Cuaca Tak Menentu, Petani Garam di Rembang Gelisah

Salah satu petani garam sedang menggarap lahannya untuk membuat garam.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu. Namun saat ini  petani garam di Rembang masih belum bisa memanen hasilnya.

Pasalnya, proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan jumlah dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Jika cuaca dalam kondisi normal, biasanya petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, lantaran anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani masih belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman, warga Desa Waru, Kecamatan Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam miliknya pada awal bulan Juni lalu, pihaknya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekira 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

“Harusnya sudah tiga kali panen, tapi kemarin masih saja ada hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak. Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi,Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

“Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi,” ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Hal ini, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar tak lebih dari Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram. 

Editor : Kholistiono

Harga Garam Tinggi, Petani Girang

Tingginya harga garam di tingkat petani membuat petani senang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tingginya harga garam di Jepara membuat petani garam tersenyum. Hal itu karena kini harga per kilogram mencapai Rp 3.500 dari sebelumnya hanya Rp 500. 

“Baru kali ini petani bisa merasakan (untung) sebelumnya kan harganya cuma Rp 300 sampai Rp 500 per kilogram,” kata Lafiq Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tirta Petani, Senin (17/7/2017). 

Tingginya harga garam disebabkan  karena pada tahun lalu petani  garam di Kawasan Kedung dan sekitarnya gagal panen. Hal itu tentu saja memengaruhi harga garam pada tahun ini. 

Di samping itu, faktor cuaca juga sangat berpengaruh pada produksi garam. Pada tahun ini, cuaca dianggap tak menentu. Hujan yang seringkali turun menyebabkan petani harus mengulang proses produksi.

“Harapannya paling tidak harganya stabil seperti sekarang. Menguntungkan bagi para petani. Namun kalau sampai ada impor ya harganya langsung anjlok. Sebab produksi garam susah, namun sudah dibanjiri barang dari luar negeri,” tambahnya. 

Editor : Kholistiono

Garam Beryodium Dibagikan Gratis di Puskesmas Keling Jepara

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Puskesmas Keling 2 Jepara memberikan apresiasi kepada para kadernya yang berperan maksimal dalam pembangunan kesehatan di wilayah kerja puskesmas tersebut.

Salah satu prestasi yang diraih adalah tidak adanya kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dalam dua tahun terakhir. Kampanye mengkonsumsi garam beryodium dan pil tambah darah disebut sebagai dua program kunci menekan AKI, yang melibatkan para kader.

Kepala Puskesmas Keling 2 Suhadi mengatakan, momen kebersamaan dengan para kader di peringatan hari ibu Kamis (22/12/2016), dimanfaatkan untuk menyampaikan terima kasih kepada para kader dan seluruh stakeholder kesehatan di wilayah tersebut.

“Kami tidak memberi apa-apa. Hanya sepotong kain batik untuk setiap kader serta 250 gram garam beryodium yang kami berikan. Kain sebagai bingkisan dan garam untuk melanjutkan kampanye konsumsi garam beryodium,” kata Suhadi dikutip situs resmi Pemkab Jepara.

Penyerahan dilakukan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dokter Aniek Rufaida. Total terdapat 270 kader yang hadir dalam peringatan hari ibu yang diisi dengan apel pagi, senam, jalan sehat, dan pembagian doorprize.

Mereka terdiri dari kader posyandu, posbindu, posyandu lansia, dan dukun bayi dari enam desa di wilayah kerja puskesmas. Yakni Desa Kaligarang, Tunahan, Gelang, Bumiharjo, Keling, dan Kunir. Seluruh unsur Muspika juga hadir dalam acara ini.

Suhadi menyebut, sukses nol AKI memang dicapai melalui dua program kunci, konsumsi garam beryodium dan upaya tambah darah sejak remaja putri.

Di semua desa, kader kesehatan membantu mengawal perkembangan ibu hamil hingga proses persalinan di lingkungan masing-masing. Mereka membangun kesadaran resiko kurang garam beryodium bisa menyebabkan keguguran atau setidaknya kelahiran beresiko. Yaitu bayi cacat fisik atau mengalami keterbelakangan mental.

“Maka setiap ibu hamil yang pertama kali periksa ke bidan,  diberikan secara gratis garam beryodium agar tak mengalami GAKI (gangguan akibat kekurangan garam beryodium)” katanya.

Sedangkan program pil tambah darah sasarannya remaja putri agar pada saat menstruasi minum obat tambah darah sulfa ferous yang diberikan gratis. Selain saat menstruasi juga seminggu sekali.

Kegiatan ini dilaksanakan di SMP dan MTs di wilayah kerja, sedangkan pil tambah darah diberikan gratis melalui PKS.

“Kami bersyukur kegiatan seperti ini didukung stakeholder termasuk Muspika. Jangan kaget kalau di wilayah kerja kami sampai melihat mobil operasional Polsek dimanfaatkan oleh anggota Polri membantu sosialisasi berbagai program kesehatan. Semua memang total mendukung,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan Harga Garam di Jepara Anjlok

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam dari petani di Kabupaten Jepara saat ini benar-benar semakin anjlok dan tak terkendali. Harga normalnya yang mencapai Rp 35 ribu per kwintal, saat ini harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kwintal. Kondisi ini disebabkan berbagai hal, termasuk faktor lokal maupun nasional. Terlebih isu anjloknya harga garam ini juga ramai di pusat.

Rusaknya infrastruktur jalan di Kecamatan Kedung, mulai dari Pecangaan – Kedung Malang – hingga ke kawasan sentra garam, menjadi alasan penyebab harga garam anjlok yang disodorkan para tengkulak saat menolak membeli garam dengan harga tinggi. Rusaknya akses jalan terdekat dari Kedung Malang, membuat transportasi harus dialihkan dari arah Jepara, yang jelas lebih jauh jarak tempuhnya. Dari sini, para tengkulak menyatakan harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transportasinya.

”Para tengkulak bilang harus keluar biaya transportasi lebih banyak, karena akses jalan rusak berat. Selain itu mereka bilang jika pabrik-pabrik belum mau membeli garam-garam produksi kami,” keluh Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Selain alasan lokal itu, secara nasional, isu anjloknya harga garam ini juga disoroti serius oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti. Anjloknya harga garam dituding lantaran masuknya garam impor lebih banyak. Pihak importir menambah jumlah garam impor masuk ke Indonesia untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

”Di media massa baru-baru ini memang ramai. Katanya ini akibat dari banyaknya garam impor, jadi garam lokal hanya dihargai murah-murahan,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Petani Garam Nekat Ambil Hutang, Tunggu Harga Garam Naik

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam yang diproduksi para petani garam di Kabupaten Jepara, tahun ini mengalami penurunan terparah sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan harga yang terbentuk di pasaran hanya mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal.

Dampak bagi para petani garam dari anjloknya harga, sangat beragam. Satu sisi para petani mencoba untuk tetap bertahan. Namun disisi lain, kebutuhan hidup keluarga juga tidak bisa ditahan. Mereka yang tidak kuat atas tekanan kebutuhan hidup akhirnya memilih tetap menjual garam mereka, kendati sebenarnya harganya tidak masuk hitungan.

”Bagi para petani garam yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang, maka mereka bisa dikatakan tidak akan mendapatkan jaminan untuk bisa membayar sewa tahun berikutnya, yang nilainya mencapai Rp 4 juta per-tahun,” ujar Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Para petani yang masih bernyali, mengambil pinjaman hutang adalah solusi terburuk yang dipilih. Dana pinjaman itu mereka gunakan untuk membangun gudang-gudang untuk menyimpan garam mereka. Sedangkan mereka yang tidak cukup memiliki ‘daya’ memilih untuk menjual garamnya.

”Bagaimana kami bisa mendapatkan untung. Harga Rp 15 ribu yang terjadi sekarang ini, riilnya kami hanya akan mendapatkan Rp 10 ribu. Itu masih dipotong biaya angkut dari tambak ke truk dan ganti tombong yang dipakai,” ujar Kasmani (60) petani garam asal Desa Bulak Baru, Kedung Jepara di tambaknya. (WAHYU KZ/TITIS W).

Harga Garam Terus Anjlok, Petani Garam Jepara Geram

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA –  Jika pekan kemarin harga garam di Kabupaten Jepara dari Rp 35 ribu menjadi Rp 25 ribu per kwintal. Kali ini, harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sebagian petani garam untuk tetap bisa ‘bertahan’. Namun tidak sedikitpula yang terpaksa menjual garamnya, karena kebutuhan hidup sudah tidak bisa kompromi.

”Per kwintal sampai ada yang dijual Rp 15 ribu, otomatis per kilogram hanya dihargai 150 rupiah saja,” kata Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) “Garam Makmur” Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Menurutnya, tahun ini, produksi garam di Jepara menghadapi masa suram menyusul anjloknya harga garam. Para tengkulak hanya berani membeli dengan harga Rp 25 ribu per kwintal untuk garam krosok yang diproses dengan teknik bio membran. Sedangkan harga krosok biasa harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal. Di kawasan garam Kecamatan Kedung, sebagian besar merupakan petani garam dengan teknik konvensional. Sehingga tidak mengherankan, anjlognya harga garam ini membuat geram semua petani garam di Jepara.

Situasi buruk ini, diperkirakan akan semakin bertambah parah pada puncak panen raya September mendatang. Saat ini bisa dikatakan belum semua petani garam mencapai puncak produksi maksimalnya. Kekhawatiran ini bahkan sudah mulai diyakini oleh para petani garam bakal terjadi. (WAHYU KZ/TITIS W)