Dana Membangun Jembatan di Grobogan Ternyata Fantastis, Ini Angkanya

Sejumlah warga membuat jembatan darurat dari konstruksi kayu dan bambu untuk akses penyeberangan saat elevasi sungai dangkal karena dampak kemarau. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Harapan banyak warga agar daerahnya dibangunkan jembatan tampaknya tidak bisa direalisasikan dengan cepat. Faktor dana menjadi salah satu kendala utama untuk pembangunan jembatan di wilayah Grobogan.

Kadinas PUPR Grobogan Subiyono menyatakan, dari pendataan lapangan yang dilakukan, kebutuhan jembatan mencapai 163 titik. Banyaknya kebutuhan itu disebabkan wilayah Grobogan memiliki sekitar 200 sungai. Baik sungai besar yang melintasi antar kabupaten, sungai antar kecamatan dan anakan sungai.

Dijelaskan, kebutuhan 163 jembatan itu rinciannya adalah 150 jembatan kecil dan sedang, 8 jembatan gantung, dan  5 jembatan permanen. Hal ini disesuaikan dengan kondisi sungai yang akan dibuatkan jembatan di atasnya.

Pembangunan jembatan kecil dan sedang butuh dana skitar Rp 500 sampai Rp 700 juta per titik. Kemudian anggaran untuk membangun jembatan permanen per titik sekitar Rp 7 miliar. Sedangkan pembangunan jembatan gantung butuh duit sekitar Rp 5 miliar per titik.

“Untuk pembangunan jembatan butuh dana besar sekali. Kalau dibangun semua maka harus ada anggaran sekitar Rp 176 miliar,” jelasnya.

Menurut Subiyono, untuk saat ini, anggaran Pemkab Grobogan belum memungkinkan untuk membangun semua jembatan karena terbatasnya anggaran.

Sebagian besar anggaran yang tersedia masih  diprioritaskan dulu untuk perbaikan infrastruktur jalan. Pada tahun ini, alokasi perbaikan jalan nilainya hampir Rp 400 miliar.

Pada tahun ini, lanjutnya, baru dapat membangun atau memperbaiki dua jembatan permanen yang jadi akses pengubung antar kecamatan. Yakni, jembatan di Kecamatan Godong dan Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus yang dianggarkan Rp 7 miliar.

Selain itu, ada dua jembatan gantung yang dibangun pada tahun ini. Pembangunan jembatan gantung tersebut terealisasi setelah ada bantuan dari Kementerian PUPR.

Ditambahkan, selain jalan, infrastruktur jembatan itu telah masuk program prioritas. Alokasi anggaran pembangunan jembatan nanti dipilih lagi yang tingkat kebutuhannya paling mendesak. Kalau tidak bisa tahun ini akan dianggarkan tahun depan dengan melihat kemampuan keuangan daerah.

“Meski dana kita terbatas untuk pembangunan jembatan namun kami tetap melakukan upaya. Salah satunya, mengajukan proposal bantuan pada Pemprov dan Kementerian PUPR,” jelasnya.

Sementara itu, belum adanya pembangunan jembatan membuat warga setempat menggunakan sarana seadanya untuk akses penyeberangan. Sebagian ada yang membuat jembatan darurat dari konstruksi kayu dan bambu.

Kemudian, ada yang memanfaatkan perahu atau rakit untuk menyeberangi sungai. Bahkan, ada juga yang nekat hanya menggunakan tambang untuk menyeberang.

Editor : Ali Muntoha

Mengenaskan, Warga Perbatasan Jepara-Demak Terpaksa Gunakan Jembatan Darurat

Warga melintasi jembatan daurat yang menghubungkan Desa Karangnyar, Jepara dengan Desa Rejosari, Demak. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Belum ada jembatan permanen, warga Desa Karanganyar-Welahan-Jepara yang bersebrangan dengan warga Desa Rejosari, Kecamatan Mijen-Demak memanfaatkan jembatan bambu untuk melintasi Sungai Serang.

Perlu diketahui, di wilayah itu sebelumnya terdapat sebuah jembatan permanen. Namun karena faktor usia dan dilintasi oleh sebuah truk, jembatan itu kemudian ambrol pada bulan Maret 2017.

Padahal jalur tersebut merupakan pemintas jika warga desa tersebut ingin ke wilayah Jepara, baik untuk aktivitas ekonomi ataupun bersekolah.

Oleh karenanya, warga Desa Rejosari akhirnya berswadaya untuk membangun jembatan darurat, dengan lebar 1,5 meter dan memiliki panjang sekitar 40 meter. Untuk melewatinya, warga pun harus bergantian jika menggunakan kendaraan bermotor.

Firin (43) mengatakan, jembatan darurat itu merupakan akses yang paling cepat menuju ke Jepara. “Kalau lewat Mijen justru lebih jauh kurang lebih memutar 6 kilometer,” katanya. 

Hal itu juga diakui oleh Sudiro (47) ia mengatakan, banyak warga Demak yang melintasi jembatan itu.

“Kan disini banyak warga Demak ataupun Jepara yang berlalu-lalang melintasi jembatan ini. Harapannya segera dibangun jembatan permanen,” ujar warga Sobokerto Welahan itu.

Editor : Ali Muntoha

Jembatan Darurat Kanal Selatan Jepara Mulai Dibangun

f-upload jam 18, jembatan (e)

Pekerja sedang membuat jembatan darurat (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jembatan darurat Kanal Selatan Jepara mulai dibangun hari ini, Rabu (20/4/2016). Jembatan darurat tersebut dibangun menyusul dibongkarnya jembatan utama yang berada di perbatasan Kelurahan Demaan dan Protoyudan, Kecamatan Kota Jepara.

Pengawas peningkatan jembatan kanal dari Balai Besar Bina Marga Provinsi Jawa Tengah Darmono mengatakan, pembangunan jembatan darurat tersebut segera dilaksanakan lantaran merespon keluhan dari warga yang menginginkan jembatan darurat.

“Kami menerima laporan dan juga dari media terkait keluhan warga. Jadi kami langsung menghubungi kontraktor kemarin dan hari ini mulai dibangunkan jembatan darurat,” ujar Darmono kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/4/2016).

Darmono mengaku, hari ini melakukan tinjauan secara langsung pelaksanaan pembangunan jembatan darurat tersebut. Dia mengakui proses perbaikan jembatan utama memakan waktu lama, sehingga sangat dibutuhkan jembatan darurat terutama untuk pejalan kaki.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Proyek, Hendra mengatakan, pembangunan jembatan darurat tersebut ditargetkan selesai maksimal satu pekan. Jembatan dibuat dengan ukuran lebar sekitar satu meter dan panjang 30 meter.

“Secepatnya bisa diselesaikan agar warga bisa beraktifitas normal, terutama bagi pejalan kaki yang melintasi sungai selama proses perbaikan jembatan utama usai,” terangnya.

Dia menambahkan, rencananya jembatan darurat hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Sedangkan untuk pengendara sepeda motor harus lewat jalan alternatif lain.

“Yang paling penting aktifitas warga ke musala kembali normal. Karena jembatan terbuat dari bambu, hanya khusus pejalan kaki,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono