Puluhan Pengusaha Garmen Pati ‘Menangis’ Lihat Dolar

 

sejumlah pekerja industri rumahan garmen di Desa Kuryokalangan tengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

sejumlah pekerja industri rumahan garmen di Desa Kuryokalangan tengah menjahit bahan kain untuk membuat celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Sebagai salah satu sentra produk garmen di Kabupaten Pati, Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus sempat mengalami puncak kejayaan bisnis di Indonesia. Sebagian besar pasar mereka di Luar Jawa.

Dalam satu desa saja, sedikitnya lebih dari 20 pengusaha berhasil membuat desa tersebut menjadi sentra garmen. Namun, nasib tidak berpihak kepada mereka setelah dolar Amerika menguat tajam terhadap rupiah hingga Rp 14.400.

Safuan, salah satu pengusaha garmen mengklaim, penurunan penjualan produk garmen mereka terjun bebas hingga 70 persen. “Kenaikan bahan baku yang disebabkan menguatnya dolar membuat penjualan juga turun drastis,” keluhnya kepada MuriaNewsCom, Senin (21/9/2015).

Imbas yang lebih masif, kondisi ekonomi di Indonesia yang semakin sulit ini menyebabkan penurunan jumlah pengusaha garmen di desa tersebut. “Kalau sekarang, pengusaha yang masih bertahan sekitar enam orang saja. Itu pun berat, karena harus menghidupi pekerja,” pungkasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

 

Pengusaha Garmen di Gabus Pati Kena ‘Pukul’ 

ejumlah pekerja tengah menjahit bahan kain untuk dijadikan celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

ejumlah pekerja tengah menjahit bahan kain untuk dijadikan celana. (MuriaNewsCom/LISMANTO)

 

PATI – Imbas kenaikan dolar Amerika terhadap rupiah sampai sekarang masih dirasakan sejumlah pengusaha. Mereka seperti kena ‘pukul’ atau kena imbas dolar naik. Salah satunya, pengusaha garmen di Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Pati.

Safuan, Misalnya. Ia merasa terbebani dengan dampak menguatnya dolar Amerika terhadap rupiah. “Dolar menguat, kenaikan bahan baku mencapai 10 persen. Padahal, kami dituntut pasar untuk tidak menaikkan produk garmen,” ujar Safuan saat ditemui MuriaNewsCom, Senin (21/9/2015).

Karena itu, ia mencoba untuk mengakali dengan cara membeli bahan baku secara kiloan. “Kami siasati dengan membeli bahan secara kiloan. Makanya, sampai saat ini harga produk garmen masih tetap, tidak naik,” imbuhnya.

Kendati demikian, ia mengaku kelimpungan merasakan imbas menguatnya dolar hingga tembus Rp 14.453. “Selain itu, saya menyiasati dengan cara memperkecil ukuran bahan antara 1 hingga 2 cm,” tandasnya. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)