Penjual Janur dan Ketupat Mulai Menjamur di Pasar Rembang

Jelang kupatan banyak warga berburu janur untuk digunakan membuat ketupat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Menjelang lebaran ketupat (kupatan), kini sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Rembang mulai dipenuhi para pedagang janur maupun selongsong ketupat musiman.

Selain para pedagang dadakan, penjual sembako di pasar juga memanfaatkan momen ini untuk ikut berburu keuntungan. Mereka juga ikut berjualan janur dan selongsong ketupat.

Salah seorang penjual janur asal Kedungrejo, Rembang Haryati (50) mengaku, sudah tiga Lebaran ini ia menjual janur dan ketupat kosong. “Penghasilannya lumayan. Meskipun hanya musiman saja,” katanya, Jumat (30/6/2017).

Untuk satu ikat berisi 10 lembar janur dijual atara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu. Sedangkan ketupat kosongan satu ikatnya yang berisi 10 biji dihargai Rp 10an ribu.

Perempuan yang kesehariannya bekerja sebagai petani tersebut sudah menjual janur menjelang Lebaran ketupat sejak Kamis kemarin mulai dari pagi hingga siang.

Alhamdulillah, sejak dua hari ini bisa menjual sebanyak 50an ikat janur dan 17an ikat ketupat. Ya itung-itung buat tambahan penghasilan,” ucapnya.

Sementara itu, saat ditanya mengenai stok janur dan ketupat kosongan tersebut, ia mengaku bahwa bahan baku tersebut ia dapatkan dari wilayah Blora. “Saya beli dari seseorang yang mempunyai pohon kelapa,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Grobogan Jadi Rebutan Penjual Janur dari Luar Kota

Aktivitas pedagang janur di Jalan A Yani Purwodadi yang berlangsung hingga dini hari. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jika menjelang Lebaran produk pakaian dan makanan yang jadi incaran maka pascahari raya, gantian janur yang diburu orang. Hal ini bisa dilihat dengan ramainya orang yang mencari janur untuk bikin lepet dan ketupat.

Tradisi bikin ketupat maupun lepet sudah jadi ciri khas warga termasuk di Kabupaten Grobogan. Khususnya untuk menyambut Lebaran ketupat atau lebaran kecil yang jatuh pada Minggu (2/7/2017) lusa.

Dari pantauan di lapangan, sejak tiga hari setelah Lebaran, puluhan pedagang janur mulai menjajakan barang dagangannya di sekitar Pasar Induk Purwodadi. Tepatnya, di pinggiran Jalan A Yani.

Sebagian besar, pedagang janur itu berasal dari luar kota, seperti Pati, Boyolali, Blora dan Demak. Banyaknya pohon kelapa di Grobogan yang mati akibat hama wangwung menjadikan daerah ini dianggap sebagai pasar potensial oleh pedagang janur.

Pedagang janur dari luar kota itu yang jualan mulai sore hingga dinihari itu umumnya sudah punya langganan tetap. Yakni, para pedagang janur lokal musiman yang menjual secara eceran. Oleh sebab itu, begitu datang, janur yang mereka bawa langsung diambil para pelanggan.

Harga yang ditawarkan berkisar Rp 500 ribu per ikat yang berisi 1.000 helai janur. Sementara harga blarak atau daun kelapa yang sudah agak tua berkisar Rp 200 ribu per ikat. Sedangkan harga longsongan atau daun kelapa yang sudah dianyam berbentuk ketupat ditawarkan Rp 5 ribu per ikat yang berisi 10 longsongan.

“Harga janur, blarak dan longsongan saat ini boleh dibilang masih cukup murah. Soalnya, lebaran ketupat masih beberapa hari lagi. Bisanya, harga janur mencapai puncak sehari sebelum lebaran ketupat. Makanya, saya pilih beli sekarang,” kata Handayani, salah seorang warga yang membeli janur di pinggir jalan A Yani, Kamis (29/6/2017) malam.

Editor : Ali Muntoha

Satu Ikat Janur di Pati Dijual Rp 15.000

Sejumlah penjual janur di kawasan Pasar Puri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah penjual janur di kawasan Pasar Puri Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Permintaan janur mengalami peningkatan di sejumlah pasar tradisional di Pati menjelang Lebaran Ketupat, termasuk di Pasar Puri Pati. Peningkatan permintaan janur sudah mulai terasa sejak Selasa (21/7/2015). Sebagian besar pedagang menjual janur dalam bentuk helaian daun yang siap dibuat kerangka ketupat.  Lanjutkan membaca