Warga Karangrandu Jepara Kenduri di Atas Sungai yang Tercemar

Sejumlah warga Karangrandu melakukan kenduri di atas sungai gede. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masih hitamnya Sungai Gede Karangrandu mengundang keprihatinan warga Desa setempat. Kali ini mereka mengadakan kenduri di atas jembatan dan tanggul sungai pada Jumat, (25/8/2017). 

Warga setempat Subhan menyebut acara tersebut sebagai barikan. Ia mengatakan, tradisi tersebut merupakan adat dari warga setempat untuk memohon kepada Tuhan agar kondisi sungai yang mengaliri desa tersebut kembali normal. 

“Tradisi barikan merupakan cara warga mensyukuri nikmat dari Tuhan. Namun karena kondisi sungai tercemar maka kami berdoa agar Tuhan melimpahkan sungai yang bersih,” kata dia. 

Setelah melakukan tradisi barikan, ia mengaku akan membersihkan bantaran sungai yang kotor. 

Kepala Desa Karangrandu Syahlan memaparkan, hingga kini masih menghitam. Oleh karenanya, warga melakukan aksi bersih-bersih masal. 

Editor: Supriyadi

BPBD Jepara Tunggu Data Penerima Droping Air Bersih untuk Warga Karangrandu

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara tunggu kesiapan pemdes Karangrandu, terkait droping air di wilayah tersebut. Hal itu terkait wilayah tersebut yang mengalami krisis air bersih, karena cemaran sungai yang memengaruhi sumber air baku warga. 

“Kita intinya siap untuk mengirimkan air, namun untuk hal itu kami perlu koordinasi dengan petinggi Karangrandu dulu,” kata Jamaludin Kasi Rehabilitasi dan Rekondisi BPBD Jepara, Kamis (24/8/2017). 

Ia mengatakan, tidak bisa asal mengirimkan bantuan air tanpa kerjasama dari pemerintah desa setempat. Hal itu lantaran, pihaknya perlu mendeteksi berapa warga yang membutuhkan air bersih dan titik droping air bersih. 

Jamaludin mencontohkan kasus yang terjadi pada wilayah Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung yang mengalami krisis air bersih. Sebelum droping air, pihaknya terlebih dahulu menurunkan bantuan tandon air. 

“Yang tahu kebutuhan untuk droping air kan desa. Maka dari itu kami perlu tahu apakah mereka membutuhkan tandon air, atau sudah mempersiapkan tempat tersendiri untuk menampung droping air dari BPBD. Setelah itu rampung baru bisa dilakukan penyaluran air,” urai Jamal. 

Sementara itu petinggi Karangrandu Syahlan mengaku belum menyelesaikan proses pendataan air bersih. Namun demikian, ia memperkirakan ada sekitar 25 kepala keluarga yang memerlukan bantuan air bersih. 

“Sampai sekarang airnya masih hitam. Namun untuk pendataan warga terdampak yang sumber airnya ikut hitam belum kami selesaikan semua,” ujarnya. 

Sebelumnya dikabarkan, Sungai Gede Karangrandu mengalami pencemaran. Pemkab Jepara lantas mengambil solusi untuk mengeringkan bendung Karangrandu untuk mengalirkan air yang tercemar. 

“Kami akan memberikan droping air untuk warga Karangrandu yang air sumurnya tercemar, hal itu untuk memenuhi kebutuhan air minum,” ungkap Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melakukan peninjauan ke desa tersebut, Sabtu (19/8/2017).

Editor: Supriyadi

Positif Tercemar, Begini Langkah Pemkab Jepara Atasi Sungai Karangrandu

Air sungai di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara tak layak konsumsi karena warnanya menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sungai Gede Karangrandu positif tercemar, lalu apa yang akan dilakukan oleh Pemkab Jepara? 

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi mengatakan akan segera mengambil langkah evaluatif, terhadap hal itu. “Terlepas itu limbah dari industri tahu tempe atau yang lain-lain kami akan memberikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) kepada pelaku UMKM (pengusaha tahu-tempe) kami akan kaji betul terkait hal itu, mungkin akan memberikan wadah yang cukup besar,” ucapnya, dalam jumpa pers, Senin (21/8/2017).

Diberitakan sebelumnya, kontribusi pencemar Sungai Gede Karangrandu berasal berbagai sumber. Namun dari 26 parameter, ada dua unsur yang nampak tidak wajar yakni Fenol dan  Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Perlu diketahui Fenol biasanya diketemukan dalam industri tekstil dan penggunaan pestisida. Sementara BOD-COD dihasilkan dari limbah organik semisal tahu-tempe, sampah dan sebagainya. 

Dalam hasil uji laborarium Cito yang dibacakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, ada kadar Fenol sebesar 300 mg/liter dari ambang baku 1 mg/liter tiga kilometer setelah pabrik garmen di Gemulung. Sementara itu kandungan BOD-COD sebesar 61 mg/l dari ambang baku mutu 50. 

Dititik setelah industri tahu tempe, Fenol tetap bertahan pada kadar 300mg/l, sedangkan BOD-COD meningkat hingga 1.120 mg/l. Lalu pada sampel yang diteliti dari Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol hanya berkurang sedikit menjadi  290 mg/l dan BOD-COD merosot menjadi 58 mg/liter.

Ditanya mengenai kadar fenol yang diduga dihasilkan dari limbah industri tekstil, Wakil Bupati Jepara kemudian menyodorkan mikrofon kepada  Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan DLH Jepara M. Ikhsan. 

“Sesuai dengan kewajiban perusahaan dalam mengolah limbah, hal itu akan dilakukan pantauan nanti kita lihat outletnya (saluran pembuangan limbah pabrik tekstil). Intinya evaluasi akan dilakukan terus menerus dilakukan,” papar Ikhsan.  

Editor: Supriyadi

Sungai Gede Karangrandu Jepara Tercemar Limbah Fenol dan Chemical Oxygen Demand

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) Jepara telah menerima hasil laboratorium terkait Sungai Gede Karangrandu. Hasilnya, alur sungai tersebut dalam kondisi tercemar ringan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Penataan dan Penaatan DLH, dalam konferensi pers, Senin (21/8/2017). Menurutnya, faktor pencemar dihasilkan oleh beberapa faktor. 

“Penyebab (pencemaran) tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Dari hulu hingga hilir terdapat kontribusi yang menyebabkan air Sungai di Karangrandu menghitam dan berbau,” paparnya. 

Hal itu dipertegas oleh Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan. Menurutnya, pengambilan sampel dilakukan oleh Laboratorium Cito, di tiga titik. 

Adapun titik tersebut adalah, tiga kilometer dari pabrik garmen, sepanjang aliran sungai yang dipergunakan untuk industri tahu-tempe dan di bendung Sungai Gede Karangrandu. Dari 26 indikator, ada tiga zat yang nampak memperlihatkan kondisi tidak wajar.

“Pertama kami temukan adanya Fenol (C6H6O) yang biasa digunakan pada pabrik tekstil, kemudian zat Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang bisa disebabkan oleh limbah organik, sampah dan sebagainya disepanjang sungai,” tuturnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, disepanjang alur sungai diketemukan zat-zat tersebut. Namun demikian, pada beberapa titik zat tersebut ada yang terurai dan ada yang tetap, namun demikian semua zat tersebut sudah melebihi ambang baku mutu.

“Fenol ambang baku mutunya adalah 1, namun diketemukan di air sungai setelah pabrik (garmen) sejumlah 300. BOD dan COD setelah pabrik garmen sebanyak 61 dari ambang baku mutu 50. Kemudian dari sampel setelah industri tahu-tempe angka fenol tetap, sementara BOD-COD meningkat hingga 1.120. Lalu di sekitar Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol turun menjadi 290, sedangkan kadar BOD-COD menurun menjadi hanya 58,” urainya. 

Menurutnya, zat BOD-COD akan terurai jika mendapatkan cukup air dan arus yang lancar. Ikhsan menambahkan, BOD-COD tidak hanya dihasilkan oleh limbah pabrik tahu, akan tetapi juga oleh limbah lain seperti sampah dan sebagainya. 

“Begitu pula dengan Fenol tidak semata-mata dihasilkan oleh garmen, namun pestisida juga bisa menghasilkan limbah tersebut. Hal itu karena disepanjang alur sungai ada lahan pertanian,” ungkapnya. 

Berdasarkan uji laboratorium tersebut, maka disimpulkan air sungai Gede Karangrandu tercemar, namun ringan.

Editor: Supriyadi