Jadwal Keberangkatan Jemaah Haji Grobogan Kloter 17 Dimajukan 

Ratusan koper jemaah haji Grobogan kloter 17 dikumpulkan di halaman Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi dan selanjutnya dikirim ke Donohudan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Jemaah haji Grobogan yang tergabung dalam kloter 17 akan diberangkatkan Selasa (1/8/2017) dini hari nanti. Rencananya, jemaah haji akan dilepas menuju asrama Donohudan dari pendapa kabupaten, pukul 02.00 WIB.

Jadwal keberangkatan jemaah haji ini mengalami sedikit perubahan. Yakni, pemberangkatan maju sekitar tiga jam dari jadwal semula.

“Sebelumnya, rencana pemberangkatan dilakukan habis Subuh. Tetapi, ada perubahan sehingga jadwalnya maju jadi pukul 02.00 WIB,” ungkap Kepala Kantor Kemenag Grobogan Hambali yang ditemui saat mengecek pengiriman koper jemaah di Masjid Jabalul Khoir Simpanglima Purwodadi, Senin (31/7/2017).

Dijelaskan, majunya jadwal keberangkatan itu dilakukan karena 351 jemaah kloter 17 dijadwalkan sudah harus tiba di Donohudan pukul 05.00 WIB. Supaya bisa tepat waktu tersebut maka pihaknya harus menyesuaikan jadwal keberangkatan jemaah.

Menurut Hambali, untuk kloter 64 akan diberangkatkan pada 15 Agustus. Sementara kloter 65 dan 66 berangkat pada hari yang sama, yakni 16 Agustus.

“Jumlah kloternya ada empat. Yakni, kloter 17, 64, 65 dan 66. Jumlah jemaah keseluruhan ada 977 orang,” katanya.

Ditambahkan, jemaah haji kloter 17 dan 65 diisi sebanyak 355 orang yang seluruhnya dari Grobogan. Kemudian, ada 136 orang masuk kloter 64 dan 221 orang ikut kloter 66. Untuk kloter 64 bergabung dengan jemaah Kabupaten Semarang dan kloter 66 gabung Kota Semarang.

Disinggung soal pengiriman koper jemaah, Hambali menyatakan, semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Koper dikirim lebih awal dari keberangkatan jemaah.

“Koper jemaah haji kloter 17 sudah komplit tidak ada yang ketinggalan. Jumlah koper ada 351,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ada Peraturan Baru, Penghasilan Anggota DPRD Grobogan Bakal Bertambah

Kegiatan rapat paripurna di DPRD Kabupaten Grobogan, beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Penghasilan anggota dan pimpinan DPRD Grobogan direncanakan bakal naik mulai bulan September mendatang. Kenaikan ini merupakan imbas dengan munculnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Sekretaris DPRD Grobogan Pangkat Djoko Widodo mengatakan, besarnya gaji pokok anggota dan pimpinan DPRD nilainya tidak berubah. Tetapi, kenaikan ada pada tunjangan yang didapat.

Saat ini, masih dibahas rancangan peraturan daerah (raperda) untuk menindaklanjuti PP tersebut. Dalam draf raperda tersebut juga ada penghasilan baru. Yakni tunjangan transportasi dan tunjangan reses.

“Kenaikan penghasilan harus dimasukkan ke dalam perda. Landasan kenaikan adalah PP baru. Dijadwalkan, paling lambat bulan Agustus nanti, perda harus sudah selesai,” katanya.

Informasi yang didapat menyebutkan, besarnya tunjangan transportasi direncanakan senilai Rp 300 ribu per hari. Sedangkan tunjangan reses Rp 2,7 juta per bulan. Kebutuhan anggaran untuk dua pos tunjangan ini sekitar Rp 11 juta per bulan tiap orang.

“Sudah ada prediksi mengenai besarnya tunjangan. Namun, nanti masih dilihat dengan kemampuan keuangan daerah dan menunggu peraturan menteri dalam negeri,” kata Pangkat.

 

Editor : Akrom Hazami

Kakek Tewas Gantung Diri di Rumah Kosong Karangasem Grobogan

Tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan melakukan pemeriksaan pada pelaku gantung diri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)iri

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Sarip, Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Jumat (28/7/2017). Seorang kakek berusia 72 bernama Ngadimin ditemukan gantung diri di rumah kosong milik anaknya usai Jumatan.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Wagimin (43). Selepas salat Jumat, Wagimin tidak mendapati ayahnya di rumah. Namun, orang yang dicari tidak ditemukan.

Selanjutnya, ia mencoba mencari ke rumah adiknya yang sudah lama kosong. Saat mencari ke dalam salah satu kamar, Wagimin mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah belandar rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Wagimin sontak kaget dan selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, masih terdapat denyut nadi pada tubuh korban. Selanjutnya, warga berupaya melarikan korban menuju puskesmas. Namun, ketika hendak dibawa untuk mendapatkan pertolongan, korban sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Plh Kapolsek Wirosari Iptu Eko Bambang menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Pompa Rusak, Pelanggan PDAM di Penawangan Grobogan Ngangsu Air

Instalasi pengolahan air PDAM unit Penawangan tidak bisa mengalirkan air ke rumah pelanggan karena pompa rusak. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Para pelanggan air PDAM di wilayah Kecamatan Penawangan, Grobogan, dibikin kacau dalam beberapa hari terakhir. Gara-garanya, pasokan air ke rumah pelanggan terhenti total.

Padahal pelanggan di wilayah Penawangan ini jumlahnya mencapai ribuan dan tersebar di beberapa desa. Antara lain Desa Wolo, Penawangan, dan Ngeluk.

Akibat macetnya pasokan air itu, aktivitas para pelanggan sehari-hari jadi terganggu. Terlebih bagi pelanggan yang mengandalkan pasokan air untuk keperluan usaha. Seperti warung makan dan industri rumah tangga.

“Saya minta pihak PDAM segera menangani masalah terhentinya pasokan air ini Sebagai pelanggan, saya protes dengan macetnya air selama berhari-hari ini,” kata Yulianto, salah seorang pelanggan PDAM.

Terhentinya aliran PDAM, membuat Yulianto terpaksa ngangsu (ambil) air ke sumur tetangga. Kebetulan sumber air di sumur milik tetangga dekatnya cukup besar sehingga bisa dipakai oleh beberapa keluarga. Meski demikian, ada juga warga yang terpaksa beli air karena kebutuhannya cukup banyak tiap hari.

Terkait dengan terhentinya pasokan air itu, ia sempat mendatangi kantor pusat PDAM  di Purwodadi untuk melayangkan komplain serta minta penjelasan penyebab macetnya pasokan air tersebut. Dari petugas di situ dijelaskan jika terhentinya pasokan air disebabkan adanya kerusakan pompa di instalasi pengolahan air unit Penawangan.

Sementara itu, Direktur PDAM Grobogan Bambang Pulunggono ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan jika pasokan air ke rumah pelanggan di wilayah Penawangan terhenti sejak beberapa hari lalu. Hal itu disebabkan pompa di instalasi pengolahan air mengalami kerusakan.

“Untuk PDAM unit Penawangan ada kerusakan pompa. Saat ini, proses perbaikan masih kita lakukan dan hari ini kita targetkan sudah bisa selesai,” jelasnya.

Bambang menyatakan, terkait dengan kondisi itu, pihaknya sudah melakukan upaya darurat untuk bisa mengalirkan air ke rumah pelanggan. Yakni, dengan menginjeksi air dari mobil tangki ke saluran distribusi. Namun, mengingat kapasitas terbatas maka tidak semua rumah pelanggan bisa mendapatkan pasokan air yang diinjeksi tersebut. “Mudah-mudahan, sore atau malam ini pasokan air sudah normal,” imbuhnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

Pembangunan Jembatan Penghubung 2 Desa di Kecamatan Kedungjati Bisa Diwujudkan, Begini Caranya

Warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, membutuhkan pembangunan jembatan untuk memudahkan aktivitas. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keinginan warga Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan dibangunkan jembatan gantung masih ada peluang kendati pihak desa belum memiliki anggaran.

Caranya, dengan pihak desa diminta mengajukan permohonan bantuan keuangan khusus ke pemkab atau provinsi untuk pembangunan jembatan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Grobogan Subiyono menanggapi harapan warga dua desa tersebut untuk dibangunkan jembatan di atas sungai Tuntang.

“Beberapa waktu lalu, Desa Karangsari, Kecamatan Brati berhasil mendapat bantuan pembangunan jembatan gantung. Caranya dengan mengajukan bantuan ke provinsi,” katanya.

Menurutnya, dari hasil pemetaan yang dilakukan akses jalan di Desa Ngombak menjadi aset desa. Kondisi ini menyebabkan pihaknya tidak bisa menganggarkan karena jadi kewenangan desa.

Subiyono menyatakan, kebutuhan pembangunan jembatan besar maupun gantung memang cukup tinggi. Sebab, wilayah Grobogan terdapat sekitar 200 aliran sungai. Beberapa di antaranya merupakan aliran sungai besar, seperti Lusi, Serang, dan Tuntang.

Terkait kondisi itu, sudah banyak alokasi dana yang disalurkan untuk pembangunan jembatan. Sebelum dibangun jembatan, terlebih dahulu harus dilakukan kajian teknis. Yakni, untuk melihat lokasi, potensi, jumlah penduduk dan biaya. “Kalau hasil kajian teknis dinyatakan layak maka pembangunan jembatan di lokasi tersebut akan diprioritaskan,” jelasnya.

Ditambahkan, saat ini, pihaknya sedang mengkaji dan mendata jumlah kebutuhan jembatan tersebut untuk dimintakan bantuan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pada tahun ini, pihak kementrian memberikan bantuan jembatan gantung di Kecamatan Pulokulon dan Kradenan.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang. Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung.

Menurut Kartini, pihaknya akan tetap berupaya mencari jalan keluar agar jembatan tersebut bisa terwujud. Sebab, keberadaan jembatan dibutuhkan warga desanya dan desa tetangga. “Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

 

 

Petani Bawang Merah Grobogan Dibikin Melek Metode Soil Block

Petani bawang merah dari Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu mendapat pembelajaran cara membuat persemaian biji menggunakan soil block, Kamis (27/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Inovasi untuk mempermudah pembuatan benih bawang merah melalui sistem true seed shallot (TSS) atau tanam biji dikenalkan pada petani di Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu, Grobogan, Kamis (27/7/2017). Yakni, melalui metode persemaian biji menggunakan soil block.

Pengenalan metode melalui kegiatan temu lapang ini diberikan tim ahli dari Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah yang dipimpin Profesor Agus Hermawan. Hadir pula dalam kesempatan itu, Sekretaris Dinas Pertanian Grobogan Ahmad Zulfa Kamal dan sejumlah pegawai di bidang hortikultura.

TSS merupakan cara penanaman dengan menggunakan biji bawang merah. Selama ini, penanaman yang lazim dilakukan petani adalah menggunakan umbi bawang merah.

Pada penanaman bawang merah sistem TSS, biji disemai di lahan dan butuh areal cukup luas. Dengan metode soil block, biji bawang merah cukup ditempatkan pada media tertentu yang dipadatkan dan membentuk media padat.

Saat proses pembuatan soil block, di tengah media sudah otomatis terdapat lubang untuk menaruh biji bawang merah yang akan disemai. Melalui metode ini, memungkinkan petani untuk menghasilkan bibit bawang merah dengan perakaran yang bagus dan bisa tumbuh dengan baik ketika nantinya dipindah tanam ke lahan.

Dengan metode ini, petani tidak perlu butuh lahan luas untuk membuat bibit lewat TSS. Tetapi, bisa memanfaatkan lahan kosong atau pekarangan rumah dengan diberi peneduh.

Selain dikenalkan, tim ahli juga mengajari langsung para petani cara membuat soil block. Kemudian, pihak BPTP Jateng juga memberikan peralatan untuk membuat soil block bagi petani. Diharapkan, nantinya petani dari Desa Kandangrejo bisa menjadi penangkar benih TSS lewat metode soil block tersebut.

Profesor Agus Hermawan menyatakan, tujuan temu lapang tersebut di antaranya adalah untuk menyebarluaskan inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Yakni, melalui metode tanam benih langsung (tabela) dan pindah tanam dari media soil block pada petani.

“Melalui kegiatan ini juga bertujuan untuk mempercepat alih inovasi pengembangan produksi umbi benih bawang merah asal biji (TSS). Pada tahun 2017 ini, BPTP Jateng bekerjasama dengan Dinas Pertanian Grobogan serta petani kooperatif  membuat demplot percontohan di Kandangrejo,” jelasnya.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menambahkan, sejauh ini, penamanan bawang merah dengan TSS sudah cukup familiar dengan petani. Setidaknya, petani di tiga kecamatan sudah berhasil membudidayakan bawang merah dengan TSS. Yakni, Kecamatan Klambu, Tanggungharjo, dan Penawangan

 

Editor : Akrom Hazami

 

MELAWAN MAUT, Siswa Ngombak dan Kentengsari Kecamatan Kedungjati Grobogan Seberangi Sungai untuk Sekolah

Sejumlah warga menyeberangi Sungai Tuntang yang menghubungkan Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sejumlah warga di Desa Kentengsari dan Desa Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Grobogan mengharapkan adanya bangunan jembatan yang menghubungkan kedua wilayah.

Sebab, tidak adanya jembatan menyebabkan warga setempat harus menempuh bahaya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Yakni, menyeberangi sungai Tuntang yang membelah kedua desa tersebut.

“Akses terdekat memang dengan menyeberangi sungai Tuntang. Kalau mau memutar juga bisa sebenarnya. Tapi jarak tempuhnya bisa sampai lima kilometer,” ujar Sugiyono, warga Dusun Ngawuran, Desa Kentengsari.

Untuk melakukan berbagai aktivitas dengan menyeberangi sungai selebar 50 meter itu bisa lebih mudah ditempuh jika kondisi air dangkal. Seperti saat musim kemarau seperti ini. Saat ini, kedalaman air berkisar 1-2 meter.

Sebagai pengaman, warga memasang tambang berukuran cukup besar yang dikaitkan di kedua sisi sungai. Saat menyeberang, salah satu tangan warga berpegangan pada tambang.

Saat anak sekolah berangkat dan pulang, aktivitas warga di lokasi tersebut terlihat lebih ramai. Para orang tua menggendong anaknya menyeberangi sungai supaya pakaiannya tidak basah.

Jika orang tuanya tidak sempat mengantar, sejumlah bocah bersama menyeberangi sungai. Biasanya, mereka melepas pakaian sekolah dan sepatunya dan mengenakan kaos dan celana biasa.

Ketika sudah sampai seberang sungai, mereka mengenakan lagi seragamnya. Sedangkan, kaos dan celana pendek yang basah dilepas dan dimasukkan tas plastik.

“Melakukan aktivitas dengan menyeberangi sungai sudah jadi rutinitas sehari-hari kalau debit sungai turun. Kalau sungai penuh air, terpaksa kita lewat jalur memutar,” imbuh Hartejo, warga lainnya.

Kepala Desa Ngombak Kartini mengatakan, setiap hari terdapat ratusan orang yang memanfaatkan jalur sungai untuk beraktivitas. Baik anak sekolah, petani dan pedagang.

Terkait dengan kondisi itu, memang sempat muncul usulan untuk membangun sebuah jembatan gantung.

“Untuk saat ini pihak desa belum memungkinkan untuk membuat jembatan. Kami butuh dukungan dari Pemkab, provinsi atau pusat untuk merealisasikan usulan warga,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

 

6 Kalinya Pemkab Grobogan Raih Penghargaan KLA Kategori Pratama

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yambise menyerahkan penghargaan KLA kategori pratama kepada Bupati Grobogan Sri Sumarni di Pekanbaru. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pemkab Grobogan kembali menorehkan prestasi pada bidang BP3AKB. Yakni, berhasil lagi meraih penghargaan kabupaten / kota layak anak (KLA) untuk kategori pratama.

Penghargaan KLA itu diserahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yambise kepada Bupati Grobogan Sri Sumarni di Pekanbaru, Sabtu (23/7/2017).

“Prestasi yang kita capai di bidang KLA ini boleh dibilang membanggakan. Sebab, pengharaan KLA ini sudah enam kali berhasil kita dapat,” ungkap Kepala BP3AKB Grobogan Adi Djatmiko.

Dijelaskan, empat penghargaan KLA sebelumnya didapat tahun 2009, 2011, 2012, 2013 dan 2015. Penghargaan itu diberikan karena pemkab dinilai telah melakukan upaya konkret terhadap pemenuhan hak sipil anak dan adanya forum anak dari tingkat desa sampai kabupaten.

Menurut Adi, ada beberapa kebijakan lain yang mendukung diraihnya penghargaan KLA itu. Yakni, pembangunan taman cerdas dan pembentukan peraturan Bupati Grobogan Nomor 7 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, juga telah dibentuk lembaga perlindungan anak berbasis masyarakat desa (LPAD) dan adanya peran karang taruna dalam perlindungan anak.

“Program yang sudah ada ini akan segera kita evaluasi untuk mencapai hasil yang lebih baik lagi. Dan, kami juga berharap peran serta dari semua pihak untuk mendukung program terhadap anak-anak ini,” imbuhnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Ditinggal ke Sawah, Rumah Warga Tanjungrejo Grobogan Terbakar

Petugas pemadam kebakaran bersama warga berupaya memadamkan kobaran api di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan. (MuriaNewsCom /Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa kebakaran terjadi lagi di Grobogan, Minggu (23/7/2017). Sebuah rumah di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan ludes terbakar, sekitar pukul 12.30 WIB. Rumah yang terbakar diketahui milik Kardi (42), warga yang tinggal di Dusun Sawit.

Informasi yang didapat menyebutkan, saat kejadian rumah tersebut dalam kondisi kosong. Beberapa jam sebelum kejadian, pemilik rumah sudah berangkat ke sawah  bersama para petani lainnya.

Peristiwa kebakaran diketahui ketika nyala api sudah membesar dan memunculkan asap yang cukup tebal. Melihat kepulan asap tebal, para petani yang ada disawah segera berlarian menuju perkampungan.

Untuk mencegah mengganasnya api, puluhan warga selanjutnya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya ini tidak membawa hasil lantaran banyak barang mudah terbakar di dalam rumah serta adanya hembusan angin cukup kencang saat kejadian.

Tidak lama kemudian, dua armada  pemadam kebakaran Grobogan tiba dilokasi kejadian. Meski demikian, petugas pemadam dibantu warga masih butuh waktu lebih dari satu jam untuk melakukan upaya pemadaman sekaligus mencegah menjalarnya api ke rumah lain yang berdekatan.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini. Namun, rumah dan seluruh isinya habis terbakar. Untuk tafsir kerugian material sekitar Rp 100 juta,” kata Kaur Pembangunan Desa Tenjungrejo Supriyanto.

Menurutnya, diduga kebakaran disebabkan konsleting listrik. Hal itu dimungkinkan lantaran saat kejadian rumah dalam kondisi kosong.

Editor : Akrom Hazami 

Setelah Diperlebar, Ditemukan Lagi Fosil Hewan Purba di Banjarejo Grobogan

Fosil hewan purbakala baru ditemukan di lokasi penemuan stegodon di Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)obog

MuriaNewsCom, Grobogan – Pelebaran lokasi penemuan fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, membawa hasil yang mengejutkan. Hal ini menyusul ditemukannya beberapa fosil hewan purbakala baru di lokasi pelebaran.

Fosil yang ditemukan ini boleh dibilang juga cukup mengejutkan. Sebab, bukan merupakan fosil dari potongan tubuh stegodon. Tetapi, berasal dari spesies hewan purbakala jenis lainnya.

Kades Banjarejo Ahmad Taufik menyatakan, sedikitnya ada beberapa potongan fosil yang sudah terlihat.  Antara lain, satu potongan fosil berbentuk seperti tanduk. Kemudian, ada beberapa potongan fosil gigi buaya. Benda purbakala baru ini ditemukan pada areal pelebaran di sebelah utara lokasi ditemukannya fosil stegodon.

“Fosil berbentuk tanduk diperkirakan dari spesies banteng purba. Untuk kepastiannya, masih akan diteliti oleh tim ahli purbakala yang masih melangsungkan penelitian lapangan di lokasi,” jelasnya.

Dijelaskan, dalam upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon memang dilakukan pelebaran areal penemuan, sejak beberapa hari lalu. Semula luas areal penemuan fosil stegodon berukuran 4 x 5 meter saja. Kemudian, lokasinya akan dilebarkan hingga ukuran sekitar 10 x 10 meter.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut. Prediksi ini ternyata akurat dengan munculnya fosil baru,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi dan fosil yang sudah terlihat.

Editor : Akrom Hazami

 

6 Keluarga di Grobogan Ikut Program Transmigrasi

Calon Transmigran Grobogan saat diberi serangkaian pelatihan sebelum diberangkatkan menuju lokasi tujuan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sebanyak 6 keluarga yang berasal dari beberapa desa akan diberangkatkan menuju daerah tujuan transmigrasi. Hal itu disampaikan Kabid Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Grobogan Hadi Purmiyanto saat ditemui di kantornya, Rabu (19/7/2017).

Menurut Hadi, dari 6 keluarga tersebut, sebanyak 4 keluarga nantinya akan ditempatkan di daerah Sepunggur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Sedangkan 2 keluarga lagi ditempatkan di kawasan Kalibera, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

“Peminat program transmigrasi di Grobogan masih cukup tinggi. Namun, kuota yang ditetapkan pemerintah terbatas. Tahun ini, hanya 6 keluarga saja yang dapat. Tahun lalu ada 10 keluarga yang berangkat transmigrasi dengan tujuan Bulungan,” katanya.

Sebelum diberangkatkan, ada beragam materi yang disampaikan pada calon transmigran. Antara lain, bidang pertanian, peternakan, pertukangan, kesehatan, aturan serta kebijakan transmigrasi dan bimbingan mental keagamaan. Selain itu, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai kondisi tempat tujuan berikut budaya dan tradisi masyarakat setempat.

Mengenai rencana keberangkatan ke daerah tujuan transmigran, Hadi menyatakan belum berani memastikan. Sebab, pihaknya masih menunggu surat perintah pemberangkatan (SPP) terlebih dahulu dari pusat.

“Kepastian pemberangkatan belum ada kabar. Biasanya, pelaksanaannya pada bulan Oktober atau November,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Areal Penemuan Fosil Stegodon di Banjarejo Grobogan Diperlebar, Ini Tujuannya

Sejumlah pekerja sedang melakukan penggalian untuk memperlebar lokasi fosil gajah purba jenis stegodon di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (MuriaNewsCom/Dani Agus)bnaj

MuriaNewsCom, Grobogan – Upaya penyelamatan temuan fosil gajah purba jenis stegodon di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus dilanjutkan dengan memperlebar areal penemuan, Jumat (14/7/2017). Semula luas areal penemuan yang digali berukuran 4 meter x 5 meter saja. Rencananya, akan dilebarkan hingga ukuran 10 x 10 meter.

“Hari ini, kita kerahkan beberapa orang untuk memperlebar areal penemuan fosil stegodon. Dalam kegiatan ini, kita juga didampingi tim ahli purbakala yang sudah berada di Banjarejo sejak dua hari lalu,” jelas Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Menurut Taufik, pelebaran areal itu dilakukan untuk memudahkan dalam upaya penyelematan temuan fosil. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan masih adanya potongan fosil disekitarnya.

“Dari perkiraan tim ahli, sekitar lokasi itu masih ada fosil yang terpendam. Makanya, areal perlu dilebarkan untuk memastikan prediksi tersebut,” katanya.

Selain melebarkan lokasi penemuan, tim ahli sebelumnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan. Yakni, mengumpulkan berbagai data lapangan dan mendokumentasikan lokasi serta fosil yang sudah terlihat. “Tim ahli juga menggunakan drone keperluan dokumentasinya,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Koperasi di Grobogan Diharapkan Permudah Modal UMKM

Bupati Grobogan Sri Sumarni memberangkatkan peserta jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski keberadaan koperasi sudah berumur cukup lama namun sejauh ini berbagai permasalahan masih membelit lembaga tersebut. Kondisi itu menyebabkan koperasi kurang bisa bersaing dengan lembaga lainnya, padahal kesempatan untuk maju sangat terbuka. 

Hal itu disampaikan Bupati Grobogan Sri Sumarni saat menghadiri acara jalan sehat dalam rangka Hari Koperasi, Jumat (14/7/2017).

Menurut Sri, permasalahan yang sering dihadapi koperasi adalah masih kurangnya sumber daya manusia yang dimiliki. Kondisi ini bisa berakibat pada kurangnya kemampuan mengakses pasar, modal dan menjalin kerja sama kemitraan dengan badan usaha lainnya.

”Keterbatasan mengakses potensi-potensi itulah yang menyebabkan koperasi kurang mampu bersaing. Oleh sebab itu, koperasi harus berbenah diri untuk lebih meningkatkan kemampuan SDM yang dimiliki supaya bisa eksis,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, bupati berharap kepada para pengelola koperasi agar memberikan perhatian yang lebih pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dalam hal ini, koperasi diharapkan mau memberikan suntikan modal yang lebih besar pada sektor UMKM ini, melalui koperasi simpan pinjam. Sebab, selama ini para pengusaha UMKM sering terhambat untuk mengembangkan usahanya akibat minimnya modal yang dimiliki.

Di sisi lain, para pengusaha UMKM cukup kesulitan untuk mendapatkan kucuran kredit dari lembaga perbankan. Hal ini disebabkan tidak memadainya agunan yang dimiliki para pengusaha UMKM dibandingkan dengan dana yang diminta.

Ia mengatakan, pada dasarnya, kelompok UMKM itu sebenarnya merupakan kelompok usaha yang tangguh. Terbukti, saat krisis ekonomi menghantam Indonesia, beberapa waktu lalu, tidak membuat pelaku UMKM ini gulung tikar. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa UMKM memiliki sisi positif lain, yakni punya daya tahan dan daya lentur yang baik dalam menjalankan usahanya.

”Dengan kenyataan ini saya berharap agar koperasi-koperasi yang ada mau memberikan kucuran modal yang lebih banyak pada pengusaha UMKM ini,” katanya.

Editor : Akrom Hazami

BPBD Grobogan Siapkan Dana Rp 135 Juta Tangani Kekeringan

Meski sudah masuk musim kemarau namun warga di desa langganan bencana kekeringan masih belum mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (MuriaNewsCom/Dani Agus)ben

MuriaNewsCom, Grobogan – Memasuki awal musim kemarau, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mulai mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan. Terutama, persiapan untuk melaksanakan drop air bersih ke desa langganan bencana kekeringan.

Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono menyatakan, untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 135 juta. Dana ini disiapkan untuk melakukan drop air bersih pada masyarakat.

“Saat ini sudah masuk kemarau tetapi belum ada laporan desa yang terkena bencana kekeringan. Meski demikian, upaya penanganan sudah kita siapkan. Kita juga sudah koordinasi dengan PDAM Grobogan untuk persiapan menyalurkan droping air jika sewaktu-waktu dibutuhkan,” jelasnya.

Menurut Agus, dana untuk penanganan kekeringan tiap tahun selalu disiapkan. Namun, khusus tahun 2016 lalu, dana yang disiapkan praktis tidak terpakai.

Soalnya, tahun lalu curah hujan masih sering turun ketika musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak kesulitan air.

Dijelaskan, dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan. Sementara dari 19 kecamatan, hanya ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan. Yakni Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu.

Agus menambahkan, pada tahun 2015 jumlah desa yang terkena bencana kekeringan cukup banyak. Jumlahnya mencapai 100 desa yang tersebar di 14 kecamatan.

Editor : Akrom Hazami

 

Ancam Pengguna Jalan, Pohon Peneduh di Grobogan Butuh Perhatian

Salah satu pohon peneduh yang mati di pinggir jalan Gajah Mada di depan kantor PDAM Grobogan perlu ditangani biar tidak membahayakan pengguna jalan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Keberadaan pohon penduh pinggir jalan raya memang sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Namun, jika pohon yang ada tidak dirawat secara rutin maka tidak menutup kemungkinan bakal berpotensi menyebabkan malapetaka di kemudian hari.

Terkait dengan kondisi itu, sejumlah pihak meminta agar dinas terkait mengontrol ulang kondisi pohon penghijauan di pinggiran jalan protokol kota Purwodadi. Hal itu perlu dilakukan mengingat ada beberapa pohon yang kondisinya sangat membahayakan pengguna jalan.

“Saya sempat melihat ada beberapa pohon yang kondisinya sudah mati. Salah satunya di depan kantor PDAM Purwodadi. Pohon-pohon yang kondisinya sudah kurang sehat sangat rentan roboh tertiup angin dan membahayakan pengguna jalan atau pejalan kaki,” kata Winarno, warga Simpanglima Purwodadi.

Dia menyatakan, beberapa waktu lalu ada peristiwa pohon tumbang yang menimpa pengendara motor. Yakni, di jalan A Yani Purwodadi dan jalan raya Purwodadi-Semarang.

“Kejadian ini hendaknya bisa dijadikan pelajaran berharga. Saya berharap agar peristiwa ini tidak terulang lagi,” jelasnya.

Bencana alam seperti pohon tumbang itu memang tidak bisa diduga datangnya. Tapi tindakan untuk mencegah pohon itu tumbang masih mungkin dilakukan. Caranya, dengan menebang pohon yang usianya kondisinya rusak akibat ulah manusia maupun akibat serangan penyakit.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Grobogan Subiyono saat dimintai komentarnya menyatakan, pihaknya sudah melakukan pengecekan terhadap kondisi pohon peneduh di kawasan kota. Dari hasil pengecekan memang didapati banyak pohon mati. Seperti di jalan Gajah Mada dan jalan A Yani.

“Pohon peneduh yang kondisinya membahayakan sudah kita data. Sebentar lagi akan kita tangani biar tidak membahayakan pengguna jalan,” jelasnya. 

 

Editor : Akrom Hazami

 

Titik Rawan Longsor di Jalan Purwodadi-Semarang Dipasang Tiang Pancang

Sebuah craine dikerahkan untuk pemasangan tiang pancang di Jalan Purwodadi-Semarang, Desa Jatilor, Kecamatan Godong. (MuriaNewsCom/Dani Agus)rawa

MuriaNewsCom, Grobogan – Aktivitas pemasangan tiang pancang dilakukan di beberapa titik di jalan Purwodadi Semarang. Terutama di ruas jalan antara wilayah Kecamatan Penawangan hingga masuk Kecamatan Godong.

Pemasangan tiang pancang menggunakan alat berat ditempatkan di titik rawan longsor. Titik jalan yang rawan longsor ini berada di pinggir sungai. Pemasangan tiang pancang sudah dilakukan sejak beberapa hari lalu. Ada puluhan tiang pancang dari beton yang sudah ditempatkan di bahu jalan.

Adanya aktivitas pemasangan tiang pancang itu sempat menjadikan arus lalu lintas sedikit tersendat. Sebab, posisi alat berat memakan hampir separuh ruas jalan.

Kondisi ini menyebabkan kendaraan harus berjalan bergantian. Untuk menghindari kemacetan panjang, ada beberapa warga yang membantu pengaturan arus lalu lintas.

Kepala BPT Jalan Wilayah Purwodadi Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya Pemprov Jateng Barkah Widiharsono mengatakan, pemasangan tiang pancang dilakukan untuk mencegah jalan longsor. Hal itu dilakukan karena posisi jalan letaknya berada di dekat sungai. 

“Kondisi sungai di selatan jalan cukup dalam. Jadi, untuk memperkuat fondasi jalan tidak cukup di talud. Tetapi harus pakai tiang pancang biar kuat,” jelasnya.

Selain pemasangan tiang pancang ada juga ruas jalan yang diperkuat dengan dibuatkan talud. Seperti di ruas jalan yang ada wilayah Kecamatan Purwodadi. Ruas jalan yang cukup ditalud berada di pinggir areal persawahan.

 

Editor : Akrom Hazami

2 Kendaraan Terperosok Sawah di Jalan Purwodadi-Semarang Grobogan

Truk mengalami kecelakaan terperosok di salah satu sawah di Kabupaten Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Dua peristiwa kecelakaan terjadi di jalur Purwodadi-Semarang dalam waktu berlainan. Dalam kecelakaan ini, tidak terdapat korban jiwa namun kendaraan mengalami kerusakan cukup parah.

Kecelakaan pertama menimpa mobil Suzuki Splas BE-2806-CQ, Selasa (11/7/2017) sekitar pukul 23.00 WIB. Lokasi kecelakaan berada pertigaan jalan masuk menuju Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi. Tidak lama setelah kejadian, kendaraan yang terperosok langsung dievakuasi malam itu juga.

Kecelakaan kedua terjadi pada Rabu (12/7/2017) pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Sebuah truk fuso warna hijau tanpa muatan keluar dari bahu jalan dan terperosok di sawah. Lokasi kecelakaan tidak jauh dari kecelakaan sebelumnya namun masuk wilayah Desa Pulorejo, Kecamatan Purwodadi.

Truk dengan nopol H 1625 CS tersebut berjalan dari Semarang menuju Purwodadi. Truk terperosok sawah yang jadi tontonan warga berhasil dievakuasi siang harinya.

Kasatlantas Polres Grobogan AKP Panji Gede Prabawa mengatakan, kecelakaan pertama disebabkan pengemudi menghindari orang yang berjalan di badan jalan. Diduga pejalan yang sempat bikin kaget itu adalah orang gila.

“Pengemudi yang bermaksud menghindari orang gila tersebut banting setir ke kiri, sehingga terperosok ke sawah. Sedangkan kejadian kedua diduga sopirnya ngantuk. Tidak ada kerugian korban jiwa,” jelasnya.

Editor : Akrom Hazami

Begini Cara Bertahan Hidup Keturunan Empu Supa, Si Ahli Keris Zaman Kerajaan, di Grobogan

Wargono, sedang menyelesaikan pekerjaannya sebagai pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Pekerjaan sebagai seorang pande besi sudah dijalani Wargono selama puluhan tahun. Pilihan dengan pekerjaan itu dilakukan pria berusia 66 tahun tersebut bukan semata-mata sebagai mata pencaharian saja. Tetapi lebih dari itu, dengan menekuni pande besi, Wargono secara tidak langsung ikut melestarikan keahlian luluhurnya.

Wargono tinggal di sentra pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. Di dusun tersebut ada ratusan pande besi. Sehari-hari, para pande besi tersebut kebanyakan membuat alat pertanian dan rumah tangga. Seperti cangkul, sabit, bendo dan pisau.

Di antara pande besi, Wargono termasuk paling senior. Tidak hanya itu saja, menurut cerita orang tuanya, leluhur Wargono dulunya masih merupakan garis keturunan Empu Supa. Seorang ahli pembuat keris pusaka pada era Mataram kuno dan juga salah satu murid dari Sunan Kalijaga.

“Saya ini termasuk generasi keenam dari leluhur yang jadi pande besi di sini. Saya sudah sejak anak-anak sudah membantu orang tua yang juga jadi pande besi. Keahlian pande besi ini didapat secara turun temurun,” terangnya.

Wargono, memperlihatkan hasil pekerjaannya sebagai pande besi di Dusun Tahunan, Desa Putatsari, Kecamatan/Kabupaten Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

 

Pada awalnya, barang yang dibuat leluhur pande besi di Dusun Tahunan tidak berupa alat pertanian atau peralatan rumah tangga. Tetapi, berwujud pusaka, seperti keris dan mata tombak. Pada ratusan tahun lalu, leluhur pande besi di Tahunan merupakan orang kepercayaan untuk membuatkan pusaka Kadipaten Grobogan. Tepatnya, ketika Kadipaten Grobogan masih berpusat di Kecamatan Grobogan dan belum pindah ke Purwodadi.

Seiring perjalanan waktu, sudah tidak ada lagi orang yang bikin pusaka. Sekarang. “Kalau simbah saya masih bikin keris. Tetapi, oleh bapak, saya boleh jadi pande besi tetapi dilarang bikin keris. Makanya, saya tidak berani melanggar pesan ini sampai sekarang,” katanya.

Keahlian pande besi ternyata juga menurun pada putranya Miftakhul Huda (32). Sejak kecil, putranya sudah mulai dilatih menjadi seorang pande besi andal. Bahkan, produk Huda saat ini sudah dikenal banyak orang karena barang yang dibikin beda dengan lainnya. Yakni, pisau berpamor atau memiliki motif seperti sebuah ukiran. Seperti yang biasa terdapat pada sebilah keris pusaka. “Kalau bikin pacul atau sabit juga bisa. Tetapi, lebih banyak bikin pisau pamor,” imbuh pria berkaca mata tebal itu. 

Editor : Akrom Hazami

 

Belum Sempat Nikmati Hasil Kejahatan, Pencuri di Ketro Grobogan ini Berhasil Ditangkap

Sejumlah barang bukti hasil curian disita polisi di Grobogan, Minggu malam. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Meski berhasil menggasak sejumlah uang, namun pelaku pencurian, Lukman, warga Desa Ketro, Kecamatan Karangrayung, Grobogan, terpaksa harus gigit jari. Sebab, sebelum bisa menikmati hasil kejahatannya, pemuda 19 tahun itu sudah keburu diringkus polisi.

Informasi yang didapat menyebutkan, aksi pencurian itu dilakukan pada Minggu (9/7/2017) malam. Adapun yang disasar adalah rumah tetangganya, Sri Yuatun.

Saat menjalankan aksinya, Lukman masuk dalam rumah lewat jendela kamar bagian depan. Saat masuk kamar, ia mendapati ada sebuah tas yang tergantung di balik pintu. Kemudian, tas yang di dalamnya ternyata berisi uang Rp 789.000 langsung diambil.

Setelah itu, Lukman kemudian menyisir rumah bagian belakang dan mendapatkan sebuah dompet yang tergeletak di meja makan. Nahas, saat hendak menggasak dompet inilah, pemilik rumah terbangun dan memergoki aksinya sambil berteriak minta tolong.

Melihat penghuni rumah terjaga, pelaku kemudian mencoba lari lewat pintu dapur. Namun, selepas pintu dapur ternyata jalan buntu. Pelaku kemudian balik lagi untuk kabur lewat jalan lain.

Saat balik dari pintu dapur ini, pelaku sempat bertabrakan dengan penghuni rumah yang mencoba mengejar. Setelah pelaku kabur lewat jendela, pemilik rumah akhirnya melaporkan kejadian itu pada pihak kepolisian.

Kapolsek Karangrayung AKP Sukardi saat diminta konfirmasinya membenarkan adanya kasus pencurian tersebut. Tidak lama setelah menerima laporan, pihaknya berhasil meringkus pelaku. Pelaku bisa dikenali karena masih bertetangga dengan korban.

“Pelaku sudah kita amankan. Barang bukti hasil kejahatan berupa uang tunai dan dompet juga ikut kita amankan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

12 Warga Grobogan Idap Penyakit Kaki Gajah Kronis

Bupati Grobogan Sri Sumarni melakukan pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) di kantor Dinas Kesehatan Grobogan, Jumat (7/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Sejauh ini sudah cukup banyak warga Grobogan yang menderita penyakit kaki gajah atau filariasis. Data dari Dinas Kesehatan Grobogan menyebutkan, saat ini  jumlah penderita kronis kaki gajah sebanyak 12 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan Lely Atasti menyatakan, situasi penyakit filariasis di sampai dengan tahun 2017 menyebar pada delapan kecamatan. Yakni, Kecamatan Tegowanu, Gubug, Pulokulon, Ngaringan, Tawangharjo, Geyer, Godong dan Gubug.

Ditetapkannya Kabupaten Grobogan sebagai daerah endemis filariasis berdasarkan hasil survei darah jari di Kecamatan Tawangharjo, Geyer, dan Pulokulon. Dalam survei itu ditemukan angka mikrofilaria rate (mf rate) lebih dari 1 persen.

Sementara batas angka mf rate harusnya kurang dari 1 persen. Artinya dari 100 orang yang diambil sampel, ditemukan 1 orang positif darahnya mengandung mikrofilaria.

“Terkait kondisi ini, saya mengajak semua kalangan berkomitmen dan meningkatkan kepedulian kita terhadap pemberantasan penyakit kaki gajah,” katanya saat pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) di kantor Dinas Kesehatan Grobogan, Jumat (7/7/2017).

Lely menyatakan, kesehatan merupakan hak azasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia yang memiliki kontribusi positif untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi semua pihak untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi kesejahteraan seluruh masyarakat.

Dewasa ini, Indonesia menghadapi beban ganda (double burden) dalam pelayanan kesehatan. Yaitu, keadaan di mana penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan yang penting dan secara bersamaan angka morbiditas dan mortalitas penyakit tidak menular juga makin meningkat.

Ancaman penyakit menular bersumber binatang berkembang pesat beberapa tahun terakhir. Penyakit menular tropik terabaikan menjadi prioritas untuk dituntaskan pada tahun 2020 antara lain, penyakit kaki gajah, kecacingan, demam keong, kusta dan patek.

Editor : Akrom Hazami

Bikin Polusi, Warga Curug Grobogan Tuntut Penutupan Penggilingan Padi

Warga Desa Curug mendatangi kantor Kecamatan Tegowanu untuk menuntut penutupan tempat penggilingan padi yang menyebabkan polusi, Jumat (7/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Warga Desa Curug, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, menggelar aksi damai, Jumat (7/7/2017). Dengan berkonvoi menggunakan motor, sekitar 100 warga bergerak menuju kantor Kecamatan Tegowanu.

Dalam aksinya, warga menuntut penutupan sebuah tempat penggilingan padi di Desa Pepe, Kecamatan Tegowanu. Sebab, lokasi usaha milik Rusdi yang berdekatan dengan perkampungan warga Curug itu sudah menyebabkan polusi udara. Selain menimbulkan polusi, penutupan tempat usaha tersebut perlu dilakukan lantaran belum mengantongi izin dari dinas terkait.

“Kami minta aktivitas penggilingan padi dihentikan. Soalnya tidak punya izin dan menyebabkan polusi,” kata sejumlah warga.

Camat Tegowanu Kasan Anwar menyatakan, tempat penggilingan padi tersebut memang belum memiliki izin usaha. Saat ini, pemiliknya masih mengurus tahapan perizinan.

“Izinnya memang belum ada tetapi sudah diurus. Karena ada keberatan warga maka untuk sementara tempat penggilingan padi itu kita minta tidak beroperasi dulu. Persoalan ini sudah bisa kita selesaikan,” jelasnya. 

Editor : Akrom Hazami

 

DPRD Bojonegoro Belajar Penyaluran Kartu Tani ke Grobogan

Anggota DPRD Bojonegoro, Jawa Timur melangsungkan kunjungan kerja ke Grobogan untuk studi banding masalah penyaluran kartu tani, Jumat (7/7/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Anggota DPRD Bojonegoro, Jawa Timur melangsungkan kunjungan kerja ke DPRD Grobogan, Jumat (7/7/2017). Kedatangan rombongan sebanyak 10 orang itu dipimpin Ketua Komisi B Sigit Kushariyanto

Rombongan diterima Ketua Komisi B DPRD Grobogan Budi Susilo di ruang rapat paripurna II.  Ikut hadir pula, Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto dan Kabid Penyuluhan dan Sarana Prasarana Latifawati.

Tujuan wakil rakyat dari Bojonegoro ke Grobogan adalah untuk studi banding masalah penyaluran kartu tani. Mulai dari proses pendataan, pembuatan, distribusi hingga penggunaan kartu.

“Di Bojonegoro, saat ini baru akan mulai membuat kartu tani. Mereka merasa perlu mencari informasi kesini karena di Grobogan sudah mulai menyalurkan kartu tani sejak beberapa bulan lalu. Bahkan, sebagian kartu tani sudah dipakai transaksi petani,” jelas Budi Susilo.

Kepala Dinas Pertanian Grobogan Edhie Sudaryanto menyatakan, jumlah petani yang terdata sebanyak 199.577 orang. Dari jumlah ini, sebanyak 168.000 petani sudah dapat kartu tani.

Meski belum maksimal namun penggunaan kartu tani untuk penebusan pupuk sudah mulai dilakukan petani. Dari 19 kecamatan, sudah 17 kecamatan yang sudah mulai mengaplikasikan kartu tani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

Dijelaskan, penggunaan kartu yang diterbitkan BRI tersebut memang masih memerlukan penyesuaian bagi para petani. Sebab, masih ada beberapa kendala teknis yang ditemui dilapangan. Misalnya, kesulitan masalah sinyal internet, dan banyaknya petani yang belum paham teknologi.

Untuk mempercepat penggunaan, dibuat percontohan di setiap desa dari masing-masing kecamatan.

“Kepada petani yang telah memegang kartu untuk melakukan uji coba sesegera mungkin. Dengan demikian, jika ada kesulitan dalam penggunaan bisa segera dicarikan solusi,” jelasnya.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Baru Dibangun, Rumah Guru SMP di Cingkrong Grobogan Ludes Terbakar

Warga tampak berada di antara puing rumah yang kebakaran di Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus0

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk kesekian kalinya, musibah kebakaran kembali terjadi di Grobogan. Peristiwa kebakaran terbaru terjadi di Desa Cingkrong, Kecamatan Purwodadi, Jumat (7/7/2017) dini hari.

Kebakaran yang berlangsung sekitar pukul 02.30 WIB itu menimpa sebuah rumah milik Slamet Riyanto yang berada di wilayah RT 08, RW 01. Akibat kebakaran ini, rumah seorang guru SMP itu ludes terbakar. Selain itu, api sempat menjalar dan menghanguskan sebagian rumah milik Suwarti yang ada di samping kirinya.

Informasi yang didapat menyebutkan, rumah guru yang terbakar itu baru selesai dibangun dan belum sempat ditempati secara permanen. Sebab, Slamet Riyanto masih punya tempat tinggal lagi yang lokasinya tidak jauh dari rumah baru tersebut.

Kebakaran tersebut baru diketahui ketika kobaran api sudah membesar. Untuk mencegah mengganasnya api, puluhan warga selanjutnya berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya. Namun, upaya ini tidak membawa hasil.

Tidak lama kemudian, dua armada  pemadam kebakaran Grobogan tiba di lokasi kejadian. Meski demikian, petugas pemadam dibantu warga masih butuh waktu lebih dari satu jam untuk melakukan upaya pemadaman.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini. Untuk tafsir kerugian material diperkirakan sekitar Rp 150 juta. Penyebab kebakaran diduga dari korsleting listrik karena saat kejadian rumah dalam keadaan kosong,” kata Kasi Damkar Sutrisno.

Editor : Akrom Hazami

 

Pemancing Ikan di Getasrejo Grobogan Temukan Mayat di Pinggir Sungai Lusi

Petugas melihat mayat di pinggiran Sungai Lusi Grobogan, Rabu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa penemuan mayat terjadi di Dusun Pancan, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan, Rabu (5/7/2017). Mayat berjenis kelamin pria itu ditemukan di pinggir sungai Lusi sekitar pukul 06.00 WIB.

Mayat  itu kali pertama ditemukan oleh Jamroni, warga setempat. Ceritanya, pria 29 tahun tersebut, pagi itu itu hendak mancing ikan di pinggiran sungai Lusi. Saat mencari tempat untuk mancing, dia melihat seperti ada sosok orang tertidur di atas batu besar yang ada di pinggir sungai. Setelah didekati, orang yang hanya mengenakan celana dalam tersebut tidak bergerak sama sekali. Selanjutnya, peristiwa itu dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Dari hasil penyelidikan polisi, orang yang tegeletak dipinggir sungai itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Dari pemeriksaan juga diketahui jika tidak ditemukan tanda kekerasan pada mayat tersebut.

Saat ditemukan, tidak ada identitas yang melekat atau tertinggal di sekitar lokasi kejadian. Setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut, identitas mayat itu akhirnya terungkap. 

Mayat itu diketahui bernama Endi Sulistyo (31), warga yang tinggal di jalan Trikora Purwodadi. Tempat tinggal korban, hanya berjarak sekitar lima rumah dari kamar jenazah RSUD Purwodadi.

“Identitas korban ini sudah kita ketahui dan pihak keluarga sudah memastikan kalau jenazah itu adalah Endi Sulistiyo,” kata Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Suwasana.

Dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda kekerasan. Diperkirakan korban terpeleset ke sungai.

“Kita tidak lakukan otopsi karena ada keberatan dari pihak keluarga. Pihak keluarga sudah bisa menerima dan jenazah saat ini sudah kita serahkan pada pihak keluarga untuk dimakamkan,” jelasnya.

Dari keterangan pihak keluarga, korban sudah meninggalkan rumah sehari sebelumnya. Informasinya, korban sebelumnya sempat pamit mau mancing ikan di sungai Lusi. Pihak keluarga sudah berupaya mencari keberadaan korban dibeberapa tempat namun belum berhasil.

Editor : Akrom Hazami

 

Warga Katong Grobogan Demo Tolak Penutupan Perlintasan KA

Puluhan warga Desa Katong, Kecamatan Toroh membentangkan spanduk berisi penolakan penutupan perlitasan sebidang kereta api. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aksi demo mewarnai sosialisasi rencana penutupan perlintasan sebidang kereta api di Dusun Jetis, Desa Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan. Puluhan warga menggelar aksi penolakan saat acara sosialisasi bersama tim dari Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementerian Perhubungan yang dilangsungkan di Balai Desa Katong, Rabu (5/7/2017).

Sejumlah warga terlihat ada yang membawa spanduk berisi alasan-alasan penolakan tersebut. Selama sosialisasi di balai desa, terdengar suara penolakan yang dilontarkan warga.

Hadir dalam sosialisasi tersebut, Direktur Keselamatan Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA) Kementrian Perhubungan Edi Nursalam dan Asisten II Pemkab Grobogan Ahmadi Widodo. Hadir pula sejumlah pihak terkait seperti Kepala Dishub Grobogan Agung Sutanto, anggota Komisi C DPRD Grobogan Agus Dwi Priyanto, Kasatlantas Polres Grobogan AKP Panji Gedhe Prabawa dan Muspika Toroh.

Rencana penutupan perlintasan tanpa palang itu seiring terjadinya kecelakaan maut di lokasi tersebut beberapa waktu lalu. Dalam peristiwa itu, sebuah mobil Avanza tersambar kereta api saat akan menyeberangi lintasan. Empat penumpang mobil tewas dalam kejadian itu.

Penutupan dijadwalkan usai Lebaran tepatnya tanggal 19 Juli 2017. Hal itu sesuai dengan pengumuman berbentuk spanduk yang dipasang di perlintasan sebidang tersebut, beberapa waktu lalu.

“Terus terang bakal ditutupnya perlintasan ini bikin resah. Soalnya, ini menjadi akses transportasi vital bagi warga sini. Khususnya, warga di Dusun Ketanggan yang ada di selatan rel,” kata Suharto, warga setempat.

Penutupan perlintasan bukan jadi solusi terbaik untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Menurut warga, solusi paling pas adalah membangun palang pintu di perlintasan tersebut.

“Sejak dulu, warga sudah mengusulkan agar dibuatkan palang pintu. Tetapi sampai sekarang belum terealisasi. Pembuatan palang saya kira jadi solusi paling bagus,” imbuh Hartono, warga lainnya.

Pejabat Kepala Desa Katong Sugiyono mengatakan, banyak warga merasa keberatan dengan penutupan perlintasan. Bahkan, pihaknya telah mengirimkan keberatan melalui surat kepada Direktur Keselamatan DJKA Kemenhub.

“Perlintasan itu punya banyak manfaat bagi warga. Baik, dari sisi ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Jadi, tidak bisa serta merta ditutup tetapi harus dicarikan solusi,” ungkapnya.

Editor : Akrom Hazami