Sapi Betina Produktif Tidak Boleh Dikurbankan

Sejumlah pedagang memajang hewan kurban untuk kebutuhan Idhul Adha di Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara mengimbau masyarakat tak mengurbankan hewan betina, pada Hari Raya Idhul Adha tahun ini. Hal itu untuk menjaga kesinambungan produksi sapi, kerbau ataupun kambing. 

“Ibaratnya kalau indukan sapi itu pabriknya dimatikan, kan tidak ada yang menghasilkan pedet (anak sapi),” ujar Prajoga Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, DKPP Jepara, Rabu, (23/8/2017).

Ia mengingatkan, hal itu sesuai dengan arahan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita, beberapa saat lalu ketika melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Donorojo, bulan Juli lalu.

Hal itu juga telah didasarkan pada landasan hukum yakni UU No 18/2009 juncto UU No 41/2014, Perda Kabupaten Jepara No 15/2011 dan Perbub Jepara No 36/2013 tentang peternakan dan kesehatan hewan. 

Menurutnya ada sanksi yang menyertai jika warga nekat menyembelih sapi atau kerbau betina yang tengah produktif. Selain kurungan penjara, adapula denda berupa uang sebesar lebih kurang Rp 50 juta, bagi mereka yang nekat melanggar peraturan. 

“Namun kenyataan di lapangan masih banyak ditemui kenyataan yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah dibuat,” kata dia. 

Prajoga berkata, meskipun sudah ada imbauan pelarangan penyembelihan sapi betina akan tetapi pihaknya masih mengalami kendala. Hal itu berupa insentif untuk tidak menyembelih. 

“Permasalahannya kalau tidak boleh dipotong (sapi betina) belum ada mekanisme penggantian. Misalnya sapi betina yang masih produktif dibeli pemerintah, lalu dipelihara itu belum ada hingga kini,” urainya. 

Dirinya menyebut, sapi betina baru boleh disembelih jika benar-benar tidak produktif. Hal itu juga harus didasarkan pada pemeriksaan medis, dan mendapatkan surat keterangan. 

“Kecuali kalau benar-benar sudah majir (tidak bisa bunting), sudah diperiksa dan memeroleh surat keterangan kesehatan reproduksi baru boleh dipotong. Kalau sapi betina diperjualbelikan sih boleh-boleh saja, asalkan tidak disembelih. Agar populasi sapi meningkat, dan kita bisa mencapai swasembada daging,” tutup Prajoga.

Editor: Supriyadi

Panitia Kurban di Grobogan Dibekali Cara Penyembelihan Hewan Kurban 

Puluhan panitia kurban di 19 kecamatan mengikuti sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban yang digelar Disnakkan Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekedar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, perhatian juga ditujukan pada masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya sebanyak 50 orang yang merupakan panitia kurban di 19 kecamatan.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan 

kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kepala Disnakkan Grobogan Riyanto, usai membuka pelatihan yang dilangsungkan di Rumah Kedelai Grobogan, Rabu (23/8/2017).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli dibidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 10 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad menambahkan, diakhir acara, peserta dibekali pelatihan tata cara merobohkan sapi. Dengan pelatihan model burley itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Melalui metode ini, untuk merobohkan sapi cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” katanya.

Editor: Supriyadi

Jelang Idhul Adha, DKKP Siap Pantau Lapak Hewan Kurban di Jepara

Pedagang hewan kurban di Jepara saat menawarkan barang dagangannya. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjelang Hari Raya Idhul Adha Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara akan melakukan pemantauan pada sejumlah lapak penjual hewan kurban. Selain itu, pasar hewan dan rumah warga yang memperjual belikan hewan kurban juga akan dipantau. 

“Mungkin nanti akan dimulai pada hari Kamis, Jumat atau Minggu kami akan melakukan pantauan ke lapak-lapak penjual hewan kurban yang ada di sekitar Kota Jepara,” ucap Prajoga Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, DKPP Jepara, Rabu, (23/8/2017).

Di samping itu ia mengatakan, pengawasan akan di lakukan di pasar-pasar hewan dan rumah yang menawarkan hewan kurban. Diungkapkan Prajoga, di Jepara ada tiga pasar hewan, yakni Mayong, Bangsri dan Keling. Untuk pemantauannya, ia akan memberdayakan petugas kesehatan hewan yang ada di tiap kecamatan. 

“Kami juga akan melakukan pantauan di rumah warga yang menyediakan hewan kurban. Contohnya di Sokolimo Bapangan, kan ada yang warga yang menawarkan hewan kurban tapi lokasinya berada di perumahan, nah disitu juga akan dilakukan pengecekan,” katanya. 

Menurutnya, pengecekan akan menitikberatkan pada kesehatan hewan kurban. Selain itu, petugas juga akan memeriksa kelayakan hewan sesuai syariat hewan yang bisa menjadi kurban. 

“Nanti akan kita lihat secara klinis (kasat mata) kesehatan hewan tersebut, ada atau tidaknya tanda penyakit. Setelahnya hewan yang telah diperiksa diberi penanda, berupa stempel. Selain itu kita juga lihat kelayakan hewan untuk dikurbankan, mulai dari pemeriksaan gigi tetap, dan sebagainya,” ujar dia. 

Selain pantauan kesehatan yang dilakukan pra hari raya, pihak DKPP juga akan mengawasi jalannya prosesi penyembelihan di berbagai masjid atau lingkungan. Hal itu berkaitan dengan pengawasan penyembelihan dan antisipasi adanya penyakit, seperti cacing hati. 

Editor: Supriyadi

Mau Berkurban? Ini Cara Milih Hewan yang Sehat 

Petugas dari Dinas Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus, memeriksa kondisi kesehatan hewan di Pasar Hewan, Jati, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Petugas dari Dinas Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus, memeriksa kondisi kesehatan hewan di Pasar Hewan, Jati, Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi masyarakat yang hendak membeli hewan kurban, hendaknya lebih teliti.  Agar hewan yang dibeli benar-benar sehat.

Berikut tips dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Di antaranya, jika hendak membeli, paling amannya adalah melihat tanda pada hewan yang terdapat pada leher.

Kabid Peternakan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Sa’diyah. Menurutnya hewan yang sudah dicek, diberikan keterangan khusus dengan tanda. Hal itu membantu masyarakat awam yang tidak paham tentang hewan.

“Satu persatu ada petugas yang memeriksa. Jika kesulitan membedakan maka bisa dilihat dari tandanya,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Selain itu, kata dia, warga bisa memilih hewan yang sehat dapat dilihat dari postur tubuh yang gemuk, padat dan berisi. “Selain itu dapat dilihat keaktifannya, dan dapat dilihat matanya apakah segar atau tidak,” ujarnya.

Penyakit yang terkadang muncul adalah cacing hati. Menurutnya, penyakit itu sulit teratasi. “Sebaiknya hewan diberikan obat cacing setiap tiga bulan atau empat bulan sekali. Karena penyakit dalam sudah dilihat,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Mau Menyembelih Hewan Kurban dengan Mudah? Begini Lho Caranya

Peserta sedang mencoba latihan cara merobohkan sapi dengan tambang. Pelatihan ini diadakan Disnakkan Grobogan, Senin (05/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Peserta sedang mencoba latihan cara merobohkan sapi dengan tambang. Pelatihan ini diadakan Disnakkan Grobogan, Senin (05/09/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang Hari Raya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekadar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja. Namun, masalah teknikpenyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih juga mendapat perhatian.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban di Aula Disnakkan, Senin (05/09/2016). Adapun pesertanya pelatihan adalah 50 orang panitia kurban dan kaur kesra (modin) di sejumlah desa.

“Melalui kegiatan ini, kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan  menjadikan hewan kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan Nur Ahmad Wardiyanto saat menyampaikan pelatihan kesejahteraan hewan (keswan).

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu, diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara merobohkan hewan sebelum disembelih, teknik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli di bidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari Kemenag, mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 7 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya.

Para peserta merasa terbantu dengan adanya pelatihan tersebut. Sebab, dengan pelatihan itu mereka bisa tahu teknik yang mudah saat merobohkan sapi sebelum dipotong.

Untuk merobohkan sapi, cukup pakai tambang dan butuh dua sampai tiga orang saja. Selama ini, untuk merobohkan sapi dengan metode tradisional butuh 10-15 orang yang terlibat.

“Kalau pakai teknik yang diajarkan ini, ternyata sangat mudah. Dengan model seperti ini, prosesnya jadi lebih cepat dan hewan yang akan dipotong tidak mengalami kesakitan terlalu lama,” kata Ahmad Nur Iksan, salah satu peserta pelatihan.

Editor : Kholistiono

Ini Ciri-ciri Hewan yang Baik untuk Dijadikan Kurban

 Puluhan sapi berada di kandang salah satu peternak yang ada di Kabupaten Rembang. Jelang Idul Adha, masyarakat diimbau untuk bisa mengenali ciri-ciri hewan yang sehat dan baik, jika mau dijadikan kurban. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Puluhan sapi berada di kandang salah satu peternak yang ada di Kabupaten Rembang. Jelang Idul Adha, masyarakat diimbau untuk bisa mengenali ciri-ciri hewan yang sehat dan baik, jika mau dijadikan kurban. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang menyebarkan petugas teknis untuk memantau hewan kurban. Itu dilakukan untuk memastikan ada tidaknya penyakit menular pada hewan tersebut menjelang Hari Raya Idul Adha.

“Petugas teknis sudah disebar untuk melakukan monitoring dan pengawasan terhadap hewan kurban yang akan dijual kepada masyarakat. Sampai hari ini, hewan kurban di wilayah kami, baik kambing maupun sapi, bebas dari penyakit menular, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Agus Iwan Haswanto, Kabid Peternakan pada Dintanhut Kabupaten Rembang, Sabtu (03/09/2016).

Agus melanjutkan, masyarakat atau pembeli harus mengetahui ciri-ciri hewan ternak baik untuk dijadikan sebagai kurban. Karena, salah satu faktor yang penting dalam ibadah kurban  adalah memberikan kurban yang terbaik.

” Adapun ciri hewan kurban yang baik untuk dikurbankan ialah, secara fisik, seperti sapi, kambing dan domba bisa melihat aktivitasnya. Bila pergerakannya aktif saat didekati itu berarti hewannya sehat. Gerak atau temperamennya bebas, lincah, kuat, bersemangat, tidak pincang, tidak gelisah, dan selera makannya bagus,” katanya.

Kemudian, jika bentuk tubuhnya juga harus standar. Pengertian standar untuk sapi dan kerbau, tulang punggungnya relatif rata, tanduknya seimbang, keempat kakinya simetris, dan postur tubuhnya ideal. Postur tubuh ideal yang dimaksud, misalnya kombinasi perut, kaki depan dan belakang, kepala, dan leher seimbang.

Jika dilihat dari medis kehewanan, ada beberapa ciri lain. Diantaranya yakni  suhu tubuh. Idealnya suhu tubuh hewan kurban tidak boleh lebih dari 37 derajat celcius. Jika ditemukan hewan dengan suhu tubuh di atas itu, hal itu dikategorikan tidak sehat.

Editor : Kholistiono

Hewan Kurban Asal Jepara Dikirim ke Luar Kota

Hewan kurban disiapkan mulai sekarang. (Istimewa)

Hewan kurban disiapkan mulai sekarang. (Istimewa)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Persebaran hewan kurban asal Jepara, rupanya banyak yang dikirim ke luar kota. Hal itu terungkap dari data Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jepara, Jumat (19/8/2016).

Kepala Distanak Jepara Wasiyanto mengatakan, pihaknya mendata jika persebaran hewan kurban dari daerahnya banyak yang dikirim ke luar kota.

“Saat Idul Adha, persebarannya tidak menentu. Banyak dari Jepara dikirim ke luar kota, maupun sebaliknya. Namun mayoritas hewan kurban di Jepara tetap berasal dari Jepara sendiri,” kata Wasiyanto.

Ia menambahkan, dari data yang tercatat di dinasnya, tahun lalu jumlah pemotongan hewan kurban untuk sapi sebanyak 1. 567 ekor, kerbau sebanyak 499 ekor, kambing sebanyak 4. 341 ekor, dan domba sebanyak 597 ekor. Meski begitu, praktik di lapngan diyakini lebih banyak karena tidak semua tercatat.

Dijelaskan pula, jumlah rumah pemotongan hewan di Kabupaten Jepara pada Idul Adha tahun ini diprediksi meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Alasannya, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang dinilai terus mengalami peningkatan.

Wasiyanto mengatakan, selain alasan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang meningkat, kesadaran untuk berkurban juga semakin lama semakin meningkat.

“Ya, berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat di Jepara yang juga terus meningkat. Prediksi peningkatan juga di dasarkan pengalaman dari tahun ke tahun,” ujar Wasiyanto.

Menurut dia, hampir setiap tahun terus menerus mengalami peningkatan meski jumlahnya tidak signifikan. Sehingga tahun ini juga diperkirakan mengalami peningkatan.

“Meski terus mengalami peningkatan, stok atau ketersediaan hewan kurban tidak ada kendala. Ketersediaan juga terus meningkat karena para penjual hewan kurban juga telah mempersiapkan ketersediaan untuk Idul Adha,” terangnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Desa Bringin Selama 17 Tahun Sembelih Hewan Kurban Milik Warga Singapura

Warga tampak bersiap menerima daging kurban di Dsa Bringan, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/

Warga tampak bersiap menerima daging kurban di Dsa Bringan, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

GROBOGAN – Ratusan hewan kurban yang disembelih hari ini di Desa Bringin, Kecamatan Godong, ternyata bukan milik warga setempat. Sebab, beberapa ekor sapi dan kambing kurban warga Bringin sudah dipotong sehari sebelumnya, Kamis (24/9/2015).

”Hewan kurban ini milik umat muslim dari Singapura. Kita di sini hanya dipercaya untuk melaksanakan penyembelihan dan pendistribusian daging pada masyarakat. Kita sudah 17 tahun melaksanakan kegiatan ini ,” terang Imam Masjid Nurul Huda Desa Bringin KH Nur Hamid didampingi Ketua Panitia Penyembelihan Ahmadun Alfaputra.

Dijelaskan, penyembelihan hewan kurban warga muslim Singapura itu pertama kali dimulai tahun 1998. Saat itu, hanya sekitar 10 ekor kambing saja yang dipotong. Karena pelaksanaannya dinilai baik dan panitia bisa dipercaya, jumlah hewan kurban terus bertambah dari tahun ke tahun.

”Semua proses penyembelihan ini terdokumentasi dengan baik dan kita laporkan pada perkumpulan muslim Singapura. Tahun ini, hewan kurban yang disembelih paling banyak dibandingkan sebelumnya,” ungkap Nur Hamid.

Menurutnya, beberapa umat muslim Singapura yang mengirimkan hewan kurban itu adalah temannya mengaji ketika masih merantau di Batam. Pada tahun 1998 itulah muncul gagasan untuk menitipkan hewan kurban agar dipotong di desanya. Niat baik itu disanggupi dan lantaran dinilai amanah, kepercayaan untuk menyembelih hewan kurban di Desa Bringin terus diberikan hingga saat ini.
”Kami memang berupaya untuk bisa mengemban amanah ini sebaik mungkin. Tahun depan, rencananya akan dikasih 500 ekor hewan kurban,” imbuh Ahmadun yang juga adik dari Nur Hamid itu. (DANI AGUS/TITIS W)

Di Rembang, Tim Pemantau Kesehatan Temukan Bakteri di Hewan Kurban

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Tim pemantau kesehatan hewan kurban Kabupaten Rembang menemukan bakteri di paru-paru sapi dan kambing yang disembelih untuk kurban di dua lokasi berbeda pada Kamis (24/9/2015). Tim langsung meminta kepada panitia kurban agar paru-paru yang tak higienis itu dimusnahkan dan tidak dibagikan kepada masyarakat.

“Selain bakteri yang ditemukan itu, hewan kurban selebihnya sehat. Sapi dengan temuan bakteri akibat radang paru-paru atau pneumonia kami temukan di SD IT Al Furqon, sedangkan kambing dengan temuan yang sama kami temukan di Perumahan Tireman. Semua sudah diafkir untuk dimusnahkan,” ujar Agus Iwan Haswanto, Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Rembang, Kamis (24/9/2015).

Agus mengaku mengikuti inspeksi dari tim pemantau kesehatan hewan kurban di wilayah Kecamatan Rembang seperti di Polres dan Masjid Agung. Menurutnya, bakteri di paru-paru terjadi karena hewan ternak menderita radang paru-paru atau pneumonia. Selain temuan bakteri paru-paru di wilayah Kecamatan Rembang, empat tim pemantau kesehatan hewan kurban lainnya, belum sampai menemukan penyakit lainnya seperti cacing hati, demam pada ternak, dan penyakit antraks. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Dintanhut Klaim Populasi Sapi dan Kambing di Rembang Tak Terganggu dengan Perayaan Kurban

Ilustrasi

Ilustrasi

 

REMBANG – Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang memastikan bahwa populasi Sapi dan Kambing di wilayah setempat tidak terganggu seiring perayaan kurban di Hari Raya Idul Adha tahun ini. Apalagi dari tingkat jumlah hewan kurban yang dipotong pada Kamis (24/9/2015) juga mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya.

“Berdasarkan catatan perayaan kurban tahun lalu, jumlah sapi yang dipotong sekitar 500 sampai 700 ekor, sedangkan kambing/domba sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor. Secara populasi, ada sekitar 120.000 ekor sapi dan 250.000 ekor kambing, sehingga tidak terganggu untuk kepentingan kurban,” ujar Agus Iwan Haswanto, Kepala Bidang Peternakan pada Dintanhut Rembang, Kamis (24/9/2015).

Agus Iwan Haswanto mengatakan, jumlah hewan kurban yang dipotong saat perayaan kurban tahun ini diperkirakan menurun. Namun, terkait berapa angka pastinya dia mengaku belum menerima laporan secara menyeluruh dan terperinci dari tim. “Kami belum tahu berapa angka persisnya, sebab laporan belum masuk. Tapi dari pantauan kami, memang ada sedikit penurunan dari tahun lalu,” kata Agus Iwan Haswanto. (AHMAD FERI/KHOLISTIONO)

Lewat Nabung, Warga Ini Bisa Kurban 9 Sapi dan 5 Kambing

9 sapi dan 5 kambing antri disembelih milik warga RW 3 Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

9 sapi dan 5 kambing antri disembelih milik warga RW 3 Desa Suwawal Kecamatan Mlonggo. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Tak hanya orang yang secara finansial berlebih ketika Idul Adha yang mampu berkurban. Di Jepara, ada warga satu RW yakni di Desa Suwawal, RW 03, Kecamatan Mlonggo, mampu berkurban 9 sapi dan 5 kambing dengan cara menabung. Semua hewan kurban tersebut disembelih di kawasan masjid Babussalam.

”Jumlah ini berarti ada 68 orang warga yang menyalurkan kurbannya,” ujar Ketua panitia Amin Fattah, Kamis (24/9/2015).

Lebih lanjut dia menjelaskan, ini merupakan tahun ke dua jumlah sapi kurban di masjidnya mencapai 9 ekor. Bedanya tahun lalu hanya ada tambahan 3 ekor kambing. ”Ini tahun ke lima kami membentuk panitia di masjid. Alhamdulillah warga percaya kepada kami sehingga jumlahnya terus bertambah. 4 dan 3 tahun lalu baru 7 ekor sapi,” katanya.

Kepercayaan itu juga nampak dari beberapa warga di luar desa yang ikut berkurban. Panitia mengaku ada total 10 warga luar RW yang ikut berkurban, dengan 8 di antaranya dari luar desa. Meski mayoritas warga setempat tidak tergolong mampu, panitia dapat membangkitkan semangat berbagi, di antaranya melalui tabungan kurban.

”Ada panitia yang bersedia menampung tabungan kurban, sedikit demi sedikit selama setahun. Makanya tahun ini ada sebelas janda dalam daftar pemberi kurban. Di antara mereka ada yang menabung ke panitia sedikit demi sedikit,” tambah Amin didampingi Ketua NU Suwawal Mustofa Ali.

Dengan jumlah ini, panitia setempat mampu membagi 1131 plastik daging kurban. ”Tidak hanya untuk warga di RW 3 Suwawal, tapi ada juga dari desa sekitar. Kebetulan masjid kami tak jauh dari batas Dukuh Sidang, Desa Sinanggul, dan Dukuh Jember, Desa Suwawal Timur, Pakisaji. Maka kami membagi juga ke sana,” tambahnya.

Saking banyaknya daging yang harus dibagi, pembagian baru bisa dilakukan lewat pukul 14.00 WIB. (WAHYU KZ/TITIS W)

Kampung Randukuning Korbankan 4 Sapi dan 22 Kambing

Sejumlah warga Randukuning tengah menguliti hewan kurban sapi yang telah disembelih. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah warga Randukuning tengah menguliti hewan kurban sapi yang telah disembelih. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Kampung Randukuning, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Pati Kota mengorbankan empat sapi lokal jenis peranakan ongole (PO) dan 22 kambing lokal. Penyembelihan hewan kurban dilakukan di Masjid Baiturrahim, Kamis (24/9/2015).

Usai disembelih, warga kemudian berbondong-bondong menguliti hewan kurban. Sementara itu, ibu-ibu mendapat jatah untuk memotong-motong daging dan tulang menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.

Ketua Takmir Masjid Baiturrahim Ali Mas’adi kepada MuriaNewsCom mengatakan, momen Idul Adha selain menjadi perintah dan anjuran agama, tetapi juga membangun kebersamaan satu keluarga bernama masyarakat.

”Ada kebersamaan dari warga untuk kumpul dan saling guyub rukun dalam proses menyembelih hewan kurban hingga membagikan kepada masyarakat secara bersama-sama,” tuturnya.

Keempat sapi dan 22 kambing yang sudah dipotong-potong tersebut rencananya dibagikan ke seluruh warga Randukuning. Beberapa di antaranya akan dibagikan ke kaum dhuafa dan anak yatim. (LISMANTO/TITIS W)

Ratusan Warga Ketakutan, 2 Kerbau Berlarian Ketika Ingin Disembelih

Takmir musala dan panitia kurban Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, menangkap kerbau yang kabur hingga ke jalan raya ketika akan disembelih. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Takmir musala dan panitia kurban Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, menangkap kerbau yang kabur hingga ke jalan raya ketika akan disembelih. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selalu ada cerita unik dibalik hewan kurban yang akan disembelih, di hari raya Idul Adha. Hal itu pula yang terjadi di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati seusai salat Idul Adha.

Menurut salah satu saksi mata yang juga warga sekitar Atik Maesaroh mengatakan, dua kerbau yang siap disembelih untuk kurban di musala Darul Hikmah tersebut, langsung lari keluar dari kandang menuju jalan raya. Kejadian tersebut sempat membuat ratusan warga ketakutan.

”Saat ingin dikeluarkan dari kandang, kerbau langsung berlari menuju jalan raya, yang satunya menuju musala Darul Hikmah. Tentu membuat warga yang saat itu bersiap untuk menyembelih kurban ikut berlarian dan ketakutan,” ungkapnya.

Setelah sekitar 30 menit warga mencoba menangkap kerbau tersebut, akhirnya berhasil dijinakkan oleh puluhan takmir musala dan panitia kurban setempat. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Lembaga Sosial Ini Siapkan Kurban Dalam Kemasan Kaleng

Achmad Sohib Hasani, kepala cabang Yatim Mandiri Kudus saat menunjukkan contoh kemasan daging kurban yang dikemas secara higienis. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

Achmad Sohib Hasani, kepala cabang Yatim Mandiri Kudus saat menunjukkan contoh kemasan daging kurban yang dikemas secara higienis. (MuriaNewsCom/Hana Ratri)

 

KUDUS – Lembaga sosial masyarakat yang memfokuskan diri pada penghimpunan pengelolaan dana, Yatim Mandiri, bersiap mengadakan program kurban dengan tajuk Kurban Smart Multi Manfaat. Achmad Sohib Hasani, kepala cabang Yatim Mandiri Kudus, mengatakan program tersebut berupa pemberian daging kurban yang dikemas secara higienis dalam bentuk sosis atau daging kalengan bernama Super Gizi Qurban.

Ditemui di kantornya siang ini, di jalan Kyai Telingsing Gang 02 Purwosari, Wijilan, Nomor 419, Kudus, Achmad mengatakan program tersebut dilakukan rutin setiap tahun.

”Kita di Yatim Mandiri ada program Super Gizi Qurban setiap tahun sekali. Jadi peserta yang berdonasi dalam kegiatan ini mengurbankan berupa Super Gizi Qurban ini. Sebanyak 400 kaleng dipersiapkan untuk di wilayah Kudus,” kata Achmad.

Achmad menjelaskan Super Gizi Qurban ini merupakan daging kurban yang diolah secara higienis. Meski bentuknya kalengan, penyembelihan daging qurban ini dilaksanakan pada tanggal 10-13 Dzulhijjah secara syar’i. Kemudian dikemas dalam bentuk sosis atau kornet dan punya banyak manfaat. Yakni syar’i, praktis, higienis, menjadi sarana peningkatan gizi anak yatim dhuafa, tahan lama hingga dua tahun dan distribusi hingga pelosok negeri. Selain itu, menjadi sarana optimalisasi CSR untuk perusahaan dan tentunya proses pengemasan ini bekerja sama dengan produsen makanan yang sudah ternama.

”Super Gizi Qurban ini tersebar di seluruh cabang Yatim Mandiri di seluruh Indonesia. Sedangkan jumlah donatur di Indonesia saat ini berada di angka 138.477 orang. 300-an diantaranya dari wilayah Kudus dan sekitarnya,” jelas Achmad. (HANA RATRI/TITIS W)

Pemkab Jamin Hewan untuk Kurban yang Berasal dari Kudus Aman Dikonsumsi

hewan-kurban

Petugas sedang mengecek kesehatan hewan untuk kurban (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

KUDUS – Pemkab Kudus  menjamin hewan untuk kurban yang dijual di pasar hewan dipastikan aman dan sehat, kaena pihak pemkab melalui dinas terkait sudah melakukan pemeriksanaan terhadap hewan-hewan tersebut.

Kabid Perikanan pada Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus Sa’diyah mengatakan, pemeriksaan terhadap hewan tersebut dilakukan terkait pelaksanaan Hari Raya Kurban tinggal sebentar lagi.

”Kami memeriksa di pasar hewan untuk mengecek kesehatan hewan yang dijual para pedagang. Mulai dari kerbau, sapi dan kambing,” katanya kepada MuriaNewsCom, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, menjelang Hari Raya Idul Adha, banyak pedagang yang mulai menjajakan hewan untuk keperluan kurban.

Selain itu, pemeriksaan rutin juga sering dilakukan oleh pemkab. Seperti yang dilakukan di pasar tradisional, dan juga di beberapa tempat peternak hewan di Kudus. (FAISOL HADI/KHOLISTIONO)

Sstt.. Ini Rahasia Besar Cara Nyembelih Hewan Kurban di Grobogan

Kurban-rahasia

Warga tampak melihat binatang kurban di Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Menjelang datangnya Idul Adha, perhatian Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Grobogan tidak sekadar difokuskan pada kesehatan hewan kurban saja.

Namun, masalah teknik penyembelihan dan perlakuan hewan sebelum disembelih juga mendapat perhatian.

Hal ini bisa dilihat dengan digelarnya sosialisasi dan pelatihan khusus terhadap masalah penyembelihan kurban. Adapun pesertanya adalah panitia kurban dan kaur kesra (modin) di sejumlah desa.

“Melalui kegiatan ini kita harapkan penyembelihan hewan kurban nanti bisa sempurna dari awal hingga selesai. Di sisi lain, adanya kegiatan ini akan menjadikan hewan kurban tidak mengalami penderitaan terlalu lama alias kesejahteraannya juga terjaga,” jelas Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Disnakkan Grobogan drh  Nur Ahmad saat menyampaikan pelatihan kesejahteraan hewan (keswan) Kamis (17/9) siang tadi.

Dijelaskan, dalam sosialisasi itu akan diberikan materi mengenai beberapa hal. Yakni, cara perobohan hewan sebelum disembelih, tehnik penyembelihan yang benar, pemotongan daging serta penanganan limbah hewan kurban.

Selain petugas dari Disnakkan yang sudah ahli di bidangnya, kegiatan itu juga melibatkan Kementerian Agama (Kemenag) Grobogan. Dari kemenag akan mengupas dari sisi agama mengenai ibadah kurban serta tata cara penyembelihan yang benar sesuai tuntunan.

“Setiap tahun ada sekitar 7 ribu ekor hewan yang disembelih untuk kurban. Oleh sebab itu, para petugas perlu kita bekali kemampuan dalam masalah penyembelihan yang benar,” imbuhnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Jelang Idul Adha, Mantri Hewan di Pati Akan Diterjunkan

Hewan-kurban

Ada peningkatan pengunjung di Pasar Hewan Wage, Kecamatan Margorejo, menjelang hari Raya Kurban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Jelang Hari Raya Idul Adha yang akan berlangsung pada Kamis (24/9/2015) mendatang, sejumlah mantri hewan diterjunkan di lapangan untuk mengecek secara langsung kondisi hewan kurban. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya hewan kurban yang berpotensi membahayakan kesehatan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom mengatakan, sejumlah mantri hewan akan diterjunkan di berbagai wilayah di Kabupaten Pati. ”Nanti akan ada mantri hewan yang ikut membantu memantau di masing-masing daerah,” tuturnya.

Ditanya soal penyakit hewan yang membahayakan kesehatan, Mochtar mengaku sampai sekarang belum menemukan indikasi penyakit hewan yang sampai membahayakan kesehatan konsumen. ”Sampai sekarang, belum ada temuan soal penyakit yang membahayakan pada hewan,” imbuhnya.

Kendati begitu, ia mengimbau kepada masyarakat dan pengelola hewan kurban untuk selektif dalam memilih hewan kurban. ”Pemilihan hewan kurban harus tetap selektif dan masak sampai benar-benar matang,” tandasnya.

Dari pantauan MuriaNewsCom di lapangan, sampai saat ini ada peningkatan pengunjung yang signifikan di Pasar Hewan Wage, Kecamatan Margorejo. Hal ini menyusul adanya peningkatan kebutuhan hewan ternak yaitu kambing dan sapi menjelang Idul Adha. (LISMANTO/TITIS W)

Dinas Peternakan Pati Awasi Penjualan Hewan Kurban di Sejumlah Tempat

Dinas-peternakan

Pasar Hewan Wage mulai diserbu pengunjung untuk berburu hewan kurban. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan (Dispertanak) Pati mulai melakukan pengawasan terhadap hewan kurban jelang Idul Adha yang kurang sepekan lagi. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya penjualan hewan kurban yang tidak layak.

”Kami akan membuat tim pemantau hewan kurban yang melakukan pengecekan langsung di lapangan. Dengan adanya tim pemantau, kami berharap hewan kurban yang diperjualbelikan aman dikonsumsi,” ujar Kepala Dispertanak Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, pengawasan terhadap hewan kurban menjadi prioritas utama. Pasalnya, momen Idul Adha dikhawatirkan menjadi kesempatan bagi oknum nakal, untuk membeli atau menjual hewan kurban yang kondisinya sakit dan tidak baik.

”Jangan sampai momen Idul Adha dijadikan kesempatan oknum untuk menjual hewan kurban bermasalah, terutama hewan ternak yang kondisinya tidak sehat. Kami benar-benar akan melakukan antisipasi untuk masalah ini,” tandasnya. (LISMANTO/TITIS W)