Festival Mata Air Sadarkan Warga Pentingnya Jaga Lingkungan

Warga memperebutkan gunungan sayuran yang usai diarak pada saa Festival Mata Air di Telaga Sejuta Akar, Desa Bondo, Bangsri, Sabtu (29/7/2017). (MuriaNewsCon/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Telaga Sejuta Akar Bondo, Kecamatan Bangsri menjadi tempat diselenggarakannya Festival Mata Air 2017. Acara tersebut merupakan upaya untuk mengingatkan warga menjaga kelestarian sumber air. Telaga Sejuta akar sendiri merupakan sumber mata air yang dinaungi pohon beringin karet dan ingas serta bergat. Sehingga menciptakan lingkungan yang teduh. 

Penggagas acara Hadi Priyanto mengatakan, festival tersebut memiliki dimensi eko-relijius. Selain melestarikan sumber air, kegiatan itu juga bertujuan mengingatkan warga sekitar atas potensi alam yang merupakan titipan Tuhan. 

“Festival mata air bertujuan memberikan inspirasi kepada warga untuk dapat mencintai alam dan melestarikannya. Tidak lantas mengekploitasi untuk kepentingan generasi saat ini, akan tetapi bagaimana upaya kita agar dapat menjaganya untuk diwariskan kepada anak cucu kita,” ucapnya, yang juga Ketua Yayasan Kartini Indonesia. 

Dari sumber mata air itu, bisa digunakan untuk mengairi persawahan seluas 94 hektar. Dirinya juga mengingatkan bahwa pelestarian alam juga bagian dari tanggungjawab pemerintah. 

“Pelestarian alam juga merupakan tanggungjawab dari pemerintah setempat melalui political will,” tambahnya. 

Sekretaris Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNPA) Viktor Sidabutar mendukung gerakan tersebut. Ia berujar, upaya yang digagas oleh warga tersebut merupakan bentuk peran serta menyukseskan gerakan yang telah dimulai sejak tahun 2016 lalu.

“Upaya penyelamatan sumber air tak hanya tanggungjawab pemerintah, ini (festival mata air) merupakan bentuk keikutsertaan warga. GNPA sendiri mengawal bagaimana acara ini tak hanya bersifat seremonial, akan tetapi setelahnya dapat ditindaklanjuti,” tutur dia. 

Ia mengatakan, dengan melestarikan sumber mata air turut menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Hal itu karena, sumber alami turut mengaliri sawah-sawah sebagai tempat produksi padi. 

Editor: Supriyadi

Syawalan, Warga Demaan Jepara Gelar Panjat Pinang di Laut

Sejumlah warga di Jepara mengukti panjat pinang yang digelar di laut, Minggu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Selain lomban atau larungan kepala kerbau untuk merayakan syawalan, adapula acara unik yakni panjat pinang dilaut. Kegiatan ini dilaksanakan oleh warga yang berada di Kelurahan Demaan RT 3/5, Kecamatan Jepara, Minggu (2/7/2017). Acara panjat pinang laut ini tak jauh beda dengan panjat pinang konvensional. Sekelompok orang berusaha meraih hadiah yang diletakan diatas bambu berlumur pelumas, yang dipancang di dalam air.

Hanya saja, untuk memanjatnya perlu usaha lebih keras. Lantaran, air laut yang terkena pelumas tak ayal menyebabkan bambu semakin licin.

Dimas, seorang peserta lomba tersebut mengaku kesusahan memanjat bambu setinggi lebih kurang 10 meter itu. 

“Wah susah, soalnya diolesi oli cair dan oli padat. Tapi tidak apa-apa, seru,” katanya.

Menurutnya, lomba yang diadakan setiap tahun bertujuan merekatkan rasa kekeluargaan antar penduduk. 

Ketua Panitia Panjat pinang laut Kandir mengatakan, kegiatan ini digagas oleh ikatan remaja kampung. Tujuannya memeriahkan syawalan.

“Dilakukan dilaut karena di kampung kami sudah tidak ada lahan lagi. Rumahnya kian padat,” terangnya.

Disamping itu, kegiatan ini juga dalam rangka mensyukuri berkah yang diperoleh warga dari laut. Lantaran, sebagian besar penduduknya merupakan nelayan, yang menggantungkan penghidupannya dari mencari ikan. 

Ia menyebut, kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh masyarakat dan dibantu oleh pengusaha setempat.  “Kalau total dana sekitar Rp 4 juta. Hadiahnya tak seberapa memang. Tapi tujuan dari kegiatan ini untuk merekatkan kekeluargaan warga yang penting bisa tercapai,” tutur dia.

Editor: Supriyadi

Ini Dia Sejarah Tradisi Lomban Jepara yang Wajib Kamu Tahu

Para nelayan dan warga ikut memeriahkan pesta lomban Jepara, Minggu (2/7/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Hari Raya Lebaran di Jepara tak hanya dirayakan pada tanggal 1 Syawal. Tujuh hari berselang, pesta berlanjut dengan tradisi syawalan yang dirayakan dengan pembuatan penganan tradisional kupat-lepet dan pesta Lomban. Lalu bagaimana sejarah tradisi tersebut bermula?

Sumber literatur yang diperoleh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jepara menyebut, tradisi lomban telah berlangsung pada paruh kedua abad XIX. Hal ini sesuai dengan tulisan pada majalah bertajuk Slompret Melayu yang terbit pada 12 dan 17 Agustus 1893. 

Gunungan Kupat Lepet Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga dalam Hitungan Menit

Adapun tradisi larung kepala kerbau dimulai sekitar tahun 1920, saat Kelurahan Ujung Batu dikepalai oleh Haji Sidik. Pada masa itu, sebelum tumbal kepala kerbau dilarung, akan didoakan oleh pemuka agama setempat. Lantas, para nelayan akan mengangkat sesaji tersebut keatas kapal dan diantar ke tengah laut, menuju Teluk Jepara. 

Di tengah laut, sesaji itu akan dilempar dan diperebutkan oleh para nelayan. Sesuai kepercayaan, mereka yang berhasil mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan kemudahan rezeki dari Tuhan. 

Kasi Penangkapan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Paat Efendi mengatakan, dulu pada tahun 1970an, partisipasi nelayan sangat tinggi. Hal itu karena, semua persiapan, dari akhir hingga selesai dilakukan oleh mereka. 

“Namun sekarang nelayan hanya sebagai penonton saja. Keterlibatan nelayan dalam proses persiapan menurun. Namun dari sisi peserta ada sekitar 200 kapal yang mengikuti acara tersebut,” tuturnya. 

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Dikatakannya, hingga kini masyarakat nelayan masih percaya ketika mengikuti lomban akan mendapatkan kelimpahan rezeki. “Harapannya kedepan keterlibatan nelayan bisa lebih ditingkatkan,” ungkapnya.

Kini tradisi lomban di Jepara tak hanya dinikmati warga Kelurahan Ujung Batu saja. Event tersebut, saat ini menjadi daya tarik wisata yang digarap secara serius oleh Pemda Jepara.

Editor: Supriyadi

Meriah, Pesta Lomban Jepara Diikuti Ratusan Nelayan dan Warga

Ratusan nelayan mengikuti prosesi pesta lomban di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Ratusan nelayan ikut serta dalam pesta Lomban di Jepara, Minggu (2/7/2017) pagi. Acara tersebut berlangsung meriah, dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu, sebuah replika kapal berisi kepala kerbau dilarung ke tengah laut. 

Pelarungan kepala kerbau tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Jepara Ahmad Marzuqi, beserta unsur Forkopimda.  Sesaat setelah dilarung, replika kapal tersebut langsung menjadi rebutan para nelayan. 

“Masyarakat nelayan masih percaya dengan mengikuti lomban, dan menyirami kapal dengan air bekas larungan akan mendatangkan berkah dan tangkapan yang melimpah,” ujar Kepala Seksi Penangkapan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Paat Efendi. 

Larungan sendiri digelar selepas Pulau Panjang. 

Menurut data HSNi jumlah kapal yang ikut dalam acara teesebut sekitar 200 kapal. Mereka berasal dari seantero Jepara. 

Bupati Jepara menyatakan acara tersebut sebagai bentuk rasa syukur akan rezeki yang diterima selama setahun belakangan. Dengan lomban yang diadakan tahun ini, nelayan berharap rezeki untuk setahun kedepan lebih melimpah. 

Editor: Supriyadi

Ratusan Polisi Bakal Amankan Lomban di Laut Jepara

Kapal nelayan melintas di Pelabuhan Ujung Batu, Sabtu (1/7/017), sehari sebelum pelaksanaan tradisi lomban. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Polres Jepara akan menerjunkan 300 personel untuk mengamankan prosesi syawalan atau lomban, esok Minggu (2/7/2017). Selain itu, Polair Polda Jateng juga berencana menurunkan bantuan pasukan pada tradisi tahunan itu. 

“Dari polres, untuk personel kita akan menurunan lebih kurang 300 personel. Selain itu, kita juga akan dibantu dari Satpol PP, TNI, melibatkan Basarnas dan pemda. Untuk gabungan ya sekitar 300 lebih, nanti ada tupoksinya masing-masing. Kita juga ada Bawah Kendali Operasi (BKO) dari Polair Polda Jateng, sekitar dua kapal besar,” kata Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adhi Nugroho, Sabtu (1/7/2017). 

Ia menekankan pada para nelayan dan warga yang mengikuti acara tersebut, agar menaati peraturan. Satu di antaranya menggunakan jaket pelampung atau life vest saat menumpang kapal. Di samping itu, pihaknya juga telah menyosialisasikan agar pemilik kapal tidak mengangkut orang melebihi dari kapasitasnya.

“Nanti juga kami akan ingatkan lagi pada saat acara berlangsung agar memakai pelampung dan muatan penumpang tidak melebihi 20 orang,” ujarnya. 

Kapolres menuturkan, pihaknya juga akan menggandeng Polres Demak, Rembang dan sekitarnya. Hal itu karena peserta lomban diperkirakan juga berasal dari wilayah tersebut. 

Ia mengungkapkan, konsentrasi penambahan keamanan fokus pada pantai-pantai penyelenggara acara. Di antaranya, Pantai Kartini, Tempat Pelelangan Ikan, Pantai Bandengan dan Pulau Panjang.

Penempatan pasukan juga dilakukan di sumber-sumber kemacetan. Termasuk penempatan personel di perempatan yang menuju Pantai Bandengan.

“Untuk antisipasi kemacetan kita sudah buat satu jalur untuk Pantai Kartini. Di Pantai Bendengan dialihkan belok kiri ke Kedung Cino untuk keluarnya,” tutup Yudianto.

Editor : Ali Muntoha

Baru 50 Persen Desa di Jepara yang Manfaatkan Website

Beberapa perangkat desa mendapatkan pelatihan terkait Sistem Informasi Desa (SID), Jumat (19/5/2017), di Aula BKD Pemkab Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum semua desa di Jepara maksimalkan website desa. Ketiadaan petugas khusus dan gagap teknologi diduga menjadi penyebab belum aktifnya sistem informasi desa berbasis online (daring).  

Hal ini terungkap dalam Pelatihan Sistem Informasi Desa (SID) untuk perangkat dan operator desa, Jumat (19/5/2017). Ipan Zulkifli dari Badan Prakarsa Pemberdayaan Desa dan Kawasan (BP2DK) Jakarta menuturkan, secara riil, desa-desa di Jepara belumlah memanfaatkan teknologi informasi.

“Kalau secara riil, desa belum aktif dalam pengisian situs milik pemerintah desa. Berdasarkan pelatihan ini, masih kurang dari 50 persen, desa di Jepara yang proaktif dalam penggunaan situs desa,” ujarnya.

Padahal, lanjut Ipan, dengan pengelolaan situs desa dan data base (data induk) berbasis daring banyak keuntungan yang diperoleh pemerintah desa. Di antaranya kepraktisan pengaturan arsip nir kertas, kecepatan akses dan keamanan data. 

Di samping itu, ketiadaan pengelola khusus dianggap menjadi penghambat berkembangnya situs desa dan pengelolaan SID. 

“Sekarang yang datang sudah diberi surat keputusan (SK) dari kepala desa setempat. Dengan itu mudah-mudahan petugas yang diberi wewenang bisa lebih fokus,” imbuhnya. 

Kenyataan itu tak ditampik oleh Tenaga Ahli Program P3MD Jepara. Menurutnya penerapan aplikasi SID di tingkat desa masih terdapat kesulitan.  “Petugas operator masih perlu dipacu lagi agar lebih aktif mengupdate data di masing-masing desa,” katanya. 

Sementara itu Kabid Penguatan Lembaga Masyarakat Desa Budi Prisulistyono berkata, dengan penggunaan SID diharap dapat menerapkan transparansi penggunaan dana desa. Dengan itu masyarakat juga bisa ikut mengawasi penggunaannya.

“Nanti di sana dipampangkan berapa besaran Dana Desa (DD), bahkan bisa pula dicantumkan laporan pertanggungjawaban (LPj). Insyaallah akan meminimalkan penyimpangan,” ujarnya.

Sekretaris Desa Tunggul, Kecamatan Nalumsari Abdul Aziz mengaku masih kesulitan dalam menjalankan SID. Hal itu karena sebelumnya tak ditekankan penggunaan teknologi informasi. “Belum bisa ini, dari tadi juga salah-salah terus. Tapi dengan belajar otomatis nanti bisa,” urainya.

Dengan penggunaan SID dirinya berharap bisa mengangkat potensi desanya. Hal itu diwujudkan dengan memberitakan setiap kegiatan dan potensi desa melalui situs yang dimiliki.

Editor : Kholistiono

Angin Ribut Terjang Desa Mantingan Jepara

 

Angin ribut menerjang salah satu rumah warga di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017).(Pusdalops BPBD Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Angin ribut menyasar Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Jepara, Sabtu (6/5/2017) siang. Akibatnya, sebuah rumah sekaligus warung milik Isfarotun (45) dan penggergajian kayu, roboh. Bukan hanya itu, tercatat ada empat brak (tempat kerja) mebel, mengalami kerusakan terutama dibagian atap. 

Seorang warga, Sofwan mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada pukul 14.00 WIB. Ia berujar, angin besar menerjang sekitar seperempat jam. “Anginnya besar itu muser-muser. Lalu bagian brak itu ikut terbawa,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh Mastono. Ia mengaku saat itu dalam kondisi hujan yang deras disertai angin. Ketika kejadian berlangsung, istrinya sedang memasak di dapur. 

“Anginnya besar disertai hujan. Saat itu, istri saya sedang memasak di dapur. Begitu ada angina, ia lantas keluar, namun apinya lupa dimatikan. Baru setelah kejadian rumah roboh api dimatikan.   Beruntung tidak ada korban jiwa,” ujar Tono yang merupakan suami dari Isfarotun.  

Ia menaksir, kerugian yang dideritanya sebesar Rp 30 juta. Saat ini ia belum bisa berbuat banyak atas musibah tersebut, namun ia sangat mengharapkan bantuan dari pemerintah. 

Hingga sore hari, warga terdampak bencana terlihat masih membersihkan puing sisa dari rumah atau brak yang rusak. 

Catatan Pusdalops BPBD Jepara, tidak ada korban jiwa akibat kejadian tersebut. Pihaknya pun telah melakukan assesment awal sebagai langkah pertama untuk pengambilan keputusan selanjutnya.

Berdasarkan catatan Pusdalops BPBD Jepara, beberapa bangunan yang ikut terdampak musibah angin di antaranya, brak mebel milik Suliyah (48) RT 21 RW 7, brak mebel milik Makrum (67) RT 4 RW 1, brak mebel milik Anggun Susanto (33) RT  4 RW 1 dan brak mebel milik Miftakhul Imam (46) RT 29 RW 1. Rerata mengalami kerusakan ringan hingga sedang pada atap. (*)

Editor : Kholistiono

Takut Dibentak Anak Cucu, Nenek Renta Warga Jepara Ini Pilih Hidup Sebatangkara di Gubuk Reot

Mbah Pondeng saat berada di gubuk reot berukuran 4×3 meter. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara –  Nama Mbah Pondeng belakangan sering disebut oleh netizen. Lantaran, nenek renta itu dikabarkan hidup seorang diri dalam gubuk reot. Sedangkan anak cucunya dikabarkan tak pernah kembali. 

Berbekal cerita tersebut MuriaNewsCom pun menyambangi nenek yang tinggal di Dukuh Duren, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang. Kala pewarta menyambanginya, sosok renta tersebut tengah tiduran di ranjang bambunya. 

Ia menempati sebuah gubuk kecil berukuran lebih kurang 4×3 meter. Bangunan beratap asbes, berdinding anyaman bambu (gedhek) itu ia tinggali sendiri. Disekitarnya adalah kebun ketela dan kandang sapi. Adapula pohon sawo yang tumbuh didepan gubuk itu. Sementara di kanan kiri, terdapat tumpukan ranting dan beberapa karung plastik. 

Menilik kedalam gubuk, ada sebuah ranjang bambu. Disamping kanan terdapat tungku. Sedangkan pakaiannya, ia biarkan terserak di atas ranjangnya. 

Cukup sulit melakukan obrolan dengan Mbah Pondeng. Selain cadel, terkadang arah pembicaraanya juga tidak fokus, mengingat faktor usia. Namun sesekali gelak tawa masih ia suguhkan kepada lawan bicara. 

Aku duwe anak putu, aku ya mbiyen duwe bojo, Jengene Paini. Tapi wis pejah (saya punya anak dan cucu, saya dulu juga punya suami namanya Paini. Tapi sudah meninggal),” ujarnya.

Ia kemudian bertutur bagaimana dirinya bisa tinggal di gubuk tersebut. Dikisahkannya, sewaktu muda dirinya bertransmigrasi dengan suaminya ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Untuk bekal ke tujuan transmigrasi, ia mengaku telah menjual rumah dan tanahnya di kampungnya. 

Setelah menjajal peruntungan di rantau, ia dan suaminya memilih kembali desanya. “Sakwise aku ya mondhok-mondhok karo bojo (Setelah bertransmigrasi saya hidup dengan menumpang dengan suami saya),” kenangnya.

Setelah suaminya meninggal, dirinya mengaku tetap hidup menumpang di tanah milik orang lain. Hal itu ia lakukan karena takut merepotkan anak-anaknya.

” Aku eco manggon dewekan kok , aku nek manggon karo anak lan putu ndak wedi disentak-sentak, sakit lo mas (Saya suka sendiri karena nanti takut menjadi beban. Saya kalau serumah dengan anak dan cucu juga takut dibentak-bentak, sakit lo mas),” ungkapnya.  

Saat ditanya tentang keberadaan anak dan cucunya, dirinya tidak memberikan jawaban dengan jelas.  

Editor: Supriyadi

Jepara Wakili Jateng di Parade Keprajuritan di TMII

Puluhan peserta Parade Keprajuritan Nusantara dari Dewan Kesenian Jepara (DKJ) tengah berlatih di sanggar tari Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Dewan Kesenian Jepara (DKJ) kini sudah mulai mempersiapkan peserta yang akan tampil mewakili Jawa Tengah di even Parade Keprajuritan Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, November 2017.

Sekretaris Dewan Kesenian Jepara (DKJ) Rhobi Shani mengatakan, untuk tahun ini Jepara ditunjuk oleh provinsi untuk mewakili di even Parade Keprajuritan Nusantara.

“Untuk even rutin tersebut, nantinya akan menampilkan tema Laskar Kalinyamatan dengan melibatkan 100 personel,” kata Rhobi di Jepara, Sabtu (25/2/2017).

Untuk pesertanya sendiri, pihaknya akan mempersiapkan sebanyak 30 orang dari peserta putra dan 70 orang untuk peserta putri.

“Saat ini kita sudah mendapatkan 8 peserta putra, sedangkan yang peserta putri baru mendapatkan 44 orang. Dan inipun masih proses latihan dan pencarian peserta melalui pengumuman. Baik di sekolah, sanggar seni maupun lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, saat disinggung mengenai kekurang personel tersebut, kini pihaknya akan terus berupaya. “Memang kita kendalanya ya di personel. Dan ini baru mendapatkan 8 orang pria, dan 44 putri. Itupun ada yang bekerja menjadi pegawai bank dan lainnya. Selain itu, nantinya kalau masih kurang, maka kita akan berkoordinasi dengan perguruan silat untuk bisa mengikutkan muridnya. Sebab murid di perguruan silat itu sudah mempunyai dasar gerakan-gerakan yang teratur yang bisa dipadupadankan dengan tari,” ungkap dia.

Dia melanjutkan, untuk parade ini nantinya, DKJ juga akan mencari sosok perempuan yang bisa memerankan Ratu Kalinyamat.

“Sosok Ratu Kalinyamat saat ini kan dikenal masyarakat luas hanya dari kecantikannya saja. Akan tetapi kita mencarinya bukan hanya dari kecantikan. Namun juga dia harus bisa nembang, menari dan sebagainya. Supaya paradigma di masyarakat itu bahwa Ratu Kalinyamat bukan sekadar cantik saja. Melainkan multi talenta,” paparnya.

Selain itu, saat ditanya mengenai target juara, ia berharap nantinya bisa mendapatkan hasil yang baik dan maksimal.

“Tahun lalu, Jateng menunjuk Kota Pekalongan. Dan bisa mendapatkan umum. Akan tetapi tahun ini Jateng menunjuk kita. Dan mudah mudahan juga bisa mendapaatkan juara,” imbuhnya,

Nantinya Jepara akan bersaing dengan ke-34 provinsi lainnya yang akan pentas di TMII mendatang.

Editor : Akrom Hazami

 

Bisa Celaka Lewat Jalan Rusak Desa Kalianyar Jepara, Kecuali Anda Ekstra Hati-hati

Truk terperosok saat melintas jalan rusak di Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung, Jepara, Sabtu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Jalan  kabupaten di Desa Kalianyar, Kecamatan Kedung, Jepara, rusak parah. Jalan rusak setidaknya 1,2 km. Kerusakan jalan sejak beberapa bulan lalu. Akibat jalan rusak, pengguna jalan kerap terperosok.

Pantauan MuriaNewsCom di lapangan, kerusakan itu terjadi di beberapa titik. Mulai dari lubang jalan dengan diameter 3 cm hingga 20 cm.

Ahmad Mustofam warga mengatakan, bila melalui jalan ini harus berhati-hati. Sebab beberapa hari lalu, dia mendapati pengendara terpeleset. “Harus hati-hati,” kata Mustofam, di Jepara, Sabtu (25/2/2017).

Petinggi Desa Kalianyar Nur Khafid mengatakan, kerusakan jalan ini sudah lama. Pihaknya mengaku sudah sering menyampaikan ke Pemkab Jepara untuk segera diperbaiki. “Warga sudah banyak yang komplain. Kami mengajukan perbaikan ke Pemkab Jepara. Sudah tiga tahun terakhir ini kami selalu mengajukan,” katanya.

Dia melanjutkan, panjang jalan yang berstatus jalan kabupaten di wilayahnya total sekitar 1,5 kilometer. Namun yang sudah dibeton baru 300 meter saja. Menurutnya, jalan memang harus dibeton. Kalau hanya diaspal, bisa langsung rusak. Selain tanahnya yang tidak bagus juga sering dilintasi truk bermuatan berat pengangkut garam.

Perlu diketahui, jalan yang memiliki lebar sekitar empat meter tersebut dulu merupakan jalan desa. Namun sejak sekitar tahun 2005 lalu sudah menjadi jalan yang berstatus sebagai jalan kabupaten. Jalan itu menghubungkan antara Desa Kalianyar – Surodadi dan Panggung yang ada di Kecamatan Kedung.

“Kami berharap ada penanganan dari pihak terkait karena kondisinya memang sudah parah,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Belum Sebulan Diresmikan, Tugu Monumen 3 Tokoh Perempuan di Jepara Sudah Retak

 Plt. Bupati Jepara Ihwam Sudrajat saat meninjau retakan kontruksi tugu monumen tiga tokoh perempuan di Ngabul, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Plt. Bupati Jepara Ihwam Sudrajat saat meninjau retakan kontruksi tugu monumen tiga tokoh perempuan di Ngabul, Kamis (5/1/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Monumen tiga tokoh perempuan Jepara yang berada di bundaran Ngabul, Kecamatan Tahunan, Jepara, kini sudah bisa dilihat dan dinikmati masyarakat. Tiga tokoh perempuan Jepara yaitu dari Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini tampak menjadi ikon patung tersebut.

Tugu monumen tiga tokoh perempuan Jepara tersebut diresmikan pada 22 Desember 2016 lalu. Namun, belum genap sebulan usai diresmikan, kini kontruksi monumen patung tersebut sudah terlihat retak. Keretakan tersebut terdapat di empat titik, yakni di bagian utara, selatan, barat dan timur.

Sedangkan untuk tiap retakannya diperkirakan panjangnya sekitar 5 hingga 10 meter. Sedangkan untuk lebar retakan tersebut 1 hingga 2 sentimeter. Belum diketahui secara pasti penyebabnya apa. Apakah dari kontruksi bangunan atau dari seringnya dipanjat oleh warga.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, dari  keempat retakan tersebut, terjadi pada bagian sambungan hiasan ukir yang mengitari kontruksi penyangga monument. Retakan ini terjadi  sejak 2 hari lalu.

Mengetahui hal tersebut,  Plt Bupati Ihwan Sudrajat langsung mendatangi lokasi pada Kamis (5/1/2017) siang bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya  Ashar Ekanto dan Kabid Cipta Karya Ari Bachtiar. “Saya sudah memerintahkan untuk segera dilakukan perbaikan. Di sisi lain, monumen tersebut memang masih dalam masa perawatan,” kata Plt. Bupati Jepara Ihwan Sudrajat.

Dengan adanya kondisi tersebut, proyek pembangunan monumen yang kini masih dalam tanggung jawab oleh PT Maha Karya Utama Abadi Bandung akan segera diperbaiki. “Saya sudah cek. Untuk kontruksi sesuai spek. Retakan terjadi karena tanah di bagian bawah merembes. Salah satunya mungkin karena sering dipanjat sehingga mengenai bagian bawah.  Kalau kontruksi itu memang tidak untuk dipanjat, ” imbuhnya.

Kabid Bidang Cipta Karya pada Dinas PU dan Cipta Karya Ari Bachtiar mengatakan, retakan diduga karena urukan tanah. Sebab, monumen dibangun di atas tanah uruk baru. Sehingga tanah dimungkinkan merembes lalu menyebabkan kontruksi retak.

Menurutnya, kondisi ini akan segera ditindak lanjuti oleh PT. Maha Karya Utama Abadi Bandung. Sebab merekalah yang mengerjakan. PT. Maha Karya Utama Abadi Bandung masih memiliki tanggung jawab perawatan selama 6 bulan ke depan.

“Monumen akan diperbaiki oleh penyelenggara proyek saat ini juga. Rencananya akan ditambah ornamen untuk mengikat sambungan ukiran yang retak. sebab  ini masih dalam proses perawatan selama 6 bulan ke depan atau garansinya 6 bulan ke depan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Hari Ini, Pendaftaran Tryout Akbar SBMPTN 2017 Kabupaten Jepara Resmi Dibuka

try-out1-300x195

MuriaNewsCom, Jepara Tryout Akbar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Kabupaten Jepara kembali akan diselenggarakan. Kegiatan tersebut rencananya akan digelar di gedung wanita, jalan HOS Cokroaminoto, Jepara, pada Minggu (22/1/2017).

Eka, ketua panitia Tryout Akbar SBMPTN mengatakan panitia membuka pendaftaran mulai awal Januari. “Panita secara resmi akan membuka pendaftaran Tryout Akbar SBMPTN pada tanggal 2 Januari,” kata Eka dalam rilis persnya.

Dia menjelaskan bahwa di tahun ini lokasi pendaftaran tersebar hampir di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Jepara. “Untuk memudahkan pelajar dalam mengikuti kegiatan tersebut, kami membuka tempat pendaftaran di delapan kecamatan yang ada di Jepara,” jelasnya.

Lokasi pendaftaran tersebut adalah Kecamatan Mayong di Media CellComp atau depan SMP N 1 Mayong, Kecamatan Kalinyamatan di Ria Cell atau depan MTs Darul Ulum Puwogondo, Kecamatan Pecangaan di Depo Celuler atau kompleks Ruko Walisongo atau samping SMP Walisongo, dan Kecamatan Kedung di Thopiq Photochopy atau depan Bank BKK Kedung.

Selanjutnya di Kecamatan Tahunan di fotokopi Berbagi Media Jalan Pekeng, kompleks kampus Unisnu, Jepara Kota di Ghea Cell depan Swalayan Saudara, Kecamatan Mlonggo di Rollas fotokopi depan Bank BKK Mlonggo, dan Kecamatan Bangsri di Jenderal Celluler  di depan Masjid An-Nur Bangsri.

Dia menerangkan bahwa di tahun ini panitia telah menyediakan penghargaan untuk tiga besar peserta dengan nilai tertinggi. Di antaranya adalah pembinaan satu bulan untuk menghadapi seleksi SBMPTN 2017. “Selain pembinaan full, panitia juga memberikan piagam penghargaan dan uang pembinaan kepada tiga besar peserta dengan nilai tertinggi.

Editor : Akrom Hazami

Wisatawan Pantai Bandengan Jepara Keluhkan Warung di Lokasi Wisata Tak Sertakan Daftar Menu

Wisatawan menikmati kegiatan wisatanya di Pantai Bandengan Jepara. (MuriaNewsCom/Merie)

Wisatawan menikmati kegiatan wisatanya di Pantai Bandengan Jepara. (MuriaNewsCom/Merie)

MuriaNewsCom, Jepara – Salah satu hal yang dikeluhkan pengunjung Pantai Bandengan saat berkunjung ke lokasi wisata itu dan ingin makan di warung, adalah tidak tersedianya menu makanan yang disertai tarif harganya.

Inilah yang membuat pengunjung, terkadang waswas jika ingin makan, di warung yang kebanyakan menyediakan menu seafood tersebut. “Biasanya kalau datang ke warung begitu, langsung milih ikan yang akan diolah. Tidak ada menu yang isinya menyertakan jenis makanan atau minuman, sekaligus harganya,” kata Wati, pengunjung dari Kabupaten Kudus yang sering menghabiskan liburan di pantai berpasir putih itu.

Baca juga : Ini Rincian Harga Makanan yang Tidak Wajar, yang Harus Dibayar Keluarga Kades Asal Kudus di Pantai Bandengan

Karenanya, menurut Wati, dirinya jarang menikmati aneka olahan seafood di warung yang ada di pantai. “Takutnya, kalau pas membayar, harganya mahal. Kalau pas bawa uang banyak sih, tidak masalah. Tapi kalau tidak, mau membayar pakai apa. Paling kita hanya pesan es kelapa muda saja,” katanya.

Tidak adanya daftar menu di warung-warung tersebut, juga diakui Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Jepara Mulyaji. Menurutnya, selama ini memang daftar menu itu memang belum ada. “Hampir seluruh warung yang ada, memang belum ada daftar menu ya. Terkadang itu memang menyulitkan bagi pengunjung,” katanya.

Apalagi, komoditas aneka olahan seafood memang memiliki karakter berbeda dari olahan makanan lainnya. Misalnya ikan laut yang sering jadi favorit olahan saat berkunjung ke sebuah kawasan pantai. “Kadang memang harganya naik turun, mengikuti musimnya. Sehingga harga bisa berubah-ubah memang,” jelasnya.

Namun, ditegaskan Mulyaji bahwa hal itu tidak boleh jadi patokan bagi pemilik warung makan, untuk menerapkan tarif seenaknya. Semua harus sesuai kewajaran yang ada, sehingga tidak ada yang dirugikan.

“Kita juga sudah tegaskan saat kita lakukan pembinaan kepada seluruh warung makan yang ada. Bahwa mulai saat ini, mereka harus menyertakan daftar menu. Sehingga pengunjung bisa memilih menu yang diinginkan. Tidak ragu-ragu lagi akan harga yang harus dibayarkan,” terangnya.

Baca juga : Pengelola Bandengan Jepara Sebut Nama Warung yang Terapkan Harga Tak Wajar 

Mulyaji menambahkan bahwa pembeli terkadang memang kesulitan untuk melapor, jika menilai dirugikan. Meski ada paguyuban pedagang, namun soal harga adalah hak dari pemilik warung. Sehingga yang bisa dilakukan pihaknya, adalah memberikan imbauan dan pembinaan kepada pedagang, agar tidak melakukan praktik aji mumpung.

“Itu yang terus menerus kita lakukan. Membina pedagang, agar selalu menerapkan harga yang wajar. Juga bisa memberikan kualitas pelayanan yang baik bagi pengunjung mereka. Sehingga, wisatawan yang datang, juga akan merasa senang saat di sana. Dengan begitu, mereka akan kembali lagi suatu saat nanti,” imbuhnya.

Baca juga : Takut Harga Tak Wajar, Pengunjung Pantai Bandengan Jepara Bawa Bekal Sendiri

 Editor : Akrom Hazami

Rumah Aksara Jepara Lestarikan Dolanan Anak Lewat Film Pendek

Rumah Aksara Wilis Bersaudara saat melakukan pengambilan gambar untuk film pendek di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara. (ISTIMEWA)

Rumah Aksara Wilis Bersaudara saat melakukan pengambilan gambar untuk film pendek di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Rumah Aksara Wilis Bersaudara membuat film pendek bertema anak dengan melibatkan puluhan anak seusia SD sebagai aktor. Proses pengambilan gambar dilakukan di Desa Teluk Wetan, Kecamatan Welahan, Jepara selama dua hari Sabtu-Minggu (24-25/12).

Selama pembuatan film, anak-anak terlihat antusias dengan mengikuti serangkaian kegiatan. Seperti secreaning film, diskusi, casting, dan pemahaman naskah. Selain itu, para aktor juga bersedia mengikuti orientasi latar shooting, di antaranya rumah warga, sungai, sawah dan lahan lapang.

Film berjudul “ayo dolanan, cah” mengangkat isu soal permainan tradisional yang mulai terkikis oleh kecanggihan teknologi. Kemudahan mengakses game dan permainan online lain justru mempersempit ruang kreatif dan memperenggang kebersamaan.

Pada penggarapan film kedua ini, Rumah Aksara yang bermarkas di Desa Teluk Wetan RT 15 RW 2 ini menggandeng Silent Candle Production, komunitas film dari Kendal. 

Proses pembuatan film dilakukan dengan cara sederhana. Sehingga tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Para aktor yang kurang-lebih 20 anak, tampak membawa jajan sendiri saat sedang di lokasi shooting. Peralatan yang digunakan pun seadanya. Bahkan, proses editing, dilakukan oleh tim Silent Candle Production dengan cuma-cuma.

Rumah Aksara Wilis Bersaudara adalah ruang kreatif bagi anak-anak untuk belajar sambil bermain, atau bermain yang bernilai ajar. Berdiri sejak pertengahan 2016 di Desa Teluk Wetan RT 15 RW 2 Welahan, Jepara.

“Pembuatan film ini menjadi ruang kreatif bagi anak-anak. Sebab, anak-anak sekarang banyak memiliki ruang ekspresi, tapi semakin sempit ruang kreatif. Maka, proses ini sedikit memberikan mereka kembali menemukan kesenangan yang positif,” ujar Wikha Setiawan, pendiri Rumah Aksara Wilis Bersaudara.

Menurutnya, anak-anak adalah generasi bangsa yang perlu diperhatikan. “Anak-anak adalah mereka yang nantinya punya tanggungjawab sebagai penerus bangsa. Untuk itu, perlu dibekali mental yang bisa membangun dan merawat,” tambahnya.

Riki, angggota Silent Candle Production menambahkan, ini merupakan pengalaman pertama membuat film dengan aktor anak-anak. “Menarik dan pengalaman baru. Anak-anaknya antusias dan cepat paham,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Garam Beryodium Dibagikan Gratis di Puskesmas Keling Jepara

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Puskesmas Keling 2 Jepara memberikan apresiasi kepada para kadernya yang berperan maksimal dalam pembangunan kesehatan di wilayah kerja puskesmas tersebut.

Salah satu prestasi yang diraih adalah tidak adanya kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dalam dua tahun terakhir. Kampanye mengkonsumsi garam beryodium dan pil tambah darah disebut sebagai dua program kunci menekan AKI, yang melibatkan para kader.

Kepala Puskesmas Keling 2 Suhadi mengatakan, momen kebersamaan dengan para kader di peringatan hari ibu Kamis (22/12/2016), dimanfaatkan untuk menyampaikan terima kasih kepada para kader dan seluruh stakeholder kesehatan di wilayah tersebut.

“Kami tidak memberi apa-apa. Hanya sepotong kain batik untuk setiap kader serta 250 gram garam beryodium yang kami berikan. Kain sebagai bingkisan dan garam untuk melanjutkan kampanye konsumsi garam beryodium,” kata Suhadi dikutip situs resmi Pemkab Jepara.

Penyerahan dilakukan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dokter Aniek Rufaida. Total terdapat 270 kader yang hadir dalam peringatan hari ibu yang diisi dengan apel pagi, senam, jalan sehat, dan pembagian doorprize.

Mereka terdiri dari kader posyandu, posbindu, posyandu lansia, dan dukun bayi dari enam desa di wilayah kerja puskesmas. Yakni Desa Kaligarang, Tunahan, Gelang, Bumiharjo, Keling, dan Kunir. Seluruh unsur Muspika juga hadir dalam acara ini.

Suhadi menyebut, sukses nol AKI memang dicapai melalui dua program kunci, konsumsi garam beryodium dan upaya tambah darah sejak remaja putri.

Di semua desa, kader kesehatan membantu mengawal perkembangan ibu hamil hingga proses persalinan di lingkungan masing-masing. Mereka membangun kesadaran resiko kurang garam beryodium bisa menyebabkan keguguran atau setidaknya kelahiran beresiko. Yaitu bayi cacat fisik atau mengalami keterbelakangan mental.

“Maka setiap ibu hamil yang pertama kali periksa ke bidan,  diberikan secara gratis garam beryodium agar tak mengalami GAKI (gangguan akibat kekurangan garam beryodium)” katanya.

Sedangkan program pil tambah darah sasarannya remaja putri agar pada saat menstruasi minum obat tambah darah sulfa ferous yang diberikan gratis. Selain saat menstruasi juga seminggu sekali.

Kegiatan ini dilaksanakan di SMP dan MTs di wilayah kerja, sedangkan pil tambah darah diberikan gratis melalui PKS.

“Kami bersyukur kegiatan seperti ini didukung stakeholder termasuk Muspika. Jangan kaget kalau di wilayah kerja kami sampai melihat mobil operasional Polsek dimanfaatkan oleh anggota Polri membantu sosialisasi berbagai program kesehatan. Semua memang total mendukung,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Sampah Bisa Dikreasikan jadi Barang Super Oke, Itu Terbukti di Jepara

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat saat menghadiri pameran ragam kreasi sampah di Kabupaten Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Sejak diresmikan kali pertama Januari 2013, jumlah bank sampah di Kabupaten Jepara terus bertambah. Jika pada akhir tahun 2013 tidak lebih dari 10 unit, pada akhir tahun 2015 tercatat berkembang menjadi lebih dari 55 unit. Sementara hingga di tahun 2016 menjadi sebanyak 89 bank sampah yang eksis maupun rintisan.

Bank sampah ini terdiri dari bank sampah  permukiman, bank sampah sekolah dan bank sampah kantor/SKPD.

Semakin banyak jumlah bank sampah, utamanya yang aktif, berarti akan semakin besar manfaat yang dapat diberikan bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan. Salah satu hasilnya dapat dilihat langsung pada Pameran Kreativitas Sampah Tahun 2016, di halaman pendapa Kabupaten Jepara.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 2 hari ini, Rabu dan Kamis (21-22/12) sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Rapat Kerja Daerah II Bank Sampah Kabupaten Jepara yang dibuka langsung oleh Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat.

Hadir pada kesempatan tersebut, Sekda Jepara, Kepala BLH, Kepala Dinas/Instansi terkait serta peserta yang terdiri dari perwakilan pengurus dari 89 Bank sampah se-Kabupaten Jepara.

Kepala BLH Kabupaten Jepara, Fadkurrohman menyatakan pameran kreativitas sampah tahun 2016 ini diikuti 24 peserta dari bank sampah, sekolah dan komunitas peduli lingkungan.

Sementara untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, khususnya bidang persampahan, pada kesempatan rapat kerja kali ini ditampilkan pelaku sekaligus tokoh perintis yang kini menjadi Direktur Bank Sampah Mulya Sejahtera Semarang, Sri Mulyani.

Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat sangat apresiasi atas berbagai kreativitas dalam pengelolaan sampah, sebagaimana yang ditampilkan dalam pameran. “Diharapkan  dapat lebih meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah,” katanya.

Khusus produk hasil pengolahan limbah sampah hendaknya hendaknya terus ditingkatkan. Sehingga dapat lebih menarik minat para pembeli dan masyarakat serta konsumen secara keseluruhan. 

 Editor : Akrom Hazami

Warga Jepara, Ini Lho Cara Persyaratan Pembuatan SKCK

skck

Langkah proses permohonan SKCK. (http://skck.jateng.polri.go.id/)

MuriaNewsCom, Jepara – Bagi Anda warga Jepara, MuriaNewsCom menginformasikan tentang pelayanan pembuatan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Siapa tahu, Anda, keluarga, saudara, tetangga, teman, dan sekitar butuh informasinya.

Berikut di antara pelayanan SKCK yang dikutip dari Tribratanewsjepara :  

  1. PELAYANAN SURAT KETERANGAN CATATAN KEPOLISIAN ( SKCK )

Persyaratan :

Bagi WNI :

  1. Foto Copy KTP ( e-KTP ) atau Identitas lain
  2. Foto Copy Kartu Keluarga ( KK )
  3. Foto Copy Akte Lahir / Ijazah
  4. Foto Copy Passport ( bagi yang akan keluar negeri )
  5. Pas Photo Berwarna ukuran 4×6 ( 4 lembar background merah )
  6. Rekomendasi Polsek setempat
  7. Rumus sidik jari di INAFIS Polres Jepara

Bagi WNA :

  1. Foto Copy Kitas/Kitap
  2. Foto Copy STM/SKJ
  3. Foto Copy Passport
  4. Pas Photo Berwarna ukuran 4×6 ( 4 lembar background kuning )
  5. Rekomendasi Polda setempat

( Dasar : PP Nomor 50 Tahun 2010 tentang PNBP SKCK Sebesar Rp. 10.000,- )

Silakan bagikan informasi ini kepada mereka yang membutuhkan. Jangan biarkan, mereka bingung hanya gara-gara kekurangan info soal persyaratan pembuatan SKCK.

Editor : Akrom Hazami

Mahasiswa Unisnu Lakukan Aksi Tanam Pohon di Batealit Jepara

Mahasiswa Unisnu melakukan aksi penanaman pohon di Desa Batealit, Kabupaten Jepara. (ISTIMEWA)

Mahasiswa Unisnu melakukan aksi penanaman pohon di Desa Batealit, Kabupaten Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Mahasiswa Unisnu Jepara melakukan aksi penanaman pohon di Dukuh Sengon, Desa Batealit, kabupaten setempat, akhir pekan lalu.

Menurut Kepala Desa Batealit, Ali Asikin, kegiatan ini sangat positif sekali untuk penghijauan. “Penanaman pohon sangat bermanfaat sekali karena selain membuat udara sejuk, pohon juga bisa menjadi tempat cadangan air sehingga saat musim kemarau nanti tidak terjadi kekeringan” tuturnya di rilis pers.

Ali juga berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan untuk bisa menjaga kelestarian lingkungan.

Selain menanam pohon trembesi kegiatan yang dilaksanakan UKM Resimen Mahasiswa itu juga membagikan bibit pohon secara gratis kepada masyarakat.  Sekitar 2.750 bibit pohon yang dibagikan yang terdiri dari 1.500 pohon sengon laut, 500 pohon trembesi, 250 pohon durian, 250 pohon pete, dan 250 pohon rambutan. Semua pohon tersebut diberikan kepada perangkat desa dan selanjutnya nanti akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Dalam bakti sosial ini juga dilakukan aksi donor darah dengan mendatangkan Palang Merah Indonesia (PMI). Kerja sama dengan PMI ini bukan yan pertama kali dilakukan namun sudah beberapa kali dilakukan oleh Menwa.

Menurut petugas donor darah dari PMI, tidak ada target berapa pun namun yang penting adalah keikhlasan dari peserta donor darah. Banyak mahasiswa yang merasa takut untuk donor darah.

Komandan Menwa Unisnu Arif Rahman Hakim mengatakan, kegiatan bakti sosial ini merupakan upaya meningkatkan jiwa bela negara melaui penanaman pohon dan juga donor darah.

“Kegiatan merupakan salah satu bentuk dari kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar. Kegiatan ini juga upaya untuk memperkenalkan Unisnu,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Jepara Otomotif Association dan KPA Jateng Peringati Hari HIV/AIDS

Anggota Jepara Otomotif Association (JOA) saat memasuki finis Fun Rally We Care HIV/AIDS di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara. (ISTIMEWA)

Anggota Jepara Otomotif Association (JOA) saat memasuki finis Fun Rally We Care HIV/AIDS di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jawa Tengah dan Jepara Otomotif Association (JOA) menggelar acara yang sangat unik dan menarik pada peringatan HIV/AIDS Dunia periode tahun 2016 ini, akhir pekan lalu.

Kerja sama kegiatan pada kesempatan ini dengan mengusung konsep Fun Rally We Care HIV/AIDS yang diselenggarakan dengan start di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah dengan Finish di Stadion Gelora Bumi Kartini Jepara.

Selain KPAP dan JOA hadir dalam kesempatan ini dari beberapa jajaran dan lembaga baik pemerintah, pendidikan, lsm, swasta dan club / komunitas di Jawa Tengah. Hadir pada kesempatan tersebut antara lain; Gubernur Jateng yang diwakili oleh Sekretaris KPAP Jateng Zaenal Arifin, perwakilan dari Pemprov Jateng, Rektor Universitas Ngudi Waluyo Ungaran Prof Subyantoro, Sie P2 (Pengendalian Penyakit) & Sie. Surveilance Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Pemerintah Kabupaten Jepara, KPA Kabupaten Jepara KPA Kabupaten Demak, Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus serta dukungan besar dari Komunitas Mobil Semarang (KOSMOS).

Start Fun Rally dengan pengibaran bendera oleh KPAP Jateng dengan pesan yang disampaikan bahwa KPA mengucapkan banyak terima kasih kepada para penggemar otomotif mobil. Dengan adanya kepedulian dan perhatian dari asosiasi otomotif kepada program pemerintah dengan model pemberdayaan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pada kesempatan ini JOA sebagai penggagas acara yang digawangi oleh Ahmad Kholid menyampaikan bahwa acara Fun Rally We Care HIV/AIDS ini sebagai bentuk program Social Responsibility JOA kepada masyarakat.

“Fun Rally We Care HIV/AIDS ini diikuti oleh 402 orang peserta dengan 201 mobil dari beberapa klub / komunitas mobil di seluruh Jawa Tengah baik yang tergabung dalam JOA maupun KOSMOS, serta diikuti oleh beberapa partisipan dari non club,” katanya di rilis persnya.

Pada acara Fun Rally tersebut juga diisi dengan Kampanye HIV/AIDS oleh LSM ODHA Jepara, bazar dari UMKM dan lembaga sosial lainnya serta dari beberapa mitra kerja sama JOA; PT. Forisa, Hotel Dseason dan lainnya. Adapun acara ini ditutup dengan hiburan live music dan pengundian puluhan doorprize dengan grandprize sepeda motor yang dimenangkan oleh salah satu anggota dari club APV chapter Semarang.

Editor : Akrom Hazami

Warga Welahan Jepara Dikenalkan Cukai Ilegal

Kepala Subseksi Bea & Cukai Kudus Zaini Rasidi menjadi narasumber dalam sosialisasi cukai ilegal

Kepala Subseksi Bea & Cukai Kudus Zaini Rasidi menjadi narasumber dalam sosialisasi cukai ilegal

MuriaNewsCom, Jepara – Kepala Kepolisian Sektor Welahan Resor Jepara Polda Jateng, AKP Usman Jumaidi menghadiri sosialisasi cukai ilegal di Kecamatan Welahan, kemarin.

Kapolsek Welahan AKP Usman Jumaidi mengatakan, sosialisasi dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara berkolaborasi dengan Kantor Bea dan Cukai Kudus dengan tujuan untuk mengenalkan barang kena cukai ilegal di pasaran. Selain juga, memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pelaku usaha terkait aturan-aturan yang berlaku di bidang cukai. Tujuannya guna meningkatkan pendapatan negara di sektor cukai rokok.

Menciptakan pemahaman masyarakat dan instansi terkait sehubungan dengan Dana Bagi Hasil Cukai Barang Kena Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Kantor Bea Cukai Kudus yang diwakili oleh Kepala Subseksi Bea & Cukai Kudus Zaini Rasidi menjadi narasumber dalam sosialisasi cukai ilegal.

Bertempat di Pendapa Kecamatan Welahan, acara dibuka dengan sambutan Camat Welahan, dihadiri perwakilan Bakesbangpol Kabupaten Jepara, Sat Pol PP Kabupaten Jepara, Muspika Kecamatan Welahan, petinggi se-Kecamatan Welahan, perwakilan toko masyarakat, tokoh daerah dan juga melibatkan masyarakat sekitar.

Acara dimulai pukul 10.00 sampai 12.00 WIB berlangsung sangat efektif dan informatif. Dalam sesi tanya jawab para peserta aktif meminta penjelasan terkait materi yang telah disampaikan. 

Editor : Akrom Hazami

Bersih Bibir Pantai Mororejo Jepara Digalakkan

Polisi dan warga melakukan bersih bibir pantai Mororejo, Jepara. ( Tribratanewsjepara)

Polisi dan warga melakukan bersih bibir pantai Mororejo, Jepara. ( Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Masyarakat pesisir di areal Pantai Mororejo, turut Rt 4 Rw 02 Desa Mororejo Kecamatan Mlonggo, Jepara bersama Polair Polres Jepara membersihkan lingkungan sekitar pantai.

Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan banyak manfaat kepada semua masyarakat dan meningkatkan kepedulian sesama serta untuk meningkatkan potensi obyek wisata Pantai Mororejo.

“Sehingga pendapatan dan peningkatan ekonomi masyarakat di sektor pariwisata dan kuliner bisa ditingkatkan dengan bentuk menjaga, melestarikan lingkungan yang sehat, nyaman, serta taat aturan dan hukum,” tutur Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kasat Polair AKP Hendrik Irawan.

Editor : Akrom Hazami

Curanmor Bikin Gentar, Polisi Mlonggo Jepara Sambangi Warga 

Polisi menyambangi salah satu tokoh masyarakat Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten  Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi menyambangi salah satu tokoh masyarakat Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten
Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Bhabinkamtibmas Kepolisian Sektor Mlonggo Resor Jepara, Aiptu Antonius melaksanakan sambang dialogis ke rumah salah satu tokok masyarakat Desa Jambu, Mlonggo, Jepara, Bambang.

Sambang dialogis untuk menyampaikan imbauan Kamtibmas serta untuk mengajak masyarakat berkomunikasi dan mendengar keluhan, informasi dan masukan terkait pemeliharaan keamanan, ketertiban masyarakat di desa tersebut.

Kepala Polsek Mlonggo Ajun Komisaris Polisi Maryono melalui Aiptu Antonius Hadimulyo menerangkan selain untuk bertatap muka atau menjalin tali silaturahmi, juga sekaligus untuk  mempererat kemitraan antara polisi dengan masyarakat.

Dalam kesempatan sambang dialogis tersebut, Bhabinkamtibmas menyampaikan pesan dan imbauan  agar selalu waspada terhadap pelaku curanmor. “Para pelaku biasanya sering sekali melakukan aksinya dengan berbagai macam cara, jangan sembarangan memarkirkan kendaraan bermotor dan lengkapi dengan kunci pengaman ganda,” kata Antonius.

Editor : Akrom Hazami

Pelecehan Salat di Jepara, Media Asing juga Memberitakannya

Capture tampilan berita yang tampil di Harian Metro Malaysia.

Capture tampilan berita yang tampil di Harian Metro Malaysia.

MuriaNewsCom, Jepara – Salah satu media massa asing melaporkan kasus pelecehan ibadah salat yang dilakukan remaja asal Kabupaten Jepara.

Adalah Koran Malaysia, Harian Metro. Dengan judulnya “Padah nak popular : Remaja Ditahan Selepas Muat Naik Gambar Bersolat Atas Motosikal.

Menurut Harian Metro, aksi enam remaja ketahuan setelah fotonya diunggah di media sosial Facebook. Mereka tampak melecehkan gerakan salat. Sontak, hal itu membuat geram warga.

Di media tersebut menurunkan isi berita tentang para remaja yang ternyata masih bersekolah. Polres Jepara telah menahan mereka. Kepada polisi, mereka mengaku melakukan hal itu guna menarik perhatian pengguna laman media sosial, dan menjadi terkenal.

Tampilan depan Harian Metro Malaysia edisi Rabu (7/12/2016).

Tampilan depan Harian Metro Malaysia edisi Rabu (7/12/2016).

Setelah keterangan ke polisi usai, mereka dibebaskan. Dan wajib datang bila dibutuhkan informasi lebih lanjut. Polisi juga telah menyita kedua sepeda motor yang digunakan saat aksi pelecehan salat dilakukan sebagai bahan bukti.

 

Editor : Akrom Hazami

 

FKJ PMII Jepara Peringati Hari HIV/AIDS Sedunia

Perwakilan dari Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia. (ISTIMEWA)

Perwakilan dari Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Jepara – Forum Kajian Jender PMII Jepara mengadakan kegiatan peringatan Hari HIV/AIDS se-dunia di bundaran Tugu Kartini, Rabu (30/11/2016) lalu.

Ketua FKJ PMII Jepara Uswatun Hasanah mengatakan, pihaknya memperingati Hari HIV/AIDS setiap tahun. Salah satunya, FKJ PMII mengadakan pementasan teater yang dimainkan oleh Sanggar Seni Eling.

“Kami juga mengadakan pembagian liflet di bundaran Tugu Kartini. Selain juga ada penampilan teater S.S Eling PMII Jepara yang berjudul “ Aku Seperti Kalian” pada malamnya,” kata Uswatun di rilis persnya.

Tidak ketinggalan juga FKJ mengajak masyarakat Jepara untuk menulis segala harapan untuk kota setempat. Khususnya orang dengan HIH (ODHA) agar diperhatikan dan didukung, untuk bersama memajukan Jepara  jadi lebih baik.

Kegiatan yang bertemakan “Aids Membunuhmu” diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat agar waspada dan hati-hati untuk tidak mendekati segala hal yang memungkinkan terjangkit virus yang belum ada obatnya itu.

Pihaknya juga menerangkan bahwa kegiatan dimulai dengan mengadakan roadshow di beberapa sekolah  di Jepara pada 16 dan 19 November di SMKN 1 Bate Alit Jepara dan MA Nurul Muslim serta Forum Pemuda Pancasila, bekerja sama dengan BPPKB Jepara dan DUMAS GENRE Jepara (Siti Humaidah Ariyani).

“Materi yang disampaikan pada kegiatan itu adalah penyebab angka tertinggi kasus HIV di Jepara,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Pemilik Usaha Mebel Diminta Waspada Alat Pertukangan Listrik

Polisi melakukan pengarahan kepada warga, khususnya pemilik usaha mebel untuk waspada alat pertukangan listriknya, di Jepara. (Tribratanewsjepara)

Polisi melakukan pengarahan kepada warga, khususnya pemilik usaha mebel untuk waspada alat pertukangan listriknya, di Jepara. (Tribratanewsjepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Polsek Kedung Polres Jepara tingkatkan patroli dialogis ke sejumlah desa di wilayah Kecamatan Kedung, Kamis (1/12/2016). Patroli dialogis untuk menyampaikan pesan dan imbauan serta antisipasi gangguan kamtibmas.

Kapolres Jepara AKBP M Samsu Arifin melalui Kapolsek Kedung AKP Sukarmo menerangkan polisi meningkatkan kegiatan patroli dan sambang ke desa-desa. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin kemitraan dan sinergitas dengan Polri dan mengajak peran serta elemen masyarakat dalam pembinaan keamanan, ketertiban sehingga terwujudnya wilayah aman dan kondusif.

“Anggota melaksanakan sambang untuk memberikan pesan-pesan kamtibmas kepada warga. Mereka diajak untuk jeli terhadap situasi dan kondisi di sekitar lingkungannya. Selain itu juga memberikan imbauan kepada pemilik usaha mebel terkait dengan kondisi cuaca, agar memperhatikan instalasi kabel alat-alat pertukangan. Hal ini untuk menghindari terjadinya korban akibat tersengat listrik,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami