Sampah Sisa Karnaval di Jepara Bikin Kotor Alun-alun

Tampak salah satu titik di Alun-alun Jepara yang dipenuhi sampah sisa karnaval. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval HUT RI Ke 72 di Jepara memang meriah, tapi setelah even rampung sampah sisa dari penonton, selalu bertebaran. Meskipun langsung dibersihkan oleh petugas, namun hal itu mengindikasikan masih rendahnya kesadaran warga akan kebersihan. 

“Pasti sehabis acara ada sampah yang bertebaran. Padahal di sudut-sudut alun-alun sudah disediakan tempat sampah. Namun kenyataannya, sampah lebih banyak berserakan di jalan, dibanding dibuang di tempat yang telah disediakan,” ucap Ahmad Suyudi, petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Jepara, Selasa (15/8/2017).

Ia mengatakan, hal itu karena rendahnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya. Hal itu diindikasikan dengan banyaknya sampah umum yang berserakan setelah acara. 

Dalam dua hari pelaksanaan karnaval, sampah yang dikumpulkan diangkut dengan tiga truk pengangkut sampah. Sementara itu, jumlah petugas yang diturunkan mencapai puluhan orang. 

Hal itu dibenarkan oleh mandor pemungutan sampah Mulyono, ia mengatakan di Alun-alun Jepara ada sekitar 40 tong sampah. Namun fasilitas itu ternyata kurang dimanfaatkan oleh warga. 

“Sebenarnya fasilitas itu (tempat sampah) cukup untuk menampung sampah masyarakat. Namun kesadarannya akan kebersihan masih rendah, akhirnya kami dari dinas yang harus turun tangan,” ujarnya. 

Seorang warga Alvin mengakui hal itu. Menurutnya, kesadaran  masyarakat membuang sampah di tempatnya memang masih rendah. “Ya memang kesadarannya masih kurang. Buktinya masih banyak sampah bertebaran sehabis acara seperti ini. Saya sendiri punya usul, jika memang saat punya sampah tapi tak didekat tempat sampah, ya sebaiknya bawa dulu sampai menemukan tong sampah,” ungkapnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ingatkan Perjuangan Pahlawan Lewat Karnaval di Jepara

Peserta Karnaval Kebangsaan tampil dengan tema Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Karnaval peringatan HUT RI ke 72 kembali digelar, Selasa (15/8/2017). Setelah sehari sebelumnya diikuti anak-anak TK dan Paud, kini pesertanya adalah pelajar tingkat SMP,SMA dan perwakilan dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada di lingkungan Pemkab Jepara. 

Diikuti 43 kelompok, karnaval itu menempuh jarak sepanjang 2,5 kilometer. Dimulai dari Alun-alun Jepara, Jalan Veteran, Jalan dr Soetomo, lanjut ke Jalan Ki Mangun Sarkoro, Jala nMH Thamrin memutari Jalan Brigjend Katamso dan berakhir kembali di alun-alun. 

Tidak hanya karnaval biasa, namun acara itu juga melombakan kreasi dari para peserta sesuai dengan tema yang dicanangkan panitia. Hal itu dikatakan oleh Kasi Kesenian Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Joko. Ia mengatakan, tiap kelompok diikuti maksimal 300 orang. 

“Temanya mengangkat potensi yang ada di tiap daerah, sama dengan tahun-tahun yang lalu, namun pesertanya yang jauh lebih banyak dan meriah,” katanya. 

Ia mengungkapkan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin agar para peserta dan masyarakat Jepara pada umumnya mengingat perjuangan para pahlawan. Di samping itu, pihaknya ingin agar dengan kreativitas yang dimiliki oleh para peserta dapat menjadi modal mengisi alam kemerdekaan. 

Editor : Akrom Hazami

 

Eloknya Bunga Kedamaian dari SMAN I Jepara


Peserta Karnaval Kebangsaan tampil dengan tema Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Berbagai penampilan disajikan peserta Karnaval Kebangsaan dalam memperingati HUT ke 72 RI di Jepara. Satu di antaranya performance dari SMAN I Jepara yang menampilkan parade bunga-bunga cantik. 

Mengambil tema “Tangkal Radikalisme dengan Bahasa Bunga” pelajar dari SMA favorit di Jepara itu, membawa busana dan aksesoris berbentuk bunga. Adapula seorang siswi yang menaiki mahkota bunga raksasa, dan menebarkan senyum ramah kepada penonton. 

Di belakangnya nampak dayang-dayang berpayung bunga yang menari koreografi diiringi tembang hits milik Luis Fonsi bersama Daddy Yankee, ‘Despacito’. Di panggung kehormatan, mereka sedikit memamerkan tarian mereka kepada Wakil Bupati Andi Kristiandi. 

“Melalui tema tersebut, kami ingin memberikan pesan kepada warga Jepara. Bahwa radikalisme yang berkembang, hendaknya tidak diselesaikan dengan kekerasan tapi dengan kedamaian. Kami menyimbolkan kedamaian itu dengan bunga,” ujar Agus Riyadi, Wakasek Kesiswaan sekolah tersebut. 

Adapun karnaval tersebut diikuti 43 kelompok karnaval. Mereka terdiri dari 12 kelompok SMP, 7 kelompok SMA/SMK serta 24 kelompok OPD dan Umum.

Editor : Akrom Hazami

 

KMC Express Bahari Berangkatkan 2 Kapal Layani Penyeberang Ke Karimunjawa

Dua KMC Express Bahari disiapkan untuk menampung peningkatan penumpang ke Karimunjawa. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua Kapal Motor Cepat (KMC) Express Bahari disiapkan untuk mengangkut penumpang ke Karimunjawa, di libur panjang hari Kemerdekaan. Dua kapal tersebut adalah KMC Express Bahari 9C dan Express Bahari 2C. 

“Tanggal 18 (Jumat) akan ada dua trip yang dilayani oleh dua kapal (KMC Express Bahari 9C dan 2C). Untuk hari tersebut sudah ada permintaan dari penumpang,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Selasa (15/8/2017). 

Menurutnya, dua kapal tersebut berkapasitas total 761 tempat duduk. Rinciannya, KMC Express Bahari 9C sebanyak 410 kursi dan 2C ada 351 kursi. Sugeng menyebut, untuk hari tersebut kursi penumpang sudah terpesan.

Ia mengungkapkan, KMC Express Bahari 2C berfungsi sebagai cadangan. Jadi setelah melayani penumpang menyeberang di hari Jumat, kapal tersebut akan siaga di Karimunjawa sampai hari Minggu. Hal itu terkait paket wisata yang telah dipesan oleh penumpang. 

Sementara itu, KMC Express Bahari 9C akan melayani penumpang secara reguler. Terkait harga, dirinya mengatakan tidak ada perubahan.

“Kalau untuk tiket tidak ada perubahan, untuk eksekutif harganya Rp 150 ribu, untuk VIP Rp 175 ribu,” ungkap Sugeng.

Editor : Ali Muntoha

Jelang Libur Panjang Tiga Kapal Disiagakan Angkut Penumpang Ke Karimunjawa

Kapal Express Bahari 2C saat mengikuti even Lomban beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke 72, tiga kapal penyebrangan ke Karimunjawa disiagakan. Selain Kapal Mesin Penumpang (KMP) Siginjai dan Kapal Mesin Cepat (KMC) Express Bahari 2C, adapula KMC Express 9C yang siap melayani jika jumlah penumpang membengkak. 

Hal itu diungkapkan Kasi Pelabuhan Penyeberangan Kartini Supomo, Selasa (15/8/2017). Menurutnya, untuk penambahan trip (keberangkatan) hingga kini belum ada. 

“Sampai saat ini untuk penambahan trip  belum ada. Untuk hari Kamis (17/8/2017) penyeberangan dari Jepara-Karimunjawa off (libur) sebagaimana hari normal. aktivitas normal kembali pada hari Jumat (18/8/2017),” kata dia.

Dirinya menerangkan, pada hari Jumat baik Siginjai maupun Express Bahari telah memliki jadwal pemberangkatan ke Karimunjawa. Namun khusus KMC Express Bahari disiagakan satu kapal lagi, jika antusiasme penumpang ke pulau tropis tersebut meningkat.

“Kapal (KMC Express Bahari 9C) disiagakan di dermaga Jepara. Jika ada permintaan untuk pemberangkatan, maka akan diberangkatkan,” tuturnya.

Hal itu dibenarkan oleh Kabid Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Jepara, Suroto.  Menurutnya, kehadiran dua kapal Express Bahari guna mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. 

“Iya betul, Express Bahari ada dua kapal, yang satu bersifat cadangan, bilamana yang satu rusak, tetap dijalankan,” ungkap Suroto. 

Menurutnya, untuk saat ini memang kapal tersebut sandar di Jepara. Terkait angkutan jelang libur panjang, dirinya mengungkapkan pemberangkatannya akan bersifat kondisional.

“Paling kalau ada kelebihan muatan akan dioperasikan, dua-duanya akan diberangkatkan. Akan tetapi hal itu melihat antusiasme dari penumpang,” tuturnya.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha

Karangan Bunga Konyol di Pernikahan Sang Mantan di Jepara

Sebuah karangan bunga dengan ucapan yang menggelikan, di Gedung Wanita, Jepara. (WhatsApp)

MuriaNewsCom, Jepara – Ternyata kisah asmara memang tidak melulu berakhir di pelaminan. Seperti yang biasa kita lihat di adegan drama sinetron televisi, atau di film layar lebar.

Karena tidak sedikit dari dulunya sejoli, kini malah ditinggal pergi, atau bahkan ditinggal nikah. Sampai ada salah satu pihak dari sejoli itu, berbuat nekat, supaya perasaannya menjadi lega.

Hal ini seperti dilakukan oleh seorang warga di Kabupaten Jepara. Gara-gara cintanya tak berakhir di pelaminan, dia berbuat nekat. Di hari si mantan menikah, dia mengirimkan karangan bunga dengan tulisan tak biasa.

Kondisi itu bisa jadi untuk mengobati rasa perih hatinya, kemudian dia mengirimkan karangan bunga ucapan selamat berbahagia untuk kekasihnya yang bersanding dengan orang lain.

Tapi karangan bunga yang umumnya berisi kalimat bernada suka cita, justru termuat tulisan kenangan mereka berdua dulu. Karangan bunga itu kemungkinan besar ada di Gedung Wanita Jepara. Terlihat dari latar gedung tersebut.

“Met nikah Mas Dul. Semoga bahagia dengan kehidupan barumu Mas Jahat. Aku yang pernah seranjang denganmu-Blok F,”begitulah tulisan dalam karangan bunga berukuran raksasa tersebut, yang diunggah ke media sosial.

Editor : Akrom Hazami

Sambut Hari Kemerdekaan, Desa Ngetuk Jepara jadi Gemerlap di Malam Hari

Warga saat memasang lampu di sejumlah sudut kampung di Desa Ngetuk, Nalumsari, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Desa Ngetuk, Kecamatan Nalumsari, Jepara kini jadi gemerlap di malam hari. Lantaran, di sudut-sudut kampung itu terpasang lampu-lampu hias berbagai warna. Tujuannya, untuk memeriahkan HUT RI ke-72. 

Mujiyanto warga desa setempat mengatakan, pemasangan lampu itu dilaksanakan pada awal bulan Agustus. Biayanya, berasal dari iuran warga secara sukarela. 

“Lampu ini inisiatif dari warga, iuran semampunya, ada yang Rp 20 ribu, Rp 50 ribu, ada juga yang Rp 100 ribu. Pemasangannya di jalan-jalan desa melintang, adapula mereka yang membeli sendiri lalu dipasang di rumah mereka masing-masing,” ucap warga RT/RW : 2/2 itu, Senin (14/8/2017). 

Ia mengatakan, pemasangan lampu kelap-kelip itu merupakan bentuk kerukunan warga setempat. “Harapannya dengan semangat kerukunan dan gotong royong warga Desa Ngetuk dapat memperkuat keutuhan negara kita,” tambahnya. 

Sementara itu, Kepala Desa Ngetuk Farul Hidayaroh mengapresiasi inisiatif warganya. “Menurut kami pemasangan lampu ini merupakan bentuk ekspresi gna memeriahkan HUT RI yang ke-72. warga kami merasa sudah merdeka karena dulu sempat terjadi benturan antar desa lain, namun kini tidak lagi sudah aman. Maka itu mereka merayakan dengan semeriah mungkin, dengan memasang bendera dan lampu pada malam harinya,” tuturnya 

Editor : Akrom Hazami

DPUPR Rampungkan Pembanguan Gedung OPD Bersama Tahun Ini

Gedung OPD bersama masih dilakukan pembenahan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemkab Jepara melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) tengah fokus merampungkan pelangkapan Gedung Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Bersama. Memakai anggaran Rp sebesar 2,8 miliar proyek tersebut ditarget rampung akhir tahun 2017. 

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Cipta Karya DPUPR Ary Bachtiar Sabtu (12/8/2017). Menurutnya anggaran sebesar itu diperuntukan bagi pemenuhan fasilitas pada lantai II dan III serta area parkir Gedung OPD Bersama. 

“Hal itu termasuk pemasangan pengondisi udara (air conditioner) pemasangan dinding partisi, penyempurnaan kamar mandi, pembuatan aula, juga perlengkapan elektronik,” ucapnya. 

Sementara itu untuk areal parkir, akan dibikin dua lokasi. Pertama di depan Gedung OPD Bersama dan satu lagi berada di timur gedung tersebut. Menurutnya, tempat tersebut akan dibiarkan terbuka, meskipun demikian pihaknya berencana untuk memberikan pohon peneduh. 

Adapun, pembangunan Gedung OPD Bersama tiga lantai itu, telah dilaksanakan dari tahun 2013. Pada tahun pertama menghabiskan anggaran sebesar Rp 4.426.000.000, tahun 2014 menelan biaya Rp 9.520.427.000 kemudian Rp 4.789.000.000 dan pada tahun 2016 menelan anggaran Rp 6.757.731.000. Sementara tahun 2017 ini dianggarkan Rp 2,8 miliar. 

Editor: Supriyadi

DPRD Jateng Minta Pengambilan Terumbu Karang di Jepara Dihentikan Sementara

Perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara melakukan pertemuan di Pendapa Jepara, Jumat (11/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi B DPRD Jawa Tengah meminta agar kegiatan pengambilan terumbu karang di perairan Jepara, dihentikan sementara. Kesepakatan itu dirumuskan saat rapat dengar pendapat, antara perwakilan nelayan, LSM lingkungan, DPRD Provinsi, BKSDA dan Pemkab Jepara, Jumat (11/8/2017) di ruang tamu pendapa kabupaten Jepara.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah dr Messy Widiastuti Mars mengatakan, pertemuan tersebut dihelat merespon keluhan warga tentang adanya aktivitas pengambilan terumbu karang di perairan Desa Bondo, Bangsri. 

“Ini pertemuan awal, namun guna merespon peristiwa ini kami meminta agar pengambilan terumbu karang dihentikan terlebih dahulu. Hal itu sampai digelarnya pertemuan yang lebih lanjut nanti di Semarang, bersama pengusaha terumbu karang dan pihak terkait,” ujarnya, seusai pertemuan. 

Baca Juga : Alamak, Terumbu Karang di Pantai Bondo Jepara Dijarah Pengusaha

Pada pertemuan selanjutnya, Messy menyebut akan mengundang pihak pengusaha terumbu karang. Di sana akan dikaji, seberapa jauh prosedur pengambilan terumbu karang. 

“Kami akan menyuruh mereka (pengusaha) memresentasikan tentang pengambilan terumbu karang yang selama ini mereka geluti. Di mana saja dia mengambil, jumlahnya berapa, sudah sesuai dengan peraturan atau tidak,” urainya. 

Messy mengatakan di Jawa Tengah ada dua daerah yang mengalami kasus serupa, yakni Jepara dan Rembang. Namun di Rembang, pemerintah kabupaten telah membuat peraturan pelarangan pengambilan terumbu karang. 

“Kami mendorong pemkab Jepara untuk bisa melakukan hal yang sama dengan Rembang. Bisa melakukan kajian dengan peraturan daerah di sana. Sehingga keluhan masyarakat tidak terabaikan,” tutur dia.

Baca Juga: Nelayan Bondo Pertanyakan Aktivitas Pengambilan Terumbu Karang di Perairan Jepara

Diberitakan sebelumnya, Koordinator kelompok pengawas masyarakat “Jixnking’s”  Nanang Cahyo Hadi mengadukan masalah pengambilan terumbu karang hias di wilayah perairan Bondo-Bangsri. 

“Kami mempertanyakan hal itu, karena selama ini kami diimbau merawat terumbu karang, namun ada aktivitas tersebut,” kata dia. 

Editor: Supriyadi

Harga Jual Garam di Jepara Turun

Garam tampak dipanen di salah satu tambak garam di Kabupaten Jepara, Jumat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebijakan impor garam mulai berpengaruh pada harga jual di kalangan petani. Kini harga komoditas tersebut di Jepara merosot menjadi Rp 1.875 hingga Rp 2.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp 3000 per kilogram.

Hal itu disampaikan seorang petani garam, di Jepara, Agus. Menurutnya penurunan harga garam dimulai sejak awal minggu ini.

“Sejak tiga hari belakangan (Selasa, 8/8/2017) harga mulai turun. Saat ini garam punya saya dihargai sekitar Rp 200.000 per tombong (kemasan 80 kilogram) untuk yang warnanya agak cokelat, sementara yang putih mencapai Rp 250.000 per tombong,” ujarnya, Jumat (11/8/2017).

Ia mengatakan, penurunan harga garam tersebut disebabkan dua hal. Pertama imbas dari impor garam dan kedua panen raya garam. Dirinya memperkirakan, harga di tingkat petani bisa kembali anjlok, sebab kini produksi garam petani lokal kian meningkat seiring dengan panen raya.

“Penyebab turun harga kemungkinan karena impor garam kemarin dan saat ini kan sedang panen garam sebagian besar petani,” tuturnya yang bertani di sekitar Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung itu.

Agus mengatakan, melimpahnya pasokan garam juga menyebabkan harga tidak sama. Di beberapa tempat ia menyebut, harga garam bisa mencapai Rp 150.000 per 80 kilogram.

“Perbedaan harga tersebut dipengaruhi juga karena faktor tempat, misalnya di tempat saya kan dekat jalan harganya bisa segini (Rp 2500 per kilogram) sementara di sana (Bulak Baru) harganya bisa semakin turun. Pertama pasokan melimpah dan kedua yang punya lahan di tempat agak dalam kan terpaksa menjual agak murah, yang penting garamnya laku,” urai dia.

Terakhir ia menuturkan agar pemerintah membantu para petani supaya harga garam stabil dan tak kian anjlok. 

Editor : Akrom Hazami

 

7 Desa di Jepara Belum Cairkan Dana Desa

Suasana Rakernis Pelaksanaan ADD dan Dana Desa Tahun 2017 untuk Desa se Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak tujuh desa di Jepara belum cairkan Dana Desa. Hal itu karena mereka belum merampungkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) 2017.

Hal itu disampaikan oleh  Kabid Penguatan Lembaga Masyarakat dan Desa, Dinas Sosial Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinsosbapermades) Jepara Budi Prisulistyono, Kamis (10/8/2017).  Menurutnya, hal itu karena pemerintah desa dianggap belum cakap memahami terkait penyusunan APBDes. 

“Berbagai bimbingan teknis telah dilakukan berkali-kali, namun teman-teman di desa yang baru memahami (tata kelola keuangan DD dan ADD) hanya sekitar 70 persen, sementara 30 sisanya belum ada kejelasan,” tutur dia, di sela Rapat Kerja Teknis Alokasi Dana Desa dan Dana Desa di Pendapa Pemkab Jepara. 

Ia mengungkapkan pertemuan teknis sangatlah penting untuk menambah kecakapan perangkat desa, dalam menyelesaikan administrasi DD dan ADD. Hal itu selaras dengan imbauan dari Presiden Joko Widodo yang mengawasi penggunaan dana tersebut secara ketat. 

Oleh karenanya, ia menginginkan seluruh pemerintah desa memahami betul penyusunan administrasi dan pelaksanaan DD serta ADD. Selain itu, persoalan belum pahamnya pemerintah desa tentang proses pembentukan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes). 

“Jangan sampai karena ketidaktahuan pemerintah desa, menyebabkan mereka bisa masuk ranah pidana,” lanjutnya. 

Dirinya menerangkan, sampai bulan kedelapan ada tujuh desa yang belum menyelesaikan APBDes. Hal itu tentu berpengaruh pada proses pencairan Dana Desa yang macet, karena komponen administrasi merupakan syarat utama pengucuran dana tersebut. 

“Ada tujuh desa yang belum mencairkan dana desa, seperti Mororejo, Tanggultlare, Kedung Malang, Surodadi dan Bandung di Mayong sisanya saya lupa,” ujar dia. 

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan Marzuqi Idamkan Kursi Wakil Gubernur Jateng

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, yang ikut meramaikan bursa calon wakil gubernur Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Marzuqi nampaknya serius untuk memperebutkan kursi wakil gubernur Jateng pada pilkada serentak 2018 mendatang. Kamis (10/8/2017) hari ini, ia mengembalikan formulir pendaftaran Cawagub ke kantor DPD PDI Perjuanga Jateng di Kota Semarang.

Sebelumnya diberitakan, Marzuqi mewakilkan pengambilan formulir pendaftaran Cawagub kepada Agus Sutisna, Selasa (1/8/2017). Ia adalah anggota DPRD Jepara asal partai PPP.

“Dari segi kelengkapan formulir insyaallah sudah kami lengkapi. Pak Marzuqi nantinya yang akan mengembalikannya sendiri, didampingi beberapa petinggi parpol dan ormas serta membawa grup kesenian khas Jepara,” kata Agus Sutisna, yang ikut dalam rombongan pengembalian formulir ke Semarang.

Perlu diketahui, Ahmad Marzuqi merupakan politisi asal partai berlambang kabah, PPP. Namun saat pemilihan bupati Jepara 2017, ia diusung oleh PDI Perjuangan. Bersama wakilnya Dian Kristiandi, ia kemudian dinobatkan sebagai pemenang pemilu, dan ditahbiskan memimpin Jepara hingga 2022.

Namun belum sampai enam bulan, ia mengambil langkah untuk mencalonkan menjadi Jateng 2 (wakil gubernur).

Disinggung alasan Ahmad Marzuqi, Agus Sutisna tak mengetahui lebih detil. Namun dirinya mengaku pernah diajak bicara soal tersebut.

“Kalau alasanya apa saya rasa Pak Marzuqi yang lebih mengetahui. Namun demikian Pak Marzuqi pernah diusung oleh PDIP, yang bersangkutan juga menerima amanat dari DPP PDIP dan perintah dari DPW PPP untuk ambil formulir (pencalonan cawagub). Jadi sebagai kader partai (PPP) ia berusaha taat atas apa yang diperintahkan,” ujarnya.

Baca juga : Baru Kembali Terpilih jadi Bupati Jepara, Marzuqi Kini Incar Posisi Wakil Gubernur

Agus juga menerangkan, alasan Marzuqi memilih mendaftar cawagub dari partai berlambang banteng.

“Kalau PPP sendiri kan tidak bisa mengusung pencalonan gubernur atau wakil gubernur, karena kursinya tak terpenuhi. Sementara PDIP sendiri adalah partai di Provinsi Jateng yang memenuhi untuk mengusung Cagub dan Cawagub sendiri di Jawa Tengah,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Baru Kembali Terpilih jadi Bupati Jepara, Marzuqi Kini Incar Posisi Wakil Gubernur

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi. Setelah kembali terpilih sebagai bupati, Marzuqi kini mengincar posisi wakil gubernur Jateng. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Ahmad Marzuqi, baru saja terpilih kembali sebagai bupati Jepara pada Pilkada Serentak Februari 2017 lalu. Tiga bulan setelah dilantik menjadi bupati, Ahmad Marzuqi punya ambisi lain, yakni mengincar posisi wakil gubernur Jateng.

Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaanya dalam penjaringan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang dibuka DPD PDI Perjuangan Jateng.

Kamis (10/8/2017) hari ini, Marzuqi mengembalikan formulir pendaftaran bakal Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Tengah ke Kantor DPD PDI Perjuangan Jateng, di Panti Marhaen Kota Semarang.

Untuk mengembalikan formulir dan berkas-berkas pendaftaran ini, Marzuqi diantar sekitar 850 orang dengan menumpang 17 bus.

Agus Sutisna, anggota DPRD Jepara dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ikut serta dalam rombongan. Menurutnya, selain unsur partai politik dan organisasi masyarakat, pihaknya juga mengikutsertakan rombongan kesenian, yang nantinya akan dipertontonkan kepada khalayak di ibukota Jawa Tengah. 

“Pak Marzuqi tentu saja ikut dalam rombongan. Selain itu ada tokoh dari DPC PDIP Jepara, PPP, Fatayat NU, Muslimat, Wanita PPP, KNPI dan sanggar seni budaya, serta alim ulama berikut tokoh masyarakat. Wakil Bupati Dian Kristiandi juga ikut mendampingi,” ucapnya, melalui sambungan telepon. 

Dirinya mengatakan, sesampainya di Semarang pihaknya akan menyajikan kesenian khas Jepara. Seperti tari Laskar Kalinyamat, rebana, terbang telon dan pertunjukan perkusi hasil kreasi seniman Jepara. 

Disinggung masalah komunikasi dengan calon lain, Agus mengungkap pihaknya belum berpikir sejauh itu. 

“Komunikasi dengan calon lain belum ada, kita fokus pada pengembalian formulir dulu. Baru ke depannya setelah kita memang diterima dan mendapatkan rekomendasi kita akan mengembangkan komunikasi dengan seluruh jajaran partai dan calon gubernur yang juga telah mendapatkan rekomendasi,” jelas Agus.

Editor : Ali Muntoha

Dengan Soda dan Obat Sakit Kepala, SN Gugurkan Kandunganya yang Berumur 7 Bulan

SN (40), ibu yang nekat menggugurkan kandungannya dan tega membuang jasad bayinya dengan dibungkus kresek. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pelaku pembuang bayi di Mayong Lor, Jepara, SN (40) terancam mendekam di penjara selama 15 tahun.

Kabag Humas Polres Jepara AKP Sarwo Edy Santosa mengatakan, yang bersangkutan melanggar pasal 80 junto 76 C ayat 2 UU RI no 35/2014 tentang perubahan UU RI 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

“Tersangka diringkus di rumahnya, semalam (Selasa, 8/8/2017). Hal itu dari informasi dan petunjuk yang dikumpulkan penyidik dan mengerucut kepada tersangka,” tuturnya, dalam konferensi pers, Rabu (9/8/2017).

Dirinya menuturkan, tersangka bekerja sebagai pelinting di sebuah pabrik rokok, yang ada di Desa Brantak Sekarjati, Kecamatan Welahan.

“Kepada petugas tersangka menyebut alasannya untuk mengugurkan bayinya hanya karena sering diejek oleh teman sekerjanya. Ia kemudian menggugurkan dengan meminum soda yang dicampur dengan obat sakit kepala,” urainya.

Sementara itu tersangka SN menyebut, selama masa awal kehamilan hingga usia tujuh bulan, ia menyembunyikannya dari suaminya.

“Sampai tadi malam saya ditangkap, suami saya tidak tahu bahwa saya hamil. Ketika di hadapannya selalu saya tutupi dengan memakai pakaian longgar. Dan setiap kali dia tanya saya selalu menghindar,” jelas SN sambil tertunduk.

Kini hanya penyesalan yang menggelora di hati ibu empat anak itu. Ia tak lagi berkumpul bersama suami dan keempat anaknya.

Baca juga : Ibu di Jepara Ini Nekat Buang Bayinya yang Baru Lahir karena Malu Diejek

Ia mengakui meminum soda yang dicampur dengan obat sakit kepala Minggu (16/7/2017), untuk mengugurkan anak kelimanya yang masih dalam kandungan tersebut. Saat digugurkan, SN mengaku umur jabang bayi sudah mencapai 7 bulan.

Lalu, pada Senin (17/7/2017) ia merasakan mulas hebat. Begitu buang air, si jabang bayi juga ikut keluar. Saat diteliti, SN mengklaim bayi telah meninggal dunia.

“Saya minum soda dicampur obat sakit kepala sehari tiga kali. Lalu keesokan harinya saya mulas dan bayi keluar. Saat itu bayinya sudah tidak bernapas, lalu saya bungkus dengan pakaian saya dan saya wadahi lagi dengan plastik dan saya taruh di dalam baskom plastik kemudian disembunyikan di dalam rumah,” urai dia. 

Lalu pada hari Selasa (18/7/2017) malam, yang bersangkutan kemudian berniat membuang jasad anaknya. Ia kemudian memasukan plastik berisi mayat bayi ke dalam sebuah tas belanja dan mengajak anaknya yang paling kecil (2 tahun) untuk ikut menutupi bungkusan itu.

Editor : Ali Muntoha

Ibu di Jepara Ini Nekat Buang Bayinya yang Baru Lahir karena Malu Diejek

Polisi memeriksa pelaku pembuangan bayi di Jepara yang ternyata ibu kandungnya sendiri. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Masih ingat kasus pembuangan bayi di Desa Mayong Lor, Jumat (21/7/2017) lalu? Polres Jepara malam tadi (Selasa, 8/8/2017) menangkap pelakunya.

Ternyata tersangkanya adalah ibunya sendiri SN (40). Kepada penyidik ia mengaku sengaja mengugurkan dan membuang jabang bayi karena malu terus-terusan diejek oleh teman sekerjanya. 

“Saya malu akan anggapan teman-teman, mereka menggunjingkan saya orang miskin kok anake akeh (anaknya banyak). Dari situ saya lantas berniat mengugurkan bayi yang saya kandung,” ujar warga Kecamatan Nalumsari, Jepara itu.

Ejekan teman-teman seprofesi di pabrik rokok itu, ternyata membuat ibu empat anak itu gelap mata. Ia lantas mengonsumsi minuman soda yang dicampur dengan obat sakit kepala Minggu (16/7/2017), untuk mengugurkan anak kelimanya yang masih dalam kandungan tersebut. Saat digugurkan, SN mengaku umur jabang bayi sudah mencapai 7 bulan. 

Lalu, pada Senin (17/7/2017) ia merasakan mulas hebat. Begitu buang air, si jabang bayi juga ikut keluar. Saat diteliti, SN mengklaim bayi telah meninggal dunia. 

“Saya minum soda dicampur obat sakit kepala sehari tiga kali. Lalu keesokan harinya saya mulas dan bayi keluar. Saat itu bayinya sudah tidak bernapas, lalu saya bungkus dengan pakaian saya dan saya wadahi lagi dengan plastik dan saya taruh di dalam baskom plastik kemudian disembunyikan di dalam rumah,” urai dia. 

Lalu pada hari Selasa (18/7/2017) malam, yang bersangkutan kemudian berniat membuang jasad anaknya. Ia kemudian memasukan plastik berisi mayat bayi ke dalam sebuah tas belanja dan mengajak anaknya yang paling kecil (2 tahun) untuk ikut menutupi bungkusan itu. 

Dari rumahnya, ia lantas berkeliling tanpa tujuan menggunakan motornya, guna mencari tempat pembuangan. “Saya tak tahu waktu itu mau buang ke mana. Akhirnya saya melihat ada sawah di Mayong Lor lalu membuangnya di situ,” tambahnya. 

Ia sendiri mengaku sudah memunyai empat anak, berumur 12 tahun, 10 tahun, 5 tahun dan yang paling kecil 2 tahun. Saat ini pelaku tengah mendekam di tahanan Mapolres Jepara. 

Baca juga : Tega Bener, Bayi yang Baru Lahir Ini Dimasukkan Kantong Plastik Lalu Dibuang di Persawahan

Adapun, kasus jabang bayi ditemukan di persawahan Desa Mayong Lor. Penemunya saat itu adalah Ngasiman (50), saat menggarap lahan dan mencurigai ada tas belanja yang berbau busuk.

Editor : Ali Muntoha

Genjot Ekonomi Daerah, Pemkab Jepara Benahi Infrastruktur Destinasi Wisata

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi (berpeci) saat meninjau hutan wisata Wana Pinus Setro yang berada di Desa Batealit, Kecamatan Batealit, Selasa (8/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mulai serius menggarap infrastruktur pendukung pariwisata. Tidak hanya wisata mainstream seperti pantai, wilayah pegunungan juga akan mendapatkan porsi serupa dalam pembangunan akses jalan. 

Seperti yang dilakukan oleh Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi, Selasa (8/8/2017), ia meninjau hutan wisata Wana Pinus Setro yang berada di Desa Batealit, Kecamatan Batealit. Menurutnya, lokasi hutan milik Perhutani cocok dikembangkan sebagai wisata alam. 

“Maka pembangunan infrastruktur menuju tempat yang berpotensi wisata seperti ini penting dilakukan. Dalam lima tahun ke depan untuk pembangunan infrastruktur menuju tempat yang memiliki potensi wisata akan kita percepat,” ujarnya.  

Ia berujar, untuk mengoptimalkan potensi alam di hutan pinus Batealit pihaknya akan bekerjasama dengan pihak Perhutani. Selain itu, dengan pelestarian hutan ini, bisa menjadi paru-paru bagi Kota Jepara dalam menghadapi pemanasan global, ungkap Dian. 

Politisi PDIP itu mengatakan, pariwisata merupakan denyut perekonomian kabupaten Jepara. Namun dalam pengembangannya, sektor infrastruktur mutlak dibenahi. 

“Pariwisata harus ditopang dengan bidang lain, satu di antaranya adalah infrastruktur. Sebab dengan infrastruktur yang baik tentu akan memudahkan pelancong lokal maupun mancanegara datang dan berkunjung ke lokasi wisata,” tutur dia.

Selain itu, Dian juga menyoroti pentingnya sumber  daya manusia dalam mendorong berkembangnya sektor pariwisata.

“Masyarakat juga penting untuk ditingkatkan kesadarannya dalam kepariwisataan. Berkembangnya kelompok masyarakat sadar wisata merupakan pelopor yang akan menyosialisasikan dan memromosikan sejumlah obyek wisata di daerah ini,” paparnya.

Editor: Supriyadi

 

DLH Jepara Siap Turun Tangan Teliti Menghitamnya Air di Desa Karangrandu

Air sungai di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara tak layak konsumsi karena warnanya menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara berjanji akan segera turun tangan menelisik penyebab air Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

Selain turun langsung, pihak DLH juga menampik dugaan penyebab menghitamnya air hanya dari pabrik garment. Hal itu mengingat pihaknya telah menerima hasil uji laboratorium buangan limbah pabrik.

“Kami sudah menerima uji lab dari pabrik garment Jiale, yang dilakukan oleh laboratorium swasta. Hasilnya di bawah baku mutu. Artinya masih bisa ditoleransi. Terkait warnanya, kami lihat hasil uji lab untuk pabrik tersebut tidak begitu keruh,” kata Kabid Penataan dan Penaatan DLH Aris Widjanarko, Selasa (8/8/2017). 

Apalagi, lanjutnya, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pabrik tersebut juga telah diperbaiki dan tak merembes lagi. Sementara, di aliran sungai tersebut bukan saja terdapat pabrik garmen. Adapula industri rumahan tahu dan tempe.

Namun dirinya mengungkapkan belum melakukan uji laboratorium terhadap home industry tersebut. Selain itu, banyak warga yang membuang sampah di aliran sungai tersebut.  

Oleh karenanya, ia belum mengetahui apa penyebab menghitamnya sungai disekitar Desa Karangrandu tersebut. 

Hal serupa diungkapkan oleh Nuraini, Kabid Pengendalian dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup. Ia menyebut, hingga kini belum mengadakan penelitian air di Desa Karangrandu yang mengitam. Padahal, permasalahan itu telah terjadi pada tahun 2016 silam. 

“Kalau meneliti kualitas, ataupun penyebab mengapa air di sungai (Karangrandu) tersebut menjadi hitam kami belum melakukannya. Tahun lalu pun kami belum melakukan penelitian tentang air disana. Namun jikalau uji laboratorium untuk pabrik garmen sudah kami lakukan. Hasilnya cukup baik, disekitar pabrik airnya juga masih cukup bagus pengelolaan air limbahnya,” tutur dia. 

Namun, baik Aris maupun Nuraini berjanji akan segera menyelidiki penyebab dan uji kualitas air di sungai tersebut. Hal itu untuk menjawab rasa penasaran warga, akan menghitamnya air di Sungai Gede Karangrandu.

“Secepatnya lah kami akan turun ke lapangan untuk melakukan uji laboratorium terkait kualitas air di sana,” janji keduanya. 

Diberitakan sebelumnya, air di Sungai Gede Karangrandu menghitam dan berbau tidak sedap. Hal itu menimbulkan pertanyaan bagi warga, sebab kejadian juga terjadi pada tahun 2016.

Baca Juga: Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam 

Editor: Supriyadi

Kloter Pertama Jemaah Haji Asal Jepara Diberangkatkan

Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi (dua dari kanan) saat melepas calon jemaah haji asal Jepara yang masuk kloter 41. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Calon jemaah haji asal Jepara yang tergabung pada kelompok terbang (kloter) 41, diberangkatkan ke Embarkasi Donohudan untuk selanjutnya terbang ke Tanah Suci, Selasa (8/8/2017). Sebanyak 355 orang ikut dalam rombongan yang menumpang delapan bus. 

Dalam laporannya, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Jepara Nor Rosyid menguraikan, nantinya kloter 41 menempati maktab Aziziyah. “Selain calon haji, adapula tim pemandu haji daerah (TPHD) sebanyak tiga orang yang ikut dalam rombongan,” tutur dia.

Ia menyatakan, tahun 2017 ada 1104 calon haji asal Jepara yang berangkat ke tanah suci. Mereka terbagi dalam empat kloter, yakni 41, 93,94 dan 95. Setelah keberangkatan kloter pertama, kloter selanjutnya akan menyusul pada tanggal 24 Agustus untuk rombongan 93 yang akan digabung dengan calhaj asal Rembang. Sementara keesokan harinya, kloter 94 dan 95  baru diberangkatkan. 

Sementara itu, Wakil Bupati Jepara Dian Kristiandi berpesan agar jemaah haji menjaga kesehatan selama di tanah suci. Hal itu lantaran, saat ini cuaca di Arab Saudi sedang mengalami musim panas. Hal itu menyebabkan temperatur suhu bisa mencapai 40 derajat celcius lebih. 

“Jaga kesehatan agar bisa melaksanakan ibadah dengan khusyuk. Selain itu harus mematuhi aturan yang telah ditetapkan jangan melanggar,” ujarnya. 

Editor: Supriyadi

Kades Karangrandu Jepara Minta Pemerintah Segera Bertindak

Warga beraktivitas di Sungai Gede Karangrandu, Kabupaten Jepara, Senin (8/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu Jepara dikeluhkannya warga setempat. Petinggi (Kades) Karangrandu Syahlan, minta Pemerintah Kabupaten Jepara segera bertindak agar permasalahan tak berlarut-larut. 

“Apa harus menunggu warga kami sakit baru bertindak mengatasi hal ini,” tegasnya, Senin (8/8/2017). 

Menurutnya pada tahun lalu dirinya sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara. Dirinya berkata, memang sudah ada petugas yang turun, akan tetapi ia menyayangkan kondisi itu terulang lagi. 

Ia mengatakan, sungai tersebut merupakan sumber penghidupan warga. “Air sungai ini tak hanya digunakan warga, untuk pertanian iya, untuk hewan peliharaan juga iya. Kami takutnya jika dibiarkan terlalu lama nanti daerah pertanian di sini tidak bisa ditanami lagi bagaimana?,” keluhnya. 

Terkait dugaan sumber pencemar dari pabrik, ia tak mau menanggapi lebih lanjut. Namun ia berharap kepada pengusaha agar turut memperhatikan dampak yang ditimbulkan. 

“Saya senang dengan adanya pengusaha, nyatanya dengan berdirinya pabrik berguna bagi rakyat dapat menyerap tenaga kerja banyak. Namun tolong hal seperti ini juga diperhatikan, hal itu supaya kami yang kecil (warga) tidak terdampak. Sementara pengusaha juga dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan, kami juga melanjutkan hidup dengan normal” ungkap Syahlan. 

Ia mengungkapkan agar pemerintah dengan segera menyelesaikan hal tersebut. “Saya minta segera dinormalisasi keadaan sungai yang melintas di desa kami,. Apa penyebabnya. Dan kami harapkan segera dituntaskan,” tambah dia.

Editor : Akrom Hazami

 

Air Sungai Karangrandu Jepara Menghitam 

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Air Sungai Gede Karangrandu yang bermuara di Laut Jawa menghitam. Hal ini mengakibatkan warga yang ada di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara, tak berani memanfaatkan air tersebut karena berwarna dan berbau menyengat. 

Tidak hanya menghitamkan sungai, hal tersebut juga mengakibatkan sumur warga tercemar. Helmi (40) warga RT 5, RW 5, Karangrandu mengaku, kejadian itu terjadi sudah setahun belakangan. Hanya bila musim hujan, air yang berlebih membawa endapan hitam tersebut hanyut. 

“Sudah tahun lalu seperti ini. Namun kalau hujan kan air banyak, jadi terbawa tidak menghitam seperti ini. Kalau musim kemarau kan debit air berkurang, makannya airnya jadi terlihat hitam seperti ini,” tuturnya, Selasa (8/8/2017).

Ia berujar kondisi tersebut jelas berpengaruh terhadap kondisi sumur, karena pasti terjadi rembesan. Hal itu dibenarkan oleh warga lain Fendy. Menurutnya, kejadian itu menjadi semakin parah semenjak hujan tak lagi turun. 

“Empat hari ini menjadi semakin parah soalnya sudah tidak ada hujan. Ini sumurnya semakin lama juga ikut tercemar karena merembes dari sungai ke sumber air minum warga,” urainya. 

Jika telah demikian warga tak berani mengonsumsi air sumur. Mereka lebih memilih membeli air minum dalam kemasan.  “Ya tidak berani diminum karena berbau. Untuk minum beli air kemasan, sementara air sumur masih dimanfaatkan untuk menyuci baju dan sekedar mandi,” tambahnya. 

Subhan warga lain berujar, kondisi itu semakin terlihat ketika Sungai Gede dibendung untuk perbaikan tanggul. Jika dalam kondisi normal, efek tersebut tak sebegitu terlihat. 

Ia menjelaskan air Sungai Gede Karangrandu disalurkan ke saluran irigasi pertanian warga. Sehingga praktis memengaruhi kondisi tumbuhan yang tumbuh di sawah. Selain itu, banyak ikan yang tewas karena itu. 

Dirinya menyebut, hitamnya air sungai dimulai sejak ada pabrik yang berada di alur sungai tersebut.  “Tak jelas apa yang memengaruhi hitamnya sungai ini. Namun hal ini terjadi sejak berdirinya pabrik dialur sungai ini,” terang Subhan. 

Editor : Akrom Hazami

Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Diduga Sengaja Dibakar Orang

Proses evakuasi bangkai mobil pikap yang terbakar di Jalan Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebakaran mobil pikap pengangkut mebel bernomor polisi H 1855 SQ, di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo RT 5 RW 1, Jepara, Senin (7/8/2017) kemarin, diduga ada unsur kesengajaan. Sebelum terbakar, mobil tersebut diduga sudah dibuntuti orang tak dikenal, yang kemudian melempar sesuatu ke dalam mobil.

Hal ini dikatakan Syafi’i, warga di sekitar lokasi kejadian. Menurutnya, saat ia sampai di lokasi kejadian, api sudah membesar dan melalap hampir seluruh mobil. Awalnya ia melihat asap membumbung tinggi, karena penasaran ia memeriksa lokasi.

“Saat itu saya tengah menonton pertandingan bola voli di lapangan desa. Tahu-tahu ada asap dan suara sirine berbunyi, saya langsung ke tempat ini dan ternyata ada mobil pikap terbakar,” ujarnya.

Ia mengatakan, sebab terbakarnya pikap tersebut, diduga karena ada sesuatu yang dilemparkan seseorang ke dalam bak muatan tersebut. Hal itu diketahuinya dari perbincangan sopir nahas dan warga di tempat kejadian.

“Jadi saya dengar, mobil dari timur sudah diikuti oleh motor. Nah kebetulan ada motor lain yang juga di belakang mobil. Pengendara motor pertama melihat sesuatu dilempar ke bak mobil, lalu memberitahukan sopir pikap. Kemungkinan itu puntung rokok,” urai dia. 

Baca juga : Diguyur Air, Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Justru Langsung Berkobar

Informasi yang dikumpulkan MuriaNewsCom, selain sopir kendaraan itu juga ditumpangi seorang kernet yang bernama Ali Imron. Adapun pemilik kendaraan bernama Setiawan Purwanto, Warga Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang. 

Meski demikian, pihak kepolisian masih mendalami keterangan sopir tersebut. Aparat kepolisian yang datang ke lokasi kejadian juga meminta keterangan sejumlah saksi dan memeriksa bangkai mobil.

Editor : Ali Muntoha

Diguyur Air, Pikap Pengangkut Mebel di Jepara Justru Langsung Berkobar

Polisi memeriksa mobil pikap yang terbakar di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo, Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebuah kendaraan bak terbuka yang memuat furnitur bernomor polisi H 1855 SQ terbakar, Senin (7/8/2017). Kejadian ini berlangsung pada pukul 16.30, di Jalan Ngasirah, Kelurahan Mulyoharjo RT 5 RW 1, Jepara.

Girah warga setempat mengatakan, saat kejadian sopir kendaraan yang belakangan diketahui bernama Apriel (22) warga Gunungpati Semarang, meminta tolong kepada warga. Girah yang saat itu berada di dalam rumahnya kemudian keluar.

“Waktu itu sopir dan kernetnya meminta air untuk memadamkan api di mobilnya. Muatannya kursi yang sudah diberi jok, lalu ada beberapa benda di dalamnya. Saat itu api sudah mulai membakar, namun kecil. Saya mendengar katanya sudah terbakar mulai dari arah timur,” tutur dia.

Lalu pengemudi kendaraan mengguyurkan air ke sumber api. Namun tak dinyana, api justru membesar. 

“Diguyur dari belakang, eh apinya malah menyembur ke depan dan bertambah besar. Saya sih tidak berani mendekat, takut ada apa-apa,” imbuh warga Mulyoharjo tersebut.

Proses evakuasi berlangsung hingga petang datang, karena mendatangkan alat berat untuk mengangkut bangkai kendaraan.

Hingga Selasa (8/8/2017) kasus terbakarnya mobil tersebut masih didalami Polres Jepara. Pasalnya, ada dugaan jika kebakaran tersebut bukan karena masalah korsleting pengapian mobil, melainkan ada unsur kesengajaan dari pihak lain.

Editor : Ali Muntoha

Awas, Telat Bayar PBB Kena Denda 2 Persen Per Bulan

MuriaNewsCom, Jepara – Tenggat pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Jepara akan jatuh pada tanggal 15 Agustus 2017. Jika telat bayar, akan ada denda sebesar 2 persen per bulan. 

Kasubid Pendataan, Penetapan dan Pelaporan Pajak BPKAD Jepara Ardhi mengungkapkan, besaran dendan tersebut sesuai dengan perda 2/2012 tentang PBB-P2. Dirinya menuturkan, setelah jatuh tempo namun wajip pajak tak membayarkan kewajibannya, maka akan dikenakan denda. 

“Sesuai peraturan maka akan dikenakan denda sebanyak 2 persen per bulan, maksimal 24 bulan,” kata dia, Senin (7/8/2017). 

Disinggung soal piutang pajak, Ardhi mengungkapkan jumlahnya di Jepara lumayan besar sekitar Rp 2 miliar. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal diantaranya kepailitan, tidak hadirnya wajip pajak dan sebagainya. 

Selain mekanisme denda, BPKAD Jepara juga mengeluarkan kebijakan baru yakni menagih wajib pajak besar. Langkah ini ditempuh, agar warga menauladani sikap pemilik modal besar.

“Tahun ini kami memiliki terobosan agar WP (Wajib Pajak) besar seperti PLTU, ataupun perusahaan seperti Jiale dan sebagainya agar melunasi pajaknya terlebih dahulu. Hal itu agar menjadi teladan bagi masyarakat yang lebih kecil kewajiban pajaknya untuk tertib dalam pembayaran. Dan saat ini WP besar di Jepara sudah melunasi kewajibannya,” ungkap Ardhi.

Disamping itu, untuk mempermudah pembayaran Pemkab Jepara juga telah meluncurkan Elektronik PBB. Dengan aplikasi tersebut, warga bisa mengecek status pajaknya melalui layar ponsel pintar. 

Editor: Supriyadi

Pelunasan PBB-P2 di Jepara Diprediksi Meningkat Jelang Jatuh Tempo

Warga melakukan pelunasan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Daerah Jepara, Kelurahan Ujung Batu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jepara memperkirakan pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2), akan mulai meningkat jelang jatuh tempo pada 15 Agustus 2017. Hingga Senin (7/8/2017), baru terkumpul Rp 12.856.000.000 dari target pelunasan 2017 sebesar Rp 18.840.000.000.

Hal itu disampaikan oleh Kasubid Pendataan, Penetapan dan Pelaporan Pajak BPKAD Jepara, Ardhi. Dirinya mengungkapkan hal itu berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. 

“Biasanya pelunasannya mepet-mepet tanggal jatuh tempo. Kalau di Jepara ini kan jatuh tempo pada tanggal 15 Agustus, kemungkinan mulai meningkat pembayarannya pada tanggal 12, 13, atau 14 Agustus,” tuturnya. 

Dirinya mengungkapkan sampai saat ini sudah ada sekitar 60 desa yang telah melunasi kewajiban mereka. Adapun, saat ini desa yang telah berpartisipasi dalam pembayaran PBB-P2 sekitar 130 desa. 

Ardhi menjelaskan, di Jepara ada 195 desa dan kelurahan. Untuk menggenjot partisipasi pelunasan pajak tersebut, pihaknya berinisiatif memberikan hadiah bagi mereka yang telah melunasi sebelum tenggat waktu. 

“Disediakan hadiah bagi mereka yang telah melunasi pajaknya. Untuk tingkat kecamatan disediakan televisi, sedangkan untuk tingkat kabupaten disediakan motor. Mekanismenya melalui pengundian,” tambah dia. 

 

Editor : Akrom Hazami