Bupati Grobogan Minta CSR Perusahaan Juga untuk Bangun Infrastruktur

Bupati Grobogan Sri Sumarni menyerahkan bantuan paket gizi untuk siswa SD di Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni meminta agar perusahaan yang ada di wilayahnya bisa menyisihkan sebagian dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pembangunan infrastruktur.

Hal itu disampaikan Sri Sumarni saat menghadiri acara Japfa4Kids yang diselenggarakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk unit Grobogan, yang dilangsungkan di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Rabu (30/8/2017).

Menurut Sri, upaya yang dilakukan PT Japfa sejauh ini dinilai sudah cukup bagus. Yakni, berkomiten terhadap dunia pendidikan dan penambahan gizi siswa SD dari alokasi dana CSR.

Meski demikian, ia berharap agar sebagian dana CRS bisa disalurkan untuk pekerjaan fisik. Misalnya, mendukung perbaikan jalan kampung, membuat taman bermain anak-anak dan bedah rumah tidak layak huni.

“Harapan saya, dana CSR perusahaan bisa disalurkan untuk kegiatan fisik. Terutama, di wilayah tempat perusahaan itu berdiri. Jika ini dilakukan maka ada manfaat langsung yang akan dirasakan masyarakat di sekitar perusahaan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dilakukan pula acara penyerahan berbagai bantuan pada sekolah dan siswa. Antara lain, paket gizi, pelengkapan P3K, alat pengukur tinggi dan berat badan. Selain itu, acara juga dimeriahkan gebyar budaya, lomba masak, lomba catur dan pemeriksaan kesehatan.

Editor : Ali Muntoha

Lebih Banyak Cewek yang Daftar Duta Wisata Grobogan, Cowoknya ke Mana?

Pemilihan Duta Wisata Grobogan 2016 lalu. Tahun ini jumlah pendaftar antara Mas dan Mbak Grobogan justru tak seimbang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ajang pemilihan Duta Wisata Grobogan 2017 tampaknya bakal sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena, pendaftar untuk kategori Mas Grobogan jumlahnya lebih kecil dibandingkan peminat kategori Mbak Grobogan.

Masa pendaftaran peserta Duta Wisata Grobogan sudah ditutup 25 Agustus 2017 lalu. Sampai hari terakhir, total ada 30 pendaftar.

Rinciannya, 20 pendaftar adalah wanita dan 10 pria. Para pendaftar ini sebagian besar merupakan pelajar SMA dari beberapa sekolah di Grobogan.

“Untuk tahun ini, jumlah pendaftar pria memang lebih sedikit. Yakni, hanya 10 orang saja. Kalau pendaftar wanita jumlahnya dua kalinya. Tahun sebelumnya, jumlah pendaftar pria dan wanita ini berimbang,” kata Kabid Pariwisata Disporabudpar Grobogan Jamiat, Selasa (29/8/2017).

Jumlah pendaftar tahun ini juga lebih sedikit dari tahun sebelumnya yang mencapai 50 orang. Hal ini terjadi karena pihak panitia memang membatasi jumlah peserta maksimal hanya 30 orang saja.

Pembatasan itu dilakukan supaya pelaksanaannya bisa cepat waktunya serta lebih efektif dan efisien.

“Kalau pesertanya terlalu banyak, acaranya baru selesai hingga lewat tengah malam. Oleh sebab itu, jumlah pesertanya kita batasi hanya 30 orang saja. Untuk grand final pemilihan duta wisata akan dilangsungkan 9 September 2017 di pendapa,” kata Jamiat.

Editor : Ali Muntoha

4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Beginilah penampakan kobaran api yang membakar kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran menimpa kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. Meski tidak ada korban jiwa. namun kebakaran ini sempat membuat panik warga dan pengendara yang melintas di jalur Purwodadi-Solo.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui selepas Magrib, sekitar pukul 18.15 WIB. Banyaknya dedaunan dan ranting kering menyebabkan kobaran api cepat membesar.

Beberapa warga yang melihat ada kebakaran di wilayah hutan langsung menghubungi kantor pemadam. Sekitar 30 menit kemudian, tiga mobil damkar sudah tiba di lokasi kejadian.

Aksi pemadaman berlangsung hampir dua jam lamanya. Dalam pemadaman ini, petugas damkar juga mendapat dukungan dari anggota Koramil dan Polsek Geyer serta puluhan warga sekitar kawasan hutan.

“Ada puluhan warga yang ikut membantu memadamkan api. Upaya pemadaman juga didukung dari TNI dan Polisi,” kata Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran tersebut.

Petugas pemadam kebakaran dibantu warga mencoba menjinakkan api yang membakar hutan Perhutani di Gundih, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat pemadaman dilakukan, arus lalu lintas dari kedua arah sempat tersendat karena kendaraan harus berjalan pelan dan bergantian.

Sebelum kebakaran dipadamkan, para pengendara sempat terganggu kepulan asap. Hal ini terjadi karena lokasi kebakaran hanya berjarak beberapa meter di sebelah timur jalan Purwodadi-Solo km 16.

Camat Geyer Aries Ponco ketika dimintai komentarnya menyatakan, kebakaran terjadi di petak 103 B yang masuk wilayah Desa/Kecamatan Geyer. Berdasarkan perkiraan sementara, luas areal hutan yang terbakar sekitar 4 hektare.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Kalau ingin dapat informasi lebih lanjut bisa dikoordinasikan dengan pihak KPH Gundih,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Nah…Sekarang Mobil Sudah Tak Bisa Lagi Keluyuran di Lapangan Alun-alun Purwodadi

Dua pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Grobogan sedang memperkuat tiang penyangga portal di pintu masuk Alun-alun Purwodadi sisi utara. (MuriaNewsCom/Dhani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan- Sorotan terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lapangan Alun-alun Purwodadi langsung disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan.

Guna mencegah masuknya kendaraan, pihak DLH akhirnya membuatkan portal permanen di pintu masuk sebelah utara.

Kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara yang ada di seberang kantor DPRD Grobogan. Sebelumnya, di pintu ini sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Dari pantauan di lapangan, terlihat masih ada dua orang yang sedang memperkuat tiang penyangga portal dengan semen. Portal yang dipasang terbuat dari pipa besi.

Di atas pipa besi yang posisinya melintang diberi gerigi cukup tajam. Gerigi tajam ini dipasang supaya pipa besi tidak dipakai duduk orang.

Sekretaris DLH Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pemasangan portal dilakukan supaya sepeda motor maupun mobil tidak masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Akses masuk ke dalam alun-alun lewatnya pintu utara. Akhirnya, kita pasang portal supaya kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya, Selasa (22/8/2017).

Baca juga : Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Sebelumnya, banyaknya kendaraan yang bebas keluar masuk alun-alun sempat mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Grobogan. Anggota dewan meminta agar hal itu segera disikapi dengan tegas, karena semua kendaraan bermotor sudah disiapkan lahan parkir di sekeliling alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Edi sedang menata paralon untuk irigasi sprinkler yang dibangunnya menggunakan dana hingga Rp 80 juta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sistem irigasi sprinkler yang dibuat petani muda asal Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, Edi Sukamto, diklaim mempunyai keunggulan tersendiri. Selain memangkas biaya produksi hingga separuh, ada banyak keuntungan yang lain.

Edi menyebut, keuntungan lain dengan irigasi ini adalah kondisi tanah bisa terjaga dengan baik. Soalnya, tanah tidak menjadi padat, karena sering dinjak-injak banyak orang saat proses penyiraman dan perawatan, seperti saat proses manual.

Meski banyak keuntungan, namun tidak semua petani melengkapi sawahnya dengan irigasi sprinkler. Salah satu kendalanya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Untuk membangun jaringan irigasi itu, Edi mengaku sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 80 juta buat beli paralon, perlengkapan lainnya dan biaya pemasangan.

Uang sebanyak ini, paling banyak digunakan untuk membeli paralon atau pipa plastik berbagai ukuran. Jumlah paralon yang dipasang sekitar 2.500 batang.

Biaya pembuatan irigasi masih bisa bertambah untuk membeli mesin sedot dan selang plastik. Kebetulan, Edi sudah sebelumnya sudah memiliki peralatan ini, sehingga tidak butuh budjet baru untuk membeli.

“Kalau dilihat sepintas, biaya pembuatan irigasi memang terbilang sangat mahal. Tetapi kalau dikalkulasi sebenarnya malah murah. Soalnya, jaringan irigasi ini bisa digunakan minimal 5 tahun. Yang berat adalah ongkos bikin pertama,” katanya, sebelum mengajak jalan-jalan mengelilingi areal sawahnya.

Baca juga : Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Pembuatan irigasi sprinkler itu sudah dilakukan awal tahun 2017 lalu. Saat itu, air yang keluar dari irigasi digunakan untuk menyiram tanaman bawang merah. Setelah panen bawang merah, areal sawah ganti ditanami cabai.

Edi mengaku, selama menggunakan irigasi tersebut, belum menemukan kendala serius. Hanya saja, salah satu hal yang dinilai cukup berat adalah proses pengambilan air baku. Soalnya, air baku harus diambil dari Sungai Serang yang lokasinya berjarak sekitar 2 km dari sawahnya.

Pengambilan air dari sungai dilakukan dengan mesin sedot dan airnya dialirkan lewat selang besar menuju pipa besar yang berfungsi sebagai transmisi. Setelah itu, air dibagi lewat jaringan yang sudah tersedia di lahan sawahnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani di Grobogan Ini Rela Habiskan Puluhan Juta untuk Bikin Irigasi Modern, Hasilnya Mengejutkan

Edi tengah memeriksa jaringan paralon dalam irigasi modern sprinkler di ladangnya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemanfaatan teknologi untuk membuat sebuah sistim irigasi mulai dilakukan petani di Grobogan. Salah satu pelakunya adalah Edi Sukamto, petani di Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi, Grobogan. Meski harus mengeluarkan puluhan juta rupiah, namun hasil yang didapatkan cukup luar biasa.

Untuk memudahkan budidaya tanamannya, petani berusia 37 tahun itu membangun sistim irigasi yang dikenal dengan nama sprinkler. Irigasi sprinkler merupakan suatu metode irigasi yang fleksibel.

“Irigasi sprinkler tidak hanya digunakan untuk menyiram tanaman saja. Tetapi juga dapat dipakai untuk pemupukan dan pengobatan. Irigasi sprinkler juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban tanah dan mengontrol kondisi iklim sesuai dengan kondisi tanaman,” ujar Edi saat ditemui di lokasi sawahnya yang berada di sebelah selatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Purwodadi itu.

Areal sawah Edi luasnya sekitar 4 hektare. Saat ini, lahan sawahnya dipenuhi tanaman cabai yang berusia sekitar 2 bulan.

Pada areal sawahnya terpasang banyak sekali paralon plastik berbagai ukuran. Selain dipasang menyusuri lahan, banyak juga pipa yang dipasang dengan posisi berdiri dan di atasnya diberi kran khusus.

Fungsi kran ini untuk menyemprotkan air pada tanaman di sekitarnya. Saat proses penyiraman, airnya keluar berputar dari kran dan bentuknya seperti curah hujan.

Baca juga : Ini Keuntungan Iringasi Sprinkler yang Dibuat Petani Muda Grobogan

Selain memudahkan proses penyiraman dan perawatan, dengan irigasi berbasis teknologi ini bisa menghemat biaya dibandingkan menggunakan penyiraman manual. Penghematan biaya dikalkulasi bisa sampai 50 persen, karena tidak butuh banyak tenaga kerja.

“Sebelum pakai irigasi sprinkler saya butuh 30 tenaga kerja khusus untuk menyiram tanaman. Dengan tenaga sebanyak ini, butuh waktu penyiraman sampai 2 hari. Sekarang, tenaga kerjanya hanya beberapa orang saja untuk mengawasi kerja sprinkler saat menyentorkan air dan mengoperasikan mesin sedot,” jelas Edi.

Editor : Ali Muntoha

Pamit Ngarit di Hutan, Perempuan dari Sumberagung Grobogan Ini Berhari-hari Tak Pulang

Sutimah (35), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan yang dilaporkan hilang setelah sebelumnya pamit mau cari rumput. (Dokumen keluarga)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Sumberagung, Kecamatan Ngaringan, Grobogan dibikin geger dalam tiga hari terakhir. Hal ini terkait hilangnya Sutimah (35), salah satu warga yang tinggal di Dusun Ngrejah.

Kades Sumberagung Rusno ketika dikonfirmasi membenarkan kalau ada warganya yang dilaporkan hilang. Bahkan, pihak keluarga juga sudah melaporkan hilangnya ibu dua anak itu pada pihak kepolisian.

Tidak hanya itu, upaya untuk mengabarkan hilangnya warga itu juga dilakukan lewat medsos. Yakni, menyampaikan informasi soal hilangnya Sutimah disertai fotonya.

“Sudah kita laporkan dan pencarian jejak lewat medos juga sudah dilakukan. Semoga, keberadaannya bisa segera terlacak,” jelasnya, Sabtu (19/8/2017).

Rusno menjelaskan, hari Kamis (17/8/2017) sekitar pukul 06.00 WIB, Sutimah pamit pada suami dan anaknya untuk pergi mencari rumput atau ngarit di pinggiran hutan di sebelah barat Dusun Ngrenjah.

Aktivitas ngarit di pinggiran hutan yang berbatasan dengan wilayah Todanan, Blora itu sudah biasa dilakukan sejak lama.

Hingga tengah hari, Sutimah belum juga pulang sehingga membuat resah pihak keluarganya. Akhirnya, suami Sutimah dan beberapa kerabatnya mencoba menyusul ke kawasan hutan. Namun setelah menyisir lokasi hingga masuk ke tengah hutan, keberadaan Sutimah tidak juga ditemukan.

“Begitu dapat kabar ada orang hilang, banyak warga ikut melakukan pencarian hingga ke wilayah Blora yang lokasinya memang berbatasan dengan Desa Sumberagung. Namun, hingga tiga hari ini hasilnya masih nihil,” sambung Rusno.

Editor : Ali Muntoha

Pejabat di Grobogan Terpukau Kisah Perjuangan Kapten Roesdijat di Malam Tirakatan

Salah satu tokoh masyarakat Grobogan Kolonel (purn) Iwan Supardji menyampaikan kisah perjuangan Kapten Roesdijat pada malam tirakatan di pendapa Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang puncak peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI hari ini, para pejabat dilingkup Pemkab Grobogan menggelar malam tirakatan di pendapa kabupaten, Rabu (16/8/2017) malam.

Bupati Grobogan Sri Sumarni didampingi para pimpinan FKPD dan para pejabat hadir dalam acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu.

Selain itu, sejumlah tokoh masyarakat, ormas dan veteran ikut pula menghadiri malam tirakatan. Acara diawali dengan laporan dari Kepala Kemenag Grobogan Hambali selaku ketua panitia malam tirakatan.

Dalam kesempatan itu, para undangan berkesempatan mendengarkan cerita mengenai kisah perjuangan mengusir penjajah di wilayah Grobogan. Cerita perjuangan itu disampaikan salah satu tokoh masyarakat, yakni Kolonel (purn) Iwan Supardji yang pernah menjabat jadi Dandim 0717/Purwodadi.

“Kali ini saya ingin menyampaikan kisah perjuangan mengusir penjajah di Grobogan yang dilakukan Kapten Roesdijat. Beliau ini adalah orang asli Grobogan yang gigih dalam mengusir penjajah,” katanya.

Meski namanya tidak dikenal luas seperti pahlawan besar lainnya, namun Kapten Roesdijat yang lahir di Desa Katong sempat punya kisah heroik sekitar tahun 1947 – 1948. Yakni, saat berlangsung agresi militer Belanda kedua.

Pada saat itu, Kapten Roesdijat bersama rekan-rekannya berjuang sekuat tenaga untuk mengusir penjajah yang masuk di wilayah Grobogan. Khususnya, di Kecamatan Toroh.

Dalam peristiwa itu, Kapten Roesdijat yang lahir tahun 1917 akhirnya gugur dan kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Katong, Kecamatan Toroh.

“Sebagai salah satu bentuk penghargaan, Pemkab Grobogan mengabadikan namanya sebagai nama jalan,” jelas Iwan.

Sementara itu, Bupati Sri Sumarni dalam sambutannya mengajak seluruh peserta tirakatan dan masyarakat luas untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan tersebut. Sebab, melalui kemerdekaan itulah Bangsa Indonesia bisa terbebas dari penderitaan penjajah.

Dia menyatakan, memaknai suatu peringatan ulang tahun, seyogyanya digunakan untuk melakukan refleksi diri, merenung dan instrospeksi apa yang telah diperbuat selama satu tahun terakhi. Untuk selanjutnya semua pihak diminta merancang dan menyusun langkah-langkah perbaikan di berbagai bidang.

Editor : Ali Muntoha

Ternyata Pernah Ada Bencana Besar di Lokasi Penemuan Fosil Gajah Purba di Banjarejo

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi (kanan) berbincang dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di lokasi penemuan fosil gajah purba, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri yang terjadi di lokasi penemuan fosil gajah purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai terkuak. Antara lain, pada ratusan ribu tahun lalu diperkirakan sempat ada peristiwa bencana alam di sekitar lokasi yang letaknya agak berada di ketinggian atau perbukitan tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

“Penelitian masih kita lakukan. Tapi dari analisa sementara, potensi adanya bencana longsor di lokasi ini cukup besar,” jelasnya.

Menurut Sukron, adanya bencana alam diperkuat ketika lokasi penggalian diperlebar hingga berukuran sekitar 12 x 12 meter. Saat proses pelebaran ini berhasil ditemukan lagi sejumlah fosil dari beberapa spesies hewan purba.

Sebelum diperlebar, di lokasi tersebut hanya terlihat fosil satu spesies saja, yakni gajah purba. Setelah pelebaran areal, muncul potongan fosil dari spesies baru. Antara lain, banteng, dan buaya dengan berbagai ukuran.

Penemuan fosil spesies baru itu posisinya berdekatan atau berkumpul dengan fosil gajah purba. Kondisi ini diperkirakan bisa terjadi akibat hewan-hewan itu sebelumnya tertimbun longsoran, sehingga bisa terkumpul dalam satu lokasi.

Misteri lain yang berhasil terungkap adalah kepastian jenis gajah purba. Sebelumnya, fosil itu dinyatakan milik gajah purba jenis stegodon. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, fosil itu berasal dari gajah purba jenis elephas.

“Fosilnya bisa kita pastikan milik elephas. Hewan purba ini lebih muda dari Stegodon. Usianya diperkirakan sekitar 400 ribu tahun,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji Grobogan Diminta Jangan Banyak Protes, Bupati : Harus Ikhlas

Beberapa jemaah haji terpaksa harus dibantu kursi roda saat diberangkatkan menuju Asrama Haji Donohudan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Banyaknya jemaah haji lanjut usia (lansia) yang berangkat tahun ini mendapat perhatian serius dari Bupati Grobogan Sri Sumarni. Terkait kondisi itu, Sri Sumarni berpesan pada petugas pendamping, ketua rombongan dan ketua regu supaya menaruh perhatian lebih.

Pesan itu disampaikan saat Sri Sumarni melepas keberangkatan jemaah haji Grobogan Kloter 65 menuju Donohudan, Rabu (16/8/2017) dinihari.

“Tugas pendamping haji ini sangat berat. Untuk itu, saya minta agar para petugas ini bisa bersikap sabar dan amanah selama menjalankan tugas. Terutama, pada jemaah yang sudah usia lanjut,” pesannya.

Dari pantauan di lokasi pemberangkatan, memang cukup banyak jemaah haji yang masuk kategori lansia. Sebagian ada yang berangkat bersama keluarganya. Namun, ada pula yang berangkat sendirian. Jumlah jemaah Kloter 65 totalnya ada 353 orang.

Dalam kesempatan itu, Sri Sumarni meminta para calon haji (calhaj) untuk bersikap ikhlas selama berada di Tanah Suci nanti. Apapun fasilitas yang diterima hendaknya tetap disyukuri dan sebisa mungkin jangan melakukan protes. Misalnya, dalam hal pemondokan atau menu makanan yang akan didapat selama melaksanakan ibadah haji nanti.

“Keberangkatan ke Tanah Suci ini untuk melaksanakan ibadah. Jadi, sebaiknya konsentrasi penuh agar bisa melaksanakan ibadah semaksimal mungkin. Selama di Tanah Suci nanti harus lebih banyak ikhlas dan bersabar. Kalau ada yang diperlukan langsung hubungi petugasnya,” kata mantan Ketua DPRD Grobogan itu.

Sementara itu, setelah Kloter 65 berangkat, sekitar pukul 09.00 WIB dilangsungkan lagi pemberangkatan jemaah haji. Yakni, rombongan jemaah haji Grobogan terakhir yang tergabung dalam Kloter 66.

Jumlah jemaah Kloter 66 ini totalnya ada 353 orang. Pemberangkatan jemaah haji Kloter 66 dipimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono.

“Jumlah kloter Grobogan ada empat. Yakni, Kloter 17, 64, 65 dan 66. Jumlah jemaah keseluruhan ada 977 orang,” jelas Kepala Kakemenag Grobogan Hambali.

Ditambahkan, jemaah haji Kloter 17 dan 65 diisi sebanyak 355 orang yang seluruhnya dari Grobogan. Kemudian, ada 136 orang masuk Kloter 64 dan 221 orang ikut Kloter 66. Untuk Kloter 64 bergabung dengan jemaah Kabupaten Semarang dan Kloter 66 gabung Kota Semarang.

Editor : Ali Muntoha

Bupati Grobogan Targetkan 2 Poktan ini Bisa Jadi Juara Nasional

Bupati Grobogan Sri Sumarni didampingi Kadinas Pertanian Edhie Sudaryanto berfoto dengan Ketua Kelompok Tani berprestasi tingkat Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bupati Grobogan Sri Sumarni memberikan apresiasi terhadap keberhasilan dua kelompok tani (Poktan) yang menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Provinsi Jateng.

Yakni, Poktan Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi yang meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai. Satu lagi adalah Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan yang meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas padi.

Atas prestasi tersebut, bupati langsung menyempatkan waktu untuk menerima kedua ketua Poktan di ruang kerjanya, setelah mereka pulang dari acara penyerahan piagam dan hadiah di Semarang.

“Sebenarnya, saya ingin mendampingi saat penyerahan penghargaan yang dilakukan oleh Pak Gubernur di Semarang. Namun, berhubung hari ini tadi ada agenda rapat paripurna maka saya tidak bisa ikut mendampingi. Baru setelah selesai paripurna saya ingin ketemu dengan Ketua Kelompok Tani berprestasi ini,” katanya, Selasa (15/8/2017).

Pertemuan dengan Ketua Poktan Maju Guseri dan Ketua Poktan Ngudi Rejeki I Darwoto dilangsungkan di ruang kerja Sri Sumarni. Hadir pula dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto.

Sri Sumarni menilai, prestasi yang diraih kedua poktan itu dinilai sangat membanggakan. Sebab, untuk bisa jadi juara dalam lomba itu banyak aspek penilaiannya dan bersaing dengan banyak kelompok lain dari seluruh Jawa Tengah.

Dalam kesempatan itu, ia berharap agar kinerja kedua poktan itu bisa terus ditingkatkan. Sebab, kedua poktan itu ditargetkan bisa meraih prestasi di level nasional.

“Jangan tanggung-tanggung. Untuk lomba tingkat nasional, kedua kelompok ini harus bisa jadi juara I. Oleh sebab itu, segera dipersiapkan dan dibenahi apa yang masih kurang,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jembatan Ini Membahayakan, Tapi Warga Kedungjati Grobogan Terpaksa Tetap Menggunakannya

Kondisi jembatan penghubung antara Desa Kitikan dan Desa Deras di Kecamatan Kedungjati, Grobogan terlihat melengkung akibat satu pilar penyangganya roboh diterjang banjir bandang tahun 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain jalan, Pemkab Grobogan tampaknya perlu menaruh perhatian lebih dengan masalah perbaikan jembatan. Sebab, sejauh ini banyak jembatan yang kondisinya mengenaskan tetapi masih tetap digunakan sebagai akses transportasi warga setempat.

Salah satunya adalah jembatan penghubung antara Desa Deras dan Desa Klitikan, di Kecamatan Kedungjati, Grobogan. Saat ini, kondisi jembatan terlihat melengkung karena satu pilarnya roboh.

Jembatan sepanjang 30 meter itu memiliki dua pilar penyangga yang dibuat dengan konstruksi beton. Satu pilar terlihat masih kokoh dan satu lagi roboh.

Dari keterangan warga, satu pilar itu roboh diterjang banjir pada tahun 2015 lalu. Agar tetap bisa digunakan, pilar yang roboh ditopang kayu seadanya.

Karena penanganan darurat, kondisi jembatan terlihat melengkung kareda beda tinggi di kedua sisi. Meski begitu, warga tetap berani melintas karena jembatan itu jadi akses terdekat.

“Tiap hari, jembatan ini masih bisa dilalui sepeda motor meski harus hati-hati. Kalau mobil tidak bisa dan harus memutar sekitar dua kilometer,” kata Haryadi, warga setempat.

Jembatan tersebut membentang di atas Kali Temuireng yang merupakan anakan Sungai Tuntang. Kecuali pilar, kayu yang dipakai jembatan sebagain besar kondisinya masih cukup kuat.

Kepala Desa Deras Rusdi mengatakan, tidak lama setelah pilar roboh, pihaknya sudah mengusulkan pada instansi terkait untuk diperbaiki. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Upaya yang dilakukan hanya sebatas memasang kayu sebagai penyangga darurat.

“Penanganan jembatan hanya perlu perbaikan pilar yang roboh. Pilar yang satunya masih kuat kondisinya,” jelasnya, Senin (14/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Kendaraan roda empat yang masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi mendapat sorotan anggota DPRD Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah anggota DPRD Grobogan menyoroti makin bebasnya kendaraan keluar masuk ke dalam kawasan Alun-alun Purwodadi. Sorotan itu dilontarkan karena sebelumnya sudah ditegaskan kalau bagian dalam alun-alun termasuk lapangan harus steril dari kendaraan.

Bahkan, sepeda motor pun dilarang masuk ke alun-alun. Kebijakan itu dilakukan supaya tidak merusak konstruksi bangunan dan lapangan.

“Akhir-akhir ini, ada keluhan kalau motor, mobil, bahkan truk masuk ke dalam alun-alun. Harusnya ini tidak boleh,” tegas Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo, Jumat (11/8/2017).

Senada dengan Budi, anggota Komisi A Sukanto juga mempertanyakan bebasnya beragam jenis kendaraan masuk ke dalam alun-alun. Jika hal itu tidak segera disikapi dengan tegas, maka kendaraan yang masuk ke dalam alun-alun pasti makin banyak.

“Semua kendaraan bermotor harus parkir di sekeliling alun-alun yang lokasinya sudah disiapkan. Nanti, saya akan minta penjelasan dari dinas terkait yang menangani alun-alun,” cetusnya.

Informasi yang didapat menyebutkan, kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara di seberang kantor DPRD Grobogan. Di pintu ini sebenarnya sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman M Chanief  saat dimintai tanggapannya menyatakan, kendaraan bermotor memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Saat ini pengelolaan alun-alun sudah ada pada Dinas Linkungan Hidup. Nanti, akan kita koordinasikan supaya memasang portal permanen di pintu utara agar kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya.

 Editor : Ali Muntoha

Warga Jambangan Grobogan Tewas Tersengat Listik Saat Taruh Handuk

ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang tewas tersengat listrik terjadi di Dusun Duro, Desa Jambangan, Kecamatan Geyer, Mingggu (23/4/2017). Korban tewas diketahui bernama Karni (45), warga setempat yang tinggal di wilayah RT 08, RW 04.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelum kejadian, korban sempat mandi di kamar mandi yang ada di dalam rumah.

Setelah selesai, korban bermaksud menaruh handuk yang dipakai pada seutas kawat tembaga di dekat kamar mandi. Sehari-hari, kawat yang dikaitkan di antara belandar rumah tersebut, memang digunakan untuk menaruh jemuran.

Saat menaruh handuk yang masih basah itulah, korban terkena sengatan listrik. Tidak lama kemudian, salah seorang anak korban Hidayatun Nafiah (20), yang mengetah

ui kejadian itu berupaya menolong. Namun, saat memegang tubuh ibunya, Hidayatun langsung terpental.

Selanjutnya, ia segera lari keluar rumah dan berteriak minta tolong warga. Saat warga berdatangan, posisi korban sudah jatuh tertelungkup. Ketika diperiksa, ternyata kondisinya sudah meninggal dunia.

Kapolsek Geyer AKP Sudarsono ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda kekerasan pada tubuh korban. Saat dilakukan olah tempat kejadian perkara, ditemukan ada kabel yang terkelupas dan posisinya tepat diatas kawat jemuran yang dililitkan pada belandar rumah.

“Ada kabel terkelupas diatas lilitan kawat jemuran. Korban meninggal karena kena aliran listrik saat menaruh handuk yang masih basah. Usai diperiksa, jenazah sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha