Libur Panjang, KMC Express Bahari Tambah Trip ke Karimunjawa

Sejumlah wisatawan memadati Pulau Karimunjawa saat liburan, belum lama ini. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Kapal Motor Cepat (KMC) Express Bahari menambah jadwal pemberangkatan selama libur panjang hari raya Idhul Adha. Selain faktor membeludaknya penumpang, absennya Kapal Motor Penumpang (KMP) Siginjai juga memengaruhi penambahan trip tersebut. 

“Penambahan trip ada, sebanyak 2 kali untuk hari Jumat dan nanti kembali ke sini (Jepara) pada hari Minggu juga 2 trip,” kata Sugeng Riyadi, Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur, Kamis (31/8/2017). 

Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi tiket untuk menyebrang ke Karimunjawa. Ia mengatakan ada sekitar seratus tempat duduk yang tersedia. 

Sugeng menyatakan, penambahan trip itu juga dipengaruhi oleh absennya KMP Siginjai, saat hari raya Idul Adha. “Maka dari itu kita disuruh untuk menambah trip lagi. Nanti hari Sabtu reguler, sedangkan Jumat dan Minggu ada dua trip,” ujarnya.  

Ditanya tentang dominasi penumpang, Sugeng menyebut lebih banyak orang mancanegara yang melancong ke pulau tropis tersebut. Menurutnya, hal itu karena di luar negeri saat ini sedang libur musim panas.

“Ya presentasenya sekitar 60 banding 40 persen. Lebih banyak yang dari luar negeri, seperti Hongkong, Amerika, dan Malaysia. Mereka menghabiskan sisa liburan,” katanya. 

Adapun kapal yang dipersiapkan adalah KMC Express Bahari 2C dan KMC Expres Bahari 9C. Sementara total kapasitas yang ada dari kedua kapal tersebut adalah 761 tempat duduk, terdiri dari 410 kursi pada 9C dan 351 kursi pada 2C. 

Terpisah Kasi Pelabuhan Penyebrangan Jepara Supomo membenarkan bahwa Siginjai absen pada hari Jumat (1/9/2017). Hal itu karena bertepatan dengan hari raya Idul Adha. 

“Ya Jumat nanti memang off (Siginjai) karena bertepatan dengan libur hari raya Idul Adha. Nanti Sabtu sudah mulai reguler lagi,” urainya. 

Editor: Supriyadi

Penyebrangan ke Karimunjawa Jepara Tak Terpengaruh Tinggi Gelombang Laut

Warga melihat kapal penyeberangan ke Karimunjawa Kabupaten Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebrangan kapal ke Karimunjawa tidak terpengaruh gelombang di Laut bagian utara Jawa Tengah. Praktis layanan hilir mudik ke pulau terluar Kabupaten Jepara itu, tidak mengalami gangguan. 

“Satu sampai dua hari yang lalu memang gelombang kencang bisa mencapai 1,5 meter sampai 2 meter. Namun kapal kita bisa mengatasi tinggi gelombang sampai maksimal 2,5 meter, jadi masih aman,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Rabu (30/8/2017). 

Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut tidak memengaruhi pelayanan penyebrangan pada long weekend  pada libur hari raya Idhul Adha, yang jatuh pada 1-2 September 2017. Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi untuk keberangkatan pada tanggal-tanggal tersebut. 

Terpisah, Kepala Seksi Pelabuhan Penyebrangan Kartini Supomo menyebut, berdasarkan informasi teranyar yang diperolehnya tinggi gelombang kini sudah menurun.  “Seminggu kemarin memang terjadi peningkatan tinggi gelombang, namun minggu ini sudah menurun sekitar 1 meter 1,25 meter,” katanya. 

Dikutip dari laman BMKG, tinggi gelombang di utara Jawa Tengah per hari ini berkisar di angka 0,5-1,25 meter. Adapun dari segi cuaca, diperkirakan cerah berawan dengan suhu sekitar 25-34 derajat celcius.

Editor : Akrom Hazami

Jelang Libur Panjang Tiga Kapal Disiagakan Angkut Penumpang Ke Karimunjawa

Kapal Express Bahari 2C saat mengikuti even Lomban beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke 72, tiga kapal penyebrangan ke Karimunjawa disiagakan. Selain Kapal Mesin Penumpang (KMP) Siginjai dan Kapal Mesin Cepat (KMC) Express Bahari 2C, adapula KMC Express 9C yang siap melayani jika jumlah penumpang membengkak. 

Hal itu diungkapkan Kasi Pelabuhan Penyeberangan Kartini Supomo, Selasa (15/8/2017). Menurutnya, untuk penambahan trip (keberangkatan) hingga kini belum ada. 

“Sampai saat ini untuk penambahan trip  belum ada. Untuk hari Kamis (17/8/2017) penyeberangan dari Jepara-Karimunjawa off (libur) sebagaimana hari normal. aktivitas normal kembali pada hari Jumat (18/8/2017),” kata dia.

Dirinya menerangkan, pada hari Jumat baik Siginjai maupun Express Bahari telah memliki jadwal pemberangkatan ke Karimunjawa. Namun khusus KMC Express Bahari disiagakan satu kapal lagi, jika antusiasme penumpang ke pulau tropis tersebut meningkat.

“Kapal (KMC Express Bahari 9C) disiagakan di dermaga Jepara. Jika ada permintaan untuk pemberangkatan, maka akan diberangkatkan,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Jepara, Suroto.  Menurutnya, kehadiran dua kapal Express Bahari guna mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. 

“Iya betul, Express Bahari ada dua kapal, yang satu bersifat cadangan, bilamana yang satu rusak, tetap dijalankan,” ungkap Suroto. 

Menurutnya, untuk saat ini memang kapal tersebut sandar di Jepara. Terkait angkutan jelang libur panjang, dirinya mengungkapkan pemberangkatannya akan bersifat kondisional.

“Paling kalau ada kelebihan muatan akan dioperasikan, dua-duanya akan diberangkatkan. Akan tetapi hal itu melihat antusiasme dari penumpang,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Persediaan Air di Karimunjawa Menipis

Tempat penampungan air yang ada di Dukuh Kapuran, Karimunjawa. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom,Jepara – Persediaan air di Pulau Karimunjawa mulai menipis. Selain dipengaruhi cuaca, kondisi itu juga disebabkan besarnya konsumsi saat musim liburan.

“Debit airnya memang berkurang, karena kering saat musim kemarau dan wisatawan banyak menggunakan saat liburan,” kata Camat Karimunjawa Budi Krisnanto, Kamis (20/7/2017). 

Dirinya mengatakan, stok air di pulau tersebut disimpan pada sebuah tandon yang berada di Kapuran. Adapun air diperoleh dari aliran yang berasal dari resapan yang kemudian dialirkan menuju bak tersebut. 

Camat menyebut, kondisi tersebut hanya dirasakan warga Karimunjawa. Sementara untuk Desa Kemojan yang masih berada dalam satu pulau tidak merasakannya.

“Di Pulau Nyamuk dan Parang tidak merasakan hal tersebut (kekurangan air), di sana kondisinya masih baik,” kata dia. 

Seorang warga, Sriyanto mengakui hal itu. Menurutnya, pasokan air hanya bisa mencukupi kebutuhan warga sekali sehari. Dirinya mensinyalir, pembangunan sumur bor oleh pihak hotel juga ditengarai menjadi penyebab. 

Editor : Kholistiono

Kapal Niaga Belum Berani Menaikkan Penumpang  dari Pulau Nyamuk ke Jepara

Beberapa kapal saat berlabuh di dermaga Pantai Kartini. Saat ini pemilik kapal niaga masih enggan mengangkut penumpang dari Pulau Nyamuk ke Jepara.(MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemilik kapal niaga masih enggan mengangkut serta penumpang dari Pulau Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, langsung ke daratan Jepara. Lantaran, peraturan yang membolehkan moda transportasi itu mengangkut orang belum tersosialisasi secara luas. 

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Desa Nyamuk Sudarto. Menurutnya, saat ini pemilik kapal masih gamang jika hendak mengangkut penumpang, karena seringkali dicegat oleh polisi perairan.

“Kejelasan terkait izin tersebut belum ada. Sehingga pemilik kapal pun enggan mengangkut penumpang,” ucapnya. 

Sebelumnya ia mengeluhkan, karena kapal niaga tak diperbolehkan mengangkut penumpang dari pulau tersebut ke Jepara. Untuk menuju ibukota kabupaten, mereka harus menuju Karimunjawa terlebih dahulu, lalu menumpang kapal penyeberangan Siginjai dan Express. Namun jika kembali dari Jepara hendak ke Pulau Nyamuk, penduduk harus kembali menaiki kapal penyeberangan dan menyewa kapal untuk kembali ke desa mereka. 

Menurut Sudarto, tarif untuk sewa kapal dari Karimunjawa ke Pulau Nyamuk cukup mahal, bisa mencapai ratusan ribu. Hal itulah yang dikeluhkan oleh warganya, karena tak semua penduduk pulau tersebut berpunya. 

Jauh sebelumnya, penggunaan kapal niaga untuk mengangkut penumpang belum dipersoalkan. Sehingga warga desa tersebut bisa memanfaatkan jasanya menuju Jepara, tanpa harus melalui Karimunjawa terlebih dahulu.

Solusi muncul dengan diberlakukannya peraturan baru dari Dirjen Perhubungan laut, tentang ketentuan kapal rakyat tradisional untuk penumpang. Namun demikian, hingga kini pemilik kapal masih ragu mengangkut penumpang. 

Terkait hal tersebut, ia juga telah mengungkapkannya kepada Pemkab Jepara, melalui Wakil Bupati Andi Kristiandi saat berkunjung ke Karimunjawa beberapa sat lalu. 

Terpisah, Bahdi seorang pemilik kapal niaga mengatakan, belum mengerti akan aturan baru tersebut. Dirinya mengungkapkan, saat ini pengangkutan penumpang dengan kapal niaga memang tak diperbolehkan. “Dulu sempat boleh tapi sekarang tidak boleh,” ujarnya. 

Ketika tahu bahwa ketentuan pengangkutan penumpang harus merubah konstruksi kapal, Bahdi menyatakan hal tak setuju dengan itu. Lantaran, peruntukan kapalnya memang untuk mengangkut barang. 

“Kalau mengangkut penumpang kan istilahnya hanya membantu, ya hanya ikut dan duduk lesehan. Kalau dihitung-hitung hanya melayani penumpang ya tidak masuk (seimbang) dengan pemasukannya,” katanya.  

Editor : Kholistiono

Penyeberangan ke Karimunjawa Tetap Normal Selama Lomban

KMP Siginjai saat merapat di Pelabuhan Kartini Jepara. Kapal itu tetap melayani penyeberangan saat prosesi larungan, Minggu (2/7/2017) besok. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Layanan penyeberangan ke Karimunjawa, tetap berjalan normal selama prosesi Syawalan atau Lomban, yang akan digelar Minggu (2/7/2017) esok. Pelayaran KMC Express Bahari dan KMP Siginjai tetap pada jadwal, meskipun kedua kapal tersebut rencananya mengikuti lomban.

“KMC Express Bahari rencananya ikut larungan juga mengangkut ibu-ibu pejabat dari sini (Pelabuhan Kartini). Siginjai juga rencananya begitu, akan mengikuti prosesi dari Karimunjawa. Namun setelah itu, kedua kapal tersebut juga tetap pada jadwal mengangkut penumpang. Sekitar jam 10.00 pagi, berangkat lagi KMC ke sana (Karimunjawa),” kata Supomo, Kasi Pelabuhan Penyebrangan Kartini, Sabtu (1/7/2017).

Sementara itu, guna mengantisipasi kepadatan di pelabuhan, pihaknya akan mengosongkan area parkir pada sore ini. Hal itu akan dilakukan setelah KMP Siginjai merapat ke Pelabuhan Kartini. Kendaraan milik penyeberang rencananya akan dipindahkan sementara waktu di gedung milik Undip.

Sesuai jadwal keberangkatan kapal, yang diterima MuriaNewsCom, untuk KMC Express Bahari 2C memiliki tiga trip reguler, pada hari Minggu. Dimulai dari pukul 05.00 WIB dari Karimunjawa menuju Jepara. Lantas pukul 07.00 WIB akan mengikuti prosesi larungan dan kemudian pukul 10.00 berlayar seperti biasa. Sementara itu, KMP Siginjai dijadwalkan berangkat dari Karimunjawa pukul 07.00 WIB. 

Ia mengatakan, kepadatan penyeberangan ke Karimunjawa atau sebaliknya masih akan terjadi hingga Senin (3/7/2017).

Editor : Ali Muntoha

Perantau Mulai Pulang ke Karimunjawa

Boarding pass, penumpang kapal KMC Express Bahari memadati Pelabuhan Kartini, Jumat (23/6/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Puncak penyeberangan ke Karimunjawa, terjadi hari ini Jumat (23/6/2017). Pengguna jasa kapal sebagian besar didominasi oleh warga pulau yang merantau ke luar pulau.

Seperti Muhammad Nurikan (39), warga Desa Alang-alang, Karimunjawa itu mengatakan, dirinya menjadi pekerja di Semarang. Kini ketika ada kesempatan, ia menyempatkan diri untuk menyambangi keluarganya.

“Saya kerjanya di Semarang, ini mudik sekarang sampai nanti pas lomban (tujuh hari setelah lebaran), baru pulang lagi ke perantauan,” katanya, saat akan menyeberang menggunakan jasa KMC Express Bahari 2C, pagi pukul 09.00 WIB. 

Dirinya menambahkan, sengaja mudik melalui pelabuhan Kartini karena merasa jadwal penyeberangan yang lebih tepat. Sedangkan jika melalui Semarang, ia merasakan pemberangkatannya tidak tepat. 

Nurikan mengaku, setahun lalu memilih menggunakan jasa Kapal Kartini di Pelabuhan Semarang. Namun karena dirasa tak tepat jadwalnya, maka dirinya memilih menyebrang di Jepara.

“Kalau enaknya menyebrang di Semarang karena lebih dekat, namun jadwalnya sekarang tidak pasti. Sabtu biasanya ada, namun lain hari kadang tidak ada. Jadi saya memilih menyeberang lewat Jepara,” ujarnya. 

Pemudik lain Sri Handayani, mengaku datang dari Jakarta. Ia sendiri adalah orang asli dari Karimunjawa. “Saya aslinya orang Jelamun, ini mudik dari Jakarta membawa serta lima anggota keluarga saya. Kemungkinan seminggu di kampung,” tuturnya.

Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur selaku operator KMC Express Sugeng Riyadi, mengatakan jumlah penyeberang didominasi oleh penumpang lokal. Namun demikian, wisatawan mancanegara juga masih terlihat. “Wisatawan mancanegara jumlahnya 30 persen dibanding penumpang lokal,” jelas Sugeng. 

Ia mengatakan, puncak penyeberangan diprediksi akan berlangsung hingga Sabtu (24/6/2017). “Kalau peningkatannya masih dalam batas normal, ya sekitar 200 lebih. Namun kita memprediksi ada peningkatan penumpang lagi pada H+2 lebaran, yang mana akan didominasi oleh wisatawan,” tutur dia.

Oleh karenanya, pihaknya akan menyiagakan satu kapal lagi yakni KMC Bahari Express 1C. Rencananya kapal tersebut akan datang ke Pelabuhan Kartini pada Jumat sore. 

Sementara itu, Kasi Pelabuhan Kartini Supomo menyebut peningkatan penumpang mulai terjadi pada hari Selasa (20/6/2017). 

Editor : Kholistiono

Warga Desa Nyamuk Berharap Peraturan Kapal Tradisional yang Boleh Mengangkut Penumpang Segera Diaplikasikan

Kapal nelayan melintas di Pantai Kartini. Warga Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, berharap peraturan yang membolehkan kapal rakyat tradisional mengangkut penumpang, menjadi solusi transportasi mereka. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Desa Nyamuk, Kecamatan Karimunjawa, berharap peraturan yang membolehkan kapal rakyat tradisional mengangkut penumpang, menjadi solusi transportasi mereka. Hal ini lantaran belum ada sarana penyebrangan langsung dari desa mereka menuju Jepara. Sedangkan bila menumpang kapal barang, mereka sering terkena razia karena adanya pelarangan dari petugas kepolisian.

Kepala UPP Syahbandar Jepara Suripto menyampaikan, ketentuan kapal rakyat tradisional untuk penumpang terdapat dalam peraturan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut No HK.103/2/8/DJPL-17 tanggal 18 April 2017. Dalam peraturan tersebut, dijelaskan bahwa kapal penumpang yang mengangkut atau memiliki sertifikasi untuk mengangkut penumpang berjumlah 12 orang atau lebih. 

“Kami akan segera menyampaikan peraturan ini pada Pemkab Jepara. Hal itu mengingat saat ini masyarakat di Pulau Parang dan Pulau Nyamuk Karimunjawa masih terkendala kapal penumpang,” ujarnya.  

Ia menjelaskan, prosedur perizinan kapal tradisional untuk mengangkut penumpang adalah dengan menyampaikan rancang bangun kapal ke Direktorat Jendral Perhubungan Laut. Setelahnya Dirjen Perhubungan Laut akan menerbitkan sertifikasi kapal lalu Syahbandar menerbitkan izin berlayar. 

Dirinya menambahkan, untuk sertifikat keselamatan kapal rakyat penumpang akan diberikan oleh pihak Syahbandar. Surat tersebut akan berlaku selama enam bulan. Adapun selama setahun sekali, kapal wajib melakukan pelimbungan.

Kades Desa Nyamuk Sudarto menginginkan sosialisasi dan penerapan peraturan tersebut, segera dilaksanakan. Hal itu, karena hingga kini warganya masih takut menumpang kapal barang karena dicegah oleh petugas. Akibatnya, mereka harus menyeberang ke Pulau Karimunjawa terlebih dahulu, baru kemudian ke Jepara. 

“Untuk ke Jepara melalui Karimunjawa, warga juga harus menyewa kapal lagi bila akan kembali ke Desa Nyamuk. Biayanya sekitar Rp 700 ribu, padahal warga kami tidak semuanya memiliki biaya. Sedangkan bila menumpang kapal barang, hanya merogoh kocek Rp 50 ribu,” ucapnya. 

Selain menunggu sosialisasi dari pihak pemerintah, rencananya ia bersama perwakilan warga akan ke Jepara untuk bertemu dengan pihak pemkab. 

Editor : Kholistiono

Jumlah Penumpang Kapal ke Karimunjawa Merosot

KMP Siginjai sedang bersandar di Dermaga Kartini. Saat ini, jumlah penumpang kapal menuju ke Karimunjawa merosot tajam. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Awal Ramadan, jumlah pengguna kapal penumpang ke Pulau Karimunjawa menurun. Meskipun demikian, jadwal keberangkatan kapal penumpang masih tetap sama. 

Kabid Perhubungan Laut Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara Suroto mengakui hal itu. Menurutnya, penurunan jumlah penumpang memang lazim terjadi pada awal hingga pertengahan Ramadan. 

“Pada hari Senin saja kapal cepat hanya membawa seratus penumpang, dari jumlah tempat duduk keseluruhan. Untuk tren penurunannya biasanya terjadi pada awal hingga pertengahan Ramadan, bisa sekitar 50 persen lebih,” ujarnya, Rabu, (7/6/2017). 

Ia menjelaskan, tren penurunan penumpang terjadi hingga pertengahan lebaran. Setelahnya, pengguna sarana penyeberangan laut diperkiranan naik mendekati hari raya. 

Meskipun demikian, lanjut Suroto, hal itu tidak memengaruhi distribusi logistik ke Karimunjawa. “Tidak berpengaruh pada jadwal pengiriman logistik, namun demikian permintaan logistik juga agak berkurang,” imbuhnya.

Terkait dengan lalu lintas pada masa lebaran pihaknya mengaku akan membuat posko di Pelabuhan Kartini. Sementara untuk frekuensi penyeberangan penumpang, Suroto mengatakan, akan melihat calon pemudik yang akan menggunakan jasa kapal cepat.

“Kalau calon penumpangnya banyak, ya nanti kita lihat dulu. Soal angkutan Lebaran, baru akan kita diskusikan,” jelas Suroto.

Editor : Kholistiono

Perusak Terumbu Karang di Karimunjawa Wajib Mengganti

Wisatawan sedang menikmati snorkeling di Karimunjawa. Pemerintah kini menegaskan, jika siapapun yang merusak terumbu karang diwajibkan mengganti. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Perusak terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa, Jepara diwajibkan untuk mengganti kerusakan yang ditimbulkan. Hal itu berlaku pula pada kasus rusaknya karang akibat kapal tongkang yang parkir disekitar Pulau Tengah dan Pulau Cilik, awal tahun 2017 ini. 

Hal itu dikatakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jepara Fatkhurrahman, Senin (29/5/2017). Ia mengatakan, tim dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah turun menyelidiki kerusakan terumbu karang akibat kapal tongkang. 

Menurutnya, tim dari KLHK  telah melakukan penyelidikan, sementara Dinas Lingkungan Hidup Jepara tak dilibatkan. Pihaknya mengaku hanya melakukan pendampingan, karena kasus tersebut terjadi di wilayah Bumi Kartini. 

“Kami tidak masuk dalam tim penyelidik. Kita bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jateng hanya mendampingi saja karena locus kejadiannya berada di Jepara,” ujar Fatkhurrahman di ruangannya, Senin (29/5/2017).

Dirinya menjelaskan, secara umum kasus rusaknya terumbu karang akan masuk dalam dua jalur. Yakni hukum ataupun mediasi. Meskipun begitu, hasil akhirnya perusak karang berkewajiban mengganti kerusakan yang ditimbulkannya. 

Dirinya berujar, tim dari KLHK telah turun ke lokasi kejadian pada bulan April di tanggal 24-30. Dalam penyelidikan, tim tersebut telah membawa ahli-ahli yang secara teknis menyelidiki efek yang ditimbulkan oleh kejadian itu.

“Tempat kejadian berada di taman nasional. Pengelolanya langsung menghubungi KLHK. Kami (Kabupaten Jepara)  karena sesuai peraturan, bupati tak memiliki lagi kewenangan akan laut. Kami juga tak memiliki kewenangan akan sisi hukumnya,” tuturnya. 

Namun demikian, pihaknya mengaku akan segera mendapatkan salinan hasil penelitian terhadap kerusakan karang tersebut. Akan tetapi hingga kini, ia belum menerima putusan itu. 

Fatkhurrahman mengatakan, luas kerusakan karang yang ada di Pulau Cilik adalah 272,36 meter persegi. Sementara di Pulau Tengah, terdapat kerusakan seluas 1.102,35 meter persegi.

Editor : Kholistiono

Warga Pulau Nyamuk Menanti Solusi Kapal Pengangkut Penumpang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Keluhan warga Desa Pulau Nyamuk,Kecamatan Karimunjawa, Jepara, terkait pelarangan menumpang kapal dagang belum memperoleh solusi nyata. Sejauh ini, pihak bersangkutan yakni Polres Jepara baru akan menyampaikan unek-unek tersebut kepada Polda Jateng.

Hal itu disampaikan Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho. Menurutnya, ia telah menerima keluhan tersebut.”Kami sudah menerima laporannya. Kebijakan tersebut bukan dari kami, melainkan dari atasan. Menindaklanjuti hal itu, kami akan segera melaporkannya ke pimpinan kami,” janji Kapolres Jepara.

Sebelumnya diberitakan, warga Desa Pulau Nyamuk mengeluh karena dalam kurun sebulan terakhir mereka dilarang menumpang kapal niaga bila ingin menuju Ibu Kota Jepara. Jika nekat, mereka pasti akan dirazia oleh pihak Polair yang ada di sekitar Pulau Panjang.

Kepolisian mengimbau warga dari tempat tersebut, menggunakan kapal khusus penumpang yang tersedia di Pulau Karimunjawa.

“Padahal, biaya untuk menuju Pulau Karimunjawa ke Jepara dari Pulau Nyamuk dan sebaliknya membutuhkan biaya tak sedikit, sekitar Rp 700 ribu. Sedangkan bila menumpang kapal dagang hanya Rp 50 ribu. Warga kami kan tak semua berpunya,” kata Kades Nyamuk Sudarto. 

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, saat ditanya terkait hal itu mengaku belum mengetahuinya. Namun demikian, ia berjanji segera menuntaskannya.

“Kami belum menerima. Laporan terkait masalah itu. Tapi pemkab tetap akan melakukan penyikapan. Jika dipersulit kan kasihan warga juga,” ucapnya.

Ia mengatakan, Pemkab Jepara sebentar lagi akan mengadakan kapal khusus pengangkut BBM pada warga kepulauan. Namun untuk kapal penumpang pihaknya mengakui memang belum ada.

“Untuk itu, kami minta bantuan ke gubernur bagi warga Pulau Karimunjawa. Sebab dulu untuk fasilitas kapal penumpang pernah dijanjikan pada masa pemerintahan provinsi ketika dipimpin Bibit Waluyo. Namun karena ia tidak menjabat lagi, hingga sekarang belum ada realisasi,” tambahnya. 

Editor : Kholistiono

Warga Pulau Nyamuk Keluhkan Larangan Menumpang Kapal Dagang

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Pulau Nyamuk, Karimunjawa, Jepara, mengeluhkan larangan menumpang kapal dagang. Hal itu lantaran hingga saat ini belum ada solusi transportasi murah dari dan menuju pulau tersebut. 

“Dulu warga kami bisa bepergian dari Nyamuk ke Jepara menumpang kapal dagang. Namun sekarang tidak boleh. Setiap sampai ke sekitar Pulau Panjang, kami selalu dirazia oleh polisi perairan dari Polda maupun Mabes Polri,” ucap Sudarsono, Kepala Desa Nyamuk, Rabu (24/5/2017). 

Menurutnya, biaya akan berlipat jika warga Nyamuk yang ingin ke Jepara harus lewat Karimunjawa. Sudarsono berkata, harga yang harus dibayarkan mencapai Rp 700 ribu. Harga itu untuk menyewa kapal, dari Karimunjawa menuju Pulau Nyamuk, setelah kembali dari Jepara. 

Sedangkan bila warga menumpang kapal barang, mereka hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 50 ribu. Dijelaskannya, kapal dagang yang biasa ditumpangi oleh warga berkapasitas 30 ton. Di Pulau Nyamuk sendiri ada satu kapal yang berlayar. Sedangkan di Pulau Parang ada tiga kapal dagang yang berlayar. Adapun jadwal berlayarnya tidak setiap hari. 

Di Pulau Nyamuk sendiri terdapat 600 jiwa, sedangkan di Pulau Parang terdapat 1400 jiwa penduduk. 

“Tidak semua warga kami berpunya, maka dari itu kami menginginkan solusi. Untuk pelarangan menumpang kapal dagang sudah berlangsung sekitar sebulan ini,” katanya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya akan segera menemui Kapolres Jepara untuk meminta solusi. Jika tak menemui titik terang, dirinya berencana untuk menemui pihak pemkab Jepara. 

Editor : Kholistiono

KMP Siginjai Belum Bisa Layani Pelancong ke Karimunjawa

KMP Siginjai terlihat bersandar di Pelabuhan Kartini Jepara. Jumat (14/4/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kapal Motor Penumpang (KMP) Siginjai belum bisa melayani penyeberangan ke Karimunjawa, lantaran belum mengantongi izin berlayar dari Syahbandar Jepara.  Meskipun demikian, kapal yang dioperasikan oleh PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) itu telah terlihat di Pelabuhan Kartini setelah menjalani prosedur perawatan selama 20 hari, Jumat (14/4/2017). 

Kepala PT. ASDP Cabang Jepara, Yudi Yanuar mengatakan, kapal baru saja berlabuh di Pelabuhan Kartini Jumat pagi. Hal itu setelah kapal tersebut dinilai layak beroperasi oleh Marine Inspector dan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Namun demikian, untuk dapat berlayar melayani penumpang dan barang, pihaknya perlu mengantongi izin dari Syahbandar. 

“Kami masih menunggu izin berlayar, karena setelah melakukan docking, harus ada administrasi yang perlu diselesaikan,” ujar Yudi. 

Terkait momentum libur panjang akhir pekan, pihaknya mengaku berusaha untuk bisa melayani pelancong. Namun demikian, hal itu masih harus menyelesaikan berbagai persyaratan administrasi. 

Dirinya mengatakan, telah berkomunikasi dengan Syahbandar terkait izin berlayar. Selain itu, Yudi pun mengaku telah mengadakan pembicaraan dengan Dishub Kabupaten Jepara. 

“Permasalahannya begini, pihak Syahbandar dan Dishub sedang berada di luar Jepara. Selain itu, hari Jumat juga bertepatan dengan libur nasional. Namun kami mengusahakan agar Sabtu (15/4/2017) bisa berlayar,” tuturnya. 

Editor : Kholistiono

Pelancong Mulai Berdatangan Hendak Berlibur ke Karimunjawa

Calon penumpang KMC Express Bahari sedang menunggu jam keberangkatan di Pelabuhan Kartini, Jumat (14/04/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pelancong memadati Pelabuhan Kartini Jepara, di hari pertama libur panjang akhir pekan, Jumat (14/4/2017). Wisatawan didominasi oleh warga luar Jepara yang hendak menikmati eksotisme Pulau Karimunjawa. 

Seperti Sofari (25) dan Uswatun (25) pasangan ini mengaku hendak ber-honey moon selama tiga hari di pulau tersebut. Untuk mendapatkan tiket, mereka mengaku telah melakukan pemesanan sejak dua minggu sebelum keberangkatan. 

“Kami berdua dari Tegal hendak ke Karimun. Rencananya mau menginap di sana selama tiga hari dua malam. Kalau untuk tiket, kami serahkan pada teman yang menangani. Namun sudah jauh-jauh hari kami memesannya,” ujar Sofari.

Pasangan suami istri itu mengaku, mendapatkan jatah berlayar dengan menggunakan Kapal Express Bahari, yang berangkat pukul 13.00 WIB dari Pelabuhan Kartini. “Kalau kami nanti kembali Minggu siang dari Karimun Jawa,” tambah Sofari. 

Wisatawan lain, Ari (28) mengaku datang dengan ketujuh rekannya dari Pati. “Kami datang berdelapan. Rencananya mau berlibur ke Karimunjawa. Kalau untuk tiket sudah ada yang mengurus sendiri. Kita tinggal berangkat hari ini,” kata dia. 

Pantauan MuriaNewsCom, pelancong kebanyakan warga luar Jepara. Hal itu dilihat dari nomor kendaraan yang non Karisidenan Pati. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan sarana bus pariwisata. 

Sementara itu, pelayaran penyeberangan wisata ke Karimunjawa baru bisa dilayani oleh satu kapal, yakni KMC Express Bahari. Sementara armada milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyebrangan (ASDP) yakni KMP Siginjai masih belum mengantongi izin berlayar. 

Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, mengungkapkan pihaknya selama liburan akhir pekan, menambah frekuensi perjalanan kapal Bahari Express.

Editor : Kholistiono

 

Tak Ada Event Khusus Sambut Pelancong di Jepara

Bukit Love yang ada di Karimunjawa. Terkait libur panjang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, tak mempersiapkan secara khusus event penyambutan pelancong.(MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghadapi Long Weekend 14-16 April 2017 ,Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara, tak mempersiapkan secara khusus event penyambutan pelancong. Namun demikian, petugas pariwisata siap melayani wisatawan yang diperkirakan memenuhi berbagai destinasi wisata di Bumi Kartini. 

Hal ini disampaikan oleh Kabid Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara Zamroni, Kamis (13/4/2017). “Kalau untuk persiapan khusus sebenarnya tidak ada. Hanya saja untuk kebersihan obyek wisata kami perhatikan betul. Kalau libur panjang seperti ini relatif sama dengan hari Sabtu dan Minggu biasa,” ucapnya.  

Meskipun demikian, pihaknya mengaku hotel maupun restoran di Jepara siap melayani pelancong. Hal ini karena, di Kabupaten tersebut banyak tumbuh lokasi-lokasi penginapan anyar. 

Di samping itu, pihaknya juga telah menerjunkan personel untuk bersiaga di Tourist Information Center (TIC), pada destinasi yang dikelola Pemkab Jepara. Di antaranya, Pantai Bandengan, Kartini ataupun Benteng Portugis.

Dengan adanya petugas, diharapkan pelancong dapat memanfaatkannya sebagai tempat bertanya. 

Terkait target Pemasukan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata, tahun ini dinas mematok Rp 3,6 miliar. Jumlah itu dikatakan Zamroni naik sekitar 20 persen dari target tahun lalu.

“Tahun kemarin targetnya Rp 3 miliar. Namun pada pencapaiannya bisa mendapatkan hingga Rp 3,1 miliar. Maka dari itu untuk tahun ini dinaikkan menjadi Rp 3,6 miliar. Untuk hal tersebut, kami telah melakukan berbagai promosi dan mengikuti pameran secara berkala,” jelasnya.

Hal serupa diungkapkan oleh Kabid Pemasaran Wisata Florentina Budi Kurniawati. Menurutnya, pada tanggal 14-16, pihaknya fokus dengan acara bertajuk Festival Kartini. 

“Kegiatan di Kabupaten Jepara masih dalam rangkaian acara festival Kartini. Tanggal 14 ada lomba keroncong, tanggal 15 wayang kulit dan tanggal 16 lomba burung berkicau tingkat nasional di Pantai Bandengan,” tulisnya dalam pesan singkat. 

Di samping itu, pihaknya kini tengah gencar melakukan berbagai promosi. Satu di antaranya adalah ikut serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dalam Majapahit Travel Fair di Surabaya. Pada Kesempatan itu, ikut pula perwakilan PHRI Jepara, Hotel D’Season, JOP dan Desa Wisata Troso. 

Sebelumnya dikabarkan, tiket menuju Pulau Karimunjawa telah terpesan habis, untuk libur panjang akhir pekan. Untuk menyiasati hal tersebut, pihak operator kapal pun menyediakan trip tambahan. 

Editor : Kholistiono

Sampah di Karimunjawa Semakin Tak Terkontrol, Pemerintah Didesak Segera Realisasikan Pembangunan TPA

 Warga Karimunjawa saat melakukan kerja bakti membersihkan sampah yang menumpuk. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Warga Karimunjawa saat melakukan kerja bakti membersihkan sampah yang menumpuk. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Sampah di Kepulauan Karimunjawa, Jepara semakin tak terkontrol. Pemerintah didesak segera merealisasikan pembangunan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kepulauan yang ada di Laut Jawa tersebut.

Meski sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata andalan Jawa Tengah, namun hingga kini Kepulauan Karimunjawa belum memiliki TPA sampah. Padahal, sampah di wilayah berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa ini berasal dari berbagai sumber. Baik mulai dari sampah rumah tangga, aktivitas pariwisata hingga sampah dari wilayah lain yang terbawa arus laut dan menumpuk di kawasan sekitar pelabuhan atau pesisir Karimunjawa.

Salah seorang warga Karimunjawa, Djati Utomo mengatakan, karena tak ada TPA sampah, maka berbagai macam sampah dikumpulkan di lahan milik penduduk. Karena keterbatasan lahan, sampah baik dari rumah tangga, aktivitas wisata maupun sampah dari wilayah lain yang terbawa arus laut menumpuk di lahan warga tersebut.

“Kita dan berbagai elemen mulai dari Syahbandar hingga pihak desa selalu membersihkan sampah di pelabuhan yang terbawa arus laut. Sampah itu, kemudian  terpaksa kita kumpulkan di lahan warga karena memang tak ada TPA,” kata Djati yang juga Ketua Yayasan Pitu Likur Pulo Karimunjawa ini.

Sementara itu, untuk mengurangi  sampah dari berbagai jenis mulai dari plastik, bambu, kayu, daun, kertas, botol dan lain sebagainya itu dibakar. Namun sayangnya, hujan yang kerap mengguyur wilayah Karimunjawa dalam beberapa pekan terakhir membuat upaya pembakaran sampah tak maksimal. Sehingga muncul bau dari tumpukan sampah itu. Selain itu, sampah itu berpotensi jatuh dan masuk ke saluran drainase yang mengarah ke laut.

“Solusi utama memang TPA sampah itu. Kalau infrastruktur itu tak ada, penanganan sampah di Karimunjawa semakin sulit,” jelasnya.

Selain TPA, pihaknya juga mengutarakan bahwa tak kalah pentingnya armada untuk mengangkut sampah. Sebab sampah yang terseret arus laut tersebar di berbagai titik perairan di Karimunjawa. Beberapa di antaranya seperti perairan Cemoro Besar, Cemoro Kecil, hingga Kampung Nelayan Lego.”Beberapa lokasi ini merupakan tujuan wisata. Kalau di sana penuh sampah, bagaimana mungkin wisatawan bisa betah,” ucapnya.

Sementara itu, ASN yang ditugasi mengawal pembangunan TPA Karimunjawa, Lulut Andi Ariyanto mengatakan, proses pembangunan memang dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, yang sudah dibangun adalah akses jalan menuju lokasi TPA yang rencana dibangun di Dukuh Alang-alang Desa Karimunjawa.

“Rencananya, TPA Karimunjawa seluas 1 hektare, sehingga bisa dibuat tiga hingga empat tempat penimbunan sampah (sel landfill). Kami berharap TPA itu bisa dimaksimalkan untuk menampung sampah baik dari rumah tangga maupun sektor pariwisata selama lima tahun mendatang,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kenaikan Harga Tiket Kapal Siginjai Diminta Tidak Sama Antara Wisatawan dan Penduduk Karimunjawa

 Kapal Siginjai ketika berlabuh di Dermaga Kartini Jepara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapal Siginjai ketika berlabuh di Dermaga Kartini Jepara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Terkait adanya wacana kenaikan harga tiket  Kapal Siginjai untuk penyeberangan Jepara-Karimunjawa dan sebaliknya, yang akan dimulai awal Februari 2017 mendatang, pihak Pemerintah Kecamatan Karimunjawa mengusulkan, agar harga tiket tersebut tidak disamaratakan, khususnya untuk warga Karimunjawa.

Jika kenaikan harga tiket yang diperkirakan sampai 55 hingga 60 persen tersebut diberlakukan untuk semua penumpang, maka, hal itu akan berdampak terhadap warga di Karimunjawa, yang memiliki akses lebih besar untuk menggunakan moda transportasi kapal untuk kebutuhan sehari-hari.

Camat Karimunjawa Budi Krisnanto mengatakan, jika memang nantinya harga tiket kapal tersebut jadi naik dan berlaku untuk semua penumpang, maka yang terkena imbas lebih besar adalah warga Karimunjawa.

“Kalau naiknya sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per tiket dari harga semula Rp 60 ribu sih masih bisa dijangkau warga kami. Untuk itu, kami berharap harga tiket yang naik nanti tidak berlaku sama antara wisatawan dan penduduk lokal dari Karimunjawa,” ujarnya.

Dirinya berharap, nantinya, pihak Pemerintah Kecamatan Karimunjawa juga diajak diskusi terkait hal tersebut. Sehingga, kebijakan yang berlaku nanti, tidak memberatkan warga.

Untuk penerapannya nanti, warga yang berasal dari Karimunjawa bisa menunjukkan KTP atau foto kopi KTP kepada pihak terkait. Hal itu, untuk menghindari adanya miskomunikasi antara pihak pengelola tiket dengan penumpang.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, Kecamatan Karimun kini dihuni sekitar 10.200 jiwa yang berada di 5 pulau. Di antaranya yakni Pulau Karimunjawa, Parang, Nyamuk, Genting dan Kemojan.

Editor : Kholistiono

Harga Tiket Kapal Siginjai untuk Penyeberangan Jepara-Karimunjawa Bakal Naik

Kapal Siginjai sedang bersandar di Dermaga Kartini Jepara beberapa waktu lalu. Dalam waktu dekat, harga tiket Kapal Siginjai untuk penyeberangan Jepara-Karimunjawa dan sebaliknya akan dinaikkan.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Kapal Siginjai sedang bersandar di Dermaga Kartini Jepara beberapa waktu lalu. Dalam waktu dekat, harga tiket Kapal Siginjai untuk penyeberangan Jepara-Karimunjawa dan sebaliknya akan dinaikkan.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Subsidi dari pemerintah pusat untuk Kapal Siginjai yang melayani penyeberangan Jepara – Karimunjawa dikurangi. Subsidi tersebut yang semula sebesar Rp1,8 miliar di tahun sebelumnya, di tahun ini dikurangi Rp 1 miliar. Sehingga nantinya hanya mendapatkan subsidi sebesar Rp 800 juta saja.

Dengan adanya pengurangan tersebut, PT ASDP yang melayani penyeberangan perintis terpaksa menaikkan harga tiket kapal. “Selama ini, subsidi itu untuk biaya docking Rp 800 juta. Sedangkan sisanya Rp 1 miliar untuk operasional,” Kata Kepala PT ASDP Cabang Jepara Yudi Yanuar.

Dengan pengurangan subsidi ini, pihaknya harus berupaya sendiri untuk menutup subsidi biaya operasional dengan cara menaikkan tarif Kapal Siginjai tersebut.

 “Ya  terpaksa menaikkan harga tiket Kapal Siginjai yang melayani penyeberangan Jepara – Karimunjawa. Rencananya, harga tiket KMP Siginjai dinaikan mencapai 55 hingga 60 persen. Saat ini, harga tiket KMP Siginjai Rp 60 ribu per orang. Akan tetapi, kenaikan ini tidak kami pukul rata. Khusus tiket kendaraan, rencananya kami naikkan maksimal,” ungkapnya.

Sementara itu, kini pihaknya tengah mengusulkan kenaikan harga tiket ini ke Pemerintah Kabupaten Jepara. Sehingga, mulai Februari 2017 mendatang sudah bisa menerapkan tarif tiket baru.

Jika usulan kenaikan tarif tiket tersebut kandas, maka solusinya untuk menekan biaya operasional dengan melakukan pengurangan trip. Namun, dampaknya akan berpengaruh pada mobilitas masyarakat Karimunjawa dan aktivitas pariwisata.

“Kalau pengurangan trip sampai tiga kali dalam sepekan kasihan masyarakatnya. Sekarang saja kalau tidak ada pelayaran sehari, sudah berdampak bagi masyarakat,” ucapnya.

Sebagai operator penyeberangan perintis, pihaknya juga mempunyai kewajiban berlayar sebanyak 315 kali dalam setahun. Dan Target itu bisa tercapai. Sehingga, pihaknya mewacanakan untuk meningkatkan status pelayaran Jepara – Karimunjawa, dari perintis menjadi pelayaran komersial.

“Kalau mau jadi pelayaran komersial sebetulnya kami siap. Berarti sudah tidak mendapat subsidi lagi, tapi kami mempunyai kewenangan untuk menentukan jadwal pelayaran dan harga tiket sendiri tanpa persetujuan pemkab,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Kapal Astina Kandas di Perairan Karimunjawa

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Kapal Astina kandas di perairan Karimunjawa, atau tepatnya di area Karangkapal yang memang selama ini dianggap cukup berbahaya. Kandasnya Kapal Astina tersebut terjadi pada Senin (9/1/2017) sore.

Kapolres Jepara AKBP Samsu Arifin melaui Kasat Polairut AKP Hendrik Irawan mengatakan, Kapal Astina berangkat dari Muara Angke Kaliadem pada Minggu (8/1/2017) sekitar pukul 16.00 WIB, dan rencananya akan menuju Bali.

Namun, sesampainya di perairan Karimunjawa, Senin (9/1/2017) sekitar pukul 16.00 WIB, Kapal Astina terjebak di kawasan Karangkapal pada koordinat 05 53′ 500” S dan 110 13′ 871” E sejauh 2 mil dari bibir pantai.

”Kapal rencananya mau masuk Karimunjawa untuk minta penambahan air, tapi salah haluan karena tidak ada yang memandu, dan akhirnya kandas di lokasi kejadian,” katanya.

Kapal Astina yang terjebak di kawasan Karangkapal pertama kali diketahui Asarif, nelayan dari Desa Alang-alang, Karimunjawa. Ketika itu, Asarif yang membawa Kapal Bunga Sari Nahkoda bermaksud mencari ikan. Sesampainya di kawasan tersebut sekitar pukul 19.00 WIB Asarif melihat Kapal Astina dalam posisi kandas. Asarif kemudian bergerak menuju Kapal Astina untuk melakukan penyelamatan.

”Kapal Astina baru bisa lepas dari Karangkapal sekitar pukul 21.00 WIB tadi malam dengan ditarik menuju Karimunjawa. Sampai di Karimunjawa pada Selasa (10/1/2017) sekitar  02.30 WIB. Kapal dalam keadaan mengalami trouble pada mesin karena propeler terlilit tali jangkar,” bebernya.

Dia melanjutkan,  kapal Astina kandas sekitar lima jam. Setelah berada di Pelabuhan Karimunjawa, kapal dalam proses perbaikan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah itu akan melanjutkan perjalan menuju  Bali.

“Dalam dunia pelayaran, setiap kapal punya peta dan GPS. Sehingga bisa diketahui lokasi rawan atau banyaknya karang yang ada di area setempat. Saya juga belum bisa memastikan penyebab kejadian tersebut. Bisa jadi karena cuaca buruk atau human error,” ungkapnya.

Perlu diketahui, dalam kejadian tersebut, tak ada korban jiwa. Kapal Astina membawa lima ABK yaitu Richardo S, Wiwit, Allan, Jamal, dan Remon. Semuanya selamat.

Editor : Kholistiono

Dufan, Siswa SMK Karimunjawa Ini Terpaksa Tak Masuk Sekolah Akibat Gelombang Tinggi

Penumpang KMP Siginjai yang rencananya akan bertolak ke Karimunjawa terpaksa harus balik karena gelombang tinggi. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Penumpang KMP Siginjai yang rencananya akan bertolak ke Karimunjawa terpaksa harus balik karena gelombang tinggi. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Jepara – Cuaca ekstrem yang melanda perairan laut Jepara membuat alur pelayaran terganggu. KPM Siginjai yang berlayar untuk mengangkut penumpang menuju Karimunjawa terpaksa harus kembali bersandar ke Dermaga Kartini Jepara, Jumat (6/1/2017).

Salah satu penumpang KMP Siginjai, Dufan (16) yang merupakan siswa SMK Karimunjawa mengatakan, sebenarnya ia akan pulang dan masuk sekolah di pada Sabtu, esok hari. Namun, karena kapal yang ditumpanginya balik lagi bersandar di Dermaga Kartini, maka, ia terpaksa tidak bisa masuk sekolah besok.

“Sebenarnya saya ini akan pulang ke rumah, karena sekolah saya masuk mulai Sabtu (7/1/2017) besok. Tetapi, ini cuacanya malah buruk dan kapalnya balik lagi ke dermaga,” kata Dufan.

Menurutnya, semula ia pergi ke rumah saudaranya yang ada di Bondo untuk berlibur. Berhubung Sabtu esok sudah mulai masuk, maka ia merencanakan pulang ke Karimunjawa pada Jumat (6/1/2017) ini. Namun karena cuaca buruk, maka hal itu terpaksa tidak bisa dilakukan dan harus menginap lagi di Jepara.

Dirinya berharap, besok cuaca di perairan laut Jepara sudah membaik dan kapal bisa berlayar. Sebab, rencananya besok KMP Siginjai yang ditumpangi hari ini akan berlayar kembali menuju Karimunjawa.

Editor : Kholistiono

Dihadang Gelombang Tinggi, Kapal Siginjai yang Angkut Penumpang ke Karimunjawa ‘Balik Kanan’

KMP Siginjai yang mengangkut penumpang  menuju Karimunjawa terpaksa harus balik ke Dermaga Kartini Jepara karena gelombang tinggi, Jumat (6/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KMP Siginjai yang mengangkut penumpang menuju Karimunjawa terpaksa harus balik ke Dermaga Kartini Jepara karena gelombang tinggi, Jumat (6/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca ekstrem yang melanda perairan laut Jepara membuat alur pelayaran terganggu. KPM Siginjai yang berlayar untuk mengangkut penumpang menuju Karimunjawa terpaksa harus kembali bersandar ke Dermaga Kartini Jepara, Jumat (6/1/2017).

Semula, KMP Siginjai yang ditumpangi 149 orang tersebut berangkat dari Dermaga Kartini pukul 06.30 WIB. Setelah 1 jam perjalanan atau sekitar 8 mil dari dermaga, Nahkoda Kapal Siginjai Husaini harus memutar balik demi keselamatan penumpang lantaran cuaca ekstrem terjadi di perairan Jepara.

Saat diwawancarai MuriaNewsCom setiba di Dermaga Kartini sekitar pukul 09.12 WIB , Nahkoda KMP Siginjai Husaini mengatakan, bahwa cuaca di perairan laut Jepara hari ini cukup buruk. “Setelah satu jam berlayar atau sekitar 8 mil perjalanan, tiba-tiba gelombang tinggi. Sehingga kita memutuskan untuk balik lagi ke dermaga, demi keselamatan, Sebelum kita memutuskan kembali ke dermaga, tentunya kita juga sudah berkoordinasi dengan ASDP, Dewan Kapal, Syahbandar dan lainnya,” kata Husaini.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, saat ini kekuatan angin di perairan Jepara mencapai  30 knot, serta ketinggian ombak sekitar 2,5 meter.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, selain mengangkut 149 penumpang, kapal jurusan Karimunjawa tersebut juga mengangkut sebanyak 19 unit sepeda motor, 4 unit mobil pribadi, 1 unit truk dan 7 ton muatan barang lainnya.

“Kita juga bingung, informasi dari BMKG bahwa gelombang hanya berketinggian 1 meter, namun di laut ternyata 2,5 meter. Selain itu, kekuatan angin yang diinformasikan ke kita itu sekitar 20 knot. Namun nyatanya malah 30 knot. Sementara itu jarak pandang kita juga maksimal hanya sejauh 1 mil saja,” bebernya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai keberangkatnnya ke Karimunjawa, pihaknya mengutarakan bahwa akan dijadwalkan kembali pada esok hari. “Untuk keberangkatannya lagi kita jadwalkan esok hari. Namun untuk penumpang yang sudah membeli tiket dan gagal berangkat, kita jamin tiket itu bisa digunakan kapanpun atau juga bisa ditukarkan kembali. Sebab para penumpang juga sudah bertiket,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Cuaca Ekstrem, Kapal dari Luar Jawa Banyak yang Bersandar di Karimunjawa

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca ektrim yang melanda di perairan laut Jepara membuat kapal yang dari luar Jawa lebih memilih berlabuh sementara di Pelabuhan Legon Bajak Karimunjawa, Jepara.

Rosyin, Sekretaris Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa mengatakan, hujan deras disertai angin kencang dan gelombang tinggi memang sempat membuat kapal-kapal dari luar Jawa lebih memilih menepi.”Rata-rata kapal yang menepi ke Karimunjawa untuk berlindung. Mereka ada yang berasal dari Kalimantan dan akan menuju ke Banten,” kata Rosyid.

Dia melanjutkan, berlindungnya kapal-kapal dari Kalimantan ini juga hanya sebentar sembari menunggu cuaca kembali normal. Dengan adanya kondisi cuaca ekstrem tersebut, pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk selalu waspada, terlebih ketika akan bepergian ke Jepara.

Sementara itu, untuk mengetahui prediksi cuaca, pihaknya juga akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait, supaya dapat diinformasikan mengenai perubahan cuaca. “Kita akan selalu berkomunikasi, berkoordinasi dengan pihak terkait, baik itu BPBD, BMKG dan lainnya. Supaya segala informasi mengenai cuaca bisa diteruskan kepada warga,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Sepekan Terakhir Ini Karimunjawa Dilanda Agin Kencang

Ilustrasi

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Sepekan terahir ini angin kencang melanda Kecamatan Karimunjawa, Jepara. Selain angin kencang, gelombang atau ombak tinggi juga masih melanda di Perairan Jepara.

Rosyid,Sekretaris Desa Kemojan, Kecamatan Karimunjawa mengatakan, bahwa sudah sepekan terahir ini angin kencang dan hujan deras melanda Karimunjawa. “Kondisi itu terjadi sejak ahir bulan Desember 2016 lalu. Selain itu juga ada gelombang laut di sekitar Karimunjawa yang bisa dikatakan ekstrem,” kata Rosyid.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan bagian Musim Baratan yang melanda wilayah pesisir.”Rata rata angin kencang, hujan deras dan gelombang tinggi itu terjadi saat malam tiba,” imbuhnya.

Saat disinggung mengenai ketinggian gelombang yang ada di Perairan Karimunjawa, pihaknya mengatakan, bahwa ketinggian gelombang atau ombak laut sekitar 1 hingga 1,5 meter. Namun demikian, pihaknya masih bersyukur, dalam kondisi seperti itu tak ada kerugian material yang ditanggung atau diderita oleh warga. Sedangkan untuk aktivitas warga juga bisa berjalan seperti biasanya.

Sementara itu, mengenai kondisi angin kencang, hujan deras dan gelombang tinggi, pihkanya mengutarakan bahwa, diprediksi akan terjadi kembali pada 5 dan 6 Januari 2017 ini. “Menurut informasi dari BMKG, nanti pada 5 dan 6 Januari akan ada angin kencang, hujan deras dan ombak tinggi. Tapi, mudah-mudahan itu tak terjadi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Turis Asing yang Mau ke Karimunjawa Jepara Diperiksa Polisi

Wisatawan asing diperiksa polisi sebelum ke Karimunjawa, Jepara. (Tribratanewsjepara)

Wisatawan asing diperiksa polisi sebelum ke Karimunjawa, Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Turis asing tak luput dari pemeriksaan pencegahan kejahatan. Hal ini tepatnya dilakukan Satuan Polisi Perairan Kepolisian Resor Jepara.

Polisi melakukan upaya preventif berupa pencegahan terhadap tindak kriminal maupun kejahatan lain dengan melakukan pemeriksaan terhadap Kapal Motor Penumpang (KMP) Siginjai yang akan bertolak ke Pulau Karimunjawa, Jumat (11/11/2016).

Dikutip Tribratanewsjepara.com, saat kapal akan berlayar dan menaikkan barang-barang penumpang di dermaga pelabuhan Kartini Jepara, anggota Sat Polair yang dipimpin Kasat Polair Polres Jepara Ajun Komisaris Polisi Hendrik Irawan berkoordinasi dengan pihak Syah Bandar dan Kapten Kapal khususnya untuk meminta izin pemeriksaan di area pelabuhan dan KMP Siginjai.

“Pemeriksaan ini adalah untuk mengantisipasi penumpang membawa barang berbahaya seperti senjata tajam, senjata api, bahan peledak. Dan meminimalisasi peredaran gelap Narkoba dan barang berbahaya lainnya melalui jalur laut. Selama pemeriksaan di dalam galangan kapal tidak ditemukan hal-hal yang menjurus tindak pidana,” katanya.

Selain itu, Kasat Polair juga memberikan sosialisasi program Quick Wins khususnya program ke-11 yaitu kegiatan penertiban dan penegakkan hukum bagi organisasi radikal dan anti Pancasila serta program 6 dengan kegiatan Polisi sebagai penggerak revolusi mental dan pelopor tertib sosial di ruang publik.

Pada kesempatan tersebut, Kasat Polair juga melakukan pemeriksaan dan dialogis dengan wisatawan asing, memeriksa dokumen seperti visa dan kartu identitas. Dialogis memberikan imbauan Kamtibmas agar selalu hati-hati dan waspada terhadap situasi di sekitarnya jangan sampai menjadi sasaran maupun korban tindak kejahatan.

Editor : Akrom Hazami

Warga Karimunjawa Jepara Gelar Parade Budaya Festival Barikan

Festival Barikan Karimunjawa Jepara, tahun 2015 lalu berlangsung meriah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Festival Barikan Karimunjawa Jepara, tahun 2015 lalu berlangsung meriah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat yang berada di Karimunjawa, Kabupaten Jepara menggelar parade budaya yang dikemas dalam Festival Barikan, mulai Kamis (13/10/2016) ini hingga sembilan hari ke depan. Festival ini diikuti oleh sejumlah suku dan etnis yang ada di wilayah destinasi wisata nasional tersebut.

Ketua panitia kegiatan Srianto menjelaskan, Festival Barikan merupakan tradisi budaya yang telah lama dilakukan oleh masyarakat Karimunjawa secara turun temurun dan wujud rasa syukur masyarakat Karimunjawa atas hasil bumi dan laut yang di dapat selama ini.

“Festival ini mengangkat tradisi, budaya dan kesenian yang ada di Karimunjawa. Selain itu juga menggelar berbagai macam workshop yang bisa diikuti seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak hingga dewasa serta menampilkan berbagai macam pertunjukan tradisi dan kebudayaan,” ujar Srianto, Kamis (13/10/2016).

Menurutnya, seluruh kegiatan akan dipusatkan di Karimunjawa, tujuannya agar masyarakat setempat tetap bisa menguri-uri tradisi, kebudayaan dan kesenian yang selama ini hampir hilang.

Perayaan Barikan ini juga dimaksudkan untuk menyambut datangnya musim baratan atau musim ombak besar dan angin kencang. Agar nantinya seluruh masyarakat Karimunjawa diberikan keselamatan dan rezeki yang melimpah selama musim baratan. Selain itu, acara Barikan ini agar kebudayaan masyarakat Karimunjawa dapat menjadi alternatif andalan pariwisata wilayah tersebut.

“Karena hingga saat ini pariwisata Karimunjawa masih mengandalakan keindahan alam. Wisata budaya hingga kini belum tergarap maksimal. Harapan kami dengan adanya tradisi seperti ini juga bisa menjaga kerukunan masyarakat juga menunjang sektor pariwisata,” jelasnya.

Untuk acara puncak Barikan digelar pada Kamis 20 Oktober 2016, nantinya ada arak- arakan tumpeng menuju pelabuhan rakyat, diiringi gamelan dengan alat musik tradisional dan penaburan kacang ijo dan garam yang diikuti oleh seluruh masyarakat Karimunjawa.

Ia menambahkan, Festival Barikan tahun ini pihaknya mengangkat tema “Pelestarian Terumbu Karang”. Maksud dari tema tersebut adalah, mengajak seluruh masyarakat baik masyarakat pribumi Karimunjawa ataupun wisatawan untuk turut serta saling menjaga dan melindungi surga bawah laut yang ada di Karimunjawa.

Editor : Akrom Hazami