara.

Dari visum yang dilakukan di RSUD Kartini Jepara, menyatakan HI memang positif diperkosa. Keluarga korban pun sudah beberapa kali dipanggil, termasuk proses pemeriksaan saksi. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Heboh, Bocah 14 Tahun di Jepara Diperkosa 2 Pria di Kebun

Ilustrasi Pemerkosaan. (MuriaNewsCom)

Ilustrasi Pemerkosaan. (MuriaNewsCom)

 

JEPARA – Nasib tragis menimpa seorang anak perempuan berusia 14 tahun, berinisial HI, warga Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Dia diperkosa oleh dua orang lelaki bejat di kebun yang berada di kawasan Sreni, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Jepara.

Berdasar keterangan ayah korban, yakni Ali Yudi, anak kandungnya tersebut diperkosa oleh dua lelaki. Hal itu diketahui setelah dirinya mendapatkan informasi dari guru sekolah yang dilapori oleh anaknya terkait kasus tersebut.

“Saya mendapatkan informasi itu awalnya dari guru Bimbingan Konseling (BK). Kemudian saya konfirmasi ke anaknya dan dia baru mengakui kalau diperkosa,” ujar Ali kepada MuriaNewsCom Selasa (12/1/2016).

Menurut dia, yang melakukan pemerkosaan adalah dua lelaki yang tidak dikenalinya. Sebelum kejadian, HI diajak oleh teman sekolahnya perempuan untuk main, tapi ternyata diajak ketemu oleh tiga lelaki. Satu lelaki diketahui dekat dengan teman perempuannya dan dua lelaki lainnya itu yang diketahui merupakan pelaku pemerkosaan.

“Kejadiannya di sekitar kebun Sreni. Sebelum diperkosa, anak saya diajak muter-muter kebun dan sawah, lalu diperkosa, jika berontak diancam dibunuh,” katanya.

Kasus ini sudah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jepara pada Senin, 16 November lalu. Termasuk ke Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Jepara. Dari visum yang dilakukan di RSUD Kartini Jepara, sehari kemudian, HI memang positif diperkosa. Keluarga korban pun sudah beberapa kali dipanggil, termasuk proses pemeriksaan saksi. (WAHYU KZ/AKROM HAZAMI)

Memprihatinkan, Sepanjang 2015 Ada 20 Kasus Pencabulan yang Melibatkan Anak-Anak di Grobogan

Oketimes.com

Oketimes.com

 

GROBOGAN – Perhatian terhadap perilaku anak-anak hendaknya perlu mendapat prioritas lebih. Hal ini menyusul adanya banyak kasus pencabulan yang melibatkan anak dibawah umur sepanjang tahun 2015 lalu.

Kapolres Grobogan AKBP Indra Darmawan Iriyanto mengakui, pada tahun 2015 lalu ada 20 kasus pencabulan yang sebagian besar melibatkan anak dibawah umur. Kalau tidak menjadi korban, anak tersebut jadi pelaku kasus tersebut.

”Kasus pencabulan ini memang cukup memprihatinkan karena banyak melibatkan anak dibawah umur. Pada umumnya, antara pelaku dan korban ada hubungan dekat. Seperti anak tiri, kerabat atau anak tetangga. Semua kasus pencabulan ini semuanya berhasil kita selesaikan,” terang Indra.

Dijelaskan Indra, selain pencabulan, kejahatan konvensional yang mendominasi selama tahun 2015 adalah pencurian dengan pemberatan (curat). Urutan kedua adalah kasus pencabulan dan disusul kasus curanmor.

Untuk tindak kejahatan curat tercatat ada 36 kasus dan sebanyak 31 kasus sudah berhasil diselesaikan hingga sidang pengadilan. Untuk curanmor ada 19 kasus, sebanyak 6 kasus sudah diselesaikan hingga ke pengdailan.

”Kejahatan konvensional pada tahun 2015 sejumlah 157 kasus, atau naik 31 kasus (24,6 persen) dibanding tahun 2014. Kenaikan tersebut disebabkan bebagai faktor. Antara lain penambahan jumlah penduduk, musim kemarau panjang dan adanya fluktuasi harga barang kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Indra.

Tentang kasus kejahatan teradap kekayaan negara tahun 2015, lanjutnya, ada 23 kasus. Antara lain korupsi 2 kasus, ilegal logging 16 kasus, ilegal minning 2 kasus, BBM ilegal 2 kasus dan 1 kasus pupuk bersubsidi. Dari jumlah kasus tersebut, sebanyak 19 diantaranya berhasil diselesaikan.

”Mengenai kasus kecelakaan lalu lintas selama tahun 2015 ada 646 kejadian atau naik 11 kasus (1,7 persen) dibanding tahun 2014. Kasus sebanyak itu berhasil diselesaikan 637 kasus (98,6 persen). Kasus laka sebanyak itu memakan korban meninggal 110 orang, luka berat 4 orang dan luka ringan 664 orang,” imbuhnya. (DANI AGUS/TITIS W)

Korban Pencabulan Ayah Tiri Diiming-imingi Uang dan Akan Dibelikan Sepeda Motor

 

Petugas menunjukkan HP yang dipakai pelaku untuk melihat adegan video porno (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas menunjukkan HP yang dipakai pelaku untuk melihat adegan video porno (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Dari keterangan pelaku pencabulan TY, kronologi peristiwa pencabulan terhadap anak tirinya itu akhirnya terungkap. Dimana, sebelum melancarkan aksinya, Bunga sempat diajak nonton video porno melalui hand phone milik pelaku.

Setelah nafsunya memuncak, pelaku berusia 45 tahun itu kemudian mengajak Bunga untuk melakukan adegan seperti dalam video tersebut. Namun, Bunga dengan tegas menolak ajakan tersebut. Meski ditolak, pelaku tidak putus asa.

Akhirnya, pelaku mengiming-imingi Bunga dengan hadiah uang melimpah dan dibelikan sepeda motor jika mau menuruti keinginan tersebut. Setelah melihat anak tirinya cukup respon dengan bujukan itu, pelaku kemudian melakukan aksi pencabulan di rumah tersebut. Beberapa waktu kemudian, kejadian serupa diulangi lagi oleh pelaku ketika kondisi rumah sedang sepi.

Selang beberapa waktu kemudian, kasus pencabulan itu akhirnya ramai jadi perbincangan warga setempat. Hingga akhirnya, berita tersebut didengar oleh, nenek korban.

Setelah ditanyakan, Bunga kemudian menceritakan perbuatan yang dilakukan ayah tirinya tersebut pada neneknya. Yakni, ketika nenek dan adik tirinya sedang pergi ke Kudus.

“Setelah mendengar cerita tersebut, nenek korban kemudian melaporkan pada pihak Polsek Godong. Atas laporan ini, pelaku akhirnya kita amankan berikut barang bukti handphone,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto melalui Kaurbinops Reskrim Iptu Sumardi. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Bejat! Warga Grobogan Ini Tega Cabuli Anak Tirinya yang Masih Berusia 12 Tahun

 

Pelaku pencabulan anak tiri diamankan petugas di Mapolres Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Pelaku pencabulan anak tiri diamankan petugas di Mapolres Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Perbuatan tidak terpuji dilakukan TY, warga Desa Kemloko, Kecamatan Godong. Betapa tidak, pria yang bekerja sebagai buruh tani itu tega mencabuli Bunga (nama samaran), yang merupakan anak tirinya dan masih berusia 12 tahun. Akibat perbuatan tersebut, TY akhirnya dicokok polisi, Selasa (1/12/2015) untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa pencabulan terhadap Bunga itu sedikitnya sudah dilakukan dua kali. Kejadian pertama, Rabu (19/8/2015) sekitar pukul 22.00 WIB dan diulang lagi pada Sabtu (31/10/2015) sekitar pukul 17.00 WIB. Dua kali peristiwa pencabulan itu dilakukan di rumah pelaku.

Selama ini, korban dan pelaku memang hidup serumah. Selain itu, nenek dan adik tiri korban yang baru berusia 5 tahun juga hidup bersama di rumah tersebut. Sementara ibu kandung korban sudah beberapa tahun terakhir merantau jadi TKI di Singapura.

“Kasus pencabulan itu terjadi ketika nenek dan adik tiri korban sedang pergi ke rumah anaknya yang lain di Kudus. Atas perbuatan ini, tersangka kita jerat dengan pasal 81 ayat 2 subsider pasal 82 UU No 35 tahun 2014 junto pasal 294 KUHP. Ancaman hukumannya 15 tahun,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Agung Aryanto melalui Kaurbinops Reskrim Iptu Sumardi. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

2 Aksi Pemerkosaan Anak di Bawah Umur di Rembang Ini Benar-Benar Tragis

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Di Kabupaten Rembang, telah terjadi beberapa kasus pemerkosaan. Namun dalam kurun November 2015, telah terjadi kasus pemerkosaan dengan korban anak di bawah umur. Tentu saja, itu sangat memprihatinkan.

Pertama, aksi bejat ayah perkosa anak tiri di Kabupaten Rembang. Anak tiri yang juga siswi SD diperkosa berkali-kali hingga hamil 7 bulan. Slamet (54) pelaku yang merupakan warga Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang, melakukan aksi bejat kepada anaknya, Melati, di rumahnya.

Aksi bejat itu dilakukan oleh pelaku sejak 9 bulan yang lalu. Yakni pada pagi hari saat ibu korban, Sutiah yang juga istri pelaku, belanja ke pasar sekitar pukul 05.30. WIB.
Melati tak kuasa melawan nafsu bejat ayah tirinya. Karena tiap kali minta dilayani, pelaku mengancam akan membunuh korban bila menolak. Perbuatan bejat pelaku dilakukan berkali-kali hingga korban hamil 7 bulan.

Mengetahui anak kandungnya hamil, Sutiah melaporkan kejadian tersebut kepada kepala desanya dan diteruskan ke Polres Rembang.

Kasat Reskrim Polres Rembang AKP Eko Adi Pramono melalui Kaurbinops IPTU Martoyo saat dikonfirmasi Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa kasus itu benar terjadi. “Kasus masih diperiksa polisi,” katanya.

Kedua, adalah tindak pidana pencabulan terhadap gadis di bawah umur. Kali ini, korbannya adalah RM (15), seorang gadis yang mengalami keterbelakangan mental.
Kejadian tersebut terjadi pada Senin (9/11/2015) sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, pihak keluarga baru melaporkan ke Polres Rembang, pada Kamis (19/11/2015). (AHMAD WAKID/AKROM HAZAMI)

Ini Kronologi Terungkapnya Pencabulan Gadis Cacat Mental di Rembang

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Kasus pencabulan di Stadion Krida Rembang yang menimpa gadis yang memiliki keterbelakangan mental, baru diketahui pihak keluarga korban setelah tiga hari dari waktu kejadian (9/11/2015).

Kepada penyidik Polres Rembang, DN, ibu korban menceritakan kronologi kasus pencabulan yang menimpa anaknya. Saat itu, sekitar pukul 20.00 WIB, DN sedang menonton televisi di rumah kontrakannya dan mengaku curiga ketika melihat anaknya pulang dari membeli pulsa dengan kondisi wajah merah padam.

“Tak seperti biasa anak saya hanya diam dan langsung masuk ke kamar mandi. Setelah sempat mengganti celana dalam dia langsung tidur,” tuturnya.

Merasa penasaran dengan perilaku anaknya, ibu korban mengecek tempat pakaian kotor di belakang rumah. Alangkah kagetnya, dia mendapati bercak darah pada celana dalam korban.
“Namun saat ditanya, dia tidak bersedia bercerita apapun. Hingga akhirnya hari Rabu (11/9/2015) kemarin dia bercerita telah dicabuli teman laki-lakinya saat diajak ke Stadion Krida Rembang,” ungkap ibu korban. (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)

Bejat! Gadis Cacat Mental Digarap Seorang Pemuda di Stadion Krida Rembang

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Tindak pidana pencabulan terhadap gadis di bawah umur kembali terjadi di Rembang. Kali ini, korbannya adalah RM (15), seorang gadis yang mengalami keterbelakangan mental.

Kejadian tersebut terjadi pada Senin (9/11/2015) sekitar pukul 20.00 WIB. Namun, pihak keluarga baru melaporkan ke Polres Rembang, pada Kamis (19/11/2015).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian bermula ketika RM membeli pulsa di salah satu konter. Ketika hendak pulang, tiba-tiba RM dipanggil seorang pemuda berinisial P (20) warga Leteh, Kecamatan Rembang. Oleh P, kemudian RM diduga dicekoki miras, dan setelah itu, RM dibawa ke Stadion Krida Rembang dan dipaksa melayani nafsu bejat pemuda itu.

Kaur Bin Ops Satreskrim Polres Rembang Ipda Martoyo, ketika dikonfirmasi mengatakan, jika memang ada laporan terkait pencabulan tersebut.Pihaknya saat ini masih mendalami laporan tersebut. “Masih dalam lidik untuk mengumpulkan barang bukti yang mengarah ke pelaku,” kata Martoyo ketika dihubungi MuriaNewsCom, Jum’at (20/11/2015). (AHMAD WAKID/KHOLISTIONO)