Membahayakan, Jembatan Pemacu Adrenalin di Rejosari Grobogan Tak Boleh Dilalui Kendaraan

Dua pengendara motor dengan hati-hati melintasi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap kondisi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan akhirnya ditindaklanjuti pihak desa. Rencananya, jembatan yang menghubungkan Desa Kradenan dan Desa Rejosari itu tak boleh dilalui sepeda motor lantaran kondisi jembatan yang semakin membahayakan.

Kepala Desa Rejosari Lapar menyatakan, penutupan jembatan untuk pengendara motor dijadwalkan mulai bulan depan jembatan. Menurutnya, konstruksi jembatan yang baru terbentang lempengan besi itu hanya diperuntukkan bagi sepeda dan pejalan kaki.

Namun, seringkali pengendara motor tetap nekat untuk melintas dengan alasan memperpendek jarak tempuh.

“Nanti akan kita pasang larangan bagi pemotor untuk lewat. Saya akan kerjasama dengan Karang Taruna untuk mencegat pengendara supaya jangan lewat jembatan,” katanya.

Lapar menyatakan, pihaknya memang belum mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan jembatan. Sebab, dana yang tersedia juga digunakan untuk perbaikan jalan desa.

Hanya, ia berjanji, tahun ini akan dianggarkan dana untuk pengecoran dan penambahan lempengan besi senilai Rp 200 juta dari alokasi dana desa (ADD).

Jembatan  panjangnya sekitar 60 meter. Sebelumnya, jembatan diatas sungai Ngrowo ini terbuat dari kayu dan sempat beberapa kali hanyut saat banjir.

Sejak beberapa tahun lalu, pihak desa berupaya membuat jembatan permanen dengan konstruksi beton untuk tiang penyangga. Namun, proses perbaikan jembatan akhirnya belum terselesaikan sampai saat ini.

“Pembangunan jembatan itu kita lakukan bertahap karena keterbatasan dana. Saat ini, sudah terbangun tiga pilar penyangga. Setelah itu, akan dipikirkan untuk membuat landasannya,” jelas Lapar pada wartawan.

Meski pembangunan belum rampung, namun jembatan itu tetap digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Beberapa pilar besi baja panjang untuk sementara difungsikan sebagai landasan.

Namun, tidak semua orang berani melintasi landasan darurat tersebut. Terutama, para pengendara sepeda atau motor. Beberapa orang yang mencoba menyeberangi jembatan dikabarkan sempat kecebur sungai.

“Pilar besinya memang kuat tetapi untuk menyeberangi jembatan butuh nyali besar. Selain itu, saat melintas butuh ketenangan dan keseimbangan karena kanan kirinya tidak ada pagar pengamannya. Saya kalau melintasi jembatan pasti sambil deg-degan,” kata Suranti, warga Kradenan yang sudah beberapa kali melintasi jembatan tersebut.

Editor: Supriyadi

Pembangunan Jembatan Gantung di Kedungjati Grobogan Diusulkan ke Kementerian 

Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) saat melakukan survei tebing Sungai Tuntang di Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan, Senin. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keingian warga Desa Ngombak dan Desa Kentengsari di Kecamatan Kedungjati, Grobogan untuk dibuatkan jembatan gantung mendapat respons positif. Dalam waktu dekat, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan mengusulkan pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan kedua desa tersebut pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Kepala DPUPR Grobogan Subiyono menyatakan, sebelum mengajukan permohonan, pihaknya sudah menerjunkan tim teknis ke lokasi. Tujuannya untuk melakukan survei awal, mengmpulkan data dan informasi pendukung serta membuat desain jembatan.

Direncanakan jembatan gantung tersebut memiliki panjang 85 meter dengan lebar 1,8 meter. Jembatan ini akan membentang di atas Sungai Tuntang.

“Segera kami usulkan ke Kementerian PUPR untuk mendapatkan pendanaan. Mudah-mudahan permohonan ini disetujui. Pada tahun ini, pihak kementrian sudah memberikan bantuan jembatan gantung di Kecamatan Pulokulon dan Kradenan,” jelasnya, Senin (7/8/2017).

Menurutnya, dari hasil pemetaan yang dilakukan akses jalan di Desa Ngombak menjadi aset desa. Kondisi ini menyebabkan pihaknya tidak bisa menganggarkan karena jadi kewenangan desa.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, untuk mendukung terwujudnya pembangunan jembatan, pihak desa juga sudah melakukan persiapan sesuai kemampuan. Misalnya, membuat akses jalan dengan cor beton ke lokasi yang saat ini digunakan sebagai penyeberangan warga.

Selain itu, pihak desa juga sudah memiliki tanah yang akan dijadikan landasan bagi pembuatan fondasi jembatan. Untuk lahan itu, tidak perlu ada pembebasan tanah.

Menurut Kartini, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang.

Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung. Sebab, keberadaan jembatan dibutuhkan warga desanya dan desa tetangga.

“Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Pembangunan Jembatan Penghubung 2 Desa di Kecamatan Kedungjati Bisa Diwujudkan, Begini Caranya

Warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, membutuhkan pembangunan jembatan untuk memudahkan aktivitas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keinginan warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan dibangunkan jembatan gantung masih ada peluang kendati pihak desa belum memiliki anggaran.

Caranya, dengan pihak desa diminta mengajukan permohonan bantuan keuangan khusus ke pemkab atau provinsi untuk pembangunan jembatan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menanggapi harapan warga dua desa tersebut untuk dibangunkan jembatan di atas sungai Tuntang.

“Beberapa waktu lalu, Desa Karangsari, Kecamatan Brati berhasil mendapat bantuan pembangunan jembatan gantung. Caranya dengan mengajukan bantuan ke provinsi,” katanya.

Menurutnya, dari hasil pemetaan yang dilakukan akses jalan di Desa Ngombak menjadi aset desa. Kondisi ini menyebabkan pihaknya tidak bisa menganggarkan karena jadi kewenangan desa.

Subiyono menyatakan, kebutuhan pembangunan jembatan besar maupun gantung memang cukup tinggi. Sebab, wilayah Grobogan terdapat sekitar 200 aliran sungai. Beberapa di antaranya merupakan aliran sungai besar, seperti Lusi, Serang, dan Tuntang.

Terkait kondisi itu, sudah banyak alokasi dana yang disalurkan untuk pembangunan jembatan. Sebelum dibangun jembatan, terlebih dahulu harus dilakukan kajian teknis. Yakni, untuk melihat lokasi, potensi, jumlah penduduk dan biaya. “Kalau hasil kajian teknis dinyatakan layak maka pembangunan jembatan di lokasi tersebut akan diprioritaskan,” jelasnya.

Ditambahkan, saat ini, pihaknya sedang mengkaji dan mendata jumlah kebutuhan jembatan tersebut untuk dimintakan bantuan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada tahun ini, pihak kementrian memberikan bantuan jembatan gantung di Kecamatan Pulokulon dan Kradenan.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang. Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung.

Menurut Kartini, pihaknya akan tetap berupaya mencari jalan keluar agar jembatan tersebut bisa terwujud. Sebab, keberadaan jembatan dibutuhkan warga desanya dan desa tetangga. “Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Sebentar Lagi, Prosesi Pemakaman Jenazah di Tanjungsari Grobogan Tak Perlu Nyeberang Sungai

Tim dari Kementerian PUPR menyurvei lokasi yang akan dibangun jembatan gantung di Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Rabu (19/4/2017). (MuriaNewsCom / Dani Agus).

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan, Grobogan, agar dibuatkan akses jembatan menuju tempat pemakaman mendapat respons positif. Dalam waktu dekat, pemerintah melalui Kementrian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan membangun sebuah jembatan gantung yang membentang Sungai Lusi.

“Pihak Kementerian PUPR mengabulkan permohonan kita supaya dibantu jembatan gantung di Desa Tanjungsari. Pembangunannya akan dilakukan tahun ini. Dengan adanya jembatan, warga nantinya tidak perlu lagi berenang menyeberangi sungai saat mengantar jenazah,” kata Kepala Dinas PUPR Grobogan Subiyono, Kamis (20/4/2017).

Subiyono mengatakan, dalam pembangunan jembatan gantung tersebut, pemkab tidak mengeluarkan dana. Untuk biaya konstruksi jembatan sudah ditangani kementerian.

Dalam pembangunan jembatan juga tidak perlu ada pembebasan lahan. Sebab, lokasi yang ditempati konstruksi jembatan masih bagian dari sempadan sungai milik Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana yang ad di bawah naungan kementerian PUPR. “Semua biaya pembangunan jembatan nanti dari kementerian. Perkiraan biaya yang diperlukan sekitar Rp 3-4 miliar,” jelas mantan Kadinas Pengarian itu.

Masih menurut Subiyono, tim dari kementerian telah menyurvei lokasi-lokasi yang memungkinkan untuk membangun jembatan gantung. Dalam survey yang dilangsungkan Rabu (19/4/2017) tersebut, tim juga menggerahkan drone untuk memetakan lokasi.

Editor : Akrom Hazami  

Selesai Dibangun, Jembatan Banyu Semurup Rahtawu Kudus Kini Lebih Kokoh

Kadinas PUPR Sam’ani Intakoris (baju batik coklat) meninjau jembatan Banyu Semurup bersama petugas PUPR, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pemkab Kudus selesai membangun Jembatan Banyu Semurup Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Pembenahan jembatan yang nyaris ambrol itu, menggunakan anggaran pemeliharaan rutin pada Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala Dinas PUPR Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, pembenahan dilakukan di sebagian besar jembatan. Mulai dari pondasi awal hingga baja penyangga. Namun secara keseluruhan bentuk dan material masih memanfaatkan jembatan yang lama.

“Dalam pembangunan jembatan ini, menghabiskan biaya sekitar Rp 300 juta. Jumlahnya lebih besar dari perkiraan awal karena usai jembatan yang memang sangat lama,” katanya saat meninjau lokasi, Kudus (15/3/2016).

Menurutnya, pada bagian atas jembatan juga sudah dicor beton. Kemudian,  untuk dinding jembatan yang retak juga dibenahi ulang agar nantinya jembatan mampu awet seperti sedia kala dan mampu menopang beban yang besar.

Tak hanya itu, pada bagian bawah pondasi juga diberikan cor beton. Itu, bakal membuat jembatan lebih ampuh dan kokoh ketimbang struktur awal yang hanya dengan dinding di kedua sisi sebagai penyangga semata.

Berdasarkan data, pembongkaran jembatan, lanjutnya, sudah dimulai Minggu (11/12/2016). Kondisi sekarang sudah rampung dalam beberapa pekan yang lalu. Namun, masih nampak aktivitas untuk mengecat dinding jembatan.

“Rencananya akan kami aspal juga, Dengan demikian akan lebih awet. Karena jika ada yang terkikis atau rusak, maka aspalnya yang rusak,” ungkapnya.

Jembatan Banyu Semurup memiliki panjang 10 meter, lebar 6 meter dan melintang di atas sungai berkedalaman sekitar 15 meter. Jembatan dibangun sekitar tahun 1970. Memiliki kondisi di salah satu jalan ujung jembatan  berlubang dengan diameter sekitar 40 cm dan berpotensi semakin melebar.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Perbaikan Darurat Pilar Jembatan Desa Karanglangu Grobogan Rampung

Tiang besi untuk menyangga jembatan di Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati sudah rampung didirikan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses perbaikan darurat pilar jembatan di Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati akhirnya rampung dikerjakan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono pada wartawan, Rabu (8/3/2017).

“Alhamdulillah, pemasangan tiang besi untuk penahan jembatan sudah selesai dikerjakan. Tinggal penyempurnaan saja. Penanganan darurat bisa kita kerjakan sesuai target,” katan Subiyono di Grobogan,.

Penanganan darurat sudah dimulai seminggu lalu dengan alokasi dana sekitar Rp 40 juta. Pekerjaan ditarget selesai dalam sepekan.

Setelah penanganan darurat dilakukan, selanjutnya akan diteruskan dengan penanganan secara permanen. Untuk perbaikan permanen akan dialokasikan dana sekitar Rp 200 juta.

Perbaikan permanen dilakukan dengan membuat satu pilar penyangga baru dengan konstruksi beton. Posisi pilar baru akan ditempatkan sekitar satu meter dari pilar lama yang hampir ambrol diterjang banjir beberapa hari lalu. Titik pembuatan pilar baru sudah disesuaikan dengan konstruksi bangunan yang sudah ada.

“Jadi, untuk perbaikan permanen harus didahului penanganan darurat. Jembatan harus dikasih tiang penyangga besi supaya aman,” sambungnya.

Seperti diberitakan, akses transportasi warga Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati mulai tersendat sejak Minggu (26/2/2017). Hal ini menyusul terkikisnya salah satu pilar penyangga jembatan yang menghubungkan Dusun Kleben dan Dusun Karanglangu.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan terpaksa dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyebrangi jembatan yang melintasi sungai Bancak tersebut.

Kepala Desa Karanglangu Slamet Agus Kanugroho menyatakan, terkikisnya salah satu pilar jembatan diketahui Minggu pagi. Diperkirakan, pilar terkikis akibat diterjang air sungai yang mengalir deras pada diniharinya.

“Jembatan tersebut memiliki panjang 90 meter dengan lebar 3,8 meter. Ketinggian jembatan dari dasar sungai sekitar 15 meter. Sungai Bancak yang ada di bawah jembatan berhulu dari wilayah Salatiga dan bermuara ke Sungai Tuntang.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting bagi warga setempat. Sebab, jembatan itu jadi akses yang menghubungkan Desa Karanglangu menuju Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro, Boyolali dan Desa Bantal, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan terpaksa dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyeberangi jembatan yang melintasi sungai Bancak tersebut.

Editor : Akrom Hazami

Diterjang Banjir Bandang, Jembatan Desa Karanglangu Grobogan Terancam Ambrol

Salah satu pilar jembatan yang melintasi Sungai Bancak di Dusun Kleben, Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati, Grobogan, rusak setelah diterjang banjir bandang. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Akses transportasi warga Desa Karanglangu, Kecamatan Kedungjati mulai tersendat sejak Minggu (26/2/2017). Hal ini menyusul terkikisnya salah satu pilar penyangga jembatan yang menghubungkan Dusun Kleben dan Dusun Karanglangu.

Lantaran terkikisnya cukup parah hingga pilar nyaris putus, kendaraan yang membawa muatan dilarang melintas. Sebab, dikhawatirkan bisa memperparah kerusakan jika kendaraan berat menyebrangi jembatan tersebut.

“Demi keamanan, untuk sementara kendaraan berat (bermuatan) saya larang melintas. Ini, untuk menghindari agar jembatan tidak ambrol karena pilar yang terkikis air sangat parah kondisinya,” ungkap Kepala Desa Karanglangu Slamet Agus Kanugroho.

Menurut Slamet, terkikisnya salah satu pilar jembatan diketahui Minggu (26/2/2017) pagi. Diperkirakan, pilar terkikis akibat diterjang air sungai yang mengalir deras pada dini harinya.

“Malam minggu kemarin memang turun hujan sangat deras sejak sore hingga jelang dini hari. Kondisi itu menjadikan sungainya penuh air dan alirannya sangat deras sekali,” jelasnya.

Jembatan tersebut memiliki panjang 90 meter dengan lebar 3,8 meter. Ketinggian jembatan dari dasar sungai sekitar 15 meter. Sungai Bancak yang ada di bawah jembatan berhulu dari wilayah Salatiga dan bermuara ke Sungai Tuntang.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat penting bagi warga setempat. Sebab, jembatan itu jadi akses yang menghubungkan Desa Karanglangu menuju Desa Repaking Kecamatan Wonosegoro, Boyolali dan Desa Bantal Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.

Slamet menambahkan, jembatan tersebut merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda. Informasi yang didapatkan, terakhir ada perawatan jembatan sekitar tahun 1980.

“Jadi, ini memang jembatan kuno dan sempat dirawat tahun 1980. Setelah itu belum ada perawatan lagi. Kami berharap kondisi jembatan yang rusak segera ditangani dinas terkait,” harapnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

2 Jembatan di Jepara Bakal Dipercantik dengan Ukiran

Proyek pengerjaan pagar jembatan Kali Wiso yang berada di sebelah utara Pendapa Kabupaten Jepara sudah dimulai. Nanti, pagar jembatan akan diberi hiasan ukiran. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Dua jembatan di Jepara wilayah kota, rencananya bakal dikasih pagar dengan hiasan ukiran khas Jepara. Dua jembatan tersebut, yakni, Jembatan Kali Kanal Timur di Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota yang ada di Jalan Pemuda, kemudian Jembatan Kali Wiso di kawasan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pengerjaan pembangunan pagar jembatan tersebut sudah dimulai. Di sisi kanan dan  kiri jembatan, sudah dipasang pagar dari seng setinggi dua meter, agar pengerjaan tak mengganggu arus lalu lintas.

Kabid Bina Marga pada Dinas Penkerjaan Umum (PU) dan Tata Ruang Jepara Hartaya mengatakan, perbaikan pagar jembatan tersebut, salah satunya untuk mendukung pencapaian Adipura 2017. Agar tidak terkesan biasa-biasa saja, kemudian dipilihlah bentuk ukiran sebagai karakter dari Jepara.

”Konsep pagarnya nanti biasa. Hanya saja, di bagian beton untuk penyangga pagar akan dipenuhi ukiran. Sementara itu, tinggi pagar sekitar 1 meter dan desainnya sudah ada,” ujar Hartaya.

Kemudian, mengenai anggaran pembuatan hiasan pagar tersebut, ia memaparkan, bahwa akan diambilkan dari anggaran pemeliharaan di tahun 2017. “Pengerjaan proyek diperkirakan membutuhkan waktu empat bulan, yakni dari awal Februari hingga akhir Mei 2017. Proyek tersebut digarap menggunakan anggaran pemeliharaan 2017, dengan masing-masing jembatan dianggarkan Rp 180 juta,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Jembatan Boto Lor Bae Dibiarkan Roboh  

Warga melihat bekas jembatan yang roboh yakni jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Warga melihat bekas jembatan yang roboh yakni jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Jembatan Boto Lor, yang terdapat di Dukuh Kauman, Desa Ngembal Rejo, Bae, Kudus, hingga kini kondisinya memprihatinkan. Kondisi jembatan yang tinggal fondasi hingga kini masih belum tertangani.

Kadus Kauman Umar Khattab mengatakan, pihaknya sudah sering menyampaikan soal pentingnya jembatan. Namun hingga kini tak juga dipenuhi.

“Kami sudah meminta bantuan untuk pembangunan jembatan. Namun sampai kini tidak kunjung juga diperbaiki. Sehingga untuk daerah sebelah harus memutar cukup jauh sekitar satu kilometer,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Untuk bantuan yang sudah didapat, kata dia, kini hanya bongkahan besi bekas jembatan dari Undaan. Besi tersebut berukuran cukup besar dan memiliki panjang 10,5 meter. Besi tersebut didapatkan dari Dinas Bina Marga, Pengairan, dan ESDM Kudus saat diminta bantuan.

Dikatakan kalau dulunya terdapat jembatan tua yang menghubungkan satu dukuh di sana. Hanya, karena jembatan sudah roboh maka akses disana juga sangat terganggu.

Setelah itu dibangunkan jembatan sementara yang dibuat dari bambu. Namun karena bangunan yang seadanya membuat roboh dan tidak berusia panjang, yang mengakibatkan kini warga  kembali terpisah.

Siswoto, warga mengatakan kalau jembatan sangat dibutuhkan. Namun dia heran mengapa hingga kini tidak kunjung juga dibangunkan dengan jembatan baru yang kokoh.

Editor : Akrom Hazami

Ambrolnya Jembatan Somosari Jepara Disebut-sebut Akibat Galian C

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebab ambrolnya jembatan di Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Jepara yang menghubungkan ke sejumlah dukuh masih menjadi misteri. Jika dilihat secara kasat mata, penyangga jembatan sisi timur ambrol. Diduga kuat, tanah yang menjadi lokasi penyangga jembatan tak kuat dengan derasnya arus sungai. Tak cukup disitu, desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar, menduga arus sungai yang deras tersebut ada kaitannya dengan aktivitas galian C yang berada di dekat jembatan yang mengalihkan aliran air sungai.

Dari pantauan MuriaNewsCom, posisi jembatan yang ambrol adalah separuh dari jembatan yang berukuran sekitar 20 meter. Separuh jembatan itu ambrol total, sedangkan sisi barat hanya retak saja. Ketika dilihat, air sungai hanya melewati aliran atau jalan air di satu sisi saja, yakni sisi timur.

Berdasarkan keterangan Kholik, Carik Desa Somosari, dulunya air melewati di kedua sisi, baik timur maupun barat.“Ada pergeseran jalur aliran air sungai. Mungkin karena pergeseran itu, yang semestinya lewat dua jalur menjadi kumpul di satu jalur, arus sungai semakin deras di sisi timur dan tanah tergerus hingga akhirnya jebol,” ungkap Kholik kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya, dulunya pinggir-pinggir sungai sisi timur merupakan lahan persawahan. Namun, saat ini sebagian sudah tergerus hingga menjadi bagian dari sungai. Melihat kondisi ini, diakuinya sangat memprihatinkan.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara Hanif Kurniawan mengatakan, perubahan aliran air sungai tersebut memang berisiko tanah tergerus, sehingga mengakibatkan jembatan roboh.

“Jika nanti dibangun baru, konstruksi bangunan jembatan harus berubah. Sebab, aliran sungai sudah berubah. Pondasi tengah jembatan yang semestinya mampu memecah derasnya arus tidak berfungsi lagi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Jembatan Roboh, Warga Harus Mencari Jalan Lain Sejauh 10 Km di Somosari Jepara

Jembatan Trembes Ambol, Warga Gunem dan Pamotan Rembang Terancam Terisolasi

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan penghubung kecamatan Gunem – Pamotan yang berada di Desa Trembes, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Ambrol, Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Akibat ambrolnya jembatan tersebut, warga sekitar kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terutama bagi yang hendak bepergian menggunakan mobil. Warga Trembes, Sodikin (24), mengatakan warga yang dari Gunem mau ke Pamotan atau sebaliknya harus menempuh jarak dua kali lipat dari sebelumnya.

Menurutnya, mobil pengangkut hasil pertanian atau pedagang yang kulakan kebutuhan pokok dari Pamotan, terpaksa lewat pertigaan Songkelmereng, Kecamatan Bulu – Timbrangan – Tegaldowo.
”Untuk roda empat ketika jembatan masih normal, kira-kira hanya perlu waktu setengah jam untuk ke Gunem dari Pamotan atau sebaliknya. Namun, sekarang harus berputar melalui Songkelmereng, paling cepat ya satu jam,” jelasnya.

Dijelaskan olehnya, warga menutup akses jembatan tersebut untuk kendaraan roda empat sejak Sabtu (27/2/2016). Penutupan ditandai dengan pemasangan peringatan, di sisi utara maupun selatan jembatan.
”Penutupan jalan dilakukan karena jika tetap digunakan, warga khawatir jembatan itu ambrol hingga memakan korban. Ternyata, tadi malam ambrol. Beruntung tidak ada korban jiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Trembes, Andri Pujianto, saat dikonfirmasi menuturkan ambrolnya jembatan karena bagian pondasi bawah rusak tergerus air dari embung yang berada tepat di sampingnya.
”Keberadaan jembatan yang berusia puluhan tahun tersebut sangat menunjang aktivitas masyarakat. Sehingga dengan ambrolnya jembatan pasti berdampak kepada warga sekitar,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Jembatan Dusun Lebengjumuk-Purwo Grobogan Putus

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

 

GROBOGAN – Akibat hujan yang turun pada Minggu malam (13/12) jembatan penghubung Lebengjumuk dan Purwo, Grobogan putus. Jembatan yang putus ini adalah jembatan alternatif yang dibuat di sebelah utara jembatan utama. Sudah hampir 1 tahun lebih jembatan utama putus.

Masyarakat bergotong royong untuk membuat jembatan alternatif dengan memanfaatkan sawah di sebelah jembatan utama. “Kalau kami tidak gotong royong bikin jembatan seperti ini, desa kami terisolir. Kami harus memutar puluhan kilometer kalau tidak lewat jembatan ini,” kata Lasman, salah seorang warga Dusun Lebeng.

Sementara itu, menurut Yoto, warga Dusun Purwo, penduduknya juga kesulitan kalau mau ke sawah atau mencari rumput, karena biasanya naik motor ke Dusun Lebeng.

Sebenarnya sudah pernah ada petugas yang katanya dari Pemda Grobogan meninjau dan memfoto jembatan yang runtuh. Namun, sudah lebih dari satu tahun belum juga ada tindakan nyata dari Pemda Grobogan. Warga sangat menunggu bantuan dari pemerintah daerah untuk segera ada perbaikan jembatan.

Kepala Desa Lebengjumuk, Bambang mengatakan pihaknya sudah berusaha menyampaikan runtuhnya jembatan ke kecamatan untuk diteruskan ke Pemda atau BPBD Grobogan. Namun, sampai saat ini belum juga ada respons.

Jembatan Ploso Kembali Ditutup, Ada Apa?

Jembatan Ploso, Kecamatan Jati, Kudus yang kembali ditutup membuat pengguna jalan berbalik arah mencari jalan lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Jembatan Ploso, Kecamatan Jati, Kudus yang kembali ditutup membuat pengguna jalan berbalik arah mencari jalan lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sudah sekitar dua pekan terakhir jembatan Ploso yang sudah selesai dibangun dapat dilalui kendaraan. Namun pada Minggu (20/12/2015) sore jembatan tersebut kembali ditutup. Sehingga pengguna jalan yang biasa melewatinya, akhirnya harus berputar balik untuk mencari jalan lainnya.

Salah satu mandor pekerja Jembatan Ploso, Ngarijo mengatakan, pihaknya diimbau oleh Dinas PU Kudus untuk membersihkan peralatan pertukangan serta material yang masih berada di jalan pada Minggu (20/12/2015) sore ini.

”Saya diimbau oleh Dinas PU untuk melakukan kebersihan jalan dan jembatan pada Minggu sore. Sebab pada Seninnya akan di pasang tratak ataupun perlengkapan lainnya. Setelah itu, hari Selasa (22/12/2015) akan diresmikan Bupati Kudus,” paparnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, selain penutupan jalan juga terdapat kegiatan pemasangan tratak di sebelah barat jembatan Ploso, Jati. Untuk para pengguna jalan diimbau untuk sementara menggunakan jalan lainnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Jembatan Kaliampo Pati Kembali Memakan Korban, Satu Orang Tewas

Ilustrasi Kecelakaan

Ilustrasi Kecelakaan

 

PATI – Setelah truk trailer bermuatan besi oleng dan hampir menabrak satu rumah di sebelah timur Jembatan Kaliampo Jalan Pati-Kudus, Dukuh Kaliampo, Desa Wangunrejo, Margorejo, Pati, kini kawasan tersebut kembali memakan korban, Sabtu (19/12/2015).

Kecelakaan antara mobil Mitsubishi Box bernopol L8158FS dengan truk fuso bernopol BD8865EU di kawasan tersebut mengakibatkan Suwatono (56) yang mengemudikan Mitsubishi mengalami patah pada tangan bagian kanan, putus pada kaki kanan dan cedera kepala hingga meninggal dunia.

Sementara itu, sopir truk fuso yang diketahui bernama Afrizon (39) hanya mengalami luka-luka ringan. “Sopir fuso baik-baik saja, sedangkan sopir mobil box meninggal dunia karena mengalami cedera pada bagian kepala, kaki kanan putus dan tangan kanan patah,” ujar Kanit Laka Polres Pati Ipda Imam Basuki kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, daerah tersebut memang rawan terjadi kecelakaan karena daerahnya lurus dan merupakan titik lelah. “Daerah yang lurus tak harus berkendara kencang. Justru harus selalu hati-hati karena di situ titik lelah,” katanya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Masih Butuh Bantuan Stimulan, Warga Dawe Gotong Royong Bangun Jembatan

Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

 

KUDUS – Ratusan warga Dukuh Pasiran, Desa Margorejo, Kecamatan Dawe Kudus, kemarin Minggu (18/10/2015) melakukan gotong royong membangun jembatan secara swadaya dengan dukungan dana desa. Meski begitu, untuk bisa merampungkan pekerjaan seratus persen, warga berharap bisa mendapatkan bantuan stimulan dari pemerintah kabupaten.

Jembatan alternatif yang menghubungkan Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan, Desa Margorejo Dawe, dengan panjang 14 meter dan lebar 2,5 meter itu diyakini mampu menahan kekuatan minimal 10 ton. Pembangunan jembatan tersebut menggunakan dana desa sebesar Rp 20 juta dan swadaya masyarakat sekitar Rp 40 juta.

Kepala Desa Margorejo Ahmad Baskhoro mengatakan, pemanfaatan dana desa dinilai lebih efektif karena mampu mendorong warga untuk berswadaya membangun desa. ”Selain iuran, warga secara sukarela melakukan gotong royong untuk mengurangi beban biaya pembangunan. Mereka akhirnya juga memiliki tanggungjawab untuk menjaga dan merawatnya,” ujarnya, Senin (19/10/2015).

Pembangunan jembatan Dukuh Pasiran-Gentungan diawali tahun 2014 dengan pembuatan pondasi. Karena ketiadaan dana saat itu, baru dapat dilanjutkan awal Oktober 2015. Melalui dana desa dan swadaya masyarakat, pembangunan jembatan diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 100 juta. Saat ini dana yang keluar mencapai Rp 60 juta.

Untuk proses finishing, antara lain pembuatan pagar sisi kanan dan kiri jembatan, serta pengaspalan masih dibutuhkan dana cukup besar. ”Warga berharap ada bantuan stimulan berupa aspal, sehingga seluruh kegiatan pembangunan jembatan bisa dirampungkan,” katanya, didampingi Kadus Ahmad Mirkan, Staf Kasi Pemdes Ahmad Khambali, dan Ketua RT.02- RW.08 Desa Margorejo Ahmadi.

Tahun 2015 ini Desa Margorejo mendapatkan dana desa dari pemerintah pusat sebesar Rp 303 juta. Dana tersebut telah didistribusikan melalui berbagai kegiatan, antara lain pembangunan jembatan, talud, dan pengaspalan jalan. Sejumlah kegiatan lain yang telah dilaksanakan yakni di Dukuh Bandung, Gading, dan Dukuh Karangpanas. Rencana terakhir di Dukuh Pelang.

”Bantuan kegiatan melalui dana desa mampu menyedot swadaya masyarakat hingga mencapai ratusan juta,” tandas Camat Dawe Eko Budi Santoso, yang ikut turun bersama warga Dukuh Pasiran saat gotong royong membangun jembatan. (MERIE)

Foto:
Warga Dukuh Pasiran Desa Margorejo Kecamatan Dawe Kudus, bergotong royong membangun jembatan penghubung Dukuh Pasiran-Dukuh Gentungan sepanjang 14 meter. Pembangunan menggunakan dana desa dan swadaya warga. (MuriaNewsCom/Merie)

Ini Pemicu Jebolnya Penahan Air Jembatan Sampang

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pembangunan Jembatan Sampang berkonstruksi baja di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Sejumlah kendala acapkali ditemui pekerja.

Bahkan, kisdam atau penahan air jembol diterjang arus air Sungai Juwana, Senin (28/9/2015). Akibatnya, kelanjutan pembangunan jembatan itu harus menunggu rapat koordinasi dengan semua pihak terkait.

General Manager PT Marga Karya Pati Budi Santoso mengatakan, penyebab jebolnya kisdam ditengarai karena urukan tanah untuk kisdam sudah mulai jenuh berada dalam kepungan air sungai.

“Urukan tanah untuk kisdam waktu itu sudah mengalami kejenuhan, sehingga penahannya jebol. Selain itu, sempat terjadi bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang hingga menuju hulu,” imbuhnya.

Kondisi itu menciptakan pusaran air dalam alur kali yang menyebabkan ambrolnya kisdam. Akibat musibah itu, kelanjutan pembangunan jembatan harus ditunda untuk sementara waktu. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Sempat Terkendala Dalam Pembuatan Pondasi, Kini Pemasangan Kerangka Jembatan Sampang Segera Dimulai

Seorang pekerja tengah berada di bawah alat berat yang digunakan untuk membangun jembatan konstruksi baja di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Seorang pekerja tengah berada di bawah alat berat yang digunakan untuk membangun jembatan konstruksi baja di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

 

PATI – Pemasangan kerangka jembatan yang menghubungkan Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan dan Desa Purworejo, Kecamatan Pati akan segera dimulai. Namun, proses pembangunan sampai saat ini sempat terkendala dengan pembuatan pondasi tengah.

“Dalam pembuatan pondasi tengah, sempat ada kendala. Saat membuat pondasi, airnya justru masuk ke dalam karena penghalangnya dari gelugu,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pati Suharyono.

Setelah dievaluasi kontraktor, lanjutnya, pembuatan pondasi tengah akhirnya menggunakan besi seat bel yang digunakan untuk menahan air di tengahnya. Dengan begitu, proses penggalian bisa dilakukan maksimal.

“Setelah ini berhasil, kami berharap agar proses penggalian dan pengecoran bisa dilakukan. Dengan demikian, pemasangan kerangka jembatan akan segera dimulai,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Jembatan Katrol Bantu Warga Halal Bihalal Pati-Jakenan

Sejumlah warga yang hendak halal bihalal di rumah saudara tengah menyeberang sungai Juwana yang menghubungkan antara Kecamatan Jakenan dan Pati, Sabtu (18/7/2015). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Jembatan katrol yang terbuat dari drum aspal dilapis bambu membantu warga yang tengah halal bihalal dari Kecamatan Pati menuju Kecamatan Jakenan, dan sebaliknya. Mereka menggunakan jasa tersebut, lantaran jembatan konstruksi baja belum rampung.

Untuk satu kali menyeberang, pengguna jalan harus membayar kontribusi Rp 2 ribu per sepeda motor. Kontribusi tersebut sama jika dibandingkan sebelum Lebaran.

Octavia Devi Puspitasari, warga Desa Kalimulyo, Kecamatan Jakenan mengaku bersyukur dengan adanya jembatan katrol yang membantu warga untuk melintasi jalur alternatif yang menghubungkan Kecamatan Jakenan dan Pati. Ia mengatakan, jembatan katrol membantu mempersingkat jarak puluhan kilometer.

”Kalau tidak nyebrang sungai, kita harus muter lewat Kecamatan Juwana atau lewat Kecamatan Winong yang jaraknya bisa sangat lebih jauh. Jembatan katrol sangat membantu warga untuk halal bihalal di rumah saudara,” ujar Devi kepada MuriaNewsCom, Sabtu (18/7/2015).

Ia menambahkan, warga yang menyeberang di hari-hari biasa dikenakan tarif jasa penyeberangan sebesar Rp 2 ribu. Sementara itu, penyeberang tidak menaikkan tarif saat Lebaran.

”Tarifnya tetap Rp 2 ribu. Tidak ada kenaikan saat Lebaran. Hanya saja, volume pengguna jembatan katrol semakin meningkat saat Lebaran, sehingga pendapatan bagi penyeberang juga meningkat” tuturnya. (LISMANTO/SUPRIYADI)

Pemkab Grobogan Diminta Tak Hanya Fokus Pembangunan Jalan

Warga Grobogan melintasi jembatan yang kondisinya kurang memadai. Pemkab setempat diminta memberikan perhatian lebih pada infrastruktur jembatan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Warga Grobogan melintasi jembatan yang kondisinya kurang memadai. Pemkab setempat diminta memberikan perhatian lebih pada infrastruktur jembatan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Sejumlah pihak meminta agar Pemkab Grobogan mulai menaruh perhatian lebih terhadap pembangunan maupun perbaikan jembatan. Hal itu perlu dilakukan karena jembatan juga jadi sarana penting untuk mendorong naiknya perekonomian warga. Lanjutkan membaca

Desa Sumberejo Ajukan Rp 500 Juta untuk Bangun Jembatan

Sejumlah warga melintasi di Sungai Lusi untuk melakukan aktifitas sehari-hari. (MURIANEWS/PRIYO)

BLORA– Harapan warga Desa Sumberejo, Kecamatan Ngawen untuk memiliki jembatan penyeberangan akan segera terwujud. Dengan difasilitasi anggota Komisi B DPRD Jawa Tengah, Arief Rohman, mereka akhirnya mengajukan anggaran pembangunan jembatan kepada Gubernur Ganjar Pranowo sebesar Rp 500 juta.

Lanjutkan membaca

Proyek Infrastruktur Mangkrak di Jepara Disorot

Komunitas Aktivis Jepara Read Forum beraudiensi dengan Komisi D DPRD Jepara, Rabu (6/5/2015). Mereka mempersoalkan banyaknya proyek pembangunan infrastruktur yang mangkrak. (MURIANEWS / WAHYU KZ)

JEPARA – Proyek pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan aset daerah yang mangkrak di Kabupaten Jepara, disoal oleh Komunitas Aktivis Jepara Read Forum. Mereka melakukan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara, Rabu (6/5/2015).

Lanjutkan membaca

Pangdam Minta Jembatan Bailey di Kudus

KOTA SEMARANG-Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo meminta pembangunan jembatan bailey untuk membuka akses jalan menuju Kabupaten Kudus yang terputus akibat banjir. Jembatan darurat itu bisa menjadi alternatif selain peninggian badan jalan.
”Kami sudah meminta Bupati Kudus agar menambah anggaran untuk pembangunan jembatan bailey otomatis. Ada satu titik di Kudus dengan panjang sekitar satu kilometer yang tidak bisa kami lewati,” katanya usai memimpin apel siaga bencana di Lapangan Parade, Makodam, Jumat (24/1).
Akses jalan menuju Kudus lumpuh akibat banjir yang menggenangi wilayah tersebut sejak beberapa hari terakhir. Sebagai tindakan darurat, aparat TNI juga sudah meninggikan badan jalan menggunakan 300 truk kerikil. Pengerjaan tersebut sudah dilakukan sejak Kamis (23/1).

Lanjutkan membaca