Duh, Senangnya Warga Jepang ini Tonton Pagelaran Wayang Kulit di Pendapa Grobogan

Raomu Mochida, pemuda asal Jepang serius menyaksikan pagelaran wayang kulit di pendapa kabupaten (MuriaNewsCom / Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Malam terakhir di Grobogan membawa kenangan tersendiri bagi pemuda asal Jepang Raomu Mochida. Sebab, sebelum meninggalkan Grobogan, pemuda berusia 20 tahun itu punya kesempatan menyaksikan pagelaran wayang kulit rutin tiap malam Jumat Kliwon di pendapa kabupaten, Kamis (30/3/2017) malam.

Meski tidak mengerti isi ceritanya, namun Mahasiswa Tokyo Gakugei University itu terlihat serius menyaksikan pertunjukkan kesenian tradisional tersebut. Bahkan, saat gamelan ditabuh, ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya seakan menikmati alunan musik yang terdengar. Tingkah pemuda berkulit bersih itu sempat menarik perhatian penonton yang hadir di pendapa.

Sayangnya, Raomu tidak bisa menyaksikan pagelaran wayang hingga tuntas. Sebab, dia harus berkemas karena pagi ini, Jumat (31/3/2017) ia harus terbang kembali ke negaranya.

“Saya senang sekali bisa lihat pertunjukkan ini. Mohon pamit, saya besok pulang ke Jepang dan terima kasih atas bantuannya selama di sini. Semoga saya bisa datang lagi ke Grobogan,” katanya.

Pemuda Jepang tersebut sebetulnya tidak sengaja dapat kesempatan nonton pagelaran wayang. Sebelum pentas rutin dimulai, Raoumu dan beberapa koleganya di Grobogan ceritanya sedang menggelar acara perpisahan dengan makan bareng di kawasan alun-alun yang letaknya di seberang kantor Pemkab Grobogan.

Selesai makan, terdengar alunan musik gamelan yang cukup keras dari tempatnya makan. Merasa penasaran, Raomu pun menanyakan suara musik apa yang terdengar tersebut.

“Daripada susah menjelaskan, akhirnya kita ajak saja orangnya ke pendapa. Jadi, acara nonton wayang ini tidak teragendakan. Soalnya, saya juga tidak tahu kalau ada pagelaran wayang,” kata Ketua Yayasan Bakti Indonesia (YBI) Grobogan Andreas Nugroho.

Kedatangan Raomu di Grobogan adalah sebagai volunteering servise dari organisasi kemanusiaan internasional Dejavato Foundation. Kedatangannya memang diminta oleh YBI.

“Jadi YBI ini kebetulan bermitra dengan Dejavato Foundation. Sengaja kami minta didatangkan volunteer kesini. Sebelumnya, sudah ada tiga pemuda dari Jepang yang dikirim kesini,” jelas Andreas.

Menurut Andreas, kedatangan Raomu ke Grobogan dalam rangka memberikan motivasi pada anak sekolah dasar supaya gemar berbahasa asing. Khususnya, Bahasa Inggris. Sebab, kemampuan berbahasa asing itu suatu saat pasti dibutuhkan.

“Selama disini, Raomu sudah mendatangi beberapa SD. Di situ, ia mengajak anak-anak bermain dan belajar dengan Bahasa Inggris,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Rabu Wekasan, Air Salamun Disiapkan di Hari Penuh Musibah itu

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Air Salamun di Masjid Al Makmur Jepang, diletakkab di dalam gentong. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Masyarakat  Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus mempercayai anggapan tentang Rabu Wekasan. Yakni hari Rabu terakhir di bulan Safar. Biasanya di Rabu Wekasan diyakini sebagai hari turunnya berbagai jenis musibah.

Hal ini dituturkan oleh pengelola sumur di Masjid Al Makmur Jepang, Mejobo, Dwi Ahmad Rifai. Dwi menceritakan sejarah Rabu Wekasan yakni pada 1917 M. Menurutnya di wilayah Jawa, khususnya di tempatnya terjadi musibah. “Musibahnya terjadi saat Rabu Wekasan,” katanya.

Berangkat dari hal itu, masyarakat setempat meyakini bahwa Rabu Wekasan itu memang ada. Terlebih pengelola Masjid Al Makmur saat itu, Sayyid Ndoro Ali, juga mengajak warga untuk berhati-hati saat momen tersebut tiba.

Diketahui, masjid yang ada di RT 1 RW 6 tersebut merupakan peninggalan dari Aryo Penangsang, yaitu salah satu murid Sunan Kudus. Di masjid itu juga terdapat peninggalannya berupa sumur. “Saat itulah Sayyid Ndoro Ali memberikan pengetahuan kepada warga, bahwa di saat ada musibah di hari Rabu akhir Safar harus melakukan  istigasah dan juga selalu menggunakan air sumur dari masjid tersebut supaya bisa menolak musibah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun air sumur tersebut merupakan media obat untuk menghindari musibah di hari Rabu Wekasan. Karenanya, air sumur itu diberi nama air salamun atau air keselamatan oleh Sayyid Ndoro Ali. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)