Politisi Partai Nasdem Sowan ke Gus Mus

KH Musthofa Bisri (kanan)  saat berbincang bincang dengan anggota DPR dari Partai Nasdem. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sejumlah anggota DPR RI dari fraksi partai Nasdem beserta pengurus partai, baik tingkat pusat hingga kabupaten, Rabu (21/6/2017) petang berkunjung di kediaman dua tokoh ulama terkemuka di Rembang KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di Leteh dan KH Maemoen Zubair (Mbah Moen) di Sarang. 

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Nasdem Provinsi Jawa Tengah Setyo Maharso mengatakan, bahwa kunjungan tersebut sebagai langkah untuk mendekatkan diri kepada kaum ulama. Selain itu, kunjungan tersebut juga untuk memohon doa restu supaya apa yang dijalanlan partai Nasdem dapat memberikan kemajuan bangsa.

“Kita akui, bahwa Nasdem ini merupakan partai baru di Indonesia. Sementara itu, kita juga sangat memerlukan sekali doa dari beliau-beliau ini,” katanya.

Sementara itu, Effendy Choiri salah satu anggota DPR RI dari fraksi Nasdem menguatakan, bahwa kunjungannnya  ke Gus Mus juga dalam rangka meminta izin atas peluncuran aplikasi Alquran digital berbahasa Jawa.

Menurutnya, mendiang ayah dari Gus Mus, KH Bisri Mustofa merupakan sosok yang berkompeten dalam penafsiran Quran versi Jawa. 

“Kami meluncurkan aplikasi Alquran terjemahan bahasa Jawa. Sedangkan sosok yang berkompeten untuk mengalihbahasakan dari Arab ke Jawa itu ayah dari Gus Mus, beliau Almarhum Mbah Bisri. Sehingga kedatangan kami sekaligus meminta izin kepada Gus Mus atas peluncuran aplikasi ini,” ujar Gus Coy, sapaan akrabnya. 

Menanggapi hal tersebut, Gus Mus menyambut baik rencana peluncuran Quran digital versi bahasa Jawa itu. Ia meminta agar dilakukan tafsir, bukan hanya sekadar terjemahan agar tidak disalah artikan sehingga memicu konflik seperti kasus kasus sebelumnya. 

“Program ini baik, asalkan tafsirnya benar, bukan sekadar terjemahan. Tinggal ambil saja dari Al Ibriz secara keseluruhan, jangan sampai ditambah atau dikurangi,” imbau Gus Mus. 

Aplikasi Alquan digital versi bahasa Jawa tersebut bisa diunduh di Playstore bagi pengguna android. Aplikasi tersebut merupakan program luncuran Nasdem sebagai wujud kepedulian terhadap warga muslim khususnya wilayah Jawa. 

Editor : Kholistiono

Gus Mus : Kelolalah BUMN dengan Hati Nurani

Gus Mus bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno saat diwawancarai awak media. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno berkunjung ke kediaman KH Musthofa Bisri atau Gus Mus di kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Kelurahan Leteh, Rembang, Sabtu (10/6/2017).

Dalam kesempatan itu, Gus Mus menyampaikan terima kasih kepada Menteri BUMN yang sudah menyempatkan diri ke kediamannya. “Saya merasa terhormat. Terima kasih sudah berkunjung ke sini. Sebab penggede-penggede ini sudah berkunjung ke sini,” canda Gus Mus.

Gus Mus juga menyampaikan pesan ke Rini, agar mengelola BUMN dengan hati nurani. Sehingga, nantinya keberadaan BUMN bisa berkembang dengan baik memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.

“Yang jelas harus pakai hati nurani. Jangan sampai merugikan yang ada di sekelilingnya maupun warga yang ada di sekitar BUMN,” harap Gus Mus.

Rini Soemarno juga menyampaikan, jika kunjungannya ke kediaman Gus Mus untuk bersilaturrahmi dengan ulama. “Kita ingin didoakan oleh para ulama, agar pengelolaan BUMN semakin baik dan membawa manfaat kepada masyarakat. Komunikasi dengan para ulama, juga sangat penting bagi pemerintah,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono

Menteri BUMN Sowan ke Kediaman Gus Mus

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno (tengah) foto bersama Gus Mus (kanan). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno bersilaturrahmi ke kediaman KH Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, Pimpinan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Sabtu (10/6/2017) siang.

Rini tiba di kediaman Gus Mus sekitar pukul 11.00 WIB, yang didampingi beberapa stafnya dan Bupati Rembang Abdul Hafidz. Setiba di kediaman Gus Mus yang berada di kompleks Ponpes Raudlatut Thalibin, Rini disambut langsung oleh Gus Mus.

Di hadapan media, Rini menyampaikan, jika kunjungannya ke kediaman Gus Mus untuk bersilaturrahmi dengan ulama. “Kita ingin didoakan oleh para ulama, agar pengelolaan BUMN semakin baik dan membawa manfaat kepada masyarakat. Komunikasi dengan para ulama, juga sangat penting bagi pemerintah,” ungkapnya.

Apalagi katanya, di Rembang sendiri kini sudah berdiri pabrik semen yang merupakan milik dari BUMN, sehingga, pihaknya mengharapkan agar nantinya bisa berkembang dengan baik dan perusahaan juga berjalan secara professional dan transparan, serta memberikan manfaat bagi warga.

Editor : Kholistiono

Kapolri Ajak Masyarakat Merawat Kebhinekaan

Kapolri Jendral Polisi M. Tito Karnavian saat berkunjung ke Ponpes Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, kemarin. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat kebhinekaan dan kebangsaan yang pada akhir-akhir ini kembali menuai ujian.

Hal itu disampaikan Kapolri pada acara Safari Ramadan di kediaman Kiai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) di komplek Pesantren Raudlatut Thalibien Leteh Rembang, Selasa (6/6/2017).

Menurut Tito, belakangan ini, demokrasi di Indonesia cenderung mengarah liberal sehingga muncul kelompok yang mengusung ideologi bertentangan dengan Pancasila. Kebebasan yang ada di Indonesia, katanya, juga sudah mulai tak terbendung, sehingga sudah mulai menyinggung tentang kesukuan, keagamaan dan lainnya.

Mengentalnya bicara tentang kesukuan, bahkan dirinya mencontohkan, jika di Lampung terjadi konflik masalah tanah antara penduduk lokal dengan para pendatang (transmigran), primordialisme kesukuan, primordialisme keagaann, mulai menyentuh sensitif. Mulai dari antaragama dan sesama agama.

“Padahal yang ada di sumpah pemuda itu jelas. Yakni , bertumpah darah satu tanah air Indonesia,  berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia. Sehingga itu harus tetap dijaga,” ungkapnya.

Kapolri juga mengemukakan, bahwa kedatangannya kali ini bertujuan silaturrahmi dalam rangka safari Ramadan. Sebelum bertemu Gus Mus, ia terlebih dahulu menyempatkan diri sowan ke para kiai di Pekalongan dan beberapa daerah lain.

“Saat masih jadi Kapolres, Kapolda, saya nggak berani ke sini. Setelah menjadi Kapolri, saya baru berani bertemu Gus Mus,” canda Kapolri.

Tito sengaja mengunjungi sejumlah kiai lantaran ingin mendengarkan tausyiah-tausyiah kebangsaan nan menyejukkan. Ia berharap, tausyiah bernuansa seperti itu benar-benar bisa mendinginkan iklim di seluruh pelosok Tanah Air.

Turut hadir dalam kesempatan itu KH Maimoen Zubair, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono serta pejabat di lingkungan Mabes Polri serta Kodam IV/Diponegoro.

Gus Mus pun menyampaikan terima kasih kepada Tito, lantaran sudi berkunjung ke kediamannya nan sederhana. “Mudah mudahan safari Ramadan ini mendapat ridlo oleh Allah SWT. Apalagi ini di bulan Ramadan,” kata Gus Mus.

Selain itu, ia juga mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak kepolisian yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada anak buahnya panjenengan yang ada di Rembang (Polres Rembang). Sebab, semuanya sudah menyulap tempat saya ini menjadi bagus. Sebab aslinya tempat saya jni ya sederhana. Namun ini bisa berubah menjadi bagus,” ucapnya.

Sementara itu, KH Maimoen Zubair dalam tausiyahnya menyampaikan, jika kemerdekaan Indonesia diraih secara tidak mudah karena harus melalui peperangan yang cukup panjang.

Ia menyebut, umat Islam punya peran penting dalam proses perjuangan kemerdekaan bangsa melalui resolusi jihad para kiai sepuh.

“Jadi, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk mempertahankan konsep negara kesatuan berasaskan Pancasila. Masa kekhilafahan sudah habis dengan berakhirnya khulafaur rasyidin, yang dimulai pada era Abu Bakar, ‎Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan terakhir Ali bin Abi Thalib,” ujar Mbah Moen.

Menutup ceramahnya, Mbah Moen menyatakan bahwa Islam tidak boleh dimonopoli oleh suatu bangsa. Guna mengatasi ancaman perpecahan di Indonesia, ia menyarankan kepada para elite untuk memberikan contoh.”Kalau yang di atas bersatu, yang di bawah bakal mudah disatukan,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Ini Kata Wagub DKI Jakarta Djarot tentang Sosok Gus Mus

Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (tiga dari kiri) bersama Gubernur Jateng dan Kapolda Jateng serta pejabat lainnya saat sowan ke kediaman Gus Mus. (MuriaNewsCom/Edy Suatriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Usai menghadiri resepsi Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tingkat Jawa Tengah yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Rembang, Jumat (3/3/2017) malam, Wagub DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat sowan ke kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di kompleks Pondok Pesantran Radlatut Talibin Leteh, Rembang.

Dalam kesempatan itu, Djarot juga bersama beberapa pejabat penting, di antaranya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Kasdam IV/Diponegoro Brigjen Joni Supriyanto dan beberapa pejabat lainnya.

Djarot menyampaikan, jika sosok Gus Mus merupakan tokoh pluralisme yang bisa menyatukan umat. Sehingga, Gus Mus patut menjadi contoh dan teladan.

Dalam pertemuan tersebut, dirinya juga membahas isu kekinian. Di antaranya ialah kebebasan media sosial yang semakin lama semakin tak terbendung. Terlebih berita hoax. “Media sosial semakin dahsyat, sehingga harus selalu dipantau. Jika muncul berita hoax, maka harus ditangkal, supaya tidak bertambah. Caranya, bersikap cuek dan tidak ikut mengedarkan berita bohong. Bisa pula diblok, apabila terus berlanjut,” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga sependapat jka berita hoax harus dilawan.  “Berita hoax wajib dilawan. Upaya penegakan hukum dari kepolisian, diharapkan mampu meredam. Sangat memprihatinkan, apabila bangsa ini terkoyak oleh fitnah dan kepalsuan. Kalau informasi mengedepankan fakta, tidak masalah. Gus Mus juga sering memantau medsos,” imbuh Ganjar.

Editor : Kholistiono

Said Aqil : Rembang Itu Adem, Nggak Seperti Jakarta yang Beberapa Hari Terakhir ‘Panas’

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj saat memberikan tausiyah di Ponpes Raudlatut Talibin Rembang, Senin (5/12/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj saat memberikan tausiyah di Ponpes Raudlatut Talibin Rembang, Senin (5/12/2016) malam. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berkunjung ke Rembang, Senin (5/12/2016) malam. Hal itu untuk menghadiri Peringatan Maulud  Nabi Muhammad SAW dan Haul Masyayikh Ponpes Raudlatut Talibin Rembang.

Dalam kesempatan itu, Said Aqil menyampaikan, meski berada di kawasan pesisir pantai, namun Rembang dirasakannya “sejuk” dibandingan dengan kondisi di Jakarta dalam waktu beberapa hari terakhir yang disebut terasa panas.

“Saya merasa, Rembang ini adem ayem. Berbeda dengan kondisi yang ada di Jakarta, saat ini terasa panas. Kenapa bisa jadi panas? Ya, karena memang yang memanaskan, sehingga menjadi panas,” ujarnya.

Said Aqil juga mengingatkan pentingnya seorang pemimpin yang harus bisa menengahi setiap permasalahan yang terjadi. Sebab, seorang pemimpin dibutuhkan rakyatnya dan memiliki tanggung jawab terhadap yang dipimpinnnya.

“Saya mengimbau, dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, seorang pemimpin tidak boleh berpihak. Baik blok kiri maupun blok kanan.Artinya harus netral. Sehingga nantinya mampu menjaga keseimbangan,” ungkapnya.

Dia menilai, kondisi tersebut sama sulitnya dengan menjaga keutuhan NKRI. Dengan berpegang teguh kepada prinsip yang sudah di pegang sejak awal, segala macam gempuran baik dari segala sisi, NKRI tetap harga mati.

“Alhamdulillah, saat ini kita masih punya prinsip yang kuat, mewarisi sifat ulama para pendiri negara ini yang sama sekali tidak terpengaruh dengan segala macam bentuk ideologi, budaya dan lain sebagainya dari luar negeri,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dirinya berharap bahwa para kiai dan santri, harus memiliki jiwa nasionalisme tinggi, agar tetap senantiasa menyerukan NKRI harga mati. “Sehingga segala macam bentuk gempuran akan hilang, jika semuanya bersatu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Medsos Bukan Wadah Pelampiasan Kebencian

Ali Muntoha muntohafadhil@gmail.com

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

“Kowe kerja jam pira sampai jam pira? Aja diforsir, ben ora gampang muring-muring. Kalau benci sama orang jangan keterlaluan, jika suka juga sama, yang sedang-sedang saja”

KALIMAT ini diucapkan KH Musthofa Bisri atau biasa dipanggil Gus Mus, kepada seorang pemuda bernama Pandu Wijaya. Pemuda ini yang memposting kalimat kasar yang menghina Gus Mus melalui akun twitter-nya. Pesan ini sungguh adem, karena Gus Mus menimpali kebencian yang diarahkan kepadanya dengan petuah.

Pandu beruntung karena yang ia sumpah-serapahi adalah Gus Mus, kiai NU yang sangat welas asih. Coba saja kalau yang kena hujatan dan makian seperti ini adalah tokoh kelompok “Islam Pentungan” pasti akan beda urusannya. Istilah kelompok “Islam Pentungan” ini sering digunakan oleh Prof. Sumanto Al Qurtubi, antropolog dari King Fahd University of Petroleum & Minerals Arab Saudi, dalam beberapa kali kuliah vitual di halaman Facebook-nya.

Istilah ini untuk menyebut kelompok-kelompok Islam “keras” di Indonesia yang punya temperamen sangat tinggi. Jika kasus Pandu ketemu dengan kelompok ini, mungkin urusannya akan lain, bukan maaf mungkin yang akan didapat, melainkan sesuatu yang mengerikan.

Beruntung Pandu melancarkan kekhilafannya itu kepada kiai NU, sehingga para pendekar pengawal kiai NU (Banser Ansor) itu pun tak langsung muring-muring (marah-marah), namun melakukan pendekatan secara persesuasif, dan mengajak pemuda ingusan itu untuk sowan dan meminta maaf secara langsung.

Dari kasus ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang, bahwa media sosial bukanlah wadah untuk pelampiasan kebencian. Media sosial memang sangat efektif sebagai salah satu sarana komunikasi yang murah, instan dan cepat. Namun penggunaan media sosial yang tidak tepat justru akan membawa dampak yang tak setimpal.

Apalagi mengujar kebencian di media sosial bukanlah tanpa risiko. Selain mengundang sanksi sosial seperti yang terjadi pada Pandu, sanksi yang lebih tegas juga menunggu, yakni kurungan penjara. Memang dengan direvisinya Undang-undang tentang ITE, ancaman kurungan penjara diturunkan dari semula yang bisa 6-12 tahun, kini maksimal hanya empat tahun.

Namun tetap saja, cakupan undang-undang itu justru saat ini lebih luas. Tak hanya orang yang memproduksi atau membuat postingan tentang ujaran kebencian atau hasutan, ataupun pelecehan saja, pihak-pihak yang ikut menyebarkan postingan itu pun bisa dikenai jeratan hukuman yang sama.

Dengan revisi UU ITE itu, memang ada hal-hal yang meringankan, misalkan tersangka tidak boleh ditahan sebelum adanya putusan hukum yang tetap. Selain itu, setiap kasus pencemaran atau penghinaan yang termuat dalam UU ITE merupakan delik aduan, sehingga aparat hukum baru bisa memproses jika sudah ada pengaduan ke pihak kepolisian.

Dengan ketentuan baru ini nantinya, jika perangai netizen masih tak berubah maka laporan aduan akan membanjiri kantor polisi. Solusinya bijak dan dewasa dalam menggunakan media sosial adalah langkah yang paling tepat. Jangan mudah tergoda dan terpikat dengan sesuatu yang tidak jelas.

Kebiasaan membagikan berita-berita hoax (berita bohong) harus segera dihentikan. Kroscek dulu berbagai informasi yang didapatkan sebelum membagikannya ke media sosial. Karena jika kebiasaan asal share informasi tak jelas itu masih membandel di benak netizen, maka bukan tak mungkin ancaman hukuman penjara yang akan didapatkannya.

Terlebih berbagai informasi yang mengandung hujatan ataupun ujaran-ujaran kebencian. Media sosial bukanlah wadahnya untuk hal-hal seperti itu. Lebih baik gunakan media sosial untuk hal yang bermanfaat, berbagi ilmu dan memperat tali silaturahmi. Bukankah hal yang seperti ini justru lebih indah!. (*)

Banser Berjaga di Kediaman Gus Mus

 Banser terlihat melakukan penjagaan di kediaman Gus Mus di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Banser terlihat melakukan penjagaan di kediaman Gus Mus di Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sejak muculnya kasus penghinaan yang dilakukan beberapa netizen terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus beberapa hari lalu, membuat banyak pihak tak tinggal diam, khususnya warga NU.

Beberapa pengurus GP Ansor di berbagai wilayah di Indonesia, berupaya melakukan pendekatan kepada beberapa orang yang telah melakukan penghinaan terhadap Gus Mus untuk bertabayyun dan meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus. Sebab, penghinaan yang dilakukan terhadap Gus Mus, yang merupakan ulama, adalah perbuatan yang tidak pantas.

Seperti halnya Pandu Wijaya, yang dalam beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan publik, akibat cuitannya di Twitter yang telah melakukan penghinaan terhadap Gus Mus dengan kata “Bid’ah Ndasmu”. Kemudian ada juga Bahtiar Prasojo, yang juga melakukan penghinaan terhadap Gus Mus, melalui akun Faceebok miliknya.

Keduanya, yang ternyata usianya masih 25 tahun, kemarin di dampingi pihak keluarga dan pengurus GP Ansor dari masing-masing daerah, telah datang ke kediaman Gus Mus untuk bersilaturrahmi dan meminta maaf secara langsung.

Menyikapi hal ini, Banser Rembang juga menyiagakan anggotanya di kediaman Gus Mus. “Ini sebagai bentuk bakti kita untuk melindungi ulama. Apalagi, Gus Mus adalah ulama NU yang sangat kita hormati,” ujar Komandan Banser Rembang Zaenal Arifin.

Dirinya juga menyatakan, penyiagaan anggota Banser tersebut, juga sebagai bentuk penyambutan tamu-tamu yang sebelumnya telah melakukan penghinaan terhadap Gus Mus. “Kita sangat mengapresiasi mereka yang mau meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus. Dan kabarnya, beberapa orang yang melakukan penghinaan terhadap Gus Mus, akan datang untuk meminta maaf. Sebelumnya juga sudah ada, yakni Pandu dan Bahtiar. Kita di sini juga menyambut beberapa pengurus Ansor dari daerah lain yang turut memfasilitasi beberapa tamu,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Nasihat Gus Mus untuk Pandu Wijaya : Kerja Jangan Diforsir, Luangkan Waktu untuk Keluarga

Pandu Wijaya (baju kotak-kotak) dan keluarganya saat bersilaturrahmi dengan Gus Mus di Pesantren Raudlatut Tolibin Rembang, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pandu Wijaya (baju kotak-kotak) dan keluarganya saat bersilaturrahmi dengan Gus Mus di Pesantren Raudlatut Tolibin Rembang, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Lebih dari satu jam KH Mustofa Bisri atau Gus Mus berbincang santai dengan Pandu Wijaya, seorang pemuda asal Desa Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur, yang nota bene telah menghina Gus Mus dalam cuitannya di Twitter beberapa hari lalu.

Pandu  bersama ibu dan kedua kakaknya sengaja datang ke Ponpes Raudlotut Tolibin Rembang, Jumat (25/11/2016) siang, untuk meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus terkait penghinaan yang dilakukannya.

“Jaga kesehatan agar tubuh tetap fit. Rasul saja menganjurkan kepada kaumnya supaya kerja itu bisa diatur. Luangkan waktu untuk keluarga, kakak, maupun yang lainnya,” ujar Gus Mus dihadapan Pandu yang kemudian disambut gelak tawa semua tamu yang ada.

Dalam kesempatan itu, Gus Mus juga menanyakan kepada Pandu soal ucapan “Ndasmu” yang ditulisnya di Twitter beberapa hari lalu. “Omongan iku sering mbuk lontarke ning kabeh wong? Opo cuma karo aku? (kata itu “Ndasmu”, apakah sering kamu lontarkan ke setiap orang? Apa cuma sama kepada saya saja?). Kalau sering dilontarkan ke setiap orang, bahaya itu,” kata Gus Mus.

Gus Mus juga menyampaikan, jika dirinya pernah berjanji, agar bisa bijak menyikapi segala sesuatu. “Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri. Bila ada orang yang menyalahkan saya, itu saya terima dan kalau memang orang itu salah ya sudah saya maafkan. Bisa jadi orang itu digerakkan oleh Tuhan,” ucapnya.

Terkait kasus ini, Gus Mus berharap kepada keluarga yang bersangkutan supaya tidak memarahi Pandu. Supaya urusan tersebut bisa selesai dengan baik. “Jangan marahi ya Bu, dia mungkin capek dengan kerjanya. Sehingga sampai menuangkan kata-kata itu ke saya. Mungkin juga yang salah itu ialah orang-orang yang memanggil saya kiai,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Minta Maaf ke Gus Mus, Ini Kata Pandu Wijaya soal Penghinaan yang Dilakukannya

Pandu Wijaya (baju kotak-kotak) saat bersilaturrahmi di kediaman Gus Mus, pada Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Pandu Wijaya (baju kotak-kotak) saat bersilaturrahmi di kediaman Gus Mus, pada Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Sosok Pandu Wijaya, warga Perumahan Bromo Desa Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur yang dalam dua hari ini mendapat sorotan publik gara-gara melakukan penghinaan terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus di akun Twitter @panduwijaya_akhirnya sowan ke kediaman Gus Mus di kompleks Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang, Jumat (25/11/2016) siang.

Pandu Wijaya yang tiba di Ponpes Raudlatut Tholibin Rembang sekitar pukul 14.00 WIB, didampingi ibu dan kedua kakaknya yang masing-masing bekerja di Pemda Probolinggo dan Polisi yang bertugas di Polres Probolinggo. Selain itu, Pandu juga didampingi beberapa pengurus GP Ansor Kraksaan, Probolinggo.

Kedatangannya ke Ponpes Raudlatut Tholibin Rembang untuk meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus, karena apa yang dilakukannya beberapa hari lalu telah membuat banyak orang tidak nyaman dan hal itu salah.”Saya khilaf. Waktu itu saya lagi emosi dan capek habis kerja. Saya khilaf, khilaf dan khilaf,” ucapnya hadapan Gus Mus.

Pandu juga mengaku jika dirinya tahu dengan Gus Mus selama ini dari televisi dan media sosial. “Saya tahu hanya di TV dan dunia maya. Ternyata setelah bertemu dan meminta maaf, Beliau-nya bisa dijadikan panutan serta contoh bagi warga,” ungkapnya.

Kemudian, terkait adanya sanksi SP 3 yang diberikan pihak perusahaan di tempat dia bekerja, yakni PT Adhi Karya, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada atasan.  “Saya serahkan ke atasan saya saja. Kemudian, hal lain, yakni jika ada anggota Banser atau Ansor daerah lain menempuh jalur hukum, saya cuma bisa berkata saya khilaf dan meminta maaf kepada warga NU,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu anggota GP Ansor Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Taufiq mengatakan, sebelum Pandu datang ke Rembang dan meminta maaf kepada Gus Mus, Ansor sudah datang ke pihak keluarga Pandu dan menyarankan untuk beritikad baik meminta maaf ke Gus Mus.

“Sebelum Pandu pulang dan masih di Jakarta, kita mendatangi keluarga dengan persuasif, menyarankan untuk beritikad baik. Dan setelah itu, pihak keluarga langsung memanggil Pandu untuk pulang dan sowan ke Gus Mus,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Pemuda yang Hina Gus Mus Ini Akhirnya Datang ke Rembang dan Minta Maaf

 Bahtiar Prasojo (tengah) usai bersilaturrahmi di kediaman Gus Mus di Rembang dan meminta maaf atas perbuatannya yang telah menghinga Gus Mus, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Bahtiar Prasojo (tengah) usai bersilaturrahmi di kediaman Gus Mus di Rembang dan meminta maaf atas perbuatannya yang telah menghinga Gus Mus, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang  – Selain Pandu Wijaya yang melakukan penghinaan terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus di akun Twitternya @panduwijaya_ yang kemudian mendapatkan kecaman dari banyak orang, karena dianggap sangat kasar dan tidak pantas, seorang lagi juga mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan. Adalah pemilik akun Facebook Bahtiar Prasojo.

Dalam kicauannya di akun Facebook miliknya, Bahtiar menuliskan perkataan yang bernada meremehkan dan menghina Gus Mus. Dengan menyertakan sebuah link berita salah satu media online, dirinya menulis status “Orang Kayak Gini Pantesan Punya Mantu Model2 Ulil Abshar Abdalla (Aktivis JIL). Tukang Sindir kayak Gini Dipanggil Kyai, Ulama, Gus?”

Tulisan tersebut, sontak membuat geram dari banyak orang, khususnya Organisasi GP Ansor. Terlebih GP Ansor yang ada di Jawa Tengah. Sebab, pemilik akun facebook tersebut ternyata merupakan warga Desa Pangkah RT 02 RW 02, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal.

Karena menyadari apa yang dituliskan tersebut salah dan menimbulkan banyak orang tidak nyaman, pada Jumat (25/11/2016), Bahtiar Prasojo (25) bersama keluarga dan didampingi pengurus GP Ansor Pangkah, Tegal bersilaturrahmi ke kediaman Gus Mus di Rembang, guna meminta maaf secara langsung.

“Saya ke sini untuk meminta maaf kepada Gus Mus. Saya khilaf atas apa yang telah saya tuli. Dan saya berjanji tak akan mengulangi lagi,” ujar Bahtiar.

Dirinya mengaku, jika apa yang ditulis di akun Facebook miliknya tersebut  tidak bermaksud apa-apa, dan juga tidak ada yang menyuruh atau memback up dirinya . “Saya datang untuk meminta maaf atas dasar kesadaran, dan juga dorongan moral dari teman-teman Ansor,” ungkapnya.

Facebook

Facebook

Di hadapan Gus Mus, dirinya mengaku mendapat wejangan agar tidak terlalu suka yang berlebihan dan tidak terlalu benci kepada seseorang.

Sebelum datang meminta maaf secara langsung ke kediaman Gus Mus, Bahtiar juga telah meminta maaf secara terbuka di akun Facebook miliknya. Begini isinya:

SURAT PERMOHONAN MAAF TERBUKA Kepada Yth. K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), Lembaga-Lembaga NU, dan Semua Pihak yang Tersinggung. 

Saya Bahtiar Prasojo , 25 Th, Alamat Desa Pangkah RT 02 RW 02 Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal.
Dengan ini Meminta Maaf atas Status, Postingan, Share, dan Komentar yg Saya Unggah Mengenai K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) Melalui Media Sosial FACEBOOK. Saya Menyesal dan Memohon Maaf yang Sebesar-besarnya, Seikhlas-ikhlasnya atas itu Semua.
Terima Kasih
.

Terima Kasih Kepada PC GP Ansor Kabupaten Tegal yang Telah Melakukan Tabayyun Kepada Saya dan telah Mengingatkan saya.

Pangkah, Tegal , 24 November 2016

Sementara itu, perwakilan Pimpinan GP Ansor Pangkah, Kabupaten Tegal Nur Rofiudin mengatakan, bahwa yang bersangkutan yakni Bahtiar dimungkinkan sering membaca berita-berita tak jelas di media.”Sehingga hal itu menimbulkan emosi, yang akhirnya membuat ungkapan-ungkapan yang kurang bagus di media sosial,” bebernya.

Dalam hal ini, dirinya sengaja ikut mendampingi yang bersangkutan ke kediaman Gus Mus, karena yang bersangkutan ingin bertabayun dan supaya permasalahan tersebut tak melebar. “Kita sebagai organisasi Ansor memang menyarankan Bahtiar supaya bisa meminta maaf Gus Mus,” ujarnya.

Dia menambahkan, bilamana ada organisasi Ansor wilayah lain yang akan melaporkan ke pihak berwajib terkait kasus ini, maka pihak Ansor Tegal akan berkoordinasi dengan Ansor di wilayah lain.

Editor : Kholistiono

Gus Mus Minta Pandu Wijaya Tidak Dipecat sebagai Karyawan PT Adhi Karya

Facebook

Facebook

MuriaNewsCom,Rembang – Akibat penghinaan yang dilakukan Pandu Wijaya terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, banyak netizen di Twitter menyerukan agar Pandu Wijaya, yang merupakan karyawan PT Adhi Karya segera dipecat.

Hal tersebut, ternyata juga direspon oleh Gus Mus. Dalam hal ini, Gus Mus meminta agar pemecatan terhadap Pandu Wijaya tidak dilakukan oleh bos PT Adhi Karya.

Janganlah. Dia sudah menyesal dan meminta maaf. Al-Musãmih kariim…,” cuit Gus Mus lewat akun Twitter-nya @gusmusgusmu seperti dilihat MuriaNewsCom, Jumat (25/11/2016) pagi tadi.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Adhi Karya Fadjroel Rachman juga telah meminta maaf kepada Gus Mus atas nama pribadi dan perusahaan lewat akun Twitter-nya @fadjroeL.

“Atas nama pribadi dan @AdhiKaryaBUMN saya ucapkan MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA kepada @gusmusgusmu atas ucapan tak pantas karyawan kami – FR,” cuitnya.

Merespons Fadjroel, Gus Mus juga bijak saja menanggapi. Sosok yang menyebut dirinya ‘orang bodoh yang tak kunjung pandai’ di Twitter ini merasa tidak ada yang perlu dimaafkan.

Baca juga : Dihina “Bidah Ndasmu”, Begini Sikap Arif Gus Mus

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda,” tulis Gus Mus di akun Twitter-nya @gusmusgusmu pagi ini sambil menyertakan emotion senyum.

Lewat akun Facebook-nya, Gus Mus juga menyampaikan kepada Fadjroel dan PT Adhi Karya agar Pandu Wijaya tidak dipecat.

Saudara Fadjroel Rachman dan Adhi Karya BUMN dengan sungguh-sungguh memintakan maaf atas ucapan salah satu karyawannya. Maka dengan sungguh-sungguh saya menjawab: Tidak ada yg perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan ‘bahasa khusus’ di tempat umum. Maklum masih muda. Saya mohon jangan sampai si karyawan dipecat, sebagaimana usul sementara orang,” tulis Gus Mus.

Gus Mus sendiri berharap kasus ini jadi pelajaran berharga. Dia meminta agar orang jangan mudah emosi dan marah jika dihina atau direndahkan oleh orang lain.

Sementara itu, akun Twitter @panduwijaya_ hingga saat ini masih digembok. Sebelumnya Pandu Wijaya juga telah meminta maaf kepada Gus Mus melalui akun Twitternya.  “Nyuwun pangapunten atas kesalahan dalem, mugi2 @gusmusgusmu lan santrinipun maringi ngapunten,” tulis Pandu.

Baca juga : Ini Tanggapan Keluarga Gus Mus Soal Penghinaan yang Dilakukan Pandu Wijaya

Editor : Kholistiono

Ini Tanggapan Keluarga Gus Mus Soal Penghinaan yang Dilakukan Pandu Wijaya

Twitter

Twitter

MuriaNewsCom, Rembang – Melalui akun Twitter, seorang netizen bernama Pandu Wijaya menghina KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Akibat perbuatannya tersebut, netizen pemilik akun @panduwijaya_ itu langsung mendapat kecaman dari banyak orang, khususnya warga NU (Nahdlatul Ulama).

Cuitan Pandu Wijaya ini berbunyi, @gusmusgusmu Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijarh ke madinah. Bid’ah Ndasmu!

Mereka menganggap, cuitan Pandu Wijaya tersebut sangat tidak sopan dan jauh dari adab mengingat bahwa Gus Mus yang merupakan sosok pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang tersebut adalah sosok yang sangat dihormati banyak orang karena ilmu dan kharismanya.

Akibat hal ini pula, kini berbuntut panjang. Ada yang akan membawa persoalan ini ke ranah hukum, ada yang meminta Pandu dipecat dari perusahaan dia bekerja, dan ada pula yang menyarankan agar Pandu Wijaya meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus.

Baca juga : Dihina “Bidah Ndasmu”, Begini Sikap Arif Gus Mus

Terkait dengan penghinaan yang dilakukan Pandu Wijaya terhadap Gus Mus, pihak keluarga Gus Mus angkat bicara.

Wahyu Salvana atau yang akrab disapa Gus Wahyu, yang merupakan menantu dari Gus Mus menanggapinya dengan bijak dan tenang. “ Menghadapi hal seperti ini tentunya harus sabar. Kalau keras dihadapi dengan keras, maka akan poklek (patah). Oleh sebab itu, kita harus sabar,” ujar Gus Wahyu ketika disambangi MuriaNewsCom di Pesantren Raudlatuh Tholibin, Kamis (24/11/2016) malam.

Di damping salah satu santri, dirinya juga menyampaikan, jika kasus penghinaan seperti ini tak separah yang dialami Nabi Muhammad SAW ketika itu. “Zaman Jahiliyah itu malah lebih parah, bagaimana Nabi Muhammad SAW dihina dan dilecehkan orang lain. Tetapi, Nabi tidak marah. Hal itu, tentu harus menjadi pembelajaran bagi kita juga, agar tidak cepat marah juga dan sabar ketika dihina orang lain,” ungkapnya.

Selain itu, saat disinggung mengenai kasus penghinaan tersebut apakah dapat mengganggu kegiatan santri atau menimbulkan keresahan terhadap santri, pihaknya menuturkan, bahwa santri tidak terpengaruh dengan hal itu.

“Santri baik-baik saja. Sebenarnya, kalau orang tua atau ayah kita diperlakukan semacam itu, kita sebagai anak juga agak merasa marah dan gimana gitu. Namun, kita juga harus sabar. Namanya juga orang tersebut khilaf,” ucapnya.

Menurut informasi yang berkembang, Pandu Wijaya dikabarkan akan meminta maaf secara langsung kepada Gus Mus. Hal itu, juga ditanggapi positif dari pihak keluarga Gus Mus. “Kalau mau bertamu ya silakan, namanya juga tamu,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

Dihina “Bidah Ndasmu”, Begini Sikap Arif Gus Mus

twit_e

Twitter

MuriaNewsCom,Rembang – Seorang netizen bernama Pandu Wijaya melalui akun twitternya melakukan penghinaan terhadap KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang merupakan Pengasuh Pondoh Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang.

Karena perbuatannya itu, pemilik akun @panduwijaya tersebut langsung mendapat kecaman dari banyak orang, khususnya warga NU.

Cuitan Pandu Wijaya dinilai sangat tidak sopan dan jauh dari adab, mengingat, Gus Mus yang merupakan sosok yang sangat dihormati banyak orang karena ilmu dan kharismanya.

Penghinaan yang dilakukan pemilik akun @panduwijaya terhadap Gus Mus tersebut, bermula ketika Gus Mus melalui akun Twitter berkomentar soal sholat Jumat di ibukota yang rencananya akan digelar di jalan raya.

Dalam cuitannya Gus Mus yang dibuat Rabu (23/11/2016) kemarin, Gus Mus melalui akun @gusmusgusmu mengatakan :

  1. Aku dengar kabar di ibu kota akan ada Jum’atan di jalan raya. Mudah2an tidak benar.
  2. Kalau benar, wah dalam sejarha Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada BID’AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran.

Nah, saat Gus Mus menyampaikan cuitan kedua tersebut, akun @panduwijaya_ menimpali demikian :

@gusmusgusmu Dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijarh ke madinah. Bid’ah Ndasmu!

Karena kata-kata kasar yang ditulis tersebut, sontak langsung mendapatkan banyak respon dari pengguna Twitter lainnya. Mereka tidak terima dan mengecam keras apa yang dilakukan pemilik akun @panduwijaya.

Ada yang menegurnya dengan halus, ada juga yang kemudian mencari identitas anak ini untuk dilaporkan ke aparat hukum. Tidak langsung minta maaf, akun @panduwijaya justru ngetweet lagi dengan sinis. Dengan akun twitternya yang sekarang ini sudah digembok, lebih lanjut ia berujar begini kepada akun @fajarnugros, “kyai jangan dikultuskan, dia hanya manusia, kalau salah ya dikritisi, diingatken! salah kok di bela, piye utekmu jal?”. Namun, akun @panduwijaya buru-buru meralat dan kemudian meminta maaf.

“Nyuwun Pangapunten atas kesalahan dalem, mugi2 @gusmusgusmu lan santrinipun maringi ngapunten”

twitter

Sejak mendapat kecaman yang sangat luas, cuitan @panduwijaya_ ternyata langsung dihapus. Namun demikian, hal itu tak berpengaruh apa-apa. Sebab, respon keras dari netizen sudah menjalar ke mana-mana. Sosoknya tetap dicari, terutama di dunia maya.

Seperti dikutip dari akun Facebook Johan Wahyudi, anggota Banser DKI Jakarta juga mendatangi PT Adi Karya untuk mengklarifikasi pernyataan tersebut. PT Adi Karya sendiri diketahui adalah tempat Pandu Wijaya bekerja. Dari pertemuan antara Banser DKI Jakarta dengan pejabat PT Adi Karya itu, muncul kesepakatan bahwa pemilik akun Pandu Wijaya akan meminta maaf secara langsung.

Fadjroel Rachman, yang merupakan Komisaris Utama PT Adi Karya, dalam akun twitternya @FadjroeL  menyampaikan permohonan maaf atas sikap tak pantas dari karyawannya tesebut.

Atas nama pribadi dan @AdhiKaryaBUMN saya ucapkan MOHON MAAF SEBESAR-BESARNYA kepada @gusmusgusmu atas ucapan tak pantas karyawan kami – FR

Sementara itu, Gus Mus dalam status facebooknya menanggapi dengan respon yang santun  dan bijak atas penghinaan yang ditujukan kepadanya itu.

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan,” begitu respon Gus Mus di akun Facebook pribadinya Ahmad Mustofa Bisri (Simbah Kakung).

Cuitan ini juga mendapat tanggapan beragam dari netizen.Pemilik akun Facebook Firman Guendut misalnya : Begitulah resiko dunia maya nggih. Gak peduli mentri prsiden maupun kyai dan tokoh masyarakat. bisa saja di bully di pisui sumpah serapah oleh seseorang. Keberanian luar biasa karena ta bertemu muka, bisa pakai nama samaran atau identitas beda. Lelaki bisa mengaku wanita dst…………..jadi harus siapkan dada lapang dan kesabaran .

Ada juga pemilik akun Facebook Sigid Budi Santoso. “Anak sekarang khok gitu ya, gak punya unggah ungguh

Kemudian ada juga pemilik akun Facebook Midham “nderek yai mawon….tapi tolong yang deket rumahnya mas pandu itu,kalau bisa diantarkan ke rembang untuk minta maaf secara langsung kepada mbah yai…

Editor : Kholistiono

Santri Diharapkan Bisa Menjadi Panutan

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menyampaikan sambutannya pada acara Ngaji Kebangsaan pada Minggu (23/10/2016) malam di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Bupati Rembang Abdul Hafidz saat menyampaikan sambutannya pada acara Ngaji Kebangsaan pada Minggu (23/10/2016) malam di Alun-alun Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz menyampaikan, jika santri itu memiliki ciri khas yang baik, sederhana dan memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap sesama serta suka membantu orang lain.

Untuk itu, keberadaan santri saat ini juga diharapkan bisa menjadi panutan karena perilaku sifatnya yang terpuji. “Santri itu harus sederhana meskipun punya segalanya, tetapi tidak pamer, tidak sombong. Jika ada santri yang adigang-adigung dan sombong, itu namanya bukan santri,” ujar Hafidz saat menghadiri acara Ngaji Kebangsaan bersama Cak Nun  dan Gus Mus serta beberapa ulama serta tokoh di Alun-alun Rembang, Minggu (23/10/2016) malam.

Lanjutnya, hal yang patut ditiru dari santri yakni, tidak memiliki budaya meminta. Jikapun tak memiliki apa-apa tetap siap menjalankan tugas,seperti apa yang pernah dialami bupati ketika nyantri di Sarang.”Santri biasanya tidak punya cita-cita, tetapi kehidupannya bisa melebihi yang punya cita-cita. Seperti saya yang sudah mengalami,” imbuhnya.

Sementara itu, KH Ahmad Musthofa Bisri atau akrap di sapa Gus Mus ini, mengingatkan agar para santri tahu tentang sejarah Hari Santri.

“santri harus tau sejarahnya, kenapa ada peringatan Hari Santri Nasional. Meski ditetapkannya Hari Santri itu sudah terlambat. Akan tetapi Resolusi Jihad harus menjadi pengingat bagi santri, bagaimana peran santri untuk berjuang demi bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Gus Mus berpesan kepada para santri, untuk tidak menonjol-nonjolkan jasa. Meski tidak dibukukan peranan santri, tetapi peranan santri dapat dilihat melalui Resolusi Jihad oleh Hadrotus Syeh Hasyim As’ary, yang merupakan perwujudan sumbangsih santri kepada negara Indonesia.

Editor : Kholistiono

Cerita Gus Mus Tentang Perjalanan Hidup Bersama Istrinya, Ibarat Mimi dan Mintuno

 Gus Mus menyalami tamu yang menghadiri acara doa bersama 40 hari wafatnya Nyai Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Gus Mus menyalami tamu yang menghadiri acara doa bersama 40 hari wafatnya Nyai Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCoom, Rembang – Pada acara doa bersama 40 hari wafatnya Siti Fatma, Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus) bercerita sedikit mengenai kehidupannya bersama istrinya yang telah dijalani hampir setengah abad. Gus Mus mengibaratkan, dirinya dan istrinya mengarungi lika-liku kehidupan bersama, seperti Mimi dan Mintuno.

Mimi dan Mintuno sendiri dalam bahasa Jawa merupakan kiasan dari cinta sejati. Tak jarang, pada acara-acara pernikahan diselipkan pesan dan doa “Dadio koyo pasangan Mimi lan Mintuno (jadilah pasangan seperti Mimi dan Mintuno).”

“Saya menikah dengan ibunya anak-anak (Siti Fatma) dari bulan madu hingga meninggalnya beliau itu sudah 45 tahun lamanya. Ini merupakan waktu yang sangat berharga bagi saya, terlebih ketika melakukan dakwah ke berbagai daerah,” ungkap Gus Mus.

Ketika Gus Mus ceramah, katanya, Nyai Siti Fatma sering duduk paling depan. “Dia itu selalu memberi kode saya, bilamana ceramah saya kelamaan, maka yang akan mengingatkan itu ya ibunya anak-anak itu,” kenang Gus Mus.

Gus Mus, juga pernah bercerita tentang kehidupannya bersama istrinya yang ketika itu dua hari setelah ke-44 tahun pernikahan. Cerita itu ditulis dalam dinding facebooknya pada 21 September 2015. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan “Qabiltu nikahaha…”  ketika Kiai Abdullah Chafizh – Allahu yarham – mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan putrinya, Siti Fatma, menjadi isteriku.

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan.

Selama itu –hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu– seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: “I love you”, “Aku cinta padamu”, “Anä bahebbik”, “Aku tresno awakmu”, atau kata-kata mesra sejenis.

Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami.

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara ‘serius’ tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius.

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada.

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal..

Editor : Kholistiono

Gus Mus Gelar Doa Bersama 40 Hari Wafatnya Nyai Fatma

 Tampak tamu undangan mengikuti tahlil dan doa bersama 40 hari wafatnya Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)


Tampak tamu undangan mengikuti tahlil dan doa bersama 40 hari wafatnya Siti Fatma (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Keluarga besar Kiai Musthofa Bisri (Gus Mus) menggelar doa dan tahlil pada hari ke-40 wafatnya Siti Fatma. Acara itu digelar di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Kelurahan Leteh, Kecamatan/Kabupaten Rembang, Senin (8/8/2016) malam.

Acara yang dihadiri sekitar seribu undangan dari berbagai daerah tersebut juga turut dihadiri oleh Bupati Rembang Abdul Hafidz, Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Dandim 0720/Rembang Letkol Infantri Darmawan Setiady dan lain sebagainya.

Saat diwawancarai MuriaNewsCom, menantu Gus Mus Wahyu Salvana mengungkapkan, untuk undangannya sendiri, meliputi warga dari Kabupaten Rembang, Pati maupun Kudus. “Rata-rata undangan dari Rembang sendiri. Namun juga ada beberapa yang hadir dari Kudus, Pati dan sekitarnya,” katanya.

Pada malam tadi, terlihat Gus Mus bersalaman dengan ribuan tamu dengan didampingi para menantunya.Acara dimulai usai Isya. Dengan mengenakan kemeja lengan panjang warna putih, Gus Mus tampak tegar dalam acara pemberian doa dan tahlil untuk almarhumah istrinya tersebut. “Tentunya kami sampaikan terima kasih atas doa dari semuanya, semoga amal ibadah almarhumah ibu diterima Allah,” ujar Wahyu.

Doa bersama 40 hari meninggalnya Siti Fatmah ini sendiri dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, sambutan dari Gus Mus, tahlil dan doa. Tamu undangan juga tampak kusyuk mengikuti doa bersama tersebut.

Editor : Kholistiono

 

Foto-Foto Prosesi Pemakaman Istri Gus Mus, Siti Fatma, di Rembang

Warga mengiringi jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Warga mengiringi jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Kepergian sosok istri KH A Mustofa Bisri (Gus Mus), Siti Fatma, benar-benar meninggalkan luka yang dalam. Semua Nahdiyin, khususnya warga Rembang, merasa kehilangan.

Berikut foto-foto prosesi pemakaman , Jumat (1/7/2016), pukul 13.30 WIB.

Penjagaan ketat pengantaran jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Penjagaan ketat pengantaran jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

Pantauan MuriaNewsCom, di lokasi. Iring-iringan dimulai dari rumah duka, sampai ke pemakaman keluarga di Desa Kabongan Kidul, Rembang.

Warga bersiap memakamkan jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Warga bersiap memakamkan jenazah Siti Fatma di Rembang. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

Selawat nabi dan semua puji-pujian dilafalkan oleh para pengantar hingga prosesi pemakaman.

makam 5

Kerabat, keluarga, saudara, dan masyarakat melepas kepergian jenazah Siti Fatma. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Ribuan Orang Antar Jenazah Istri Gus Mus ke Pemakaman

Istri Gus Mus, Siti Fatma, Meninggal Dunia

Gus Mus juga Ucapkan Bela Sungkawa Atas Meninggalnya Istri

Istri Gus Mus Meninggal, PBNU Ajak Nahdiyin se-Indonesia Salat Gaib

surat

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak Nahdiyin untuk melakukan Salat Gaib dan tahlilan.

Itu sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya istri KH A Mustofa Bisri (Mustasyar NU), Siti Fatma, Kamis (30/6/2016) sore.

Ajakan PBNU itu berupa instruksi yang ditujukan kepada pengurus wilayah dan pengurus cabang Nahdlatul Ulama serta seluruh Nahdiyin seluruh Indonesia.

Informasi yang diterima MuriaNewsCom, almarhumah akan dimakamkan di Makam Kabongan Kidul, Rembang, Jumat (1/7/2016) pukul 13.30 WIB.

Editor : Akrom Hazami

 

Gus Mus juga Ucapkan Bela Sungkawa Atas Meninggalnya Istri

Almarhumah Siti Fatmah (Facebook Ahmad Mustofa Bisri)

Almarhumah Siti Fatmah (Facebook Ahmad Mustofa Bisri)

 

MuriaNewsCom, Rembang – KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) berbela sungkawa atas meninggalnya istri, Siti Fatmah.

Di media sosial Facebook dengan nama akun Ahmad Mustofa Bisri, Gus Mus menulis status. Dikutip dari akun tersebut.

“Innã liLlăhi wainnã ilaiHi rãji’ün. Telah wafat hari ini, Kamis 30 Juni 2016 jam 14:30 yang kami cintai Ibu *Fatmah Mustofa* di RSU Rembang. Mohon segala kesalahan almarhumah dimaafkan dan mohon doa semoga amal-amal baiknya diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah. Al-Fãtihah,” begitu kalimat di status tersebut.

Status yang diunggah pukul 16.17 WIB langsung mendapat respons. Di antaranya, pemilik akun Zaba Gsix menulis innalillahi wainna ilaihi raajiuun turut bela sungkawa yai :'( semoga amal beliau di terima oleh allah dan dosa2nya di ampuni oleh ALLAH SWT amiiiiiin

Ada juga Detty Jansen menulis Mbah putri.. Ya Allah.. Mbah kung sekeluarga kami turut berduka cita.. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah dan mbah Putri sudah khusnul khotimah.. Amin amin amin.. Al fatihah..

Editor : Akrom Hazami

Baca juga :

Istri Gus Mus, Siti Fatma, Meninggal Dunia

 

 

 

Istri Gus Mus, Siti Fatma, Meninggal Dunia

gusmus dan almarhum

KH Mustofa Bisri bersama istri Siti Fatma. (Facebook KH Mustofa Bisri)

 

MuriaNewsCom, Rembang- Siti Fatma, istri KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, meninggal dunia, Kamis (30/6/2016).

Informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, Siti Fatma meninggal sekitar pukul 14.45 WIB.

Tun Mardiyah, putri dari Munfaridjah Basyuni yang merupakan adik terakhir dari Siti Fatma membenarkan info duka tersebut.

Saat dikonfirmasi, ia mengaku mendapatkan kabar meninggalnya sekira pukul 15.20 WIB.

“Iya benar mengenai kabar tersebut,” katanya singkat saat dihubungi melalui jaringan telepon.

Editor : Akrom Hazami

 

 

 

Gus Mus : Korupsi di Indonesia karena Cinta Materi yang Berlebihan

Gus Mus ketika dikunjungi oleh Mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Gus Mus ketika dikunjungi oleh Mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, kemarin. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus berpendapat tentang maraknya kasus korupsi di Indonesia.

Menurutnya, kecintaan terhadap harta yang berlebihan itu memunculkan keserakahan atau ketamakan. Pernyataan Gus Mus ini sebagai sumbangan pendapat untuk diskusi kiai dengan KPK yang perlu digelar untuk menemukan akar masalah korupsi di Indonesia.

Mustasyar PBNU itu mengatakan, diskusi tidak hanya penting untuk menemukan hal-hal yang bisa menjurus korupsi, tetapi juga perlu untuk mencari akar dari masalahnya. Seperti halnya aksi terorisme di negeri ini. “Kalau menurut saya sumber korupsi itu adalah kesenangan terhadap materi yang berlebihan. Dalam bahasa Anda keserakahan atau ketamakan,” tuturnya.

Pesantren bisa mendapatkan dari KPK tentang seluk beluk korupsi yang disebutnya “njlimet” dan yang kadang tidak diketahui orang awam. Informasi dari KPK soal korupsi, menurutnya sangat penting. Dengan mengerti seluk beluk dan apa saja yang dikategorikan sebagai korupsi secara rinci, maka kalangan pesantren; kiai, santri dan pengurusnya akan bisa jaga diri dan hati-hati.

Sebab menurutnya, penguasa dan pengusaha sering berhubungan dengan kiai untuk kepentingan mereka. “Ada yang tidak kiai tahu. Misalnya pemberian-pemberian oleh pihak tertentu. Oleh kiai pemberian itu dianggap sebagai kemurahan hati bahkan, sampai didoakan,” katanya.

Sementara dari pesantren, KPK mendapat masukan tentang nilai-nilai yang mendukung pemberantasan korupsi, misalnya di pesantren ada konsep “mabadi khaira ummah”, yaitu kejujuran, keadilan, dan amanah. Gus Mus mengakui, pencegahan korupsi lebih penting dari sekadar penindakan.

“Ada nilai dan norma di pesantren yang bisa digunakan KPK untuk membantu kerja mereka memberantas korupsi khususnya di segi pencegahan. Pencegahan lebih penting,” tegasnya.

Editor : Akrom Hazami

Baca juga : BW Wadul ke Gus Mus Soal Potensi Korupsi di Sektor Pengelolaan Kekayaan Alam 

BW Wadul ke Gus Mus Soal Potensi Korupsi di Sektor Pengelolaan Kekayaan Alam

Mantan Wakil Ketua KPK  Bambang Widjojanto saat sowan dikediaman Gus Mus (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto saat sowan di kediaman Gus Mus. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

MuriaNewsCom, Rembang – Mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto menyebutkan sejumlah potensi korupsi kekayaan alam di tanah air, saat sowan dikediaman Mustofa Bisri (Gus Mus), di komplek Pondok Pesantren Raudhatul Thalibin, Leteh, Rembang, Senin(7/3/2016).

Dihadapan Gus Mus, Bambang menyebutkan ada perubahan mendasar kebiasaan gotong- royong yang bertahun-tahun dibangun masyarakat, yang akhirnya luntur berganti gotong- royong untuk korupsi dan saling mengamankan posisi.

Salah satu potensi korupsi ada pada pengelolaan kekayaan alam di tanah air. Bambang mencontohkan, kekayaan kelapa sawit dari 10 juta hektare hasilnya, 50 persen diantaranya masuk ke kantong konglomerat dan hanya 2 persen pajak yang masuk ke kas negara.

Menurutnya, potensi korupsi dari pajak kelapa sawit cukup besar, karena ketiadaan peta Indonesia yang utuh selama ini.

“Hampir 70 tahun ini, Indonesia tak ada peta secara utuh. Semua peta, baik peta kehutanan dan maupun agraria berbeda.Ini yang jadi celah empuk para koruptor untuk ‘bermain’ dilahan sawit,” tegasnya.

Tak hanya soal pajak kelapa sawit, Bambang menyebutkan potensi pajak hasil laut. Hasil per tahun yang mencapai Rp 200 triliun lebih, pajak yang terbayarkan hanya berkisar Rp 200 miliar.

”Ini yang kemudian menjadi sorotan Menteri Susi,untuk tegas melakukan moratorium kapal berskala besar,” ujarnya.

“Kemudian, izin tambang yang jumlahanya sekitar 11 ribu izin tambang, 50 persen perzinan semua bermasalah dan hanya 30 persen yang membayar pajak.”Jadi bisa dikatakan pajak yang dibayar ke negara ini hanya 5 persen dari 4 kali lipat dari harta konglomerat di tanah air,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, menurut Bambang, yang terhimpit adalah masyarakat kecil menengah.Sebab, mereka yangmembayar pajak harian seperti pemilik warteg atau pedagang kaki lima. ”Padahal 70 persen pembayaran pajak menjadi penyangga utama APBN,” katanya.

Dia menambahkan, semenjak kasus pegawai pajak Gayus Tambunan terungkap empat tahun lalu, ada sejumlah kemungkinan-kemungkinan yang dihadapi KPK belakangan ini. Kemungkinan pertama, menurutnya bisa jadi karena intenal pajak memang sudah bersih atau ada kesulitan KPK untuk mengungkap praktik pelaku korupsi yang kian canggih.

”Ini tantangan yang bakal dihadapi, kejahatan korupsi tidak hanya akan memiskinkan satu institusi saja, tetapi dampaknya luas dan luar biasa, karena akan memiskinkan negara dan masyarakat,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

Gus Mus Dorong Para Santri Dakwah Bil Film

Gus Mus berfoto bersama Produser asal Jerman, Dominic Jackson di Masjid Agung Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Gus Mus berfoto bersama Produser asal Jerman, Dominic Jackson di Masjid Agung Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, mendukung terkait model dakwah melalui sarana film alias dakwah bil film.

Menurutnya, dakwah bisa melalui berbagai macam di antaranya, yakni dakwah bil lisan, dakwah bil kitab, dakwah bil hal atau dakwah lewat perbuatan. ”Nah, film itu bisa mencakup semuanya, baik dakwah bil lisan, bil kitab, ataupun bil haq,” katanya.

Film barat itu, kata Gus Mus, pesannya tidak kelihatan. Namun begitu filmnya ditonton, para penonton bisa tahu bagaimana pesan film itu. Jadi tidak harus menggurui atau terlalu banyak pidato. ”Penonton bisa digiring dengan sendirinya ke arah pesan yang ingin disampaikan, tanpa harus mengatakan begini lo pesannya,” jelasnya.

Gus Mus mengingatkan dakwah itu mengajak, bukan membenarkan atau menyalahkan. Dakwah melalui sarana film diilhami oleh cara mengajak yang dilakukan para pendahulu, seperti Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

”Pada masanya, Sunan Bonang berdakwah dengan sarana alat musik bonang. Sedangkan Sunan Kalijaga menggunakan media wayang,” beber kiai yang juga dikenal sebagai seniman dan budayawan itu.

Oleh karenanya, ulama yang kini berusia 71 tahun ini menekankan, pola dakwah perlu dikembangkan agar lebih maju. Salah satu pengembangan dakwah yaitu dengan dakwah bil film. Sedari dini, Gus Mus mewanti-wanti agar dakwah bil film ditangani secara profesional. Bahkan sampai mendatangkan produser kelas dunia, Dominic Jackson.

Terpisah, salah satu santri asal Pesantren Kaliopak Yogyakarta yang mengikuti pelatihan itu, Misbachul Munir mengaku mendapat banyak ilmu dari Dominic. ”Banyak materi yang kami dapatkan mulai dari teknik pengambilan gambar, model dan pola kerja, perencanaan, proses pra produksi dan pasca produksi, hingga terkait kedisiplinan,” katanya.

Menurut santri yang membuat film pendek Kartini Santri Rembang ini, film merupakan media yang efektif untuk menginternalisasikan nilai dan pesan yang terkandung dalam agama. ”Seperti dawuh Gus Mus terkait dakwah bil film. Film sangat efektif sebagai media dakwah. Apalagi kita sudah ketinggalan jauh dengan luar,” tandasnya. (AHMAD WAKID/TITIS W)

Produser Asal Jerman, Acungi Jempol Film Karya Para Santri Rembang Ini

Suasana pelatihan pembuatan film yang dipandu oleh Produser Film dari Jerman, Dominic Jackson di Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

Suasana pelatihan pembuatan film yang dipandu oleh Produser Film dari Jerman, Dominic Jackson di Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Rembang. (MuriaNewsCom/Ahmad Wakid)

 

REMBANG – Produser film asal Jerman, Dominic Jackson, memuji film pendek garapan para santri dalam pelatihan pembuatan film di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang.

Pria kelahiran Amerika Serikat itu mendampingi dan membagi ilmu tentang cara pembuatan film yang digelar selama lebih dari sepekan yaitu Sabtu (9/1/2016) hingga Minggu (17/1/2016). Dalam evaluasi yang dilakukan pada hari terakhir, Dominic menilai, para santri itu sudah mampu menguasai kemampuan dasar dalam bidang pembuatan film.

”Kita di sini sudah benar-benar bagus, untuk basic-nya sudah menguasai. Setelah menguasai basic, kita bisa bergerak kemanapun yang kita mau,” kata Dominic melalui seorang penerjemah pada hari terakhir, Minggu (17/1/2016).

Produser dari film Turn Left (2006) menyebut, para santri cepat paham dan langsung mampu mempraktikkan. Selain itu, lanjutnya, para santri sangat semangat dan serius. ”Saya sudah 20 tahun berkecimpung di dunia produksi film. Di sini, peserta antusias dalam belajar dan cepat paham,” tandasnya.

Bahkan, Dominic mengagumi cara kerja sama yang baik dari para santri. Padahal mereka berasal dari daerah berbeda, yakni: Yogyakarta, Magelang, dan Rembang. ”Saya belum pernah melihat orang-orang yang berasal dari daerah berbeda, hanya dalam waktu singkat bisa bekerjasama seperti ini,” pujinya.

Para peserta terdiri dari 14 santri dan seorang kiai. Dari Yogyakarta 4 santri dan kiai M Jadul Maula pendiri Pondok Pesantren Kaliopak. Sedangkan dari Magelang 4 santri dan Rembang 6 santri. Film itu nantinya akan diunggah di youtube sebagai bentuk dakwah bil film. (AHMAD WAKID/TITIS W)