Polres Grobogan Buka Posko Pengaduan Korban First Travel

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menunjukkan posko pengaduan korban First Travel yang ditempatkan di kantor Satreskrim. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kasus ribuan warga yang gagal diberangkatkan umrah oleh perusahaan penyelenggara ibadah umroh (PPIU) First Travel ternyata mendapat perhatian cukup serius dari Polres Grobogan.

Indikasinya, bisa dilihat dengan dibukanya posko pengaduan di ruang Satreskrim bagi warga Grobogan yang ikut jadi korban First Travel, Kamis (31/8/2017).

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menyatakan, pembukaan posko pengaduan bertujuan untuk menampung keluhan atau aduan dari warga. Pembukaan posko dilakukan karena dari informasi yang diterima, ada ratusan waga Grobogan yang mendaftarkan umrah lewat First Travel tetapi belum kunjung diberangkatkan.

”Sejauh ini memang belum ada aduan dari masyarakat yang jadi korban First Travel. Jika nanti ada laporan masuk, akan kami tindak lanjuti,” ungkapnya.

Sebelumnya, warga Grobogan yang jadi korban First Travel sempat mengadu ke kantor Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Jateng di Semarang. Jumlah pendaftar yang mengadu ke AMPHURI ini mencapai 160 orang. Dalam pengaduannya mereka menuntut uangnya dikembalikan atau segera diberangkatkan umrah.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali menyatakan, kasus yang menimpa korban First Travel itu bisa diselesaikan dengan baik. Harapannya, para korban nantinya bisa tetap berangkat menunaikan ibadah umroh atau setidaknya uangnya bisa dikembalikan.

Terkait kasus tersebut, Hambali meminta kepada masyarakat supaya mengambil hikmahnya. Untuk selanjutnya, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat memilih PPIU ketika ingin menunaikan ibadah umroh.

”Pesan saya, masyarakat agar lebih hati-hati. Cari informasi tentang PPIU yang menawarkan jasanya. Atau supaya lebih jelas, bisa minta informasi ke kantor Kemenag untuk mengetahui PPIU yang resmi dan sudah terakreditasi lembaganya,” pesannya. 

Editor : Supriyadi

Bahayakan Pengendara, Rekahan Jalan di Jalur Danyang-Pulokulon Mulai Ditangani

Sejumlah pekerja menangani rekahan jalan di jalur Danyang-Pulokulon yang kondisinya membahayakan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan sejumlah pihak terhadap banyaknya ruas jalan yang merekah di jalur Danyang-Pulokulon tampaknya mendapat respons dari dinas terkait. Indikasinya, rekahan jalan yang membahayakan pengendara itu mulai ditangani.

Dari pantauan di lapangan, tampak ada beberapa pekerja yang sedang menutup rekahan jalan dengan kerikil dan pasir. Setelah dipadatkan pada bagian paling atas ditutup dengan lapisan aspal.

“Penanganan rekahan jalan sudah kita lakukan sejak dua hari lalu. Butuh waktu beberapa hari lagi untuk menutup rekahan jalan karena titiknya cukup banyak,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono, Rabu (30/8/2017).

Rekahan ini persis berada di tengah jalan yang dibuat dengan konstruksi beton. Panjang rekahan ini bervariasi, antara 5 sampai 10 meter dengan lebar bisa mencapai 10 cm. Bagi kendaraan roda empat, kondisi jalan yang merekah ini tidak begitu terasa. Tetapi buat kendaraan roda dua sangat berbahaya. Jika roda sampai terperosok dalam rekahan tersebut, kemungkinan terjatuh cukup tinggi.

Sementara itu, meski merasa senang dengan perbaikan tersebut namun warga berharap agar upaya penanganan rekahan jalan dilakukan lebih maksimal. Misalnya, dengan membuat fondasi penahan yang kuat dibagian pinggir cor beton.

Hal itu perlu dilakukan karena penyebab utama munculnya rekahan itu akibat sisi pinggir cor beton hanya diuruk dengan tanah. Kondisi ini menyebabnya lapisan tanah tidak bisa berfungsi maksimal sebagai penahan ketika ada kendaraan berat yang melintas.

“Kalau rekahan cuma diisi kerikil dan ditutup aspal tidak akan kuat lama. Soalnya, sebelumnya sudah ditangani dengan cara seperti ini. Tetapi, tidak lama lagi rekahan itu kembali muncul,” cetus Wartono, warga Kandangan, Kecamatan Purwodadi. 

Editor : Akrom Hazami

 

Pemkab Grobogan Diminta Prioritaskan Pembuatan Tempat Penampungan Sampah Sementara

Tumpukan sampah liar di pinggir jalan raya Purwodadi-Semarang dikeluhkan pengendara. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah pihak meminta agar Pemkab Grobogan menaruh perhatian serius pada masalan penanganan sampah. Salah satunya, dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPSS) atau menyediakan kontainer di sejumlah titik.

Permintaan itu dilontarkan karena saat ini makin marak tempat pembuangan sampah liar. Kebanyakan, tempat pembuangan sampah liar ini berada di pinggir jalan raya yang dilalui banyak pengendara. Antara lain, di ruas jalan raya meruju arah Semarang, Pati, Boyolali dan Solo.

Dengan membuat TPSS atau menyediakan kontainer memang menjadi salah satu solusi untuk menekan volume sampah. Sebab, sampah bisa terkumpul dalam satu titik sehingga mudah diangkut menuju tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Adanya tumpukan sampah liar membuat pemandangan menjadi kurang sedap. Apalagi, saat musim hujan tiba. Ketika kena air hujan, bau menyengat dari sampah yang membusuk sering mengganggu kenyamanan pengendara.

“Tempat pembuangan sampah liar di pinggir jalan itu sudah berlangsung cukup lama. Namun, sejauh ini belum ada solusinya,” kata Risma, pengendara motor yang biasa melintasi tumpukan sampah liar di wilayah Kecamatan Godong, Rabu (30/8/2017).

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Ahmadi Widodo menyatakan, pembuatan TPSS memang dinilai cukup efektif mengatasi keberadaan tempat pembuangan sampah liar itu. Meski demikian, untuk membuat TPSS butuh lahan tersendiri.

“Penyediaan lahan ini seringkali jadi salah satu kendalanya. Disamping itu, butuh dukungan pula anggaran yang cukup besar. Saat ini, kita sudah ada beberapa TPSS dan menyediakan kontiner di sejumlah titik. Namun memang belum menjangkau ke semua kecamatan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Bak Film Laga, Istrinya Dijambret, Suami Kejar Pelaku Sampai Ampun-Ampun di Grobogan

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano juga memberikan penghargaan pada pasangan suami istri pemberani, Warsidi (35) dan Fina Nuryanti (32), warga Desa Bugel, Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pasangan suami istri pemberani, Warsidi (35) dan Fina Nuryanti (32), warga Desa Bugel, Kecamatan Godong, Grobogan, ini patut diacungi jempol. Mereka berhasil mengejar pelaku penjambretan.

Peristiwa penjambretan itu terjadi saat Warsidi yang berboncengan dengan istrinya melintas di jalan raya Godong-Semarang. Tepatnya, masuk wilayah Desa Ketitang, Kecamatan Godong sekitar pukul 09.45 WIB.

Saat melaju dari arah barat menuju Godong, tiba-tiba ada dua orang pengendara motor Yamaha Vixion yang mendekat. Setelah itu, orang yang membonceng mendadak menyambar kalung yang dikenakan Fina. Begitu dapat kalung yang diincar, pelaku langsung berusaha kabur ke arah Purwodadi.

Melihat penjahat kabur, Warsidi berusaha mengejar dan Fina terus berteriak minta tolong warga. Beberapa saat kemudian, Warsidi akhirnya berhasil mendekati motor pelaku. Setelah itu, motor pelaku ditendang sekuat tenaga.

Tindakan ini mengakibatkan pelaku terjatuh dari motornya. Sebelum berhasil kabur lagi, kedua penjahat itu akhirnya berhasil diringkus polisi dibantu warga sekitar

Atas sikap beraninya, Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano memberikan apresiasi khusus pada pasangan suami istri pemberani itu.

Penghargaan itu diberikan karena aksi yang dilakukan suami istri ketika jadi korban penjambretan beberapa hari lalu. Berkat keberaniannya, dua pelaku penjambretan akhirnya bisa diamankan berikut hasil kejahatan, berupa kalung emas yang dipakai Fina.

“Tindakan yang dilakukan bapak dan ibu ini patut kita apresiasi. Berkat keberaniannya, pelaku kejahatan itu akhirnya bisa ditangkap. Begitu juga dengan kalungnya juga bisa diamankan,” kata Satria, usai menyerahkan penghargaan sejumlah uang tunai pada suami istri pemberani itu.

Menurut Satria, pelaku penjambretan itu diketahui merupakan warga Demak. Yakni, Kasmiran alias Tukul (32), Warga Kecamatan Karangawen, dan Nyoto Priyono alias Muntu (29), warga Kecamatan Mranggen.

“Dalam proses penyidikan, kedua pelaku ternyata pernah melakukan aksi serupa di wilayah Kecamatan Godong. Yakni, pada bulan Maret dan Juli tahun 2017,” imbuh Kasat Reskrim AKP Suwasana. 

 

Editor : Akrom Hazami

Polisi Grobogan Temukan Truk Hilang, Ini Reaksi Mengejutkan Si Pemilik

Siswanto, warga Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi terlihat ceria sesaat sebelum kendaraannya yang hilang diserahkan Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Perasaan gembira dirasakan Siswanto, warga Desa Candisari, Kecamatan Purwodadi. Kegembiraan itu muncul setelah kendaraan truknya yang hilang beberapa bulan lalu akhirnya berhasil ditemukan dan dikembalikan. Pengembalian barang bukti kejahatan pada pemiliknya itu dilakukan Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano, Rabu (30/8/2017).

“Berkat kerja keras dari anggota dan dukungan masyarakat, truk yang dicuri akhirnya bisa ditemukan. Lain kali, harap berhati-hati dan melengkapi kendaraan dengan kunci pengaman tambahan,” kata Satria saat menyerahkan replika kunci pada korban pencurian pada bulan April lalu itu.

Dalam kesempatan itu, Satria juga menyerahkan satu barang bukti kejahatan berupa sepeda motor pada pemiliknya. Sepeda motor Yamaha Vixion milik warga Kecamatan Grobogan itu dicuri orang pada bulan Februari 2015.

Menurut Satria, dalam kegiatan Operasi Jaran Candi 2017 yang dilangsungkan 27 Juli hingga 15 Agustus, pihaknya berhasil mengungkap 11 kasus curanmor di berbagai kecamatan. Dari pengungkapan kasus ini, ada 13 tersangka yang diamankan.

Kemudian, pihaknya juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti hasil kejahatan. Antara lain, 11 unit sepeda motor, 1 truk, dan peralatan yang digunakan sebagai sarana kejahatan.

“Selain kasus curanmor, kita juga mengungkap kasus penjambretan dan penganiayaan. Pelaku dan barang bukti hasil kejahatan berhasil kita amankan,” katanya. 

Editor : Akrom Hazami

Mobil Polisi Wirosari Grobogan jadi Unik dan Bermanfaat bagi Korban Kekeringan

Polisi saat beraksi di dekat mobil yang didesain jadi lebih unik dan bermanfaat di daerah kekeringan di Wirosari Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemandangan cukup menarik terlihat dalam pelaksanaan drop air di wilayah Kecamatan Wirosari, Grobogan, sejak beberapa hari terakhir. Hal ini terkait dengan adanya mobil dinas Polsek Wirosari yang ikut dikerahkan untuk menyalurkan air bersih di daerah kekeringan.

Kendaraan dinas jenis pikap ini dilengkapi tandon air di bagian bak terbuka. Tandon air warna oranye ini kapasitasnya sekitar 1.000 liter.

Dengan adanya tendon air, kendaraan ini jadi punya dua fungsi sekaligus. Yakni, untuk kegiatan patroli sekaligus memberikan bantuan air bersih pada warga yang membutuhkan.

“Sebagian wilayah Wirosari selama ini memang masuk daerah rawan kekeringan. Oleh sebab itu, kami ingin berupaya membantu masyarakat di wilayah Wirosari yang sebagian mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau,” ujar Kapolsek Wirosari AKP Tony Basuki, Selasa (29/8/2017).

Menurut Tony, modifikasi mobil patroli untuk sarana penyaluran bersih tidak mengganggu aktivitas pelayanan masyarakat lain, khususnya dalam hal pengawasan keamanan serta perlindungan masyarakat. Setelah, kegiatan drop air selesai dikerjakan, semua perlengkapan akan dikembalikan seperti semula. Jika dibutuhkan lagi, peralatan itu baru dipasang kembali.

Editor : Akrom Hazami

Langgar Trayek, Bus AKAP Jurusan Solo-Jakarta-Bogor Dikandangkan di Mapolres Grobogan 

Petugas gabungan tengah melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan umum di kantor Dinas Perhubungan Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tindakan tegas dilakukan petugas gabungan saat menggelar pengecekan kondisi angkutan umum di kantor Dinas Perhubungan Grobogan, Selasa (29/8/2017). Dalam kegiatan itu, ada satu bus, PO Mulia Indah yang diberi sanksi berat tidak boleh melakukan operasi.

Tidak hanya itu, bus jurusan Solo-Jakarta-Bogor ini tersebut juga dibawa ke Mapolres Grobogan untuk diamankan. Tindakan tegas ini dilakukan lantaran bus tersebut beroperasi tidak sesuai trayek yang dimiliki.

Sesuai trayek yang dimiliki, bus bernomor polisi AD-1633-HA ini rute operasinya melalui wilayah Kota Salatiga. Meski demikian, bus ini masih nekat melintasi jalur Grobogan.

“Saya terpaksa lewat Grobogan karena di daerah Salatiga ada proyek pengecoran,” kata sopir bus Edi Santoso pada petugas.

Akibat sanksi ini, sejumlah penumpang yang sudah ada di dalam bus tersebut akhirnya diantarkan ke Terminal Induk Purwodadi dan dialihkan pada armada lainnya. Setelah menurunkan penumpangnya, bus lalu dikandangkan ke mapolres.

Kasat Lantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa menyatakan, bus yang melanggar trayek baru boleh diambil setelah sidang tilang. Menurut Panji, tindakan tegas itu dilakukan untuk memberikan efek jera pada sopir bus lainnya.

“Bus yang beroperasi tidak sesuai trayek merupakan pelanggaran berat. Tindakan seperti ini disisi lain juga merugikan sopir bus lainnya,” tegasnya.

Panji menambahkan, pemeriksaan kendaraan, khususnya bua antara kota antar provinsi (AKAP) dilakukan terkait libur panjang pada akhir pekan ini. Razia gabungan akan terus digalakkan hingga menjelang Idul Adha.

Editor : Akrom Hazami

Dibantu Jualan Bule Cantik, Jamu Warga Tarub Grobogan ini Ludes dalam Hitungan Menit

Joana Marcao, bule asal Portugal ikut jualan jamu di Desa Tarub Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Suasana perempatan Jalan Purwodadi-Blora menuju arah Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Selasa (29/8/2017) mendadak heboh.

Penyebabnya, ada perempuan bule yang mendadak menawarkan jamu gendong pada orang yang ada di sekitar lokasi itu.

Hadirnya bule berparas cantik ini tak ayal sempat bikin kaget dan mengundang daya tarik orang untuk membeli jamu. Hasilnya, hanya dalam tempo lima menit dagangan yang dijajakan sudah ludes dibeli orang.

Munculnya penjual jamu yang tidak disangka-sangka juga dimanfaatkan warga setempat untuk foto bareng. Bahkan, sebagian warga sempat saling berebut untuk bisa foto dengan penjual jamu istimewa tersebut.

Penjual jamu cantik ini memang asli orang luar negeri. Namanya, Joana Marcao yang berasal dari Portugal. Perempuan ini sudah berada di Desa Tarub sejak pertengahan Agustus lalu, dalam kapasitasnya sebagai relawan lembaga sosial internasional yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Selama berada di Desa Tarub, sudah banyak aktivitas yang dilakukan Joana bersama masyarakat. Salah satunya adalah membantu jualan jamu gendong yang biasa dikerjakan Mariman (35), warga Desa Tarub yang sudah hampir 10 tahun jadi penjual jamu keliling.

“Mbak Joana ini minta izin ikut bantu jualan jamu gendong. Setelah dibantu jualan, dagangan saya laris manis. Dalam hitungan menit saja sudah ludes. Padahal, biasanya baru habis setelah keliling seharian,” katanya.

Kepala Desa Tarub Ali Maskuri menyatakan, jumlah relawan yang ada di desanya ada dua orang. Selain Joana, ada Kozumoto yang berasal dari Jepang. Keduanya akan bertugas jadi relawan hingga akhir bulan Agustus ini.

Beberapa hari lalu, kedua relawan itu juga sempat menyaksikan pagelaran wayang kulit di Balai Desa Tarub. Saat sesi goro-goro atau guyonan, Joana bahkan sempat didaulat untuk menyanyi sebuah lagu Jawa bertitel ‘Suwe Ora Jamu’. Saat menyanyi, para penonton sempat dibuat tertawa karena logat Joana yang belum begitu fasih berbahasa Jawa itu terdengar lucu.

“Selain nyanyi Suwe Ora Jamu, Mbak Joana juga pingin ikut bantu Pak Mariman jualan jamu keliling. Saat Mbak Joana bantu jualan jamu memang suasanya jadi heboh dan meriah,” katanya, Selasa (29/8/2017).

Editor : Ali Muntoha

Jadi Tuan Rumah Popnas Gulat, Ini yang Disiapkan Pemerintah Grobogan

Panitia Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) cabang olahraga gulat menggelar rapat persiapan yang dimpimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono, Selasa (29/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sekretaris Daerah (Sekda) Grobogan Moh Sumarsono meminta agar penyelenggaraan even Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) cabang olahraga gulat bulan September 2017 mendatang bisa sukses dan berjalan lancar. Hal itu disampaikan Sumarsono saat memimpin rapat dengan panitia Popnas, Selasa (29/8/2017).

Menurutnya, beberapa waktu lalu sudah diputuskan kalau Grobogan akan jadi tuan rumah Popnas untuk cabor gulat. Even Popnas akan dilaksanakan pada 13-20 September 2017 di GOR Simpanglima Purwodadi.

“Sebagai tuan rumah, banyak tugas berat yang harus kita lakukan. Oleh sebab itu, semua panitia harus saling berkoordinasi dengan baik supaya even Popnas gulat bisa sukses,” katanya.

Rapat membahas kesiapan Popnas gulat juga dihadiri Ketua KONI Grobogan Fatchur Rachman. Hadir pula Kepala Disporabudpar Grobogan Karsono.

Panitia Popnas juga melibatkan berbagai dinas dan instansi terkait lainnya. Seperti dari TNI, POLRI, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Bappeda hingga BPPKAD.

Sumarsono menyatakan, mengingat even tersebut skala nasional maka persiapannya harus dilakukan lebih cermat. Sebab, jumlah personel yang terlibat dalam Popnas itu cukup banyak karena hampir seluruh provinsi ambil bagian. Selain atlet dan ofisial juga akan terlibat instruktur pertandingan.

Sumarsono yang kebetulan juga menjabat jadi Ketua Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Grobogan itu menyatakan, pihaknya merasa bangga karena dipercaya jadi tuan rumah Popnas gulat. Sebab, dengan adanya even ini secara tidak langsung akan bisa menarik animo masyarakat untuk menekuni olahraga gulat.

Di sisi lain, dengan ditunjuk jadi tuan rumah maka ada beberapa konsekuensi yang harus dilakukan. Antara lain, mempersiapkan kelengkapan sarana dan prasarana pendukung di lokasi pertandingan.

Editor : Ali Muntoha

4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Beginilah penampakan kobaran api yang membakar kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran menimpa kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, Minggu (27/8/2017) malam. Meski tidak ada korban jiwa. namun kebakaran ini sempat membuat panik warga dan pengendara yang melintas di jalur Purwodadi-Solo.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa kebakaran diketahui selepas Magrib, sekitar pukul 18.15 WIB. Banyaknya dedaunan dan ranting kering menyebabkan kobaran api cepat membesar.

Beberapa warga yang melihat ada kebakaran di wilayah hutan langsung menghubungi kantor pemadam. Sekitar 30 menit kemudian, tiga mobil damkar sudah tiba di lokasi kejadian.

Aksi pemadaman berlangsung hampir dua jam lamanya. Dalam pemadaman ini, petugas damkar juga mendapat dukungan dari anggota Koramil dan Polsek Geyer serta puluhan warga sekitar kawasan hutan.

“Ada puluhan warga yang ikut membantu memadamkan api. Upaya pemadaman juga didukung dari TNI dan Polisi,” kata Ketua Pramuka Peduli Kwarcab Grobogan Lulun Surono yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari lokasi kebakaran tersebut.

Petugas pemadam kebakaran dibantu warga mencoba menjinakkan api yang membakar hutan Perhutani di Gundih, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

Saat pemadaman dilakukan, arus lalu lintas dari kedua arah sempat tersendat karena kendaraan harus berjalan pelan dan bergantian.

Sebelum kebakaran dipadamkan, para pengendara sempat terganggu kepulan asap. Hal ini terjadi karena lokasi kebakaran hanya berjarak beberapa meter di sebelah timur jalan Purwodadi-Solo km 16.

Camat Geyer Aries Ponco ketika dimintai komentarnya menyatakan, kebakaran terjadi di petak 103 B yang masuk wilayah Desa/Kecamatan Geyer. Berdasarkan perkiraan sementara, luas areal hutan yang terbakar sekitar 4 hektare.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa itu. Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Kalau ingin dapat informasi lebih lanjut bisa dikoordinasikan dengan pihak KPH Gundih,” jelasnya.

Editor : Ali Muntoha

Tampil dengan 10 Pemain, Persipur Tahan Imbang Sragen United

Penyerang Persipur Ilham Wibisono mendapat pengawalan ketat dari pemain Sragen United sepanjang pertandingan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Tampil di kandang sendiri, Stadion Krida Bhakti Purwodadi, Persipur gagal meraih poin penuh saat menjamu Sragen United, Minggu (27/8/2017). Pertandingan yang berlangsung dalam tempo tinggi itu, akhirnya berkesudahan imbang tanpa gol.

Dalam laga tersebut, Persipur harus berjibaku nyaris 90 menit demi mendapatkan satu angka. Hal ini disebabkan ganjaran kartu merah yang didapat pemain Persipur Roberto E Sauyi saat pertandingan baru berjalan 7 menit.

Pemain bernomor punggung 23 diberikan kartu merah karena bersitegang hingga akhirnya menampar salah satu pemain lawan.

Meski tampil dengan 10 pemain, namun permainan Persipur justru bisa berkembang. Berulang kali, peluang berhasil didapat. Sayangnya, penyelesaian akhir yang kurang maksimal menjadikan peluang itu gagal membuahkan gol.

“Pertandingan kali ini merupakan perjuangan paling berat. Praktis kita hanya punya 10 pemain sejak menit awal. Oleh sebab itu, hasil imbang ini patut kita syukuri,” cetus pelatih Persipur Wahyu Teguh.

Selain menegangkan, laga yang disaksikan sekitar 5.000 penonton juga berlangsung keras. Berulangkali pelanggaran keras dilakukan tim tamu.

Dalam laga itu, wasit Moh Masrukin dari Malang mengeluarkan satu kartu merah dan enam kartu kuning. Dari tim tamu, ada lima pemainnya yang diganjar kartu kuning dan satu lagi buat Persipur.

Dari kubu Sragen United terlihat cukup kecewa dengan hasil imbang tanpa gol. Sejak awal, mereka menargetkan bisa meraih angka penuh dalam laga tersebut.

“Kesempatan meraih kemenangan sebenarnya cukup terbuka karena lawan main 10 pemain. Sayang, keuntungan ini tidak bisa dimanfaatkan dengan baik,” kata Pelatih Sragen United Eko Firmandoyo.

Editor : Ali Muntoha

Ditinggal Pengajian, Rumah Warga Kramat Grobogan Ludes Terbakar

Puluhan warga dan petugas memadamkan kebakaran di Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, Sabtu (26/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kebakaran terjadi di Desa Kramat, Kecamatan Penawangan, Grobogan, Sabtu (26/8/2017) sekitar pukul 10.30 WIB. Akibatnya, dua unit rumah milik Rustamto (60), ludes dilalap api.

“Selain rumah, seluruh barang dan harta berharga yang ada di dalamnya ikut habis. Kerugian diperkirakan sekitar Rp 300 juta,” ungkap Kades Kramat Agus Ali Subhan.

Informasi yang didapat menyebutkan, saat kebakaran, rumah kondisi kosong. Beberapa waktu sebelumnya, pemilik rumah yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani (Poktan) di desa tersebut sudah pergi beraktifitas. Sementara istrinya Warsini, sekitar satu jam sebelum kejadian pergi ikut pengajian di rumah tetangganya.

Kebakaran itu baru diketahui warga ketika api sudah membesar. Semula, warga mengira munculnya asal tebal akibat pembakaran sampah.

Warga makin curiga karena asap justru semakin tebal. Beberapa warga mencoba mendatangi rumah tersebut. Ternyata, rumah bagian belakang sudah terbakar.

“Melihat peristiwa ini, warga berupaya untuk melakukan pemadaman sebisanya. Namun, lantaran saat itu ada hembusan angin kencang maka pemadaman jadi sulit dan apinya makin cepat membesar,” jelas Agus.

Selain itu, banyaknya barang mudah terbakar menyebabkan nyala api makin cepat membesar dan menjalar hingga rumah depan. Menurut Agus, bagian depan rumah selama ini difungsikan toko kelontong serta kebutuhan pertanian.

Meski sudah dibantu empat unit mobil damkar, namun upaya menjinakkan api tak mudah. Api pun melahap seluruh rumah berikut isinya. Tak lama kemudian, kobaran api itu padam dengan sendirinya.

“Dalam rumah itu juga terdapat stok pupuk milik kelompok tani yang ikut terbakar. Pemilik rumah adalah Ketua Poktan di Desa Kramat,” imbuhnya.

Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Dugaan sementara, kebakaran dipicu dari sisa bara api dalam pawon yang belum sepenuhnya dimatikan.

“Sebelum berangkat pengajian, istri pemilik rumah sempat masak dulu. Kemungkinan, api belum padam betul dan menjalar ke tumpukan kayu kering dekat pawon hingga membakar dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu,” jelas Agus.

Editor : Akrom Hazami

Polisi Cantik Polres Grobogan Salurkan Bantuan Air Bersih

Sejumlah polwan dari Polres Grobogan memberikan bantuan air bersih di salah satu desa di Kecamatan Karangrayung. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Puluhan polwan Polres Grobogan menyalurkan bantuan air bersih ke desa di Kecamatan Karangrayung, Sabtu (26/8/2017).

Mereka memberikan bantuan kepada warga yang mengalami musibah kekeringan. Bantuan air bersih dilakukan dalam rangka menyambut HUT ke 69 polwan yang jatuh1 September.

“Penyaluran bantuan air bersih di daerah bencana kekeringan merupakan rangkaian acara memperingati HUT Polwan. Kegiatan sosial penyaluran bantuan air bersih ini merupakan salah satu wujud kepedulian kami kepada warga yang membutuhkan pasokan air bersih,” ungkap Aiptu Sri Lestari yang memimpin kegiatan distribusi air bersih tersebut.

Bantuan air bersih yang disalurkan sepanjang hari ini disalurkan ke tiga desa. Masing-masing, Desa Karangsono Cekel dan Telawah. Dia berharap bantuan yang disalurkan ini dapat meringankan beban warga yang terkena musibah kekeringan.

Warga menyambut gembira saat bantuan datang. Begitu mobil tangki datang, puluhan warga langsung berduyun-duyun membawa wadah untuk mengambil jatah air.

“Saya senang sekali ada bantuan air bersih. Saat kekeringan seperti in, kami harus ambil air cukup jauh atau membeli,” kata Suminah, salah seorang warga Desa Cekel.

Editor : Akrom Hazami

Nah…Sekarang Mobil Sudah Tak Bisa Lagi Keluyuran di Lapangan Alun-alun Purwodadi

Dua pegawai dari Dinas Lingkungan Hidup Grobogan sedang memperkuat tiang penyangga portal di pintu masuk Alun-alun Purwodadi sisi utara. (MuriaNewsCom/Dhani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan- Sorotan terhadap banyaknya kendaraan bermotor yang masuk ke dalam lapangan Alun-alun Purwodadi langsung disikapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan.

Guna mencegah masuknya kendaraan, pihak DLH akhirnya membuatkan portal permanen di pintu masuk sebelah utara.

Kendaraan yang masuk ke dalam kawasan alun-alun itu semuanya lewat pintu utara yang ada di seberang kantor DPRD Grobogan. Sebelumnya, di pintu ini sudah ada portal, tetapi posisinya tidak permanen alias bisa digeser.

Pada tiga pintu masuk alun-alun lainnya, kendaraan tidak bisa lewat. Sebab, konstruksi pintu masuknya dibuat seperti anak tangga.

Dari pantauan di lapangan, terlihat masih ada dua orang yang sedang memperkuat tiang penyangga portal dengan semen. Portal yang dipasang terbuat dari pipa besi.

Di atas pipa besi yang posisinya melintang diberi gerigi cukup tajam. Gerigi tajam ini dipasang supaya pipa besi tidak dipakai duduk orang.

Sekretaris DLH Nugroho Agus Prastowo ketika dimintai komentarnya menyatakan, pemasangan portal dilakukan supaya sepeda motor maupun mobil tidak masuk ke dalam alun-alun. Sebab, masuknya kendaraan bermotor atau mobil bisa merusak lantai maupun lapangan.

“Akses masuk ke dalam alun-alun lewatnya pintu utara. Akhirnya, kita pasang portal supaya kendaraan tidak bisa masuk,” jelasnya, Selasa (22/8/2017).

Baca juga : Anggota Dewan Grobogan Geregetan Lihat Mobil Bebas Masuk Lapangan Alun-alun

Sebelumnya, banyaknya kendaraan yang bebas keluar masuk alun-alun sempat mendapat sorotan tajam dari anggota DPRD Grobogan. Anggota dewan meminta agar hal itu segera disikapi dengan tegas, karena semua kendaraan bermotor sudah disiapkan lahan parkir di sekeliling alun-alun.

Editor : Ali Muntoha

Hebat…Kades dan Pak Camat di Gabus Grobogan Ternyata Jago Main Ketoprak

Para kepala desa dan perangkat di Kecamatan Gabus, Grobogan, bermain ketoprak dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pertunjukkan kesenian tradisional ketoprak yang dilangsungkan di lapangan Desa Tlogotirto, Kecamatan Gabus, Grobogan, Jumat (19/8/2017) malam hingga Sabtu (19/8/2017) dini hari, cukup istimewa.

Bukan soal kisah atau lakon yang dimainkan. Tetapi mengenai latar belakang para pemeran yang tampil dalam pertunjukkan tersebut.

Soalnya, sebagian besar pemainnya adalah kepala desa dan perangkat desa di Kecamatan Gabus. Tidak hanya itu, Camat Gabus Anwar Udin Hamid dan Kapolsek AKP Zainuri juga ikut jadi pemeran.

Pertunjukkan ketoprak dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan RI itu, mengambil lakon atau cerita Ranggalawe Mbalelo. Cerita itu mengisahkan tentang Adipati Tuban Ranggalawe di masa pemerintahan kerajaan Majapahit.

Meski persiapannya singkat, namun para pemeran mampu tampil apik dalam pentas yang disaksikan ribuan warga itu. Bahkan, hingga lewat dinihari, ribuan warga masih betah menonton pentas kesenian tradisional yang saat ini sudah jarang ditemui itu.

Kades Tlogotirto, Adi Saputra mengatakan, tahun 2016 lalu, pihaknya juga mengadakan pentas ketoprak di lokasi yang sama. Pada edisi perdana menampilkan cerita Lahirnya Kerajaan Majapahit.

Adi menyatakan, pentas ketoprak itu dilangsungkan sebagai wahana untuk menggali, mengupas, mengembangkan dan melestarikan seni budaya warisan nenek moyang. Hal itu perlu dilakukan, karena kesenian tradisional ini kondisinya hampir kelam lantaran tergerus arus globalisasi.

“Kesenian tradisional ini harus kita lestarikan. Untuk melestarikan kesenian ini harus kita lakukan bersama-sama,” sambungnya.

Editor : Ali Muntoha

Membahayakan, Jembatan Pemacu Adrenalin di Rejosari Grobogan Tak Boleh Dilalui Kendaraan

Dua pengendara motor dengan hati-hati melintasi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sorotan terhadap kondisi jembatan di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan akhirnya ditindaklanjuti pihak desa. Rencananya, jembatan yang menghubungkan Desa Kradenan dan Desa Rejosari itu tak boleh dilalui sepeda motor lantaran kondisi jembatan yang semakin membahayakan.

Kepala Desa Rejosari Lapar menyatakan, penutupan jembatan untuk pengendara motor dijadwalkan mulai bulan depan jembatan. Menurutnya, konstruksi jembatan yang baru terbentang lempengan besi itu hanya diperuntukkan bagi sepeda dan pejalan kaki.

Namun, seringkali pengendara motor tetap nekat untuk melintas dengan alasan memperpendek jarak tempuh.

“Nanti akan kita pasang larangan bagi pemotor untuk lewat. Saya akan kerjasama dengan Karang Taruna untuk mencegat pengendara supaya jangan lewat jembatan,” katanya.

Lapar menyatakan, pihaknya memang belum mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan jembatan. Sebab, dana yang tersedia juga digunakan untuk perbaikan jalan desa.

Hanya, ia berjanji, tahun ini akan dianggarkan dana untuk pengecoran dan penambahan lempengan besi senilai Rp 200 juta dari alokasi dana desa (ADD).

Jembatan  panjangnya sekitar 60 meter. Sebelumnya, jembatan diatas sungai Ngrowo ini terbuat dari kayu dan sempat beberapa kali hanyut saat banjir.

Sejak beberapa tahun lalu, pihak desa berupaya membuat jembatan permanen dengan konstruksi beton untuk tiang penyangga. Namun, proses perbaikan jembatan akhirnya belum terselesaikan sampai saat ini.

“Pembangunan jembatan itu kita lakukan bertahap karena keterbatasan dana. Saat ini, sudah terbangun tiga pilar penyangga. Setelah itu, akan dipikirkan untuk membuat landasannya,” jelas Lapar pada wartawan.

Meski pembangunan belum rampung, namun jembatan itu tetap digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Beberapa pilar besi baja panjang untuk sementara difungsikan sebagai landasan.

Namun, tidak semua orang berani melintasi landasan darurat tersebut. Terutama, para pengendara sepeda atau motor. Beberapa orang yang mencoba menyeberangi jembatan dikabarkan sempat kecebur sungai.

“Pilar besinya memang kuat tetapi untuk menyeberangi jembatan butuh nyali besar. Selain itu, saat melintas butuh ketenangan dan keseimbangan karena kanan kirinya tidak ada pagar pengamannya. Saya kalau melintasi jembatan pasti sambil deg-degan,” kata Suranti, warga Kradenan yang sudah beberapa kali melintasi jembatan tersebut.

Editor: Supriyadi

Pejabat di Grobogan Terpukau Kisah Perjuangan Kapten Roesdijat di Malam Tirakatan

Salah satu tokoh masyarakat Grobogan Kolonel (purn) Iwan Supardji menyampaikan kisah perjuangan Kapten Roesdijat pada malam tirakatan di pendapa Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Menjelang puncak peringatan HUT ke-72 Kemerdekaan RI hari ini, para pejabat dilingkup Pemkab Grobogan menggelar malam tirakatan di pendapa kabupaten, Rabu (16/8/2017) malam.

Bupati Grobogan Sri Sumarni didampingi para pimpinan FKPD dan para pejabat hadir dalam acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu.

Selain itu, sejumlah tokoh masyarakat, ormas dan veteran ikut pula menghadiri malam tirakatan. Acara diawali dengan laporan dari Kepala Kemenag Grobogan Hambali selaku ketua panitia malam tirakatan.

Dalam kesempatan itu, para undangan berkesempatan mendengarkan cerita mengenai kisah perjuangan mengusir penjajah di wilayah Grobogan. Cerita perjuangan itu disampaikan salah satu tokoh masyarakat, yakni Kolonel (purn) Iwan Supardji yang pernah menjabat jadi Dandim 0717/Purwodadi.

“Kali ini saya ingin menyampaikan kisah perjuangan mengusir penjajah di Grobogan yang dilakukan Kapten Roesdijat. Beliau ini adalah orang asli Grobogan yang gigih dalam mengusir penjajah,” katanya.

Meski namanya tidak dikenal luas seperti pahlawan besar lainnya, namun Kapten Roesdijat yang lahir di Desa Katong sempat punya kisah heroik sekitar tahun 1947 – 1948. Yakni, saat berlangsung agresi militer Belanda kedua.

Pada saat itu, Kapten Roesdijat bersama rekan-rekannya berjuang sekuat tenaga untuk mengusir penjajah yang masuk di wilayah Grobogan. Khususnya, di Kecamatan Toroh.

Dalam peristiwa itu, Kapten Roesdijat yang lahir tahun 1917 akhirnya gugur dan kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Katong, Kecamatan Toroh.

“Sebagai salah satu bentuk penghargaan, Pemkab Grobogan mengabadikan namanya sebagai nama jalan,” jelas Iwan.

Sementara itu, Bupati Sri Sumarni dalam sambutannya mengajak seluruh peserta tirakatan dan masyarakat luas untuk selalu bersyukur atas nikmat kemerdekaan tersebut. Sebab, melalui kemerdekaan itulah Bangsa Indonesia bisa terbebas dari penderitaan penjajah.

Dia menyatakan, memaknai suatu peringatan ulang tahun, seyogyanya digunakan untuk melakukan refleksi diri, merenung dan instrospeksi apa yang telah diperbuat selama satu tahun terakhi. Untuk selanjutnya semua pihak diminta merancang dan menyusun langkah-langkah perbaikan di berbagai bidang.

Editor : Ali Muntoha

Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Ditunda, Ini Alasannya

Tim ahli purbakala masih melakukan proses pembuatan replika fosil hewan purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur pelaksanaannya.

Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada pekan ini. Namun, jadwal terbaru, pelaksanaannya bakal dilakukan akhir Agustus mendatang.

“Ya, ada sedikit perubahan jadwal masalah pengangkatan fosilnya. Nanti, kita lakukan akhir bulan pelaksanaannya,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

Menurut Sukron, mundurnya jadwal pengangkatan fosil disebabkan proses pencetakan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan belum selesai. Sesuai rencana, pembuatan replika hanya ditenggat selesai 10 hari, dari tanggal 8-18 Agustus 2017.

Namun, dari pengecekan ke lapangan, waktu 10 hari itu dirasakan belum cukup. Akhirnya, waktu pembuatan replika ditambah lagi 10 hari hingga 28 Agustus 2017.

Dijelaskan, perpanjangan waktu 10 hari itu bukan disebabkan adanya hambatan. Tetapi, hal itu dikarenakan jumlah fosil yang ada di lokasi ternyata tambah banyak. Terlebih setelah muncul fosil-fosil sepesies hewan baru di dekat fosil elephas yang ditemukan lebih awal.

“Jadi, dengan banyak fosil itu tidak cukup kalau pembuatan replika dikerjakan 10 hari saja. Makanya, kita tambah lagi waktunya agar semua fosil bisa dibuat replikanya dan hasilnya lebih sempurna,” jelasnya.

Sukron menyatakan, setelah waktu pembuatan replika rampung, baru dilakukan pengangkatan dan penyelamatan semua fosil dari lokasi untuk direkonstruksi. Rencananya, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan sementara di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.

Editor : Ali Muntoha

3 Pertandingan Sisa jadi Penentuan Nasib Persipur

Pemain Persipur saat melakoni laga beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom0

MuriaNewsCom, Grobogan – Jurang degradasi dari Liga 2 saat ini mengancam Persipur. Pasalnya, dari klasemen sementara di grup 4, tim berjuluk Laskar Petir ini bercokol di urutan keenam. Sesuai regulasi yang dikeluarkan PSSI, tim yang aman dari degradasi maksimal berada pada urutan keempat.

Meski kondisinya cukup mengkhawatirkan, namun kans untuk lepas dari degradasi masih terbuka. Caranya, memaksimalkan tiga laga tersisa dengan torehan poin penuh. “Kesempatan untuk tetap bertahan di Liga 2 masih ada. Hal ini harus dimanfaatkan. Tiga laga ke depan harus bisa menang,” cetus Aryono, salah seorang tifosi Persipur.

Dari delapan tim di grup 4 ini, hanya ada tiga tim yang hampir bisa dipastikan tetap bertahan. Yakni, PSIS Semarang, Persis Solo, dan PSIR Rembang. Sementara tiga tim lainnya masih bersaing ketat memperebutkan satu tempat di posisi keempat. Yakni, Sragen United (13 poin) yang saat ini ada di urutan keempat, PPSM Magelang (12 poin) di urutan kelima dan Persipur yang punya 11 poin.

Dua tim lainnya tipis peluangnya untuk bertahan. Yakni, Persiba Bantul (4 poin) yang berada di juru kunci dan Persipon Pontianak (7 poin) di urutan ketujuh. Dari tiga laga tersisa, pertandingan paling dekat adalah melawat ke kandang Persiba Bantul (19/8/2017) mendatang. Selepas itu, Persipur bakal jadi tuan rumah saat menjamu Sragen United dan Persipon Pontianak.

“Masih ada peluang. Caranya, meraih poin penuh di tiga laga tersisa. Kalau ini bisa dilakukan maka kesempatan bertahan cukup besar. Disisi lain, kita harapkan rival kita kalah dalam laga sisa,” kata manajer Persipur Budi Susilo

Editor : Akrom Hazami

Polwan Cantik di Grobogan Dites Urine

Polwan usai melakukan tes urine  di Mapolres Grobogan, Jumat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ada yang berbeda dalam pelakanaan apel rutin yang dilangsungkan Mapolres Grobogan, Rabu (16/8/2017). Soalnya, selepas apel, puluhan polisi wanita (Polwan) langsung diminta menjalani tes urine.

Pelaksanaan tes urine secara mendadak itu dilaksanakan oleh Sie Profesi dan Pengamanan (Propam) bekerjasama dengan bagian Dokkes. Anggota yang mengikuti tes tersebut dipilih secara acak dari tiap bagian, satuan, fungsi dan polsek. Semua anggota lain yang belum menjalani tes urine tetap diminta berada di lokasi selama pemeriksaan berlangsung.

Kapolres Grobogan AKBP Satria Rizkiano menegaskan, tes urine dilakukan secara mendadak, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tujuannya, untuk memastikan bahwa anggotanya bersih dari pengaruh narkoba. Kegiatan itu dilakukan sebagai salah satu rangkaian memperingati HUT ke-60 Polwan yang jatuh pada 1 September mendatang.

“Pemeriksaan ini dilakukan mendadak sehingga tidak ada kesan rekayasa. Nantinya, seluruh personil Polri maupun pegawai sipil Polri akan mengikuti kegiatan yang sama,” tegasnya.

Lebih lanjut dikatakan, tes urine ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawab sebagai penegak hukum dan menunjukkan keseriusan polisi dalam memerangi peredaran narkoba. Dengan bersihnya anggota maka pemberantasan narkoba benar-benar bisa berjalan di wilayah hukum Polres Grobogan. Oleh sebab itu, sebelum menangkap para pelaku narkoba, petugas terlebih dahulu harus menjalani tes urine.

“Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Tim Dokkes Polres Grobogan, belum ada temuan adanya anggota yang terindikasi memakai narkoba. Kalau memang hasil tes  ada yang terbukti menggunakan narkoba maka akan diambil tindakan tegas, termasuk pemecatan,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Ternyata Pernah Ada Bencana Besar di Lokasi Penemuan Fosil Gajah Purba di Banjarejo

Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi (kanan) berbincang dengan Kades Banjarejo Ahmad Taufik di lokasi penemuan fosil gajah purba, Rabu (16/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Misteri yang terjadi di lokasi penemuan fosil gajah purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mulai terkuak. Antara lain, pada ratusan ribu tahun lalu diperkirakan sempat ada peristiwa bencana alam di sekitar lokasi yang letaknya agak berada di ketinggian atau perbukitan tersebut.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

“Penelitian masih kita lakukan. Tapi dari analisa sementara, potensi adanya bencana longsor di lokasi ini cukup besar,” jelasnya.

Menurut Sukron, adanya bencana alam diperkuat ketika lokasi penggalian diperlebar hingga berukuran sekitar 12 x 12 meter. Saat proses pelebaran ini berhasil ditemukan lagi sejumlah fosil dari beberapa spesies hewan purba.

Sebelum diperlebar, di lokasi tersebut hanya terlihat fosil satu spesies saja, yakni gajah purba. Setelah pelebaran areal, muncul potongan fosil dari spesies baru. Antara lain, banteng, dan buaya dengan berbagai ukuran.

Penemuan fosil spesies baru itu posisinya berdekatan atau berkumpul dengan fosil gajah purba. Kondisi ini diperkirakan bisa terjadi akibat hewan-hewan itu sebelumnya tertimbun longsoran, sehingga bisa terkumpul dalam satu lokasi.

Misteri lain yang berhasil terungkap adalah kepastian jenis gajah purba. Sebelumnya, fosil itu dinyatakan milik gajah purba jenis stegodon. Namun, setelah diteliti lebih lanjut, fosil itu berasal dari gajah purba jenis elephas.

“Fosilnya bisa kita pastikan milik elephas. Hewan purba ini lebih muda dari Stegodon. Usianya diperkirakan sekitar 400 ribu tahun,” tegasnya.

Editor : Ali Muntoha

Jemaah Haji dari 2 Kecamatan di Grobogan Dilepas Menuju Donohudan

Jemaah haji termuda Ainun Ni’am Zanjabila (berkalung kamera) yang usianya baru 20 tahun jadi bagian rombongan kloter 64.(MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemberangkatan jemaah haji dari Grobogan kembali dilangsungkan, Selasa (15/8/2017) petang. Jemaah haji yang diberangkatkan bersamaan dengan kumandang azan magrib ini merupakan rombongan kloter 64.

Jumlah rombongan jemaah haji ini sebanyak 136 orang yang kebetulan hanya berasal dari dua kecamatan. Yakni, Kecamatan Godong 120 orang dan 16 orang dari Kecamatan Pulokulon.

“Pemberangkatan jadwalnya kebetulan bersamaan dengan waktu magrib. Nanti, jemaah akan menunaikan salat jamak takhir di Donohudan,” ungkap Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali.

Dalam rombongan kloter 64 ini, ada satu jemaah haji termuda. Yakni, Ainun Ni’am Zanjabila yang usianya baru 20 tahun.

Ainun yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester 3, fakultas Psikologi UMS Surakarta tersebut berangkat bersama tiga anggota keluarganya. Yakni, kedua orang tuanya, Muzazin dan Tutwuri Hanjarwani serta kakaknya Ahmad Arwani Salsabila.

Warga Desa Sambung, Kecamatan Godong tersebut sudah didaftarkan haji tahun 2010 lalu.

“Alhamdulillah, saya bisa berangkat bersama orang tua dan kakak tahun ini. Mohon doanya, supaya bisa lancar menunaikan ibadah haji,” kata Ainun, sesaat sebelum upacara pemberangkatan.

Upacara pemberangkatan jemaah haji ini dipimpin Sekda Grobogan Moh Sumarsono. Hadir pula, perwakilan dari FKPD serta sejumlah pejabat terkait.

Editor : Akrom Hazami

 

Hebat, 2 Kelompok Tani di Grobogan Berhasil jadi Juara Tingkat Provinsi

Ketua Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan Guseri berfoto dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai penyerahan penghargaan. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua kelompok tani (poktan) di Grobogan berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Yakni, meraih juara I dalam lomba penyuluhan bidang pertanian tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Kedua kelompok yang berprestasi masing-masing, Poktan Ngudi Rejeki I Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi. Poktan ini meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas kedelai.

Satu lagi adalah Poktan Maju Desa Winong, Kecamatan Penawangan. Poktan ini meraih juara I dalam kategori kelompok tani berprestasi komoditas padi.

Atas keberhasilan tersebut, kedua Poktan tersebut mendapat penghargaan dan hadiah yang diserahkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat upacara HUT ke-67 Provinsi Jateng, di lapangan Simpanglima Semarang, Selasa (15/8/2017).

Penghargaan dari gubernur diterima langsung oleh ketua kelompok berprestasi tersebut. Yakni, Guseri selaku Ketua Poktan Maju dan Ketua Poktan Ngudi Rejeki I Darwoto.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, prestasi yang diraih kedua poktan itu dinilai sangat membanggakan. Sebab, untuk bisa jadi juara dalam lomba itu banyak aspek penilaiannya.

Antara lain mengenai, teknis budidaya mulai awal sampai panen, administrasi, unit usaha dan Kemitraan dengan pihak lain, pengelolaan hasil, aset atau modal, pola tanam, serta kegiatan yang sudah dilakukan.

Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah dan petugas juga menjadi aspek penting dalam penilaian tersebut.

“Jadi, untuk bisa meraih juara tingkat provinsi ini tidak mudah. Oleh sebab itu, keberhasilan ini kita rasa sangat membanggakan,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Joko Samuel, TKI yang 12 Tahun Hilang Dipastikan Belum Berganti Data Kependudukan

Keluarga dari TKI yang hilang Joko Samuel, berfoto bersama, saat didatangi wartawan, di rumahnya di Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski keberadaannya belum juga diketahui, namun Joko Samuel (27), warga Desa Mangin, Kecamatan Karangrayung, Grobogan yang 12 tahun belum pulang setelah jadi TKI, diketahui belum berganti data kependudukan. Hal ini berdasarkan pelacakan yang dilakukan melalui kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Grobogan.

“Dari nomor induk kependudukannya (NIK), yang bersangkutan tercatat masih beralamat di Desa Mangin. Artinya, belum pernah berganti data, misalnya pindah domisili ke daerah lain,” jelas Kepala Dispendukcapil Grobogan Moh Susilo, Selasa (15/8/2017).

Baca jugaVIRAL, Kondisi Ibu Akibat Anaknya jadi TKI dan 12 Tahun Tak Pernah Ngabari 

Menurut Susilo, identitas seseorang bisa dilacak lewat sistem administirasi kependudukan yang dimiliki. Dalam sistem tersebut, Joko Samuel juga belum terdeteksi melakukan perekaman data di tempat lain.

“Kalau yang bersangkutan pindah atau melakukan perekaman data E-KTP di tempat lain, pasti bisa kita ketahui,” imbuhnya.

Sementara itu, Kasi Penempatan Penempatan Tenaga Kerja Dinakertrans Grobogan Sugiyarto saat dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya tidak memiliki data terkait nama Joko Samuel yang dikabarkan pernah berangkat jadi TKI tahun 2005 lalu. Menurutnya, untuk menelusuri jejak Joko tersebut, salah satu upayanya adalah mengetahui perusahaan jasa penyalur tenaga kerja yang memberangkatkan ke luar negeri.

“Kalau tahu penyalur atau agennya bisa kita telusuri dari awal. Di tempat kami, belum ditemukan data TKI atas nama Joko Samuel. Nanti, kami akan coba membantu menelusuri jejak orang itu supaya bisa ketemu,” jelasnya.

Seperti diberitakan, Joko Samuel merupakan anak pasangan Sudardi (65) dan Kasmi (63). Sekitar tahun 2005, Joko diajak beberapa temannya untuk bekerja jadi TKI di Brunai Darussalam. Namun, hingga saat ini, Joko tidak pernah pulang ke kampung halamannya. 

 

Editor : Akrom Hazami

Kekeringan Grobogan, Warga Jual Bongkah Tanah Biar Punya Uang

Petani menjual bongkah tanah dari salah satu lahan sawah akibat kekeringan di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Bencana kekeringan yang melanda wilayah Grobogan membawa kesedihan bagi sebagian petani. Sebab, kondisi ini menyebabkan mereka harus kehilangan penghasilan utama. Soalnya, tanah sawahnya tidak bisa ditanami apa-apa lantaran sulitnya mendapatkan air.

Menghadapi kondisi itu, sebagian petani ada yang menempuh jalan lain demi mendapatkan penghasilan. Yakni, dengan mengeduk tanah sawahnya dalam bentuk bongkahan untuk selanjutnya dijual kepada mereka yang memerlukan.

“Kondisi sawah di sini tidak bisa ditanami karena kering tanahnya. Dengan menjual bongkahan tanah bisa mendapatkan uang,” kata Sumarto, warga Desa Sedadi, Kecamatan Penawangan, Sabtu (14/8/2017).

Bongkahan tanah itu biasanya dibeli orang untuk menguruk pekarangan atau fondasi bangunan baru. Harga tanah bongkahan itu juga cukup murah. Yakni, berkisar Rp 100 hingga 150 ribu per rit atau truk engkel. Harga ini tergantung jarak sawah dengan jalan raya.

 

Editor : Akrom Hazami