Industri Mebel Tak Terpengaruh Kasus Sabu Ratusan Kilogram di Jepara

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Sejumlah barang bukti mesin genjet penyimpan sabu dan produk industri mebel di dalam gudang. (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Meskipun Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menyebut industri mebel dimanfaatkan oleh jaringan pengedar narkoba. Sejauh ini kondisi industri permebelan masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang signifikan setelah terbongkarnya kasus narkoba pada Rabu (27/1/2016) lalu.

Salah seorang pengusaha mebel di Jepara, Samsul mengatakan, kondisi bisnisnya maupun permebelan secara umum masih biasa saja. Tidak ada pengaruh yang besar terhadap dunia mebel setelah terbongkarnya kasus narkoba di gudang mebel beberapa waktu lalu.

”Yang kami rasakan tidak ada pengaruhnya. Itu kan hanya kasus, dan tidak hanya industri mebel yang bisa disalahgunakan. Industri yang lainnya pun bisa,” kata Samsul kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Lebih lanjut dia mengemukakan, kasus narkoba yang ditemukan di Desa Pekalongan, Batealit, Jepara itu menjadi pelanggaran hukum. Sehingga biarkan diproses secara hukum. Bahkan, pihaknya menekankan agar pengawasan terhadap distribusi barang yang mencurigakan harus lebih diperketat.

”Temuannya kemarin itu kan bukan barang mebel yang biasa di ekspor maupun di impor. Tapi mesin genset dalam jumlah yang sangat banyak. Itu menurut saya mencurigakan, dan hal yang semacam itu yang harus diawasi dengan ketat,” ungkapnya.

Pihaknya mempercayakan kasus tersebut kepada pihak yang berwajib. Termasuk kasus-kasus sejenisnya yang mungkin saja belum terungkap oleh pihak yang berwenang. Dia berharap agar keamanan dan suasana kondusif di Jepara dapat tetap terjaga agar industri mebel di Jepara tetap berjalan lancar.

Editor : Titis ayu Winarni

Rupiah Merosot, Dinsosnakertran Klaim Jepara Aman dari PHK

Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Jepara Hidayat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Jepara Hidayat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Mata uang rupiah melemah sejak beberapa pekan terakhir ini. Akibatnya, sejumlah perusahaan di beberapa daerah di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerja.

Sedangkan untuk di Jepara, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Jepara mengklaim pekerja Jepara aman dari ancaman PHK.

”Meskipun di Jepara sudah banyak berdiri industri besar non mebel, tapi sejauh ini belum ada ancaman PHK,” ujar Kepala Dinsosnakertrans melalui Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja Hidayat kepada MuriaNewsCom, Senin (31/8/2015).

Katanya, sampai saat ini memang belum ada laporan soal tenaga kerja di Jepara yang mendapatkan PHK dari perusahaannya terkait dengan imbas pelemahan rupiah. Beberapa kasus PHK yang terjadi, justru disebabkan oleh masalah internal perusahaan, di antaranya indisipliner.

Sejumlah perusahaan besar non mebel tersebut, diakuinya memang banyak mengimpor bahan baku. Hanya saja, produk yang dihasilkan juga diekspor. Sehingga kemungkinan besar perusahaan masih relatif aman dalam hal biaya produksi. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ini Indikasi Jepara Aman dari PHK ketika Rupiah Melemah

Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Jepara Hidayat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja pada Dinsosnakertrans Jepara Hidayat (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Laba perusahaan di Kabupaten Jepara diklaim relatif stabil sehingga dianggap tidak memberikan ancaman PHK terhadap pekerja di Jepara. Apalagi, biaya produksi dinilai masih normal.

Faktor Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang rendah dibanding beberapa daerah lain, dinilai menjadi salah satu faktor efesiensinya biaya produksi tersebut.

“UMK di Jepara jika dibanding dengan daerah lain masih terbilang rendah. Sehingga jika dikalkulasi, perusahaan masih mendapatkan laba yang relatif stabil,” ujar Kepala Dinsosnakertrans Jepara melalui Kasi Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja Hidayat kepada MuriaNewsCom, Senin (31/8/2015).

Menurutnya, alasan lain amannya industri di Jepara dari ancaman merumahkan karyawannya itu juga ditandai dengan kebijakan perusahaan yang terus merekrut karyawan baru.

Tiap bulannya, katanya, selalu ada perekrutan karyawan baru. Dia menilai, justru industri mebel yang memiliki kerawanan akibat pelemahan rupiah. Sebab tak semua pembeli melakukan transaksi dengan mata uang dollar AS.

“Saat ini mulai banyak yang melakukan transaksi dengan mata uang rupiah. Padahal, peralatan industri mebel serta sejumlah bahan baku penunjang lainnya impor. Harga kayu juga terus naik,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Keberadaan Perusahaan Besar di Jepara Dinilai Mampu Serap Tenaga Kerja lokal

Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara mengatakan, perusahaan besar yang berinvestasi di Jepara mampu menyerap banyak tenaga kerja. Misalnya saja, BOMIN Permata Abadi (PMDN) yang bergerak di bidang garment, berlokasi di Kecamatan Mayong, mampu menyerap sekitar 1300 tenaga kerja.

Kemudian ada PT Namyong Indonesia (Korsel), merupakan perusahaan yang bergerak di pembuatan jaring dan benang,  berlokasi di Kecamatan Kalinyamatan, mampu menyerap sekitar 600 orang tenaga kerja.

Selain itu, juga ada PT Sengdam Jaya Abadi, perusahaan PMA dari Korsel mendirikan pabrik sepatu di Kecamatan kalinyamatan, mampu menyerap sekitar 20.000 tenaga kerja. PT SAMI, perusahaan dari Jepang (PMA)  yang bergerak di bidang perakitan kabel elektronik di Kecamatan Mayong ini mampu menyerap sekitar 2000 tenaga kerja lebih. PT JIALEE, berasal dari China (PMA) , yang berlokasi di Kecamatan Pecangaan, bergerak di bidang pembuatan garment mampu menyerap 4000 tenaga kerja.

“Selain itu juga masih banyak lagi, ditambah yang terakhir ini kami masih dalam tahap negosiasi yakni perusahaan pabrik logam yang mampu menyerap 8.000 tenaga kerja,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Geliat Investasi di Jepara Diklaim Alami Peningkatan

 

Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Ahmad Marzuqi, Bupati Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Iklim investasi di Kabupaten Jepara semakin membaik. Hal ini terbukti dengan semakin bertambahnya jumlah perusahaan besar yang telah berdiri dan akan berdiri di kota ukir, baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA). Misalnya saja, PT. SAMI, Jilae, Boming, Sendang Makmur Jaya, Perusahaan Garmen dan lainnya.

Bahkan, saat ini Pemkab Jepara tengah negoisasi dengan Investor pabrik logam yang membutuhkan lahan sekitar 600 hektare.

”Sejak tahun 2013 lalu geliat investasi di Jepara semakin meningkat. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi di Jepara,” ujar Ahmad Marzuqi saat membuka acara halalbihalal organisasi wanita di Pendapa Kabupaten Jepara.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di daerah juga ditentukan oleh kegiatan investasi.Yakni investasi dari pemerintah lewat  BUMD dan swasta atau dunia usaha.

Lebih lanjut dia mengemukakan, dana dari pemerintah lewat APBD sangat terbatas, sehingga peran investasi dari swasta atau dunia usaha sangat penting untuk mendorong perekonomian daerah.

“Kita terus upayakan agar iklim investasi yang baik dapat terbangun dengan kokoh,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)