HARI BURUH : Nasib PRT Kudus Lebih Tragis dari Buruh Formal

Aksi buruh melakukan unjuk rasa di depan Pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Aksi buruh melakukan unjuk rasa di depan Pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Budi Santos, koordinator aksi Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera  Indonesia (KSBSI) Kudus bersama dengan PRD menyebutkan selama ini Pekerja Rumah Tangga (PRT) masih belum tersentuh perlindungan hukum dan keadilan dari pemerintah.

“Tugas PRT masih ditempatkan sebagai pembantu. Meskipun faktanya mereka bekerja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga,” kata Budi dalam orasi pada aksi memperingati Hari Buruh di depan pendapa Pemkab Kudus, Minggu (1/5/2016).

Dia mengatakan, PRT masih menjadi kelompok masyarakat yang tidak terlindungi pada saat melaksanakan pekerjaan. Menurutnya, mereka kehilangan banyak  hak, sepeti hak mendapatkan upah layak, ketidakjelasan jam kerja, jaminan sosial, cuti libur dan istirahat.

Setelah 12 tahun lamanya, RUU Perlindungan PRT belum kunjung disahkan oleh DPR RI. Para PRT masih bekerja dalam kondisi tidak terpenuhinya hak dan kesejahteraan.

Bahkan, mereka tidak mempunyai jaminan perlindungan hukum ketika mengalami tindakan kekerasan majikan. KSBSI menganggap nasib PRT lebih tragis dibanding buruh di sektor formal. KSBSI Kudus dan PRD menyatakan sikap agar segera diberlakukan struktur dan skala upah yang berkeadilan dan tanpa diskriminasi.

“Kami juga meminta segera sahkan RUU Perlindungan PRT (Pekerja Rumah Tangga), menolak politik upah murah, serta berikan hak BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan bagi buruh beserta keluarganya. Hapus juga sistem kerja outsoursing dan berikan hak berserikat  bagi para buruh,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

HARI BURUH : Upah Layak jadi Tuntutan Aksi di Kudus

 

HARI BURUH : Upah Layak jadi Tuntutan Aksi di Kudus

Buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Buruh melakukan aksi unjuk rasa di depan pendapa Pemkab Kudus. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Memperingati Hari Buruh (May Day) 1 Mei, Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera  Indonesia (KSBSI) Kudus bersama dengan kader Partai Rakyat Demokratik (PRD), melakukan aksi unjuk rasa di depan pendapa pemkab setempat, Minggu (1/5/2016).

Budi Santos, koordinator aksi mengatakan, upah layak menjadi kebutuhan dasar kaum buruh. Upah Minimum Kabupaten (UMK) hanyalah jaring pengaman bagi buruh yang memiliki masa kerja kurang dari 1 tahun.

“Oleh karena itu, UMK bukan standar kelayakan upah. Formulasi UMK diperuntukkan bagi buruh berstatus lajang. Realitasnya, justru UMK seringkali menjadi upah maksimal yang diberikan pengusaha kepada buruh,” katanya saat orasi.

Menurutnya, sesuai dengan angkanya, UMK merupakan upah minimum. Sehingga bukan maksimal yang diberikan perusahaan. Itupun ada syarat untuk memberikan upah minimal tersebut.

Dia mengatakan, pada PP 78 tahun 2015 tentang Pengupahan mewajibkan pengusaha melaksanakan skala dan struktur upah. Bagi buruh yang memiliki masa kerja di atas 1 tahun berhak mendapatkan upah di atas ketentuan UMK. Pelaksanaan skala dan struktur upah mendasarkan pada golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan dan kompetensi buruh.

“Kenyataan sekarang masih banyak yang di bawah UMK, bahkan yang lebih dari satu tahun juga diperlakukan sama,” ujarnya. Dia mebambahkan, Saat ini penerapan struktur dan skala upah belum dirasakan oleh kaum buruh. Banyak pengusaha yang masih melakukan diskriminasi upah terhadap para buruh.

Pihak pemerintah sendiri dianggap tidak tegas melaksanakan regulasi terkait kewajiban pengusaha melaporkan skala dan struktur upah baik kepada buruh maupun Dinsosnakertrans.

Editor : Akrom Hazami

Peringati Hari Buruh, Belasan Sastrawan Bersyair di Depan DPRD Kudus

hari buruh (e)

Pentas Refleksi Hari Buruh Sedunia ”Kisah Buruh di Lereng Muria Bersama Para Penyair Indonesia”, yang berlangsung di depan kantor DPRD Kudus, Sabtu (30/4/2016). MuriaNewsCom (Sundoyo Hardi)

 

 

MuriaNewsCom, Kudus – Peringatan Hari Buruh yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, sudah diperingati terlebih dahulu oleh belasan sastrawan di Kabupaten Kudus dan Jawa Tengah, Sabtu (30/4/2016) malam.

Tepatnya di depan gedung DPRD Kudus, kalangan penggiat dunia sastra ternyata memang memiliki cara tersendiri dalam memperingati Hari Buruh Sedunia tahun ini.

Belasan penyair dari berbagai wilayah di Jawa Tengah itu sengaja berkumpul, untuk menyuarakan pendapat dan kritik mengenai kondisi perburuhan yang ada di Indonesia.

Ajang ini dibalut dalam acara bertajuk Buruh Kudus Besyair dan Bersholawat dalam Refleksi Hari Buruh Sedunia ”Kisah Buruh di Lereng Muria Bersama Para Penyair Indonesia”.

Para sastrawan itu, membacakan puisi yang bertema mengenai kondisi buruh yang ada. Selain itu, ada juga pentas musik yang dibawakan mereka. Acara ini sendiri, digelar Koalisi Gerakan Save Buruh Kudus.

”Kami ingin memberikan sesuatu yang berbeda dalam peringatan Hari Buruh Sedunia tahun ini. Terima kasih kepada rekan-rekan penyair yang telah hadir dan tampil dalam kegiatan malam ini,” kata Ahmad Fikri, salah satu panitia kegiatan.

Banyak masyarakat yang kemudian turut menyaksikan kegiatan ini. Karena digelar di outdoor, membuat warga yang sedang menikmati malam mingguan, menyempatkan diri melihat kegiatan ini.

Suasana semakin bertambah ramai, karena banyak sastrawan yang memang begitu bersemangat dengan acara ini. Berbagai kalangan juga turut hadir dalam acara tersebut.

Editor: Merie