Jumlah Eks Gafatar Asal Jepara Bertambah 6 Orang

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sebelumnya, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) mendata warga asal Jepara yang sempat bergabung dengan Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar).Dari pendataan tersebut, ada 12 orang, dan sudah dipulangkan ke rumah masing-masing. Namun, kali ini jumlah tersebut bertambah enam orang, sehingga menjadi 18 orang.

Komandan Kodim 0719/Jepara Letkol Inf Ahmad Basuki menjelaskan, wilayah Jepara masih aman dari gerakan radikalisme. Hanya saja, diketahui warga Jepara yang sempat ikut Gafatar bertambah enam orang.

“Ada tambahan enam orang yang ikut Gafatar. Hari ini, anggota bersama pihak terkait melakukan penjemputan di Kudus,” ujar Dandim Ahmad Basuki kepada MuriaNewsCom, Selasa (1/3/2016).

Menurutnya, enam eks Gafatar tersebut menambah daftar nama warga Jepara yang sempat mengikuti gerakan terlarang tersebut. Rencananya, keenam warga tersebut dipulangkan ke tempat asalnya sebagaimana 12 orang eks Gafatar lainnya.

“Untuk data identitasnya nanti akan diketahui setelah sampai disini (Jepara), saat ini sedang di jemput di Kudus,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, dari 12 eks Gafatar yang sebelumnya sudah dipulangkan, telah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Pihaknya juga memastikan jika warga sekitar menerima dengan baik kembalinya mereka.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Pemkab Jepara Pastikan Eks Gafatar Sudah Beraktivitas Normal

Cegah Radikalisme, Ini yang Dilakukan Kodim dan FKUB Kudus

ilustrasi

ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kepala Staf Kodim 0722/Kudus Mayor Infantri Sagimin mengutarakan pendidikan terhadap radikalisme bukan untuk siswa atau mahasiswa saja. Namun harus menyasar kepada seluruh kalangan.

Baca juga : PBNU Disebut Pemkab Kudus jadi Trik Ampuh Bernegara yang Baik

”Seperti contoh, radikal itu bukan hanya terhadap pemahaman teroris atau ormas yang melenceng dari aturan. Namun radikal itu bisa juga ditujukan kepada mereka yang ingin wilayahnya merdeka (makar),” katanya.

Selain itu, pihaknya juga berharap pendidikan terhadap radikalisme itu bisa menyasar kepada seluruh kalangan. Khususnya bagi mereka yang berkeinginan untuk merdeka.

”Pendidikan Pancasila, Undang-undang yang baik, serta Bhinneka Tunggal Ika itu harus bisa terus didengungkan. Supaya negara kesatuan republik Indonesia ini bisa abadi dan tidak terpecah belah,” ujarnya.

Disaat yang sama anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kudus Abdul Jalil mengatakan, seharusnya saling menghormati antar agama dan sesama itu harus bisa dikedepankan. ”Sehingga agama mayoritas dan agama minoritas bisa saling berdampingan. Serta tidak menimbulkan permusuhan dan tidak menumbuhkan bibit radikalisme yang didalamnya terdapat kekerasan,” jelasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Tangkal Paham Radikalisme, ISNU dan Polres Kudus Bersinergi

Pengurus ISNU Kudus foto bersama Kasat Binmas Polres Kudus (Istimewa)

Pengurus ISNU Kudus foto bersama Kasat Binmas Polres Kudus (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Kudus dan Polres Kudus melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) bersinergi berkomitmen menangkal penyakit masyarakat (pekat) dan gerakan radikal bersama-sama di Kota Kretek.

Komitmen itu mencuat dalam pertemuan antara pengurus ISNU Cabang Kudus dengan Kasat Binmas Polres Kudus AKP Rahmawaty Tumulo, Jumat (19/2/2016).

Dalam kesempatan itu, Polres Kudus menyambut baik sinergi antara polres dengan ISNU, karena banyak kegiatan yang menurutnya perlu mendapatkan dukungan banyak pihak. “Setiap bulan kami ada kegiatan pembinaan masyarakat sampai di kalangan bawah. Jika ISNU menyatakan siap bersinergi dan mendukung, maka kami sangat senang dan mengapresiasinya,’’ ungkapnya.

Menurutnya, berbagai penyuluhan yang dilakukan Satuan Binmas Polres Kudus meliputi banyak hal, di antaranya penyuluhan bahaya narkoba, free sex, gerakan radikal, dan ketertiban masyarakat.

“cara yang kami pergunakan untuk melakukan penyuluhan juga beragam. Bisa dengan mendatangi langsung ke rumah-rumah, dengan mengumpulkan warga di suatu tempat, melalui waroeng kopi pembinaan masyarakat (Warkop Binmas), dan kami juga memiliki grup rebana yang siap diundang untuk tampil secara sukarela atau gratis,’’ terangnya.

Ketua ISNU Cabang Kudus Kisbiyanto mengatakan, dia dan jajaran pengurus ISNU siap mendukung berbagai kegiatan dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni melalui berbagai program yang telah disiapkan.

“Di ISNU ini banyak SDM yang siap mendukung kegiatan-kegiatan sosialisasi atau penyuluhan yang dilakukan Binmas,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Mantan Teroris Asal Kudus Ini Sebutkan Ciri-ciri Orang Terkontaminasi Paham Radikal

 

Abu Tholud memaparkan tentang teroris di acara yang digelar Kesbangpol Kudus bertajuk “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” di Balai Desa Rendeng. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Abu Tholud memaparkan tentang teroris di acara yang digelar Kesbangpol Kudus bertajuk “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” di Balai Desa Rendeng. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dalam acara diskusi yang digelar Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus di Balai Desa Rendeng, Kecamatan Kota bertemakan “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal” pada Rabu (17/2/2016). Mantan narapidana terorisme Abu Tholud memaparkan teroris itu orang memiliki pemahaman agama yang kurang.

Pria yang tinggal di Dukuh Pondok, Desa Bae, Kecamatan Bae tersebut mengatakan, teroris merupakan seorang yang pemahaman agamanya kurang. ”Teroris itu bukan radikal, namun pemahamannya kurang. Sehingga tidak berpikir panjang lagi, rela mati padahal tindakannya salah,” ujarnya.

Baca juga : Undang Mantan Teroris, Kesbangpol Kudus Gelar Diskusi Tangkal Faham Radikal

Abu Tholud mengakui dua kali masuk penjara lantaran korban atau imbas, dari salah satu muridnya yang meledakan bom di Jakarta beberapa tahun lalu. Padahal, ia tidak pernah mengajari meledakkan bom. Tapi mengajari untuk mengaji dan belajar dengan benar.

”Jadi saya masuk penjara itu bukan sebagai pelaku peledakan bom. Namun ada murid saya yang meledakan bom. Tapi saya ikut terseret kasus tersebut,” tuturnya.

Tholud menjelaskan, bahwa ia anak dari TNI. Kakenya pun seorang Nahdliyin, dan sang ibu berlatar belakang pendidikan Muhammadiyah. ”Dengan latar belakang keluarga seperti itu, saya menolak keras paham radikal,” ujarnya.

Terkait kelompok GAFATAR, ia beranggapan komunitas tersebut sangat sesat. ”GAFATAR menurut saya gerakan apa-apa ntar. Salat ntar, shodaqoh ntar, puasa ya ntar,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, untuk mengetahui tanda-tanda keluarga terkontraminasi aliran sesat, biasanya menjaga jarak kepada orang tua. Yang asalnya tunduk dan sopan tapi malah menuduh orang tua kafir. ”Pemahaman agamanya melenceng dari syariat. Mereka ikut-ikutan kebiasaan beribadah yang tidak lazim,” paparnya.

Disaat yang sama, pihak dari Kementerian Agama Kudus yang diwakili Suhadi mengatakan, pendidikan keluarga itu amat penting. ”Sehingga keluarga dan anak anak juga bisa merasa diperhatikan,” kata Suhadi.

Dia menilai untuk menangkal paham radikal, dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Orang tua harus bisa memberikan tauladan yang baik untuk anak-anaknya. Yang bisa diterapkan dikehidupan sehari-hari. Yaitu salat berjamaah dengan keluarga. Beri nasihat yang bijak dan persuasif. Memberikan hadiah kepada anak jika melakukan kebaikan. ”Dan berikan hukuman yang mendidik. Jangan justru sebaliknya membuat mereka memberontak bahkan melawan,” tegasnya.

Editor : Titia Ayu Winarni

Undang Mantan Teroris, Kesbangpol Kudus Gelar Diskusi Tangkal Faham Radikal

 

Diskusi Tangkal Faham Radikal yang diselenggarakan Kesbangpol Kudus diikuti mayoritas anggota PKK dan Darama Wanita Kudus, di Balai Desa Rendeng, Rabu (17/2/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Diskusi Tangkal Faham Radikal yang diselenggarakan Kesbangpol Kudus diikuti mayoritas anggota PKK dan Darama Wanita Kudus, di Balai Desa Rendeng, Rabu (17/2/2015). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Guna menangkal paham radikalisme, hari ini Rabu (17/2/2016) jajaran Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus menggelar diskusi bertema “Bersama Kita Tangkal Faham Kelompok Radikal”.

Kegiatan yang digelar di Balai Desa Rendeng, Kecamatan Kota serta menggandeng dari forum kerukunan umat beragama (FKUB), PKK, dan Darma Wanita Kudus ini diharapkan memberikan pelajaran baru pada masyarakat.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kebangpol) Kudus Djati Solechah mengutarakan, kegiatan ini memang rata-rata dihadiri oleh wanita dari kalangan Darma Wanita dan PKK Kudus. ”Sebab wanita merupakan kunci utama dalam pendidikan di keluarga. Terlebih bagi anak-anaknya,” kata Djati.

Menurutnya, dalam diskusi ini lebih mengutamakan pendidikan terhadap kewaspadaan faham radikal yang berada dalam lingkup keluarga. Sehingga para wanita dan ibu rumah tangga ini mendidik putra-putrinya dengan baik.

Tak hanya itu, pihak Kesbangpol Kudus juga menghadirkan Abu Tholud. Yaitu seorang mantan narapidana dengan kasus teroris. Abu Tholud memberikan arahan bagi ibu-ibu untuk mendidik keluarganya dengan baik. Selain itu, pihak keluarga juga harus bisa mengarahkan anggota keluarganya agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah.

”Abu Tholud juga berpesan, agar waspada terhadap komunitas yang mengatas namakan kepentinan agama yang justru menjerumuskan ke faham radikal,” ungkapnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

 

Aksi Tolak ISIS dan Terorisme Berlangsung di Grobogan

Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai saat menggelar aksi damai tolak ISIS di depan Kantor Pemkab Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai saat menggelar aksi damai tolak ISIS di depan Kantor Pemkab Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi damai menolak keberadaan paham ISIS dan gerakan terorisme, dilakukan Aliansi Masyarakat Peduli Grobogan Damai (AMPGD), Rabu (27/1/2016).

Selain dalam bentuk penyataan sikap, aksi penolakan paham radikalisme dilakukan dengan mendatangi beberapa instansi.

Seperti di Kantor DPRD, Kejaksaaan Negeri Purwodadi dan Pemkab Grobogan. Selain itu, peserta aksi damai juga mengunjungi Polres Grobogan dan sejumlah sekolah.

Kasi Intelijen Kejari Purwodadi Wisnu Respati sempat menemui peserta aksi damai dan melakukan dialog singkat ketika anggota AMPGD mendatangi kantornya. Sementara saat berada di depan Kantor Pemkab Grobogan, peserta aksi ditemui Kepala Kesbanglinmas Yudhi Sudarmunanto.

Meski hanya menggelar aksi damai namun sejumlah petugas keamanan ikut melakukan pengawalan cukup ketat. Hal itu terlihat dengan banyaknya petugas yang memantau jalannya aksi damai tersebut.

Koordinator aksi Sugiyanto menyatakan, gerakan terorisme dan paham radikalis seperti ISIS sangat bertentangan dengan dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan kedamaian dan kasih sayang. Jika gerakan ISIS itu tidak dicegah maka akan mengganggu keamanan dan pertahanan negara. Untuk itu keberadaan gerakan ISIS harus ditolak dan semua elemen masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan demi keutuhan NKRI.

“NKRI berdiri dari hasil perjuangan para pejuang yang terdiri dari seluruh suku, agama dan ras. Ini menjadi bukti kalau NKRI bukan milik satu golongan saja tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Aksi ini kami lakukan sebagai salah satu bentuk dukungan dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujarnya.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Pati Tak Ingin Wilayahnya Diinjak-injak ISIS

Kasat Shabara Polres Pati AKP Amlis Chaniago mengarahkan personelnya untuk siaga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kasat Shabara Polres Pati AKP Amlis Chaniago mengarahkan personelnya untuk siaga. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kapolres Pati AKBP R Setijo Nugroho menginstruksikan kepada jajarannya untuk mengamankan wilayah Pati dari berbagai sudut. Pihaknya tidak ingin wilayahnya itu dijadikan target teror yang dilakukan ISIS.

“Kami tidak ingin wilayah Pati Bumi Mina Tani tercinta ini dimasuki ISIS atau jaringan teroris lainnya. Kami sudah siagakan pasukan keamanan, termasuk mempertajam bagian intelijen,” kata Setijo kepada MuriaNewsCom, Sabtu (16/1/2016).

Saat ini, pihaknya sudah menambah sekitar tiga puluh personel keamanan dengan senjata lengkap. Mereka ditempatkan di berbagai titik. Salah satunya, Jalan Pati-Kudus dan Jalan Pati-Juwana, serta di wilayah Juwana.

“Ketiga titik yang semuanya berada di jalur pantura itu dijaga secara berlapis. Setelah tragedi Bom Sarinah, kami tidak ingin ada jaringan teror masuk wilayah Pati, termasuk ISIS,” imbuhnya.

Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo menambahkan, sejak 2009 hingga sekarang wilayah Pati aman. “Dalam kurun waktu itu, Pati aman dan kondusif. Jangan sampai ada teroris masuk Pati,” tuturnya.

Ia menambahkan, Pati memang sempat ada pelaku teroris pada 2009. Namun, saat ini pelaku teror sudah mendekam di penjara. “Sejak itu, wilayah Pati aman sampai sekarang. Kami berharap, Pati ke depan selalu aman,” tukasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)