Nelayan Jateng Diserang di Mimika, DPRD : Jangan Melaut Dulu

Ilustrasi kapal nelayan Jateng. DPRD Jateng meminta agar nelayan Jateng sementara tak melaut di Perairan Mimika, Papua. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Bentrok antara nelayan asal Jawa Tengah dan nelayan lokal di Mimika, Papua, 9 Agustus 2017 lalu membuat para nelayan masih mengalami trauma. Sebanyak 126 nelayan dari provinsi ini harus dipulangkan menggunakan pesawat Hercules milik TNI, pascakejadian tersebut.

Kalangan DPRD Jawa Tengah mengaku sangat prihatin. Anggota Komisi B DPRD Jateng Mifta Riza, yang sempat datang ke Mimika untuk memediasi kasus tersebut, meminta nelayan dari Jateng untuk sementara tidak menangkap ikan di perairan sekitar Mimika, Papua, untuk menghindari memanasnya suasana.

“Saya minta mereka tidak kembali lagi ke Mimika untuk sementara waktu sampai situasinya benar benar kondusif,” katanya kepada wartawan, kemarin.

Nelayan Jawa Tengah yang bekerja di Mimika jumlahnya sekitar 400 orang. Mereka berasal dari Kendal, Brebes, Tegal, Pemalang, Demak, maupun Kota Semarang.

Mereka kebanyakan bekerja sebagai ABK kepada pengusaha kapal setempat. Selain itu ada juga nelayan yang membawa kapal sendiri dan menangkap ikan di Mimika.

“Ada satu faktor yang juga menjadi penyebab terjadinya konflik, yaitu masalah kecemburuan sosial. Nelayan asal Jateng rajin-rajin, sehingga ikan hasil tangkapannya banyak dan besar-besar. Sementara nelayan setempat hasilnya tidak sebanyak nelayan kita,” ujarnya.

Hal ini bisa terjadi, lanjut Politisi Gerindra ini, karena etos kerja Nelayan Jateng sangat bagus, mau kerja keras dan juga didukung dengan alat tangkap yang lebih baik dibanding Nelayan setempat.

“Kecemburuan tersebut diperparah dengan adanya provokasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga terjadi perusakan tempat tinggal nelayan Jateng dan perampasan terhadap harta benda mereka,” jelasnya.

Mifta Reza yang pada waktu itu melakukan mediasi bersama Anggota Komisi B Riyono di Mimika menambahkan, dari mediasi yang dilakukan, nelayan Mimika akhirnya sepakat minta dilakukan transfer teknologi dan pembelajaran cara penangkapan ikan kepada nelayan Jateng.

“Saya minta Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng memfasilitasi transfer teknologi ini dan mengkondisikan agar situasi disana benar benar kondusif dan nelayan yang dipulangkan bisa kembali melaut di Mimika,” terangnya.

Senada dengan Reza, Bupati Kendal Mirna Annisa mengatakan, sebelum kembali ke Mimika lagi, komunikasi dengan pemerintah daerah setempat akan dilakukan guna memastikan situasinya kondusif dan peristiwa serupa tidak terulang lagi. Dari 126 nelayan yang dipulangkan dari Mimika, 87 di antaranya merupakan warga Kendal.

“Komunikasi dengan pemerintah daerah setempat menjadi kewenangan Pemprov Jateng dengan Papua. Saya akan dorong komunikasi tersebut,” katanya dikutip dari Beritajateng.net.

Editor : Ali Muntoha

Nelayan Cantrang Rembang Libur, Ini Dampak Sedihnya

Nelayan berada di antara puluhan kapal cantrang di TPI Tasik Agung Rembang, libur melaut. (Istimewa)

Nelayan berada di antara puluhan kapal cantrang di TPI Tasik Agung Rembang, libur melaut. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Berkurangnya besaran retribusi pada perda baru menjadikan pendapatan dari sektor perikanan menyusut. Ditambah dengan nelayan kapal cantrang libur, dipastikan berdampak berkurangnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang disetor Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) setempat.

Beralihnya pengelolaan yang diatur dalam TPI dari Perda nomor 4 tahun 2009 ke Perda nomor 8 tahun 2014 membuat retribusi yang dipungut dari nilai raman berkurang dalam jumlah besar. Yakni semula 3,5 persen turun menjadi 2,85 persen. Penurunan secara parsial terjadi di 10 TPI di wilayah setempat. Terutama sejak bergulirnya regulasi baru itu.

Kepala Unit Pelayanan Teknis Pengelolaan dan Pengembangan Usaha Perikanan (UPT PPUP) Dinlutkan Kabupaten Rembang, Sahroni dihubungi Rabu (20/04/2016) mengatakan perubahan Perda nomor 4 tahun 2009 menjadi Perda 8 tahun 2014, berdampak mengurangi retribusi tahun lalu yang wajib disetor ke Dinlutkan selanjutnya diteruskan ke kasda. “Dalam hitungannya menyusut sekira Rp2,4 miliar atau sekira 17 persen dari perbandingan tahun 2014 dan tahun kemarin,” kata Sahroni.

Lanjut Sahroni, beruntung di tahun 2015 harga ikan tinggi karena pasar sangat butuh. Tetapi pasar kurang stok sehingga meski produksi berkurang tetapi nilai raman justru bertambah. Seraya dipaparkan tahun 2014 total hasil tangkapan terdata sebanyak sekira 61 ribu ton lebih dengan nilai raman berkisar Rp398 miliar dan pungutan retribusi sekira Rp13,9 miliar. Sedangkan tahun lalu produksi ikan sebanyak juga pada kisaran 61 ribu ton terjual Rp406 miliar lebih dan retrbusi yang disetor sekira Rp11,5 miliar.

Disinggung dampak liburnya kapal cantrang melaut karena terganjal Permen nomor 2 tahun 2014 ditegaskan oleh Sahroni tentu berpengaruh besar. “Berpengaruh, sebab selama ini memberi kontribusi sekira 30 persen dari hasil tangkapan ikan selama setahun,” ujarnya.
Sehingga retribusi untuk tahun ini diprediksi menurun dari tahun lalu, namun hal ini bukan hanya terjadi di Kabupaten Rembang saja, melainkan kabupaten/kota lain yang terdapat kapal cantrang.

Ditambahkan, hambatan yang memengaruhi hasil tangkapan ikan tidak stabil adalah anomali cuaca dan terjadinya penjualan ikan di luar dermaga. Sedangkan retribusi untuk pemda maupun yang dipungut KUD dipengaruhi adanya kekurangan pembayaran lelang ikan (KPLI) oleh para bakul yang belum membayar lunas transaksi pembelian ikan.

Editor : Akrom Hazami

Tak Hanya Nelayan, Semua Warga Diminta Waspada Terkait Ancaman Bencana di Musim Hujan

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Ancaman bencana alam di musim hujan ini tidak hanya kepada nelayan yang berlayar dilaut. Warga di daratan juga diminta untuk lebih waspada. Apalagi, saat ini cuaca tak menentu dan sulit diprediksi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Lulus Suprayitno menjelaskan, pihaknya mengkhawatirkan bencana di darat seperti banjir bandang di wilayah Jepara. Karena, dengan cuaca yang saat ini sulit diprediksi, maka kemungkinan warga kurang siap.

“Saat ini cuaca sulit diprediksi, sehingga ancaman datangnya bencana mendadak pun semakin besar. Untuk itu, kami imbau kepada semua warga harus lebih waspada,” ujar Lulus kepada MuriaNewsCom, Sabtu (23/1/2016).

Menurut dia, sejak Desember hingga jelang akhir Januari ini, hujan yang mengguyur Jepara belum merata. Hujan hanya di sebagian wilayah, tapi di bagian wilayah lainnya tidak diguyur hujan. Selain itu, lokasi hujan cenderung berganti-ganti. Hal ini mengakibatkan tanah menjadi labil dan akan mudah ikut tergerus aliran air.

“Cuaca yang tidak bisa diprediksi menjadikan warga kurang waspada. Dimungkinkan warga akan menganggap remeh hujan yang turun, mengingat pengalaman beberapa bulan tidak membahayakan. Untuk itu, kami mengimbau waspada sebagai upaya mengingatkan kepada warga,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, antisipasi dari relawan sendiri kemungkinan sedikit terganggu. Sebab, meski di sebagian kawasan lain tidak hujan, tapi ternyata di lereng Pegunungan Muria Jepara hujan deras dan menyebabkan banjir bandang maupun longsor.

“Untuk relawan BPBD sendiri, solusinya memang kami tuntut untuk selalu bersiaga. Tapi yang kami khawatirkan adalah kewaspadaan warga, karena terkait dengan keselamatan jiwa,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono 

Musim Baratan Mundur Disebut Untungkan Nelayan

Ratusan perahu nelayan di Jepara saat berlabuh (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Ratusan perahu nelayan di Jepara saat berlabuh (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

JEPARA – Puncak musim hujan dan juga musim baratan dipastikan mundur dari prediksi sebelumnya. Faktanya, sampai saat ini intensitas hujan masih belum tinggi. Kondisi ini disatu sisi mengkhawatirkan karena cuaca tak menentu, namun disisi lain justru menguntungkan bagi para nelayan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno menjelaskan, belum adanya gelombang tinggi tersebut diakuinya mengutungkan nelayan Jepara. Sebab, sejak akhir tahun hingga pertengahan Januari ini nelayan masih bisa melaut. Stok ikan di tempat pelelangan ikan (TPI) Ujungbatu pun masih aman. Bongkar muat hasil laut pun masih berjalan tiap hari.“Alhamdulillah, hasil tangkapan nelayan Jepara melimpah,” ucapnya.

Selain itu, masih lancarnya proses melaut menyebabkan bantuan beras bagi nelayan yang biasanya tak bisa melaut akibat musim baratan juga belum dibagikan. Untuk beras bantuan ini, HNSI sendiri meminta beras sebanyak 56,5 ton yang akan dibagikan kepada 11.800 nelayan di Jepara.

“Kami harap nelayan jangan lengah. Sebaiknya tetap pantau kondisi cuaca berdasarkan arahan dari Syahbandar maupun BMKG, dan stasiun radio yang ada,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono 

Cuaca Tak Menentu, Nelayan di Jepara Diminta Waspada Gelombang Tinggi

Puluhan perahu nelayan saat berlabuh (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Puluhan perahu nelayan saat berlabuh. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Cuaca di wilayah Kabupaten Jepara dan sekitarnya baik daratan maupun perairan, sampai saat ini masih tak menentu. Untuk itu, nelayan di Jepara diimbau lebih waspada terhadap gelombang tinggi dan angin kencang, meski saat ini belum memasuki punjak musim hujan maupun baratan.

Hal itu diungkapkan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara Sudiyatno. Menurutnya, dengan anomali cuaca yang cenderung tak menentu, justru akan membahayakan nelayan. Sehingga nelayan harus lebih waspada.

“Musim baratan yang belum juga tiba hingga pertengahan Januari ini justru perlu diwaspadai. Sebab, gelombang air laut dan kecepatan angin sulit diprediksi kapan akan tiba,” ujar Sudiyatno kepada MuriaNewsCom.

Lebih lanjut dia mengemukakan, berdasarkan pengalaman sebelumnya, musim baratan yang membawa gelombang tinggi di Perairan Utara Jawa Tengah dan Karimunjawa seharusnya mulai terjadi sejak awal Januari. Gelombang tinggi justru beberapa kali terjadi pada Desember tahun lalu.

“Kami mengimbau kepada nelayan agar tidak lengah. Salah satunya dengan mengurangi waktu melaut hingga tidak berlayar terlalu jauh. Sehingga, saat tiba-tiba terjadi gelombang tinggi, bisa segera menuju daratan,” katanya.

Dia menambahkan, prakiraan cuaca dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tidak sepenuhnya bisa dijadikan patokan tetap, meski bisa dijadikan sumber informasi. Yang perlu diwaspadai ketika di tengah laut, ketika sudah menunjukkan tanda-tanda cuaca buruk harus lebih berhati-hati.

Editor : Kholistiono