FOTO : “Kudus Semarak Tanpa Hoax”

Warga ikut mengkamapanyekan anti hoax dengan tema Kudus Semarak Tanpa Hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom,Kudus – Maraknya berita bohong (Hoax) di media sosial membuat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus melakukan kampanye Anti Hoax dengan tema “Kudus Semarak Tanpa Hoax” di acara Car Free Day (CFD) di Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/4/2017).

 

Berikut ini foto-foto kegiatan kampanye anti hoax yang diprakarsai PWI Kudus.

 

 

 

Sekda Kudus Noor Yasin bersama beberapa pejabat di lingkup Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning bersama beberapa awak media. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Anak-anak pun ikut mengkammpanyekan anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Sekda Kudus Noor Yasin (empat dari kiri) bersama pejabat di lingkup Pemkab Kudus dan Ketua PWI Kudus Saiful Anas (kiri) mengkampanyekan “Kudus Semarak Tanpa Hoax” (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Kepala Disbudpar Kudus Yuli Kasiyanto bersama beberapa pejabat menoerhkan tanda tangan untuk mendukung kampanye anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Warga ikut membubuhkan tanda tangan untuk mendukung kampanye anti hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

Salah satu penampilan komunitas pantonim Kudus dalam acara Semarak Kudus Tanpa Hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

 

 

Pikir Ulang Jika Mau Sebarkan Hoax, Ini Peringatan dari Polisi

Kapolres Kudus AKPB Agusman Gurning (tengah) saat foto bersama. Ia menegaskan bahwa ada ancaman pidana bagi masyarakat yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoax. (MuriaNewsCom/Kholistiono)

MuriaNewsCom, Kudus – Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning  mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Ia menegaskan bahwa ada ancaman pidana bagi masyarakat yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoax, yang berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat.

“Bagi Anda yang suka mengirimkan kabar bohong (hoax), atau bahkan cuma sekadar iseng mendistribusikan (forward), harap berhati-hati. Ancamannya tidak main-main, bisa kena pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar,” ujar Kapolres dalam acara kampanye anti hoax yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kudus di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (16/4/2017).

Dia menjelaskan, pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

Baca juga : Jangan Asal Share Berita Tidak Jelas, Yuk Jadi Pembaca yang Cerdas

 

Oleh karena itu, pihaknya mengingatkan kepada pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu demikian tidak melakukan lagi.

Kapolres meminta masyarakat selektif terhadap informasi yang mereka terima. Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya dengan isu-isu yang berkembang di media sosial.

Editor : Kholistiono

Isu Penculikan Anak untuk Dijual Organnya di Pati Dipastikan Hoax

Muspika Trangkil menyampaikan kepada para kepala desa terkait isu peletan. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Pati saat ini dibayang-bayangi dengan adanya isu penculikan anak yang akan dijual bagian organ tubuhnya. Akibatnya, masyarakat mencurigai orang asing yang ada di kampungnya, seperti pengemis, gelandangan, atau pengamen.

Kendati imbauan dari pihak kepolisian untuk tidak main hakim sendiri sudah dilayangkan, sejumlah masyarakat masih terbawa itu tersebut. Hal itu yang membuat Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum menyampaikan informasi tersebut dalam rapat koordinasi kecamatan (rakorcam) di Trangkil.

Dalam rakorcam yang dihadiri musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), kepala dinas se-Kecamatan Trangkil, para kepala seksi, dan para kades tersebut, AKP Sulis menyampaikan bahwa isu penculikan anak yang akan dijual organ tubuhnya merupakan berita bohong. “Isu itu tidak benar. Mohon bila ada masyarakat yang tidak dikenal dan mencurigakan, lapor saja polisi jangan main hakim sendiri,” pesan Sulis di Pati.

Di wilayah Wedarijaksa, Trangkil dan sekitarnya, lanjut Sulis, masyarakat sudah lama mengenal penculik anak dengan istilah peletan. Seorang peletan diisukan mengincar anak-anak untuk dijual, baik untuk persembahan ritual maupaun dijual organ tubuhnya dengan harga yang fantastis di pasar gelap.

“Isu ini menyebar luas dari mulut ke mulut, sehingga tidak jarang orang asing banyak yang dicurigai. Waspada itu perlu dan sangat kami sarankan. Tapi, jangan sampai main hakim sendiri, serahkan saja kepada polisi,” pesannya.

Sementara itu, Camat Trangkil Teguh Suwito mengaku sudah menginformasikan isu itu kepada masing-masing kepala desa. Para kepala desa diharapkan bisa memberikan edukasi kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri. Bila ada orang asing dengan gelagat mencurigakan, dia meminta menyerahkannya kepada pihak berwajib.

Editor : Akrom Hazami

Antisipasi Info Hoax, Guru dan Wali Murid SD Al Firdaus Purwodadi Dapat Tips dan Trik Keren

Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo saat menyampaikan sosialisasi cara bijak menggunakan medsos pada wali murid dan guru SD Al Firdaus Purwodadi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ratusan guru dan wali murid SD Al Firdaus Purwodadi mendapat pembekalan khusus terkait penggunaan media sosial (medsos) dari Polres Grobogan, Sabtu (25/2/2017). Acara pembekalan disampaikan Paur Humas Polres Grobogan Aiptu Teddy Hernomo tersebut.

“Seperti kita ketahui, medsos ini sudah digunakan oleh berbagai kalangan. Mulai anak-anak sampai orang tua sudah akrab dengan dunia medsos,” kata Teddy.

Hadirnya medos di satu sisi memang banyak sekali manfaatnya. Seperti menambah teman, memperluas jaringan, dan mencari berbagai informasi.

Namun, disisi lain, banyak pula hal-hal negatif yang ada di balik medsos tersebut. Misalnya, banyak berita tidak benar atau hoax yang sering muncul dalam medsos.

“Keberadaan medsos memang seperti dua mata pisau. Banyak manfaat dan juga ada dampak negatifnya. Hal inilah yang harus jadi perhatian kita bersama,” jelasnya.

Untuk menekan dampak negatif, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memberikan pemahaman tentang keberadaan media sosial tersebut. Termasuk peraturan perundangan yang mengatur masalah tersebut.

Kemudian, hal-hal yang perlu dihindari dalam penggunaan media sosial juga perlu disampaikan. Misalnya, hati-hati berteman dengan akun atau grup yang tidak dikenal, menampilkan konten yang tidak sesuai dengan etika, dan menghujat seseorang.

Selain itu, butuh pula dukungan pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas yang dilakukan anaknya menggunakan fasilitas internet. Baik lewat komputer, laptop atau ponsel pintar.

“Penting bagi orangtua untuk dapat memastikan keamanan anak-anaknya saat berinteraksi di media sosial. Jangan biarkan begitu saja ketika anak sudah asyik main internetan,” sambungnya.

Terkait pengawasan dari orang tua tersebut juga terdapat kendala. Banyak orang tua yang justru tidak paham dengan dunia internet termasuk medsos. Bahkan, banyak pula yang tidak menggunakan ponsel canggih seperti yang dipakai anaknya.

“Nah, hal ini juga jadi persoalan tersendiri. Untuk pengawasan, kita juga bisa minta bantuan saudara lainnya yang lebih paham atau guru di sekolahan. Pada prinsipnya upaya pengawasan dan memberikan pemahaman perlu terus dilakukan,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami