Puting Beliung Ancam Keselamatan Warga Jepara

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Jepara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara mengingatkan warganya untuk waspada terhadap terpaan angin kencang ataupun puting beliung yang belakangan melanda.

Angin kencang berpotensi menyebabkan rumah roboh dan pohon tumbang, yang membahayakan warga.

“Sepekan terakhir di wilayah Jepara memang dilanda angin kencang. Hal itu menyebabkan potensi rumah roboh dan pohon tumbang,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Jepara Pujo Prasetyo, Senin (28/8/2017). 

Menurut catatannya, sudah ada dua kasus rumah roboh yang terjadi di Jepara, akibat hantaman angin kencang. Pujo menyebut, selain faktor alam, robohnya rumah tersebut juga dipengaruhi kondisi rumah yang sudah lapuk.

Adapun laporan rumah ambruk karena diterpa angin kencang terjadi di Desa Menganti, Kecamatan Kedung. Di tempat tersebut angin merobohkan rumah milik Sutinah (60). Sementara itu di Desa Sinanggul Kecamatan Mlonggo, angin menghantam rumah milik Suadah (56) warga RT 11/4. 

“Kami juga menerima informasi terbaru, hari ini ada cabang pohon asam di SDN 1 Desa Pelang, Mayong patah, akibat terpaan angin yang cukup kencang. Hal itu sempat mengganggu arus lalu lintas,” ujar Pujo.

Editor : Ali Muntoha

Idul Adha Sudah Dekat, Tapi Pasar Pon Bangsri Kok Masih Sepi

Pedagang sapi di Pasar Pon Bangsri Jepara, mengeluhkan sepinya pembeli meski Hari Raya Kurban sudah dekat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Harga sapi dan kambing di Pasar Hewan “Pon” Bangsri sudah mulai merangkak naik. Namun demikian, para pedagang mengaku minat pembeli masih lesu, Sabtu (26/8/2017).

Sutoyo seorang pedagang sapi mengatakan, berdasarkan pengalamannya 20 hari menjelang Idhul Adha biasanya pembeli telah menyerbu dagangannya. Namun kini, hingga sepekan jelang hari raya kurban, ia mengeluh sepinya pembeli. 

“Pembelinya masih belum ada peningkatan. Saya belum tahu apa penyebabnya, mungkin karena kondisi ekonomi,” katanya. 

Ia mengatakan, harga sapi jualannya masih relatif terjangkau. Ia memperkirakan mendekati hari raya harga sapi bisa meningkat di atas Rp 20 juta. Untuk jenis sapi segon yang dipunyainya, dijual dengan harga Rp 19,5 juta.

“Kalau yang lebih kecil lagi ya harganya Rp 17,5 juta. Bergantung besar kecilnya sapi,” tuturnya. 

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang Suwono. Menurutnya, harga sapi berada di kisaran 10-20 juta rupiah per ekor. 

Sementara itu harga kambing ditawarkan Rp 2-5 juta per ekor. Harga tersebut diakui oleh seorang pedagang Kasmuri selisih Rp 500 ribu dari hari biasa. 

“Sekarang harganya ya dua sampai lima juta rupiah untuk yang jantan. Kalau dibandingkan hari biasa ya kacek (selisih) Rp 200-500 ribu,” urainya.

Ia mengungkapkan, Kamis adalah hari terakhir pasaran. Kasmuri berharap dagangannya bisa laku dihari tersebut. “Nanti hari terakhir itu Kamis. Ya kalau bisa laku ya laku, kalau tidak ya tidak,” ungkapnya.

Editor : Ali Muntoha

HNSI Jepara Yakin Pencabutan Solar Subsidi untuk Nelayan Tak Bakal Terjadi

Perahu nelayan tengah antre untuk membeli solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan. HSNI Jepara yakin pencabutan solar bersubsidi hanya sekadar wacana. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jepara tak menganggap serius wacana yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti tentang pencabutan solar bagi nelayan.

“Saya pikir itu hanya sekadar wacana, tidak mungkin mencabut bahan bakar minyak (solar) bersubsidi untuk nelayan. Sampai hari ini kami anggap hal itu masih sebagai wacana,” ucap Ketua HNSI Jepara Sudiyatno, Rabu (16/8/2017).

Meski demikian, ia menegaskan bahan bakar bersubsidi bagi nelayan masih sangat dibutuhkan. Dirinya menyebut, organisasinya satu kata dalam urusan tersebut.

Hal tersebut juga akan dibahas pada musyawarah nasional HNSI yang akan digelar pada bulan September 2017.

“Rencananya pada bulan September kita akan menggelar Munas. Di sana akan terbuka (pembahasan isu maupun persoalan nelayan). Tapi prinsipnya, dari DPP HNSI sampai dengan DPC sikapnya sama, nelayan harus diberikan BBM bersubsidi,” ujarnya.

Sudiyatno mengatakan, distribusi solar bagi nelayan di Jepara tidak bermasalah. Dirinya menyebut, dari sekitar empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBBN) yang ada, sudah mencukupi kebutuhan dan tidak ada kebocoran.

“SPBBN di Ujung Batu, Mlonggo, Donorojo, dan Kedung cukup melayani kebutuhan dan hanya diperuntukan bagi nelayan. Tidak ada kebocoran alias zero persen, karena nelayan kan tahu mana yang nelayan mana yang tidak. Jika harus membeli dari SPBU, pun menggunakan surat keterangan dari dinas terkait dan hal itu lebih disebabkan jika ada ketersendatan bbm,” urainya.

Editor : Ali Muntoha

Lucunya Tingkah Polah Siswa TK-SD di Jepara Berdandan Pahlawan saat Karnaval Kebangsaan

Siswa mengenakan kostum salah satu pahlawan perempuan Jepara Ratu Shima dalam karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Jelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Indonesia, ribuan murid TK dan SD mengikuti karnaval kebangsaan, Senin (14/8/2017) siang. Mereka mengenakan berbagai kostum yang menyimbolkan adat dan keberagaman yang ada di republik ini. 

Mereka terlihat lucu, dan beberapa kali tingkah polah anak-anak membuat penonton terpingkal-pingkal.

Seperti yang dikenakan oleh siswa-siswi TK Nurul Iman Desa Senenan, Kecamatan Tahunan-Jepara. Selain memamerkan parade siswa yang mengenakan seragam merah putih, mereka juga menampilkan sosok pahlawan perempuan Jepara yakni, Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan RA Kartini.

Selain itu mereka juga mengingatkan mengenai belum tuntasnya perjuangan para pahlawan, melalui sebuah tulisan.  “Kami telah berjuang kini saatnya kalian meneruskan perjuangan kami,” bunyi tulisan yang diusung murid taman kanak-kanak tersebut. 

Dalam daftar panitia, ada 62 sekolah setingkat TK atau Paud yang ikut serta. Mereka berasal dari Kota Jepara dan daerah satelit, seperti Tahunan dan Kedung. Sementara itu pada kategori SD ada 41 sekolahan yang mengikuti karnaval tersebut.

Setelah memamerkan busana dan kebolehannya di depan unsur Muspida Kabupaten Jepara, mereka akan berjalan sesuai rute. Untuk kategori TK dan Paud akan melintasi jalur sepanjang 600 meter, dari alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran dan Jl AR Hakim. Sementara untuk SD menempuh jarak sepanjang satu kilometer, dari Alun-alun, Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl AR Hakim dan berakhir di Sanggar Pramuka.

Kabid Pemasaran  Wisata Florentina Budi Kurniawati mengatakan kegiatan tersebut bertema mengangkat produk unggulan dan potensi Jepara. Hal itu dimaksudkan agar semua lapisan masyarakat mengetahui segala potensi yang dimiliki oleh kabupaten di pesisir utara pulau Jawa tersebut. 

“Hal itu mengandung maksud, jika masyarakat mengenal potensi yang dimilikinya, maka masyarakat ikut membangun negara, dengan memaksimalkan berbagai macam potensi daerah yang dipunyai. Selain itu, kami juga ingin untuk menggali kreatifitas dan masyarakat secara umum,” ungkap Florentina.

Editor : Ali Muntoha

Warga Bangsri Jepara Urunan Perbaiki Rumah Mbah Temu Yang Hampir Roboh

Warga Desa Bangsri, Jepara, bergotong royong memperbaiki rumah janda tua secara swadaya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tak tega melihat rumah Mbah Temu (74) hampir roboh, warga Rukun Warga 12, Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Jepara, urunan merenovasi rumah janda tua itu. 

Haryanto warga setempat mengungkapkan, kesepakatan tersebut tercapai setelah adanya rembug warga. Dengan iuran secara sukarela, mereka lantas mengumpulkan sumbangan sebagai modal untuk memperbaiki rumah kayu berukuran 5×7 meter itu.

Menurutnya, Mbah Temu merupakan seorang janda tua miskin yang memiliki tiga anak. Dua anaknya yang juga miskin, kini merantau ke luar daerah. Sementara anaknya yang terakhir tinggal bersamanya, hanya saja ia tak pernah mengenyam pendidikan formal.

“Ia (Mbah Temu) rumahnya telah lapuk termakan usia. Lalu kami dari warga sekitar berinisiatif dan beriuran secara swadaya untuk melakukan perbaikan rumahnya,” ujarnya, Senin (14/8/2017). 

Haryanto menyebut, untuk memperbaiki rumah Mbah Temu membutuhkan dana sekitar Rp 15 juta. Rencananya, rumah berdinding kayu itu akan direnovasi menjadi rumah tembok.

Untuk perbaikannya, warga mengerjakannya secara bergotong royong. “Alhamdulilah banyak warga yang membantu program ini. Warga akan mengerjakan perbaikan secara bahu membahu bersama-sama untuk memperbaiki rumah Mbah Temu,” ucapnya. 

Selain rumah Mbah Temu, rencananya warga akan memperbaiki rumah warga tak mampu lainnya. Haryanto menyebut, ada dua rumah warga yang akan diperbaiki. 

“Kami rencananya akan memperbaiki tiga rumah warga yang akan dibangun. Mereka semua adalah warga tak mampu di lingkungan kami,” tutur dia.

Sementara itu Mbah Temu mengaku hanya bisa terharu atas inisiatif warga memperbaiki rumahnya. “Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Semoga lebih bermanfaat ketika nanti jadi,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha