Jangan Diskriminasi Korban Trafficking

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati Sunartopo menanggapi kasus trafficking yang terjadi di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati Sunartopo menanggapi kasus trafficking yang terjadi di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sekolah diminta untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap korban trafficking. Apalagi sampai mengeluarkan dari sekolah. Pasalnya siswi bukan bertindak asusila, tetapi posisinya menjadi korban.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati Sunartopo mengatakan, pihak sekolah mesti jeli untuk membedakan apakah siswi melakukan tindak asusila atau posisinya sebagai korban.

”Siswi itu menikmati atau tidak, mestinya harus dilindungi. Kalau ternyata siswi itu menikmati hasil uang dan merasa nyaman dengan menjadi korban trafficking, pihak sekolah juga perlu melakukan kajian. Bagaimanapun, dia merupakan anak yang harus dilindungi,” kata Sunartopo, Kamis (14/4/2016).

Ia berpendapat, anak yang menjadi korban trafficking perlu mendapatkan pendampingan, bukan malah didiskriminasi. Dengan begitu, mereka bisa kembali semangat bersekolah tanpa mendapatkan perlakuan diskriminasi dari institusi sekolah.

Terkait dengan kasus yang menjadikan SN (17), siswi salah satu MA di Pati yang menjadi korban trafficking, pihaknya sudah memastikan tidak ada diskriminasi. ”Anaknya beberapa waktu lalu sudah mengikuti ujian nasional. Tidak ada masalah, dia tidak dikeluarkan,” katanya.

Bila perlu, lanjut Sunartopo, korban bisa datang ke RSUD Soewondo untuk konsultasi psikis secara gratis. BPPKB Pati sudah bekerja sama dengan RSUD Soewondo untuk menangani psikis korban akibat kekerasan seksual, termasuk trafficking.

Editor: Merie

Awas, Jaringan Perdagangan Anak di Pati Disebut Profesional

Kuasa hukum orangtua SN, korban perdagangan anak, Djunaedi tengah menjelaskan persoalan trafficking di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kuasa hukum orangtua SN, korban perdagangan anak, Djunaedi tengah menjelaskan persoalan trafficking di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ini barangkali baru sebatas dugaan. Namun juga perlu diwaspadai oleh semua pihak, termasuk para orang tua yang memiliki anak yang masih di bawah umur.

Pasalnya, perdagangan anak di bawah umur yang menjadikan SN (17), siswi dari salah satu madrasah aliyah (MA) di Pati sebagai korban, diduga melibatkan sebuah jaringan teroranisir.

Hal itu dikatakan Djunaedi, kuasa hukum orangtua korban. Dia menduga, pelaku yang menjual SN kepada tamu hotel, juga melibatkan sebuah jaringan atau sindikat yang terorganisir.

”Dari informasi yang saya himpun, pelaku mengaku membagi-bagikan uang hasil penjualan SN. Itu artinya, ada semacam jaringan yang terlibat,” ujar Djunaedi yang ditemui MuriaNewsCom, Rabu (13/4/2016).

Fakta mengejutkan lainnya, korban ternyata sudah berkali-kali dijual pelaku untuk melayani tamu di hotel. Dalam satu hari saja, korban mengaku melayani pria hidung belang hingga dua orang.

”Korban sempat mengaku melayani paling tidak dua orang dalam sehari. Itu artinya, kejadian itu berulang kali terjadi. Sehingga kami duga ada jaringan perdagangan orang yang sudah mapan di Pati,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya akan melakukan kajian mendalam untuk membongkar jaringan kejahatan perdagangan orang di Pati tersebut. ”Jangan sampai di Pati ada sarang perdagangan anak, yang merusak masa depan pelajar untuk kepentingan bisnis,” tegasnya.

Hingga berita ini turun, korban masih belum diketahui keberadaannya. Ada yang menduga, korban sengaja diamankan dan ”di-cut” sejumlah pihak, agar jaringan perdagangan orang di Pati tidak terbongkar.

Editor: Merie

Giliran Orang Tua Korban Trafficking Anak di Bawah Umur Tuntut Hotel Safin Pati

Kuasa hukum orangtua korban trafficking di Pati, Djunaedi memberikan keterangan pada awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kuasa hukum orangtua korban trafficking di Pati, Djunaedi memberikan keterangan pada awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Orangtua SN, korban perdagangan anak di bawah umur yang mencatut nama “Andro” menuntut kepada Hotel Safin Pati. Tuntutan itu diserahkan kepada kuasa hukumnya, Djunaedi.

Djunaedi saat ditanya MuriaNewsCom, Senin (11/4/2016) mengatakan, pihaknya sudah ditunjuk orang tua korban sebagai kuasa hukum untuk menangani dan menyelesaikan persoalan yang menjadikan anaknya sebagai korban trafficking.

“Dari orang tua korban mengajukan tuntutan kepada Manajer Hotel Safin atau pihak-pihak lainnya terkait dengan penjualan diri anak orangtua,” ujarnya.

Baca juga : Miris! Siswi Madrasah Aliyah di Pati Diduga Dijual untuk Pria Hidung Belang

Ia mengatakan, pelaku harus dihukum seberat-beratnya karena sudah memperdagangkan anak di bawah umur sebagai alat pemuas nafsu. Itu sebabnya, kasus itu diminta diusut tuntas supaya kasus serupa tidak terjadi lagi.

Sementara itu, orang tua korban mengaku kaget dengan peristiwa yang menimpa anaknya. “Saya hanya bisa nangis. Suami saya merantau di Sumatera. Saya minta keadilan ditegakkan dan usut tuntas pelaku, serta orang-orang yang terlibat,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda Jateng menangkap tangan Andro yang diketahui menjajakan pelajar salah satu madrasah aliyah (MA) di Pati kepada tamu di Hotel Safin. Kasus itu berbuntut panjang, mulai dari aksi demonstrasi hingga tuntutan kepada pihak manajemen.

Editor : Akrom Hazami

 

Baca juga : Hotel Safin Pati Dituntut Tutup oleh Santri 

Bejat! Pelaku Menjual Dua Siswi di Pati kepada Pria Hidung Belang Melalui Media Sosial

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Prostitusi online mulai merambah ke Pati. Dua gadis di bawah umur yang statusnya masih belajar di salah satu sekolah di Pati terlibat prostitusi online yang ditawarkan untuk menemani pria hidung belang di salah satu hotel di Pati.

M, gadis yang masih berusia 16 tahun merupakan lulusan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2014. Sementara itu, SN yang berusia 17 tahun diketahui masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Menurut pengakuan pelaku, Andro, kedua korban dijajakan melalui media sosial. Setelah pembeli tertarik dengan foto yang dipajang di media sosial, pembeli mengontak pelaku.
Dari situ, peran pelaku melantarkan pembeli dan korban. Tempat untuk bersenggama laiknya suami istri ditentukan pembeli dan dibayar oleh pembeli.

”Dari hasil pengakuan pelaku, ia menawarkan korban melalui media sosial. Tempat yang menentukan pelanggan dan yang banyak pelanggan,” ujar Dir Reskrimum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Gagas Nuraha kepada MuriaNewsCom.

Yang lebih bejat lagi, korban dipaksa untuk melayani persetubuhan dengan pelaku dengan cara diancam akan disebarluaskan perbuatan korban kepada keluarga maupun masyarakat.
”Persetubuhan pelaku dengan para korban dilakukan di hotel, setelah tamu pergi,” imbuhnya.

Saat ini, pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan mengambil keterangan dari para saksi, korban dan tersangka. ”Kasus ini akan terus kami dalami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Siswi di Pati yang Dijadikan PSK Dihargai Rp 700 Ribu untuk Tamu Hotel

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Pati – Ironis. Perdagangan anak di bawah umur untuk dijajakan kepada pria hidung belang mulai merambah ke Pati. Salah satunya, kasus perdagangan orang yang dilakukan Andro yang melibatkan dua siswi di salah satu sekolah di Pati.

Andro mengaku, dua siswi tersebut dihargai Rp 700 ribu oleh tamu di salah satu hotel di Pati. Sebanyak Rp 500 ribu diberikan kepada korban, sisanya Rp 200 ribu diminta Andro sebagai imbalan.

”Rabu (23/3/2016) sekitar pukul 19.00 WIB lalu, kita bersama dengan Satgas Perlindungan Anak Jawa Tengah menangkap tangan pelaku yang diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dengan dua korban berinisial M berusia 16 tahun dan SN berusia 17 tahun. Pelaku kami tangkap di salah satu hotel berbintang di Pati,” ujar Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jateng AKBP Sri Susilowati kepada MuriaNewsCom.

Dari hasil pengakuan pelaku, kata dia, setiap melayani tamu, korban mendapatkan Rp 700 ribu sekali transaksi. Sementara itu, pelaku mendapatkan Rp 200 ribu. ”Pelaku juga mengaku, tempat yang menentukan pelanggan. Tempat juga yang membayar pelanggan. Jadi, pelaku dan korban terima bersih,” imbuhnya.

Pelaku diancam dengan Pasal 76 i jo Pasal 88 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 2 jo 17 UU RI Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman pidana paling singkat tiga tahun dan selama-lamanya 15 tahun.

Editor : Titis Ayu Winarni