Kita yang Menunggu Bencana Akibat Gundulnya Hutan Kendeng

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

BENCANA alam benar-benar mengancam. Di musim hujan seperti sekarang, ancaman tersebut nyata dan terasa dekat. Mulai dari longsor, banjir bandang, dan angin kencang. Yang terbaru adalah banjir bandang  di Wonosoco, Undaan, Kudus, Jumat (20/1/2017). Banjir bandang mengakibatkan satu orang warga terseret arus. Korban tersebut akhirnya ditemukan tewas dua hari kemudian. Korban merupakan salah satu warga kecamatan tersebut yang sedang menikmati keindahan Wonosoco. Tapi tiba-tiba banjir bandang datang dan menghanyutkannya.

Miris, di kota yang telah belajar akibat banjir besar Januari 2014, ternyata bencana kembali terjadi. Lingkungan alam yang seharusnya dipedulikan dengan baik, seolah kembali dilupakan. Pascabanjir 2014, masing-masing telah bertekad menjaga alam, di mana mereka berada. Hasilnya, bencana alam skala besar tak lagi melanda. Kini, ancaman itu datang lagi. Di antara pemicunya yang tampak adalah gundulnya hutan di pegunungan Kendeng. Termasuk di ataranya adalah hutan yang ada di Wonosoco.

Dari data yang ada, wilayah hutan lindung milik Perhutani di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus mencapai 365,2 hektare. Hutan lindung itu masuk wilayah Perhutani BPKPH Penganten. Dengan jumlah lahan hutannya, total sekitar 2.334,3 hektare. Tidak sedikit dari jumlah lahan Perhutani yang rusak. Bahkan di Wonosoco saja, dari total lahan 365,2 hektare, yang rusak mencapai 70 persen.

Kondisi memprihatinkan itu di antaranya akibat ditanami tanaman semusim seperti halnya jagung. Tanaman semusim itu sangat menguntungkan penggarap, tapi merugikan lingkungan dan ekosistem hutan. Yang jelas, tanaman semusim tak mampu menyerap air. Maka saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air tak terserap. Air pun akan menjadi banjir bandang. 

Sebenarnya, tanaman yang diperbolehkan ditanam di area hutan adalah tanaman buah yang memiliki jenis pohon keras, semisal mangga. Penggarap lahan juga diperbolehkan menanam empon-empon: jahe, kencur, dan kunyit.  Syaratnya mereka tak merusak tanaman keras yang telah ada. Perhutani setempat juga fokus memelihara trembesi yang ditanam tahun lalu. Tapi belakangan, beberapa kali menanam, pohonnya rusak terus. Dahannya atau bahkan batang pohon banyak yang dipotong demi tanaman semusim.

Perhutani juga telah giat melakukan Operasi Penyelamatan Gunung Kendeng. Salah satu hasilnya adalah ditemukan 10 petani tanaman semusim, beberapa hari lalu. Mereka bukan warga Undaan, melainkan warga Sukolilo Pati. Mereka diminta untuk menandatangani surat pernyataan. Surat berbunyi untuk tak menggunakan lahan guna melakukan tanaman semusim. Patroli kerap dilakukan juga untuk kampanye penyelamatan wilayah Kendeng. Sasarannya adalah pembalakan hutan dan juga alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan pertanian semusim. Selain itu, cara patroli dianggap mampu membuat jera perusak hutan.

Selain berpatroli, juga dilakukan kegiatan pemasangan papan peringatan di sejumlah titik hutan. Jumlah papan peringatan ada 40 papan, dengan tulisan larangan penggarapan lahan, larangan penebangan pohon dan juga larangan pengrusakan tegakan.

Upaya Perhutani giat menjaga hutan memang tampak hasilnya. Yakni selama 2016, banjir bandang tak terjadi di Wonosoco. Tapi awal 2017, justru itu terjadi lagi. Dan ironisnya, ada warga yang jadi korban jiwa.

Kini kondisi hutan di pegunungan itu sudah memprihatinkan. Pengawasan dan patroli sudah sering dilakukan. Tapi jumlah petugas yang kurang dari 20 orang, membuat kewalahan. Jumlah petugas yang tak sebanding dengan luas lahan hutan, jelas menjadi kendala serius. Karenanya, dibutuhkan kesadaran masyarakat dan bantuan pihak terkait lainnya.

Mari bersama menjaga hutan Kendeng. Pihak terkait dan warga seyogyanya menjaga bersama keberlangsungan hutan. Jangan hanya mementingkan urusan perut yang justru malah mengorbankan kepentingan umum. Mari berpikir jauh ke depan.

Kini, hujan yang terus turun saat ini memang jadi ancaman bencana. Tapi tekad untuk memperbaiki hutan, tetap harus digelorakan semenjak sekarang. Setidaknya, pelestarian hutan yang dilakukan sekarang akan membuat anak cucu kita tak lagi terancam bencana alam. Mari!  (*)

Gawat, 70 Persen Hutan di Pegunungan Kendeng Gundul

 Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto, kanan tampak salah satu sudut hutan di wilayah kerjanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)


Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto, kanan tampak salah satu sudut hutan di wilayah kerjanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pegunungan Kendeng mengalami kondisi gundul dengan jumlah tak sedikit. Tercatat, pegunungan yang membentang di sejumlah kabupaten itu mengalami kegundulan hingga 70 persen.

Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto mengatakan, dari luasan 2.334,3 hektare hutan di area BKPH Penganten, 70 persen di antaranya gundul.”Sebagian habis karena pembalakan liar dengan jumlah besar-besaran. Sedangkan sebagian lainnya alih fungsi menjadi lahan pertanian semusim. Dan itu yang paling banyak adalah tanaman semusim,” katanya di Kudus, Selasa (24/1/2017).

Menurutnya, saat ini kondisi pegunungan masih memprihatinkan. Banyaknya tanaman semusim jenis jagung, menjadi penyebab banjir bandang yang terjadi Jumat (20/1/2017) lalu. Sebab, tanaman jagung tak kuat menahan air sehingga air langsung turun dengan cepat. Sebenarnya pengawasan dan patroli sudah sering dilakukan petugas. Namun dengan jumlah petugas yang kurang dari 20 orang, membuat mereka kewalahan.

Apalagi mengingat jumlah luasan hutan. Karena itu dibutuhkan kesadaran masyarakat dan bantuan pihak terkait lainnya.”Kalau masyarakat Kudus khususnya Wonosoco dan sekitarnya sudah bagus. Kami berharap bantuan dari wilayah lainnya, sebab dari jumlah hutan terdapat 365,2 hektare yang merupakan kawasan hutan lindung dan selebihnya hutan produksi,” ujarnya.

Tentang pembalakan liar, dia menyebutkan sudah tidak dijumpai selama beberapa bulan terakhir. Hal itu dianggap wajar, karena hutan sudah habis ditebang oleh pembalak. Sementara bekas pembalakan menjadi pertanian semusim.

Editor : Akrom Hazami

Hutan Grobogan Masih Belum Bebas dari Pencuri

 

Petugas Perhutani KPH Purwodadi saat memeriksa salah satu pohon di kawasan hutan yang dicuri bulan Desember 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Petugas Perhutani KPH Purwodadi saat memeriksa salah satu pohon di kawasan hutan yang dicuri bulan Desember 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri meminta anak buahnya untuk terus meningkatkan kinerja. Prestasi yang sudah diraih sepanjang tahun 2016 diminta untuk terus ditingkatkan. Sedangkan hal-hal yang masih kurang harus bisa diperbaiki pada tahun 2017 ini.

“Dalam bekerja sudah tentu tidak bisa sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, semuanya harus semangat dan saling bekerjasama supaya kinerja tahun 2017 ini lebih baik dari sebelumnya,” kata Damanhuri saat menyerahkan surat perintah kerja tahun 2017 pada para kepala BKPH (Asper) yang dilangsungkan di aula kantornya, Kamis (12/1/2017).

Menurutnya, dalam kinerja tahun lalu, terjadi angka penurunan kasus pencurian kayu sekitar 11 persen. Pada tahun 2015, ada 490 pohon yang dicuri dengan nilai kerugian sekitar Rp 252 juta. Sedangkan pada tahun 2016, ada 436 pohon di kawasan hutan yang digasak orang dengan nilai kerugian Rp 129 juta.

Dikatakan, dengan total pegawai sebanyak 236 orang memang belum ideal untuk menangani kawasan hutan yang ditangani seluas hampir 20 ribu hektare. Meski demikian, berbagai upaya terus dilakukan untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan tersebut.

Antara lain melibatkan berbagai instansi terkait lainnya dan juga pemerintah daerah di wilayah kawasan hutan. Kemudian, pihaknya juga menggandeng masyarakat sekitar untuk ikut menjaga dan melestarikan kawasan hutan. Salah satunya melalui pembentukan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

“Untuk menjaga dan melestarikan kawasan hutan kita libatkan berbagai komponen, termasuk masyarakat sekitar. Kerja sama dengan masyarakat ini hasilnya positif,” kata Damanhuri didampingi Wakil Administratur Ronny Merdyanto.

Disamping itu, upaya lainnya yang dilakukan adalah menyampaikan serangkaian penyuluhan pada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Dengan keberadaan hutan akan membawa banyak manfaat buat masyarakat luas.“Lewat penyuluhan seperti ini, pelan-pelan kesadaran untuk ikut menjaga kelestarian hutan muncul,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Lagi Asyik Judi Dadu Kopyok di Teras Rumah, Tiga Warga Rembang Diciduk Polisi

Judi Dadu
MuriaNewsCom, Rembang – Tiga orang warga Rembang yang lagi asyik judi dadu kopyok, digerebek oleh Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Rembang.

Menurut informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, ketiga warga yang diciduk ialah M (41) warga Desa Waru Kecamatan/ Kabupaten Rembang, S (57) warga Desa Kaliombo Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, dan NIL (20) warga Desa Pasedan Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.

Ketiganya digerebek ketika sedang melakukan tindak pidana perjudian menggunakan dadu di teras rumah Karno turut Desa Kaliombo Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, Minggu (24/1/2016) sekitar pukul 15.00 WIB.

Barang bukti yang diamankan, di antaranya 6 buah mata dadu, sebuah tempurung batok, alas mata dadu yang terbuat dari seng yang diberi karet dan ban warna hitam, selembar beberan berwarna putih merah, sebuah layar berwarna biru, dan uang tunai sebesar Rp 670 ribu.

Kasubag Humas Polres Rembang, AKP Hariyanto ketika dihubungi pada Senin (25/1/2016) membenarkan adanya penangkapan tersebut. ”Benar, ketiganya ditangkap karena melakukan tindak pidana perjudian jenis dadu dengan menggunakan taruhan uang,” ungkapnya.

Menurutnya, penggerebakan tersebut dilakukan setelah ada informasi dari masyarakat. Tak menunggu lama anggota Sat Reskrim Polres Rembang langsung melakukan penggerebekan di lokasi dan menangkap tiga orang tersangka bersama barang buktinya.

”Atas perbuatannya ketiga tersangka dijerat dengan pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu

Biar Lebih Trengginas, Penjaga Hutan KPH Purwodadi Dibekali Motor Gres

Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri saat penyerahan motor dinas secara simbolis, Kamis (17/12/2015). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri saat penyerahan motor dinas secara simbolis, Kamis (17/12/2015). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Raut ceria terlihat dari wajah para pegawai Perum Perhutani KPH Purwodadi yang selama ini berada di garis depan dalam pengamanan kawasan hutan. Hal ini seiring adanya penyerahan kendaraan dinas baru buat para pengemban tugas berat tersebut.

Kendaraan yang diserahkan berupa sepeda motor tipe trail. Jenis kendaraan dinas ini dinilai paling cocok untuk melaksanakan patroli, terutama di kawasan hutan yang punya medan cukup sulit.
Motor trail ini nantinya dipakai oleh Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (KBKPH) Perhutani atau Asper dan Kepala Resot Pemangkuan Hutan (KRPH).

”Total ada 40 kendaraan dinas roda yang kita serahkan pada petugas. Sebanyak 8 motor dipakai Asper dan 32 kendaraan lainnya kita serahkan buat KRPH,” jelas Administratur Perum Perhutani KPH Purwodadi Damanhuri saat penyerahan motor dinas secara simbolis, Kamis (17/12/2015).

Damanhuri berharap agar dengan adanya kendaraan dinas baru itu bisa memacu semangat petugas dalam mengemban tanggung jawabnya. Terkait masih adanya aksi pencurian kayu, ia meminta para petugas agar lebih bersiaga ketika melaksanakan tugas pengamanan lokasi teritorialnya masing-masing. Meski statusnya milik dinas, namun para petugas diminta merawat kendaraan itu seperti miliknya sendiri. (DANI AGUS/TITIS W)

Pramuka Dituntut Peduli Hutan dan Lingkungan

Pelantikan PengurusDewan Satuan Karya Wanabakti periode 2015-2017 di Pangkalan Perum Perhutani KPH Purwodadi (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

Pelantikan PengurusDewan Satuan Karya Wanabakti periode 2015-2017 di Pangkalan Perum Perhutani KPH Purwodadi (MuriaNewsCom/DANI AGUS)

GROBOGAN – Pramuka hendaknya tidak hanya peduli pada bidang sosial, akademik, dan ketrampilan saja. Tetapi juga harus dituntut untuk peduli terhadap kelestarian hutan dan lingkungan alam disekitarnya. Lanjutkan membaca

Ada-ada Saja, Takut Dirazia Pilih Berjudi di Hutan

Kapolsek Sale AKP Isnaeni. (MURIANEWS/AHMADFERI)

REMBANG – Aparat kepolisian sukses mengungkap modus baru aksi perjudian di kawasan hutan. Modus anyar ini terungkap setelah polisi menggerebek arena judi dadu di wilayah Hutan Ngandang Desa Sumbermulyo Kecamatan Sale, pada Minggu (17/5/2015) sore kemarin. Namun sayangnya, polisi hanya mampu menangkap seorang pelaku berinisial Shd (34) saja yang merupakan warga setempat.

Lanjutkan membaca