Bilang Pengen Jadi Hacker, Santri di Jepara Ini Diberi Jam Tangan Spesial dari Ganjar

Fikri Muhammad Yusuf (kiri) menunjukkan jam tangan pemberian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat berfoto bersama orang nomor satu di Jateng itu. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Jepara – Fikri Muhammad Yusuf, santri mahasiswa di Pondok Pesantren Mahat Ali Balekambang, Jepara, Sabtu (26/8/2017) mendapat hadiah spesial dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Spesial karena, hadiah yang diberikan yakni jam tangan koleksi Ganjar yang saat itu dikenakannya. Jadi bukan jam tangan doorprize, melain jam digital bermerk Garmin. Penyebabnya, karena Fikri menyatakan ingin jadi hacker.

Ini terjadi ketika Ganjar melontarkan pertanyaan kepada Yusuf tentang bagaimana seorang santri seperti Yusuf melawan berkembangnya ujaran kebencian dan ajakan radikalisme yang merebak di sosial media.

Jawaban Yusuf justru kocak, dan membuat orang yang hadir di sarasehan pondok pesantren itu tertawa terbahak-bahak.

“Pertama-tama sebelum berbuat saya akan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Kedua saya akan meminta masukan pada para sesepuh dan juga pak Ganjar,” ujarnya yang kembali disambut tawa.

Ganjar pun menimpali. “Lho maksudku kamu, apa yang menurutmu bisa dilakukan,” kata Ganjar.

Beberapa sat Yusup berpikir, dan kemudian berteriak lantang ingin jadi hacker. “Dengan jadi hacker saya akan melawan dan menghancurkan situs dan akun penyebar berita hoax dan radikalisme,” tegasnya.

Berikutnya, Yusuf akan menggalang teman-temannya menjadi pasukan penyebar ujaran baik dan sopan di dunia maya. “Kalau ada yang bertengkar, kami akan menengahi dengan kalimat-kalimat islami dan sopan,” kata dia.

Ganjar mengacungi jempol. Ia meminta Yusuf berjanji benar-benar melakukan apa yang diucapkannya itu. “Yawes ini tak kasih jam, pas nggak bawa hadiah ya sudah ini saja,” kata Ganjar seraya mencopot jam tangan dari lengan kirinya.

Suasana berubah menjadi riuh. Ribuan santri bersorak dan bertepuk tangan. Yusuf senang bukan kepalang. Ia menerima jam digital merk Garmin berwarna hitam itu kemudian langsung mengenakannya di pergelangan tangan kiri. “Terimakasih pak gubernur,” katanya berulang-ulang.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Terperanjat Lihat Ukiran Wajahnya di Sandal Jepit

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menunjukkan sandal ukir bergambar wajahnya yang dibuat pemuda Jepara. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo cukup terperanjat mengetahui wajahnya tergambar di sandal jepit. Bahkan orang nomor satu di Jateng itu harus menghentikan langkahnya untuk melihat sandal itu, saat mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat HUT Jateng di Jepara, Sabtu (26/8/2017).

Dan ternyata, Ganjar bukan marah justru sangat girang. Ia bahkan memuji ukiran di sandal karya pemuda Jepara tersebut yang dipamerkan di stan Sandal Carving Jepara (Sacaje) itu. “Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal diukir,” seloroh Ganjar.

Mantan anggota DPR RI itu pun penasaran bagaimana cara membuatnya. Ia pun mendekat bertanya dengan M Nur Fawaid, perajin yang membuat sandal ukir tersebut.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng. Satu desain lagi yang membuat Ganjar juga tertawa adalah sebuha sandal berukir tulisan “Sandal Gubernur”. Ganjar tertarik dan membeli beberapa pasang sandal tersebut.

“Tuku, tuku, kanggo souvenir,” kata gubernur berambut putih itu. 

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai perajin yang mampu melihat peluang dan berkreativitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Nur mengaku untuk membuat ukiran di sandal tak butuh waktu lama. Untuk ukiran sederhana, hanya dibutuhkan waktu tiga jam saja, sementara jika ukirannya rumit bisa sampai lima jam.

Untuk sepasang sandal, Nur menjual dengan harga Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri.

Karya Nur bukan saja unik tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu.

“Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Ia mengaku, ide sandal ukir muncul ketika nyantri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang, kemudian mengukir sandalnya sehingga beda dari milik teman-temannya.

“Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje.

“Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” terang warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini.

Editor : Ali Muntoha

Gubernur Ganjar Akui Cukup Sulit Wujudkan Provinsi Layak Anak

Keceriaan anak-anak saat foto bersama di Banjarejo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui cukup sulit untuk mewujudkan provinsi layak anak. Penyebabnya, tingkat kekerasan terhadap perempuan maupun anak masih cukup tinggi.

Oleh karenanya, Ganjar menyebut harus melakukan berbagai persiapan strategis, termasuk masalah penganggaran untuk mewujudkan hal ini. Apalagi menurut dia, tahun depan Jateng ditunjuk sebagai pilot project provinsi layak anak.

“Sehingga kita mesti menyiapkan anggaran, program, dan sistemnya agar kemudian minimum layak anak itu bisa tercapai,” kata Ganjar Pranowo, baru-baru ini.

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) kabupaten/kota di Provinsi Jateng pada 2011-2015, kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan tren yang fluktuatif.

Pada 2015 tercatat sebanyak 2.466 orang korban kekerasan, dan 1.385 orang di antaranya anak-anak.

Melihat kondisi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa prioritas investasi perlindungan anak ditekankan pada pencegahan kekerasan terhadap anak. “Tentunya, perwujudan provinsi layak anak tidak dapat tercapai tanpa dukungan masyarakat, termasuk para aktivis anak,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah kabupaten/kota juga diminta mendukung terwujudnya Jawa Tengah sebagai provinsi layak anak. Salah satunya, bupati wali kota mendorong investasi perlindungan anak agar pencegahan dan penanganan kasus kekerasan anak dapat berjalan optimal.

Ganjar menjelaskan, pembekalan anak mengenai budi pekerti dan tepa selira yang merupakan nilai-nilai kebhinekaan Indonesia, mesti dilakukan baik di keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.

“Dengan begitu, diharapkan dapat mengurangi kejadian kekerasan terhadap anak karena anak sudah dilatih menghormati kepada yang tua, yang muda dan sebaya mereka. Sebaliknya, orang tua pun akan menghargai dan mencintai anak,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Beri Kejutan Ulang Tahun Pasien Kanker di RSUP Kariadi

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjenguk Suroso, pasien kanker usus yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang, Jumat (18/8/2017). (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jateng Ganjar Ganjar Pranowo memberi kejutan kepada Suroso (21), pemuda asal Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, yang tengah dirawat di RSUP dr Kariadi Semarang, Jumat (18/8/2017).

Sejak 2016 lalu Suroso, didiagnosa mengidap kanker usus. Dan hari ini Ganjar memberi kejutan, karena bertepatan dengan ulang tahun pasien itu yang ke 21 tahun.

Orang nomor satu di Jateng itu, mengajak Suroso bernyanyi bersama, sehingga melupakan penyakit yang dideritanya.

Mendapat kunjungan dari Ganjar, semangat untuk sembuh kembali terpancar dari raut wajah Suroso yang sebelumnya sering menangis meratapi penyakitnya.

“Aku ketemu Pak Gubernur, Pak Ganjar. Saya nanti akan dikemo (kemoterapi) yang ke-12 kali, semoga ada hasil bagi saya. Harapan di ulang tahun saya ini, saya bisa sembuh kembali,” ujar Suroso dengan wajah tersenyum.

Di hadapan Ganjar, pemuda omo lantas menyanyikan sebuah lagu berjudul Jangan Menyerah dari D’Masiv yang langsung disambut tepuk tangan oleh Ganjar.

Anak dari pasangan Sutaswi dan Suhadi tersebut, saat ini menjalani pengobatan di RSUP dr Kariadi dengan bantuan sejumlah pihak. Mereka terketuk hatinya untuk membantu pengobatan Suroso, setelah kabar tentang penyakit yang ia derita tersebar melalui grup Facebook MIK Semar.

Hadir dalam kesempatan pagi itu Dalang MIK Semar Rahmulyo Adiwibowo dan sejumlah punggawa. Sejumlah orang juga secara bergantian menjaga Suroso selama dirawat di RSUP Dr Kariadi. “Saya ingin menemani masa tua ibu saya, saya sangat sayang mereka,” ucap Suroso.

Sementara itu, Ganjar Pranowo menjelaskan, saat ini Suroso tengah mendapat perawatan dari rumah sakit untuk proses penyembuhan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

“Dokter berusaha, kamu harus bersemangat dan berdoa, dengan doa Allah akan memudahkan. Supaya lekas nikah,” kata Ganjar memberi semangat.

Menurutnya, pihak rumah sakit cukup responsif menangani kasus ini, sehingga pasien kembali semangat dan cepat sembuh. Ia juga mengapresiasi warga yang berinisiatif menggalang donasi melalui media sosial.

“Gotong-royong seperti sangat baik, dan bisa ditularkan kepada komunitas yang lain,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Ganjar Ajak Keroyok Kemiskinan di Jateng

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menandatangani deklarasi antiradikalisme dan terorisme usai upacara HUT ke-67 Provinsi Jateng, Selasa (15/8/2017). (Humas Pemprov Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak semua pihak terutama pemerintah kabupaten/kota di Jateng untuk lebih serius menurunkan angka kemiskinan. Pasalnya, jumlah warga miskin di provinsi ini masih sangat banyak, dan angkanya jauh lebih tinggi dari angka nasional.

“Saya sampaikan di pidato saya tadi, kemiskinan masih tinggi, mesti dikeroyok bersama-sama,” kata Ganjar usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Jadi ke-67 Provinsi Jawa Tengah, di Lapangan Pancasila (Simpang Lima) Semarang, Selasa (15/8/2017).

Angka kemiskinan di Jawa Tengah saat ini masih berada pada angka 13,19 persen atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 10,70 persen. Ganjar mengaku, kondisi ini menjadi perhatian serius.

Karena, meski tiap tahunnya angka kemiskinan selalu mengalami penurunan namun angkanya masih belum terlalu signifikan.

Menurutnya, peran serta dan partisipasi kabupaten/ kota sangat penting untuk mengoptimalkan penurunan kemiskinan. Karena data yang ada selama ini selalu berubah dan berbeda-beda.

”Sehingga perlu keberanian melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kekurangan yang ada di birokrasi, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Selain kemiskinan, masih ada beberapa hal yang harus terus didorong dan dioptimalkan. Di antaranya pemberantasan pungli, peningkatan integritas, dan antikorupsi.

Karenanya, pemerintah harus mau berhijrah menjadi pemerintah yang responsif dan cepat merespon persoalan yang ada di masyarakat. “Inilah perbaikan yang sebenarnya kita harapkan dan masyarakat menunggu itu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha