Membahayakan, Jembatan Pemacu Adrenalin di Rejosari Grobogan Tak Boleh Dilalui Kendaraan

Dua pengendara motor dengan hati-hati melintasi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap kondisi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan akhirnya ditindaklanjuti pihak desa. Rencananya, jembatan yang menghubungkan Desa Kradenan dan Desa Rejosari itu tak boleh dilalui sepeda motor lantaran kondisi jembatan yang semakin membahayakan.

Kepala Desa Rejosari Lapar menyatakan, penutupan jembatan untuk pengendara motor dijadwalkan mulai bulan depan jembatan. Menurutnya, konstruksi jembatan yang baru terbentang lempengan besi itu hanya diperuntukkan bagi sepeda dan pejalan kaki.

Namun, seringkali pengendara motor tetap nekat untuk melintas dengan alasan memperpendek jarak tempuh.

“Nanti akan kita pasang larangan bagi pemotor untuk lewat. Saya akan kerjasama dengan Karang Taruna untuk mencegat pengendara supaya jangan lewat jembatan,” katanya.

Lapar menyatakan, pihaknya memang belum mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan jembatan. Sebab, dana yang tersedia juga digunakan untuk perbaikan jalan desa.

Hanya, ia berjanji, tahun ini akan dianggarkan dana untuk pengecoran dan penambahan lempengan besi senilai Rp 200 juta dari alokasi dana desa (ADD).

Jembatan  panjangnya sekitar 60 meter. Sebelumnya, jembatan diatas sungai Ngrowo ini terbuat dari kayu dan sempat beberapa kali hanyut saat banjir.

Sejak beberapa tahun lalu, pihak desa berupaya membuat jembatan permanen dengan konstruksi beton untuk tiang penyangga. Namun, proses perbaikan jembatan akhirnya belum terselesaikan sampai saat ini.

“Pembangunan jembatan itu kita lakukan bertahap karena keterbatasan dana. Saat ini, sudah terbangun tiga pilar penyangga. Setelah itu, akan dipikirkan untuk membuat landasannya,” jelas Lapar pada wartawan.

Meski pembangunan belum rampung, namun jembatan itu tetap digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Beberapa pilar besi baja panjang untuk sementara difungsikan sebagai landasan.

Namun, tidak semua orang berani melintasi landasan darurat tersebut. Terutama, para pengendara sepeda atau motor. Beberapa orang yang mencoba menyeberangi jembatan dikabarkan sempat kecebur sungai.

“Pilar besinya memang kuat tetapi untuk menyeberangi jembatan butuh nyali besar. Selain itu, saat melintas butuh ketenangan dan keseimbangan karena kanan kirinya tidak ada pagar pengamannya. Saya kalau melintasi jembatan pasti sambil deg-degan,” kata Suranti, warga Kradenan yang sudah beberapa kali melintasi jembatan tersebut.

Editor: Supriyadi

Jembatan Ini Membahayakan, Tapi Warga Kedungjati Grobogan Terpaksa Tetap Menggunakannya

Kondisi jembatan penghubung antara Desa Kitikan dan Desa Deras di Kecamatan Kedungjati, Grobogan terlihat melengkung akibat satu pilar penyangganya roboh diterjang banjir bandang tahun 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Selain jalan, Pemkab Grobogan tampaknya perlu menaruh perhatian lebih dengan masalah perbaikan jembatan. Sebab, sejauh ini banyak jembatan yang kondisinya mengenaskan tetapi masih tetap digunakan sebagai akses transportasi warga setempat.

Salah satunya adalah jembatan penghubung antara Desa Deras dan Desa Klitikan, di Kecamatan Kedungjati, Grobogan. Saat ini, kondisi jembatan terlihat melengkung karena satu pilarnya roboh.

Jembatan sepanjang 30 meter itu memiliki dua pilar penyangga yang dibuat dengan konstruksi beton. Satu pilar terlihat masih kokoh dan satu lagi roboh.

Dari keterangan warga, satu pilar itu roboh diterjang banjir pada tahun 2015 lalu. Agar tetap bisa digunakan, pilar yang roboh ditopang kayu seadanya.

Karena penanganan darurat, kondisi jembatan terlihat melengkung kareda beda tinggi di kedua sisi. Meski begitu, warga tetap berani melintas karena jembatan itu jadi akses terdekat.

“Tiap hari, jembatan ini masih bisa dilalui sepeda motor meski harus hati-hati. Kalau mobil tidak bisa dan harus memutar sekitar dua kilometer,” kata Haryadi, warga setempat.

Jembatan tersebut membentang di atas Kali Temuireng yang merupakan anakan Sungai Tuntang. Kecuali pilar, kayu yang dipakai jembatan sebagain besar kondisinya masih cukup kuat.

Kepala Desa Deras Rusdi mengatakan, tidak lama setelah pilar roboh, pihaknya sudah mengusulkan pada instansi terkait untuk diperbaiki. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Upaya yang dilakukan hanya sebatas memasang kayu sebagai penyangga darurat.

“Penanganan jembatan hanya perlu perbaikan pilar yang roboh. Pilar yang satunya masih kuat kondisinya,” jelasnya, Senin (14/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Ambrolnya Jembatan Somosari Jepara Disebut-sebut Akibat Galian C

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebab ambrolnya jembatan di Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Jepara yang menghubungkan ke sejumlah dukuh masih menjadi misteri. Jika dilihat secara kasat mata, penyangga jembatan sisi timur ambrol. Diduga kuat, tanah yang menjadi lokasi penyangga jembatan tak kuat dengan derasnya arus sungai. Tak cukup disitu, desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar, menduga arus sungai yang deras tersebut ada kaitannya dengan aktivitas galian C yang berada di dekat jembatan yang mengalihkan aliran air sungai.

Dari pantauan MuriaNewsCom, posisi jembatan yang ambrol adalah separuh dari jembatan yang berukuran sekitar 20 meter. Separuh jembatan itu ambrol total, sedangkan sisi barat hanya retak saja. Ketika dilihat, air sungai hanya melewati aliran atau jalan air di satu sisi saja, yakni sisi timur.

Berdasarkan keterangan Kholik, Carik Desa Somosari, dulunya air melewati di kedua sisi, baik timur maupun barat.“Ada pergeseran jalur aliran air sungai. Mungkin karena pergeseran itu, yang semestinya lewat dua jalur menjadi kumpul di satu jalur, arus sungai semakin deras di sisi timur dan tanah tergerus hingga akhirnya jebol,” ungkap Kholik kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya, dulunya pinggir-pinggir sungai sisi timur merupakan lahan persawahan. Namun, saat ini sebagian sudah tergerus hingga menjadi bagian dari sungai. Melihat kondisi ini, diakuinya sangat memprihatinkan.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara Hanif Kurniawan mengatakan, perubahan aliran air sungai tersebut memang berisiko tanah tergerus, sehingga mengakibatkan jembatan roboh.

“Jika nanti dibangun baru, konstruksi bangunan jembatan harus berubah. Sebab, aliran sungai sudah berubah. Pondasi tengah jembatan yang semestinya mampu memecah derasnya arus tidak berfungsi lagi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Jembatan Roboh, Warga Harus Mencari Jalan Lain Sejauh 10 Km di Somosari Jepara

Jembatan Trembes Ambrol, DPRD Rembang Salahkan Pemkab

Komisi C DPRD Rembang meninjau lokasi Jembatan Trembes yang ambrol, Senin (29/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Komisi C DPRD Rembang meninjau lokasi Jembatan Trembes yang ambrol, Senin (29/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan Trembes penghubung Kecamatan Gunem – Pamotan, ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam, sekira pukul 23.00 WIB. Mendengar kabar tersebut, Komisi C DPRD Rembang segera meninjau lokasi guna melaksanakan tugas pengawasan.

Ketua Komisi C DPRD setempat, Widodo, mengatakan ambrolnya jembatan dikarenakan pondasi di bawah tergerus oleh derasnya air. Selain itu, ia juga menyoroti terkait perawatan jembatan yang dilakukan Pemkab Rembang.

“Saya baru dapat informasi tadi malam. Ada jembatan penghubung Gunem dan Tegal Dowo, ambrol. Tadi kami sidak, hasilnya kerusakan pondasi jembatan akibat derasnya air. Selain itu, dari pihak Pemda agak telat pemeliharaannya,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Senin (29/2/2016).

Dijelaskan olehnya, jembatan yang berada di Desa Trembes Kecamatan Gunem itu sudah berumur tua dan sudah waktunya untuk diperbaiki. “Jembatannya sudah lama, sudah waktunya direnovasi. Kebetulan digerogoti sama air. Jadinya, ambrol,” jelas Widodo.

Menurutnya, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang berencana untuk membuat jembatan melintang dari pohon glugu di atas jembatan ambrol. Sehingga untuk sementara waktu bisa dilewati, meskipun cukup berbahaya.

“Informasinya, rencana BPBD akan menindaklanjuti dengan beli glugu. Hari ini mau diselesaikan dengan pembuatan jembatan dari glugu. Yang terpenting, agar masyarakat tidak terisolasi,” tandasnya.

Ia menambahkan, ada usulan lain dari masyarakat setempat untuk pembuatan jembatan darurat di sebelah timur jembatan yang ambrol. “Ada usulan juga untuk membuat jembatan darurat,” tambahnya.

Pihaknya mengaku akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk sesegera mungkin membuatkan jembatan baru. “Kami akan berkoordinasi dengan DPU untuk segera menyelesaikan permasalahan ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jembatan Trembes Ambol, Warga Gunem dan Pamotan Rembang Terancam Terisolasi

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan penghubung kecamatan Gunem – Pamotan yang berada di Desa Trembes, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Ambrol, Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Akibat ambrolnya jembatan tersebut, warga sekitar kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terutama bagi yang hendak bepergian menggunakan mobil. Warga Trembes, Sodikin (24), mengatakan warga yang dari Gunem mau ke Pamotan atau sebaliknya harus menempuh jarak dua kali lipat dari sebelumnya.

Menurutnya, mobil pengangkut hasil pertanian atau pedagang yang kulakan kebutuhan pokok dari Pamotan, terpaksa lewat pertigaan Songkelmereng, Kecamatan Bulu – Timbrangan – Tegaldowo.
”Untuk roda empat ketika jembatan masih normal, kira-kira hanya perlu waktu setengah jam untuk ke Gunem dari Pamotan atau sebaliknya. Namun, sekarang harus berputar melalui Songkelmereng, paling cepat ya satu jam,” jelasnya.

Dijelaskan olehnya, warga menutup akses jembatan tersebut untuk kendaraan roda empat sejak Sabtu (27/2/2016). Penutupan ditandai dengan pemasangan peringatan, di sisi utara maupun selatan jembatan.
”Penutupan jalan dilakukan karena jika tetap digunakan, warga khawatir jembatan itu ambrol hingga memakan korban. Ternyata, tadi malam ambrol. Beruntung tidak ada korban jiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Trembes, Andri Pujianto, saat dikonfirmasi menuturkan ambrolnya jembatan karena bagian pondasi bawah rusak tergerus air dari embung yang berada tepat di sampingnya.
”Keberadaan jembatan yang berusia puluhan tahun tersebut sangat menunjang aktivitas masyarakat. Sehingga dengan ambrolnya jembatan pasti berdampak kepada warga sekitar,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Jembatan Dusun Lebengjumuk-Purwo Grobogan Putus

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

Kiriman Warga : Roechan El Gruby di Grobogan

 

GROBOGAN – Akibat hujan yang turun pada Minggu malam (13/12) jembatan penghubung Lebengjumuk dan Purwo, Grobogan putus. Jembatan yang putus ini adalah jembatan alternatif yang dibuat di sebelah utara jembatan utama. Sudah hampir 1 tahun lebih jembatan utama putus.

Masyarakat bergotong royong untuk membuat jembatan alternatif dengan memanfaatkan sawah di sebelah jembatan utama. “Kalau kami tidak gotong royong bikin jembatan seperti ini, desa kami terisolir. Kami harus memutar puluhan kilometer kalau tidak lewat jembatan ini,” kata Lasman, salah seorang warga Dusun Lebeng.

Sementara itu, menurut Yoto, warga Dusun Purwo, penduduknya juga kesulitan kalau mau ke sawah atau mencari rumput, karena biasanya naik motor ke Dusun Lebeng.

Sebenarnya sudah pernah ada petugas yang katanya dari Pemda Grobogan meninjau dan memfoto jembatan yang runtuh. Namun, sudah lebih dari satu tahun belum juga ada tindakan nyata dari Pemda Grobogan. Warga sangat menunggu bantuan dari pemerintah daerah untuk segera ada perbaikan jembatan.

Kepala Desa Lebengjumuk, Bambang mengatakan pihaknya sudah berusaha menyampaikan runtuhnya jembatan ke kecamatan untuk diteruskan ke Pemda atau BPBD Grobogan. Namun, sampai saat ini belum juga ada respons.

Tiang Penyangga Jembatan Saripan Hilang Dicuri

 

Penyangga jembatan yang terbuat dari besi terlihat sudah rusak(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Penyangga jembatan yang terbuat dari besi terlihat sudah rusak(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dalam hal ini Dinas BinaMarga Pengairan dan ESDM (BMP-ESDM) melalui Kabid Bina Marga Hartayamenyatakan, tidak tahu soal adanya tiang besi penyangga jembatan diJalan Pangeran Sarif, Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota Jepara.

Menurut Hartaya, pihaknya tidak tahu jika jembatan dengan ukuran sekitar 24 x 3 meter di Kelurahan Saripan itu terdapat tiang besi penyangga jembatan. Apalagi, adanya informasi mengenaihilangnya bagian dari penyangga jembatan. ”Saya malah tidak tahu kalau ada besi penyangga jembatan,”kata Hartaya kepada MuriaNewsCom.

Dari pantauan MuriaNewsCom, tiang penyangga jembatan yang terbuat daribesi sudah dalam kondisi rusak parah. Hampir semua bagian sudahkeropos, sehingga membuat jembatan menjadi melengkung dan  nyaris roboh.

”Sebelum rusak, tiang penyangga besi itu juga sebagian hilang.Kabarnya dicuri oleh orang yang tak dikenal. Bagian yang hilang adalahsub penyangga tiang itu, karena masing-masing penyangga ada penyanggakecilnya,” kata Iwan, warga yang tinggal di sekitar jembatan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Jembatan Saripan Rusak, Truk Pengangkut Limbah Disebut Jadi Biang Kerok

Jembatan di Jalan Pangeran Sarif, Kelurahan Saripan, Jeparaterlihat melengkung dan nyaris roboh (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jembatan di Jalan Pangeran Sarif, Kelurahan Saripan, Jeparaterlihat melengkung dan nyaris roboh (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Jembatan yang berada di Kelurahan Kecamatan kota Jepara,tepatnya di Jalan Pangeran Sarif mengalami kerusakan, sehinggamembahayakan pengendara yang melintas. Warga sekitar menduga,
kerusakan jembatan tersebut karena dilintasi kendaraan bermuatan beratdan tidak sesuai dengan ukuran jembatan tersebut.

“Jembatan itu rusak diketahui setelah ada truk besar yang melintas,”ujar Iwan, salah seorang warga yang tinggal disekitar jembatan tersebut kepadaMuriaNewsCom, Jumat (16/10/2015).

Menurutnya, ada beberapa truk yang melintas di jembatan tersebut.Bentuknya sendiri seperti truk yang biasa dijadikan pengangkut limbahPembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B.

“Meski begitu, kami belum bisa memastikan apa benar itu trukpengangkut limbah atau tidak. Ukurannya besar dan jalannya cukuppelan, kelihatan kalau mengangkut barang dengan ukuran berat sekali.Padahal ukuran jembatan disini sangat kecil,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, besi penyangga jembatan tersebut kondisinyasudah rusak alias keropos. Dari pantauan MuriaNewsCom, jembatantersebut memang mengalami kerusakan. Bahkan, kondisi jembatan
melengkung atau sedikit anjlok ke bawah, sehingga cukup mengkhawatirkankeselamatan pengendara yang melintas di jembatan itu.

Saat ini, jembatan tersebut ditutup bagi kendaraan rodaempat atau lebih, dengan memasang drum di ujung jembatan, oleh pihakDinas Bina Marga Pengairan dan ESDM setempat. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Jembatan Serong Bakal Diperbaiki Tahun Depan

Jembatan-Serong 4

Dinas Bina Marga Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral (DMP-ESDM) Kabupaten Jepara memberikan peringatan di jembatan rusak berupa papan tulisan dan drum. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Jembatan yang rusak di Jalan P Sarif turut kelurahan Saripan, Kota Jepara rencananya bakal diperbaiki pada tahun anggaran 2016 nanti. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Bina Marga Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral (DMP-ESDM) Kabupaten Jepara melalui Kepala Bidang Bina Marga, Hartaya.

Menurutnya, rencana perbaikan tersebut memang dimungkinkan baru dapat dilaksanakan pada tahun depan. Pasalnya, tahun ini baru dilakukan perencanaan untuk kemudian dianggarkan di Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). ”Rencananya kami menggunakan anggaran di APBD 2016,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ketika perencanaan selesai nanti juga dibahas di DPRD Jepara untuk dimasukkan dalam APBD 2016. Sedangkan dana yang dibutuhkan ditaksir mencapai Rp 3 miliar.

”Dana itu perkiraan kami, tapi kepastiannya nanti setelah dibahas DPRD,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Kata Dinas Bina Marga Soal Jembatan Serong yang Rusak

Jembatan-Serong 3

Seorang pengendara motor melintas di jembatan rusak di Kelurahan Saripan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Dinas Bina Marga Pengairan dan Energi Sumber Daya Mineral (DMP-ESDM) Kabupaten Jepara melalui Kepala Bidang Bina Marga, Hartaya memberikan klarifikasi mengenai jembatan rusak yang ada di jalan P Sarif turut Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota Jepara. Menurutnya, jembatan tersebut memang mengalami kerusakan sejak beberapa bulan terakhir ini.

”Kami tahun ini baru menjadwalkan melakukan perencanaan perbaikan terhadap jembatan itu,” kata Hartaya kepada MuriaNewsCom, Selasa (13/10/2015).

Menurutnya, perencanaan tersebut nantinya dikaji kemudian dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara terkait penganggaran perbaikan. Sebab, dana yang dibutuhkan untuk perbaikan jembatan tersebut tidak sedikit.

”Dana yang dibutuhkan sangat besar dan karena status jalan itu jalan Kabupaten, ya dimungkinkan menggunakan anggaran daerah,” ungkapnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jembatan Serong Rusak Mengkhawatirkan Pengguna Jalan

Jembatan-Serong 2

Seorang pengendara sepeda motor melintas di jembatan yang rusak nyaris roboh di Kelurahan Saripan Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Jembatan Serong yang ada di Jalan P Sarif turut Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota Jepara mengalami kerusakan. Kondisinya melengkung nyaris roboh. Hal itu membuat sejumlah pengendara yang melintas merasa khawatir jika suatu saat roboh dan membahayakan.

Hal itu seperti yang dirasakan salah seorang pengendara sepeda motor yang melintas, Setiawan (27). Menurutnya, jembatan tersebut sudah rusak cukup lama. Namun tak kunjung diperbaiki oleh pemerintah.

”Ini sangat berbahaya kalau tidak segera diperbaiki. Kondisinya melengkung,” kata Setiawan kepada MuriaNewsCom, Selasa (13/10/2015).

Seperti diberitakan MuriaNewsCom, jembatan tersebut hanya ditutup bagi kendaraan roda empat atau lebih, dengan memasang drum di ujung jembatan, oleh pihak Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM setempat.

“Jembatan ini sudah rusak lumayan lama, kondisinya pelengkung dan sangat membahayakan karena tiang penyangga jembatan sudah rusak parah,” ujar salah seorang warga setempat, Iwan (35).

Menurutnya, tiang penyangga jembatan yang terbuat dari besi sudah dalam kondisi rusak parah. Hampir semua bagian sudah keropos, sehingga membuat jembatan menjadi melengkung nyaris roboh. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jembatan Serong Saripan Rusak, Tak Kunjung Diperbaiki

Jembatan-Serong 1

Drum dipasang di jembatan Serong di Kelurahan Saripan, Kota Jepara, yang melengkung nyaris roboh. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Jembatan Serong yang ada di Jalan P Sarif turut Kelurahan Saripan, Kecamatan Kota Jepara telah mengalami kerusakan sejak beberapa bulan lalu. Namun sampai saat ini jembatan tersebut belum diperbaiki.

Dari pantauan MuriaNewsCom, pada Selasa (13/10/2015), jembatan tersebut hanya ditutup bagi kendaraan roda empat atau lebih, dengan memasang drum di ujung jembatan, oleh pihak Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM setempat.

”Jembatan ini sudah rusak lumayan lama, kondisinya melengkung dan sangat membahayakan. Karena tiang penyangga jembatan sudah rusak parah,” ujar salah seorang warga setempat, Iwan (35).

Menurutnya, tiang penyangga jembatan yang terbuat dari besi sudah dalam kondisi rusak parah. Hampir semua bagian sudah keropos, sehingga membuat jembatan menjadi melengkung nyaris roboh.

”Sebelum rusak, tiang penyangga besi itu juga sebagian hilang. Kabarnya dicuri oleh orang yang tak dikenal. Bagian yang hilang adalah sub penyangga tiang itu, karena masing-masing penyangga ada penyangga kecilnya,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Ini Pemicu Jebolnya Penahan Air Jembatan Sampang

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi pembangunan Jembatan Sampang yang berantakan, setelah kisdam tak mampu membendung terjangan air. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Pembangunan Jembatan Sampang berkonstruksi baja di Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Sejumlah kendala acapkali ditemui pekerja.

Bahkan, kisdam atau penahan air jembol diterjang arus air Sungai Juwana, Senin (28/9/2015). Akibatnya, kelanjutan pembangunan jembatan itu harus menunggu rapat koordinasi dengan semua pihak terkait.

General Manager PT Marga Karya Pati Budi Santoso mengatakan, penyebab jebolnya kisdam ditengarai karena urukan tanah untuk kisdam sudah mulai jenuh berada dalam kepungan air sungai.

“Urukan tanah untuk kisdam waktu itu sudah mengalami kejenuhan, sehingga penahannya jebol. Selain itu, sempat terjadi bulan purnama yang menyebabkan air laut pasang hingga menuju hulu,” imbuhnya.

Kondisi itu menciptakan pusaran air dalam alur kali yang menyebabkan ambrolnya kisdam. Akibat musibah itu, kelanjutan pembangunan jembatan harus ditunda untuk sementara waktu. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Penahan Arus Kembali Jebol, Tiang Pancang Jembatan Sampang Gagal Didirikan

Sejumlah pekerja tengah mengangkut kembali spiral kolom yang gagal dimasukkan ke lubang tiang pancang, karena penahan air jebol diterjang arus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah pekerja tengah mengangkut kembali spiral kolom yang gagal dimasukkan ke lubang tiang pancang, karena penahan air jebol diterjang arus. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Untuk kedua kalinya, dinding penahan air Sungai Juwana jebol karena diterjang arus. Akibatnya, tiang pancang Jembatan Sampang, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan gagal didirikan, Senin (28/9/2015).

Sebelumnya, dinding penahan arus sempat jebol pada Jumat (28/8/2015) lalu. Namun, kondisi saat ini jauh lebih parah karena sarana penunjang pembangunan jembatan berantakan.

General Manager PT Marga Karya Pati Budi Santoso kepada MuriaNewsCom mengatakan, musibah tersebut membuat pelaksanaan proyek pembangunan jembatan konstruksi baja terpaksa berhenti total untuk sementara waktu.

Sebab, lubang yang akan dijadikan pondasi berdirinya tiang pancang sedalam 6,6 meter dipenuhi air. “Empat buah mesin disel penyedot air yang ditempatkan dalam lubang juga ikut terendam air,” imbuhnya.

Beruntung, tidak ada korban dalam insiden tersebut. Semua pekerja yang tengah menyiapkan penguatan dinding penahan arus sudah naik, saat arus membobol dinding penahan air. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Galian C di Kali Talang Jenggotan Meresahkan Petani

Petani di sekitar lokasi pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara kesal dengan aktifitas tambang yang berimbas pada keruh dan rusaknya kualitas air sungai yang biasa digunakan pengairan sawah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani di sekitar lokasi pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara kesal dengan aktifitas tambang yang berimbas pada keruh dan rusaknya kualitas air sungai yang biasa digunakan pengairan sawah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Aktivitas pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara tak hanya dianggap meresahkan warga saja. Tapi juga petani yang ada di sekitar lokasi pertambangan itu.

Salah seorang petani, Rohmad mengatakan, aktifitas pertambangan yang telah berjalan sekitar 4 tahun itu sangat merugikan petani. Sebab, selain merusak sebagian area pertanian sawah, juga merusak pengairan.

”Yang dikeruk dan diambil kan pasir dan batu yang ada di sekitaran kali dan area sawah. Batunya diambil, air jelas keruh dan rusak,” ujar Rohmad kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, selain merusak area persawahan, juga merusak sungai. Bahkan, sebagian area sawah milik petani yang menjadi ikut rata dengan sungai. ”Aktifitasnya sendiri juga sangat mengganggu,” katanya.

Dia menambahkan, selama ini para petani sudah bersabar dengan keberadaan aktifitas tambang itu. Namun, kali ini kekesalan sudah memuncak. Sebab, lahan yang dikeruk dianggap sudah sangat keterlaluan lantaran sudah banyak area sawah yang menjadi korban. Sehingga petani terpaksa memanfaatkan lahan sisa galian untuk ditanami. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jembatan Akses Jalan Galian C di Desa Jenggotan Dirusak Warga

Beberapa warga masih berada di area jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara, menutup akses jalan dengan bongkahan batu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa warga masih berada di area jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara, menutup akses jalan dengan bongkahan batu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang Jepara, dirusak warga sekitar, Rabu (29/7/2015). Hal itu dilakukan warga karena kesal lantaran aktifitas pertambangan di lokasi tersebut tak kunjung usai, padahal sudah diperingatkan.

Salah seorang warga setempat, Sunarta mengatakan, ratusan warga menggeruduk lokasi galian C itu. Mereka menuntut aktifitas galian C distop lantaran sudah merusak lingkungan. ”Tadi pagi ratusan warga menggeruduk lokasi ini. Bahkan, mereka merusak jembatan satu-satunya yang digunakan akses jalan bagi truk pengangkut hasil tambang,” ujar Sunarta kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, selain merusak jembatan, warga juga nyaris merusak alat berat yang digunakan untuk aktifitas penambagan itu. Warga desa setempat terutama yang tinggal di kawasan aktifitas tambang itu sudah beberapa kali mengadu ke pihak berwajib dan pemerintah. Namun tidak ada respon yang baik. ”Warga sudah beberapa kali lapor, tapi tidak ada tindak lanjut,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)