Sepenggal Kisah Angling Darma yang Ditampilkan Duta Wisata Pati

Duta Wisata Pati, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti saat memerankan Angling Darma dan belibis putih pada Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Krisno, seorang tokoh masyarakat Desa Durensawit, Kecamatan Kayen tidak henti-hentinya mempromosikan Pati sebagai bagian dari Kerajaan Malawapati pada zamannya. Dia yakin, Sang Prabu Angling Darma pernah hidup di kawasan Kendeng yang kini masuk wilayah Kabupaten Pati.

Hal itu yang melatari Krisno mengangkat kisah Angling Darma dalam perhelatan akbar “Festival Pembangunan Noto Projo Mbangun Deso” pada Selasa (29/8/2017) kemarin. Di tengah kontingen lain mempromosikan potensi ekonomi, dia justru ingin menunjukkan potensi Pati di bidang sejarah dan kearifan lokal.

Duta Wisata Pati terpilih, Farizki Bagus Kurniawan dan Gunita Wahyu Sektyanti ditunjuk sebagai perwakilan dari Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) untuk memerankan sosok Angling Darma dan Belibis Putih.

“Kami, pengelola wisata bukit pandang bekerja sama dengan Dinporapar untuk ikut berpartisipasi dalam festival pembangunan. Kami angkat kisah Angling Darma sebagai bentuk promosi Pati di bidang sejarah, kebudayaan dan kearifan lokal,” kata Krisno saat berbincang dengan MuriaNewsCom, Kamis (31/8/2017).

Sebelum mengelilingi rute di wilayah Pati Kota, dua duta wisata sempat memeragakan adegan Kisah Angling Darma saat dikutuk menjadi belibis putih oleh ketiga dara resi Widata, Widati dan Widaningsih.

Belibis putih yang mengepakkan sayapnya mendapatkan lambaian tangan dari ribuan warga Pati yang menonton dan memadati jalanan. Peragaan keduanya menggugah ingatan warga bahwa Pati pada masa lampau juga memiliki raja agung yang berwibawa dan dihormati rakyat.

“Ceritanya, aku jadi belibis putih karena dikutuk tiga dara resi. Setelah itu, aku mengembara ke hutan belantara hingga sampai di Kerajaan Bojanegara. Di sana, aku ketemu putri Bojanegara, kembali menjadi Angling Darma dan menikahi sang putri. Saat menjadi Angling Darma itu, peranku digantikan Farizki,” ucap Gunita.

Bagi Gunita, memerankan tokoh legenda Angling Darma dan belibis putih merupakan pengalaman baru. Ia senang bisa ikut mempromosikan Kabupaten Pati sebagai daerah yang penuh dengan potensi, termasuk potensi sejarah dan budaya yang harus dilestarikan.

Karena itu, ia mengajak kepada pemuda di Pati untuk tidak melupakan sejarahnya sendiri. Dari sejarah, orang akan terinspirasi untuk menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan.

Editor : Ali Muntoha

Bawa Obor, Ribuan Petani Kendeng Jalan Kaki ke Pendapa Tolak Pabrik Semen

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah wanita membawa obor untuk mengikuti aksi long march tolak pabrik semen, sepanjang 20 kilometer menuju Pendapa Kabupaten Pati, Kamis (19/5/2016).(MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Ribuan petani lereng Pegunungan Kendeng Utara melakukan aksi jalan kaki (long march) Ngrungkebi Bumi Mina Tani, sepanjang 20 kilometer, Kamis (19/5/2016) malam.

Aksi itu dimulai dari kompleks makam Nyai Ageng Ngerang, Tambakromo, menuju Pendapa Kabupaten Pati. Mereka berjalan menggunakan obor dan menyanyikan tembang Jawa berbalut kalimat tahlil, dan diiringi suara gendang. Tembang Jawa itu dilantunkan untuk keselamatan dunia pertanian di Kabupaten Pati.

”Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah,” begitu bunyi lantunan lagu mereka sepanjang jalan, dari Tambakromo. Perjalanan mereka memang panjang. Karena melewati Kecamatan Gabus, dan berakhir di Alun-alun Pati.

Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno kepada MuriaNewsCom mengatakan, long march dari petani mewakili suara masyarakat, yang terkena dampak langsung dari industri pabrik semen yang akan berdiri di Pati.

”Kami hendak mengingatkan kepada majelis hakim PTTUN Surabaya, agar memegang prinsip keadilan, dengan mengacu pada bukti-bukti di lapangan. Serta dampak kehidupan petani dan lingkungan di masa depan,” ujar Gunretno.

Gunretno mengatakan, pertambangan semen di Pegunungan Karst Kendeng Utara berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Bila distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sulit.

Sementara itu, Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya saat dikonfirmasi mengatakan, isu pembangunan pabrik semen yang merusak lingkungan dan mengancam kehidupan petani merupakan kebohongan besar.

”Kami berbeda dengan penambang liar. Kami punya aturan yang ketat untuk kelestarian lingkungan dalam menambang. Kami tidak pernah menambang pada area yang ada mata airnya. Kami produksi dengan sistem dry process. Kami pastikan tidak mengambil mata air. Itulah yang membedakan kami dengan penambang liar,” ungkap Christian.

Editor: Merie

Pegunungan Kendeng Harus Dilindungi

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Suasana seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) meminta agar Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium aktivitas penambangan di pulau Jawa. Terutama sekali di kawasan Pegunungan Kendeng.

Hal itu disampaikan aktivis JMPPK Gunretno saat menjadi pembicara seminar dengan tema “Kendeng, Tanah, Air dan Kehidupan” yang dilangsungkan di Pendapa Kendi Cinta di Jalan Tendean, Purwodadi, Sabtu (23/4/2016). Acara seminar ini diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan Grobogan.

“Kami dari JMPPK akan meminta Bapak Presiden Jokowi mengeluarkan moratorium penambangan di Jawa. Alasannya, aktivitas penambangan akan berdampak pada lingkungan yang saat ini sudah semakin padat penduduknya,” kata Gunretno yang menyampaikan materi dengan Bahasa Jawa itu.

Untuk wilayah Pegunungan Kendeng juga harus dijauhkan dari upaya penambangan. Sebab, wilayah itu merupakan kawasan karst harus dipertahankan sebagai kawasan konservasi, bukan untuk usaha pertambangan.

Selain itu, berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan adanya tata air yang berada di batas kawasan karst. Yang mana, mata air yang sangat penting bagi kelangsungan hidup warga setempat dan pertanian.

Tokoh masyarakat Samin Sedulur Sikep itu menyadari, untuk merealisasikan terbitnya moratorium itu bukan urusan gampang. Perlu kerjasama dari banyak pihak. Khususnya, masyarakat di kawasan Pegunungan Kendeng agar bisa bersatu.

“Kami akan terus berupaya untuk bisa membebaskan pegunungan Kendengan dari segala aktivitas penambangan yang berpotensi merusak lingkungan. Khususnya, keberadaan mata air. Kalau masyarakat bisa bersatu maka upaya moratorium ini akan lebih mudah,” paparnya.

Sementara itu, pembicara lainnya, Eko Teguh Paripurno menyatakan, di kawasan karst Pegunungan Kendeng ada jejak karst dalam bentuk ponor, gua dan mata air. Terdapat 33 mata air di wilayah Grobogan, dan 79 mata air di wilayah Pati dengan debit relatif konstan.

“Mata air ini, menjadi sumber air bagi ribuan keluarga, ribuan hektare sawah serta aneka binatang dan tumbuhan. Jika ada perusakan ekosistem maka bisa berdampak bencana banjir dan kekeringan bagi kawasan tersebut,” kata dosen Teknik Geologi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta itu.

Editor : Akrom Hazami

Gua Wareh, “Berlian” Gunung Kendeng yang Belum Terekspos

uplod jm 12 (e)

Anak-anak tengah bermain di mulut Gua Wareh. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Pegunungan Kendeng yang berada di kawasan Pati selatan menyimpan sejuta pesona keindahan alam yang tak kalah dengan daerah-daerah lainnya. Sayangnya, “berlian” itu belum banyak diketahui orang.

Salah satu “berlian” Gunung Kendeng yang bisa menjadi agenda berkunjung, di antaranya Gua Wareh. Berlokasi di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, gua ini menghasilkan sumber mata air yang jernih dan begitu memesona.

Sejumlah pengunjung yang datang biasanya memanfaatkannya untuk mandi. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Gua ini berlokasi tepat di bawah lereng pegunungan Kendeng.

Adiyo Ponco, salah satu pengunjung dari Grobogan mengaku takjub dengan gua itu. Kejernihan air yang bersumber dari dalam gua diakui tak bisa ditemukan di tempat sembarangan, apalagi di kota.

“Suasananya begitu asri, teduh, dan sejuk. Apalagi kalau masuk dalam mulut gua, hawanya begitu sejuk. Saya baru pertama kali berkunjung ke sini. Sebelumnya malah tidak tahu,” ujar Ponco kepada MuriaNewsCom, Sabtu (16/4/2016).

Sejumlah anak-anak balita yang bermain di dalam aliran air Gua Wareh menggunakan pelampung. Orang tua pun tampak mengawasi anak yang kegirangan bermain air jernih di sekitar Gua Wareh. Tak ayal, gua yang belum banyak diketahui orang ini bisa jadi agenda berlibur keluarga.

Editor : Akrom Hazami

Gunung Kendeng Masuk Kawasan Karst yang Tak Boleh Ditambang, Ini Jawaban PT Indocement

Petinggi PT Indocement tengah memberikan penjelasan terkait dengan pembangunan pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petinggi PT Indocement tengah memberikan penjelasan terkait dengan pembangunan pabrik semen di Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Banyak pertanyaan yang muncul dari masyarakat ketika kawasan pegunungan Kendeng yang berada di Pati selatan dibangun pabrik semen. Salah satunya, pegunungan itu masuk wilayah karst yang berfungsi sebagai hutan lindung sehingga tidak boleh ditambang.

 

Pertanyaan tersebut mendapatkan tanggapan dari Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya. Ia mengakui bila kawasan pegunungan Kendeng memang masuk wilayah karst yang tidak boleh ditambang, tetapi tidak semuanya.

Baca juga : PT Indocement Klaim Pembangunan Pabrik Semen di Pati Tak Rusak Mata Air

Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

”Kekhawatiran itu sudah dijawab di dokumen Amdal. Mestinya kita mendapatkan bagian 8.000 hektare yang akan ditambang. Berhubung ada yang masuk wilayah karst, akhirnya kami mengambil bagian sekitar 2.600 hektare saja,” ujar Christian kepada MuriaNewsCom.

Dikatakan, PT Indocement sudah berkomitmen dan tidak mau menambang wilayah karst. ”Lingkungan tetap nomor satu. Kita bukan perusahaan yang cuma cari untung saja, tetapi juga memperhatikan lingkungan,” imbuhnya.

Di samping itu, perusahaan yang memproduksi semen merek Tiga Roda itu juga memiliki Electrostatic Precipitator (ESP) yang berfungsi menyedot debu akibat proses produksi semen. ”Kalau yang dikhawatirkan masyarakat selama ini juga muncul debu, kita punya teknologi untuk menyaring debu,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

PT Indocement Klaim Pembangunan Pabrik Semen di Pati Tak Rusak Mata Air

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya saat memberikan keterangan di depan awak media. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya mengklaim bila pembangunan semen di Pati tidak akan merusak mata air yang selama ini dikhawatirkan warga penolak pabrik semen.

Baca juga : Kuasa Hukum Indocement: Hakim PTUN Semarang Sudah Setuju dengan Amdal Pendirian Pabrik Semen

Ia mengatakan, semua kekhawatiran warga terkait dengan hilangnya sumber mata air sudah diakomodasi dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang disusun selama tiga tahun.

”Kalau ada yang bilang pabrik Indocement itu menghabiskan mata air, coba saja datang ke pabrik semen di Citeureup. 40 tahun kita beroperasi di sana. Air tidak habis. Sawah masih ada dan masyarakat tambah maju. Reklamasi terus jalan,” ujar Christian saat berbincang dengan MuriaNewsCom.

Dalam operasinya, PT Indocement dikatakan menggunakan sistem dry process sehingga tidak membutuhkan air yang banyak. Air hanya digunakan untuk proses pendinginan (cooling). Itupun air yang digunakan bukan diambil dari alam setempat, tetapi dari embung yang dibuat PT Indocement.

”Dalam amdal, kita sudah rencanakan akan membangun enam embung dengan kapasitas 2 juta meter kubik air. Semua kekhawatiran masyarakat kita kelola dan mitigasi dalam dokumen amdal. Ini kan win-win,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, operasional pabrik semen tidak akan merusak sumber mata air. ”Penambangan yang dilakukan tidak akan merusak sumber mata air. Semua ada aturannya. Kita bukan pemain kemarin sore. Kita sudah 40 tahun. Lingkungan akan menjadi prioritas kami,” pungkasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Indocement Bakal Lanjutkan Pembangunan Pabrik Semen di Pati

Warga penolak semen memblokade pantura hingga enam jam 23 Juli 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Warga penolak semen memblokade pantura hingga enam jam 23 Juli 2015 lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk bakal melanjutkan rencana untuk membangun pabrik semen di Pati, meski izin lingkungan dibatalkan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang pada 17 November 2015 lalu.

Hal itu ditempuh dengan menunjuk Yusril Ihza Mahendra sebagai kuasa hukum untuk mengajukan banding atas putusan PTUN Semarang ke Pengadilan Tinggi TUN Surabaya.

”Dari awal kami sudah komitmen dan serius melakukan pembangunan pabrik semen di Pati. Indocement sudah beroperasi di Indonesia selama 40 tahun. Pabrik kami ada di Citeureup Bogor, Palimanan Cirebon, dan Tarjun Kalimantan,” ujar Direktur Utama PT Indocement Christian Kartawijaya kepada MuriaNewsCom, Senin (1/2/2016).

Christian mengklaim bila persiapan Indocement untuk membangun pabrik semen di Pati sudah berlangsung selama sembilan tahun, dengan memperhitungkan secara matang. Mulai dari perhitungan lingkungan hingga perubahan kehidupan sosial-budaya di Pati bagian selatan.

Karena itu, upaya banding yang dilakukan ke PTTUN Surabaya menjadi satu-satunya cara bagi PT Indocement agar rencana pembangunan semen di Pati benar-benar terealisasi.

”Lagipula, lokasi tambang yang dipilih bisa dipastikan seluruhnya berada di luar kawasan bentang alam karst Sukolilo. Itu berdasarkan keputusan Menteri ESDM Nomor 2641 Tahun 2014 yang diterbitkan pada Mei 2014 lalu,” tandasnya.

Editor : Titis Ayu Winarni

Songsong Tahun Baru, Ribuan Ibu-ibu di Pati Akan Doakan Keselamatan Gunung Kendeng

Kondisi pegunungan Kendeng saat musim kemarau tahun 2015. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kondisi pegunungan Kendeng saat musim kemarau tahun 2015. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 2.016 ibu-ibu dari wilayah pegunungan Kendeng dijadwalkan akan berkumpul di Omah Sonokeling, Minggu (27/12/2015) mendatang. Mereka akan menggelar doa bersama dalam rangka keselamatan Gunung Kendeng pada 2016 dan tahun-tahun berikutnya.

“Saat kami ingin menanam lebih dari seribu pohon di sana, kami bertemu dengan warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK). Kami sepakat bahwa sebelum pohon ditanam, kami bersama warga JMPPK dan 2.016 ibu-ibu yang tinggal di wilayah Gunung Kendeng akan mengadakan doa bersama untuk keselamatan Gunung Kendeng,” kata Koordinator Kumpulan Anak Asli Pati (KAAP) Nashiruddin kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/12/2015).

Ia mengatakan, jumlah 2.016 ibu-ibu yang akan hadir dalam doa bersama tersebut menjadi simbol agar Gunung Kendeng diselamatkan Tuhan dari marabahaya pada tahun 2016. Doa dinilai menjadi ikhtiar batin bagi penduduk setempat untuk menjaga Kendeng supaya tetap aman, damai dan tentram, baik dari segi lingkungan maupun masyarakatnya.

“Doa menjadi bagian dari revolusi mental yang dicanangkan pemerintah. Doa juga menjadi bentuk usaha batin kami agar Gunung Kendeng tetap selamat dan lestari, sedangkan tanam pohon menjadi sebuah ikhtiar lahir,” pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Gunung Kendeng Bakal Ditanami Ribuan Pohon Bertuah

Kekeringan melanda wilayah pegunungan Kendeng beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Kekeringan melanda wilayah pegunungan Kendeng beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Beragam bencana mulai dari kekeringan panjang, banjir bandang, hingga angin puting beliung yang melanda Kabupaten Pati bagian selatan membuat sejumlah kalangan prihatin. Salah satunya, komunitas yang tergabung dalam Kumpulan Anak Asli Pati (KAAP).

Mereka menilai, penyebab beragam bencana yang melanda Pati bagian selatan ditengarai karena rusaknya hutan di pegunungan Kendeng. Karena itu, sebuah agenda untuk menanam seribu pohon non profit akan dicanangkan di sana pada Minggu (27/12/2015) mendatang.

Koordinator KAAP Nashiruddin kepada MuriaNewsCom, Kamis (24/12/2015) mengatakan, sedikitnya ada 1.100 pohon non profit yang akan ditanam, seperti pohon beringin, asem, juwar, jambu mete, dan beragam tanaman non profit lainnya.

“Sebelum ditanam, kami bersama dengan penduduk setempat akan menggelar doa bersama agar pohon yang ditanam kelak bisa melindungi warga yang hidup di dalamnya dari beragam bencana seperti banjir bandang, longsor maupun kekeringan. Kami benar-benar berharap pohon-pohon itu kelak bisa mengayomi dan menghidupi,” katanya.

Ia menambahkan, tak ada ritual khusus dalam mendoakan pohon-pohon itu agar bisa menjadi “benteng” atau “pagar” bagi Pegunungan Kendeng. “Tidak ada ritual khusus. Kami hanya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum melepas ribuan pohon itu agar menjadi berkah,” imbuhnya.

Ribuan pohon itu didapatkan dari penggalangan dana yang dilakukan KAAP mulai awal Desember hingga 15 Desember 2015. Dana yang terkumpul tersebut dibelanjakan hingga mendapatkan sekitar 1.100 pohon.

“Kami nanti akan bekerja sama dengan masyarakat Sumber Sentul, Dukuh Misik, Sukolilo, Pati, komunitas motor SGRC, dan beberapa SD seperti SD Tambaharjo, Tambakromo, Sukolilo dan Jatiroto. Warga Pati bisa ikut bersama kami untuk mendukung dan menyelamatkan Gunung Kendeng,” Pungkasnya. (LISMANTO/KHOLISTIONO)

Ternyata Gundulnya Gunung Kendeng, Buat Wonosoco Sering Banjir

 

Kades Wonosoco Setyo Budi memperlihatkan bekas banjir yang terjadi di desanya beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Kades Wonosoco Setyo Budi memperlihatkan bekas banjir yang terjadi di desanya beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

 

KUDUS – Kejadian banjir yang kerap menimpa daerah Wonosoco, Kecamatan Undaan, merupakan disebabkan oleh gundulnya pegunungan Kendeng yang ada di dekat daerah tersebut. Akibatnya, daerah yang terdekat yakni Wonosoco kerap terkena imbas banjir karena pegunungan yang tidak mampu menahan air hujan.

Hal itu diungkapkan Kades Wonosoco Setyo Budi kepada MuriaNewsCom. Menurutnya, banjir yang kerap menerpa desanya itu karena gunung yang tidak lagi rapat dengan pepohonan. Sehingga membuat air langusng menggelontor jatuh dan mengenai desanya.

”Iya airnya langsung jatuh. Sebab hutannya itu sudah jarang dan membuat air di hutan tidak dapat tertahan dengan baik di daerah pegunungan Kendeng,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Banjir yang melanda daerah Wonosoco, kata dia merupakan bencana rutin. Setiap musim hujan tiba, daerah terebut kerap terendam air. Namun, air yang merendam bukan hanya dari pegunungan saja, melainkan pula berasal dari luapan sungai.

Hanya, banjir tersebut paling besar disebabkan oleh faktor gundulnya pegunungan. Sehingga membutuhkan penanganan berupa penanaman kembali jika ingin lebih aman.

”Solusi lain adalah dengan pengerukan sungai. Diakui atau tidak, dengan lumpur yang datang tiap musim hujan juga membuat sungai menjadi dangkal,” ujarnya.

Dia menambahkan, peninggian tanggul juga sangat membantu agar air dari sungai tidak langsung meluap. Namun untuk melaksanakannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. (FAISOL HADI/TITIS W)

Video – Dalam Long March JMPPK Rencana Singgah di Makam Sunan Kalijaga Demak

 

KUDUS – Koordinator lapangan jaringan masyarakat peduli pegunungan kendeng (JMPPK) Pati, Gunretno berharap pada majelis hakim bisa memutus gugatan warga terhadap pembangunan pabrik semen dengan seadil-adilnya, pada sidang ke 27 yang digelar Selasa (17/11/2015).

”Saya harap majelis hakim bisa memutus gugatan ini dengan adil. Mereka juga harus bisa tahu dan paham kondisi lapangan pegunungan Kendeng itu seperti apa, jika pabrik semen itu didirikan,” kata Gunretno.

Dalam aksi long march menuju PTUN Semarang dalam menghadapi putusan tersebut, pihak JMPPK memilih tempat singgah untuk menjalankan doa bersama. Seperti halnya makam Mbah Gareng di Undaan Lor, Kudus, serta makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

”Untuk wilayah Undaan memilih di makam Mbah Gareng. Kemudian, sesampainya di Demak langsung kita mampir ke makam Sunan Kalijaga,” paparnya.

Gunretno melanjutkan, setelah menggelar doa bersama di makam Sunan Kalijaga, pada Senin malam pihaknya menjadwalkan untuk bermalam di museum Ronggo Warsito, Semarang. Sehingga Selasa pagi (17/11/2015) pihak JMPPK bisa mendengar langsung putusan hakim PTUN Semarang pada sidang ke 27 kali ini.

Kegiatan long march ini juga bukan hanya diikuti oleh JMPPK dari wilayah Pati saja. Namun dari kabupaten lainnya. Di antaranya Kudus, Rembang, Blora, Grobogan.

”Kami harap kegiatan ini bisa membuahkan hasil yang baik untuk kita, warga Kendeng dan sekitarnya,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Melepas Lelah, Warga Kendeng Dihibur Pelawak Undaan

Marhaban, salah satu pelawak Undaan yang juga sebagai Humas JMPPK Kudus tengah memberikan hiburan kepada warga Kendeng yang melakukan long march. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Marhaban, salah satu pelawak Undaan yang juga sebagai Humas JMPPK Kudus tengah memberikan hiburan kepada warga Kendeng yang melakukan long march. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Sesampainya di makam Mbah Gareng Undaan Lor dengan saling berpelukan, 200 warga Kendeng yang melakukan long march disambut dengan nyanyian lagu Indonesia Raya serta ramah tamah oleh warga sekitar. Tak hanya itu, Warga Kendeng juga langsung dihibur oleh pelawak setempat.

Marhaban adalah salah satu pelawak Undaan yang juga aktif di organisasi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kudus (JMPPK) cabang Kudus. Tak tanggung-tanggung selain melawak, Marhaban juga memberikan hiburan berupa nyanyian lagu Jawa yang diselingi dengan salawat.

Hiburan tersebut pun membuat warga Kendeng yang mulanya merasa kelelahan menjadi semangat. Karena menempuh perjalanan mulai Omah Sonokeling Sukolilo, Pati hingga tiba di makam Mbah Gareng, Undaan Lor dini hari.

Dengan adanya hiburan tersebut, secara otomatis mengurangi rasa lelah, jenuh, serta dapat memberikan semangat iman terhadap perjuangan dalam perjalanan menghadapi putusan PTUN di Semarang, pada Selasa (17/11/2015).

Meskipun pria yang kini juga menjabat sebagai Humas JMPPK Kudus tersebut tengah terkena stroke, tetapi pihaknya selalu memberikan support terhadap peserta long march ini. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Pemuda Pancasila Kudus Siap Dimintai Bantuan Warga Kendeng

Didik Poerwanto, Sekjend Organisasi Pemuda Pancasila Kudus mengungkapkan dukungan terhadap aksi JMPPK. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Didik Poerwanto, Sekjend Organisasi Pemuda Pancasila Kudus mengungkapkan dukungan terhadap aksi JMPPK. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Selain ramah tamah dengan pihak Desa Undaan Lor, ke 200 peserta long march warga Kendeng Pati juga di bantu oleh organisasi Pemuda Pancasila Kabupaten Kudus.

”Kami sengaja datang ke Undaan Lor, yaitu di makam Mbah Gareng ini karena ingin menyambut kedatangan warga Kendeng yang tergabung dalam jaringan masyarakat peduli pegunungan kendeng yang menggelar long march serta singgah di tempat ini,” kata Didik Poerwanto, Sekjend Organisasi Pemuda Pancasila Kudus.

Dalam sambutannya tersebut, pihaknya mengungkapkan siap bila dimintai bantuan. Baik itu pemikiran atau tenaga sekalipun.

”Kami siap mendukung secara moril, pikiran bahkan tenaga sekalipun. Sebab upaya warga Kendeng untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan dalam gugatan di PTUN Semarang tesebut merupakan hal yang berat, mulia, dan wajib didukung,” terangnya. (Edy Sutriyono/TITIS W)

Pemdes Undaan Lor Dukung Gerakan Long March Warga Kendeng

Rombongan long march JMPPK melakukan doa bersama di makam Mbah Gareng Undaan Lor, Kecamatan Undaan bersama warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Rombongan long march JMPPK melakukan doa bersama di makam Mbah Gareng Undaan Lor, Kecamatan Undaan bersama warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Setelah penyambutan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, rombongan long march Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) melakukan doa bersama di makam Mbah Gareng Undaan Lor, Kecamatan Undaan. Pemerintah desa setempat langsung menggelar ramah tamah kepada ke 200 warga Kendeng tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Undaan Lor, Edi Pranoto mengatakan pihaknya sangat mendukung dengan gerakan JMPPK. Sebab rombongan long march yang menyinggahi makam Mbah Gareng di Undaan Lor dianggap sebagai bentuk kehormatan bagi pemdes.

Edi melanjutkan, pihaknya juga berharap kepada ke 200 peserta long march JMPPK bisa menjaga kesehatan serta berhati-hati sampai di tempat tujuan, yaitu di PTUN Semarang.

Pihak desa juga selalu memantau perkembangan long march tersebut dengan komunikasi lewat ponsel. Hal itu dilakukan sebagai bentuk motivasi untuk mencapai hasil positif disaat menghadapi bacaan putusan gugatan warga Kendeng di PTUN Semarang, pada Selasa (17/11/2015) mendatang.

”Jika pembangunan pabrik semen tetap didirikan di Kendeng, maka Undaan juga terkena imbas negatifnya. Karena juga merupakan wilayah pertanian yang terbilang dekat dengan pegunungan Kendeng. Sehingga kami sangat mendukung aksi penolakan tersebut,” terangnya. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Long March JMPPK Disambut Warga Undaan Lor dengan Lagu Indonesia Raya

JMPPK sampai di makam Mbah Gareng atau Syech Abdulloh Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan pukul 02.00 dini hari dan disambut dengan lagu Indonesai Raya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

JMPPK sampai di makam Mbah Gareng atau Syech Abdulloh Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan pukul 02.00 dini hari dan disambut dengan lagu Indonesai Raya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Setelah melakukan long march yang dimulai dari Omah Sono Keling, Sukolilo Pati, ke 200 warga Kendeng yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) ini sampai di makam Mbah Gareng (Syech Abdullah) di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan pada pukul 02.00 WIB Senin (16/11/2015) dini hari, dan disambut dengan lagu Indonesia Raya.

Dalam penyambutan itu pula dihadiri oleh pemerintah desa setempat, tokoh masyarakat, organisasi Pemuda Pancasila Kudus, Polsek Kecamatan Undaan, serta Muspika Kecamatan Undaan.

Dari informasi yang dihimpun MuriaNewsCom, sesampainya ke 200 warga Kendeng yang tergabung dalam JMPPK di makam Mbah Gareng, Undaan Lor menggelar doa bersama. Setelah doa bersama dilanjutkan dengan ramah tamah atau saling sharing dengan masyarakat Undaan Lor setempat.

Diketahui, aksi long march yang bertajuk “Kendeng Menjemput Keadilan” tersebut merupakan gerakan penolakan dibangunnya pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng tersebut. Yang meliputi Kecamatan Tambak Romo, Kecamatan Sukolilo, dan Kecamatan Kayen. Selain itu, long march tersebut juga untuk menghadapi putusan pengadilan tata usaha negara (PTUN) di semarang.

Pengadilan gugatan oleh warga Pegunungan Kendeng, khususnya Kecamatan Kayen, Tambak Romo dan Sukolilo terhadap pembangunan pabrik seman oleh PT Sahabat Mulia Sakti, Tbk yang juga anak perusahaan dari PT Indocement, Tbk ini sudah berjalan 26 kali. Dan untuk yang 27 kalinya digelar pada Selasa (17/11/2015). Sehinga ke 200 anggota.

JMPPK tersebut akan menghadapi putusan dari pengadilan tersebut dengan cara long march hingga ke PTUN Semarang. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Long March Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Berhenti di Undaan Lor Dini Hari

Zainul, tokoh masyarakat Desa Undaan Lor dan pengurus tempat religi Mbah Gareng atau Syech Abdullah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Zainul, tokoh masyarakat Desa Undaan Lor dan pengurus tempat religi Mbah Gareng atau Syech Abdullah. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

KUDUS – Long March yang digelar 200 anggota organisasi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) yang melewati wilayah Undaan Lor, Kecamatan Undaan disambut oleh warga setempat. Warga pun menanti kehadirannya sejak pukul 22.00 WIB.

Penolakan terhadap penambangan serta pembangunan pabrik semen di Kecamatan Kayen dan Sukolilo, Pati ini nantinya berujung di pengadilan tata usaha negara (PTUN) Semarang.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Undaan Lor sekaligus pengurus tempat religi Mbah Gareng atau Syech Abdullah, Zainul mengatakan, para pengurus makam Mbah Gareng, tokoh masyarakat Undaan Lor, dan Polsek Undaan siap menerima kehadiran JMPPK.

Selain itu, lanjut Zainul, mengapa wilayah Undaan Lor, khususnya di persemayaman Mbah Gareng ini sebagai tempat kunjungan JMPPK sebelum ke PTUN Semarang. Karena wilayah Undaan ini juga bakal terkena efek dari pertambangan serta pembangunan pabrik semen di pegunung Kendeng Pati jika benar terealisasi.

”JMPPK mendatangi tempat Mbah Gareng atau Syech Abdullah lantaran mereka ingin berdoa bersama, ikhtiar batin sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang di PTUN. Selain itu, juga ada kaitannya dengan efek pembuatan pabrik semen. Yakni bila pabrik semen dan penambangan tetap dilakukan, maka lahan resapan air di Sukolilo dan Kayen Pati berimbas pada wilayah Undaan. Sebab di wilayah Undaan termasuk wilayah pertanian,” ujarnya.

Organisasi JMPPK tersebut hadir di wilayah Undaan Lor yang bertempat di Persemayaman Mbah Gareng atau Syech Abdullah ini pada Senin, 16/11/2015) pukul 00.00 WIB. (EDY SUTRIYONO/TITIS W)

Warga Kendeng Gelar Upacara Wiwit Tanam

Warga Kendeng sedang duduk di depan sesaji yang akan digunakan untuk menggelar upacara wiwit tanam padi organik di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Senin (15/5/2015). (MURIANEWS/LISMANTO)

PATI – Warga Kendeng yang tergabung dalam Musyawarah Masyarakat Pati untuk Kendeng Sejahtera (Mustika) bekerja sama dengan Nusantara Organic SRI Center menggelar upacara wiwit tanam padi organik System of Rice Intensification (SRI) di Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, Senin (15/6/2015).

Lanjutkan membaca