Dibantu Jualan Bule Cantik, Jamu Warga Tarub Grobogan ini Ludes dalam Hitungan Menit

Joana Marcao, bule asal Portugal ikut jualan jamu di Desa Tarub Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana perempatan Jalan Purwodadi-Blora menuju arah Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Selasa (29/8/2017) mendadak heboh.

Penyebabnya, ada perempuan bule yang mendadak menawarkan jamu gendong pada orang yang ada di sekitar lokasi itu.

Hadirnya bule berparas cantik ini tak ayal sempat bikin kaget dan mengundang daya tarik orang untuk membeli jamu. Hasilnya, hanya dalam tempo lima menit dagangan yang dijajakan sudah ludes dibeli orang.

Munculnya penjual jamu yang tidak disangka-sangka juga dimanfaatkan warga setempat untuk foto bareng. Bahkan, sebagian warga sempat saling berebut untuk bisa foto dengan penjual jamu istimewa tersebut.

Penjual jamu cantik ini memang asli orang luar negeri. Namanya, Joana Marcao yang berasal dari Portugal. Perempuan ini sudah berada di Desa Tarub sejak pertengahan Agustus lalu, dalam kapasitasnya sebagai relawan lembaga sosial internasional yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Selama berada di Desa Tarub, sudah banyak aktivitas yang dilakukan Joana bersama masyarakat. Salah satunya adalah membantu jualan jamu gendong yang biasa dikerjakan Mariman (35), warga Desa Tarub yang sudah hampir 10 tahun jadi penjual jamu keliling.

“Mbak Joana ini minta izin ikut bantu jualan jamu gendong. Setelah dibantu jualan, dagangan saya laris manis. Dalam hitungan menit saja sudah ludes. Padahal, biasanya baru habis setelah keliling seharian,” katanya.

Kepala Desa Tarub Ali Maskuri menyatakan, jumlah relawan yang ada di desanya ada dua orang. Selain Joana, ada Kozumoto yang berasal dari Jepang. Keduanya akan bertugas jadi relawan hingga akhir bulan Agustus ini.

Beberapa hari lalu, kedua relawan itu juga sempat menyaksikan pagelaran wayang kulit di Balai Desa Tarub. Saat sesi goro-goro atau guyonan, Joana bahkan sempat didaulat untuk menyanyi sebuah lagu Jawa bertitel ‘Suwe Ora Jamu’. Saat menyanyi, para penonton sempat dibuat tertawa karena logat Joana yang belum begitu fasih berbahasa Jawa itu terdengar lucu.

“Selain nyanyi Suwe Ora Jamu, Mbak Joana juga pingin ikut bantu Pak Mariman jualan jamu keliling. Saat Mbak Joana bantu jualan jamu memang suasanya jadi heboh dan meriah,” katanya, Selasa (29/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Terbakar, 4 Rumah Warga Sukorejo Grobogan Hangus Tak Bersisa

Salah satu rumah yang tinggal puing-puing setelah hangus terbakar. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tak berapa lama setelah kebakaran terjadi di Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, anggota Damkar Grobogan kembali harus menjalankan tugas. Yakni, memadamkan kebakaran di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Sabtu (26/8/2017).

Amuk kebakaran di Desa Sukorejo lebih parah dari peristiwa di Desa Kramat. Dalam peristiwa ini, sedikitnya ada empat rumah warga di Dusun Jetak yang terbakar habis.

Dari empat rumah tersebut, dua bangunan milik Jafar (70), warga yang tinggal di wilayah RT 01, RW 06. Sedangkan dua rumah lainnya milik Mintono (60), dan Aryanto (30). Semua bangunan rumah yang ludes terbakar terbuat dari bahan kayu jati.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui warga sekitar pukul 13.30 WIB. Saat itu, warga yang lewat di jalan sempat melihat ada kobaran api dari rumah Jafar di bagian belakang. Sebelum kejadian, beberapa warga sempat mendengar suara letusan.

Ketika warga hendak memeriksa ke rumah tersebut, kobaran api mendadak sudah membesar karena ada hembusan angin kencang saat itu. Melihat kejadian itu, puluhan warga berupaya melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya.

Meski sudah berupaya keras, namun pemadaman gagal dilakukan. Sebaliknya, kobaran api makin susah dikendalikan dan menyambar dua rumah terdekat.

Sekitar 30 menit kemudian, lima mobil damkar tiba di lokasi. Meski sudah banyak armada yang dikerahkan, namun pemadaman masih sulit dilakukan karena banyak barang mudah terbakar di tiga rumah tersebut. Setelah berjibaku hampir 2 jam, kobaran api akhirnya bisa dikendalikan.

Kapolsek Tegowanu AKP Bambang Uwarno menyatakan, saat kejadian, kondisi rumah Jafar dalam keadaan kosong karena penghuninya sedang ziarah ke Klaten. Menurutnya, berdasarkan pemeriksaan sementara, api diperkirakan berasal dari kompor yang lupa dimatikan hingga mengakibatkan tabung gas meledak.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Kerugian material diperkirakan mencapai Rp 300 juta,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Hebat…Kades dan Pak Camat di Gabus Grobogan Ternyata Jago Main Ketoprak

Para kepala desa dan perangkat di Kecamatan Gabus, Grobogan, bermain ketoprak dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pertunjukkan kesenian tradisional ketoprak yang dilangsungkan di lapangan Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus, Grobogan, Jumat (19/8/2017) malam hingga Sabtu (19/8/2017) dini hari, cukup istimewa.

Bukan soal kisah atau lakon yang dimainkan. Tetapi mengenai latar belakang para pemeran yang tampil dalam pertunjukkan tersebut.

Soalnya, sebagian besar pemainnya adalah kepala desa dan perangkat desa di Kecamatan Gabus. Tidak hanya itu, Camat Gabus Anwar Udin Hamid dan Kapolsek AKP Zainuri juga ikut jadi pemeran.

Pertunjukkan ketoprak dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI itu, mengambil lakon atau cerita Ranggalawe Mbalelo. Cerita itu mengisahkan tentang Adipati Tuban Ranggalawe di masa pemerintahan kerajaan Majapahit.

Meski persiapannya singkat, namun para pemeran mampu tampil apik dalam pentas yang disaksikan ribuan warga itu. Bahkan, hingga lewat dinihari, ribuan warga masih betah menonton pentas kesenian tradisional yang saat ini sudah jarang ditemui itu.

Kades Tlogotirto, Adi Saputra mengatakan, tahun 2016 lalu, pihaknya juga mengadakan pentas ketoprak di lokasi yang sama. Pada edisi perdana menampilkan cerita Lahirnya Kerajaan Majapahit.

Adi menyatakan, pentas ketoprak itu dilangsungkan sebagai wahana untuk menggali, mengupas, mengembangkan dan melestarikan seni budaya warisan nenek moyang. Hal itu perlu dilakukan, karena kesenian tradisional ini kondisinya hampir kelam lantaran tergerus arus globalisasi.

“Kesenian tradisional ini harus kita lestarikan. Untuk melestarikan kesenian ini harus kita lakukan bersama-sama,” sambungnya.

Editor : Ali Muntoha

Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Ditunda, Ini Alasannya

Tim ahli purbakala masih melakukan proses pembuatan replika fosil hewan purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur pelaksanaannya.

Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada pekan ini. Namun, jadwal terbaru, pelaksanaannya bakal dilakukan akhir Agustus mendatang.

“Ya, ada sedikit perubahan jadwal masalah pengangkatan fosilnya. Nanti, kita lakukan akhir bulan pelaksanaannya,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

Menurut Sukron, mundurnya jadwal pengangkatan fosil disebabkan proses pencetakan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan belum selesai. Sesuai rencana, pembuatan replika hanya ditenggat selesai 10 hari, dari tanggal 8-18 Agustus 2017.

Namun, dari pengecekan ke lapangan, waktu 10 hari itu dirasakan belum cukup. Akhirnya, waktu pembuatan replika ditambah lagi 10 hari hingga 28 Agustus 2017.

Dijelaskan, perpanjangan waktu 10 hari itu bukan disebabkan adanya hambatan. Tetapi, hal itu dikarenakan jumlah fosil yang ada di lokasi ternyata tambah banyak. Terlebih setelah muncul fosil-fosil sepesies hewan baru di dekat fosil elephas yang ditemukan lebih awal.

“Jadi, dengan banyak fosil itu tidak cukup kalau pembuatan replika dikerjakan 10 hari saja. Makanya, kita tambah lagi waktunya agar semua fosil bisa dibuat replikanya dan hasilnya lebih sempurna,” jelasnya.

Sukron menyatakan, setelah waktu pembuatan replika rampung, baru dilakukan pengangkatan dan penyelamatan semua fosil dari lokasi untuk direkonstruksi. Rencananya, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan sementara di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.

Editor : Ali Muntoha

Mantap, Petugas IB Grobogan Raih Juara I Tingkat Provinsi

Inseminator yang bertugas di wilayah Kecamatan Grobogan Satrio Nugroho (pegang piala) berhasil meraih juara I tingkat Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan kembali berhasil meraih prestasi dalam bidang inseminator buatan (IB).

Hal ini menyusul keberhasilan Satrio Nugroho, salah seorang petugas IB atau inseminator yang bertugas di wilayah Kecamatan Grobogan berhasil meraih juara I tingkat Jawa Tengah. Predikat juara itu diraih untuk kategori lomba petugas inseminator berprestasi wilayah pengembangan.

“Terus terang kami cukup bangga dengan prestasi yang diraih petugas kita ini. Mudah-mudahan, hal ini makin memotivasinya untuk meningkatkan kinerja,” ungkap Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, Rabu (16/8/2017).

Menurutnya, untuk petugas IB yang jadi juara I, nantinya akan menjadi duta Jateng dalam lomba tingkat nasional tahun 2018 mendatang. Terkait kondisi itu, Riyanto bertekad agar pada tahun depan, petugas IB yang jadi duta Jateng tersebut bisa meraih juara I nasional.

Meski demikian, untuk meraih target itu bukan sesuatu yang mudah dicapai. Oleh sebab itu, dalam waktu dekat pihaknya akan segera melakukan persiapan secara serius mengingat ada beberapa aspek yang jadi penilaian.

Antara lain, capaian kinerja selama ini, keberhasilan kebuntingan sapi yang disuntik, catatan administrasi serta peran dalam kelompok tani ternak diwilayah kerjanya.

Riyanto menambahkan, sejauh ini, sudah banyak inseminatornya yang meraih juara tingkat provinsi. Kemudian, pada tahun 2010 dan 2011, sempat ada inseminatornya yang meraih juara I nasional.

Selain juara pertama untuk petugas IB, pihaknya juga meraih beberapa prestasi lain tingkat provinsi. Yakni, juara III kategori lomba petugas inseminator berprestasi wilayah swadaya atas nama Cacuk Pundianto.

Kemudian, juara III kategori lomba kelompok ternak berprestasi komoditas kambing yang didapat kelompok tani ternak Enggal Makmur dari Desa/Kecamatan Tanggungharjo. Selanjutnya, kelompok budidaya ikan Dewi Sri dari Desa Menduran, Kecamatan Brati berhasil jadi juara II kategori lomba bididaya ikan hias.

Satu lagi, kelompok budidaya ikan Mina dari Desa Dimoro, Kecamatan Toroh berhasil jadi juara II kategori lomba bididaya ikan lele/patin.

“Jadi totalnya kita dapat lima penghargaan tingkat provinsi. Tapi hanya satu saja yang meraih juara I. Prestasi ini saya rasa cukup istimewa,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ternyata Pernah Ada Bencana Besar di Lokasi Penemuan Fosil Gajah Purba di Banjarejo

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi (kanan) berbincang dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di lokasi penemuan fosil gajah purba, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri yang terjadi di lokasi penemuan fosil gajah purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai terkuak. Antara lain, pada ratusan ribu tahun lalu diperkirakan sempat ada peristiwa bencana alam di sekitar lokasi yang letaknya agak berada di ketinggian atau perbukitan tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

“Penelitian masih kita lakukan. Tapi dari analisa sementara, potensi adanya bencana longsor di lokasi ini cukup besar,” jelasnya.

Menurut Sukron, adanya bencana alam diperkuat ketika lokasi penggalian diperlebar hingga berukuran sekitar 12 x 12 meter. Saat proses pelebaran ini berhasil ditemukan lagi sejumlah fosil dari beberapa spesies hewan purba.

Sebelum diperlebar, di lokasi tersebut hanya terlihat fosil satu spesies saja, yakni gajah purba. Setelah pelebaran areal, muncul potongan fosil dari spesies baru. Antara lain, banteng, dan buaya dengan berbagai ukuran.

Penemuan fosil spesies baru itu posisinya berdekatan atau berkumpul dengan fosil gajah purba. Kondisi ini diperkirakan bisa terjadi akibat hewan-hewan itu sebelumnya tertimbun longsoran, sehingga bisa terkumpul dalam satu lokasi.

Misteri lain yang berhasil terungkap adalah kepastian jenis gajah purba. Sebelumnya, fosil itu dinyatakan milik gajah purba jenis stegodon. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, fosil itu berasal dari gajah purba jenis elephas.

“Fosilnya bisa kita pastikan milik elephas. Hewan purba ini lebih muda dari Stegodon. Usianya diperkirakan sekitar 400 ribu tahun,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji Grobogan Diminta Jangan Banyak Protes, Bupati : Harus Ikhlas

Beberapa jemaah haji terpaksa harus dibantu kursi roda saat diberangkatkan menuju Asrama Haji Donohudan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya jemaah haji lanjut usia (lansia) yang berangkat tahun ini mendapat perhatian serius dari Bupati Grobogan Sri Sumarni. Terkait kondisi itu, Sri Sumarni berpesan pada petugas pendamping, ketua rombongan dan ketua regu supaya menaruh perhatian lebih.

Pesan itu disampaikan saat Sri Sumarni melepas keberangkatan jemaah haji Grobogan Kloter 65 menuju Donohudan, Rabu (16/8/2017) dinihari.

“Tugas pendamping haji ini sangat berat. Untuk itu, saya minta agar para petugas ini bisa bersikap sabar dan amanah selama menjalankan tugas. Terutama, pada jemaah yang sudah usia lanjut,” pesannya.

Dari pantauan di lokasi pemberangkatan, memang cukup banyak jemaah haji yang masuk kategori lansia. Sebagian ada yang berangkat bersama keluarganya. Namun, ada pula yang berangkat sendirian. Jumlah jemaah Kloter 65 totalnya ada 353 orang.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni meminta para calon haji (calhaj) untuk bersikap ikhlas selama berada di Tanah Suci nanti. Apapun fasilitas yang diterima hendaknya tetap disyukuri dan sebisa mungkin jangan melakukan protes. Misalnya, dalam hal pemondokan atau menu makanan yang akan didapat selama melaksanakan ibadah haji nanti.

“Keberangkatan ke Tanah Suci ini untuk melaksanakan ibadah. Jadi, sebaiknya konsentrasi penuh agar bisa melaksanakan ibadah semaksimal mungkin. Selama di Tanah Suci nanti harus lebih banyak ikhlas dan bersabar. Kalau ada yang diperlukan langsung hubungi petugasnya,” kata mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sementara itu, setelah Kloter 65 berangkat, sekitar pukul 09.00 WIB dilangsungkan lagi pemberangkatan jemaah haji. Yakni, rombongan jemaah haji Grobogan terakhir yang tergabung dalam Kloter 66.

Jumlah jemaah Kloter 66 ini totalnya ada 353 orang. Pemberangkatan jemaah haji Kloter 66 dipimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono.

“Jumlah kloter Grobogan ada empat. Yakni, Kloter 17, 64, 65 dan 66. Jumlah jemaah keseluruhan ada 977 orang,” jelas Kepala Kakemenag Grobogan Hambali.

Ditambahkan, jemaah haji Kloter 17 dan 65 diisi sebanyak 355 orang yang seluruhnya dari Grobogan. Kemudian, ada 136 orang masuk Kloter 64 dan 221 orang ikut Kloter 66. Untuk Kloter 64 bergabung dengan jemaah Kabupaten Semarang dan Kloter 66 gabung Kota Semarang.

Editor : Ali Muntoha

Tak Setuju Perda Toko Modern Disahkan, Dewan Grobogan dari PKB Pilih Keluar Sidang

Anggota fraksi PKB DPRD Grobogan bersiap meninggalkan ruang rapat paripurna setelah menyatakan walk out. (MuriaNewsCom/Grobogan)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi walk out mewarnai jalannya rapat paripurna DPRD Grobogan, Selasa (15/8/2017). Dalam rapat tersebut tujuh anggota fraksi PKB memilih meninggalkan ruangan saat akan dilakukan pengambilan persetujuan secara voting mengenai Raperda tentang Penataan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.

Sebelumnya, rapat paripurna yang dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni itu sempat diskors selama hampir 1 jam karena fraksi PKB menyatakan penolakan. Dalam masa skors dilakukan pembicaraan antara pimpinan dewan, ketua fraksi, dan anggota Pansus I di ruang rapat paripurna II.

Namun pembicaraan dalam masa skorsing gagal mencapai titik temu. Akhirnya, rapat dilanjutkan untuk mengambil keputusan secara voting. Sebelum voting dilakukan, anggota Fraksi PKB Sukanto meminta izin bicara untuk menyatakan sikap walk out.

Wakil Ketua DPRD Grobogan dari PKB HM Nurwibowo yang sebelumnya duduk di deretan pimpinan juga ikut pula keluar. Ketujuh anggota dewan dari PKB ini keluar ruangan melalui pintu timur.

Selain raperda terkait toko modern, dalam rapat paripurna itu juga membahas persetujuan dua raperda lainnya. Yakni, raperda tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan raperda tentang Retribusi Jasa umum. Dalam kata akhir, semua fraksi sepakat menyetujui dua raperda ini.

Menurut Nurwibowo, sikap walk out itu dilakukan karena beberapa alasan. Antara lain, pihak eksekutif tidak mau melakukan kajian ekonomis terlebih dahulu terkait penataan toko modern. Terutama, soal pembatasan jumlah toko modern yang boleh berdiri di tiap kecamatan.

“Sebelumnya, kami sudah minta agar dilakukan kajian ekonomis dulu. Tujuannya, supaya hasil pembahasan bisa lebih baik lagi dengan adanya kajian ekonomis,” terangnya.

Alasan lainnya, terkait adanya pengurangan kuota jumlah toko modern di Kecamatan Brati, Ngaringan, Geyer, dan Kedungjati. Sebaliknya, di beberapa kecamatan justru ada penambahan kuota. Penambahan kuota di beberapa kecamatan itu disinyalir ada unsur titipan guna mengakomodir kepentingan beberapa pihak.

“Jumlah toko modern yang disepakati boleh berdiri hanya 62 unit di seluruh kabupaten. Soal jumlah ini sebenarnya kami tidak masalah. Hanya ada pengurangan dan penambahan di beberapa kecamatan yang kita persoalkan. Apalagi penentuan itu tanpa ada kajian ekonomis,” tegasnya.

Ia menambahkan, perubahan perda yang dibahas ini sebenarnya punya tujuan untuk keadilan ekonomi. Sebab, peraturan ini dibahas untuk menyempurnakan perda sebelumnya, setelah toko modern menjamur.

Editor : Ali Muntoha

Hebat, 2 Kelompok Tani di Grobogan Berhasil jadi Juara Tingkat Provinsi

Ketua Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan Guseri berfoto dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai penyerahan penghargaan. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua kelompok tani (poktan) di Grobogan berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Yakni, meraih juara I dalam lomba penyuluhan bidang pertanian tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Kedua kelompok yang berprestasi masing-masing, Poktan Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi. Poktan ini meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai.

Satu lagi adalah Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan. Poktan ini meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas padi.

Atas keberhasilan tersebut, kedua Poktan tersebut mendapat penghargaan dan hadiah yang diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat upacara HUT ke-67 Provinsi Jateng, di lapangan Simpanglima Semarang, Selasa (15/8/2017).

Penghargaan dari gubernur diterima langsung oleh ketua kelompok berprestasi tersebut. Yakni, Guseri selaku Ketua Poktan Maju dan Ketua Poktan Ngudi Rejeki I Darwoto.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, prestasi yang diraih kedua poktan itu dinilai sangat membanggakan. Sebab, untuk bisa jadi juara dalam lomba itu banyak aspek penilaiannya.

Antara lain mengenai, teknis budidaya mulai awal sampai panen, administrasi, unit usaha dan Kemitraan dengan pihak lain, pengelolaan hasil, aset atau modal, pola tanam, serta kegiatan yang sudah dilakukan.

Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan petugas juga menjadi aspek penting dalam penilaian tersebut.

“Jadi, untuk bisa meraih juara tingkat provinsi ini tidak mudah. Oleh sebab itu, keberhasilan ini kita rasa sangat membanggakan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

3 Bayi Lahir di Hari Pramuka Diberi Kado Spesial dari Kwarcab Grobogan

Ketua Kwarcab Grobogan Icek Baskoro dan sejumlah pengurus lainnya memberikan bingkisan pada bayi di RSUD R Soedjati Purwodadi yang lahir pada bertepatan dengan Hari Pramuka. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-56 di Grobogan diwarnai dengan aksi sosial unik. Yakni, mengunjungi bayi yang dilahirkan tanggal 14 Agustus atau bertepatan dengan Hari Pramuka.

Acara kunjungan pada bayi lahir ini dilakukan Ketua Kwarcab Grobogan Icek Baskoro dan sejumlah pengurus lainnya. Lokasi kunjungan dilakukan di RSUD R Soedjati Purwodadi, usai pelaksanaan upacara Hari Pramuka di alun-alun, Sabtu (14/8/2017).

Di rumah sakit milik Pemkab Grobogan ini terdapat tiga bayi lahir pada Hari Pramuka. Terdiri dari 2 laki-laki dan satu bayi perempuan. Masing-masing adalah warga Desa Rejosari, Kecamatan Grobogan dan warga Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon serta warga Desa Sindurejo, Kecamatan Toroh.

“Selain memberikan selamat, kita juga kasih sekedar bingkisan pada tiga bayi yang lahir pada hari istimewa ini. Mudah-mudahan, ketiga bayi ini nantinya jadi penerus gerakan Pramuka di Grobogan,” kata Icek.

Sementara itu, pelaksanaan upacara peringatan Hari Pramuka berlangsung semarak. Bupati Grobogan Sri Sumarni bertindak selaku pembina upacara dalam kesempatan itu.

Dalam kesempatan itu, bupati sempat menyerahkan piagam penghargaan kepada sejumlah pihak yang selama ini dinilai punya banyak kontribusi pada kegiatan pramuka di Grobogan.

“Sejauh ini, sudah banyak prestasi yang berhasil diraih Kwarcab Grobogan. Semoga ke depan, prestasinya tambah hebat lagi,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Jembatan Ini Membahayakan, Tapi Warga Kedungjati Grobogan Terpaksa Tetap Menggunakannya

Kondisi jembatan penghubung antara Desa Kitikan dan Desa Deras di Kecamatan Kedungjati, Grobogan terlihat melengkung akibat satu pilar penyangganya roboh diterjang banjir bandang tahun 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain jalan, Pemkab Grobogan tampaknya perlu menaruh perhatian lebih dengan masalah perbaikan jembatan. Sebab, sejauh ini banyak jembatan yang kondisinya mengenaskan tetapi masih tetap digunakan sebagai akses transportasi warga setempat.

Salah satunya adalah jembatan penghubung antara Desa Deras dan Desa Klitikan, di Kecamatan Kedungjati, Grobogan. Saat ini, kondisi jembatan terlihat melengkung karena satu pilarnya roboh.

Jembatan sepanjang 30 meter itu memiliki dua pilar penyangga yang dibuat dengan konstruksi beton. Satu pilar terlihat masih kokoh dan satu lagi roboh.

Dari keterangan warga, satu pilar itu roboh diterjang banjir pada tahun 2015 lalu. Agar tetap bisa digunakan, pilar yang roboh ditopang kayu seadanya.

Karena penanganan darurat, kondisi jembatan terlihat melengkung kareda beda tinggi di kedua sisi. Meski begitu, warga tetap berani melintas karena jembatan itu jadi akses terdekat.

“Tiap hari, jembatan ini masih bisa dilalui sepeda motor meski harus hati-hati. Kalau mobil tidak bisa dan harus memutar sekitar dua kilometer,” kata Haryadi, warga setempat.

Jembatan tersebut membentang di atas Kali Temuireng yang merupakan anakan Sungai Tuntang. Kecuali pilar, kayu yang dipakai jembatan sebagain besar kondisinya masih cukup kuat.

Kepala Desa Deras Rusdi mengatakan, tidak lama setelah pilar roboh, pihaknya sudah mengusulkan pada instansi terkait untuk diperbaiki. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Upaya yang dilakukan hanya sebatas memasang kayu sebagai penyangga darurat.

“Penanganan jembatan hanya perlu perbaikan pilar yang roboh. Pilar yang satunya masih kuat kondisinya,” jelasnya, Senin (14/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Kendaraan roda empat yang masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi mendapat sorotan anggota DPRD Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah anggota DPRD Grobogan menyoroti makin bebasnya kendaraan keluar masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi. Sorotan itu dilontarkan karena sebelumnya sudah ditegaskan kalau bagian dalam alun-alun termasuk lapangan harus steril dari kendaraan.

Bahkan, sepeda motor pun dilarang masuk ke alun-alun. Kebijakan itu dilakukan supaya tidak merusak konstruksi bangunan dan lapangan.

“Akhir-akhir ini, ada keluhan kalau motor, mobil, bahkan truk masuk ke dalam alun-alun. Harusnya ini tidak boleh,” tegas Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo, Jumat (11/8/2017).

Senada dengan Budi, anggota Komisi A Sukanto juga mempertanyakan bebasnya beragam jenis kendaraan masuk ke dalam alun-alun. Jika hal itu tidak segera disikapi dengan tegas, maka kendaraan yang masuk ke dalam alun-alun pasti makin banyak.

“Semua kendaraan bermotor harus parkir di sekeliling alun-alun yang lokasinya sudah disiapkan. Nanti, saya akan minta penjelasan dari dinas terkait yang menangani alun-alun,” cetusnya.

Informasi yang didapat menyebutkan, kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara di seberang kantor DPRD Grobogan. Di pintu ini sebenarnya sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman M Chanief  saat dimintai tanggapannya menyatakan, kendaraan bermotor memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Saat ini pengelolaan alun-alun sudah ada pada Dinas Linkungan Hidup. Nanti, akan kita koordinasikan supaya memasang portal permanen di pintu utara agar kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya.

 Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji Grobogan Kloter 17 Mulai Bertolak ke Mekkah

Sebagian jemaah haji kloter 17 mengikuti pembekalan mengenai teknis pemberangkatan ke Mekkah dan pelaksanaan ibadah umrah di Madinah. (istimewa)

MuriaNewsCom, Grobogan – Setelah delapan hari berada di Madinah, rombongan jemaah haji asal Grobogan yang tergabung dalam Kloter 17 mulai bergeser ke Mekkah. Rencananya, para jemaah akan berangkat menuju Mekkah setelah menunaikan salat Ashar di Masjid Nabawi.

“Hari ini, jemaah dijadwalkan menuju Mekkah. Jadwalnya, setelah Ashar,” kata Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali, Kamis (10/8/2017).

Jumlah jemaah keseluruhan ada 351 orang. Dari jumlah ini, kemungkinan ada satu jemaah yang terpaksa tertinggal dulu di Madinah karena dirawat di rumah sakit.

“Laporan terakhir, ada satu jemaah kita yang sakit. Mudah-mudahan, kondisinya sudah membaik dan bisa bersama-sama jemaah lainnya berangkat ke Mekkah,” sambung Hambali.

Kasubag Umum Kantor Kemenag Grobogan Ali Ichwan menambahkan, saat ini, semua jemaah sudah melakukan persiapan untuk pindah ke Mekkah.

Kemudian, para ketua rombongan, ketua regu serta petugas juga sudah mendapat pembekalan untuk disampaikan pada anggotanya. Yakni, pembekalan teknis pemberangkatan ke Mekkah serta penjelasan mengenai pelaksanaan ibadah umrah yang akan kita laksanakan.

“Doakan saja, semua jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan lancar,” kata Ali yang saat ini ada di Madinah sebagai salah satu pendamping haji kloter 17 itu.

Editor : Ali Muntoha

Duh…Dinkes Grobogan Kekurangan Tempat Penyimpanan Vaksin Measles Rubella

Petugas Dinas Kesehatan Grobogan menunjukkan vaksin measles rubella di gudang penyimpanan, sebelum dimasukkan dalam freezer. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemberian vaksin measles rubella (MR) yang digelar mulai Agustus ini di Kabupaten Grobogan mengalami sedikit hambatan. Yakni, kurangnya jumlah freezer untuk tempat penyimpanan vaksin tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Grobogan Slamet Widodo menyatakan, jumlah vaksin MR yang diterima dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng sebanyak 325.000 ampul. Sementara jumlah freezer yang ada di gudang dinas hanya ada tujuh unit.

“Jumlah freezer kita terbatas sehingga tidak dapat menampung seluruh jatah vaksin. Untuk penyimpanan vaksin MR memang harus ditaruh dalam freezer,” jelasnya.

Dijelaskan, fungsi freezer sangat penting untuk menyimpan vaksin supaya tidak rusak. Vaksin itu harus disimpan dalam suhu minimal delapan derajat celcius.

Karena keterbatasan freezer, pengambilan vaksin dari Semarang dilakukan bertahap. Setelah ada freezer yang kosong, karena barangnya sudah didistribusikan, pihaknya langsung mengambil lagi jatah vaksin ke Semarang.

“Rencananya, jatah vaksin kita ambil tiga kali. Begitu ada freezer kosong, kita ambil lagi,” kata Slamet.

Menurutnya, vaksin tersebut diberikan kepada anak-anak untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Vaksin MR diberikan pada anak usia sembilan bulan hingga kurang dari 15 tahun.

Untuk distribusi vaksin pada bulan Agustus ini lebih difokuskan pada sekolah-sekolah. Bulan berikutnya, pemberian vaksin menyasar ke seluruh posyandu.

Dalam proses pemberian vaksin tahap awal, tiada ada penolakan dari masyarakat. Sebab, pihaknya telah melakukan sosialisasi sebelum pelaksanaan vaksinasi.

Editor : Ali Muntoha

Listrik Padam, Rumah di Belakang Rutan Purwodadi Langsung Berkobar

Warga dan petugas pemadam memeriksa rumah milik Suyadi yang terbakar, Kamis (3/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga kampung di belakang Rumah Tahanan (Rutan) Purwodadi, Jalan Wijaya Kusuma, Grobogan, Kamis (3/8/2017) tiba-tiba riuh. Warga panik melihat kobaran api dari salah satu rumah.

Kobaran api itu muncul dari rumah milik Suyadi (59), yang biasa ditempati anaknya. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, saat orang-orang sudah mulai beranjak tidur.

Beruntung saat kejadian rumah dalam kondisi kosong, sehingga tak ada korban jiwa. Meski demikian, kerugian yang diderita pemilik rumah cukup besar, karena banyak barang berharga yang hangus.

Informasi yang didapat menyebutkan, warga baru mengetahui jika ada kebakaran, lantaran secara tiba-tiba listrik padam.

Beberapa warga kemudian keluar rumah untuk melihat situasi. Saat itulah warga melihat rumah tetangganya kebakaran.

Peristiwa kebakaran diketahui ketika nyala api sudah terlihat agak membesar dan memunculkan asap yang cukup tebal.

Tidak lama kemudian, dua armada  pemadam kebakaran BPBD Grobogan tiba dilokasi kejadian. Akhirnya, kebakaran berhasil dipadamkan sebelum menghanguskan seluruh bangunan rumah.

“Kebakaran menyebabkan bagian atap rusak. Diduga kebakaran disebabkan korsleting listrik,” kata Muchtarom, warga setempat. 

Editor : Ali Muntoha

Ki Warseno Slank Coba Tangkal Hoax di Grobogan dengan Wayang

Staf Ahli Menkominfo Henri Subiakto menyerahkan wayang Gatotkaca pada dalang Ki Warseno Slank. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pagelaran wayang kulit semalam suntuk digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di halaman Kantor Kecamatan Godong, Grobogan, Kamis (3/7/2017) malam. Pagelaran ini dilakukan pihak Kemenkominfo sebagai salah satu sarana untuk menangkal merebaknya berita bohong alias hoax, serta membangkitkan lagi rasa nasionalisme masyarakat.

“Wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisional yang bisa digunakan sebagai sarana untuk menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah pada masyarakat luas. Kali ini, kita mengambil tema ‘Merajut Persatuan Melalui Budaya’,” kata Staf Ahli Menkominfo Henri Subiakto, saat menyampaikan sambutan sebelum pagelaran wayang dimulai.

Pagelaran wayang juga dihadiri Bupati Grobogan Sri Sumarni dan anggota Komisi I DPR RI Djoko Udjianto. Tampak pula, Kepala Dinas Infokom Grobogan Wiku Handoyo dan sejumlah pejabat pemkab lainnya. Hadir pula, jajaran muspika dan para kades se-Kecamatan Godong.

Pagelaran wayang kulit tersebut menghadirkan dalang kondang Ki Warseno Hardjodarsono atau yang lebih dikenal dengan julukan Warseno Slank. Ki Warseno ini merupakan adik dari dalang kondang lainnya, Ki Anom Suroto.

Dari pantauan di lokasi, pagelaran wayang kulit itu dibanjiri ribuan penonton. Hadirnya bintang tamu pelawak Marwoto dan Gareng membuat penonton makin terhibur. Saat tampil, kedua pelawak juga menyelipkan kampanye anti hoax di sela-sela banyolan yang dibawakan.

“Saya mengapresiasi pagelaran wayang kulit malam ini. Selain melestarikan budaya bangsa, melalui pagelaran wayang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan dan edukasi pada masyarakat,” kata Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Editor : Ali Muntoha

Dua Rumah di Grobogan Terbakar Saat Momen Lebaran

Warga mencoba memadamkan api yang membakar salah satu rumah di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebarakan merusak kebahagiaan Lebaran di Kabupaten Grobogan. Dua rumah terbakar sejak hari pertama Lebaran, hingga Kamis (29/6/2017) kemarin.

Yang terbaru kebakaran terjadi di Dusun Tanjungan, Desa Ngembak, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Kamis (29/6/2017). Kebakaran yang berlangsung tengah malam itu menimpa rumah Sujiyo (65), warga di RT 01, RW 06.

Informasi yang didapat menyebutkan, kebakaran ini berhasil dipadamkan warga bersama petugas pemadam kebakaran Grobogan. Meski demikian, satu unit rumah bagian belakang yang berfungsi sebagai kandang sapi ludes terbakar. Sementara sebagian rumah bagian depan terpaksa dirobohkan supaya tidak tersulut api.

Kebakaran ini diperkirakan berasal dari api bediang (api untuk mengusir nyamuk di kandang) yang dinyalakan pemilik rumah beberapa jam sebelumnya. Kemungkinan akibat hembusan angin, api dari bediang itu menjalar ke tumpukan jerami kering di dekatnya.

“Beberapa kali peristiwa kebakaran ini disebabkan keteledoran pemilik rumah. Untuk itu saya imbau warga agar waspada dan ketika menyalakan api,” kata Kasi Damkar Grobogan Sutrisno, Jumat (30/6/2017).

Beberapa hari sebelumnya, musibah kebakaran terjadi di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Minggu (25/6/2017) dini hari. Kebakaran pada malam takbiran ini mengakibatkan satu kios ini ludes dilalap si jago merah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian mencapai Rp 20 juta. Kemungkinan, kebakaran ini disebabkan korsleting listrik, karena saat kejadian, kios dalam kondisi tutup.

Editor : Ali Muntoha

Hendri Lamiri Mainkan Lagu ‘Titanic’ di Rumah Fosil Banjarejo Grobogan

Musisi yang juga seorang pemain biola atau violist ternama Hendri Lamiri saat berada di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mendapat tamu istimewa pada momen Lebaran tahun ini. Musisi kenamaan yang juga seorang pemain biola atau violist Hendri Lamiri mendatangi desa ini.

Punggawa grup band Arwana ini berkunjung ke Banjarejo, Rabu (29/6/2017) malam. Hendri Lamiri itu penasaran dengan koleksi fosil dan benda bersejarah temuan warga yang disimpan di rumah kepala desa.

 “Kunjungan Mas Hendri Lamiri ke sini hanya sebentar saja.  Kira-kira satu jam saja, dari jam 19.00 WIB,” kata Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Kedatangan musisi kelahiran Pontianak di rumah Taufik khusus untuk melihat koleksi benda purbakala dan cagar budaya yang ditemukan sejak beberapa tahun terakhir. Kebetulan, untuk sementara ini, semua koleksi benda bersejarah disimpan di rumah Taufik.

“Terus terang saya kaget sekali ada tamu istimewa yang datang ke rumah. Untung saja saya tidak pergi waktu dia datang. Jadi bisa nemani ngobrol meski tidak lama,” kata Taufik.

Selain melihat koleksi benda bersejarah Hendri Lamiri juga sempat memainkan biola di Rumah Fosil Banjarejo. Lagu yang dimainkan adalah ‘My Heart Will Go On’ yang jadi sound track film Titanic.

“Waktu ke sini Mas Hendri memang bawa biola. Sebelum pulang, saya minta untuk memainkan biola di sini. Permainan biolanya memang istimewa,” cetus Taufik.

Menurut Taufik, sebenarnya Hendri Lamiri sudah tahu tentang penemuan benda purbakala sejak tahun lalu, dan sudah lama berniat berkunjung. Namun, karena terbentur kesibukan, baru kali ini niatnya kesampaian.

Editor : Ali Muntoha

Apel Seribu Banser dan Ansor Grobogan, Siap Lawan Ormas Pengusung Khilafah

Anggota Banser Grobogan mengikuti Apel Kebangsaan di Alun-alun Purwodadi, Minggu (26/2/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sekitar 1.000 anggota Banser dan GP Ansor Grobogan mengikuti apel kebangsaan yang dilangsungkan di Alun-alun Purwodadi, Minggu (26/2/2017). Apel tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas.

Dalam apel itu, Bupati Grobogan Sri Sumarni bertindak menjadi inspektur upacara. Ikut mendampingi, Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning, Ketua DPRD Grobogan Agus Siswanto dan Dandim 0717/Purwodadi Letkol Jan Peter Gurning.

Menurut Yaqut, apel tersebut digelar dalam rangka mengingatkan para sahabat Ansor dan Banser untuk tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kadernya akan terus memperjuangkan sistem pemerintahan saat ini dari wacana organisasi yang mengusung khilafah.

“Apel ini merupakan bagian dari kaderisasi anggota untuk tetap menjadi organisasi yang mendukung sistem pemerintahan berdasarkan demokrasi. Kami akan terus melawan dan berhadap-hadapan dengan organisasi seperti itu,” ujarnya.

Seusai kegiatan, peserta apel kemudian meunju pendapa kabupaten untuk menghadiri agenda lainnya. Yakni, pelantikan Penguris Cabang NU Grobogan dilanjutkan dengan pengajian.

Editor : Ali Muntoha

 

Pembakuan Nama Rupabumi di Grobogan Ditarget Kelar Tahun Ini

Suasana rakor pembakuan nama rupabumi untuk empat kecamatan yang dilangsungkan di Ruang Rapat Setda Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana rakor pembakuan nama rupabumi untuk empat kecamatan yang dilangsungkan di Ruang Rapat Setda Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pembakuan nama rupabumi di Kabupaten Grobogan ditarget rampung tahun ini. Untuk itu, pihak desa se-Kabupaten Grobogan diminta melakukan inventarisasi nama rupabumi yang ada di wilayahnya masing-masing. Khususnya, untuk rupabumi yang berasal dari unsur buatan manusia. Hal itu disampaikan Kabag Tata Pemerintahan Susanto saat menggelar rakor pembakuan nama rupabumi di Ruang Rapat Setda Grobogan, Sabtu (4/6/2016).

Susanto menjelaskan, pembakuan nama rupabumi sudah mulai dilakukan tahun 2014. Pada tahun itu, ada 10 kecamatan yang ditetapkan untuk membakukan nama rupabumi. Kemudian tahun 2015 ada 5 kecamatan dan tahun 2016 ini terdapat 4 kecamatan yang diminta melakukan pembakuan nama rupabumi.

“Untuk desa di 15 kecamatan sudah mulai melakukan pembakuan nama rupabumi. Sedangkan desa di empat kecamatan akan melakukan pambakuan nama rupabumi pada tahun ini. Kita targetkan, masalah pembakuan nama rupabumi di semua desa selesai pada tahun 2016 ini. Hasil pembakuan ini nantinya akan kita teliti lebih lanjut sebelum kita serahkan ke provinsi untuk diverifikasi,” jelasnya.

Menurut Susanto, pembakuan nama rupabumi merupakan program nasional yang juga harus dilakukan di daerah. Pembakuan nama ini akan menjadi sumber informasi dan komunikasi dalam pengambilan keputusan serta membantu kerjasama di antara organisasi lokal, nasional dan internasional.

Di samping itu, pembakuan nama juga sebagai upaya melakukan tertib administrasi wilayah pemerintahan, kenyamanan dan ketertiban sosial, membangun karakter bangsa, melestarikan warisan budaya dan membangun jati diri bangsa. Kebijakan ini perlu dilakukan mengingat aset yang dimiliki Negara Indonesia ini sangat luar biasa banyaknya, sehingga perlu diinventarisasi dengan cermat.

“Unsur rupabumi itu ada dua macam, yakni alami dan buatan manusia. Unsur alami seperti gunung, sungai, dan laut. Sedangkan, unsur buatan antara lain jalan, jembatan, waduk, dan bangunan,” kata mantan Kabag Perekonomian itu.

Susanto menambahkan, untuk pembakuan rupabumi unsur buatan manusia nantinya akan dibatasi lima kategori saja. Yakni, dusun, jalan, waduk atau embung, pasar, dan tempat ibadah. Pembakuan nama itu formatnya harus disesuaikan dengan Permendagri Nomor 39 Tahun 2008 tetang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi.

Editor : Kholistiono

 

Ini Dia, Nama-nama Penguasa di Grobogan dari Masa ke Masa

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejak berdiri tahun 1726, sudah banyak nama yang pernah memimpin Kabupaten Grobogan. Untuk jelasnya nama-nama Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Grobogan sejak Adipati Martopuro Tahun 1726 adalah sebagai berikut :

Pada saat ibukota kabupaten menetap di Kota Grobogan
1. Adipati Martopuro atau Adipati Puger (1726)
2. RT. Suryonagoro Suwandi atau RT. Yudonagoro.
3. RT. Kartodirjo (1761 – 1768)
4. RT. Yudonagoro (1768 – 1775)
5. R. Ng. Sorokerti atau RT. Abinaro
6. RT. Yudokerti atau Abinarong II (1787 – 1795)
7. RM. T. Sutoyudo (1795 – 1801)
8. RT. Kartoyudo (1801 – 1815)
9. RT. Sosronagoro I (1815 – 1840)
10. RT. Sosronagoro II (1840 – 1864)

Setelah ibukota kabupaten menetap di Kota Purwodadi Tahun 1864
1. Adipati Martonagoro (1864 – 1875)
2. RM. Adipati Ario Yudonagoro (1875 – 1902)
3. RM. Adipati Ario Haryokusumo (1902 – 1908)
4. Pangeran Ario Sunarto (1908 – 1933), Pencipta Trilogi Pedesaan yaitu di desa-desa harus ada sekolah dasar, balai desa, dan lumbung desa.
5. R. Adipati Ario Sukarman Martohadinegoro (1933 – 1944)
6. R. Sugeng (1944 – 1946)
7. R. Kaseno (1946 -1948). Bupati merangkap ketua KNI.
8. M. Prawoto Sudibyo (1948 – 1949)
9. R. Subroto (1949 – 1950)
10. R. Sadono (1950 – 1954)
11. Haji Andi Patopoi (1954 – 1957). Bupati Kepala Daerah.
12. H. Abdul Hamid sebagai Pejabat Bupati dan Ruslan sebagai Kepala Daerah yang memerintah sama-sama (1957-1958)
13. R. Upoyo Prawirodilogo, Bupati Kepala Daerah merangkap Ketua DPRDGR (1958 – 1964). Bupati inilah yang memprakarsai pembangunan monumen obor Ganefo I di Mrapen.
14. Supangat, Bupati Kepala Daerah merangkap Ketua DPRGR (1964 – 1967).
15. R. Marjaban, Pejabat Bupati Kepala Daerah (1967 – 1970).
16. R. Umar Khasan, Pejabat Bupati Kepala Daerah (1970 – 1974)
17. Kolonel Inf. H. Soegiri, Bupati Kepala Daerah (11 Juli 1974 – 11 Maret 1986)
18. Kolonel H. Mulyono US : Bupati Kepala Daerah (11 Maret 1986 – 11 Maret) 1996.
19. Kolonel Inf. T. Soewito , Bupati Kepala Daerah (11 Maret 1996 – 2001)
20. Agus Supriyanto,SE sebagai Bupati dan H.Bambang Pudjiono,SH sebagai Wakil Bupati Grobogan (11 Maret 2001 -2006)
21. H.Bambang Pudjiono,SH sebagai Bupati dan H.Icek Baskoro,SH sebagai Wakil Bupati Grobogan (2006 – 2011)
22. H.Bambang Pudjiono,SH sebagai Bupati dan H.Icek Baskoro,SH sebagai Wakil Bupati Grobogan (2011 – 2016).
23. Sri Sumarni, SH, MM sebagai Bupati Grobogan periode 2016-2021

Editor : Kholistiono

Ini Kecamatan Terkecil di Kabupaten Grobogan

f-kecamatan grobogan

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Secara administratif, Kabupaten Grobogan terdiri dari 273 desa dan 7 kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan, dengan ibukota kabupaten di Purwodadi.

Kecamatan terbesar adalah Kecamatan Geyer dengan luas 196,19 Km² (9,9%), sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Klambu dengan luas 46,56 Km² (2,2%).

seperti dikutip dari grobogankab.go.id, secara lengkap,berikut ini adalah nama-nama kecamatan yang ada di Grobogan.

Pertama adalah Kecamatan Kedungjati, kemudian Karangayung, Penawangan, Toroh, Geyer, Pulokulon, Kradenan, Gabus, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Purwodadi, Brati, Klambu, Godong, Gubug, Tegowanu dan Tanggungharjo.

Editor : Kholistiono