Pencari AK1 di Jepara Membeludak Usai Lebaran

Pencari kerja antre saat sedang membuat AK1, di Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pencari kerja memadati Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Rabu (5/7/2017). Kebanyakan dari mereka membuat surat kuning atau Angkatan Kerja (AK) 1, sebagai syarat mencari pekerjaan. 

Seperti yang dilakukan Imam. Berniat mencari kerja di Semarang, ia rela mengantre sejak pukul 09.00 WIB. Kedatangannya tak lain adalah membuat AK1. “Sebagai syarat untuk mendaftar kerja di sebuah restoran Semarang,” tuturnya. 

Kondisi ini dibenarkan oleh Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja dan Pelatihan Produktifitas Amrina Rosyida. Dalam catatannya, hingga awal Juli 2017 pencari kerja sudah mencapai 9.564 orang.

Jumlah ini menurutnya akan terus bertambah. “Saya perkirakan akan terus bertambah banyak seiring kebutuhan akan tenaga kerja, di pabrik garmen,” ucapnya. 

Dirinya menyebut, pencari kerja rerata mendaftar ke perusahaan garmen. Di antaranya merupakan lulusan baru, yang baru kali pertama bekerja. 

Amrina membeberkan, pada tahun 2016 total ada 16.900 pencari kerja. Sementara pada medio tahun ini saja, pencari kerja telah mencapai lebih dari setengah, total tahun lalu.

Dengan asumsi tersebut, diperkirakan jumlah pencari kerja tahun ini akan melebihi tahun sebelumnya. “Hal itu berdasarkan angka pencari kerja yang terus naik, pada 2014 ada 3.040, lalu meningkat menjadi 6.871 pada 2015 dan semakin meningkat di tahun lalu,” tutup Amrina. 

Editor : Kholistiono

Pemohon Kartu Kuning di Jepara Meningkat

Beberapa warga Jepara saat mengurus kartu kuning beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Pencari kerja di Jepara membeludak. Hingga awal Mei, terhitung ada 7.060 orang yang mencari kartu kuning atau Angkatan Kerja 1 (AK 1) sebagai syarat lamaran pekerjaan. 

Catatan itu merupakan hasil rekap dari Dinas Koperasi, UKM, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara hingga Senin (8/5/2017) kemarin. Adapun setiap harinya, tercatat 50 lebih pencari kerja mendatangi kantor tersebut. 

Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas Amrina Rosyida menyebut, terdapat kenaikan jumlah pencari setiap tahunnya. Namun untuk tahun 2017, belum habis tahun berjalan jumlahnya sudah mencapai tujuh ribu lebih. 

“Untuk tahun ke tahun, 2015 ada 6.821 pencari kerja, tahun 2016 meningkat menjadi 6.900 orang. Dan tahun 2017, terhitung dari bulan Januari hingga bulan ini, sudah mencapai 7.060 orang pencari kerja,” ucapnya.

Rerata mereka yang mencari kerja menyasar pabrik-pabrik yang ada di Jepara. Di sana disertakan syarat untuk melampirkan AK 1. 

Editor : Kholistiono

Ketahuan Gunakan Data Palsu, Pemohon Kartu Kuning Langsung Disuruh Pulang

Beberapa warga terlihat sedang mengurus kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa warga terlihat sedang mengurus kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Maraknya pemalsuan data di ijazah saat mengurus kartu kuning selama 2 tahun terakhir ini, membuat Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara harus mengambil sikap tegas.

Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas Amrina Rosyida mengatakan, jika ada pemohon kartu kuning yang ketahuan memalsukan data di ijazah atau juga lainnya, maka akan dipersilakan pulang dan mengambil ijazah asli untuk ditunjukan kepada petugas.

“Biasanya pemohon kartu kuning itu kan hanya membawa berkas berupa foto kopi saja, dan terkadang hal itu dimanfaatkan oknum untuk memalsu data. Namun beruntung petugas kita teliti, jadi hal tersebut dapat dihindari.Jika ketauan, maka akan kita suruh pulang terlebih dahulu untuk mengambil berkas yang asli,” ungkapnya.

Ia menilai, dengan langkah itulah nantinya para pemohon kartu kuning bisa menunjukan data asli atau berkas asli yang akan diajukan sebagai persyaratannya.

Perlu diketahui, pemalsuan data pemohon kartu kuning tersebut, rata-rata dilakukan dengan cara menutup nama asli ijazah orang lain dengan diganti nama si pemohon kartu kuning.

“Biasanya, mereka meminjam ijazah temannya yang lulusan SMA. Nah setelah itu, namanya ditutupi dengan ketikan namanya (pemohon). Supaya si pemohon seakan akan lulusan SMA, padahal sebenarnya lulusan SMP atau bahkan SD. Karena memang, biasanya perusahaan membutuhkan tenaga kerja minimal tingkat pendidikannya SMA,” katanya.

Editor : Kholistiono

Begini Ketahuannya Ada Pemohon Kartu Kuning Gunakan Ijazah Palsu

Beberapa pemohon kartu kuning terlihat sedang memadati ruangan di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Beberapa pemohon kartu kuning terlihat sedang memadati ruangan di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara, Selasa (17/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas Amrina Rosyida pada Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara mengatakan, jika hampir tiap hari pihaknya menjumpai adanya pemohon kartu kuning yang menggunakan identitas palsu atau ijazah palsu.

Hal tersebut terungkap, katanya, petugas menjumpai adanya ketidaksamaan antara data pokok di ijazah dan KTP. Seperti halnya, soal nama pemohon, antara di KTP dan ijazah beda.

“Kita curiga, karena adanya ketidaksamaan nama yang ada di ijazah dengan KTP. Meskipun namanya hampir sama yang ada di KTP, akan tetapi nama yang ada di ijazah itu rata-rata hurufnya tidak sama,” kata Amrina.

Dia melanjutkan, dimungkinkan ijazah yang dipinjam oleh pemohon untuk membuat kartu kuning itu “didempol”.  Yakni, ijazah tersebut difoto kopi terlebih dahulu, kemudian ijazah tersebut ditempeli nama pemohon. Namun, yang terjadi justru nama yang ditempel ke ijazah tersebut itu tidak sama dengan KTP.

Ia menilai, pemalsuan data yang dilakukan pemohon kartu kuning tersebut terlalu dipaksakan demi  ingin mendapatkan kartu kuning untuk melamar ke perusahaan.  “Sebenarnya itu sangat keliru. Sebab untuk mendapatkan kartu kuning mereka melakukan cara seperti itu,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk saat ini memang pihaknya berharap supaya pemohon kartu kuning bisa menunjukan ijazah atau persyaatan lainnya yang asli kepada petugas. Hal ini, untuk menghindari adanya pemalsuan data.

Editor : Kholistiono

Waduh! Hampir Tiap Hari Ada Warga Jepara yang Gunakan Ijazah Palsu untuk Urus Kartu Kuning

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Para pemohon kartu kuning sedang memadati ruangan pembuatan kartu kuning di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmograsi Jepara, Selasa (17/1/2017).(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Semakin banyaknya peluang kerja di Kabupaten Jepara, semakin tinggi pula angka pencari kerja di tempat tersebut. Hal ini, berimbas pula terhadap meningkatnya pembuatan kartu kuning atau AK I.

Setidaknya, dari data yang ada di Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara selama 2016, tercatat ada sekitar 16 ribu warga yang mengurus kartu kuning. Jumlah tersebut naik drastis di banding tahun 2015 lalu yang hanya berkisar 6 ribu.

Namun, di balik meningkatnya jumlah pencari kerja tersebut, ternyata ada cara-cara yang kurang baik ditempuh oleh beberapa warga untuk bisa mendapatkan kartu kuning, yang merupakan salah satu syarat untuk melamar pekerjaan. Yakni, adanya pemalsuan data atau pemalsuan ijazah.

Hal itu diungkapkan oleh Kasi Penempatan Perluasan Kesempatan Kerja Pelatihan dan Produktifitas pada Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jepara Amrina Rosyida. “Hampir setiap hari ada sekitar 2 hingga 3 pemohon yang bisa kita temukan menggunakan data palsu yang ada di ijazah,” ujar Amrina.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan pemohon kartu kuning, untuk menyesuaikan persyaratan atau kriteria yang diterapkan perusahaan untuk pelamar kerja. Misalnya saja, minimal harus lulus SMP atau SMA sederajat.

“Biasanya, mereka itu memalsu data seperti halnya tahun ijazah. Misalkan saja, mereka meminjam ijazah temannya, dan nantinya namanya akan diganti dengan nama pemohon kartu kuning. Sehingga seakan-akan mereka sudah berijazah SMA atau lainnya.Padahal, sebenarnya hanya berijazah tingkat SD saja,” ungkapnya.

Katanya, adanya pemalsuan data itu sudah diketahui pihak dinas sejak tahun 2015 silam. Hanya saja, pihaknya hanya memberikan imbauan kepada pemohon kartu kuning supaya tidak melakukan hal itu.

“Sebenanya pemalsuan data itu sejak tahun 2015 lalu. Sebab di tahun itu memang banyak sejaki lowongan kerja di garmen yang rata-rata membutuhkan karyawan wanita serta berpendidikan minimal setingkat SMA,” ucapnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, kini pihaknya akan menertibkan hal itu. Yakni, nantinya pemohon kartu kuning harus bisa menunjukkan ijazah asli. Dengan begitu, pihaknya berharap bisa meminimalisasi adanya pemalsuan data tersebut.

Editor : Kholistiono