Gudang Kayu di Jati Kudus Ludes Terbakar

Petugas pemadam dan warga bersama-sama memadamkan gudang kayu di Jati, Kudus, yang terbakar, Rabu (30/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kebakaran besar terjadi di sebuah gudang kayu di Desa Jati Kulon, RT 3 RW 3, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Rabu (30/8/2017) pagi. Api melalap habis seluruh isi gudang hingga menyebabkan kerugian mencapai puluhan juta rupiah.

Beruntung tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun warga sekitar sempat panik khawatir jika api terus membesar dan merembet ke bangunan lain.

Informasi menyebutkan, api mulai membakar gudang sekitar pukul 08.00 WIB. Kebakaran tersebut diduga dipicu tak normalnya mesin oven kayu yang saat itu tengah dioperasikan.

Pemilik gudang, Tri Rudi (40) mengatakan, sebelum kebakaran terjadi, mesin pemanas tersebut tengah digunakan untuk mengeringkan kayu. Namun mesin oven itu bekerja terlalu over, sehingga justru membakar kayu-kayu tersebut.

“Di dalam gudang banyak kayu. Jadinya api yang sudah membakar kayu yang tengah dipanaskan. makin membesar dan sampai membakar kayu lainya. Apalagi pemanas juga masih nyala yang membuat suhu dalam gudang semakin panas,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kayu yang disimpan di dalam gudang sebagian besar merupakan kayu mahoni dari berbagai ukuran. Kayu-kayu tersebut merupakan pesanan dari sejumlah toko meubel yang ada di Kudus.

Ia menaksir, kerugian yang diderita akibat peristiwa itu mencapai sekitar Rp 20 juta. Yakni kerugian kayu yang terbakar sebesar Rp 18 juta, dan bangunan sekitar Rp 2 juta.

Tri Rudi mengakui, kebakaran itu baru diketahui setelah api membesar, dan terlihat dari kejauhan. Sehingga tak bisa ditangani dengan cepat dan meminimalisasi kerugian.

Kebakaran baru berhasil dijinakkan satu jam lebih setelah petugas pemadam kebakaran bersama warga, berjibaku melakukan pemadaman. Sebagian besar isi gudang sudah menjadi arang.

Editor : Ali Muntoha

Petani Tebu di Kudus Ngluruk Istana Negara, Ini yang Mereka Tuntut

Para petani tebu dari Kabupaten Kudus sebelum bertolak ke Jakarta untuk menggelar aksi demo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Puluhan petani tebu dari Kudus, ngluruk ke Jakarta untuk memprotes kebijakan pemerintah mengenai gula, Senin (28/8/2017) hari ini. Mereka bergabung dengan para petani tebu lain dari seluruh Indonesia yang merasa nasibnya tak digubris pemerintah.

Aksi ini digelar lantaran para petani tebu merasa tercekik dengan kebijakan pembelian gula yang sangat murah, dan dibukannya keran impor. Tempat yang bakal menjadi lokasi demo adalah Istana Negara serta kementerian terkait.

Para petani tebu ini bertolak dari Kudus Minggu (27/8/2017) dengan menumpang bus. Mereka mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pembelian gula segarga Rp 11 ribu per kilogram.

Seorang petani yang ikut berangkat, Agus, mengatakan jumlah petani tebu yang ikut aksi asal Kudus sejumlah 49 petani.

“Ada sejumlah tuntutan yang akan kami sampaikan. Seperti halnya meminta pemerintah mengehentikan impor gula ke Indonesia. Khususnya saat musim giling seperti saat ini,” katanya kepada wartawan.

Mereka mendesak pemerintah menghentikan impor gula, lantaran gula produksi petani lokal masih belum terserap.

Ini dikarenakan kebijakan Bulog yang membeli gula jauh di bawah biaya produksi. Agus menyebut, Bulog hanya membeli gula produksi petani seharga Rp 9,7 ribu per kilogram.

Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan mencapai Rp 10,600 per kilogram. Apalagi saat ini menurut dia, kondisi petani tebu tengah terpuruk, lantaran curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu lalu, hingga membuat hasil panen tak maksimal.

“Akibat cuaca kami mengalami rugi banyak. Jika biasanya bisa menghasilkan 1.000-1.200 kuintal per hektare, kini turun menjadi 500-600 kuintal per hektarenya. Apalagi tanaman tebu dalam panen membutuhkan 10 bulan,” ungkap dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, Bulog membeli gula petani masih di bawah   biaya pokok produksi (BPP) Rp10.600 per kilo. Untuk itu, kini petani menolak menjual gula ke perusahaan milik negara itu.

“Pemerintah harus bertindak dengan menghentikan impor gula. Karena hancurnya harga gula disebabkan impor tersebut,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Mereka Memilih Gelar Upacara Kemerdekaan di Bekas Stasiun Wergu Kudus

Upacara bendera untuk memeringati HUT ke-72 Kemerdekaan RI di bekas stasiun Wergu Wetan, Kudus, Kamis (17/8/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Sejumlah komunitas dan warga Desa Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, memilih menggelar upacara kemerdekaan di tempat yang berbeda, Kamis (17/8/2017). Upacara yang digelar secara sederhana itu tak digelar di lapangan seperti umumnya, melainkan di dalam bangunan bekas Stasiun Wergu.

Peserta upcara juga mengenakan kostum-kostum para pejuang. Arief Indaryanto, panitia upacara, ada ratusan peserta yang berasal dari belasan komunitas dan warga Wergu.

“Lebih dari 15 komunitas mengikuti upacara ini. Selain kami dari Karang Taruna, ada komunitas Rumah Dongeng Marwah, Komunikasi Jenang, Pecinta Sejarah, Onto Onto Tok, Kresek, Kudus mengajar dan lainnya,” katanya kepada MuriaNewsCom, Kamis (17/8/2917).

Ia menjelaskan, dipilihnya tempat ini karena bekas stasiun itu merupakan peninggalan Belanda. Dengan menggelar di tempat bersejarah, maka harapannya jiwa kepahlawanan akan mudah muncul, terlebih bagi para kawula muda agar lebih mencintai Indonesia.

Selain itu, lanjut dia, dengan mengajak sejumlah komunitas di Kudus dan warga, rasa persatuan dan kesatuan antarsesama warga juga akan lebih tercipta, sehingga kemerdekaan Indonesia akan tetap terjaga.

Upacara tersebut mampu menarik perhatian banyak warga. Bahkan mereka yang menonton, ikut hormat dan menyanyikan lagu Indonesia raya saat pengibaran bendera dilangsungkan.

Editor : Ali Muntoha