Bupati Musthofa Minta Wartawan di Kudus Harus Bersertifikat

Bupati Kudus Musthofa dilibatkan dalam materi Uji Kompetensi Wartawan (UKW) XV PWI Jateng di Graha Muria, Kudus, (25/8/2017). Bupati  Musthofa menjadi narasumber untuk materi wawancara doorstop. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus siap meningkatkan kualitas para wartawan di wilayah setempat. Mengingat, para wartawan adalah mitra pemerintah yang selama ini ikut serta membantu.

Bupati Kudus Musthofa mengatakan, wartawan harus bersertifikat. “Jangan sampai ada wartawan yang tidak bersertifikat di Kudus,” katanya saat pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Angkatan XV PWI Jateng di aula Hotel Graha Muria Colo, Kabupaten Kudus, Jumat (25/8/2017).

Harapannya tahun depan UKW akan diadakan kembali. Biar, dalam bertugas, wartawan bisa menjadi lebih baik.

“Tahun depan harus ada lagi kegiatan seperti ini. Jangan sampai tidak ada. Kalau sampai tidak ada maka harus diadakan. UKW adalah kewajiban yang harus dilakukan pemkab,” ujarnya.

Menurutnya, karena UKW adalah kegiatan pendidikan, maka negara harus mendukung kegiatan pendidikan.

“Kegiatan ini juga jelas. Kalau ada level 1,2,dan 3, itu bisa diikuti semua. Jadi saat wartawan dimutasi di kota lain, ada kebangaan karena di Kudus telah mampu meningkatkan kualitas,” ungkapnya.

Alasan diadakan di Colo adalah mengangkat martabat wartawan lebih tinggi. Mengingat, kegiatan diadakan di pegunungan. Pada kegiatan ini, ada sekitar 21 peserta.  Terdiri 14 peserta muda, dan 7 madya.

Ketua PWI Jateng Amir Mahmud mengatakan, kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan sebelumnya di Kabupaten Pati. Nantinya pada tahun ini akan dilanjutkan ke Semarang, dan selanjutnya ke Cilacap.  “Serta ada kegiatan lain yang akan diadakan tahun depan, “kata Amir.

Perwakilan PWI Pusat Hendro Basuki mengaku kegiatan semacam ini memang harus dilakukan. Sebab, pers adalah bisnis kata-kata, atau bisnis titik koma.

“Kalau titik koma saja salah, maka sama saja membuat produk yang cacat. Wartawan harus hati-hati dan cermat. Itulah perlunya diadakan uji Kompetensi Wartawan, “katanya.

Saat ini ada sekitar 6.600 orang wartawan yang telah mengikuti kompetensi semacam ini. “Mereka adalah wartawan yang sudah terlatih, “pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Mereka Memilih Gelar Upacara Kemerdekaan di Bekas Stasiun Wergu Kudus

Upacara bendera untuk memeringati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di bekas stasiun Wergu Wetan, Kudus, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah komunitas dan warga Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, memilih menggelar upacara kemerdekaan di tempat yang berbeda, Kamis (17/8/2017). Upacara yang digelar secara sederhana itu tak digelar di lapangan seperti umumnya, melainkan di dalam bangunan bekas Stasiun Wergu.

Peserta upcara juga mengenakan kostum-kostum para pejuang. Arief Indaryanto, panitia upacara, ada ratusan peserta yang berasal dari belasan komunitas dan warga Wergu.

“Lebih dari 15 komunitas mengikuti upacara ini. Selain kami dari Karang Taruna, ada komunitas Rumah Dongeng Marwah, Komunikasi Jenang, Pecinta Sejarah, Onto Onto Tok, Kresek, Kudus mengajar dan lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/8/2917).

Ia menjelaskan, dipilihnya tempat ini karena bekas stasiun itu merupakan peninggalan Belanda. Dengan menggelar di tempat bersejarah, maka harapannya jiwa kepahlawanan akan mudah muncul, terlebih bagi para kawula muda agar lebih mencintai Indonesia.

Selain itu, lanjut dia, dengan mengajak sejumlah komunitas di Kudus dan warga, rasa persatuan dan kesatuan antarsesama warga juga akan lebih tercipta, sehingga kemerdekaan Indonesia akan tetap terjaga.

Upacara tersebut mampu menarik perhatian banyak warga. Bahkan mereka yang menonton, ikut hormat dan menyanyikan lagu Indonesia raya saat pengibaran bendera dilangsungkan.

Editor : Ali Muntoha

Ada ‘Pejuang’ Cantik Layani Nasabah BRI Kudus

Pegawai BRI Kudus mengenakan pakaian pahlawan saat melayani nasabah. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Banyak cara dilakukan untuk menyambut dan merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain sejumlah perlombaan yang banyak digelar, ada pula yang memeriahkan dengan cara lain.

Seperti halnya yang dilakukan karyawan BRI Kudus, Rabu (16/8/2017). Mereka mengenakan atribut para pejuang. Tak hanya petugas teller yang melayani nasabah saja, tapi semua karyawan.

Manager Operasional BRI Kudus Subchan Efendi mengatakan, keputusan untuk memeriahkan dengan cara ini sebelumnya hanya direncanakan untuk bagian teller saja, karena langsung melayani nasabah. Namun, setelah ditimbang timbang, akhirnya diputuskan untuk semuanya karyawan.

“Ini untuk merayakan Kemerdekaan RI, jadi diputuskan semuanya mengenakan seragam yang bertema pejuang atau kemerdekaan. Pakaian semacam ini akan dikenakan dua hari, yaitu pada 16 Agustus dan 18 Agustus,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, para karyawan dibebaskan berkreasi mengenakan pakaian kemerdekaan. Hingga akhirnya kreativitas muncul, seperti pakaian putih berhasduk merah-putih, lengkap dengan topi pejuang dan pin merah-putih.

Selain itu, ada pula sejumlah karyawan yang mengenakan pakaian adat Jawa, dengan pertimbangan pejuang juga banyak yang muncul dari Jawa. Dengan nuansa baru tersebut, membuat suasana pelayanan tampak berbeda dan memberikan hal yang baru bagi nasabah yang datang.

“Ada sekitar 100 karyawan di cabang Kudus. Namun kami juga menerapkan hal yang sama bagi kantor-kantor kas di tiap kecamatan di Kudus, untuk berpakaian pejuang. Bahkan saya juga mengenakan,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Masan, Umar dan Sumiyatun Harap-harap Cemas Tunggu Restu Megawati

Ketua DPRD Kudus, Masan saat pengambilan berkas pendaftaran di Kantor PDIP Kudus, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Tiga tokoh yang mendaftarkan diri sebagai bakal calon bupati Kudus melalui PDI Perjuangan, kini tengah bersiap-siap kapanpun akan dipanggil DPP untuk dites. Mereka berharap-harap cemas, akankan restu dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri akan diberikan kepadanya.

Tiga orang yang memperebutkan rekomendasi dari PDI Perjuangan itu yakni Ketua DPRD Kudus Masan, Sumiyatun (PNS yang mengajukan pengunduran diri) dan Umar Ali atau dikenal dengan nama Mas Umar (pengusaha).

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kudus M Yusuf Roni mengatakan, ketiga nama tersebut sudah melengkapi berkas pendaftaran dan telah dikirim ke DPP.

“Kalau kami di PDIP, rekomendasi semuanya yang menentukan adalah dari DPP. Jadi ketiga nama sudah diajukan dan tinggal menunggu proses berikutnya saja,” katanya kepada MuriaNewsCom, Senin (14/8/2017).

Ia menyatakan, tiga calon itu harus siap kapanpun dipanggil DPP untuk dilakukan tes oleh pengurus PDI Perjuangan pusat. Tes terdiri dari tertulis dan wawancara. Tes tulis terdiri dari kemampuan calon dalam pemahaman partai hingga kemampuan akademik yang dimiliki.

M Yusuf juga menyebut, DPP dalam memberikan rekomendasi juga mendasarkan dari hasil survei internal terhadap bakal calon. Sebelumnya, internal PDIP jga telah melakukan survei, yang dilakukan sebelum penjaringan bakal calon dibuka.

Editor : Ali Muntoha

Arti Idul Fitri Bagi Bupati Kudus Musthofa

Bupati Kudus Musthofa saat memberikan khotbah Idul Fitri di Masjid Agung Kudus, Minggu (25/6/2017). (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa menganggap Idul Fitri adalah pencapaian dari sebuah kemenangan dan kebahagiaan. Kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan dari menaklukkan musuh terberat manusia, yakni hawa nafsu.

Ini disampaikan Musthofa dalam khotbah Idul Fitri di Masjid Agung Kudus, Minggu (25/6/2017). Dalam khotbanya, Musthofa menyebut ajaran puasa sangat kompleks terhadap berbagai macam kemaslahatan.

“Antara lain yaitu menjaga agama, menjaga diri, menjaga kehormatan, menjaga akal, dan menjaga harta benda,” kata Mustofa yang menyebut khotbah kali ini sebagai khotbah wada’ (perpisahan).

Pasalnya, pada momen Idul Fitri tahun depan, Musthofa sudah rampung masa baktinya sebagai bupati Kudus.

Dalam proses puasa menurut dia, muara akhirnya adalah manusia muttaqin, sebagai puncak keimanan. Sedangkan output berpuasa adalah manusia berintegritas yang memiki kesalehan ritual dan sosial terhadap hubungan dengan sesama manusia.

Ia juga mengutif Surat Al Hujurat ayat 13 yang menyebut bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Terbagi dalam berbagai bangsa dan suku untuk saling mengenal.

“Maknanya, di dunia tidak ada manusia yang bertahan hidup kecuali membutuhkan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Sebagai mahluk sosial tentunya manusia harus memiliki sikap toleran dan saling menghormati tanpa mencampuri urusan orang lain. Tetapi saling tolong menolong dalam kebaikan untuk kesejahteraan bersama.

“Ada dua modal dalam kebhinnekaan. Yakni nilai kearifan lokal dan toleransi umat beragama. Baik kerukunan intern umat beragama, antarumat beragama, maupun umat beragama dengan pemerintah,” imbuhnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah diyakini mampu menciptakan negara yang baldatun thoyyibatun warabbun ghofur. Tentu ini butuh komitmen bersama termasuk peningkatan kualitas pendidikan untuk meraih kesejahteraan. (nap)

Editor : Ali Muntoha

HUT Bhayangkara, Bupati Kudus Berharap Polri Benar-benar Mampu Melindungi dan Mengayomi

Bupati Kudus Musthofa menerima potongan tumpeng dari Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning dalam tasyakuran Hari Bhayangkar ke-71. (Foto : Pemkab Kudus)

MuriaNewsCom, Kudus – Bupati Kudus Musthofa berharap Polri benar-benar bisa mengimplementasikan slogannya dengan baik. Yakni mampu mengayomi, melindungi, serta melayani masyarakat dengan penuh rasa aman dan nyaman.

Harapan ini disampaikan Musthofa saat tasyakuran HUT ke-71 Bhayangkara tahun 2017 di pendapa Kabupaten Kudus, Senin (10/7/2017). Menurut dia, kepolisian adalah satu kesatuan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pemerintah (daerah). Yang tujuannya sama yaitu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.

“Untuk bisa melayani dengan baik, maka harus ada komunikasi yang baik pula. Baik antara atasan-bawahan bahkan dengan intansi lain,” katanya.

Peringatan Hai Bhayangkara ini kali memang tak seperti biasanya, karena digelar di pendapa. Musthofa menyebut, pendapa adalah rumah rakyat dan pihak Polres juga berhak untuk menggunakannya.

“Semoga, acara Bhayangkara yang digelar di pendapa ini bisa menjadi inspirasi daerah lain,” kata Bupati yang juga dihadiri seluruh forkopinda.

Kapolres Kudus AKPB Agusman Gurning mengatakan, bahwa Polri terus meningkatkan profesionalisme setiap tahunnya. Termasuk kemajuan teknologi informasi adalah sebuah keniscayaan yang harus dimanfaatkan untuk kelancaran tugas-tugas kepolisian.

“Terima kasih pada semua pihak termasuk Bupati Kudus yang bersama dengan kami untuk melayani masyarakat,” pungkasnya. (nap)

Editor : Ali Muntoha

Tampil di UMK, Naff Belum Kehilangan Daya Hipnotis

Penampilan Naff dalam konser ‘’J-Live, Naff, UMK Law Fair 2017’’ di Auditorium UMK, Sabtu (20/5/2017) malam. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Band papan atas Naff, Sabtu (20/5/2017) malam, tampil di Auditorium kampus Universitas Muria Kudus (UMK) dalam konser bertajuk ‘’J-Live, Naff, UMK Law Fair 2017’’ didukung Jazzy Mild. Pesona band ini belum luntur, meski telah terjadi pergantian personel.

Sebanyak 10 lagu dibawakan dengan apik, dan mampu menghipnotis ratusan penonton yang menyesaki lokasi konser. Lagu-lagu yang begitu melegenda seperti “Terendap Laraku” mampu membawa pecinta musik kembali ke masa kejayaan band ini.

Lagu “Akhirnya Ku Menemukan”, dan “Jika Kau (Jatuh Cinta)”, dan lagu-lagu andalan Naff lain juga tak ketinggalan.

Grup band yang digawangi Hatna Danarda/Arda (vokalis), Andri Kurniawan H (guitars), Odeu Wijaya (bass), dan Hilal Hamzah (drum) ini pun mampu membawa kesan spesial, dengan lantunan lagu “Dosa Apa” sebagai tembang pamungkas di konser tersebut.

Selain membawakan lagunya sendiri, Naff juga membawakan lagu dangdut “Begadang” yang diaransemen ulang. Arda juga membawakan lagu istrinya Tantri (Kotak Band) berjudul “Selalu Cinta”.

Dalam konser yang diselenggarakan oleh BEM FH UMK itu, berlangsung meriah dengan tertib dan lancar. Amannya konser mendapat apresiasi dari Naff yang melihat konser sangat kondusif sampai akhir.

“Terimakasih sudah membantu mengamankan konser. Kalian merupakan contoh yang baik, dengan mau tertib selama konser dan mau membeli tiket konser. Itu bukti kalian pecinta musik Indonesia yang bagus,” kata Arda dari atas panggung.

Dalam jumpa pers sebelum konser, Arda menyebut lagu-lagu Naff, pada dasarnya memiliki nilai-nilai religiusitas.

‘’Sebenarnya, banyak lagu-lagu saya ini merupakan curahan hati pada Tuhan, namun mungkin yang menyimak lagu-lagi Naff memaknai lain,’’ terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Pemkab Kudus Targetkan Penghargaan WTN Kali Ketiga

Ucapan selamat datang yang ditujukan untuk Tim Penilai WTN di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Ucapan selamat datang yang ditujukan untuk Tim Penilai WTN di Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus kembali mengikuti lomba rutin bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Dalam hal ini adalah Dishubkominfo. Mereka berharap raih penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN).

Kabid LLAJ pada Dishubkominfo Kudus Putut Sri Kuncoro, mengatakan Kudus mendapatkan penghargaan tahunan selama dua tahun berturut turut. Yakni pada 2014 dan 2015. Karenanya, mereka berharap tahun ini bisa meraihnya lagi.

“Kalau yang bidang Lalu lintas,  kami yakin mendapatkannya. Namun kami juga mengincar bidang angkutan jalan, yang mana selama ini belum didapat,” kata Putut kepada MuriaNewsCom, Kamis (28/7/2016).

Menurutnya, penilaian pada tahun ini dilakukan pada 27 dan 28 Juli. Sedangkan pengumuman yang diterima,  pada Agustus hingga September 2016.

“Ini menjadi tantangan buat kami, guna mencapai dua kriteria. Yakni bidang lalu lintas dan bidang angkutan jalan,” ujarnya

Mengenai upaya yang dilakukan, adalah dengan penambahan rambu, dan lain sebagainya termasuk juga dengan marka jalan.

Selain itu, pembenahan tentang tempat pemberhentian angkutan seperti halte dan juga terminal juga dilakukan. Selain masalah keselamatan, juga berkaitan dengan penilaian WTN di bidang angkutan jalan.

“Penilaian yang dilakukan tim juga bersangkutan dengan masyarakat, misalnya saja dengan kepatuhan dalam mentaati aturan rambu. Termasuk juga dengan berhenti di halte,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

Kabupaten Kudus Jadi Pelopor Wajib Belajar 12 Tahun

Bupati Kudus H Musthofa memastikan jika setiap anak yang ada di Kudus harus bisa sekolah, dengan program Wajib Belajar 12 Tahun, yang memang memberikan banyak kemudahan.

 

KUDUS – Jika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo baru-baru saja mempersiapkan Provinsi Jawa Tengah untuk bisa menjadi wilayah yang menjadi uji coba program Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun, Kabupaten Kudus sudah memulainya jauh-jauh hari.

Tepatnya sejak Bupati Kudus H Musthofa memimpin wilayah Kudus ini. Padahal, sangat jarang sekali bupati atau pemimpin daerah yang berani untuk memprogramkan Wajar 12 tahun seperti di Kudus ini.

Padahal, dalam skala nasional, program belajar yang kemudian diwajibakan untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), program Wajib Belajar barulah 9 tahun saja. Yakni dari sekolah dasar (SD) hingga SMP atau sederajat.

Ini merupakan bukti bahwa bupati Kudus memang memiliki visi jauh ke depan, terkait dengan upaya pemberdayaan masyarakat melalui sektor pendidikan. Ini sebuah langkah yang memang patut didukung dan harus diapresiasi.

Program Wajar 12 Tahun ini akan menjadi sebuah program yang luar biasa dampaknya kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang ada. Beragam beasiswa juga diberikan kepada warganya yang memiliki prestasi tersendiri, agar bisa kuliah.

Untuk bidang pendidikan ini, bupati selalu mengatakan bahwa pendidikan merupakan ujung tombak bagi kemajuan di Kudus. Karena itu, dirinya meluncurkan pencanangan Wajib Belajar 12 Tahun di sejak tahun 2008 lalu.

Terlebih kini siswa dan siswi di Kudus bisa menikmati pendidikan gratis di sekolah negeri hingga lulus SMA/sederajat. ”Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika saya telah menggratiskan biaya di sekolah negeri, saya harapkan partisipasi masyarakat menyukseskan wajib belajar di Kudus,” tegasnya.

Bupati Musthofa selalu menegaskan di setiap kesempatan bahwa dirinya tidak ingin ada warga Kudus yang kemudian tidak bisa sekolah. Apalagi alasannya hanya karena tidak adanya biaya.

”Saya tidak mau mendengar ada warga saya yang kemudian tidak sekolah karena tidak punya biaya. Sekarang sudah ada pendidikan gratis. Jadi, harus dimanfaatkan dengan baik,” terangnya.

Untuk itu, dirinya mengharapkan kepada seluruh komponen, baik dari atas hingga elemen terbawah di tingkat RT dan RW, untuk bisa melakukan pengawasan terhadap anak-anak yang belum sekolah. Sehingga bisa langsung diarahkan untuk masuk dunia pendidikan.

”Lihat sekeliling Anda semua. Kalau masih ada anak yang tidak bisa sekolah, segera laporkan. Dan segera ditangani agar anak-anak itu bisa terus sekolah. Jangan sampai ada yang tidak sekolah,” tandasnya. (MERIE/ADS)