Harga Ketela Naik Rp 1.450, Denyut Ekonomi Petani dan Industri Tapioka di Pati Mulai Bergeliat

Suasana di industri kecil menengah (IKM) tapioka di Ngemplak, Margoyoso yang kembali bergeliat setelah harga ketela naik. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Petani dan penggiling ketela di Pati sujud syukur setelah komoditas ketela mulai merangkak naik dari Rp 600 per kg menjadi Rp 1.450 per kg. Hal itu disampaikan Khoirul Umam, salah satu penggiling ketela di kawasan Ngemplak, Margoyoso, Pati.

“Kami sujud syukur karena harga ketela mulai naik. Sebagai penggiling, kami tentu akan menaikkan harga beli ketela sesuai dengan harga pokok produksi (HPP), karena harga ketela disesuaikan dengan kenaikan harga tepung tapioka,” ujar Umam, Sabtu (19/8/2017).

Menurutnya, kenaikan harga singkong akan menghidupkan kembali para petani, pekerja, karyawan hingga pengusaha yang bekerja di penggilingan tapioka. Sebab, petani sempat mogok dan tidak mau menjual singkongnya saat harganya anjlok beberapa waktu lalu.

Akibatnya, beberapa mesin penggiling sempat berhenti beroperasi. Karena itu, dia berharap agar permintaan tapioka terus meningkat dengan harga yang layak, sehingga akan menghidupkan kembali mesin-mesin yang berhenti beroperasi.

Saat ini, harga singkong tanpa milih sudah mencapai Rp 1.350 per kilogram. Sementara singkong super yang biasa digunakan untuk ekspor kerupuk udang lebih besar Rp 100, yakni Rp 1.450 per kilogram.

Terkait dengan pemotongan terhadap harga barang atau rafaksi, dia memastikan sudah sesuai kesepakatan dan aturan yang saling menguntungkan. Rafaksi yang dilakukan mengacu pada kotoran yang menempel pada ketela, termasuk berat keranjang yang dibawa.

“Kalau ada yang bilang rafaksi tidak sesuai, itu tidak benar. Karena sudah ada kesepakatan. Rafaksi dihitung dari kotoran yang menempel pada ketela dan berat keranjang. Jadi ada aturan mainnya,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Nah lho…Bupati Pati Juga Diduga Kena Tipu Swissindo

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Kasus penipuan yang dilakukan UN-Swissindo yang menimpa puluhan warga Kabupaten Pati, ternyata diduga menimpa orang nomor satu di Bumi Mina Tani.

Bupati Pati Haryanto dikabarkan ikut menjadi korban penipuan berkedok voucher human obligation dan biaya peningkatan kesejahteraan hidup tersebut.

Hal ini diterangkan Direskrimsus Polda Jawa Tengah Kombes Pol Lukas Akbar, saat mendatangi Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng, Rabu (16/8/2017). Menurutnya, dari hasil penyelidikan yang dilakukan pihaknya, bupati Pati menjadi salah satu korban.

Saat ini, pihaknya telah menerjunkan petugas untuk menyelidiki sejauh mana kerugian yang ditimbulkan akibat aksi kejahatan tersebut.

“Sedang kami dalami termasuk yang menimpa bupati Pati. Jika ditemukan akan diproses hukum sesuai pasal 378 tentang Penipuan, diperkuat UU ITE jika mereka melakukan penipuan via media online. Ancaman hukumannya sampai empat tahun,” katanya dikutip dari Metrojateng.com.

Menurutnya, dari hasil monitoring yang dilakukan, kasus penipuan ini telah merambah di dua kota di Jateng. Yakni di Kabupaten Pati dan Purwokerto. Di Pati sendiri dilaporkan ada 30-an warga yang menjadi korban.

“Kami memonitor bahwa ada temuan adanya pemberian surat kuasa Swissindo tersebut masuk Pati dan Purwokerto. Kami mengimbau kepada masyarakat untuk melapor ke pihak berwajib jika ada relawan yang menawarkan surat kuasa atas nama Swissindo,” ujarnya.

Kepala OJK Jateng Moch Ihsanuddin masih menyelidiki aksi tipu-tipu yang dilakukan Swissindo dengan menyebar surat kuasa palsu.

Baca juga : Duh, 30 Warga Pati Jadi Korban Penipuan UN Swissindo

Menurutnya ada indikasi sejumlah perbankan lainnya yang jadi korban kasus penipuan tersebut. Yakni tujuh bank umum, 41 BPR, satu lembaga pembiayaan serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Ia menegaskan, kegiatan Swissindo ilegal karena tidak mengantongi izin dari OJK. Ia pun mengimbau kepada para debitur dan pelaku jasa keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penawaran palsu tersebut.

“Para korban sebaiknya menempuh upaya hukum agar dapat mencegah kerugian yang lebih besar,” tegasnya.

Baca juga : Puluhan Anggota UN Swissindo di Pati Berencana Datangi Bank Mandiri

Sebelumnya, Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo setelah ada korban hingga 30 nasabah. “Penipuan ini sudah ada di sejumlah daerah, termasuk Pati. Ada sekitar 30 nasabah yang tertipu UN-Swissindo di Pati,” kata Kompol Sundoyo, Sabtu (12/8/2017).

Modus dari penipuan tersebut, salah satunya meminta korban untuk mencari debitur bermasalah untuk diajak bergabung, meminta korban membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggotanya dan mencari korban yang terlibat kredit macet, serta menjanjikan akan menyelesaikan hutangnya dengan jaminan surat berharga negara.

Editor : Ali Muntoha

Spot Sayap Burung Hantu jadi Daya Tarik Baru Bukit Pandang Durensawit Pati

Salah satu pengunjung berfoto di spot sayap burung hantu, kawasan wisata bukit pandang, Durensawit, Kayen. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kawasan wisata bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati, terus berbenah. Selain penambahan spot-spot baru, pengelola melakukan perluasan kawasan wisata.

Salah satu spot yang menjadi daya tarik wisatawan baru-baru ini adalah sayap burung hantu. Banyak wisatawan yang antre untuk berswafoto di dua spot tersebut.

Satu spot berada di pinggiran jurang bukit, sehingga pemandangannya cukup mengesankan. Satu spot lagi berada di perbukitan yang dilalui wisatawan.

Septi Nursanti (16), pengunjung asal Bumiayu, Wedarijaksa mengatakan, spot sayap burung hantu cukup menarik dan unik. Terlebih, dia belum pernah menemukan kawasan wisata yang dilengkapi spot unik untuk berswafoto tersebut.

“Hasilnya di foto cukup mengejutkan. Kita seolah-olah punya sayap. Kalau fotografinya pinter, kesannya kita melayang di atas pegunungan. Konsepnya mirip dengan wisata yang lagi ngetren di Jogja,” kata Septi, Selasa (15/8/2017).

Krisno, pengelola bukit pandang menuturkan, pemasangan dua spot baru berupa sayap burung hantu tidak lepas dari tuntutan pengunjung. Ada sejumlah pengunjung yang menyarankan pemasangan sayap burung.

Setelah dipertimbangkan dan melakukan uji coba, ternyata cukup menarik. Hasilnya, wisatawan saat ini punya banyak pilihan spot untuk berswafoto dan mengunggahnya ke situs jejaring sosial.

“Pengunjung masih didominasi dari pengguna Facebook, disusul Instagram. Kebanyakan pengunjung yang datang juga berasal dari rekomendasi teman atau penasaran, karena lagi booming di sosmed waktu fotonya diunggah,” pungkas Krisno.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Diminta Tertibkan Truk Tebu di Jalan Ronggokusumo Pati

Truk tebu yang terguling di kawasan Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, baru-baru ini. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati diminta untuk menertibkan truk tebu yang melintas di Jalan Ronggokusumo, Kajen, Margoyoso, Pati.

Kawasan jalan tersebut terbilang padat lalu lintas. Ada banyak sekolah dan pusat perbelanjaan di sana, sehingga kerap dijadikan lalu lalang para siswa dan penduduk.

“Jalan Ronggokusumo tidak layak dilewati truk tebu. Selama ini warga sudah banyak yang mengeluhkan, tapi polisi dan dinas terkait tidak tanggap terhadap masalah tersebut,” ujar warga setempat, Sunarto, Senin (14/8/2017).

Dalam sejumlah kasus, truk tebu yang melintas di jalan tersebut menabrak kabel hingga tebu yang jatuh berceceran. Terakhir, truk tebu terguling di jalan yang menghubungkan Jalan Pati-Tayu dan Jalan Juwana-Tayu tersebut.

Praktis, jalan kecil yang menjadi akses dengan padat penduduk tersebut macet. Karena itu, dia meminta kepada polisi dan dinas terkait untuk tegas mengatur truk tebu.

“Ini kan kawasan padat penduduk, banyak lembaga pendidikan dan pusat perbelanjaan. Ada jalan lain yang bisa dilalui, tapi kenapa sopir truk tebu memilih untuk lewat sini,” keluhnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dishub Pati Tri Haryama mengaku akan meninjau lokasi tersebut. Pihaknya akan berkomunikasi dengan para pihak untuk melakukan penertiban.

“Kami akan tinjau terlebih dahulu. Setelah itu, nanti akan saya komunikasikan dengan para pihak,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Bagi-bagi Nasi Besek Bertuah jadi Tradisi Unik Sedekah Bumi di Wedusan Pati

Pembagian nasi besek kepada salah satu pedagang dalam festival budaya di Desa Wedusan, Dukuhseti, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Wedusan merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Pati yang berada di Kecamatan Dukuhseti, berada di kawasan hutan kaki Pegunungan Muria dan laut utara Jawa.

Pada bulan Apit dalam kalender Jawa, sebagaimana tradisi orang Jawa pada umumnya, desa tersebut mengadakan sedekah bumi. Namun, masing-masing desa ternyata punya keunikan sendiri dalam merayakan sedekah bumi.

Di Wedusan, ada tradisi bagi-bagi nasi besek kepada puluhan pedagang yang berjualan di sepanjang areal pentas seni wayang dan ketoprak. Nasi itu dibagikan setelah didoakan bersama di balai desa setempat.

Solikul Huda, salah satu panitia yang membagikan nasi besek mengungkapkan, tradisi itu sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Konsep sedekah menjadi spirit utama dalam agenda bagi-bagi nasi besek.

“Ini sudah menjadi tradisi, seolah agenda wajib. Nasi besek isinya cuma nasi, ayam, telur dan aneka lauk-pauk. Yang membuatnya istimewa karena sudah didoakan, sehingga dipercaya akan membawa berkah,” kata Huda.

Mutmainah, salah satu pedagang yang berjualan di festival budaya Desa Wedusan mengatakan, nasi itu diakui membawa berkah tersendiri. Karenanya, sebagian dari nasi besek itu dikeringkan dan dijadikan sebagai pelaris dagangan.

Para penjual sebagian besar datang dari luar daerah. Mereka berdatangan untuk mencari rezeki dengan berjualan, sekaligus mendapatkan nasi besek yang dipercaya memeliki tuah untuk pelarisan.

Editor : Ali Muntoha

Selama Agustus, Warga Pati Dibebaskan Denda Administrasi Kependudukan

Kepala Disdukcapil Pati Dadik Sumarji. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Pati membebaskan warga Pati dari sanksi dan denda yang terlambat mengurus administrasi kependudukan selama Agustus 2017.

Penghapusan sanksi dan denda menjadi upaya Disdukcapil untuk meringankan beban warga Pati dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Pati ke-694 dan HUT RI ke-72. “Ketentuan ini berlaku dari tanggal 1 hingga 31 Agustus,” ujar Kepala Disdukcapil Pati Dadik Sumarji, Jumat (11/8/2017).

Umumnya, warga Pati yang terlambat mengurus akta kelahiran lebih dari dua bulan dikenakan denda Rp 50 ribu, terlambat mengurus surat pindah Rp 37.500, dan terlambat melapor perubahan kartu keluarga (KK) adalah Rp 50 ribu. Namun, ketentuan denda itu tidak berlaku selama Agustus 2017.

Dadik mengaku, kebijakan itu sejak awal disepakati Bupati Pati Haryanto dan telah disosialisasikan di tingkat kecamatan untuk kemudian disampaikan di tingkat desa. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk tertib administrasi.

Karena itu, ia mengimbau kepada semua masyarakat Pati yang terlambat mengurus surat-surat kependudukan untuk segera mengurus agar tidak dikenakan denda. “Mumpung ada kebijakan yang membebaskan sanksi dan denda, sebaiknya dimanfaatkan dengan baik,” imbaunya.

Dadik sendiri mencatat, kesadaran masyarakat Pati untuk mengurus surat-surat kependudukan masih rendah. Soal e-KTP, misalnya. Pihaknya beberapa kali sudah melakukan jemput bola di desa dengan sistem by name by address.

Namun, tingkat kehadiran warga hanya 25 persen dari total target yang semestinya hadir. “Kalau tidak ada butuh, malas mengurus. Kalau pada butuh, pengen cepat-cepat dan cenderung menyalahkan petugas,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Camat Wedarijaksa Diminta Tegas Tangani Persoalan Sampah

Seorang pesepeda tengah melintas di kawasan jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa yang dipenuhi dengan sampah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Camat Wedarijaksa diminta tegas menangani persoalan sampah yang menumpuk di kawasan pinggir jalan yang menghubungkan Desa Jetak dan Guyangan, Desa Jatimulyo, Wedarijaksa, Pati.

Pasalnya, kawasan tersebut kerap menjadi sasaran warga untuk membuang sampah. Akibatnya, polusi udara yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan penduduk setempat dan pengguna jalan.

Ahmadi, warga Asempapan, Trangkil mengatakan, tempat tersebut awalnya hanya digunakan untuk membuang sampah satu-dua bungkus. Namun, sudah setahun ini, kawasan tersebut penuh dengan sampah yang menggunung.

“Pengelolaan sampah masih belum maksimal, terutama di desa-desa. Belum ada kesadaran dari masyarakat sendiri maupun pemerintah, baik pemdes atau pemkab,” kata Ahmadi, Jumat (11/8/2017).

Karena itu, dia meminta kepada pemerintah untuk tegas mengatur persoalan sampah. Jika tidak, warga setempat menjadi korban dari pencemaran lingkungan yang baunya hingga masuk ke sejumlah rumah warga.

Tegas yang dimaksud bisa berupa fasilitasi maupun pemberian sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan. Sebab, tak jauh dari lokasi tersebut terdapat tempat pembuangan sampah yang jaraknya hanya sekitar 200 meter.

“Mungkin di tingkat kecamatan harus dibuatkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, biar pengelolaan sampah bisa dilakukan secara terpadu dan tidak mengganggu masyarakat. Dalam hal ini, peran pemerintah sangat dinantikan,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Dishub Pastikan yang Bakal Mengaspal di Pati Bukan Taksi Online

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Pati – Beredar rumor yang menyebutkan, Pati akan memiliki taksi online yang siap mengaspal dalam waktu dekat. Namun, rumor itu ditepis Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pati Heru Suyanta.

“Tepatnya bukan taksi online ya, tapi taksi reguler, umum. Ada delapan unit taksi yang sudah diajukan pengusaha kepada kami,” ujar Heru kepada MuriaNewsCom, Jumat (11/8/2017).

Taksi tersebut akan mangkal di sejumlah titik di kawasan Pati Kota, dengan operasional di seluruh daerah di Jawa Tengah. Salah satu yang diperbolehkan Dishub untuk mangkal, antara lain hotel, rumah sakit, dan tempat strategis yang tidak bersinggungan dengan angkutan umum.

Syarat itu diberlakukan agar tidak terjadi bentrok dengan angkutan umum. Kendati beda segmen, tetapi pihaknya perlu mempertegas aturan tersebut supaya keberadaan taksi dan angkutan umum bisa berjalan bersamaan.

“Surat perintah izin operasional (SPIO) sudah turun, tinggal kelengkapan lain ada yang belum. Mungkin sedang proses,” katanya.

Heru membocorkan, taksi yang akan beroperasi di Pati menggunakan mobil Avanza. Untuk melengkapi syarat, dua kursi di bagian belakang Avanza harus dihilangkan agar seperti taksi pada umumnya.

Sejumlah syarat seperti desain dan cat khusus, lampu dan atribut yang menunjukkan mobil tersebut sebuah taksi juga harus dipenuhi pemohon. Seperti angkutan pada umumnya, taksi yang akan mengaspal di Pati menggunakan pelat kuning.

Editor : Ali Muntoha

Bahan Baku Langka, Produsen Garam di Pati Terpaksa Impor

Seorang pekerja tengah mengemas produksi garam di kawasan Batangan, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Sejumlah produsen garam di Kabupaten Pati terpaksa memilih untuk impor bahan baku garam di tengah kondisi garam yang langka. Pasalnya, produsen butuh produksi garam konsumsi sebanyak 50 ton per bulan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sementara pasokan bahan baku garam dari petani lokal diakui sangat terbatas. Tak ada pilihan lain, beberapa produsen akhirnya memutuskan untuk mengimpor bahan baku garam.

Sri Lestari, salah satu produsen garam asal Batangan membenarkan kondisi tersebut. Cuaca yang kurang mendukung disebut-sebut menjadi penyebab kelangkaan garam lokal.

“Cuaca kurang mendukung, akhirnya para petani belum bisa menghasilkan garam secara maksimal. Stok garam yang langka berpengaruh pada harga garam di pasaran yang melonjak tinggi,” tuturnya, Rabu (9/8/2017).

Kendati demikian, Sri tetap memprioritaskan penggunaan bahan baku garam yang dipasok dari petani. Berhubung jumlahnya tidak memenuhi jumlah permintaan pasar, ia mencampurnya dengan garam impor.

Impor bahan baku garam akan dilakukan selama pasokan dari petani lokal belum mencukupi untuk kebutuhan pasar. Bila kondisinya sudah normal, dia akan menghentikan impor.

“Bahan baku garam dari petani lokal berkisar Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu per kilogram, sedangkan impor cuma Rp 2.250. Meski begitu, kami tetap memprioritaskan pasokan dari petani lokal,” ucap Sri.

Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Pati, garam beryodium yang semula Rp 6 ribu menjadi Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Sementara pedagang kelontong menjualnya kepada warga sekitar Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu.

Kusni, salah satu pedagang kelontong mengaku tidak mau membeli garam, lantaran mahal. Sebab, pembeli dari masyarakat kecil sempat kaget dengan harga yang melambung tinggi.

“Saya belinya dari distributor Rp 10 ribu, tidak bisa ditawar lagi. Harga segitu, saya jual lagi ke masyarakat Rp 11 ribu. Tapi sebagian besar memilih kemasan garam ukuran kecil dengan harga Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” tandasnya.

Editor : Ali Muntoha

Sejarawan Sebut Hari Jadi Pati Sebetulnya Baru ke-499

Taman Pendapa Kabupaten Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Hari Jadi Kabupaten Pati yang diperingati setiap 7 Agustus dimulai dari 1323. Dengan begitu, usia Pati diperkirakan sudah 694 tahun.

Hal itu didasarkan pada kesepakatan bersama melalui sebuah forum yang melibatkan guru, dosen, hingga konsultan. Bukan tanpa alasan, penetapan itu mendasarkan pada prasasti Tuhanaru di Mojokerto yang diperkirakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Dalam prasasti tersebut tertulis kata “Arya Pati-Pati Pukapat” yang ditafsirkan sebagai pisowanan agung penguasa Kadipaten Pati ke Kerajaan Majapahit. Dari sana, Pati disebut-sebut sudah eksis dari 1323.

Namun, ada pendapat lain yang menyebut eksistensi Pati sebagai sebuah daerah baru dimulai pada 1518. Hal itu didasarkan pada catatan sejarawan Belanda de Graaf yang menyebut nama “Kayu Bralit” sebagai Bupati Pati pertama.

“Kalau sejarawan Belanda mencatat Bupati Pati pertama pada 1518, artinya usia Pati sekarang ini baru ke-499. Ini sezaman dengan Kerajaan Demak, peradabannya satu tingkat masih muda dari Majapahit, kendati wilayah Pati dulu mungkin sudah ada,” kata pegiat sejarah Pati, Sugiono, Senin (7/8/2017).

Terkait tafsir “Arya Pati-Pati Pukapat” pada prasasti Tuhanaru, dia menyebutnya bukan kunjungan penguasa dari Pati ke Keraton Majapahit. Arya Pati-Pati Pukapat, menurut dia, ditafsirkan sebagai nama patih di Majapahit.

Pasalnya, tidak ada korelasi antara “teks” dan “zaman” yang menunjukkan kata itu berarti pisowanan agung penguasa Pati ke Majapahit. Hanya saja, dia membenarkan bila penguasa Pati merupakan trah Majapahit dari Dinasti Giri Kedaton.

Baca juga : Kayu Bralit, Bupati Pati Pertama yang Jarang Terungkap Sejarah

Giri Kedaton sendiri lebih dikenal dengan nama Blambangan, karena saat itu Majapahit pecah menjadi dua. Salah satunya di Kedaton Wetan Majapahit. Kondisi tersebut terjadi pada sekitar abad ke-16, jauh sesudah 1323.

Editor : Ali Muntoha

Kabupaten Pati Penyuplai Beras Terbesar di Jawa Tengah

Tim Pusterad Mabes TNI AD Kolonel Inf Sugiyono (kiri) bersama Bupati Pati Haryanto mengunjungi desa unggulan Kutoharjo, Kamis (4/5/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati ternyata menjadi salah satu daerah penyuplai beras terbesar di Jawa Tengah, setelah Klaten. Hal itu dikatakan Ketua Tim Penilai Lomba Pembinaan Teritorial (Binter) Nasional Kolonel Inf Sugiyono saat mengunjungi Pati, Kamis (4/5/2017).

“Pati merupakan penyuplai beras terbesar, setelah Kabupaten Klaten dengan asumsi hasil panen 413.000 ton beras. Kabupaten Pati juga memiliki surplus padi sebesar 235.000 ton beras,” ujar Kolonel Inf Sugiyono.

Kunjungan Kolonel Inf Sugiyono yang mewakili Tim Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Pusterad) Mabes TNI tersebut dalam rangka menilai lomba binter yang diikuti Kodim 0718/Pati. Dia mengaku terkesan dengan berbagai langkah Kodim 0718/Pati yang sudah melakukan pembinaan teritorial dengan baik.

Karena itu, pihaknya tidak heran bila Kodim 0718/Pati ditetapkan sebagai Kodim terbaik di tingkat Jawa Tengah dan peringkat ke-4 di tingkat nasional. Di bidang pertanian, Kodim 0718/Pati dinilai sangat berhasil mewujudkan program ketahanan pangan.

“Hari ini, kami melakukan panen padi dalam rangka lomba binter. Jenis padi yang dipanen merupakan varietas padi Inpari 32 HD dengan luas lahan satu hektare di Desa Kutoharjo. Ini yang dulu ditanam Gapoktan bersama Koramil 01/Pati,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Pati Haryanto mengatakan, pemerintah daerah memang sejak awal mendukung program ketahanan pangan bersama anggota TNI AD. Hal itu sesuai dengan slogan “Pati Bumi Mina Tani” yang dapat menopang swasembada pangan nasional.

“Penanaman padi di Pati sekarang menggunakan alat modern dan tidak ditanam secara manual. Selain persoalan minimnya tenaga kerja pertanian, penggunaan alat modern diharapkan bisa mempercepat produksi pertanian sehingga ikut menopang program ketahanan pangan nasional,” tandas Haryanto.

Editor : Kholistiono

Kekuasaan Pati Disebut Membentang dari Kediri Hingga Salatiga pada Era Wasis Jayakusuma

Suasana pusat pemerintahan Kabupaten Pati, Sabtu (29/4/2017). Pada era Wasis Jayakusuma, kekuasaan Pati disebut pernah membentang dari Kediri hingga Salatiga.(MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Pegiat sejarah Pati mengungkapkan fakta mengejutkan tentang Pati. Salah satunya, wilayah Pati disebut pernah membentang dari Kediri hingga Salatiga.

Kondisi itu berlangsung sekitar abad ke-16, di mana kekuasaan ada pada tangan Raden Siddieq Nurul Yaqin atau dikenal dengan Wasis Jayakusuma, putra Ki Ageng Penjawi. Mbah Wasis, begitu pegiat sejarah Pati memanggilnya, disebut-sebut sebagai raja pertama dan terakhir kekuasaan Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga.

Hal itu disebabkan adanya perang saudara dengan kerajaan baru, yaitu Mataram. Kerajaan Mataram dibangun Danang Sutawijaya yang tak lain kakak ipar Wasis atau menantu Ki Ageng Penjawi, karena dia menikah dengan Waskita Jawi.

Salah satu pegiat sejarah Pati, Sugiono mengatakan, Pati yang membentang dari Kediri sampai Salatiga itu bernama Bumicha Patyamcha. Wilayah yang membentang luas itu berakhir, setelah adanya perang saudara dengan Mataram yang berawal dari perebutan kekuasaan.

“Kemungkinan, Bumicha Patyamcha berasal dari bahasa Pali yang berarti Bumi Pati. Sumber perpecahan Pati karena perebutan wilayah Kediri dengan kerajaan saudaranya sendiri, Mataram,” ungkap Sugiono, Sabtu (29/4/2017).

Menurut sumber yang ia peroleh, kekalahan Pati bukan persoalan kekuatan, karena Pati waktu itu punya pasukan dan bala tentara yang kuat hingga menundukkan Madiun dan melepaskan diri dari kekuasaan Pajang pimpinan Joko Tingkir. “Kekalahan Pati karena lemahnya intelijen yang tidak bisa mendeteksi bahwa Mataram bersekutu dengan Portugis,” tutur Sugiono.

Dalam konteks ini, dia mendapatkan sumber literasi dari Babad Kabanaran yang didukung dengan metode metahistoris. Sejarah itu tidak terdapat dalam kisah babad atau cerita tutur, karena Pati dalam kekuasaan kolonialisme setelah itu. Akibatnya, fakta-fakta sejarah tentang Pati banyak dikaburkan, bahkan dikubur pihak kolonialisme.

Editor : Kholistiono

Asyik Judi Habis Jumatan, 5 Warga Margomulyo Pati Diciduk Polisi

Sejumlah warga Desa Margomulyo, Tayu, Pati diciduk polisi saat bermain judi kartu domino. (MuriaNewsCom/lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Lima orang warga Desa Margomulyo, Kecamatan Tayu, Pati diciduk polisi, karena tertangkap tangan tengah bermain judi domino. Kelimanya adalah Sukarmin (41), Agus Junaedi (46), Edi Sucipto (31), Junaedi (31), dan Efi Waluyo (27).

Kelimanya asyik berjudi saat orang-orang selesai beribadah salat Jumat. Operasi tangkap tangan kepada kelima pelaku dilakukan pada Jumat (24/2/2017) pukul 14.00 WIB. Mereka tidak berkutik saat polisi melakukan penggrebekan, mengamankan barang bukti dan menangkap para pelaku.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo mengatakan, penggerebekan pelaku judi kartu domino berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan adanya aktivitas judi di rumah Suparni.

“Kami mendapatkan informasi adanya judi kartu domino. Kami langsung memerintahkan anggota untuk melakukan penyelidikan,” ujar Kompol Sundoyo, Sabtu (25/2/2017).

Sejumlah petugas kemudian mendatangi rumah Suparni untuk memastikan informasi dari masyarakat. Ternyata benar, sebanyak lima orang tengah bermain kartu domino disertai dengan taruhan.

Sontak, petugas langsung melakukan penggerebekan dengan menangkap pelaku dan mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, satu set kartu remi dan dua kartu domino, termasuk uang senilai Rp 927 ribu.

Saat ini, para pelaku sedang diproses secara hukum di Polsek Tayu. Mereka dijerat dengan pasal 303 KUHP dengan hukuman pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau denda paling banyak Rp 250 juta.

Editor : Ali Muntoha