Ribuan Warga Pati Padati Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso

Peserta karnaval melambaikan tangan kepada warga di kawasan Alun-alun Pati, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan warga Pati memadati festival pembangunan bertajuk “Noto Projo Mbangun Deso” di sepanjang jalan dari Alun-alun Pati menuju kawasan Stadion Joyokusumo, Selasa (29/8/2017).

Mereka menyaksikan beragam miniatur potensi Kabupaten Pati yang diarak di sepanjang jalan, dari potensi pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, hingga perhotelan. Sejumlah ornamen seni dan budaya juga tak luput dari pandangan.

Tak ketinggalan, Kodim 0718/Pati menampilkan miniatur tank jenis Leopard yang menjadi kebanggaan anggota TNI AD. Kapal, ikan, sapi, hasil bumi, dua kelinci, garuda, dan beragam potensi Pati lainnya mewarnai suasana karnaval.

Begitu juga nuansa kolosal terlihat di beberapa baris, dari gapura, kereta kencana, kereta berkuda, istana, sampai ornamen semacam patung buta atau raksasa. Berbagai simbol kebanggaan Pati seperti Kuluk Kanigara dan Keris Rambut Pinutung juga ikut menghiasi suasana karnaval.

Bendera merah putih berkobar di sepanjang jalan dan lambang Garuda Pancasila sesekali tampak. Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso berhasil menyedot animo warga Pati.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, festival tersebut untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Pati dan HUT ke-72 RI. Festival Pembangunan menjadi simbol untuk membangun dan melejitkan potensi yang ada di Kabupaten Pati.

“Pati punya banyak potensi, dari pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, perhotelan, wisata, dan masih banyak lagi lainnya. Potensi itu yang ingin kami tunjukkan dalam festival pembangunan Noto Projo Mbangun Deso supaya masyarakat tahu,” kata Haryanto.

Sementara itu, Wakil Bupati Pati Saiful Arifin menambahkan, festival pembangunan menjadi salah satu promosi Pati. Kendati diakui tidak sebesar seperti di Jember dan Banyuwangi, tapi ke depan event serupa akan digeber untuk menarik minat wisatawan asing.

“Ini menjadi ajang promosi Pati. Ke depan, kita akan create untuk promo nasional agar nama Pati dan pembangunan yang ada bisa dilihat masyarakat luas. Ini sudah saatnya Pati maju seperti kota-kota besar lainnya,” pungkas Arifin.

Editor : Ali Muntoha

Ribuan Pelajar di Kuryokalangan Pati Gelar Karnaval Budaya “Masa Depan”

Sejumlah pelajar dari Yayasan Abadiyah mengenakan kostum petani saat mengikuti karnaval budaya di Desa Kuryokalangan, Gabus, Senin (12/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pelajar dari Yayasan Abadiyah mengenakan kostum petani saat mengikuti karnaval budaya di Desa Kuryokalangan, Gabus, Senin (12/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan pelajar dari MTs dan MA Abadiyah, Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus menggelar karnaval dalam rangka Haul KH Abdul Kholiq ke-18, Senin (12/09/2016). Mereka mengelilingi desa dengan mengenakan kostum yang menggambarkan masa depan generasi bangsa.

Ada yang mengenakan kostum ala polisi, tentara, arsitektur, karyawan, guru, dosen, dokter, perawat, hingga petani. Dengan karnaval “masa depan” tersebut, mereka berharap besar bisa meraih impiannya melalui kostum yang dikenakan.

Sri Rahayu, misalnya. Siswi kelas X tersebut mengenakan kostum ala petani, membawa caping dan bakul. Tak sekadar aksi simbolik, dia berharap agar bisa menjadi petani hebat yang bisa mengolah sumber daya alam (SDA) pertanian Indonesia yang kaya dan melimpah.

Petani gaul dan handal harapan bangsa. Begitu bunyi salah satu spanduk yang dibawa kontingen karnaval grup petani. Selain itu, salah satu grup yang mengenakan kostum daur ulang sampah juga menarik perhatian.

Ketua Yayasan Abadiyah, Abu Toyib mengatakan, karnaval budaya yang diikuti sekitar 1.150 siswa menjadi bagian dari upaya untuk menyemarakkan syiar Islam dan Idul Adha. Pasalnya, peringatan Haul KH Abdul Kholiq bertepatan pada 10 Dzulhijjah.

“Melalui karnaval budaya, kami ingin mengenalkan eksistensi Madrasah Abadiyah, sekaligus memperingati wafatnya Mbah Abdul Kholiq. Ini juga ulang tahun yayasan yang ke-33. Eksistensi Abadiyah diharapkan bisa membangun negeri,” ucap Abu.

Sementara itu, Kepala MTs Abadiyah Syaiful Islam menuturkan, karnaval budaya dari Yayasan Abadiyah sudah lama menjadi tradisi setiap Hari Raya Idul Adha di Desa Kuryokalangan. Karnaval budaya yang disuguhkan kepada masyarakat luas itu sudah berlangsung sejak 18 tahun yang lalu.

Editor : Kholistiono

 

Warga Kuryokalangan Pati Sambut Idul Adha dengan Kirab Budaya

Sejumlah pelajar MA Abadiyah Kuryokalangan mengenakan pakaian daur ulang dalam karnaval Haul KH Abdul Kholiq yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Senin (12/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pelajar MA Abadiyah Kuryokalangan mengenakan pakaian daur ulang dalam karnaval Haul KH Abdul Kholiq yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, Senin (12/09/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Warga Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus menyambut Hari Raya Idul Adha dengan kirab budaya mengelilingi desa, Senin (12/09/2016).

Kirab dilakukan, usai melakukan penyembelihan hewan kurban berupa sepuluh ekor kambing. Tradisi kirab pada Idul Adha diakui sudah menjadi tradisi warga Kuryokalangan setiap tahunnya.

Kepala Madrasah Aliyah (MA) Abadiyah, Abdul Khalim yang menjadi Ketua Penyelenggara Kirab mengatakan, kirab yang bertepatan dengan Idul Adha sudah berlangsung lama dan menjadi tradisi turun-temurun. “Kirab sebetulnya untuk memperingati haul ke-18 KH Abdul Kholiq sebagai pendiri madrasah,” kata Khalim.

Hanya saja, haul sesepuh madrasah tersebut diperingati warga setiap Hari Raya Idul Adha. Kirab menjadi tontonan yang meriah bagi warga, karena pasukan marching band dari Wedarijaksa dan Trangkil berjalan mengelilingi desa dengan memainkan musik dengan indah.

Uniknya, ribuan pelajar dari MTs dan MA Abadiyah mengenakan pakaian dari kreasi pemanfaatan sampah daur ulang. Beberapa siswa di antaranya mengenakan pakaian adat Jawa.

Pakaian unik yang dikenakan ratusan pelajar dianggap menjadi simbol keselarasan budaya Jawa, Islam, dan lingkungan sebagai representasi alam. “Pakaian Jawa juga diharapkan bisa melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia,” ucap Khalim.

Editor : Kholistiono