Guru Ngaji Cabuli Santrinya di Masjid Jepon Blora

Barang bukti pakaian yang dikenakan korban pencabulan guru ngaji di Blora. (Polres Blora)

MuriaNewsCom, Blora – Guru ngaji, MJ (46), warga Desa Blungun Rt 3 Rw 1, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, harus berurusan dengan hukum. MJ mencabuli santrinya berusia 8 tahun di salah satu masjid. Satreskrim Polres Blora kini telah menangkap MJ usai keluarga korban melaporkannya ke polisi.

Kejadian bermula, saat MJ dan korban usai melakukan salat duhur di salah satu masjid di Jepon, Selasa (1/8/2017). Usai salat, MJ memanggil korban, tapi tak dihiraukan. MJ lantas menarik tangan dan menurunkan celana yang dipakai korban.

Korban hendak melarikan diri dan meronta, tapi pelaku memarahinya. Aksi pencabulan itu dilakukan MJ di dalam masjid. Usai dicabuli, MJ mengancam korban agar tidak memberitahukan aksi tersebut. MJ tak lupa memberi uang Rp 2 ribu kepada korban. Uang tersebut diberikan sebagai uang jajan.

Selanjutnya korban pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut ke ibunya. “Aksi tersebut terbongkar setelah korban bercerita kepada orang tuanya dan langsung  melaporkan tindak pencabulan itu ke polisi,” ujar Kapolres Blora AKBP Saptono dikutip dari halaman resmi, Polres Blora, Sabtu (26/8/17).

Polisi menyita pula barang bukti yang diamankan, yaitu baju berwarna merah muda, dan celana kain berwarna kuning. “Kasus ini juga masih dalam pemeriksaan tim penyidik Sat Reskrim Polres Blora,” katanya.

Menurut pengakuan tersangka di depan polisi, dirinya melakukan perbuatan cabul karena tak mampu membendung hawa nafsunya. Pelaku mengaku sudah lama bercerai dengan istrinya, dan belum menikah lagi. “Saya mengaku khilaf melakukan perbuatan itu pak, lantaran hasrat hawa nafsu saya yang menggebu-gebu,” ujar MJ sembari tertunduk.

Saptono mengimbau kepada masyarakat yang memiliki anak perempuan agar menjaga anaknya dengan baik. Termasuk, orang tua juga perlu memantau pergaulan sehari-hari anak.” Jangan mudah  percaya dengan siapapun. Terutama anak yang masih di bawah umur,” imbaunya

Akibat perbuatannya, pelaku diancam Pasal 76E Jo Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak di bawah umur.

Editor : Akrom Hazami

 

Keren, Guru Multimedia SMKN 1 Purwodadi ini Raih Peringkat II Tingkat Nasional

Guru multimedia SMKN 1 Purwodadi Vivi Nur Azizah berhasil menggapai juara II dalam lomba keahlian guru produktif (LKGP) tingkat nasional akhir pekan lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Prestasi tingkat nasional diraih guru SMKN 1 Purwodadi, baru-baru ini. Guru multimedia Vivi Nur Azizah berhasil menduduki peringkat II dalam lomba keahlian guru produktif (LKGP) tingkat nasional akhir pekan lalu.

Pelaksanaan lomba yang diikuti guru SMK dari berbagai daerah dilangsungkan di kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Meski belum berhasil menjadi yang terbaik namun prestasi itu dinilai sudah membanggakan.

“Terus terang, saya tidak menyangka bisa dapat juara II. Soalnya, saingan dalam lomba ini cukup berat karena levelnya nasional,” ujar Vivi, Selasa (25/7/2017).

Menurutnya, LKGP tersebut sudah dilangsungkan dua kali. Tahun lalu, ia sempat ikut berpartisipasi. Namun, prestasi akhir hanya dapat urutan keenam.

Belajar dari pengalaman perdana, Vivi kembali ikut LKGP tahun 2017. Hasilnya, prestasinya naik bisa jadi peringkat II.

Untuk bisa mengikuti final LKGP tersebut butuh proses panjang. Sebab, peserta terlebih dulu harus menjalani tahapan seleksi online. Yakni, membuat perangkat pembelajaran berikut hasil video berdurasi 20 menit. Hasil pembuatan video disimpan dalam keping DVD dan diberi label yang sesuai dengan tema.

“Peserta yang ikut seleksi sekitar 330 an. Setelah diseleksi terpilih 50 finalis dari berbagai jurusan. Khusus jurusan multimedia terjaring 10 finalis,” ungkap guru asal Gemolong, Sragen yang sudah 6 tahun mengajar di SMKN 1 Purwodadi itu.

Lulusan Desain Komunikasi Visual UNS Surakarta itu menyatakan, semua peserta diwajibkan menjalani empat tahapan dalam final. Yakni, tes kognitif tertulis, tes kompetensi dengan praktik bikin video berdurasi 10 menit, paparan prestasi terbaik dan praktik mengajar.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Purwodadi Sukamto menyatakan, prestasi yang diraih salah satu gurunya tersebut memang di luar prediksi. Meski memintanya untuk berupaya keras, namun tidak ada target yang dibebankan dalam LKGP tersebut.

“Apa yang diraih ibu Vivi ini memang membanggakan. Semoga ini bisa melecut semangat guru lainnya untuk meraih prestasi,” katanya. (nap)

 

Editor : Akrom Hazami

 

Bupati Rembang Ingin Berikan Instentif Guru RA yang Belum Terkaver Kemenag

Ratusan guru RA menghadiri halal bihalal di Pamotan. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Bupati Rembang Abdul Hafidz berkeinginan memberikan insentif bagi guru-guru sekolah Raudhotul Athfal (RA) yang belum mendapat insentif dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Rembang. Terkait hal tersebut, akan dikoordinasikan dengan Kemenag terlebih dahulu.

Hal itu disampaikan Abdul Hafidz saat memberikan sambutan dalam acara halal bihalal Ikatan Guru Raudhotul Athfal se-Kabupaten Rembang di  Kecamatan Pamotan , Selasa (11/7/2017). Ucapan bupati tersebut langsung mendapat apresiasi dari ratusan guru RA yang hadir di lokasi halal bihalal.

Bupati berharap, keinginannya bisa terwujud, karena Guru RA dinilai juga merupakan elemen penting dalam mendidik anak di usia emasnya. Keinginannya tersebut merupakan wujud hadirnya negara untuk rakyatnya.

“Apakah masih ada guru RA  yang belum mendapatkan insentif dari Kementrian Agama? Nanti akan kami koordinasikan dengan Dinas Pendidikan, mungkin nanti kami titip untuk guru RA sekian, itu kira-kira, tapi belum jaminan , ” ujarnya.

Bupati juga mengungkapkan, bahwa dalam kesempatan itu, ia sengaja mengajak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga dan meminta Kepala Kantor Kementerian Agama hadir dalam acara tersebut. Tujuannya, agar keduanya sinkron di dalam mengeluarkan kebijakan yang berkaitan dengan RA.

“Saya sengaja mengajak Plt Kepala Dinas Pendidikan Pak Akhsanudin dan meminta Kepala Kemenag Athoillah hadir di sini tidak semata-mata hanya bertemu saja. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan agar di dalam mengambil keputusan ada sinkronisasi, tidak saling melempar tapi saling bertanggung jawab,” tuturnya.

Insentif guru RA berkisar Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu. Namun, bupati yakin terkait finansial tidak menjadi kendala bagi mereka untuk mengajar. Niat ikhlas yang menjadi modal kuat dalam pengabdian mereka di dunia pendidikan.

Selama ini juga tersebar kabar bahwa guru RA mendapat insentif dobel, baik dari Kemenag maupun pemkab. Kabar tersebut sempat membuat kecemburuan guru setingkat, Namun hal itu tidak benar.

Editor : Kholistiono

Guru di Pati Diminta Aktif Menulis Karya Ilmiah

Subawi menjelaskan kepada peserta bimbingan teknis karya ilmiah di SKB Disdikbud Pati, Rabu (5/4/2017). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Guru di Pati diminta tak hanya bisa mencerdaskan dan mendidik siswa, tetapi juga dituntut untuk bisa menulis karya tulis ilmiah. Sebab, sesuai dengan Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010, publikasi karya ilmiah menjadi salah satu syarat kenaikan pangkat.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (disdikbud) Kabupaten Pati, Ahmadi, seusai membuka acara Bimbingan Teknis Karya Tulis Ilmiah bagi Guru Penjasorkes SD di Aula SKB Pati, Rabu (5/4/2017).

“Salah satu syarat kenaikan pangkat bagi guru, antara lain publikasi karya ilmiah. Karenanya, kami meminta kepada guru untuk mengasah kemampuan menulis dan berpikir untuk selanjutnya dituangkan dalam bentuk karya ilmiah agar bisa dipublikasikan,” kata Ahmadi.

Ada sejumlah alasan seorang guru mesti memiliki publikasi karya ilmiah. Pertama, seorang guru akan sulit berkembang, stagnan dan susah naik pangkat bila tidak memiliki publikasi ilmiah.

Kedua, publikasi karya ilmiah menjadi salah satu parameter kompetensi guru. “Lepas masalah pangkat, publikasi karya ilmiah menjadi salah satu indikasi produktivitas guru dalam bidang menulis. Ketentuan guru bisa menulis karya ilmiah diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan kompetensi guru,” imbuhnya.

Karenanya, Disdikbud Pati mengadakan bimbingan teknis karya tulis ilmiah dalam rangka membekali guru agar mahir menulis karya ilmiah. Dengan bimbingan tersebut, para guru di Pati diharapkan bisa meningkatkan kualitas menulis karya ilmiah.

Subawi, Kepala SMP Gembong yang menjadi narasumber dalam bimbingan teknis tersebut mengatakan, menulis karya ilmiah berbeda dengan menulis artikel umum. Karya ilmiah mesti mendasarkan pada fakta-fakta ilmiah, termasuk tulisan harus sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengacu pada ejaan yang disempurnakan (EYD).

Editor : Kholistiono

GTT di Kudus Jangan Berharap jadi PNS

Seorang guru mengajar siswa di salah satu sekolah di Kudus. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus – Para pegawai honorer di lingkungan pendidikan atau Guru Tidak Tetap (GTT), diminta agar tak berharap lebih atas statusnya. Karena, jika tidak maka dalam mengajar tidak akan Ikhlas.

Kabid Dikdas pada Disdikpora Kudus Kasmudi mengatakan, para GTT diminta tak usah bermimpi jadi pegawai negeri dengan lamanya mengabdi menjadi GTT. Karena semuanya ada aturannya tentang pengangkatan pegawai negeri.

“Dari awalnya mengangkat GTT itu saja harus ada kesepakatan, kalau guru yang diangkat digaji sesuai dengan kemampuan sekolah. Apalagi para GTT yang di tingkat dasar seperti SD dan juga SMP. Bahkan kalau perlu ada tanda tangan seperti perjanjian,” kata Kasmudi di Kudus, Selasa (28/3/2017).

Pria yang juga Ketua PGRI Kudus mengatakan, dibutuhkan guru yang statusnya GTT tak menuntut untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Dia juga meminta kepada pihak kepala sekolah untuk tak seenaknya mengangkat pegawai. Kecuali, jika memang sekolah mendesak membutuhkan tambahan guru.

“GTT itu kan mengabdi. Jadi jika masih bersedia seharusnya tanpa adanya gaji, juga harus diterima. Namun kami tahu sekolah memberikan intensif semampunya,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

PGRI Jateng : Guru Merupakan Profesi Panggilan Jiwa

Logo PGRI

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua PGRI Jateng Widadi mengatakan, kalau profesi guru merupakan perkajaan panggilan jiwa. Sehingga, jika seorang yang menjadi guru tak ada panggilan jiwa, maka tujuan guru dapat melenceng.

“Sesuai dengan aturan UU Guru dan Dosen nomor 14 pasal 7 ayat 1, mengatakan kalau terdapat sembilan prinsip profesi guru dan dosen. Di antaranya adalah adanya bakat, minat, panggilan jiwa dan idealis,” kata Widadi di Kudus, Rabu (22/3/2017).

Menurutnya, dari sembilan kriteria itu yang paling susah adalah adanya panggilan jiwa. Karena guru yang dari panggilan jiwa, akan berusaha mencerdaskan siswanya dengan senang hati.

Dia mengatakan, seorang guru idealnya mampu meningkatkan kualitas pengajarannya maupun kualitas dirinya. Bagaimanapun yang ditangani guru merupakan manusia. Dikatakan, kalau berdasarkan hasil survey di dunia menjelaskan tentang motif orang bekerja dibagi menjadi tiga hal. Pertama adalah mencari nafkah, kedua mengejar karir dan ketiga panggilan jiwa.

“Kalau pertama mencari nafkah mencapai 54 persen. Dari 54 persen di antaranya, sejumlah 17 persennya membenci pekerjaannya dan hanya mengejar nafkah. Kedua adalah mengejar karir yang mencapai 17 persen dan sisanya baru panggilan jiwa atau memang suka,” jelasnya.

Ketua PGRI Kudus Kasmudi menjelaskan mencontohkan seorang guru yang mengajar Matematika dengan mengibaratkan siswa membeli jajan sekolah. Dalam contoh tersebut harus mengandung aspek pelajaran Matematika, perilaku jujur dengan membayar sesuai harga, juga budi pekerti.

Editor : Akrom Hazami

Ketua PGRI Jateng : Guru Terlalu Dibebani Administrasi

Caption : Ketua PGRI Jateng (paling kiri) memberikan keterangan tentang beban administrasi yang berat dialami para guru, di Kudus, Rabu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Ketua PGRI Jateng Widadi mengatakan, selama ini beban guru dalam hal administrasi sangatlah tinggi. Untuk itu, dia meminta kepada pemerintah agar mengurangi beban guru, terutama di Jateng.

Pernyataan tersebut diungkapkan saat berkunjung ke Kudus, Rabu (21/3/2017). Dalam acara pelantikan Ketua PGRI Kudus, dia mengatakan selama ini para guru seringkali dipusingkan dengan adanya administrasi yang tak kunjung selesai dikerjakan.

“Kami dari PGRI sudah menemui langsung bapak Presiden terkait hal itu. Kami sampaikan kritikan kalau banyak beban guru yang terlalu tinggi dalam hal administrasinya,” kata Widadi di gedung PGRI Kudus di Kecamatan Kaliwungu.

Berdasarkan pengalaman yang dilakukan, dia pernah menjumpai seorang guru yang sampai lembur hingga tengah malam. Itu dilakukan hanya untuk menyusun laporan administrasi yang banyak. Kondisi itu dirasa memberatkan guru dan bahkan menyita banyak waktu serta energi. Atas dasar itu juga yang mendasari adanya keluhan yang disampaikan kepada Presiden secara langsung.

“Kebetulan kan saudara Presiden ada yang jadi guru. Jadi dia juga merasakan apa yang dirasakan oleh sejumlah guru. Dan kami yakin, itu juga dilaporkan kepada Presiden secara langsung,” ujarnya.

Keinginannya dalam merevisi administrasi diminta agar lebih ringkas dan praktis. Bukan untuk menghilangkan administrasi yang sudah berjalan, tapi mengurangi beban. “Tapi harus disederhanakan saja, misal pembuatan RPP masih berjalan dan simpel saja. Kemudian pembuatan laporan juga masih dibutuhkan untuk para guru, hanya sekadarnya saja yang dikurangi,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ivan Gunawan Siap jadi Guru  SMK di Kudus

Desainer Ivan Gunawan usai menampilkan karya bordir khas Kudus di Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 di JCC Senayan Jakarta, Minggu (5/2/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Desainer Ivan Gunawan usai menampilkan karya bordir khas Kudus di Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 di JCC Senayan Jakarta, Minggu (5/2/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Desainer kondang, Ivan Gunawan (Igun) siap menjadi guru untuk para siswa SMK di Kudus. Hal itu terkait dengan misi Igun, yakni membuat masyarakat Kudus pandai berwirausaha .

Igun mengatakan hal itu saat konferensi pers Indonesia Fashion Week (IFW) 2017 di JCC Senayan Jakarta, Minggu (5/2/2017). Ssaat itu, dia mengatakan jika serius dalam hal mewujudkan misi melatih para siswa di SMK. “Berhubung untuk siswa SMK swasta sudah banyak diperhatiin, maka kami berencana membidik sekolah negeri. Itu juga arahan bapak bupati yang kami terima untuk sekolah negeri di Kudus,” katanya.

Menurutnya, dalam melatih atau menjadi guru, dia pribadi mengaku akan susah jika masuk dalam sebuah sistem atau kurikulum. Untuk itulah dia memilih masuk ke dalam menu ekstrakurikuler yang ada dalam sekolah di Kudus.

Dia tak sendiri dalam merencanakan hal itu. Namun ada desainer lainnya  seperti  Rudy Chandra, Ariy Arka dan juga Defrico Audy jga membantu dalam hal mewujudkan masyarakat Kudus yang pandai. Terutama usaha bordir.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Sudiharti mengatakan,  kalau yang bakal dilatih tak hanya siswa, tapi bagi lulusan yang masih berniat membuka usaha, juga diperbolehkan untuk gabung  “Jadi ujungnya adalah memperluas kesempatan usaha dan bekerja. Sesuai dengan arahan bapak Bupati Musthofa tentunya,” ungkap dia.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Tantangan Guru di Zaman Kekinian

Kholistiono cak.kholis@yahoo.co.id

Kholistiono
cak.kholis@yahoo.co.id

GURU merupakan seorang pembimbing dan penuntun untuk menjadikan seseorang menjadi pintar dan dewasa dalam berpikir maupun bersikap. Peran seorang guru menjadi sangat vital bagi perkembangan generasi muda, sebab, mereka adalah “orang tua” bagi anak-anak yang sebagian waktunya, setiap hari dihabiskan di sekolah.

Maka tak heran, jika peran guru mendapatkan sorotan dari masyarakat luas. Sebab, guru menjadi kunci vital terhadap maju atau tidaknya dunia pendidikan. Mereka yang menjadi nahkoda untuk membawa anak didiknya ke sebuah tujuan pendidikan yang berkarakter dan bermoral, dengan jalur atau proses yang belum tentu sama antara satu guru dengan guru lain.

Tak dapat dipungkiri pula, dalam proses tersebut, terkadang ada tindakan yang “kurang wajar” dan justru bisa berdampak adanya ketidaksesuaian dengan kondisi masa kini. Bahkan, bisa pula mengakibatkan fatal terhadap kondisi psikis dan fisik dari peserta didik. Dapat dibayangkan, jika hal seperti ini dapat memicu reaksi dari publik, apalagi, kini zamannya sudah era sosial media, yang sangat memungkinkan informasi-informasi terkait apa yang terjadi dalam dunia pendidikan menyebar dengan sangat cepat.

Contoh saja, dalam beberapa hari terakhir ini, dunia pendidikan kembali menjadi sorotan publik. Bukan soal prestasi tentunya, sebab, jika hal seperti itu terkadang tak terlalu “dihebohkan” oleh publik, khususnya netizen.

Kali ini terkait dengan insiden adanya belasan siswa SMAN 1 Mlonggo, Jepara, yang pingsan akibat menjalankan sanksi atau hukuman yang diperintahkan oleh kepala sekolahnya. Sanksinya berupa lari, baris berbaris dan bersih-bersih dalam kondisi diguyur hujan deras. Mereka, yang fisiknya tak kuat karena kedinginan, lantas pingsan dan harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Bahkan, dua di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit.

Peristiwa ini bermula, ketika, pada hari itu ada puluhan siswa yang terlambat masuk sekolah, yang memang jam masuk dimajukan setengah jam lebih awal, yakni pukul 06.30 WIB. Hal ini tak lepas adanya program bersih lingkungan atau yang disebut Jumat Bersih.

Kepala sekolah sendiri menyampaikan, jika jam masuk dimajukan lebih awal, agar tidak mengganggu jam kegiatan belajar mengajar dengan adanya Program Jumat Bersih tersebut. Namun, yang terjadi hari itu, ada lebih dari 50 siswa yang datang terlambat dan tidak dapat masuk karena pintu gerbang sudah dikunci. Selanjutnya, mereka pun terkena sanksi.

Dalam hal ini, sang kepala sekolah juga mengatakan jika sanksi yang diberikan kepada siswanya itu bukan dimaksudkan untuk menyiksa dan tidak menginginkan peristiwa pingsannya belasan siswa itu terjadi. Sanksi tersebut dimaksudkan untuk memberikan pendidikan disiplin dan pendidikan karakter.

Namun demikian, hal tersebut sudah terlanjur terjadi. Gelombang protes pun muncul dari berbagai lini, khususnya orang tua dan siswa. Bahkan, pada hari berikutnya, siswa melakukan aksi demontrasi layaknya mahasiswa atau ormas yang membawa beragam karton yang bertuliskan tuntutan, yang intinya menuntut agar Kepala SMAN 1 Mlonggo lengser.

Sikap serius juga ditunjukkan oleh Pemkab Jepara Plt Bupati Jepara Ihwan Sudrajat secara langsung melaporkan adanya peristiwa ini kepada Pemprov Jateng, dan memberikan rekomendasi kepada Dinas Pendidikan Provinsi Jateng untuk mengganti posisi kepala sekolah yang saat ini dijabat Gunawan.

Dari peristiwa ini, setidaknya, bisa menjadi pembelajaran bagi dunia pendidikan untuk melakukan pembenahan dalam proses mendidik dan mengajar. Sehingga, ke depan tidak muncul lagi cara mendidik yang sebenarnya dimaksudkan untuk kebaikan, namun, justru pola yang diterapkan tidak sesuai. Pola-pola lama, yang terkadang cara pengajarannya “disisipkan” kekerasan fisik, sudah seharusnya tidak lagi muncul dalam pola pendidikan saat ini dan ke depannnya.

Seperti halnya yang disampaikan Anies Baswedan, Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beberapa waktu lalu, bahwa, tantangan besar guru saat ini adalah bisakah guru menjadi teladan soal integritas? Bisakah kepala sekolah membuat sekolahnya menjadi zona berintegritas?

Untuk mewujudkan hal tersebut, salah satu di antaranya, adalah bagaimana cara berpikir guru yang harus diubah dari yang hanya sekadar menjalankan kewajiban untuk mendapatkan gaji. Menjadi guru harus punya kreasi dalam mendidik.

Dalam mendidik, guru juga seyogyanya tak menerapkan sikap otoriter, sehingga hal itu berakibat terhadap berkembangnya kreatifitas siswa. Seorang guru memiliki kewenangan untuk mendidik dengan cara mereka, namun, bukan semaunya mereka, yang justru tidak menghasilkan proses pembelajaran yang membuat nyaman siswa, sehingga tidak memacu siswa untuk lebih kreatif akibat ketidaknyamanan tersebut.

Namun demikian, guru tidak pula harus bersikap permisivisme. Dalam hal ini, guru tidak harus memberikan keleluasaan yang sebebas-bebasnya, sehingga justru menabrak aturan dan tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Sebab, fungsi guru adalah membimbing dan mengarahkan anak didiknya menjadi pribadi yang baik dan berkarakter.

Jika begitu, ternyata berat ya menjadi seorang guru? Ya, guru bukan hanya sebuah profesi, tetapi guru merupakan tugas mulia yang membutuhkan keikhlasan untuk mengabdikan diri mendidik siswa, seperti halnya mereka mendidik anak-anak mereka di rumah. Mereka punya kewajiban menyanyangi anak didiknya seperti halnya anak mereka sendiri. Maka ada baiknya, yang kini mengabdikan diri menjadi pendidik, menoleh kembali, apakah selama ini sudah benar-benar sesuai tujuan sebagai seorang guru, ataukan hanya sekadar menjalankan kewajiban.

Mengetahui beratnya tanggung jawab seorang guru seperti itu, tentulah, kita patut memberikan apresasi yang tinggi terhadap guru dan memuliakan guru. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk ikut dalam mengurangi beban guru, khususnya terkait dengan kesejahteraan mereka.

Kita berharap, ke depan, dunia pendidikan di Indonesia semakin maju dalam tatanan moral yang beradab dan tidak melepaskan nilai-nilai budaya yang dimiliki. (*)

Gugah Pengetahuan Mahasiswa, FKIP UMK Undang Alumni

Mutohhar, dosen mata kuliah Teacher Profesional Devolepment, Progdi Bahasa Inggris, FKIP, UMK saat diskusi bertajuk Guru dalam Berbagai Persepsi di Aula Masjid Darul Ilmi, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Mutohhar, dosen mata kuliah Teacher Professional Devolepment, Progdi Bahasa Inggris, FKIP, UMK saat diskusi bertajuk Guru dalam Berbagai Perspektif di Aula Masjid Darul Ilmi, Selasa (3/1/2016). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar diskusi bertajuk Guru dalam Berbagai Perspektif di Aula Masjid Darul Ilmi, Selasa (3/1/2016). 

Dalam diskusi tersebut dua alumni dengan profesi berbeda diundang sebagai narasumber. Kedua narasumber tersebut adalah Agus Siswanto guru Bahasa Inggris SMK Taman Siswa dan Supriyadi wartawan Koran Muria.

Mutohhar, dosen mata kuliah Teacher Professional Devolepment, Progdi Bahasa Inggris, FKIP, UMK mengatakan, dua alumni yang diundang tersebut merupakan mahasiswa angkatan 2011.Mereka diundang untuk berbagi cerita tentang pengembangan profesi guru.

”Kami ingin menunjukkan kepada mahasiswa, jika lulusan FKIP terutama PBI itu tidak melulu menjadi guru di dalam kelas. Mereka punya kesempatan untuk mengembangkan ilmu yang dimiliki dengan profesi lain,” katanya di sela-sela acara.

Ia menjelaskan, skill Bahasa Inggris yang dimiliki mahasiswa juga bakal menjadi bekal untuk menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Karena itu, ia berharap mahasiswa bisa serius untuk menekuni pelajaran Bahasa Inggris di bangku perkuliahan.

”Hanya, kami minta mahasiswa untuk mengimbanginya dengan soft skill dan mental untuk berani berkreasi. Salah satunya mengedepankan membaca ataupun diskusi antarmahasiswa. Itu sangat penting bagi mereka kelak,” ujarnya.

Disinggung terkait pilihan alumni yang didatangkan, Mutohhar menegaskan, dua alumni tersebut memiliki profesi yang berbeda namun latar belakangnya sama. Untuk itu, keduanya diharapkan bisa memberikan gambaran terkait progres ke depan.

”Kami memiliki lulusan yang kompeten. Saat ini keduanya berbeda profesi namun masih memegang teguh prinsip sebagai seorang guru. Itu sebabnya kami mengundang mereka,” tandasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Guru di Pati Diminta Profesional dan Berkemajuan

Sejumlah guru tampak khidmat mengikuti upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah guru tampak khidmat mengikuti upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Plt Bupati Pati Budiyono meminta guru di Pati untuk mengedepankan profesionalitas dengan prinsip berkemajuan. Hal itu disampaikan Budiyono dalam upacara memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 di Alun-alun Pati, Jumat (25/11/2016).

Menurutnya, guru memiliki peran penting untuk membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) bangsa. Tak sekadar mencerdaskan, guru dinilai punya tanggung jawab untuk membentuk karakter dan moralitas yang baik.

“Peran guru sangat mulia dan sentral. Betapa tidak, kualitas manusia-manusia Indonesia ditentukan dari pendidikannya. Guru yang sukses adalah guru yang berhasil mendidik muridnya dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan, karakter, dan moral yang baik,” ujar Budiyono.

Karena itu, profesionalitas dengan prinsip kemajuan mesti dimiliki seorang guru. Terlebih, pemerintah selama ini sudah meningkatkan kesejahteraan guru melalui tunjangan kinerja. Hal itu diharapkan agar guru punya semangat untuk mendidik muridnya agar menjadi generasi bangsa yang berkualitas.

“Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik supaya murid punya bekal yang baik untuk menatap masa depan. Di Pati, saya cukup memberikan apresiasi kepada guru. Pelajar di Pati sudah lama dikenal dengan kualitasnya yang baik. Bahkan, banyak pelajar di Pati yang menjuarai berbagai macam kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.

Sebaliknya, murid mesti menghormati guru yang selama ini telah berupaya tidak hanya melakukan transfer ilmu, tetapi juga transfer karakter dan moral. “Guru sangat menentukan masa depan kehidupan bangsa. Kita bisa hadir di sini, menjadi tentara, polisi, dokter, pengusaha, dan semuanya, tidak lepas dari peran guru. Maka, hormatilah guru,” tukas Kepala Dinas Pendidikan Pati, Sarpan.

Upacara Hari Guru Nasional di Alun-alun Pati juga diikuti oleh Dandim 0718/Pati Letkol Inf Andri Amijaya Kusuma, Wakapolres Pati Kompol Nyamin, Kajari Pati Kusnin, Ketua Pengadilan Negeri Pati Sugiyanto, Ketua PGRI Pati Waridjan, dan pengurus PGRI Pati. Tak hanya itu, sedikitnya 400 guru dan murid SD, SMP, serta SMA se-Kabupaten Pati ikut dalam upacara tersebut.

Editor : Kholistiono

Guru di Desa Tempur Jepara Dibekali Ilmu Deteksi Ancaman Bencana

Sejumlah guru mengikuti pelatihan pendidikan kebencanaan di Desa Tempur, Kabupaten Jepara. (Istimewa)

Sejumlah guru mengikuti pelatihan pendidikan kebencanaan di Desa Tempur, Kabupaten Jepara. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Menjadi seorang guru bukanlah suatu profesi mudah. Tak jarang beberapa kesulitan sering mereka temui, apalagi bagi yang berada di daerah rawan bencana. Selain bertugas mengajar (mendidik), tanggungjawab lainnya adalah menjaga keselamatan siswanya selama aktivitas belajar dan mengajar berlangsung.

Baru-baru ini, puluhan guru di Desa Tempur Kabupaten Jepara diberi pelatihan pendidikan kebencanaan. Tak kurang 28 guru yang terdiri dari Madrasah Ibdtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) mengikuti kegiatan tersebut.

Mochamad Widjanarko, salah satu pembicara dalam kegiatan itu mengatakan selama mengikuti pelatihan para guru diberikan pemahaman khususnya upaya penyelamatan darurat apabila terjadi ancaman bencana. “Para guru juga diajari penanganan adanya kemungkinan dampak psikologis yang dialami siswa,” katanya di rilis persnya ke MuriaNewsCom.

Widjanarko begitu ia biasa disapa berharap pascamengikuti kegiatan hasil kerja sama Yayasan Wali Songo, Tempur dengan lembaga penelitian Muria Research Center (MRC) Indonesia itu, dapat tersusun sebuah buku modul pendidikan bencana yang kemudian dapat menjadi pegangan selama mengajar. “Buku itu ya kira-kira semacam muatan lokal pengajaran khususnya bencana,” terang Dosen Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) itu.

Akhmad Syamsudin Kepala Sekolah MTs Mathali’ul Huda mengaku senang dapat mengikuti acara tersebut. Menurutnya pelatihan semacam itu sangat positif dan berguna bagi orang sepertinya yang berprofesi sebagai guru. “Kalau bisa nanti diakan pertemuan setiap dua minggu sekali. Ini penting untuk saya sampaikan kepada siswa di sekolah,” paparnya

Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut antara lain Agus Hendratno (Dosen Geologi UGM), M.Zainuddin (BPBD) Jepara dan Femi Noviyanti (Jurnalis).

Editor : Akrom Hazami

Warga Pati Diminta Jangan Tinggalkan Bahasa Indonesia dan Lokal

Sejumlah guru SD di Pati tengah mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia di SMAN 3 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah guru SD di Pati tengah mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi berbahasa Indonesia di SMAN 3 Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah berlaku di Indonesia, tak terkecuali di Pati. Era pasar bebas di tingkat ASEAN itu tak semestinya membuat warga berbondong-bondong belajar Bahasa Inggris dan meninggalkan bahasanya sendiri.

Karena itu, warga Pati diminta untuk tetap menggunakan bahasa lokal daerah dan Bahasa Indonesia dalam keterlibatannya sebagai masyarakat ASEAN. Karena, penggunaan “bahasa ibu” dinilai penting untuk dilestarikan.

“Pakai Bahasa Indonesia saja bisa, kenapa harus pakai bahasa asing? Kalau ada orang asing mau ke Indonesia terkait dengan MEA, ya mereka yang harus belajar Bahasa Indonesia,” ujar Koordinator Bidang Pembinaan Bahasa Balai Bahasa Jawa Tengah Agus Sudono saat ditemui MuriaNewsCom usai melatih guru SD di Pati di SMAN 3 Pati, Selasa (12/4/2016).

Diakui atau tidak, kata dia, orang asing saat ini banyak yang kursus Bahasa Indonesia di Balai Bahasa Jawa Tengah. Mereka juga mengikuti uji kemahiran bahasa Indonesia (UKBI) atau “TOEFL”-nya bahasa Indonesia.

Karena itu, pihaknya menyayangkan banyaknya tulisan-tulisan di pinggir jalan dan reklame yang menggunakan kosakata Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. “Saat ini, beberapa generasi tidak mengenal dengan kosakata Bahasa Indonesia sendiri. Misalnya, orang lebih tahu istilah online ketimbang daring, lebih tahu istilah website ketimbang laman, dan seterusnya,” ungkapnya.

Kondisi itu yang membuat Balai Bahasa harus turun di sejumlah daerah, termasuk Pati untuk mendidik guru sekolah dasar. Ratusan guru itu diharapkan menjadi “duta” untuk melakukan transfer wawasan bahasa Indonesia kepada murid SD sebagai generasi penerus bangsa.

Editor : Akrom Hazami
Baca juga: Ratusan Guru SD di Pati Digembleng Melek Bahasa Indonesia

Ratusan Guru SD di Pati Digembleng Melek Bahasa Indonesia

 

 

Ratusan guru SD di Pati diajari wawasan bahasa Indonesia dari Balai Bahasa Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Ratusan guru SD di Pati diajari wawasan bahasa Indonesia dari Balai Bahasa Jawa Tengah. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Sekitar 120 guru sekolah dasar (SD) dari berbagai institusi pendidikan di Pati digembleng wawasan Bahasa Indonesia di SMA Negeri 3 Pati, Selasa (12/4/2016).

Kegiatan yang digelar Balai Bahasa Jawa Tengah tersebut diharapkan bisa meningkatkan kualitas guru SD di bidang Bahasa Indonesia. Di Jawa Tengah, ada 15 kabupaten yang mendapatkan pelatihan bahasa, termasuk Pati.

Koordinator Bidang Pembinaan Bahasa Balai Bahasa Jawa Tengah Agus Sudono mengatakan, guru SD merupakan fondasi pembelajaran di tingkat dasar. Bila penyampaian materi kepada anak didik keliru akan berakibat fatal.

“Penyegaran wawasan dan ilmu Bahasa Indonesia sangat penting, terutama bagi guru SD. Mereka yang melakukan transfer ilmu kepada murid tingkat dasar. Kita tahu, murid tingkat dasar adalah masa pembentukan karakter,” ujar Agus kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, kompetensi guru di bidang Bahasa Indonesia perlu ditingkatkan di tengah pusaran arus globalisasi dan teknologi informasi yang begitu pesat. Dengan demikian, guru bisa semakin bijak dalam mengajarkan kepada murid SD supaya bisa menempatkan Bahasa Indonesia, bahasa lokal, dan bahasa internasional sesuai dengan kondisi.

“Mereka diajarkan materi teoretis, kemudian dilatih secara praktik. Pelatihan kompetensi yang berlangsung selama empat hari ini diharapkan bisa meningkatkan wawasan guru tentang Bahasa Indonesia,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Guru Sulit Berkembang di Grobogan, Ini Kendalanya

Kegiatan acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Kegiatan acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya peningkatan kualitas guru di Grobogan melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) belum bisa dilakukan maksimal. Salah satu kendalanya adalah kurangnya dana untuk melangsungkan PKB.

Hal itu terungkap dalam acara Konsultasi Publik PKB di salah satu rumah makan di Toroh yang digelar Usaid Prioritas Jawa Tengah, Jumat (8/4/2016).

“Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) kendala dana memang jadi salah satu penyebab. Jumlah guru kita ada 12 ribu lebih. Sementara alokasi dana untuk PKB sekitar Rp 640 juta dari pusat per tahun. Dengan dana sebesar ini, hanya sekitar 600 orang saja yang bisa terakomodasi melalui PKB,” ungkap Kasi Sumber Daya Manusia Dinas Pendidikan Grobogan Sunardi.

Acara konsultasi publik juga dihadiri sejumlah guru SD/SMP dan kepala sekolah. Selain itu, hadir pula dari perwakilan Bappeda dan DPPKAD Grobogan.

Menurutnya, ada beberapa tujuan dilaksanakannya PKB bagi para guru tersebut. Antara lain, untuk meningkatkan layanan pendidikan di sekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Melalui PKB, guru diharapkan selalu meningkatkan kompetensinya. Baik dalam penguasaan materi pembelajaran maupun metode yang tepat pada saat melakukan pembelajaran. Sehingga peserta didik memahami, menyenangi, berperan aktif dalam pembelajaran.

Jika pelayanan terhadap peserta didik dapat dioptimalkan, maka diharapkan proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

“Selain itu, PKB ini bertujuan untuk memfasilitasi guru dalam mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Dengan PKB akan memotivasi guru untuk tetap memiliki komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga profesional. Kemudian, lewat kegiatan PKB bisa mengangkat citra, harkat, dan martabat profesi guru, rasa hormat dan kebanggaan sebagai guru yang professional,” jelasnya.

Lebih lanjut Sunardi menjelaskan, ada beberapa jenis PKB bagi guru tersebut. Yakni,
berupa pengembangan diri guna meningkatkan kemampuan kompetensi guru. Caranya bisa melalui diklat fungsional, workshop-workshop pendidikan, seminar tentang kependidikan, dan mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya, serta melakukan kegiatan kolektif guru lainnya.

Jenis PKB kedua adalah melalui publikasi Ilmiah. Yakni, dengan menyusun karya ilmiah dan mempublikasikannya pada forum ilmiah.

Kemudian, PKB juga bisa dilakukan melalui karya inovatif. Seperti, menemukan teknologi tepat guna dan membuat atau memodifikasi alat pelajaran dan alat peraga yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya.

Sementara itu, perwakilan Usaid Prioritas Jawa Tengah Hari Riyadi menyatakan, untuk meningkatkan kualitas guru pihaknya siap menjadi mitra dengan memberikan beberapa fasilitas. Seperti, membantu penyusunan dan membiayai bimbingan perencanaan teknis dalam melaksanakan PKB.

“Salah satu bentuk upaya yang kita lakukan adalah membuat acara konsultasi publik ini. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendapatkan masukan dari banyak stake holder,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Penyebab Tunjangan Tambahan Penghasilan Guru di Jepara Belum Cair

Ilustrasi Guru

Ilustrasi Guru

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sekitar 1.160 guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) non sertifikasi di Kabupaten Jepara belum menerima tunjangan tambahan penghasilan sejak bulan Juli 2015 lalu. Hingga Januari ini, informasi terkait tunjangan tersebut masih belum jelas.

Sekertaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh membeberkan, penyebab belum cairnya tunjangan tersebut. Menurut dia, belum cairnya tunjangan itu terjadi lantaran anggaran dari pemerintah belum turun ke daerah. Anggaran yang ada tahun lalu, hanya mampu menutupi tunjangan tambahan penghasilan pada Januari hingga Juni.

“Kami belum tau kapan dicairkan. Karena memang dari pusat juga belum ada informasi yang jelas,” kata Maftuh, Rabu (20/1/2016).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kebutuhan anggaran untuk tunjangan tambahan penghasilan bagi guru PNS non sertifikasi pada tahun 2015 totalnya mencapai Rp 3,5 miliar lebih. Sementara, sisa anggaran tahun 2014 untuk tunjangan itu hanya Rp 1,5 miliar. Sementara dari pemerintah baru terkucur Rp 800 juta. Jadi hanya cukup untuk setengah tahun.“Dengan demikian, masih ada tunggakan sekitar Rp 1,2 miliar,” jelas dia.

Menurutnya, karena terkait dengan anggaran dari pusat, pihaknya belum dapat memastikan kapan tunjangan yang besarnya Rp 250 ribu/bulan dari pemerintah itu akan dicairkan. Berbagai upaya untuk meminta tambahan anggaran pada pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan dan Kemenetrian Pendidikan tak membuahkan hasil. Sementara, Daftar Penggunaan Anggaran (DPA) tahun ini belum rampung.

“Dengan kondisi ini, kami minta guru-guru untuk bersabar dulu. Tahun ini sudah kami ajukan lagi ke pemerintah,” kata Ali.

Editor : Kholistiono

Ribuan Guru di Jepara Belum Terima Tunjangan Selama 6 Bulan

Ilustrasi Guru

Ilustrasi Guru

 

MuriaNewsCom, Jepara – Jika biasanya para guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) non sertifikasi mendapatkan tunjangan tambahan penghasilan setiap bulan, kali ini mereka harus bersabar.Karena sejak bulan Juli 2015 tunjangan tambahan penghasilan belum cair.

Sekertaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara Ali Maftuh mengatakan, ada sekitar 1.160 guru PNS non sertifikasi yang belum mendapatkan tunjangan tambahan penghasilan sejak bulan Juli hingga Desember akhir tahun 2015 lalu, hingga mendekati akhir januari ini memang belum jelas.

“Ini terkait dengan anggaran dari pusat. Kami belum dapat memastikan kapan tunjangan tambahan penghasilan itu bisa cair,” kata Maftuh kepada MuriaNewsCom, Rabu (20/1/2016).

Sementara itu, tunjangan fungsional bagi guru tidak tetap (GTT) dari pemerintah pusat, Ali mengaku tidak banyak tahu. Itu lantaran, pengalokasian anggaran tunjangan fungsional dan kuota GTT yang menerima tunjungan yang menentukan pemerintah pusat. Karena tidak semua GTT menerima tunjangan fungsional. Sementara tunjangan langsung masuk ke rekening masing-masing GTT.“Tapi sejauh ini kami tak menerima keluhan terkait tunjangan fungsional GTT,” kata dia.

Dia menambahkan, kriteria bagi GTT yang bisa mendapatkan tunjangan fungsional di antaranya GTT yang terhitung mulai tugas mengajar pada tahun 2005. Kemudian, bagi GTT yang sudah memiliki nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK), serta untuk GTT yang mengajar sebanyak 24 jam pelajaran dalam sepekan.

“Kuota GTT yang menerima tunjangan berapa kami tidak tahu, karena yang menentukan langsung pemerintah pusat,” terang dia.

Editor : Kholistiono

Ratusan Guru MI di Blora Dilatih Pola Pembelajaran yang Inovatif

Guru MI di Kabupaten Blora sedang mengikuti pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

Guru MI di Kabupaten Blora sedang mengikuti pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Sebanyak 140 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kabupaten Blora diberikan pelatihan mengenai pola pembelajaran yang inovatif. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 11-14 Januari ini, dilaksanakan di MIN Polosorejo dan Aula MTs Hasanuddin Blora.

Ketua Panitia Agus Purnadi mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru, sehingga dalam memberikan pembelajaran terhadap peserta didik, bisa lebih berkualitas dan mampu dengan mudah diserap anak.

“Kegiatan ini bagian program kerja Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) Blora. Khusus untuk kegiatan ini, kita dibantu USAID Prioritas. Yakni, program yang didanai USAID, dirancang untuk meningkatkan kualitas akses pendidikan dasar di Indonesia,” katanya.

Katanya, ada beberapa poin yang diberikan kepada guru dalam pelatihan tersebut. Di antaranya, agar nantinya guru bisa menerapkan pola pembelajaran yang kreatif, aktif, dan menyenangkan. Bukan hanya sekadar teori saja, namun, guru yang mengikuti pelatihan ini juga disuruh untuk mempraktikkan secara langsung dihadapan fasilitator atau narasumber.

Sementara itu, Kepala Kemenag Blora Tri Hidayat menyampaikan, jika kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pembekalan bagi guru madrasah, agar lebih inovatif.

“Guru sekarang harus menyenangkan dan menggembirakan ketika memberikan pelajaran, sehingga anak berangkat ke sekolah tidak karena terpaksa, tetapi karena semangat dan kemauannya sendiri. Dengan seperti itu, anak-anak akan mudah menyerap materi pelajaran yang di ajarkan,” jelasnya.(RIFQI GOZALI/KHOLISTIONO)

Ratusan Guru SD di Grobogan Dilatih Kelola Barang

Ratusan Guru SD tengah mengikuti pelatihan Simda BMD di Ruang Riptaloka Setda Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Ratusan Guru SD tengah mengikuti pelatihan Simda BMD di Ruang Riptaloka Setda Grobogan (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

GROBOGAN – Pengelolaan barang atau aset ternyata tidak hanya difokuskan di SKPD saja. Tetapi juga menyasar ke SD. Hal ini terlihat dengan adanya pelatihan Simda Barang Milik Daerah (BMD) buat guru SD yang jadi operator program tersebut.

Acara pelatihan di Ruang Riptaloka Setda Grobogan, dibuka Kepala DPPKAD Grobogan Moh Sumarsono. Pelatihan tersebut menghadirkan pula narasumber dari BPKP Perwakilan Jawa Tengah.

Menurut Sumarsono, pelatihan itu dilakukan karena pembuatan kartu inventaris ruangan (KIR) di SD belum didasarkan pada Simda. Oleh sebab itu, para operator di masing-masing sekolah diberikan pelatihan khusus untuk menangani masalah tersebut. Sebab, pihak sekolah yang tahu persis kondisi yang ada disitu.

“Peserta pelatihan ini ada 830 orang guru SD se-Kabupaten Grobogan. Pelatihan dilakukan bergelombang selama enam hari,” kata Sumarsono didampingi Kabid Aset Daerah Ambang Prangudi Margo.

Ditambahkan, dengan pelatihan tersebut nantinya akan terjadi tertib administrasi di level SD. Dengan demikian, hal ini akan memudahkan dalam melakukan inventarisasi atau mutasi aset. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Guru Ini Rela Lenggak Lenggok Demi Anak Didiknya

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Guru menggelar sharing (rapat) untuk saling melengkapi karya-karyanya dengan guru lainnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain menciptakan sistem pendidikan akademik dengan membuat peraga pembelajaran, guru kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah, Klumpit, Gebog juga dituntut untuk membuat karya pendidikan non akademik. Pendidikan tersebut merupakan gerak lagu atau tari yang nantinya diberikan kepada anak didiknya. Sehingga mengembangkan kreativitas anak dalam bidang seni.

Kepala kelompok bermain (KB) Halimatus Sa’diyah Ani Mukhoiyaroh mengatakan, guru tingkatan yang ada di tingkatan KB atau TK itu harus lebih jenius lagi. Sebab yang diajari ialah anak usia dini, dimana usia tersebut baru mengenal pendidikan. Sehingga pihak guru harus mampu menciptakan kreasinya masing-masing.

Dia menilai, dengan kreativitas yang baik itulah, anak didik lebih merasa nyaman bersekolah. Sebab untuk membuat anak didik usia dini merasa nyaman menempuh pendidikan itu tidak mudah. Oleh karena itu, pihak guru dituntut kreativ dalam menyampaikan materi pembelajaran. Khsusunya mengembangkan psikomotorik serta mentalitas anak didik.

”Dalam kegiatan pembuatan kreasi ini, biasanya para guru melakukan pertemuan satu bulan sekali. Yaitu untuk saling sharing dan saling melengkapi. Sehingga karya-karyanya tersebut dapat dijadikan media untuk pembelajaran anak didiknya,” ujarnya.

Sistem pendidikan berupa media hasil karya tersebut, rata-rata anak didik tertarik untuk mengaplikasikannya di kegiatannya sehari-hari. Yaitu di luar jam sekolah, atau saat waktu bermain di rumah.

Alhamdulillah, anak didik ini memahami tentang materi yang kita berikan. Seperti halnya membuat hasta karya dari barang bekas, serta melakukan gerak dan lagu (seni) dengan baik,” imbuhnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Alokasi Anggaran Bantuan Kesejahteraan untuk Guru Sebesar Rp 7,92 Miliar

BANTUAN GURU TK (e)

Beberapa guru saat melakukan registrasi untuk menerima bantuan kesejahteraan (MuriaNewsCom/FAISOL HADI)

KUDUS – Sementara, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus Budi Rahmat menjelaskan, bahwa bantuan kesejahteraan yang dialokasikan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kudus meliputi kesejahteraan untuk guru RA, MI, MTs swasta, GTT, PAUD, TK, SD, SMA, dan SMK swasta dianggarkan dana sebesar Rp7,92 miliar. Lanjutkan membaca

Asyik….Belasan Ribu Guru TPQ Terima Tunjangan

BANTUAN GURU TK (e)

Beberapa guru saat melakukan registrasi untuk menerima bantuan kesejahteraan (MuriaNewsCom/FAISOL HADI)

KUDUS – Sebanyak 13.860 guru Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan Madrasah Diniyah serta guru tidak tetap (GTT) tingkat PAUD hingga SMK swasta di Kabupaten Kudus, Selasa (14/7/2015  menerima tunjangan kesejahteraan dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Lanjutkan membaca

Puluhan Guru Tuntut Standarisasi Gaji

Forum Komunikasi Guru Tidak Tetap (FK – GTT) Kabupaten Jepara melakukan audiensi ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara, Selasa (9/6/2015). (MURIANEWS/WAHYU KZ)

JEPARA – Puluhan guru swasta yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Tidak tetap (FK – GTT) Kabupaten Jepara melakukan audiensi ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jepara, Selasa (9/6/2015). Mereka menuntut standarisasi gaji GTT, dan mengangkat honorer kategori II (K2) menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Lanjutkan membaca