4 Naga Unjuk Kebolehan di Hadapan Warga Pati

Naga Doreng Arhanudse dari Kodam IV Diponegoro Semarang tengah beratraksi di Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Naga Doreng Arhanudse dari Kodam IV Diponegoro Semarang tengah beratraksi di Alun-alun Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Puncak acara Tahun Baru Imlek di Kabupaten Pati dimeriahkan dengan empat naga liong yang menari meliuk-liuk mengelilingi Alun-alun Kota Pati, Senin (8/2/2016).

Sedikitnya lima marching band, kirab merah putih lintas agama, hingga reog ponogoro yang pentas di tengah alun-alun menjadi pusat perhatian warga Bumi Mina Tani.

Ketua Panitia Imlek Edi Siswanto kepada MuriaNewsCom mengatakan, perayaan imlek di Pati saat ini sudah menjadi agenda budaya bersama. Itu sebabnya warga lintas agama ikut memeriahkan Imlek di Pati.

“Puncak acara Imlek dilaksanakan kirab ritual yang melibatkan kirab merah putih lintas agama, Naga Doreng Arhanudse dari Kodam IV Diponegoro Semarang, barongsai, liong dan Samsi Laksa Dharma Juwana, marching band Ponpes Salafiyah dan Ponpes Qomaruddin Gresik, serta atraksi Reog Ponogoro,” tuturnya.

Sontak, Alun-alun Pati menjadi lautan manusia yang menyaksikan meriahnya perayaan Imlek. Warga bubar, setelah hujan deras mengguyur jantung Kota Pati.

“Kami berharap, Imlek menjadi momen untuk berbagi kebahagiaan. Kita sebagai bagian anak bangsa punya kepedulian terhadap sesama. Berbagi sedikit bersama orang banyak dengan cinta dan kasih sayang yang besar dan ikhlas,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Baca juga : Lagu-lagu Islami Dimainkan di Perayaan Imlek Simpang Lima Pati

Perayaan Imlek Jadi Agenda Wisata Budaya Baru di Pati

Suasana Pasar Imlek yang dihelat di kawasan Kelenteng Hok Tik Bio Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Suasana Pasar Imlek yang dihelat di kawasan Kelenteng Hok Tik Bio Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Antusiasme warga Pati dengan perayaan Imlek bertambah dari tahun ke tahun. Untuk itu, perayaan imlek di Pati bukan lagi menjadi momentum keagamaan, tetapi fenomena budaya.

Bupati Pati Haryanto mengatakan, imlek saat ini sudah menjadi agenda wisata budaya tahunan di Kabupaten Pati. ”Semakin tahun, acaranya semakin besar. Bahkan, tahun ini tak hanya diikuti warga lokal Pati, tetapi dari berbagai daerah di Jawa Tengah hingga Yogyakarta, Jakarta, dan Surabaya,” kata Haryanto kepada MuriaNewsCom, Sabtu (30/1/2016).

Tak hanya soal agenda budaya, perayaan imlek di Pati diklaim mampu meningkatkan perekonomian warga Pati. Pasalnya, ada lebih dari 300 pedagang yang berjualan di pusat keramaian imlek.

Ketua Panitia Imlek Edi Siswanto menambahkan, perputaran uang pada perayaan Imlek pada tahun lalu mencapai Rp 500 juta. Tahun ini, perputaran ekonomi diperkirakan menyentuh angka Rp 1 miliar.

”Tahun lalu ada 200 pedagang yang meramaikan. Tahun ini, lebih dari 300 pedagang. Kami yakin, perputaran ekonomi pada perayaan imlek di Pati selama sepuluh hari bisa menyentuh angka Rp 1 miliar,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Pasar Imlek di Pati Mulai Dibuka

Warga sudah memadati kawasan Pasar Imlek di Klenteng Hok Tik Bio. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga sudah memadati kawasan Pasar Imlek di Klenteng Hok Tik Bio. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pasar imlek di Pati yang berpusat di Kelenteng Hok Tik Bio mulai dibuka hari ini, Sabtu (30/1/2016) sore.

Perayaan imlek di Pati tahun ini mengambil tema “Menyapa Bangsa di Taman Hati” dengan mengajak masyarakat untuk berbuat segala sesuatu dengan cinta yang besar.

”Pasar Imlek saat ini lebih meriah dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu hanya 200 stan, saat ini diramaikan lebih dari 300 stan yang membentuk pasar dadakan,” ujar Edi Siswanto, Ketua Panitia Imlek Pati kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, kemeriahan imlek di Pati berlangsung selama sepuluh hari hingga 8 Februari mendatang. Bahkan, pasar yang semula berada di sekiar kelenteng sekarang mulai melebar hingga ke Jalan KH Ahmad Dahlan.

Padahal, dulu hanya sebatas di sekitar kelenteng saja. ”Itu wajar karena saat ini yang berpartisipasi lebih dari 300 stan,” tambahnya.

Perayaan imlek di Pati tak lagi dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi agenda budaya yang mesti dirayakan setiap warga.

Editor : Titis Ayu Winarni