Hadi Priyanto : Banyak yang Salah Memaknai Hari Kartini

Hadi Priyanto saat menyerahkan buku Kartini, pada sebuah acara di Bangsri beberapa waktu lalu.(MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom, Jepara – Hadi Priyanto, Ketua Yayasan Kartini mengaku spirit Kartini tak banyak dipahami generasi muda dengan benar. Ia berujar semangat dan pemikiran Kartini justru  “dipersempit” sebagai hanya pahlawan emansipasi semata.

Hadi mencontohkan, kelahiran Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April itu dengan berkebaya. “Padahal banyak hal yang dilakukan oleh Kartini. Namun cita-cita, gagasan dan apa yang telah dilakukan oleh Kartini untuk bangsanya justru dipersempit dengan hanya memaknai sebagai pahlawan emansipasi,” katanya, Sabtu (29/4/2017).

Dirinya menjelaskan, sosok itu pernah menjadi tokoh sentral di tengah pemuda pergerakan mahasiswa Stovia Jakarta. Bahkan di tahun 1903, Kartini dan para pemuda terpelajar telah membentuk organisasi Jong Java.

“Padahal kalau kita belajar dari sejarah, pada tahun 1915 baru berdiri organisasi Tri Koro Dharmo yang kemudian pada tahun 1923 berubah jadi Jong Java,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, pikiran Kartini tentang kebhinekaan juga belum banyak diketahui orang. Kartini, menurut Hadi, memiliki toleransi yang teramat tinggi terhadap pemeluk agama dan suku bangsa lain. Bahkan, beasiswa yang sedianya diperuntukan bagi Kartini dan Rukmini, diserahkan kepada Agus Salim yang berasal dari Sumatera.

Selanjutnya, peran Kartini dalam pengembangan seni ukir, pendidikan, perlawanan terhadap ketidakadilan sayangnya dimaknai pada kulit luar.

“Mestinya, setiap kali kita memperingati hari lahir Kartini, kita harus menggali pokok pikiran dan gaasannya yang masih relevan dalam pembangunan bangsa,” tegas Hadi.

Editor : Kholistiono

Bumi Kartini Expo 2017 Resmi Dibuka

Anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid melakukan pemotongan pita simbol dimulainya Bumi Kartini Expo 2017, Jumat (21/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bumi Kartini Expo resmi dibuka bertepatan dengan hari lahir Kartini ke -138, Jumat (21/4/2017). Kegiatan yang digelar hingga 23 April 2017 itu diikuti oleh 50 stand usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Asisten III Setda Jepara Fatkurozzi menyebut, kegiatan ini tak hanya diikuti UMKM lokal tetapi juga dari luar daerah seperti Solo dan Pati. Selain itu, dipamerkan pula 10 stand kuliner khas Jepara, berikut lomba fashion show berbahan dasar kain troso dan batik.

“Pameran ini mempunyai peran yang sangat strategis bagi pelaku usaha. Ajang ini menjadi strategi pemasaran yang efektif dan tidak jarang menjadi kunci sukses ekspansi bisnis dalam persaingan usaha,” katanya.

Pihaknya mengharapkan, agar para pengusaha benar-benar memanfaatkan momen ini. Hal itu karena tidak semua warga Jepara telah mengenal produk-produk lokal.

Sementara itu anggota DPR RI Komisi VI Abdul Wachid menyebut, peran penting pengusaha mikro dalam pembangunan perekonomian warga. Politisi parta Gerindra itu mengakui keunggulan UMKM.

“Usaha kecil mikro relatif tahan dari goncangan ekonomi global. Artinya ketika ada gonjang-ganjing pada perekonomian global, mereka tetap bertahan,” ujarnya.

Namun demikian, UMKM dinilai masih memiliki beberapa kelemahan, di antaranya dalam sektor keuangan, produk dan manajemen keuangan. Selain itu kendala faktor produksi juga menjadi aral, karena saat ini usaha mikro kecil dan menengah bersaing dengan perdagangan global.

“Kami juga mendatangkan Penyertaan Modal Nasional Madani (PNMN) untuk memberikan pelatihan bagi penguatan produk, kemasan dan juga menyediakan pinjaman,” ungkap Wachid. 

Editor : Kholistiono

Kamu Tahu, Kartini Itu Ternyata Seorang Salesman yang Handal

Peserta diskusi peringatan Hari Kartini dengan tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, berfoto bersama usai acara, yang berlangsung di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).(MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat mengenal Raden Ajeng (RA) Kartini barangkali lebih banyak hanya sebagai pahlawan emansipasi wanita, yang setiap tanggal kelahirannya, yakni 21 April, diperingati secara nasional.

Namun, pernahkan diketahui bahwa seorang Kartini rupanya adalah seorang salesman atau marketing yang handal? Terutama sekali di bidang pemasaran hasil-hasil mebel Jepara.

”Ya, Kartini itu seorang salesman yang handal. Dia memasarkan produk-produk mebel karya pengrajin atau masyarakat Jepara, kepada kenalannya yang kebanyakan adalah warga Belanda. Dan itu, laris sekali,”” jelas sejarawan asal Jepara, Abdi Munif, dalam acara diskusi peringatan Hari Kartini yang mengambil tema ”Kartini, Apa Hebatnya”, di Pendapa Kecamatan Pecangaan, Rabu (19/4/2017).

Dalam acara yang digagas Komunitas 94 (K-94) tersebut, Munif mengatakan bahwa Kartini menawarkan aneka produk kerajinan Jepara, baik meja, kursi, tempat tidur, dan aneka mebeler lainnya, kepada kenalannya yang notabene warga Belanda, yang ada di luar kota.

”Itu berlangsung dengan menggunakan surat sebagai alat korespondensi. Saat orang Belanda di Batavia memesan mebeler, mereka mengirimi Kartini surat, barang apa saja yang diinginkan. Dan kemudian Kartini akan meneruskan pesanan itu ke pengrajin. Setelahnya, Kartini akan membalas suratnya, dengan rincian harga dari mebeler tersebut. Dan Kartini, sama sekali tidak mengambil untung dari sana,” paparnya.

Karena itu, banyak orang Batavia, atau yang sekarang dikenal sebagai Jakarta, mengenal baik karya mebel orang Jepara. Semangat Kartini inilah, yang menurut Munif, sudah ditiru banyak kaum perempuan di Indonesia. ”Termasuk di Jepara sendiri. Banyak perempuan yang berwirausaha. Dan banyak yang sukses,” katanya.

Inspirasi Kartini sebagai entrepreuner inilah yang kemudian menjadi salah satu hal yang membuat kaum perempuan di Indonesia, menjadi berbeda dulu dan sekarang. Munif mengatakan, sosok Kartini benar-benar seorang inspirator sejati.

”Padahal, Kartini itu kan hanya menginspirasi lewat kata-kata saja. Namun tengok saja apa yang terjadi sekarang. Apa yang disampaikan Kartini hanya lewat surat itu, sampai saat ini menjadi hal yang terus didengungkan kaum perempuan, untuk bisa memperbaiki nasib mereka,” kata pria yang juga aktivis dari Sanggar Berkahe Tiyang Sepuh (BTS) Mayong tersebut.

Munif menambahkan, di Indonesia hanya Kartini yang tanggal kelahirannya diperingati setiap tahunnya. Padahal, di Indonesia, banyak pahlawan perempuan lain yang tidak kalah hebatnya. ”Meski Kartini tidak mengangkat senjata melawan penjajah, namun yang dilakukannya mampu membuat pemikiran banyak orang berubah dalam melihat perempuan. Dan itu masih relevan sampai sekarang dan nanti. Sehingga Kartini itu seorang yang sangat istimewa,” imbuhnya.

Acara diskusi itu sendiri, dihadiri kalangan ibu-ibu penggerak PKK yang ada di Kecamatan Pecangaan, serta siswa-siswa sekolah. Dalam acara itu, peserta juga diminta menuliskan surat cinta untuk Kartini.

Editor: Kholistiono

Pengunjung Padati Tempat Ari-ari Kartini di Mayong Jepara

Sejumlah siswa antusias melihat tempat disimpannya ari-ari (plasenta) pahlawan nasional RA Kartini, yang berada di kompleks Kantor Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua hari jelang peringatan hari kelahiran RA Kartini, pengunjung terlihat memadati tempat ari-ari (plasenta) di Kompleks Kecamatan Mayong, Rabu (19/4/2017). Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto di depan petilasan yang dilindungi oleh kaca tersebut. 

Seperti Maria Ulfah (60). Guru di TK Aisyiah Sengon itu mengatakan datang bersama murid-muridnya. “Saya tiap tahun rutin ke sini (kompleks Kecamatan Mayong), tujuannya mendampingi murid mengikuti lomba. Selepas tadi mewarnai, saya ajak murid saya ke tempat ari-ari Bu Kartini,” ujarnya yang telah mengajar sejak tahun 1975 itu. 

Ia mengatakan, selalu berusaha menularkan semangat Kartini kepada anak didiknya. Menurutnya, jasa pahlawan wanita itu membawa banyak perubahan kepada kaumnya. 

“Ya selalu saya ceritakan tentang jasa Bu Kartini dalam emansipasi wanita. Kalau dulunya wanita cuma bisa uleg-uleg (memasak) sekarang sudah bisa merambah ke pekerjaan lain,” tuturnya. 

Tempat ari-ari Kartini sendiri merupakan sebuah pendapa, yang terdapat sebuah monumen berbentuk bunga lotus. Di atasnya terdapat sebuah panci dari tanah. Monumen itu dilindungi oleh kaca agar tidak tersentuh oleh tangan pengunjung. 

Sementara, di samping kiri bangunan tersebut, didirikan sebuah monumen yang bertuliskan “Tempat RA Kartini dilahirkan 21 April 1879”. 

Editor : Kholistiono

Pemkab Jepara Dapat Hibah 26 Foto Kartini dari Belanda

Sejumlah pengunjung sedang melihat koleksi di Museum Kartini, Selasa (18/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendapat hibah foto-foto Kartini dari Pemerintah Belanda, sejumlah 26 buah. Bila sesuai rencana, foto hasil reproduksi digital itu akan sampai di Jepara pada hari Rabu (19/4/2017).

“Bila tidak hari Rabu ya Kamis itu (foto Kartini) sampai di Jepara. Selanjutnya akan dipamerkan sementara di Pringgitan yang ada di kompleks Pendapa Pemkab Jepara. Setelahnya, akan dipamerkan di Museum Kartini,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Deni Hendarko, Selasa (18/4/2017).

Ia menyebut, sejumlah foto yang dihibahkan oleh Belanda mendokumentasikan potret Kartini, keluarga dan Jepara tempo dulu. Dikatakan Deni, beberapa foto tersebut dimungkinkan serupa dengan koleksi yang ada di Museum Kartini. Namun demikian, dari segi kualitas barang tersebut dinilai lebih baik. 

Dirinya menjelaskan, sebelumnya Belanda hanya akan menghibahkan foto dalam bentuk digital sebanyak 75 buah. Namun terdapat perkembangan situasi,di mana 26 dari 75 file digital telah dicetak. 

Hal itu karena potret-potret yang dihibahkan merupakan reproduksi digital, dari karya asli. Sementara yang tersimpan di Museum Kartini merupakan reproduksi dari karya yang juga telah direproduksi. Ditambahkan Deni, selain koleksi foto ada juga catatan-catatan pemikiran atau korespondensi Kartini yang ikut dihibahkan.

Menurutnya, sebelum dihibahkan, Disparbud Jepara telah melalui serangkaian pembicaraan dengan berbagai pihak, termasuk pegiat sejarah dan pemerintah Belanda. 

Namun demikian, Disparbud belum bisa mendapatkan karya asli dari koleksi kesejarahan Jepara. “Untuk mendapatkan hibah tersebut kami melalui proses meminta izin dengan Kedutaan Belanda. Itupun kami tidak bisa mengambil langsung, akan tetapi melalui pihak Belanda baru diserahkan ke kita sebagai hibah,” imbuh Deni. 

Sementara itu, Staf Museum Kartini Reza menyebut, koleksi fofo-foto Kartini ada sekitar 90 buah, yang terpajang. Koleksi itu terdiri dari foto dalam ukuran besar dan kecil.

Editor : Kholistiono