Ini Ucapan dan Harapan Pimpinan DPRD untuk HUT ke 467 Kudus

iklan-e

MuriaNewsCom, Kudus – Kabupaten Kudus merayakan hari jadinya yang ke 467 tahun hari ini. Ada ucapan dari harapan yang disampaikan pimpinan DPRD Kudus terkait momen tersebut.

Ketua DPRD Kudus Masan mengatakan, ada banyak perubahan di Kudus. Terutama pada kurang lebih sepuluh tahun terakhir ini. ”Baik itu dari segi sumber daya manusia, infrastruktur, dan pembangunan lain, semua sudah meningkat dengan baik,” katanya, Jumat (23/9/2016).

Terutama dari segi pemerintahan. Menurut Masan, kesadaran aparat pemerintah sendiri, juga meningkat. Termasuk untuk mengedepankan pelayanan yang baik kepada seluruh masyarakat.

”Bahwa melayani masyarakat adalah salah satu prioritas bagi semua pihak. Dan aparat pemerintah, sudah melakukannya sebaik mungkin. Namun memang perlu ditingkatkan terus soal pelayanan ini,” terangnya.

Salah satu contoh yang diharapkan bisa terus meningkat pelayanannya adalah bidang kesehatan. Dari mulai tingkat puskesmas hingga ke tingkat atas. ”Semua harus ditingkatkan, sehingga masyarakat bisa mendapatkan layanan sebaik-baiknya,” katanya.

Masan mengatakan bahwa ke depannya kerja sama yang baik antara eksekutif dan legislatif juga bisa ditingkatkan. Sehingga bisa menjadi partner yang baik dalam menjalankan pemerintahan yang ada. ”Karena kalau kedua belah pihak bersinergi, maka saya yakin Kudus akan lebih maju lagi ke depannya,” tegasnya.

Tujuan pemerintah untuk makin menyejahterakan masyarakat, menurut Masan, akan semakin mudah dicapai, kalau kemudian mendapat dukungan dari semua pihak. Sinergitas antara pemerintah, legislatif, dan masyarakat, akan memperkuat hal itu. ”Dengan begitu, masyarakat akan semakin sejahtera,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan pimpinan DPRD Kudus lainnya. Yakni Ilwani, Nurhudi, dan Dhedy Prayogo. Menurut Ilwani, apa yang sudah dicapai Kudus saat ini, haruslah dipertahankan.

”Kudus kan, sudah banyak perubahan, sudah maju dari berbagai sektor. Itu yang kemudian harus ditingkatkan ke depannya. Sektor yang belum tergarap dengan baik, namun dengan potensi yang besar, harus juga ditingkatkan lagi pengembangannya,” terangnya.

Ilwani juga mengatakan bahwa masyarakat juga harus mendukung penuh upaya yang dilakukan pemerintah, dalam menjalankan roda pemerintah. Karena tanpa dukungan masyarakat, maka apa yang diinginkan supaya kabupaten ini semakin maju, akan sulit dilaksanakan.

”Karena semua hal itu, tidak hanya pemerintah saja yang harus turun tangan. Namun peran serta masyarakat juga penting. Kalau saling bersinergi, maka saya yakin jika kemudian Kudus akan bisa semakin baik ke depannya,” jelasnya.

Editor: Merie

 

Bingung Kembangkan Usaha Kecil dan Menengahmu? Beriklanlah di Media Online

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Di era yang serba mahal ini, kita harus pandai mengelola keuangan. Termasuk di antaranya tetap bisa mengembangkan usaha kecil dan menengahmu tanpa mengeluarkan uang yang banyak.

Kalau beriklan di media konvensional seperti televisi, koran, dan radio, jelas pelaku usaha kecil dan menengah akan kesulitan. Sebab, tarif iklan yang mereka tawarkan terlalu tinggi. Tapi jangan menyerah, banyak jalan menuju Roma, begitu kata pepatah lama.

Artinya, perkembangan media berbasis online, adalah solusinya. Media online menawarkan tarif iklan yang lebih murah dibandingkan dengan media konvensional. Ditambah lagi keuntungan lainnya, jangkauan media online amat luas karena pengguna smartphone terus tumbuh pesat bak jamur di musim hujan.

Data eMarketer, jumlah pengguna smarthone di Indonesia mencapai 55 juta orang. Bahkan diperkirakan akan bertambah pesat yaitu mencapai 65,2 juta di akhir tahun 2016.

Imbasnya, pengguna smartphone bisa leluasa memanfaatkan gawainya. Mulai dari melihat berita terbaru, selalu mengakses media sosial, chatting, melakukan transaksi perbankan, hingga belanja online. Bukanlah kini penyedia belanja online juga semakin banyak.

Yap, itu kesempatan Anda pemilik usaha kecil dan menengah untuk menggaet calon pembeli baru potensial dengan beriklan di media online. Sekarang pertanyaannya, media online mana dan bagaimana cara beriklan dengan tepat?

Jika Anda warga Keresidenan Pati, atau ingin mengembangkan pasar di kalangan wilayah itu, MuriaNewsCom jawabannya. Setiap hari, warga setempat mengandalkannya sebagai situs andalan mendapatkan berita lokal nan menarik.

Tidak heran jika keberadaannya disebut-sebut sebagai situs berita terbesar di Keresidenan Pati. Jadi, jika Anda ingin memasang iklan di media online yang tepat, di mana lagi selain di MuriaNewsCom?

Nikmati kemudahannya, dengan tarif iklan yang terjangkau. Jadi tunggu apalagi. Tangkaplah peluang itu. Tingkatkan pemasaran produkmu sekarang juga.

Hubungi kami, info lebih lanjut atas nama Sundoyo Hardi

Whatsapp: 081 566 11108
PIN BBM: 51DBF741
Bagian Iklan: (0291) 424-8700
Email: iklan.murianews@gmail.com

Editor : Akrom Hazami

MuriaNewsCom, Jadikan Produkmu Lebih Hebat dari yang Kamu Pikirkan

Tampilan MuriaNewsCom. (ISTIMEWA)

Tampilan MuriaNewsCom. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Sudahkah Anda perkenalkan produk hebatmu atau barang daganganmu ke MuriaNewsCom? Kalau belum, inilah saatnya. Jadikan awal tahun sebagai momen penting mencari terobosan upaya peningkatan target penjualan produk.

Mulai sekarang, iklankan produkmu di MuriaNewsCom. Sebagai satu-satunya portal berita terbesar di Keresidenan Pati, MuriaNewsCom akan membuat produkmu laku.

Jadi, tunggu apalagi, untuk warga Keresidenan Pati meliputi Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora dan Grobogan, atau luar kota tapi ingin memperkuat pasar di daerah itu, silakan beriklan di MuriaNewsCom.

Berikut alasan kenapa produkmu cocok untuk diiklankan di MuriaNewsCom:
1. Setiap hari dikunjungi rata-rata 20 ribu pembaca per hari
2. Rata-rata 43 ribu halaman yang terbaca setiap hari
3. 73 % pembaca mengakses berita dari mobile (HP), 20 % dari komputer, dan 7 % dari tablet
4. 54 % pembaca langsung mengetik www.murianews.com, 30 % mengakses dari facebook, dan 16 % mengakses melalui google.
5. 72 % pembaca laki-laki dan 28 % pembaca perempuan dengan usia potensial 18-34 th
6. Dukungan dari media sosial dengan pengikut lebih dari 20 ribu akun riil

Alasan itu berasal dari data yang dihimpun Google Analytic. Kini, Anda sedang berhadapan dengan media pemasaran yang oke. Segera layangkan keinginan dan minatmu beriklan di MuriaNewsCom dengan menghubungi Divisi Marketing :
Sundoyo di nomor telepon : 08156611108 atau Pin BB : 51DBF741
Zaenal Arifin di pin BB : 513D2A3C

KUP, Revolusi Mental dari Kudus untuk Indonesia

Bupati Kudus H Musthofa saat memberikan kartu KUP kepada warga. Diharapkan mereka akan bisa direvolusi mentalnya, dengan menjadi peminjam yang bertanggung jawab. (ISTIMEWA)

Bupati Kudus H Musthofa saat memberikan kartu KUP kepada warga. Diharapkan mereka akan bisa direvolusi mentalnya, dengan menjadi peminjam yang bertanggung jawab. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Revolusi mental merupakan istilah yang populer beberapa waktu terakhir ini. Sejak digelorakan Presiden Ri Jokowi, konsep ini begitu mencuat.

Ini dimaknakan sebagai perubahan pola pikir masyarakat terhadap sikap dan tekad yang kuat untuk memperbaiki keadaan. Karena segala sesuatu akan dapat berubah ketika dilandasi dengan tekad dan keseriusan.

Ini pula yang melatarbelakangi Bupati Kudus H Musthofa dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kudus. Selain itu, perubahan mindset juga diharapkan terjadi di masyarakat Kudus.

”Sehingga mental yang terbangun dengan lebih baik, bisa secara bersama-sama membangun Kudus menjadi semakin maju,” katanya.

Untuk itulah, dirinya senantiasa mengajak masyarakat Kudus untuk berpikir bersama dalam membangun Kudus. Secara interaktif masyarakat bebas mengemukakan pendapat yang konstruktif maupun permasalahan yang terkait kepentingan umum untuk dipecahkan bersama.

Bupati yang akrab disapa Kang Mus ini secara rutin membuka dialog tersebut dalam Mikir Kudus bareng Kang Mus (MKBKM) di Suara Kudus 88 FM. ”Kudus ini milik bersama. Maka sudah selayaknya kita secara bersama-sama berdiskusi membangun Kudus menjadi semakin baik,” kata bupati.

Bupati memaparkan tentang kredit usaha produktif (KUP) sebagai upaya revolusi mental. Mengapa demikian? Karena KUP bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat akan kewajibannya.

”Yaitu mengubah mindset masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap pinjaman modal yang diterimanya meski tanpa jaminan,” jelasnya.

Namun tentunya, bupati mengharapkan tidak ada penyalahgunaan pinjaman KUP ini. Yang benar-benar telah memiliki usaha, jelas omzetnya, dan punya keseriusan dalam mengembangkan usahanya sajalah yang berhak menikmati pinjaman ini.

Karena bupati yang juga seorang pengusaha ini ingin masyarakat Kudus lebih produktif. ”Dengan peningkatan produktivitas, tentunya akan berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa KUP memiliki empat kelas yang ditandai dengan kartu KUP. Yaitu kartu berwarna merah untuk plafon pinjaman maksimal Rp 5 juta, biru maksimal Rp 10 juta, hijau maksimal Rp 15 juta, dan abu-abu maksimal Rp 20 juta. Dengan jangka waktu pinjaman maksimal selama 3 tahun dan bunga yang ringan.

KUP ini hanya sebagian dari upaya membangun Kudus bersama-sama. Namun yang terpenting sebagai harapan bupati adalah semangat meningkatkan taraf hidup dan menurunnya angka kemiskinan masyarakat Kudus secara luas.

”Berbagai fasilitas dan kemudahan dalam berbagai bidang khususnya pendidikan dan kesehatan ini diprogramkan, sebagai wujud nyata upaya tersebut,” imbuhnya. (MERIE / ADS)

Keindahan Bukit Moriah di Puncak Gunung

 

Peziarah di makam Sunan Muria juga beribadah di masjid yang ada di lokasi tersebut. Di sana, juga terdapat bedug yang bersejarah peninggalan Sunan Muria. (ISTIMEWA)

Peziarah di makam Sunan Muria juga beribadah di masjid yang ada di lokasi tersebut. Di sana, juga terdapat bedug yang bersejarah peninggalan Sunan Muria. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Di sebelah utara kota Kudus, sekitar 18 kilometer, terdapat sebuah desa bernama Colo, masuk dalam wilayah Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Desa kecil itu menjadi terkenal karena di situ terdapat makam seorang waliyuilah yang masuk dalam barisan Wali Songo, dengan gelar Sunan Muria. Namanya yang asli adalah Raden Umar Said.

Ia mendapat gelar Sunan Muria oleh karena tempat ia berdakwah menyiarkan agama Islam terletak di kaki Gunung Muria. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, ia membangun pesantren dan masjidnya di puncak gunung tersebut, persis di belakang masjid yang dibangunnya sendiri.

Masjid itu telah dipugar sehingga hilang keasliannya, kecuali hanya beberapa bagian saja yang masih asli. Itu pun tidak luput dari pemugaran. Saat ini masjid itu dibagi dua.

Yaitu masjid yang khusus untuk kaum pria, di dalamnya kita masih bisa liat beberapa peninggalan asli Sunan Muria, seperti mihrab (tempat imam), umpak batu (tempat penyangga tiang masjid) sebanyak empat buah yang dibawa dari Pulau Bali, dan sebuah gayor (beduk). Sedangkan, masjid yang khusus untuk wanita adalah tambahan baru hasil renovasi tahun 1976 yang peresmiannya dilakukan oleh Bupati Kudus pada tahun 1978.

Untuk mencapai masjid dan makam Sunan Muria yang terletak di puncak Gunung Muria dengan ketinggian sekitar 1.600 meter lebih, kita harus berjalan jalan kaki lewat jalan setapak yang mendaki sejauh 1.600 meter. Tetapi, jika Anda tidak sanggup jalan kaki, tersedia ojek sepeda motor dengan tarif Rp 10.000 sekali jalan.

Cukup mahal memang. Tetapi, itu beralasan karena jika menumpang ojek sepeda motor, Anda akan melewati jalan tikus yang curam dengan tikungan-tikungan yang tajam dan berbahaya. Oleh karenanya, tidak ada kendaraan lain yang bisa melewati itu kecuali ojek sepeda motor. Alternatif lain selain menumpang ojek sepeda motor, ya, jalan kaki.

Mengapa bukit atau gunung itu dinamakan Muria? Menurut hipotesa Solihin Salam dalam bukunya, Kudus Purbakala dalam Perjoangan Islam, terbitan Menara Kudus, berpendapat bahwa nama Muria itu diidentifikasikan dengan nama sebuah bukit di dekat Yerusalem, Palestina. Bukit itu bernama Gunung Moriah. Konon, Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah kenisah (semacam rumah ibadah) di puncak Gunung Moriah.

Jika nama kota Kudus diilhami oleh berdirinya Masjid al-Aqsha yang lebih populer dengan sebutan Masjid Menara Kudus (berasal dari kata al-Quds), maka nama Muria mengingatkan kita pada nama sebuah bukit di dekat kota Baitul Maqdis atau Yerusalem Darussalam. (MERIE / ADS)

Masjid Menara Kudus, Keindahan yang Kental Nuansa Toleransi

Masjid Menara Kudus adalah simbol atau landmark Kabupaten Kudus. Masjid ini juga simbol toleransi terhadap keberagaman beragama yang kemudian menjadi indah bersanding satu sama lain. (ISTIMEWA)

Masjid Menara Kudus adalah simbol atau landmark Kabupaten Kudus. Masjid ini juga simbol toleransi terhadap keberagaman beragama yang kemudian menjadi indah bersanding satu sama lain. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Masjid Menara Kudus punya gapura yang bentuknya berbeda dengan bangunan masjid pada umumnya di Indonesia. Gapura dan bangunan menara terbuat dari tumpukan batu merah yang menyisakan daya pikat.

Pada bulan Ramadhan, masjid kuno tersebut masih tetap menarik. Bukan saja bagi wisatawan manca negara, tetapi juga para peziarah domestik banyak berdatangan ke tempat tersebut. Banyak wisatawan lokal yang nampak khusuk membaca Alquran di sisi gapura yang berada di dalam masjid. Sengaja mendekati gapura tersebut dengan maksud agar lebih khusuk ketika berdoa. Gapura yang berada dalam masjid tersebut tetap kokoh seperti bentuk aslinya yang kaya nilai historis.

Pada Ramadhan, Masjid Menara Kudus ramai dikunjungi umat Muslim dari berbagai penjuru tanah air. Tak terkecuali para pedagang pun memanfaatkan momentum bulan suci itu untuk meraih keuntungan sambil menjajakan dagangannya di seputar kawasan masjid bersejarah tersebut.

Banyak di antara peziarah memanfaatkan Ramadhan ini selain untuk beritikaf, juga menziarahi makam Sunan Kudus yang lokasinya di sisi barat masjid tersebut. Usai membaca Alquran dan berdoa, para peziarah mengambil wudhu di kolam bagian luar kompleks makam yang terkenal dengan air sejuknya.

Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Masjid ini kini menjadi salah satu tempat bersejarah penting bagi umat Islam di Jawa.

Menurut sejarahnya, masjid tersebut berdiri pada 956 Hijriah atau 1549 Masehi dengan nama Masjid Al-Aqsa. Tempat itu dinamakan sama dengan salah satu masjid di Palestina yang kini tetap menjadi perhatian internasional itu.

Menurut kajian historis, adalah Raden Ja`far Sodiq (kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus) yang pernah membawa kenangan berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis di Palestina untuk batu pertama pendirian masjid yang kemudian diberi nama masjid Al-Aqsa di Kudus itu.

Belakangan justru masjid tersebut populer dengan panggilan Menara Kudus. Hal ini lantaran merujuk pada menara candi di sisi timur yang memakai arsitektur bercorak Hindu Majapahit.

Ketika Islam masuk ke Nusantara, memang dengan bijak para penyebar Islam menghargai tradisi leluhur yang dijumpai sambil memperkenalkan ajaran Al Quran. Sehingga, antara agama dan budaya setempat saling menopang dan saling mengisi. Agama tak berkembang tanpa wadah budaya dan budaya akan hilang arah dan ruh tanpa bimbingan agama.

Keunikan bentuk masjid ini memang sulit dilupakan. Pasalnya, bentuk ini tak ada yang menyamai di seluruh dunia. Bentuk arsitekturalnya khas dan mempesona. Menurut salah seorang pengunjung, untuk menghormati pemeluk agama Hindu, warga yang bermukim di Kudus tidak menyembelih binatang sapi, mengingat binatang tersebut dalam Hindu dihormati bagi pemeluknya. Mereka taat dan masih memegang wasiat Sunan Kudus.

Menurut sebuah laman, yang ditulis Bambang Setia Budi, bangunan menara Kudus mempunyai ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 100 m persegi pada bagian dasar. Seluruh bangunan menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu. Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya.

Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen, namun konon dengan digosok-gosok hingga lengket serta secara khusus adanya selasar yang biasa disebut pradaksinapatta pada kaki menara yang sering ditemukan pada bangunan candi. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat soko guru yang menopang dua tumpuk atap tajuk.

Sedangkan di bagian puncak atap tajuk terdapat semacam mustoko (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada elemen arsitektur Jawa-Hindu. (MERIE / ADS)

UMKM Dicuekin Bank, Pilih Saja KUP

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Kudus H Musthofa selalu menyosialisasikan pentingnya Kredit Usaha Produktif (KUP) yang ditujukan bagi pelaku UMKM yang tidak difasilitasi perbankan. (ISTIMEWA)

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Kudus H Musthofa selalu menyosialisasikan pentingnya Kredit Usaha Produktif (KUP) yang ditujukan bagi pelaku UMKM yang tidak difasilitasi perbankan. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Pemerintah pusat melalui Pemkab Kudus melakukan terobosan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Terobosan tersebut yakni pemberian kredit tanpa agunan melalui program Kredit Usaha Produktif (KUP). Program tersebut menyasar pelaku usaha kecil, karena selama ini mereka tak tersentuh perbankan.

Program tersebut telah di-launching di Kudus pada 10 Maret 2015 lalu. Bahkan, Presiden RI Joko Widodo sudah mendapat penjelasan langsung dari Bupati Kudus H Musthofa, terkait KUP ini.

Presiden memerintahkan bupati untuk menjadikan Kudus sebagai pilot project nasional untuk program tersebut. Nantinya keberhasilan KUP di Kudus akan diberlakukan secara nasional, sebagaimana harapan presiden RI Jokowi.

Pemkab Kudus kini terus menyosialisasikan KUP. Termasuk ke beberapa daerah di Jawa Tengah. Bupati Kudus H Musthofa dalam setiap kesempatan mengatakan, KUP ini gagasan Presiden RI yang harus didukung untuk menumbuhkembangkan UMKM.

Karena ini menjembantani para pelaku usaha mikro dan kecil yang tidak tersentuh perbankan. Selain itu, dirinya ingin mengedukasi masyarakat tentang kesadaran dalam membayar pinjaman.

”Selama ini pelaku usaha dianggap memiliki kesadaran rendah dalam pengembalian pinjaman. Dengan KUP ini kita akan ubah untuk lebih bertanggung jawab terhadap kewajibannya,” terang bupati.

Bupati menjelaskan, KUP dibagi dalam empat kategori dengan maksimal pinjaman hingga Rp 20 juta. Plafon pinjaman ini dikenali dengan kartu KUP yang diterima peserta.

Untuk kartu merah maksimal pinjaman Rp 5 juta, hijau maksimal Rp 10 juta, biru maksimal Rp 15 juta, dan abu-abu maksimal Rp 20 juta.

”Ada proses yang jelas untuk menerima kartu KUP ini. Verifikasi dan validasi data dilakukan mulai dari tingkat RT. Sehingga penerima pinjaman jelas orangnya dan jelas usahanya,” tambahnya.

Bupati mengatakan bahwa KUP adalah solusi untuk menekan tingginya angka kemiskinan yang ada. Masyarakat diharap bisa menjadi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sehingga bisa mendapatkan kredit ini.

”Kita sudah berhitung mengenai kredit macet yang banyak dikhawatirkan. Hal itu semoga saja tidak terjadi. Karena kami sudah sedemikian rupa membentengi KUP ini. Caranya dengan melakukan validasi dari tingkat rukun tetangga (RT), desa atau kelurahan, hingga tingkat kecamatan,” jelasnya.

Termasuk juga Musthofa menegaskan bahwa tidak akan ada pihak-pihak yang kemudian dijadikan debt collector atau penagih utang, jika kemudian ada peminjam yang menunggak pinjaman. ”Itu sebabnya, validasi harus kita laksanakan dengan ketat. Setiap tingkatan harus ikut bertanggungjawab untuk melakukan validasi,” tegasnya.

Karena itu, masyarakat yang mendapatkan program KUP ini, harus memiliki kesadaran yang tinggi dalam melunasi pinjamannya. Jika itu terjadi, maka program ini tidak akan memerlukan juru tagih atau debt collector tadi. ”Kalau ada pelaku UMKM yang meminjam, yang mampu mengangsur tapi tak mau melakukannya, saya yakin akan ada sanksi sosial dari masyarakat sekitar,” katanya. (MERIE/ADS)

Air Salamun, Sebuah Tradisi Menghargai Alam 

Pemuda yang ada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, sedang mengarak Air Salamun, dalam tradisi memperingati malam Rabu terakhir di Bulan Sapar. Tradisi ini berlangsung setiap tahunnya, dan masih terjaga dengan baik. (ISTIMEWA)

Pemuda yang ada di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, sedang mengarak Air Salamun, dalam tradisi memperingati malam Rabu terakhir di Bulan Sapar. Tradisi ini berlangsung setiap tahunnya, dan masih terjaga dengan baik. (ISTIMEWA)

 

KUDUS – Banyak orang mengenal Kudus sebagai Kota Wali, atau juga Kota Kretek. Namun bukan itu saja, di sisi lain, Kudus juga banyak sekali tradisi kebudayaan yang masih terpelihara dengan baik.

Seperti tradisi Dandangan di Kampung Menara, tradisi Kupatan di Desa Sumber, tradisi ritual Mubeng Gapura Masjid di Desa Loram Kulon, juga tak kalah menarik adalah tradisi ritual Rebo Wekasan di Desa Jepang.

Acara yang digelar setahun sekali ini, tepatnya pada malam Rabu terakhir di Bulan Sapar (Tahun Hijriyah) dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai ritual ”tolak bala”, yakni ritual yang bertujuan menghindarkan diri dari petaka yang akan menimpa, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Jepang, di Kecamatan Mejobo, Kudus.

Aroma mistis dan sakral acara tersebut bertambah kental, karena pelaksanaannya digelar di sebuah masjid peninggalan para wali yang dikeramatkan. Masjid ini juga sudah termasuk sebagai bangunan cagar budaya dan eksistensinya dilindungi undang-undang.

Ritual Rebo Wekasan memang hanya bermuatan lokal. Namun sudah dua periode ini semakin meluas dan semarak. Panitia yang pada awalnya hanya terdiri dari kalangan pengurus masjid, kini sudah mulai ada keterlibatan dari pihak pemerintah, terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.

Pemerintah menilai bahwa ritual Rebo Wekasan merupakan salah satu aset kebudayaan yang dimiliki Kudus. Makna dari ritual Rebo Wekasan sangat tinggi, antara lain adalah mencerminkan nilai religiusitas, persatuan dan penghargaan terhadap alam. Pemerintah juga berharap, gelar tradisi ritual tersebut menjadi salah satu daya tarik wisatawan.

Semaraknya acara tersebut sudah bisa dirasakan sejak H-5, diawali dengan ziarah kubur para wali, kemudian disusul beragam acara, seperti: bazaar, pentas seni, pengajian dan akhirnya ditutup dengan gelar kirab budaya. Rombongan kirab budaya bergerak mengelilingi desa dengan jarak tempuh sekitar 5 km, dimulai dan berakhir di halaman masjid wali Al Makmur.

Peserta kirab sudah tertata rapi, dengan pakaian tertentu yang mencerminkan semua elemen masyarakat. Mulai dari pengusaha, buruh, pelajar dan juga komunitas-komunitas masyarakat yang ada, seperti: karangtaruna, paguyuban petani dan perwakilan-perwakilan masjid dan mushala seantero Desa Jepang.

Masing-masing kelompok membawa atribut dan kreasinya, seperti: gunungan yang berisi hasil bumi, miniatur masjid, penokohan seorang figur sesepuh desa pada jaman dahulu, figur alim-ulama yang disegani, hingga visualisasi para iblis dan simbol berbagai penyakit yang seolah-olah telah siap menjangkiti masyarakat.

Sebagai acara puncak, selepas Maghrib, mulai terdengar gemuruh warga yang bernondong-bondong mendatangi masjid wali untuk mendapatkan berkah ‘Air Salamun’, air keselamatan. Inti acara tersebut adalah pembagian Air Salamun. Air tersebut diambil dari sumur wali yang merupakan sumur peninggalan para wali. Setelah sebelumnya dibumbui bacaan doa-doa oleh para kyai dan para santri, dilengkapi dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an sampai khatam 30 juz.

Masyarakat mempercayai bahwa dengan meminum Air Salamun, maka seluruh jasmani dan rohani kembali dibersihkan. Demikian juga segala penyakit disingkirkan. Air Salamun juga seringkali dibawa ke rumah sebagai ‘tolak bala’ di rumah, dan sebagian lagi disebar di area pertanian dan persawahan agar tanah membuahkan kesuburan.

Kearifan lokal seperti halnya melestarikan tradisi, ziarah wali dan penghargaan terhadap air, patutlah kita tumbuh kembangkan agar tercapai keseimbangan hidup, manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. (MERIE / ADS)