Ambrolnya Jembatan Somosari Jepara Disebut-sebut Akibat Galian C

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Jembatan Somosari Jepara yang disebut-sebut akibat galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Penyebab ambrolnya jembatan di Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Jepara yang menghubungkan ke sejumlah dukuh masih menjadi misteri. Jika dilihat secara kasat mata, penyangga jembatan sisi timur ambrol. Diduga kuat, tanah yang menjadi lokasi penyangga jembatan tak kuat dengan derasnya arus sungai. Tak cukup disitu, desas-desus yang beredar di masyarakat sekitar, menduga arus sungai yang deras tersebut ada kaitannya dengan aktivitas galian C yang berada di dekat jembatan yang mengalihkan aliran air sungai.

Dari pantauan MuriaNewsCom, posisi jembatan yang ambrol adalah separuh dari jembatan yang berukuran sekitar 20 meter. Separuh jembatan itu ambrol total, sedangkan sisi barat hanya retak saja. Ketika dilihat, air sungai hanya melewati aliran atau jalan air di satu sisi saja, yakni sisi timur.

Berdasarkan keterangan Kholik, Carik Desa Somosari, dulunya air melewati di kedua sisi, baik timur maupun barat.“Ada pergeseran jalur aliran air sungai. Mungkin karena pergeseran itu, yang semestinya lewat dua jalur menjadi kumpul di satu jalur, arus sungai semakin deras di sisi timur dan tanah tergerus hingga akhirnya jebol,” ungkap Kholik kepada MuriaNewsCom, Rabu (2/3/2016).

Menurutnya, dulunya pinggir-pinggir sungai sisi timur merupakan lahan persawahan. Namun, saat ini sebagian sudah tergerus hingga menjadi bagian dari sungai. Melihat kondisi ini, diakuinya sangat memprihatinkan.

Sementara itu, Kasi Pemeliharaan Bina Marga pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara Hanif Kurniawan mengatakan, perubahan aliran air sungai tersebut memang berisiko tanah tergerus, sehingga mengakibatkan jembatan roboh.

“Jika nanti dibangun baru, konstruksi bangunan jembatan harus berubah. Sebab, aliran sungai sudah berubah. Pondasi tengah jembatan yang semestinya mampu memecah derasnya arus tidak berfungsi lagi,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

 

Baca juga : Jembatan Roboh, Warga Harus Mencari Jalan Lain Sejauh 10 Km di Somosari Jepara

Jembatan Trembes Ambrol, DPRD Rembang Salahkan Pemkab

Komisi C DPRD Rembang meninjau lokasi Jembatan Trembes yang ambrol, Senin (29/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Komisi C DPRD Rembang meninjau lokasi Jembatan Trembes yang ambrol, Senin (29/2/2016). (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan Trembes penghubung Kecamatan Gunem – Pamotan, ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam, sekira pukul 23.00 WIB. Mendengar kabar tersebut, Komisi C DPRD Rembang segera meninjau lokasi guna melaksanakan tugas pengawasan.

Ketua Komisi C DPRD setempat, Widodo, mengatakan ambrolnya jembatan dikarenakan pondasi di bawah tergerus oleh derasnya air. Selain itu, ia juga menyoroti terkait perawatan jembatan yang dilakukan Pemkab Rembang.

“Saya baru dapat informasi tadi malam. Ada jembatan penghubung Gunem dan Tegal Dowo, ambrol. Tadi kami sidak, hasilnya kerusakan pondasi jembatan akibat derasnya air. Selain itu, dari pihak Pemda agak telat pemeliharaannya,” ungkapnya kepada MuriaNewsCom, Senin (29/2/2016).

Dijelaskan olehnya, jembatan yang berada di Desa Trembes Kecamatan Gunem itu sudah berumur tua dan sudah waktunya untuk diperbaiki. “Jembatannya sudah lama, sudah waktunya direnovasi. Kebetulan digerogoti sama air. Jadinya, ambrol,” jelas Widodo.

Menurutnya, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang berencana untuk membuat jembatan melintang dari pohon glugu di atas jembatan ambrol. Sehingga untuk sementara waktu bisa dilewati, meskipun cukup berbahaya.

“Informasinya, rencana BPBD akan menindaklanjuti dengan beli glugu. Hari ini mau diselesaikan dengan pembuatan jembatan dari glugu. Yang terpenting, agar masyarakat tidak terisolasi,” tandasnya.

Ia menambahkan, ada usulan lain dari masyarakat setempat untuk pembuatan jembatan darurat di sebelah timur jembatan yang ambrol. “Ada usulan juga untuk membuat jembatan darurat,” tambahnya.

Pihaknya mengaku akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk sesegera mungkin membuatkan jembatan baru. “Kami akan berkoordinasi dengan DPU untuk segera menyelesaikan permasalahan ini,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Jembatan Trembes Ambol, Warga Gunem dan Pamotan Rembang Terancam Terisolasi

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Warga mengerumuni jembatan Trembes Kecamatan Gunem yang ambrol pada Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Jembatan penghubung kecamatan Gunem – Pamotan yang berada di Desa Trembes, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Ambrol, Minggu (28/2/2016) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Akibat ambrolnya jembatan tersebut, warga sekitar kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari terutama bagi yang hendak bepergian menggunakan mobil. Warga Trembes, Sodikin (24), mengatakan warga yang dari Gunem mau ke Pamotan atau sebaliknya harus menempuh jarak dua kali lipat dari sebelumnya.

Menurutnya, mobil pengangkut hasil pertanian atau pedagang yang kulakan kebutuhan pokok dari Pamotan, terpaksa lewat pertigaan Songkelmereng, Kecamatan Bulu – Timbrangan – Tegaldowo.
”Untuk roda empat ketika jembatan masih normal, kira-kira hanya perlu waktu setengah jam untuk ke Gunem dari Pamotan atau sebaliknya. Namun, sekarang harus berputar melalui Songkelmereng, paling cepat ya satu jam,” jelasnya.

Dijelaskan olehnya, warga menutup akses jembatan tersebut untuk kendaraan roda empat sejak Sabtu (27/2/2016). Penutupan ditandai dengan pemasangan peringatan, di sisi utara maupun selatan jembatan.
”Penutupan jalan dilakukan karena jika tetap digunakan, warga khawatir jembatan itu ambrol hingga memakan korban. Ternyata, tadi malam ambrol. Beruntung tidak ada korban jiwa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Trembes, Andri Pujianto, saat dikonfirmasi menuturkan ambrolnya jembatan karena bagian pondasi bawah rusak tergerus air dari embung yang berada tepat di sampingnya.
”Keberadaan jembatan yang berusia puluhan tahun tersebut sangat menunjang aktivitas masyarakat. Sehingga dengan ambrolnya jembatan pasti berdampak kepada warga sekitar,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Untuk Ketemu, Warga Satu Dukuh Ini Harus Jalan 1 Kilometer

ilustrasi

ilustrasi

 

KUDUS – Jembatan yang ambruk di Dukuh Boto Lor, Desa Ngembal Rejo, menjadikan masyarakat susah. Pasalnya, hanya untuk ketemu, warga disana harus berjalan sejauh satu kilometer.

Hal itu dikatakan Nur zainuri (56) warga Desa Ngembal Rejo. Dia mengatakan, kalau putusnya jembatan benar-benar mengganggu. Bahkan untuk bertemu dengan warga yang lain saja harus berjalan memutar dengan jarak yang jauh.

”Sangat terganggu dengan adanya jembatan yang roboh. Jadinya harus berjalan memutar sampai dengan satu kilometer. Otomatis memakan waktu yang lebih lama,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, jembatan disana memang dulunya usianya sudah tua.jembatan itu dibangun pada tahun 66. Bahkan, dia menjelaskan kalau yang membangun adalah ayahnya sendiri.

”Itu jembatan sudah tua, tidak ada cor, dan hanya batu bata. Itu pun dengan ruang di tengah sehingga membuat sampah menumpuk,” ujarnya.

Dia berharap jembatan baru segera dibangun. Sehinga masyarakat tidak lagi susah dalam aksesnya. (FAISOL HADI/TITIS W)

Jembatan Roboh Ini Pisahkan Warga Desa Ngembal Kulon

Jembatan roboh di RT 4 Dukuh Boto Lor Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus sampai saat ini belum ada pembenahan dari pihak terkait. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Jembatan roboh di RT 4 Dukuh Boto Lor Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus sampai saat ini belum ada pembenahan dari pihak terkait. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Keinginan Bupati Kudus untuk tidak ada akses jalan yang terputus, nampaknya masih belum sepenuhnya terpenuhi. Sebab, di Kudus masih ada daerah yang terpisah hanya karena tidak adanya jembatan penyeberangan.

Nur Zainuri (56) warga Desa Ngembal Kulon mengatakan, dulunya terdapat jembatan tua yang menghubungkan satu dukuh disana. Hanya, karena jembatan sudah roboh maka akses disana juga sangat terganggu.

”Jembatan disini roboh 2013 lalu. Namun sampai sekarang masih belum ada yang membangun kembali. Sehingga jembatan Dukuh Boto Lor yang ada di RT 4 ini tidak bisa lagi digunakan,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Setelah roboh terkena banjir 2013 lalu, warga sebenarnya sudah berinisiatif membuat jembatan sementara dari bambu. Hanya, karena terbuat dari bambu dan alat seadanya membuat jembatan tidak awet. Sehingga pada banjir beberapa waktu lalu jembatan bambu kembali ambruk.

Dan sampai sekarang, Nur Zainuri melanjut, jembatan baru belum juga ada. Bahkan jembatan bambu juga tidak ada di sana. Sehingga akses benar-benar putus.

”Padahal jembatan sangat dibutuhkan masyarakat, para pelajar juga kesulitan jika tidak ada jembatan ini. Bahkan para mahasiswa STAIN juga kesulitan melintas jika jembatan ambruk,” keluhnya. (FAISOL HADI/TITIS W)