September Krisis Air di Jepara Diprediksi Semakin Parah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air  bersih di Jepara diperkirakan meluas di bulan September 2017. Hal itu disebutkan oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Rabu (30/8/2017). 

Prediksi tersebut dikatakannya melihat kondisi cuaca yang sangat panas dan mentari yang terik. “Diperkirakan pada bulan September akan banyak desa yang mengajukan bantuan air bersih. Hal itu terutama bagi yang menjadi langganan krisis air bersih,” kata dia. 

Menurutnya, saat ini baru tiga desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni Desa Kedung Malang dan Kalianyar yang ada di Kecamatan Kedung dan Raguklampitan di Kecamatan Batealit.

Jamaludin menjelaskan, bantuan air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan pada dua desa di Kecamatan Kedung. Sementara itu di Raguklampitan, droping air dilakukan sebanyak tiga kali dalam sepekan.

Untuk mengatasinya, BPBD Jepara telah menyiapkan khusus untuk memberikan bantuan air bersih. Namun demikian, langkah tersebut dilakukan untuk penanggulangan jangka pendek. Untuk langkah lebih lanjut seperti pembuatan sumur pantek, hal itu belum bisa dilakukan. 

Editor : Ali Muntoha 

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Air Sungai Menghitam, Maryanto Pilih Buang Limbah Tahu Tempe ke Sawah

Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, mengangkut limbah mereka ke sawah, menggunakan tong plastic. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Perajin tahu tempe di Pecangaan Wetan, Jepara, kini memilih membuang limbah mereka ke sawah, daripada dialirkan ke alur Sungai Pecangaan yang juga melintasi Sungai Gede Karangrandu.

Selain menghindari dampak cemaran limbah, hal itu juga dilakukan untuk menhindari adanya potensi konflik dengan warga yang berada di sekitar bantaran sungai.

“Saat ini limbah saya bawa ke sawah milik ayah saya, kemudian di buang kesana. Baru beberapa hari ini. Saya angkut menggunakan tong plastik berukuran besar, lalu dinaikan menggunakan truk atau pikap,” kata Ahmad Maryanto, seorang perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan, Senin (28/8/2017). 

Ia mengatakan, langkah yang ditempuhnya saat ini merupakan inisiatif pribadi. Hal itu karena beberapa warga yang tinggal di sekitar bantaran sudah mengeluhkan bau yang ditimbulkan. 

Maryanto mengatakan, pembuangan limbah tahu-tempe di aliran sungai sudah dilakukan beberapa tahun terakhir.

Hal itu sebenarnya tak menjadi masalah kala saat musim hujan, karena air hujan melarutkan limbah. Namun di kala kemarau seperti, debit air yang menurun dan panas yang menerpa menjadikan sisa produksi tahu tempe tak bisa mengalir lancar. Akibatnya, bau pun meruap. 

Dirinya mengatakan, kapasitas produksi tahu tempe perhari mencapai 2 ton. Adapun limbah yang dihasilkan mencapai 15 tong besar. 

“Kalau kemarin diangkut pakai truk 15 ton bisa sekali angkut. Namun karena truknya saat ini sedang di bengkel, maka dari itu saya gunakan pikap, ya sekali angkut paling-paling tujuh tong harus bolak-balik,” terang dia.

Ditanya mengenai efek limbah yang dibuang ke sawah Maryanto meyakinkan bahwa limbah organik tersebut tak berpengaruh pada ekosistem sawah. Hal itu karena, limbah tahu tempe termasuk organik.

“Bahkan Pak Kades Pecangaan Wetan meminta supaya dibuang ke lahan sawah miliknya. Namun untuk saat ini saya buang ke sawah milik ayah saya dulu,” urainya. 

Terakhir ia mengharapkan agar pemerintah dapat membantu perajin tahu dan tempe dalam mengatasi limbah.

“Harapannya dikasih mobil tanki atau tankinya saja juga tidak apa-apa, setelah itu limbahnya tidak lagi dibuang ke sungai, tapi di tempat lain,” pinta Maryanto.

Editor : Ali Muntoha

Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Idul Adha Sudah Dekat, Tapi Pasar Pon Bangsri Kok Masih Sepi

Pedagang sapi di Pasar Pon Bangsri Jepara, mengeluhkan sepinya pembeli meski Hari Raya Kurban sudah dekat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Harga sapi dan kambing di Pasar Hewan “Pon” Bangsri sudah mulai merangkak naik. Namun demikian, para pedagang mengaku minat pembeli masih lesu, Sabtu (26/8/2017).

Sutoyo seorang pedagang sapi mengatakan, berdasarkan pengalamannya 20 hari menjelang Idhul Adha biasanya pembeli telah menyerbu dagangannya. Namun kini, hingga sepekan jelang hari raya kurban, ia mengeluh sepinya pembeli. 

“Pembelinya masih belum ada peningkatan. Saya belum tahu apa penyebabnya, mungkin karena kondisi ekonomi,” katanya. 

Ia mengatakan, harga sapi jualannya masih relatif terjangkau. Ia memperkirakan mendekati hari raya harga sapi bisa meningkat di atas Rp 20 juta. Untuk jenis sapi segon yang dipunyainya, dijual dengan harga Rp 19,5 juta.

“Kalau yang lebih kecil lagi ya harganya Rp 17,5 juta. Bergantung besar kecilnya sapi,” tuturnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Suwono. Menurutnya, harga sapi berada di kisaran 10-20 juta rupiah per ekor. 

Sementara itu harga kambing ditawarkan Rp 2-5 juta per ekor. Harga tersebut diakui oleh seorang pedagang Kasmuri selisih Rp 500 ribu dari hari biasa. 

“Sekarang harganya ya dua sampai lima juta rupiah untuk yang jantan. Kalau dibandingkan hari biasa ya kacek (selisih) Rp 200-500 ribu,” urainya.

Ia mengungkapkan, Kamis adalah hari terakhir pasaran. Kasmuri berharap dagangannya bisa laku dihari tersebut. “Nanti hari terakhir itu Kamis. Ya kalau bisa laku ya laku, kalau tidak ya tidak,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Maling di Jepara Ini Hanya Butuh 15 Detik untuk Bobol Kunci Sepeda Motor

Pelaku pencurian sepeda motor saat diamankan Polres Jepara, Sabtu (19/8/2017). Mereka dibekuk dalam Operasi Jaran Candi 2017. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Anda tahu berapa waktu yang dibutuhkan maling sepeda motor membobol kunci kontak ketika sedang beraksi? Ternyata hanya butuh hitungan 15 detik, setelahnya mereka langsung menggelandang kabur. 

Hal itu dikatakan seorang maling spesialis roda dua, saat diinterogasi di Polres Jepara. Adalah Mohammad Ardiyan Laksana alias Kethek yang membeberkan rahasia dapurnya, di depan pewarta, Sabtu (19/8/2017).

Ia terjaring operasi dengan sandi Jaran Candi 2017, yang menyasar pencurian sepeda motor (curanmor), yang dilaksanakan selama 20 hari, dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus. Kethek sendiri tertangkap pada Minggu (30/7/2017).

Warga Perumnas Bangsri, Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, itu ketahuan menggondol sebuah motor matic, bermerk Honda Scoopy bernomor K 2718 VQ dengan menggunakan kunci letter T.

“Hanya 15 detik saya bisa melakukan pembobolan kunci, setelah itu saya bawa kabur. Saya melakukan bersama seorang teman saya, saya yang mengawasi dia yang bobol karena dia masih baru,” katanya. 

Dalam melakukan operasinya, ia mengaku terlebih dulu berputar-putar mencari “mangsa”. Ia mengaku mengincar motor yang terparkir didalam rumah namun kondisi lingkungan tengah sepi. 

“Biasanya waktu yang saya gunakan untuk mencuri adalah sehabis maghrib atau diwaktu dhuhur (tengah hari),” ujarnya. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, tersangka terancam hukuman di atas lima tahun akibat perbuatannya.

Editor : Ali Muntoha

Fadhil Tak Menyangka Motornya yang Digondol Maling Bisa Kembali

Penyerahan secara simbolis kendaraan roda dua oleh Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho kepada pemilik. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Reserse Polres Jepara berhasil menangkap 11 tersangka pencurian motor, selama Operasi Jaran Candi 2017. Operasi yang berlangsung selama 20 hari mulai dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus 2017, berhasil mengamankan 12 barang bukti. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, barang bukti tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya, begitu persidangan rampung. Sebanyak 12 barang bukti berupa motor tersebut, telah diklaim oleh pemiliknya.

“Hal itu dibuktikan dengan kepemilikan surat-surat kendaraan dan laporan polisi atas peristiwa kehilangan sepeda motor,” ujarnya Sabtu (19/8/2017).

Dirinya mengatakan, kejahatan pencurian sepeda motor yang berhasil diungkap pada operasi itu, terjadi di hampir seluruh penjuru wilayah. Mulai dari Nalumsari, Jepara kota, Batealit, Pakis Aji, dan Batealit.

Kasat Reserse Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, selain 12 barang bukti yang telah diklaim oleh pemiliknya, masih ada empat sepeda motor yang belum menemukan pemiliknya. Ia mengimbau, bagi yang merasa kehilangan menghubungi kantor polisi terdekat, atau langsung ke Mapolres Jepara.

“Masih ada empat yang belum kita ketemukan pemiliknya. Untuk dapat mengambilnya pemilik cukup membawa bukti kepemilikan berupa BPKB, STNK atau jika masih kredit, ada keterangan dari diler motor. Dan itu tidak dikenakan biaya alias gratis,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Fadhil mengaku senang motornya berhasil ditemukan lagi. Ia sempat menyangka motornya itu tak bakal kembali.

Warga Kudus itu mengatakan, sepeda motornya itu dicuri saat dipakai anaknya melihat pertunjukan musik di daerah perbatasan Jepara-Kudus. “Alhamdulillah bisa ketemu,’ ucapnya singkat.

Editor : Ali Muntoha

Ini Janji Pemkab Jepara Terhadap Penyebab Sumber Menghitamnya Air Sungai Gede Karangrandu

Air Sungai Gede Karangrandu, Jepara menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara masih menunggu hasil uji laboratorium, terkait Sungai Gede Karangrandu yang menghitam.

“Janji dari Cito (laboratorium swasta) akan ada hasilnya dalam rentang sepekan. Pengambilan sampel dilakukan beberapa hari lalu (Kamis, 10/8/2017- red), jadi kami harap Senin (21/8/2017) sudah ada hasilnya,” kata Kepala DLH Jepara Fatkurrahman, saat mendampingi Bupati Jepara inspeksi di alur sungai Pecangaan, Sabtu (19/8/2017). 

Menurutnya, setelah hasil laboratorium keluar, pihaknya akan memberikan rekomendasi kepada pemkab Jepara, terkait langkah selanjutnya. Adapun pengambilan sampel air dilakukan di alur Sungai Pecangaan pada beberapa titik.

Di antaranya tiga kilometer dari pabrik garmen (Jiale), bendungan Pecangaan, titik pabrik tahu tempe dan di Sungai Gede Karangrandu.

“Nantinya setelah hasil uji laboratorium keluar akan menghasilkan rekomendasi. Misalnya jika sumber pencemar itu dari pabrik (garmen-red) kita kan komunikasikan lalu kalau perlu dilakukan tindakan ya kita lakukan tindakan. Sementara kalau itu dari perajin tahu-tempe kita akan support (beri bantuan) berupa IPAL,” kata dia.

Fatkurrahman menyebut, pihaknya sudah pernah memberikan bantuan IPAL pada perajin tahu-tempe. Hanya saja ketika produksi meningkat, upaya perajin untuk memelihara instalasi pengolahan air limbah bantuan pemkab Jepara dinilai kurang. 

“Dulu kita sudah pernah memberi bantuan namun untuk perawatannya oleh masyarakat masih kurang,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

 

Bupati Jepara Telusuri Alur Sungai  Inspeksi Sebab Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama pejabat terkait meninjau air sungai yang menghitam, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama jajaran pemerintah kabupaten, melakukan inspeksi terkait menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Desa Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). 

Memulai inspeksinya, ia bersama Wakil Bupati Dian Kristiandi, Sekretaris Derah Sholih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman, Kabid Pengairan DPU-PR Jepara Ngadimin, Camat Pecangaan Muh Tahsim dan jajaran terkait, menengok bendung Sungai Pecangaan.

Sungai tersebut diketahui satu alur dengan Sungai Gede Karangrandu yang diduga tercemar limbah, dan menjadi hitam. 

Pantauan MuriaNewsCom, kondisi Sungai Pecangaan nampak tidak menghitam. Beberapa biota seperti ikan pun masih nampak berenang. Kemudian, rombongan pun melanjutkan tinjauan ke sentra usaha tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan.

Di sana rombongan disuguhkan pemandangan dan bau menyengat dari sisa produksi tahu tempe, yang dibuang ke alur sungai, yang juga mengalir ke Karangrandu. Dari tempat itu bupati lantas bertolak ke Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

“Hari ini langsung kita ambil tindakan, pintu air (bendungan) yang ada di Karangrandu akan kita buka. Sebelumnya sampah yang ada akan kita bersihkan. Nanti sedimentasi akan kita keruk menggunakan alat berat yang sudah kita bawa. Biar endapan yang ada bisa mengalir lancar,” kata dia. 

Alat berat disiapkan untuk membersihkan Sgai Gede Karangmandu yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

Ditanya pewarta, Marzuqi enggan menyimpulkan biang pencemar sungai di Karangrandu. Namun ia mengaku akan mengambil tindakan, agar warga Desa Karangrandu bisa kembali menikmati air yang sehat, bebas dari cemaran limbah.

“Pabrik tahu-tempe akan kita buatkan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terlepas apakah pencemarnya dari situ atau bukan. Namun IPAL itu bisa bermanfaat untuk pembuatan biogas,” ujarnya. 

Lebih lanjut Marzuqi mengatakan, pemkab akan menunggu hasil laboratorium terkait biang pencemaran lingkungan. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Karangrandu Syahlan mengatakan, solusi tersebut dinilai dapat menyelesaikan masalah yang dialami warganya. 

“Ya senang diperhatikan oleh pemerintah, semoga solusi ini dapat segera meredakan permasalahan warga,” urainya.

Hingga berita ini diturunkan, alat berat yakni ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Jepara tengah melakukan pembersihan di sepanjang bantaran Sungai Gede Karangrandu. Sedimentasi yang ada di sungai pun lantas diangkut menggunakan dua truk besar.

Editor : Ali Muntoha

HNSI Jepara Yakin Pencabutan Solar Subsidi untuk Nelayan Tak Bakal Terjadi

Perahu nelayan tengah antre untuk membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. HSNI Jepara yakin pencabutan solar bersubsidi hanya sekadar wacana. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara tak menganggap serius wacana yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang pencabutan solar bagi nelayan.

“Saya pikir itu hanya sekadar wacana, tidak mungkin mencabut bahan bakar minyak (solar) bersubsidi untuk nelayan. Sampai hari ini kami anggap hal itu masih sebagai wacana,” ucap Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, Rabu (16/8/2017).

Meski demikian, ia menegaskan bahan bakar bersubsidi bagi nelayan masih sangat dibutuhkan. Dirinya menyebut, organisasinya satu kata dalam urusan tersebut.

Hal tersebut juga akan dibahas pada musyawarah nasional HNSI yang akan digelar pada bulan September 2017.

“Rencananya pada bulan September kita akan menggelar Munas. Di sana akan terbuka (pembahasan isu maupun persoalan nelayan). Tapi prinsipnya, dari DPP HNSI sampai dengan DPC sikapnya sama, nelayan harus diberikan BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sudiyatno mengatakan, distribusi solar bagi nelayan di Jepara tidak bermasalah. Dirinya menyebut, dari sekitar empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN) yang ada, sudah mencukupi kebutuhan dan tidak ada kebocoran.

“SPBBN di Ujung Batu, Mlonggo, Donorojo, dan Kedung cukup melayani kebutuhan dan hanya diperuntukan bagi nelayan. Tidak ada kebocoran alias zero persen, karena nelayan kan tahu mana yang nelayan mana yang tidak. Jika harus membeli dari SPBU, pun menggunakan surat keterangan dari dinas terkait dan hal itu lebih disebabkan jika ada ketersendatan bbm,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Lucunya Tingkah Polah Siswa TK-SD di Jepara Berdandan Pahlawan saat Karnaval Kebangsaan

Siswa mengenakan kostum salah satu pahlawan perempuan Jepara Ratu Shima dalam karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia, ribuan murid TK dan SD mengikuti karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017) siang. Mereka mengenakan berbagai kostum yang menyimbolkan adat dan keberagaman yang ada di republik ini. 

Mereka terlihat lucu, dan beberapa kali tingkah polah anak-anak membuat penonton terpingkal-pingkal.

Seperti yang dikenakan oleh siswa-siswi TK Nurul Iman Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara. Selain memamerkan parade siswa yang mengenakan seragam merah putih, mereka juga menampilkan sosok pahlawan perempuan Jepara yakni, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.

Selain itu mereka juga mengingatkan mengenai belum tuntasnya perjuangan para pahlawan, melalui sebuah tulisan.  “Kami telah berjuang kini saatnya kalian meneruskan perjuangan kami,” bunyi tulisan yang diusung murid taman kanak-kanak tersebut. 

Dalam daftar panitia, ada 62 sekolah setingkat TK atau Paud yang ikut serta. Mereka berasal dari Kota Jepara dan daerah satelit, seperti Tahunan dan Kedung. Sementara itu pada kategori SD ada 41 sekolahan yang mengikuti karnaval tersebut.

Setelah memamerkan busana dan kebolehannya di depan unsur Muspida Kabupaten Jepara, mereka akan berjalan sesuai rute. Untuk kategori TK dan Paud akan melintasi jalur sepanjang 600 meter, dari alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran dan Jl AR Hakim. Sementara untuk SD menempuh jarak sepanjang satu kilometer, dari Alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl AR Hakim dan berakhir di Sanggar Pramuka.

Kabid Pemasaran  Wisata Florentina Budi Kurniawati mengatakan kegiatan tersebut bertema mengangkat produk unggulan dan potensi Jepara. Hal itu dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat mengetahui segala potensi yang dimiliki oleh kabupaten di pesisir utara pulau Jawa tersebut. 

“Hal itu mengandung maksud, jika masyarakat mengenal potensi yang dimilikinya, maka masyarakat ikut membangun negara, dengan memaksimalkan berbagai macam potensi daerah yang dipunyai. Selain itu, kami juga ingin untuk menggali kreatifitas dan masyarakat secara umum,” ungkap Florentina.

Editor : Ali Muntoha