Guru di Pati Diminta Profesional dan Berkemajuan

Sejumlah guru tampak khidmat mengikuti upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah guru tampak khidmat mengikuti upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Plt Bupati Pati Budiyono meminta guru di Pati untuk mengedepankan profesionalitas dengan prinsip berkemajuan. Hal itu disampaikan Budiyono dalam upacara memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016).

Menurutnya, guru memiliki peran penting untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa. Tak sekadar mencerdaskan, guru dinilai punya tanggung jawab untuk membentuk karakter dan moralitas yang baik.

“Peran guru sangat mulia dan sentral. Betapa tidak, kualitas manusia-manusia Indonesia ditentukan dari pendidikannya. Guru yang sukses adalah guru yang berhasil mendidik muridnya dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan, karakter, dan moral yang baik,” ujar Budiyono.

Karena itu, profesionalitas dengan prinsip kemajuan mesti dimiliki seorang guru. Terlebih, pemerintah selama ini sudah meningkatkan kesejahteraan guru melalui tunjangan kinerja. Hal itu diharapkan agar guru punya semangat untuk mendidik muridnya agar menjadi generasi bangsa yang berkualitas.

“Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik supaya murid punya bekal yang baik untuk menatap masa depan. Di Pati, saya cukup memberikan apresiasi kepada guru. Pelajar di Pati sudah lama dikenal dengan kualitasnya yang baik. Bahkan, banyak pelajar di Pati yang menjuarai berbagai macam kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.

Sebaliknya, murid mesti menghormati guru yang selama ini telah berupaya tidak hanya melakukan transfer ilmu, tetapi juga transfer karakter dan moral. “Guru sangat menentukan masa depan kehidupan bangsa. Kita bisa hadir di sini, menjadi tentara, polisi, dokter, pengusaha, dan semuanya, tidak lepas dari peran guru. Maka, hormatilah guru,” tukas Kepala Dinas Pendidikan Pati, Sarpan.

Upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati juga diikuti oleh Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Wakapolres Pati Kompol Nyamin, Kajari Pati Kusnin, Ketua Pengadilan Negeri Pati Sugiyanto, Ketua PGRI Pati Waridjan, dan pengurus PGRI Pati. Tak hanya itu, sedikitnya 400 guru dan murid SD, SMP, serta SMA se-Kabupaten Pati ikut dalam upacara tersebut.

Editor : Kholistiono

Puncak Peringatan Hari Guru dan KORPRI Bakal Ada Apresiasi bagi Guru dan PNS Beprestasi

Siswa dan guru melakukan gladi bersih peringatan HUT GURU, PGRI dan KORPRI di Lapangan Rendeng (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Siswa dan guru melakukan gladi bersih peringatan HUT GURU, PGRI dan KORPRI di Lapangan Rendeng (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain diadakan upacara dan penampilan tari kolosal, peringatan Hari Guru Nasioal, HUT KORPRI dan PGRI, nantinya juga akan dimeriahkan dengan berbagai penampilan dan kegiatan sosial.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah pad Dinas Pendidikan,Pemuda dan OlahragaKabupaten Kudus Agus Nuratman mengatakan, selain seni kreasi darisiswa yang menggelar tari kolosal,nantinya juga ada marching band,donor darah, pemberian penghargaan kepada siswa prestasi, guru berprestsidan pegawai negeri sipil berprestasi.

Selain itu, lanjut Agus, kegiatan yang akan digelar padaSenin(7/12/2015) di lapangan Desa Rendeng, Kecamatan Kota ini nantinya akandihadiri Bupati Kudus Mustofa, kepala sekolah, perwakilanPGRI tiap kecamatan, serta para perwakilan dari SKPD Kudus serta siswadari sekolah yang sudah ditunjuk.

Dengan adanya kegiatan tersebut, pihaknya berharap dapat memberikansemangat tersendiri bagi siswa, guru maupun pegawai negeri sipil untuk selalumencapai prestasi terbaiknya.

“Untuk kedepannya supaya para siswa, guru dan yang lainnya tanpa terkecuali, dapat selalu bersinergi serta mencapai prestasi yang baik,” ungkapnya. (EDY SUTRIYONO/KHOLISTIONO)

HARI GURU NASIONAL : Gus Mus Berguru dari Komentar Facebook

Gus Mus (Facebook)

Gus Mus (Facebook)

 

REMBANG – KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus memberikan tanggapan peringatan Hari Guru Nasional. Bagi kiai yang lahir di Rembang, 10 Agustus 1944 itu, mengungkapkan bahwa dirinya juga mendapatkan ilmu dari Facebook.

Dalam akun Facebook pribadinya, Gus Mus menulis, “Nyatanya di Facebook ini saja, berapa banyak aku mendapat pelajaran. Baik dari status maupun komentar-komentar atas status. Mulai pelajaran tentang resep masakan, tentang akik, tentang kesehatan, tentang obat-obatan tradisional, tentang adat-istiadat, hingga tentang kearifan dan pelajaran hidup,” kutip MuriaNewsCom dari akun Facebook Gus Mus.

Selain itu, Gus Mus juga menulis, “Maka apabila hari ini aku mengucapkan selamat Hari Guru dan berterima kasih serta mendoakan kepada guru-guruku, itu artinya: termasuk untuk dan kepada kalian juga.”

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang ini juga menyinggung soal sosok guru yang lebih mendalam. “Orang yang suka membatas-batasi umumnya pengetahuannya memang terbatas. Maksudku, orang yang membatasi santri hanya sebatas yang mondok di pesantren; misalnya, atau membatasi Islam hanya sebatas urusan fiqh; membatasi ibadah hanya sebatas salat, puasa, zakat, dan haji; membatasi rahmat Allah hanya sebatas untuk dirinya dan kelompoknya; membatasi jihad sebatas perang bersenjata; atau … Kalian bisa memperpanjang dengan misal dan contoh yang lain.”

Kiai yang juga aktif di dunia seni berpendapat guru juga banyak yang membatasi hanya sebatas mereka yang mengajar di sekolahan dan madrasah. Bahkan ada yang membatasi hanya sebatas mereka yang termasuk anggota PGRI.

Namun bagnya, guru bisa siapa saja. “Minimal untuk diriku sendiri, siapa saja bisa menjadi guruku; asal ada sesuatu darinya yang bisa aku Gugu (percaya dan ikuti ucapan-ucapannya) dan aku tiru (contoh). Boleh jadi kalian, atau di antara kalian, diam-diam adalah guru-guruku dalam berbagai hal dan bidang. Selamat Hari Guru. Semoga semua guru senantiasa diberi rahmat dan berkah Allah. Dimudahkan hidupnya di dunia mau pun di akhirat kelak. Amin.” (AKROM HAZAMI)

Video – Teater Studio One SMAN 1 Kudus Beri ‘Kado’ untuk Gurunya

 

KUDUS – Sutradara Teater Studio One SMAN 1 Kudus M Hidayatullah sangat bangga menjadi juara dan menjadi teater terbaik dalam Festival Teater Pelajar yang digelar di Gor Djarum Kaliputu Kudus oleh Djarum Foundation, Minggu (22/11/2015).

“Kami bangga atas raihan itu, sebab prestasi itu kami raih menjelang hari Guru Nasional ini. Secara otomatis prestasi tersebut dapat memberikan kejutan yang palaing berharga untuk guru,” kata Hidayatullah.

Prestasi teater terbaik itu juga tidak terlepas dari anggotanya yang memang mendapatkan juara di berbagai kategori. Di antaranya ialah Alan Ragil Maulana sebagai pemeran pembantu pria terbaik, Dewi Ayu Nur Susanti sebagai pemeran wanita terbaik, Iqbal Tsal Haddad sebagai artistik terbaik, Lu’luil Maxnun sebagai teater terbaik I dan M Hidayatullah sutradara terbaik.

“Kami bisa mendapatkan itu semua, lantaran rekan rekan juga meraih juara di berbagai katergori tersebut. Sehingga Teater Studio One ini bisa meraih juara se -Kudus tingkat SMA,” ujarnya.

Dengan prestasi tersebut, teater yang menampilkn dengan judul cerita Prasangka ini bisa dijadikan hadiah kepada gurunya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

HARI GURU NASIONAL : Guru SMAN 1 Kudus Dikejutkan Siswanya

Guru SMAN 1 Kudus mengikuti kegiatan kreativitas siswanya di hari Guru Nasional. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru SMAN 1 Kudus mengikuti kegiatan kreativitas siswanya di hari Guru Nasional. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Di hari Guru Nasional yang jatuh pada Rabu (25/11/2015), guru SMA N 1 Kudus mendapatkan kejutan dari anak didiknya.

Kejutan yang berupa kreativitas atau kreasi tersebut khusus untuk memberikan semangat guru supaya dapat membimbing lebih baik lagi.

Wakil Kepala SMAN 1 Kudus Imam Santosa mengatakan, setiap tahun di saat perayaan hari Guru Nasional memang siswa selalu memberikan kejutan. “Ada kejutannya,” kata Imam.

Kejutan tersebut bertujuan agar guru lebih bangga dengan ilmu yang mereka berikan kepada anak didiknya.

“Kejutan itu biasanya berupa kreasi anak anak. Baik itu, panjat tebing, kegiatan paskibraka, kreasi menunggang kuda dan yang lainnya,” paparnya.

Pertunjukan yang digelar setelah upacara usai tersebut bisa membuat para pengajar ini tahu akan hasil ilmu yang sudah ditanamkan kepada anak didiknya selama di sekolahan.

“Dalam pertunjukan kreasi siswa, semua guru diharapkan dapat duduk di bangku atau kursi yang sudah disediakan di tengah lapangan. Supaya mereka (guru) bisa melihat pentas kreativitas anak didiknya untuk menyambut hari Guru ini,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/AKROM HAZAMI)

HARI GURU : 25 November dan Sejarah Panjang Guru

hari-guru ilustrasi

Ilustrasi Hari Guru.

 

KUDUS – Hari ini, 25 November, merupakan Hari Guru Nasional. Keputusan penetapan tanggal itu jadi Hari Guru dilakukan langsung oleh pemerintah Republik Indonesia. Yaitu berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Tapi tahukah Anda, ada sejarah panjang sampai 25 November terpilih sebagai Hari Guru Nasional yang juga ditetapkan sebagai hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dari informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, PGRI diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912. Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah.

Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu, maka selain PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.

Dua dekade berselang, nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.

Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”

Namun, pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang dan sekolah ditutup sehingga PGI tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Namun, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta. Melalui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan.

Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Di dalam kongres inilah, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI didirikan. Maka, sebagai penghormatan kepada para guru, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI tersebut sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun.

Para Guru, kini saatnya Anda menjadi guru yang lebih baik. Teruslah berjuang, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang berguna. Kalian sangat berguna bagi kami, generasi muda. Selamat Hari Guru. (AKROM HAZAMI)