Gubernur Ganjar Akui Cukup Sulit Wujudkan Provinsi Layak Anak

Keceriaan anak-anak saat foto bersama di Banjarejo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui cukup sulit untuk mewujudkan provinsi layak anak. Penyebabnya, tingkat kekerasan terhadap perempuan maupun anak masih cukup tinggi.

Oleh karenanya, Ganjar menyebut harus melakukan berbagai persiapan strategis, termasuk masalah penganggaran untuk mewujudkan hal ini. Apalagi menurut dia, tahun depan Jateng ditunjuk sebagai pilot project provinsi layak anak.

“Sehingga kita mesti menyiapkan anggaran, program, dan sistemnya agar kemudian minimum layak anak itu bisa tercapai,” kata Ganjar Pranowo, baru-baru ini.

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) kabupaten/kota di Provinsi Jateng pada 2011-2015, kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan tren yang fluktuatif.

Pada 2015 tercatat sebanyak 2.466 orang korban kekerasan, dan 1.385 orang di antaranya anak-anak.

Melihat kondisi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa prioritas investasi perlindungan anak ditekankan pada pencegahan kekerasan terhadap anak. “Tentunya, perwujudan provinsi layak anak tidak dapat tercapai tanpa dukungan masyarakat, termasuk para aktivis anak,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kabupaten/kota juga diminta mendukung terwujudnya Jawa Tengah sebagai provinsi layak anak. Salah satunya, bupati wali kota mendorong investasi perlindungan anak agar pencegahan dan penanganan kasus kekerasan anak dapat berjalan optimal.

Ganjar menjelaskan, pembekalan anak mengenai budi pekerti dan tepa selira yang merupakan nilai-nilai kebhinekaan Indonesia, mesti dilakukan baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi kejadian kekerasan terhadap anak karena anak sudah dilatih menghormati kepada yang tua, yang muda dan sebaya mereka. Sebaliknya, orang tua pun akan menghargai dan mencintai anak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Hindari Perilaku Bullying, Orang Tua Harus Perhatikan Pola Pengasuhan Anak

Ribuan anak anak mengikuti jalan sehat di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Ribuan anak mengikuti kegiatan peringatan Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Rembang di alun- alun, Jumat (28/7/2017). Setelah apel dengan amanat Bupati Rembang Abdul Hafidz, kegiatan dilanjutkan dengan jalan sehat.

Kedua peringatan tersebut mengambil tema “Dengan Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga yang Berketahanan”.

Harapannya, yakni supaya dapat membuka nurani keluarga dan masyarakat Indonesia untuk lebih memberikan perhatian terhadap peran dan fungsi masing- masing anggota keluarga, baik sebagai ayah, ibu ataupun sebagai anak dalam suasana komunikasi dan interaksi yang harmonis sehingga akan membuat ketahanan keluarga yang lebih baik.

Bupati mengatakan, untuk mewujudkan semua itu diperlukan budaya komunikasi yang baik. Komuniasi tersebut bisa antara keluarga ataupun di lingkungan masyarakat.

“Perlu budaya komunikasi yang lebih terbuka namun tetap santun dan beretika di antara anggota keluarga itu sendiri maupun antarkeluarga dengan masyarakat. Saya percaya, apabila keluarga – keluarga Indonesia tangguh, maka otomatis menjadi bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tangguh,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, bupati menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas dua penghargaan yang diraih Kabupaten Rembang, yakni penghargaan daerah menuju Kabupaten Layak Anak tingkat Madya dan penghargaan upaya pencegahan perkawinan anak. Penghargaan tersebut membuatnya bangga dan semakin termotivasi untuk melindungi hak – hak anak di wilayah yang dipimpinnya.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, sedikitnya ada 23 ribu lebih kasus yang berkaitan dengan anak. Angka tersebut didominasi anak berhadapan dengan kasus hukum, termasuk kasus bullying.

“Berkaitan dengan bullying orang tua harus lebih memperhatikan pola pengasuhan anak. Anak harus didik dengan penuh kasih sayang, etika moral dan ditanamkan nilai- nilai agama sehingga tidak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono