Menteri Jonan di Jepara Harapkan Pembangunan PLTU Jawa 4 Libatkan Banyak Pekerja Lokal

Menteri ESDM Ignatius Jonan (berkacamata hitam) sedang melihat proses pembangunan PLTU Jawa 4, yang ada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang Jepara, Kamis (31/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menteri ESDM Ignatius Jonan meresmikan groundbreaking Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 4 ( unit 5-6 Tanjung Jati B) berkapasitas 2×1000 MW. Dalam sambutannya, ia mewakili Presiden meminta agar dalam pembangunan fasilitas tersebut melibatkan banyak pekerja lokal. 

“Arahan Presiden bahwa setiap pembangunan bisa melibatkan potensi lokal, karena pembangunan fisiknya besar sehingga local employment (pekerja lokal) dapat ditingkatkan,” ujar Jonan saat peresmian proyek yang ada di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang-Jepara, Kamis (31/8/2017). 

Menurutnya, dengan pelibatan pekerja lokal dapat meningkatkan efek yang timbul dari pembangunan PLTU. Di samping itu, Jonan juga mengingatkan untuk menjaga dampak pencemaran lingkungan. Selain itu, ia juga berpesan agar melalui pembangunan fasilitas tersebut, manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat umum, dan juga bisa selesai dibangun tepat waktu sesuai rencana.  

“Setiap pembangunan fasilitas kelistrikan, harus dapat memberikan manfaat untuk masyarakat, artinya harga listriknya nantinya bisa dijangkau oleh masyarakat. Kalau di Jawa sebenarnya tidak ada masalah, namun jika di luar Jawa yang jauh dari pusat pemerintahan,  ketika ada tiang listrik di depan rumah namun masyarakat tak mampu membeli listrik, maka kekecewaanlah yang akan dialami oleh masyarakat,” lanjutnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh Sri Puryono Sekretaris Daerah Jawa Tengah. Ia berharap jika tenaga pembangun PLTU Jawa 4 dapat diambil dari tenaga lokal. “Tenaga lokal harap diprioritaskan dari Jepara, sesuai dengan tingkat kompetensi masing-masing. Selain itu, dengan adanya proyek nasional ini, diharapkan Jateng semakin seksi untuk industri,” katanya, membacakan sambutan dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang tidak bisa hadir. 

Adapun, pembangunan PLTU Jawa 4 di Jepara dapat memberikan kontribusi penguatan daya listrik sistem interkoneksi Jawa-Bali. Setelah  konstruksinya selesai pada tahun 2021 akan terhubung ke saluran transmisi 500 kV Tanjung Jati-Tx Ungaran. Selain itu, proyek ini merupakan bagian dari program pembangkit listrik 35 ribu MW, yang dibangun PLN bersama swasta (Independent Power Producer) dalam membangun 109 pembangkit. 

Pembangkit PLTU Jawa 4 menempati lahan seluas 77,4 hektar dan menggunakan teknologi terbaru yakni ultra super critical (USC). Teknologi itu diklaim memiliki efisiensi sekitar 8-10 persen dibandingkan dengan pembangkit berbahan batubara yang lain.  Dengan teknologi tersebut penggunaan batubara lebih sedikit, namun menghasilkan daya yang besar. 

Pembangunan fasilitas PLTU Jawa 4 itu juga melengkapi fasilitas sebelumnya, yang telah dibangun di areal yang sama. Adapun total daya yang dihasilkan dari PLTU Tanjung Jati B unit 1-6 nantinya adalah sekitar 4.600 MW, 

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PLN Amir Rosidin mengatakan, dengan pembangunan fasilitas tersebut akan meningkatkan rasio elektrifikasi Indoneseia dengan tetap memperhatikan penggunaan teknologi ramah lingkungan. “Pembangunan PLTU Jawa 4 ini akan memenuhi kebutuhan daya listrik yang terus bertambah di Jawa Bali ke depannya. Selain itu pasokan listrik yang dihasilkan nantinya diharapkan bisa mendorong minat investor untuk terus membangun industri terutama Jawa dan Bali, sehingga berdampak pada ekonomi masyarakat di kedua pulau tersebut,” tuturnya. 

Proyek tersebut dikelola oleh konsorsium PT Bhumi Jati Power, yang terdiri dari Sumitomo Corporation, PT United Tractors dan The Kansai Electric Power Co. Inc. Pembangunan fasilitas tersebut menggunakan skema Build operate and transfer dengan jangka 25 tahun sejak commercial operation date itu, menelan biaya investasi sekitar 4,2 miliar dolar Amerika. 

Editor : Akrom Hazami

 

3 Kios di Bugel Jepara Terbakar  

Petugas melakukan pemadaman kebakaran di Bugel, Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebakaran melanda sebuah kompleks pertokoan di Desa Bugel, RT/RW : 11/3, Kecamatan Kedung, Jepara, Rabu (30/8/2017) sore. Akibatnya, tiga toko yang digunakan sebagai bengkel, studio foto dan pangkas rambut ludes.

Elya Farida warga setempat mengatakan, api kali pertama terlihat dari bengkel yang terletak di sisi utara. Setelah itu si jago merah merembet ke sisi selatan yakni studio foto dan tempat pangkas rambut. 

“Pertama kali api diketahui oleh istri yang punya studio foto. Ketika dia tengah salat, di dalam ruang studio mendengar ada suara, ketika ditengok ternyata api sudah membesar. Lalu ia keluar dan saya berusaha menolong, namun tidak bisa karena takut,” katanya. 

Saat itu, menurut Elya bengkel dan tempat pangkas rambut sudah tutup. Sementara jarum jam menunjuk pukul 15.15 WIB, saat kebakaran terjadi.  “Ada suara ledakan juga, sebanyak tiga kali. Apinya besar sekali, Kemungkinan dari kompresor dan dua komputer yang ada di studio foto,” tutur dia. 

Beruntung kejadian itu tak merembet ke kompleks pertokoan lain, yang berada di selatan lokasi kejadian. Tim pemadam kebakaran menurunkan lima mobil damkar beserta tanki penyuplai air. 

Kabid Pemadam Kebakaran Surana mengatakan, akibat kejadian tersebut kerugian ditaksir Rp 200 juta. Adapun pemilik kios bengkel diketahui bernama Saefurahman, sedangkan studio foto milik Ali Ridho dan kios potong rambut milik Sunarto.

“Untuk penyebabnya diduga karena korsleting listrik dan tidak menimbulkan korban jiwa,” urainya. 

Editor : Akrom Hazami

Penyebrangan ke Karimunjawa Jepara Tak Terpengaruh Tinggi Gelombang Laut

Warga melihat kapal penyeberangan ke Karimunjawa Kabupaten Jepara, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebrangan kapal ke Karimunjawa tidak terpengaruh gelombang di Laut bagian utara Jawa Tengah. Praktis layanan hilir mudik ke pulau terluar Kabupaten Jepara itu, tidak mengalami gangguan. 

“Satu sampai dua hari yang lalu memang gelombang kencang bisa mencapai 1,5 meter sampai 2 meter. Namun kapal kita bisa mengatasi tinggi gelombang sampai maksimal 2,5 meter, jadi masih aman,” kata Manajer Cabang Jepara PT Pelayaran Sakti Makmur Sugeng Riyadi, sebagai operator Kapal Express Bahari, Rabu (30/8/2017). 

Ia mengatakan, dengan kondisi tersebut tidak memengaruhi pelayanan penyebrangan pada long weekend  pada libur hari raya Idhul Adha, yang jatuh pada 1-2 September 2017. Menurutnya, pihaknya sudah membuka reservasi untuk keberangkatan pada tanggal-tanggal tersebut. 

Terpisah, Kepala Seksi Pelabuhan Penyebrangan Kartini Supomo menyebut, berdasarkan informasi teranyar yang diperolehnya tinggi gelombang kini sudah menurun.  “Seminggu kemarin memang terjadi peningkatan tinggi gelombang, namun minggu ini sudah menurun sekitar 1 meter 1,25 meter,” katanya. 

Dikutip dari laman BMKG, tinggi gelombang di utara Jawa Tengah per hari ini berkisar di angka 0,5-1,25 meter. Adapun dari segi cuaca, diperkirakan cerah berawan dengan suhu sekitar 25-34 derajat celcius.

Editor : Akrom Hazami

September Krisis Air di Jepara Diprediksi Semakin Parah

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Krisis air  bersih di Jepara diperkirakan meluas di bulan September 2017. Hal itu disebutkan oleh Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jepara Jamaludin, Rabu (30/8/2017). 

Prediksi tersebut dikatakannya melihat kondisi cuaca yang sangat panas dan mentari yang terik. “Diperkirakan pada bulan September akan banyak desa yang mengajukan bantuan air bersih. Hal itu terutama bagi yang menjadi langganan krisis air bersih,” kata dia. 

Menurutnya, saat ini baru tiga desa yang mengalami krisis air bersih. Yakni Desa Kedung Malang dan Kalianyar yang ada di Kecamatan Kedung dan Raguklampitan di Kecamatan Batealit.

Jamaludin menjelaskan, bantuan air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan pada dua desa di Kecamatan Kedung. Sementara itu di Raguklampitan, droping air dilakukan sebanyak tiga kali dalam sepekan.

Untuk mengatasinya, BPBD Jepara telah menyiapkan khusus untuk memberikan bantuan air bersih. Namun demikian, langkah tersebut dilakukan untuk penanggulangan jangka pendek. Untuk langkah lebih lanjut seperti pembuatan sumur pantek, hal itu belum bisa dilakukan. 

Editor : Ali Muntoha 

3 Pantai di Jepara Ramah Difabel 

Wisatawan menikmati suasana liburannya di Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara dikenal dengan destinasi wisata pantainya. Namun pertanyaannya, apakah sudah layak dikunjungi bagi saudara-saudara kita yang mengalami keterbatasan atau difabel?

Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel Noviana Dibyantari menjawab pertanyaan itu. Baginya beberapa pantai di Jepara yang sudah bersahabat bagi difabel.  “Sudah bagus, di antaranya pantai Bandengan, Pantai Kartini dan Pantai Beringin. Kebanyakan sudah bersahabat bagi difabel,” katanya, beberapa saat lalu. 

Ia mengatakan, hal itu sudah dibuktikannya ketika mengunjungi pantai-pantai tersebut. Bahkan ia menaruh apresiasi dengan dibuatnya jalur kursi roda yang ada di Alun-alun Kota Jepara. 

“Ini (jalur kursi roda) saya kira sebuah keberpihakan pemerintah setempat untuk difabel. Bahkan di kota besar seperti Semarang belum tersedia hal seperti ini, saat ada even saja dipasang jalur bantu namun setelahnya sudah digeser,” tuturnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Ingin Satpol PP Jateng Nguwongke Liyan

Wagub Heru Sudjatmoko saat memberikan dukungan kepada personel Satpol PP di Kabupaten Jepara, Selasa. (Diskominfo Jepara)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin agar personel Satuan Pamong Praja (Satpol PP) di Jateng lebih humanis. Hal itu disampaikannya dalam sambutan pada Jambore Satpol PP ke VII, di Desa Kelet, Kecamatan Keling-Jepara, Selasa (29/8/2017). 

“Kita ingin Satpol PP lebih humanis, lebih dekat dengan rakyat dan persuasif dalam banyak hal. Ini kapasitas yang harus dipenuhi di tengah tekad dan semangat kita memberikan pelayanan terbaik kepada rakyat,” ujar Ganjar dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko. 

Di samping itu Ganjar ingin sebagai personel penegak peraturan daerah, tidak bertindak kasar namun tetap tegas. Hal itu karena dalam tugas keseharian, aparat satpol pp selalu bersinggungan dengan masyarakat yang memiliki beragam watak dan kepentingan.

“Di sinilah profesionalitas ditunjukan, tegas itu penting tapi berbeda dengan kasar, tegas itu perlu tapi kasar harus dihindari. Lakukan dengan pendekatan humanis, kultural, sosiologis dan pahami agar terlihat simpatik di masyarakat,” katanya. 

Lebih lanjut, Ganjar mengatakan tugas Satpol PP juga memberikan pengertian dan pemahaman kepada masyarakat agar mengerti tentang regulasi serta peraturan. Dengan demikian, ia berharap agar pelanggaran terhadap perda dapat ditekan.  “Humanis artinya harus melakukan pelayanan terhadap mayarakat dan nguwongke liyan (menghargai nilai kemanusiaan),” pungkas Gubernur Jawa Tengah. 

Sementara itu Heru Sudjatmoko mengungkapkan, ajang jambore Satpol PP merupakan kesempatan bagi personel untuk meningkatkan kemampuan, kepekaan, kepedulian dan rasa empati atas kondisi masyarakat.  Adapun kegiatan Jambore Satpol PP ke 7 Jawa Tengah digelar selama empat hari sampai Kamis (31/8/2017) dan diikuti 360 orang. 
Editor : Akrom Hazami

Maryanto Ayem, Kambing yang Dijual di Jepara Tinggal 7 Ekor

Pedagang hewan kurban tengah memberi makan kambing yang siap dijual. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Lapak penjual hewan kurban di Kelurahan Demaan-Jepara mulai kebanjiran pembeli. Empat hari jelang Idul Adha, sudah puluhan kambing yang terbeli, Selasa (29/8/2017).

Hal itu diakui oleh seorang pedagang Maryanto. Menurutnya, ia dan rekan-rekannya telah membuka lapak di tanah lapang yang bersebelahan dengan Stadion Kamal Junaedi, sejak Minggu (27/8/2017).

“Sudah dari hari Minggu membuka lapak. Dari 53 kambing yang dibawa, sudah 46 yang terjual ekor sekarang tinggal 7 ekor,” tuturnya.

Ia mengatakan, kebanyakan pembeli berasal dari Kedung Malang, Mlonggo dan areal Kota Jepara. Saat membeli kambing, rata-rata konsumen biasanya menitipkan hewan kurban di lapaknya.

“Ini masih banyak karena titipan, nanti diambilnya pas hari Kamis (31/8/2017), berdekatan dengan hari raya,” katanya. 

Dari sisi harga, kambing kurban jantan dijual dari harga paling rendah Rp 2 juta dan termahal Rp 3,5 juta. 

Sementara itu pedagang lain Sutiyono menyebut hal serupa. Dari 40 kambing jenis Jawa Randu sudah setengahnya yang terjual.

Ia menyebut, akan membuka lapaknya hingga hari raya kurban. Hal itu karena pada hari tersebut biasanya masih ada orang yang mencari hewan sembelihan.

“Namun saya memperkirakan puncak pembeli nanti pada hari Rabu dan Kamis. Kalau yang beli ada yang langganan dari tahun lalu ada yang baru,” ucapnya.

Ditanya tentang kendala, ia menyebut belum ada. Hanya saja, kondisi cuaca yang panas menyebabkan ia harus sering memberi minum kepada kambing-kambingnya.

Editor : Ali Muntoha

Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Beredar Kabar Saluran Limbah Industri Tahu-tempe ke Sungai ‘Hitam’ Jepara Ditutup, Ini Kebenarannya

Kondisi Sungai Karangrandu Jepara yang airnya menghitam akibat pencemaran. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum tuntasnya penanganan limbah yang mengalir di alur Sungai Gede Karangrandu, Jepara, yang airnya menghitam menjadi bola liar.

Belakangan muncul pesan melalui aplikasi perpesanan What’s App bahwa Pemerintah Desa Karangrandu menutup saluran pembuangan limbah dari perajin tahu-tempe yang mengarah ke sungai. 

Berita Gembira…!!! Baru saja aku diberitahu bpk maskuri ladu, bhw corongan limbah tahu/tempe sebagian besar sdh disumpal pakai semen oleh tem pemdes Karangrandubersama dengan warga pecangaan kulon yang terkena dampak limbah. Dan selebihnya yang belum akan segera disumpel lagi. Demikian harap maklum. Alhamdulillahi rabbil alamin…Terimakasih Pak petinggi Karangrandu. Terimakasih pak Maskuri dan teamnya…Terimakasih warga Pecangaan kulun yang turut serta mbunteti paralon limbah…!!!, tulis pesan yang dikirimkan oleh akun yang bernama Musyafak pada grup perpesanan WA Jepara Berintegritas, Minggu (27/8/2017) malam.

Menerima informasi tersebut, MuriaNewsCom berusaha mengkroscek pada sumber pengirim dan menghubungi melalui nomor yang tertera. Namun saat dihubungi, nomor tersebut tidak aktif.

Petinggi (Kepala Desa) Karangrandu Syahlan, menampik keras kabar tersebut. Ia menyebut pihaknya selaku pemerintah desa tak pernah melakukan aksi menutup saluran limbah tahu tempe.

“Hal itu tidak benar, kami pemerintah desa tidak pernah melakukan hal itu. Tidak ada perintah atau seruan menutup saluran limbah, yang mengarah ke sungai, yang juga mengalir ke Sungai Gede Karangrandu,” tegasnya ditemui di ruangan kerjanya, Senin (28/8/2017). 

Namun demikian, ia mengakui pernah ada warga yang sempat mengutarakan berniat menutup saluran limbah tahu tempe. Akan tetapi dirinya hanya mendiamkan, tidak mengiyakan juga tidak melarang.

“Warga dalam keadaan terganggu, karena kondisi sungainya tercemar menjadi hitam dan berbau. Memang pernah ada warga yang bilang mau menutup saluran limbah, namun saya tidak menging (melarang) apalagi ngongkon (menyuruh). Informasinya ada yang di-bunteti enam atau berapa, tapi saya tidak tahu kepastian itu,” imbuh dia. 

Menurutnya, sebagai pemerintah desa ia berusaha tidak memihak. Ia memahami perasaan warganya yang merasa terganggu akan limbah, namun dirinya juga tidak bisa bergerak sendiri, karena Pemkab Jepara sudah turun tangan.

Syahlan memastikan, akan segera memanggil orang yang mengirimkan pesan tersebut. Ia mengaku sudah mengetahui siapa orang yang melakukan hal itu.  “Ini nanti dia akan kami panggil ke sini,” urainya. 

Dirinya berharap kepada Pemkab Jepara  segera ada penuntasan akan permasalahan aliran limbah di Sungai Gede Karangrandu. 

Terpisah seorang perajin tahu tempe Ahmad Maryanto, mengaku belum tahu akan adanya aksi tersebut. “Nek kabarnya begitu, tapi kalau ada atau tidaknya aksi itu (penutupan saluran limbah dengan semen) sejauh pengetahuan saya belum ada,” kata warga Pecangaan Wetan itu. 

Adapun, lokasi perajin tahu-tempe di Pecangaan Wetan memang berdekatan dengan alur sungai. Mereka memang terbiasa membuang limbah tahu ke sungai. Meski demikian, akhir-akhir ini Maryanto mengaku sudah tak membuang limbahnya ke sungai.

Diberitakan sebelumnya, air Sungai Gede Karangrandu menjadi hitam dan berbau sebulan belakangan. Dari hasil laboratorium, sungai tersebut tercemar zat Fenol dan BOD-COD. Langkah sementara telah diambil pemkab Jepara dengan melakukan pembersihan alur sungai. Namun seminggu setelah itu, air sungai tetap menghitam dan bau.

Editor : Ali Muntoha

Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti memprotes kebijakan wasit memberi penalti kepada Persibat Batang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Manajemen Persijap tidak terima dengan keputusan wasit pemimpin pertandingan melawan Persibat, Supriawan yang memberikan hadiah penalti kepada tim tamu.

Pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Gelora Bumi Kartini itu Minggu (27/8/2017), berakhir dengan walk outnya Pemain Laskar Kalinyamat pada kedudukan unggul 2-1. 

Adapun tim wasit yang dikepalai oleh Supriawan itu, beranggotakan Nur Wakhid Romdoni dari Batam, Agus Kasiyanto dari Pasuruan, dan Akbar yang bertindak sebagai wasit cadangan. 

Manajer Tim Persijap Esti Puji Lestari mengatakan, pihaknya tidak menerima keputusan yang dilakukan oleh wasit asal Malang tersebut. Menurutnya, keputusan itu sangatlah tidak adil, karena menurutnya pemainnya tidak melakukan pelanggaran di kotak penalti.

“Kinerja wasit dan perangkat pertandingan sangat buruk. Saya tidak terima dan akan saya laporkan. Wasit tugasnya harus jaga keadilan dong,” katanya. 

Ia menyebut, timnya beberapa kali menerima keputusan yang tidak adil, bukan saja dipertandingan tersebut. Esti pun mengaku telah melaporkannya, namun hingga kini pihaknya belum juga menerima keputusan.

Manajer Persijap Esti Puji Lestari sedang berbicara pada pemainnya, setelah permainan melawan Persibat Batang dihentikan pada menit ke 93. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

Sementara itu Pelatih Persijap Carlos Raul Sciuccati tak mau mengomentari lebih lanjut akan pertandingan tersebut. Namun ia mengaku seluruh suporter dan penonton mengetahui apa yang terjadi pada saat injury time dimana pemain Persibat jatuh di kotak penalti Persijap. 

“Belum ada keputusan dari wasit. Namun ini luar biasa tanpa mengerjai siapapun kita bisa mendapatkan hasil seperti ini. Tiga penonton (Suporter Persijap, CNS, Banaspati dan Jetman) hari ini menjadi satu, hari ini sangat luar biasa, suporter satu tujuan,” tegasnya, sambil menahan haru.

Baca juga : Geger…Persijab Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Terpisah, Pelatih Persibat Daniel Roekito mengaku kecewa akan pertandingan hari ini. Ia menyebut, semua keputusan wasit haruslah dihormati dan dilaksanakan.

“Bingung, keputusan wasit kan jelas. Kalau seperti ini tanya saja Pengawas Pertandingan. Namun apapun itu keputusan wasit harus dieksekusi kalau tidak ya serahkan kepada official. Langkah ke depan kita tunggu saja, kita juga melakukan protes bahwa hal itu (penalti) harus dieksekusi.  Namun tidak dilanjutkan demi keamanan wasit ya selesai sudah. Wong itu jelas pelanggaran pemain saya juga merasa dilanggar sedang menguasai bola,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

Geger…Persijap Walk Out Saat Lawan Persibat Meski Sudah Unggul

Petugas keamanan mengungsikan wasit karena pertandingan antara Persijap Jepara vs Persibat Batang semakin ricuh. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pertandingan Persijap vs Persibat di Stadion Gelora Bumi Kartini, Minggu (27/8/2017), berakhir tanpa peluit panjang.

Hal itu karena kontroversi keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti di menit akhir pertandingan, dalam kondisi tim tuan rumah unggul 2-1. Tak terima dengan keputusan wasit, Laskar Kalinyamat pun walk out.

Babak pertama Laskar Kalinyamat kebobolan terlebih dahulu di menit 28. Keunggulan sementara bagi Persibat itu dicetak oleh Hapidin, yang menyepak bola dari tendangan sudut. 

Proses gol terjadi saat  Hapidin menendang dari sisi kiri pertahanan Persijap itu, sempat ditepis oleh penjaga gawang Amirul Kurniawan. Namun sayang antisipasi yang dilakukannya, justru membuat si kulit bundar bersarang di gawangnya. 

Sementara Persijap yang berusaha membobol pertahanan tim tamu, tak bisa menceploskan satupun gol. Hingga wasit Supriawan meniup peluit jeda babak pertama, kedudukan unggul bagi tim tamu Persibat. 

Babak kedua dimulai, Persijap Jepara terus berusaha menekan pertahanan Persibat. Hingga menit di 51, Tommy Oropka berhasil membobol gawang Laskar  Alas Roban.

Gol berawal dari kemelut di depan gawang, sesaat setelah sepakan pojok yang dilepaskan oleh Adit Wafa.  Bola yang disambut oleh sundulan kepala Abdul latif Hasim, terdampar di kaki Tommy Oropka. Pemain asal Papua ini lantas mengarahkan tendangan lemah ke sisi kiri gawang Muh Sendri Johansyah, dan gol. Skor imbang. 

Di menit ke 62, Tommy kembali mencatatkan namanya di papan skor. Bola yang ditendang oleh penjaga gawang Persijap Amirul Kurniawan, melambung jauh dan disambut oleh pemain berambut jambul itu. Ia lolos tanpa kawalan ketat dan menceploskan bola. Skor 2-1, Laskar Kalinyamat unggul. 

Petaka bagi Persijap terjadi pada menit-menit akhir pertandingan. Pemain nomor 32 Persibat, Ishak Yustinus Mesak Djober terjatuh di kotak penalti, akibat singgungan dengan pemain Persijap Syarif Wijianto. 

Wasit Supriawan kemudian memberikan kartu kuning, namun belum jelas ditujukan kepada siapa. Saat itulah keadaan lapangan pun ricuh. Tim Persijap mengklaim pemainnya tak melakukan pelanggaran, dan melakukan sapu bersih. Namun wasit bersikukuh.

Baca juga : Persijap Bakal Laporkan Kepemimpinan Wasit Supriawan

Keadaan pun semakin riuh dengan protes yang dilancarkan oleh  tim pelatih Persijap Carlos Raul Sciucatti. Adu argumen pun sempat terjadi, hingga tim tuan rumah memberikan bukti berupa rekaman pertandingan untuk diperlihatkan kepada tim wasit. 

Akan tetapi titik temu tak terjadi. Persijap akhirnya walk out pada menit ke 93. Sedangkan tim Persibat bersama wasit kembali le lapangan dan hendak mengeksekusi penalti.

Namun hal itu dibatalkan, karena keadaan stadion semakin ricuh. Akhirnya petugas keamanan mengungsikan wasit dan dibawa pergi menggunakan kendaraan lapis baja meninggalkan arena pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

Bilang Pengen Jadi Hacker, Santri di Jepara Ini Diberi Jam Tangan Spesial dari Ganjar

Fikri Muhammad Yusuf (kiri) menunjukkan jam tangan pemberian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berfoto bersama orang nomor satu di Jateng itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Fikri Muhammad Yusuf, santri mahasiswa di Pondok Pesantren Mahat Ali Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017) mendapat hadiah spesial dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Spesial karena, hadiah yang diberikan yakni jam tangan koleksi Ganjar yang saat itu dikenakannya. Jadi bukan jam tangan doorprize, melain jam digital bermerk Garmin. Penyebabnya, karena Fikri menyatakan ingin jadi hacker.

Ini terjadi ketika Ganjar melontarkan pertanyaan kepada Yusuf tentang bagaimana seorang santri seperti Yusuf melawan berkembangnya ujaran kebencian dan ajakan radikalisme yang merebak di sosial media.

Jawaban Yusuf justru kocak, dan membuat orang yang hadir di sarasehan pondok pesantren itu tertawa terbahak-bahak.

“Pertama-tama sebelum berbuat saya akan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kedua saya akan meminta masukan pada para sesepuh dan juga pak Ganjar,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Ganjar pun menimpali. “Lho maksudku kamu, apa yang menurutmu bisa dilakukan,” kata Ganjar.

Beberapa sat Yusup berpikir, dan kemudian berteriak lantang ingin jadi hacker. “Dengan jadi hacker saya akan melawan dan menghancurkan situs dan akun penyebar berita hoax dan radikalisme,” tegasnya.

Berikutnya, Yusuf akan menggalang teman-temannya menjadi pasukan penyebar ujaran baik dan sopan di dunia maya. “Kalau ada yang bertengkar, kami akan menengahi dengan kalimat-kalimat islami dan sopan,” kata dia.

Ganjar mengacungi jempol. Ia meminta Yusuf berjanji benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu. “Yawes ini tak kasih jam, pas nggak bawa hadiah ya sudah ini saja,” kata Ganjar seraya mencopot jam tangan dari lengan kirinya.

Suasana berubah menjadi riuh. Ribuan santri bersorak dan bertepuk tangan. Yusuf senang bukan kepalang. Ia menerima jam digital merk Garmin berwarna hitam itu kemudian langsung mengenakannya di pergelangan tangan kiri. “Terimakasih pak gubernur,” katanya berulang-ulang.

Editor : Ali Muntoha

Warga Berdesakan Tonton Parade Seni Jawa Tengah di Jepara

Warga melihat parade seni budaya Jawa Tengah 2017 di Kabupaten Jepara, Jumat malam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Warga Jepara antusias menyaksikan parade seni budaya 35 kabupaten/kota di wilayah setempat, Jumat (26/8/2017) malam. Diketahui, perhelatan tersebut merupakan bagian dari peringatan HUT ke 67 Provinsi Jawa Tengah.

Kabid Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemprov Jateng Bambang Supriyono menjelaskan parade seni budaya ini merupakan suatu ikhtiar untuk menumbuhkan rasa kebangsaan dan persatuan. Di samping itu, kegiatan juga bertujuan meningkatkan kreatifitas seni dari masing-masing kabupaten dan kota di Jateng. 

“Total seniman yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 2000 orang. Mereka akan menampilkan materi khas, sesuai dari kabupaten atau kota masing-masing. Adapun parade ini akan menempuh jarak sekitar 2,5 meter melintasi Kota Jepara,” kata Bambang. 

Sementara itu, Heru mengatakan, kegiatan merupakan rangkaian HUT Jateng yang dibingkai dalam Pesta Rakyat Jateng. “Kegiatan itu akan digelar secara bergilir dan berpindah-pindah di setiap kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah,” kata Heru.

Pantauan MuriaNewsCom, semakin malam venue kian dipadati oleh penonton menyaksikan parade tersebut. Adapun parade melintasi Alun-alun Jepara, Jalan Ahmad Yani, Jalan Brigjend Katamso, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda sampai Gedung Wanita Jepara. 

Editor : Akrom Hazami

Pesta Rakyat Jateng Digelar di Jepara, Tingkat Hunian Hotel Meningkat

Wisatawan menikmati suasana di salah satu hotel di kawasan Bandengan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jepara Dodi Iskandar mengatakan, pihaknya mencatat telah terjadi peningkatan tingkat hunian hotel sejak Kamis-Sabtu (24-26/8/2017).

PHRI berpendapat, kenaikan tingkat hunian hotel karena adanya perhelatan akbar, Pesta Jateng 2017. Tidak heran jika tamu yang datang berasal  dari sejumlah kota dan kabupaten di provinsi ini. Baik itu dari kalangan pemerintahan, maupun dari warga biasa.

Dodi menyontohkan peningkatan okupansi mencapai 100 persen di Hotel D’Season. “Sebanyak 60 persen merupakan wisatawan yang mungkin sengaja berlibur di saat momen pesta rakyat tersebut. Sementara itu sisanya sebanyak 40 persen adalah pemesan kamar dari dinas-dinas di lingkungan Pemprov Jateng,” kata Dodi yang juga manajer hotel tersebut.

Meski terjadi kenaikan tingkat hunian hotel, bukan berarti tidak ada kamar. Dirinya memantau, ada beberapa kamar sejumah hotel yang masih tersedia di wilayah Bandengan. Wisatawan biasanya melakukan reservasi lebih dulu. PHRI memprediksi banyak pengunjung yang datang langsung, atau tanpa reservasi lebih dulu.

Pesta Rakyat Jateng 2017 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-67 Provinsi Jawa Tengah dimulai pagi ini. Gelaran tersebut akan dibuka langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Sekadar informasi, Kabupaten Jepara terpilih sebagai tempat penyelenggaraan hari jadi Jawa Tengah sejak 25-27/8/2017. Penyelenggara telah menyiapkan empat lokasi kegiatan, yaitu Alun-alun Jepara ; Alun-alun Jepara II; Gedung Wanita Jepara; dan Stadion Gelora Bumi Kartini (GBK) Jepara.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ganjar Tak Ingin Semua Warga Jepara Hanya Bercita-cita Sebagai PNS

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat membuka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ingin warganya menjadi pengusaha, dan tidak melulu berharap jadi PNS. Hal itu disampaikannya disela peluncuran aplikasi  “Sadewa Market” pada gelaran Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). 

“Pengalaman sudah membuktikan, saat krisis ekonomi yang paling bertahan siapa, ya UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).  Hal itu karena bidang tersebut mampu menggerakan sektor perekonomian. Jangan penginnya hanya jadi PNS,” ujarnya. 

Karena itu, pemerintah provinsi Jawa Tengah melalui bank Jateng dan aplikasi Sadewa Market, memberikan ruang bagi sektor UMKM untuk bergerak. Melalui perbankan Ganjar mengatakan telah tersedia fasilitas kredit bagi usaha kecil tanpa agunan. Sedangkan melalui aplikasi Sadewa Market, pihaknya memberikan tempat bagi produsen untuk dapat menjangkau konsumen lebih luas lagi. 

Dalam kesempatan itu, ia melakukan test aplikasi dengan memesan sebuah pakaian batik. “Saya tadi memesan sebuah batik, sekarang sudah datang dan diantar. Tapi saya sengaja rahasiakan bagaimana rupanya,” kata Ganjar berseloroh. 

Aplikasi Sadewa Market bisa diakses dengan membuka laman http://sadewamarket.cyberumkm.com/. Pada laman tersebut, selain tersedia pilihan berbelanja, juga ada rujukan terkait pendampingan UMKM secara jarak jauh. 

Editor: Supriyadi

Gubernur Buka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara, Begini Kemeriahannya

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memukul bedug sebagai tanda Pesta Jateng telah dibuka di Alun-alun Jepara, Jumat  (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Pesta Rakyat Jateng 2017 resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). Secara simbolis dilakukan pemukulan bedug sebanyak 67 buah, sesuai dengan usia provinsi tersebut.

Sebelum pembukaan acara, didahului dengan peluncuran Kartu Jateng Sejahtera (KJS) dan Program E-Commerse “Sadewa Market”.

“Tahun pertama saya dan Pak Heru (Ultah Jateng) diadakan di Semarang, Banyumas dan Magelang. Kini di Jepara tahun depan kelihatannya sudah diminta oleh Pati. Kalau bisa berkeliling harapannya tidak Semarang Centris namun Jawa Tengah Centris. Dengan begitu masyarakat bisa memamerkan potensi dan meningkatkan penghasilan,” kata Ganjar.

Selain itu, ia mengajak peran serta jajaran pemerintahannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Ganjar meminta layanan kepada masyarakat memangkas ruwetnya birokrasi hingga dapat mencapai pemerintahan yang mudah, murah dan cepat.

Terkait KJS ia mengatakan, program dari Pemprov Jateng itu bertujuan memberi bantuan kepada masyarakat berkebutuhan khusus dan lansia, yang belum tercover bantuan sosial apapun. Ganjar menyebut di Jateng ada sekitar 13 ribu orang yang belum mendapatkan jaminan sosial atau kesehatan.

Pada kesempatan itu, dirinya juga meluncurkan Sadewa Market, yakni sebuah platform E-Commerce yang menampung berbagai produk pengusaha mikro, kecil dan menengah.

Pada acara tersebut juga ditampilkan stan produk UMKM, Job Fair dan beberapa stan lain yang memadati Alun-alun Jepara hingga Minggu (27/8/2017). 

Setelah dibuka secara resmi, Pada Jumat malam nanti, , akan digelar Parade Seni Jateng yang diikuti 35 kontingen seni budaya se-Jateng dengan menampilkan beragam tari dan seni di sepanjang alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Sungai Gede Karangrandu Jepara Tercemar Limbah Fenol dan Chemical Oxygen Demand

Warga memperlihatkan air sungai yang menghitam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Lingkungan Hidup  (DLH) Jepara telah menerima hasil laboratorium terkait Sungai Gede Karangrandu. Hasilnya, alur sungai tersebut dalam kondisi tercemar ringan.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Penataan dan Penaatan DLH, dalam konferensi pers, Senin (21/8/2017). Menurutnya, faktor pencemar dihasilkan oleh beberapa faktor. 

“Penyebab (pencemaran) tidak hanya berasal dari satu sumber saja. Dari hulu hingga hilir terdapat kontribusi yang menyebabkan air Sungai di Karangrandu menghitam dan berbau,” paparnya. 

Hal itu dipertegas oleh Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan (PDKL) M. Ikhsan. Menurutnya, pengambilan sampel dilakukan oleh Laboratorium Cito, di tiga titik. 

Adapun titik tersebut adalah, tiga kilometer dari pabrik garmen, sepanjang aliran sungai yang dipergunakan untuk industri tahu-tempe dan di bendung Sungai Gede Karangrandu. Dari 26 indikator, ada tiga zat yang nampak memperlihatkan kondisi tidak wajar.

“Pertama kami temukan adanya Fenol (C6H6O) yang biasa digunakan pada pabrik tekstil, kemudian zat Bylogical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) yang bisa disebabkan oleh limbah organik, sampah dan sebagainya disepanjang sungai,” tuturnya. 

Lebih lanjut ia mengatakan, disepanjang alur sungai diketemukan zat-zat tersebut. Namun demikian, pada beberapa titik zat tersebut ada yang terurai dan ada yang tetap, namun demikian semua zat tersebut sudah melebihi ambang baku mutu.

“Fenol ambang baku mutunya adalah 1, namun diketemukan di air sungai setelah pabrik (garmen) sejumlah 300. BOD dan COD setelah pabrik garmen sebanyak 61 dari ambang baku mutu 50. Kemudian dari sampel setelah industri tahu-tempe angka fenol tetap, sementara BOD-COD meningkat hingga 1.120. Lalu di sekitar Sungai Gede Karangrandu, kadar Fenol turun menjadi 290, sedangkan kadar BOD-COD menurun menjadi hanya 58,” urainya. 

Menurutnya, zat BOD-COD akan terurai jika mendapatkan cukup air dan arus yang lancar. Ikhsan menambahkan, BOD-COD tidak hanya dihasilkan oleh limbah pabrik tahu, akan tetapi juga oleh limbah lain seperti sampah dan sebagainya. 

“Begitu pula dengan Fenol tidak semata-mata dihasilkan oleh garmen, namun pestisida juga bisa menghasilkan limbah tersebut. Hal itu karena disepanjang alur sungai ada lahan pertanian,” ungkapnya. 

Berdasarkan uji laboratorium tersebut, maka disimpulkan air sungai Gede Karangrandu tercemar, namun ringan.

Editor: Supriyadi

Pengusaha Tahu Tempe Mengaku Belum Bisa Kurangi Limbah Produksi

Kondisi pipa buangan limbah tahu tempe di Desa Pecangaan Wetan. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu disinyalir adanya kontribusi buangan limbah tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan. Di wilayah itu, ada sekitar 40 perajin tahu dan tempe yang membuang sisa produksinya ke alur sungai Pecangaan, yang juga melewati sungai di Desa Karangrandu. 

Hal itu diperkuat, setelah Bupati Jepara melakukan inspeksi di alur Sungai Pecangaan hingga Karangrandu, yang bermuara di Laut Jawa, Sabtu (19/8/2017). Di antara Sungai Pecangaan dan Sungai Gede Karangrandu berdiri puluhan pabrik tahu-tempe.

Pantauan MuriaNewsCom, pipa pembuangan sisa produksi dialirkan langsung ke alur Sungai. Hal itu juga menimbulkan bau tidak sedap, dari pembuangan hampir mirip yang terjadi di Desa Karangrandu.

Kholid seorang perajin tahu mengatakan, memang pihaknya belum mampu mengatasi limbah buangan ke Sungai. Namun demikian, hal itu sudah dilaporkannya ke Bupati, bersamaan dengan kunjungan tersebut.

“Faktor x limbah itu memang ada, sudah berkali-kali sampaikan belum bisa kurangi limbah. Tadi sudah lapor ke bapake (bupati) minta diberi bantuan tangki, agar limbah bisa disedot dan dibuang ketempat lain,” katanya.

Kholid menyebut, dari 40 perajin, kapasitas usahanya bermacam-macam mulai dari satu ton perhari dan enam kuintal.

Ia berujar, sumur resapan memang telah dibuat untuk mengatasi limbah. Namun karena alasan medan yang datar, hal itu tak bisa maksimal. Terkait rencana bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ia mengaku agak kesulitan mencari lahan.

“Kalau disuplai (dibantu) ya kami minta tangki yang bisa nyedot limbah dari septictank, kemudian nanti bisa dibuang ke laut,” ujarnya.

Editor : Ali Muntoha

Fadhil Tak Menyangka Motornya yang Digondol Maling Bisa Kembali

Penyerahan secara simbolis kendaraan roda dua oleh Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho kepada pemilik. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Satuan Reserse Polres Jepara berhasil menangkap 11 tersangka pencurian motor, selama Operasi Jaran Candi 2017. Operasi yang berlangsung selama 20 hari mulai dari bulan Juli hingga pertengahan Agustus 2017, berhasil mengamankan 12 barang bukti. 

Kapolres Jepara AKBP Yudianto Adi Nugroho mengatakan, barang bukti tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya, begitu persidangan rampung. Sebanyak 12 barang bukti berupa motor tersebut, telah diklaim oleh pemiliknya.

“Hal itu dibuktikan dengan kepemilikan surat-surat kendaraan dan laporan polisi atas peristiwa kehilangan sepeda motor,” ujarnya Sabtu (19/8/2017).

Dirinya mengatakan, kejahatan pencurian sepeda motor yang berhasil diungkap pada operasi itu, terjadi di hampir seluruh penjuru wilayah. Mulai dari Nalumsari, Jepara kota, Batealit, Pakis Aji, dan Batealit.

Kasat Reserse Polres Jepara AKP Suharta mengatakan, selain 12 barang bukti yang telah diklaim oleh pemiliknya, masih ada empat sepeda motor yang belum menemukan pemiliknya. Ia mengimbau, bagi yang merasa kehilangan menghubungi kantor polisi terdekat, atau langsung ke Mapolres Jepara.

“Masih ada empat yang belum kita ketemukan pemiliknya. Untuk dapat mengambilnya pemilik cukup membawa bukti kepemilikan berupa BPKB, STNK atau jika masih kredit, ada keterangan dari diler motor. Dan itu tidak dikenakan biaya alias gratis,” tuturnya.

Sementara itu, Mohammad Fadhil mengaku senang motornya berhasil ditemukan lagi. Ia sempat menyangka motornya itu tak bakal kembali.

Warga Kudus itu mengatakan, sepeda motornya itu dicuri saat dipakai anaknya melihat pertunjukan musik di daerah perbatasan Jepara-Kudus. “Alhamdulillah bisa ketemu,’ ucapnya singkat.

Editor : Ali Muntoha

Warga di Sekitar Sungai yang Airnya Menghitam Diberi Bantuan Air Bersih

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara langsung mengambil tindakan, merespon kondisi Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. Bupati Jepara Ahmad Marzuqi lantas mengintruksikan untuk memperlancar aliran sungai dan melakukan droping air bersih, untuk kebutuhan warga. 

“Langkah jangka pendek, kami perintahkan agar bendungan di bendung Karangrandu agar dibuka. Sementara untuk mengatasi kebutuhan air bersih kami menyediakan air yang nantinya akan disuplai dari BPBD dan PDAM Jepara, banyaknya nanti menyesuaikan kebutuhan dari warga,” katanya, saat inspeksi penyebab menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Sabtu (19/8/2017) siang. 

Ia mengatakan, langkah tersebut untuk mengatasi keluhan warga Desa Karangrandu yang airnya menjadi hitam dan berbau, sebulan belakangan.

Terkait anggaran untuk droping air, pihaknya akan menggunakan dana yang telah diposkan untuk penanggulanan krisis air yang ada di BPBD Jepara. 

Direktur PDAM Jepara Prabowo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan droping air kepada warga Karangrandu. “Kami siap untuk droping air kepada warga, sudah disiapkan tangkinya, tinggal nanti kalau ada calling (perintah) kita langsung berangkat,” tuturnya. 

Editor : Ali Muntoha

Bupati Jepara Telusuri Alur Sungai  Inspeksi Sebab Menghitamnya Sungai Gede Karangrandu

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama pejabat terkait meninjau air sungai yang menghitam, Sabtu (19/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Bupati Jepara Ahmad Marzuqi bersama jajaran pemerintah kabupaten, melakukan inspeksi terkait menghitamnya Sungai Gede Karangrandu, Desa Karangrandu, Sabtu (19/8/2017). 

Memulai inspeksinya, ia bersama Wakil Bupati Dian Kristiandi, Sekretaris Derah Sholih, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara Fatkhurrahman, Kabid Pengairan DPU-PR Jepara Ngadimin, Camat Pecangaan Muh Tahsim dan jajaran terkait, menengok bendung Sungai Pecangaan.

Sungai tersebut diketahui satu alur dengan Sungai Gede Karangrandu yang diduga tercemar limbah, dan menjadi hitam. 

Pantauan MuriaNewsCom, kondisi Sungai Pecangaan nampak tidak menghitam. Beberapa biota seperti ikan pun masih nampak berenang. Kemudian, rombongan pun melanjutkan tinjauan ke sentra usaha tahu-tempe yang ada di Pecangaan Wetan.

Di sana rombongan disuguhkan pemandangan dan bau menyengat dari sisa produksi tahu tempe, yang dibuang ke alur sungai, yang juga mengalir ke Karangrandu. Dari tempat itu bupati lantas bertolak ke Sungai Gede Karangrandu yang menghitam. 

“Hari ini langsung kita ambil tindakan, pintu air (bendungan) yang ada di Karangrandu akan kita buka. Sebelumnya sampah yang ada akan kita bersihkan. Nanti sedimentasi akan kita keruk menggunakan alat berat yang sudah kita bawa. Biar endapan yang ada bisa mengalir lancar,” kata dia. 

Alat berat disiapkan untuk membersihkan Sgai Gede Karangmandu yang menghitam. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

 

Ditanya pewarta, Marzuqi enggan menyimpulkan biang pencemar sungai di Karangrandu. Namun ia mengaku akan mengambil tindakan, agar warga Desa Karangrandu bisa kembali menikmati air yang sehat, bebas dari cemaran limbah.

“Pabrik tahu-tempe akan kita buatkan IPAL (instalasi pengolahan air limbah) terlepas apakah pencemarnya dari situ atau bukan. Namun IPAL itu bisa bermanfaat untuk pembuatan biogas,” ujarnya. 

Lebih lanjut Marzuqi mengatakan, pemkab akan menunggu hasil laboratorium terkait biang pencemaran lingkungan. 

Sementara itu, Petinggi (Kades) Karangrandu Syahlan mengatakan, solusi tersebut dinilai dapat menyelesaikan masalah yang dialami warganya. 

“Ya senang diperhatikan oleh pemerintah, semoga solusi ini dapat segera meredakan permasalahan warga,” urainya.

Hingga berita ini diturunkan, alat berat yakni ekskavator dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU-PR) Jepara tengah melakukan pembersihan di sepanjang bantaran Sungai Gede Karangrandu. Sedimentasi yang ada di sungai pun lantas diangkut menggunakan dua truk besar.

Editor : Ali Muntoha

Roti Bakar 543 Tempat Hangout Baru di Jepara 

Para pengunjung menikmati Roti Bakar 543 yang mulai beroperasi di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jepara menjadi cabang ke 16 dari Roti Bakar 543. Bertepatan dengan hari kemerdekaan ke-72RI, kedai yang teletak di Jl Dr. Sutomo 17 itu di launching kepada khalayak Bumi Kartini. 

Maria Fransisca sebagai owner Roti Bakar 543 mengatakan, pihaknya tetap mempertahankan ciri khas rasa roti yang dibuat dari bahan-bahan berkualitas. Dengan itu ia menjamin, cita rasa khas yang ada di cabang teranyarnya ini tetap terjaga.

Terkait pemilihan Jepara sebagai cabang ke 16, Mari mengungkapkan kota di pesisir utara Jawa ini sangat berpotensi, karena merupakan kota wisata. 

“Kota Jepara sebagai kota pariwisata dan juga bisnis ekspor kayu yang besar, sehingga kami memfokuskan bukan saja untuk kalangan menengah atas namun juga kalangan menengah bawah. Tentang kualitas rasa, kami menjaganya agar tetap sama, karena kami membuat roti yang berbeda dari pasaran serta berasal dari bahan-bahan yang unggul,” katanya, saat press conference, Kamis (17/8/2017). 

Selain Jepara, kafe yang satu ini juga berencana membuka gerai di beberapa kota di Pulau Jawa. Sehingga kedepan, jumlahnya mencapai 22 cabang. 

Mengusung konsep kekinian, Roti Bakar 543 memiliki konsep kafe dengan berbagai titik yang menarik untuk tempat swafoto. Disamping menyediakan ruang yang luas, wifi gratis, hingga ruangan yang cocok untuk menggelar rapat bersama kolega. 

Editor: Supriyadi

Kisah Hebat Anak Nelayan Karimunjawa jadi Paskibra Jepara 2017

Dua anak nelayan Karimunjawa yang jadi anggota paskibra di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Sebanyak 29 pasukan pengibar bendera (Paskibra) Kabupaten Jepara dikukuhkan, Rabu (16/8/2017) sore. Dua di antaranya adalah anak nelayan dari Pulau Karimunjawa. Adalah Dewi Fatmawati (16) dan Romi Ardyansyah (16), mereka tergabung dalam pasukan delapan, sebagai pembawa baki dan pengibar bendera. 

Mereka mengatakan, tak menyangka bisa menjadi bagian dari Paskibra Jepara 2017. Namun demikian, mereka tetap memanggul tugas tersebut dengan kebanggaan tersendiri. “Saya bangga sekali bisa menjadi pasukan pengibar bendera. Dan ketika diumumkan terpilih sebagai paskibra rasanya kaget,” ujar Romi, siswa SMKN I Karimunjawa itu. 

Sementara itu Slamet ayah Romi, mengakui hal serupa. Ia merasa bangga anak pertamanya itu, bisa menjadi bagian dari paskibra. “Ya bangga sekali, berbunga-bunga bisa melihat anak saya menjadi pasukan pengibar bendera,” kata Slamet yang bekerja sebagai nelayan itu. 

Romi menambahkan, tidak ada halangan berarti selama masa karantina 10 hari sebagai calon Paskibra. Namun demikian, ia mengaku sempat rindu dengan ayahnya.”Siap, saya sempat rindu (dengan ayah) namun tidak bisa berbuat banyak karena tak boleh membawa handphone,” katanya. 

Sementara itu Dewi berkata hal serupa. Menurutnya gemblengan menjadi Paskibra memang berat, namun hal itu dimaknainya sebagai cobaan untuk menggapai cita-citanya sebagai tentara.  “Iya bangga, kaget agak tegang juga sih,” ujarnya. 

Ayah Dewi, Muhammad Ma’ruf berkata capaian anaknya itu merupakan kebanggaan untuknya. “Bangga sekali, kok anak nelayan yang jaraknya jauh dari Jepara bisa terpilih sebagai paskibra. Mungkin ini adalah jembatan bagi cita-cita anak saya yang ingin menjadi tentara,” tuturnya.

Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jepara Dedi Irawan mengatakan, Paskibra yang kini dikukuhkan dipilih dari 80 sekolah yang ada di Jepara. Mereka dikarantina selama 10 hari, sebelum akhirnya diserahi tugas sebagai pasukan pengibar bendera.

“Ada perbedaan dari tahun lalu, kalau kemarin hanya dikarantina selama 4 hari, maka tahun ini dikarantina selama 10 hari. Tujuannya untuk lebih memantapkan mental dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” urai dia.

Ia menambahkan, sebelumnya Calon Paskibra Jepara berjumlah 30 orang. Namun satu diantaranya mengundurkan diri. “Jadi dalam paskibra, sebelum dikukuhkan mereka adalah calon. Pagi tadi ada yang mengundurkan diri satu orang, karena alasan tidak kuat mental. Namun ya sebenarnya dia kuat. Akan tetapi itu sudah menjadi pilihannya,” tutup Dedi.  

Editor : Akrom Hazami

 

Ini Nih Tempat Baru yang Keren Buat Swafoto di Jepara

Puluhan payung melayang warna-warni di Perumahan Griya Jepara Asri yang membuat suasana perumahan semakin syahdu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Beragam cara dilakukan warga Jepara dalam memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Satu di antaranya dengan menghias kampung.

Hal itu pula yang dilakukan warga Perumahan Griya Jepara Asri, Kelurahan Mulyoharjo RT/RW 8/4, Kecamatan Jepara. Mereka menghias areal jalan permukiman dengan payung warna-warni melayang.

Suasana semakin syahdu jika malam tiba, puluhan payung tersebut akan berpendar karena di bawahnya telah diletakan bohlam kecil.

Arif Sasongko warga setempat mengungkapkan, ide hiasan payung tersebut muncul secara spontan dari obrolan penduduk perumahan itu. Lantaran di kampung tersebut akan diadakan penilaian lomba antargang, menyambut ulang tahun Indonesia.

“Kemarin hasil ngobrol-ngobrol dengan warga kampung, kami akhirnya sepakat menambah ornamen payung yang diberi penerangan lampu. Jadi kalau malam hari nampak indah,” katanya, Rabu (16/8/2017) pagi.

Menurutnya, setelah obrolan tersebut warga kemudian beriur sesuai kemampuan mereka. Iuran itu dipergunakan untuk membeli payung sejumlah 45 buah secara bertahap dan aksesoris penunjang lain.

Arif mengatakan, dari panjang jalan perumahan sekitar 700 meter, baru lebih kurang 50 meter yang telah diberi payung plus lampu kecil. Sementara sisanya, baru dihias dengan payung melayang saja.

“Rencananya sisa (jalan) nanti akan dipasang payung dan diberi lampu. Untuk sementara baru segini saja,” tuturnya. 

Ia mengungkapkan, setelah penjurian lomba antargang payung-payung itu tak lantas dibredel. “Rencana dipertahankan, kalau ada yang mau foto-foto di gang ini juga silakan,” ujarnya sambil menyungging senyum. 

Editor : Ali Muntoha

Pelaksanaan Retribusi Elektronik di Jepara Terkendala Aplikasi

Warga memperlihatkan kartu E-Retribusi di Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara- Pelaksanaan retribusi elektronik di Kabupaten Jepara masih terkendala belum sempurnanya aplikasi pembayaran. Hal itu menjadi hambatan perluasan sistem tersebut ke pasar-pasar lain.

“Secara umum berjalan lancar, namun masih ada kendala pada aplikasinya,” kata Musthakim, Kabid Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jepara, Selasa (15/8/2017). 

Ia menyebut ketidaksempurnaan sistem tersebut berasal dari pengembang aplikasi. Secara detil Musthakim menyebut, aplikasi yang saat ini dipergunakan belum memisahkan komponen retribusi yang ada di pasar.

“Kalau di pasar, kan ada dua retribusi yakni untuk retribusi tempat berdagang dan retribusi untuk sampah. Nah seharusnya dipisah namun di aplikasi tidak, sehingga bercampur,” tutur dia. 

Ia mengatakan, hal itu akan segera diperbaiki oleh Bank Jateng dan pihak pengembang. Hal itu sesuai dengan hasil pertemuan dengan Asisten 2 Bupati Jepara. Disperindag sebagai instansi teknis memberikan tenggat hingga akhir September 2017, untuk memperbaikinya. 

Hal itu karena, pada awal bulan Oktober pihaknya berencana untuk meluaskan sistem retribusi elektronik di pasar-pasar lain yang ada di Jepara. Untuk saat ini, sistem tersebut baru diterapkan di Pasar Pengkol dengan jumlah 75 pedagang. 

“Rencananya bulan Oktober akan diperluas di Pasar Jepara Satu dan pasar lain di kabupaten ini. Namun hal itu menunggu kesiapan dari Bank Jateng untuk memperbaiki aplikasi tersebut. Nanti takutnya jika sudah diterapkan, namun masih ada masalah justru menambah problem yang ada,” ujarnya. 

Ia mengatakan, untuk perluasan sistem pihaknya siap karena hanya perlu untuk menyerahkan data pedagang kepada Bank Jateng. Dari sisi manfaat, dirinya mengklaim retribusi itu akan menekan kebocoran pendapatan asli daerah dari sektor tersebut. 

Editor : Akrom Hazami