Pati Bakal Punya 3 Oven Tapioka Berkapasitas 30 Ton Sehari

Seorang pekerja tengah mengeringkan tepung tapioka basah di tempat penjemuran secara manual di Desa Ngemplak, Margoyoso, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabupaten Pati akan memiliki tiga oven berteknologi mutakhir yang digunakan untuk mengeringkan tapioka. Masing-masing oven yang mengusung compressed natural gas (CNG) tersebut memiliki kapasitas hingga 30 ton tapioka kering.

Penggiling tapioka asal Ngemplak, Margoyoso, Khoirul Umam mengatakan, sudah ada tiga investor yang menyatakan kesediannya membangun oven tapioka. Dua orang dari Jawa Timur, satu orang dari Jakarta.

“Sudah ada tiga investor yang menyatakan ketertarikan dan akan menginvestasikan oven pengering di Pati. Rencana ini tentu kita sambut dengan baik, karena nantinya membuat produksi tapioka menjadi stabil dan tidak mengenal cuaca,” ujar Umam, Senin (21/8/2017).

Dia yang sudah berkomunikasi dengan investor menegaskan, mesin pengering yang akan dibangun di Pati mengusung teknologi terbaru dan ramah lingkungan. Dengan demikian, keberadaan oven tapioka di Ngemplak selain akan membantu petani dan penggiling untuk terus berproduksi, juga tidak mengganggu lingkungan.

Hal yang sama disampaikan Cahyadi. Penggiling ketela di kawasan Ngemplak ini menuturkan, keberadaan oven membuat ketersediaan tapioka bagi industri terjamin.

“Keberadaan oven memang penting. Ada jaminan stok tapioka bagi perusahaan dan industri. Petani dan penggiling juga akan hidup, karena masih bisa beroperasi meski musim penghujan,” kata Cahyadi.

Selama ini, industri kecil dan menengah (IKM) tapioka di Pati mendapatkan pasokan ketela dari wilayah Karesidenan Pati, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat. Dengan tiga oven yang masing-masing berkapasitas 30 ton kering setiap hari, produksi tapioka di Pati bisa mencapai 90 ton per hari secara stabil.

Jika sudah berjalan, roda perekonomian petani dan penggiling ketela di Pati akan berjalan dengan baik tanpa terkendala cuaca. Terlebih, siklus tanam ketela bisa nyambung sehingga tapioka lokal bisa terus berproduksi tanpa mengandalkan impor.

Editor: Supriyadi

 

Pemprov Klaim Pabrik di Pati Bisa Kendalikan Harga Garam

Seorang petani garam sedang mengumpulkan garam dari lahan yang ada di Desa Kedung Malang, Kecamatan Kedung-Jepara. Pemprov Jateng bakal membangun pabrik garam besar di Pati. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang- Pemprov Jateng akan mulai membangun pabrik garam berkapasitas 40 ribu ton di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Pati, Oktober 2017 mendatang. Pabrik ini nantinya akan menghasilkan garam dengan kualitas unggul, serta mampu mengendalikan harga garam, sehingga tak merugikan petani.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumberdaya Alam Setda Pemprov Jateng, Peni Rahayu, mengatakan, pabrik garam ini nantinya akan menghasilkan garam kualitas baik untuk kebutuhan konsumsi industri. Setidaknya kadar yodium garam atau Natrium Chlorida (NaCl) mencapai angka 96.

“Saat ini garam rakyat yang ada rata-rata NaCl-nya baru 86. Maka nanti menggunakan teknologi tertentu agar NaCl bisa lebih tinggi,” katanya.

Teknologi yang dibuat BPPT, saat ini masih diperhitungkan biayanya. Karena untuk mengalirkan air laut butuh lahan sangat luas.

Meskipun semakin luas area lahan untuk perlintasan air lautnya, maka kualitas garam makin bersih dan kadar NaCl makin tinggi. “Jadi nanti garamnya benar-benar putih,” ujarnya.

Pada dasarnya, imbuh Peni, adanya pabrik garam ini adalah untuk mengendalikan harga ketika ada panen raya agar harga tidak anjlok karena dipermainkan tengkulak. Nantinya, petani garam menjual produksinya ke pabrik milik pemerintah dengan harga yang ditetapkan.

“Ke depan harapan kita ada penetapan harga garam misalnya harga pembelian pemerintah (HPP) seperti pada beras,” jelasnya.

Baca juga : Pati Akan Dibangun Pabrik Garam Besar, Ganjar Minta Oktober Mulai Digenjot

Sebelumnya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta agar pabrik garam di Pati ini digenjot pembangunannya.

Ia menyebut, studi kelayakan atau feasibility study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) rencana pembangunan pabrik garam kapasitas besar di Jateng telah tuntas. Pemprov menargetkan, Oktober tahun ini harus sudah mulai dibangun.

“Saya sudah meminta Oktober tahun ini diground breaking (peletakan batu pertama) agar lebih cepat, kalau itu bisa dilaksanakan maka intervensi Pemprov Jateng akan segera dimulai,” katanya.

Editor : Ali Muntoha

Anggota DPR Bongkar Penyebab Garam Langka, Pelakunya Diduga Kartel

Anggota DPR RI Firman Soebagyo menjelaskan penyebab garam langka, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Anggota DPR RI Firman Soebagyo membongkar penyebab garam langka yang sempat membuat masyarakat resah. Pelakunya diduga adalah kartel di kawasan Jawa Timur yang melakukan aksi borong garam.

“Kemarin kita sinyalir adanya tengkulak-tengkulak di Jawa Timur yang melakukan aksi borong terhadap garam produksi nasional. Garam itu tidak langsung dijual, tapi distok,” ungkap Firman, seusai mengisi sosialisasi empat pilar MPR RI di Desa Karaban, Gabus, Pati, Sabtu (12/8/2017) malam.

Hanya saja, sumber yang ia dapatkan tidak berani membuka siapa pelaku yang berperan menjadi kartel untuk memonopoli distribusi garam nasional. Karena itu, Firman meminta kepada Satgas Pangan untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

Pasalnya, apa yang dilakukan kartel hingga membuat garam langka, masuk dalam kategori pelanggaran tindak pidana ekonomi yang harus ditindak tegas. “Saya sudah meminta Satgas Pangan untuk menelusuri, saya yakin pelakunya ketemu,” tuturnya.

Firman menjelaskan, pola kartelisasi yang dilakukan tengkulak dengan cara memborong garam produksi nasional untuk ditimbun dan sengaja membuat garam langka. Dengan demikian, tengkulak bisa mengambil keuntungan saat harga melonjak tinggi.

Peran kartel juga ikut menentukan harga di pasaran, karena suplai dan kompetisi sudah dibatasi melalui aksi borong. Firman berharap, pemerintah bisa membuat regulasi untuk mengatur strategi pergaraman nasional agar petani dan masyarakat tidak dirugikan.

“Saya bersama Satgas Pangan baru saja dari Jepang untuk mempelajari bagaimana mengatasi perilaku para kartel. Di sana, undang-undang sudah rapi sehingga perusahaan nakal bisa ditindak tegas. Di Jepang, impor dikendalikan melalui pasar grosir sehingga terkontrol dengan baik,” imbuhnya.

Di Indonesia, produksi garam terbesar adalah Nusa Tenggara Timur, disusul Madura dan Pati. Tingkat kebutuhan garam nasional juga terus meningkat dan garam menjadi persoalan yang serius, sehingga pihaknya akan terus berupaya memperjuangkan nasib petani dan rakyat.

Editor : Akrom Hazami 

 

Harga Jual Garam di Jepara Turun

Garam tampak dipanen di salah satu tambak garam di Kabupaten Jepara, Jumat. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kebijakan impor garam mulai berpengaruh pada harga jual di kalangan petani. Kini harga komoditas tersebut di Jepara merosot menjadi Rp 1.875 hingga Rp 2.500 per kilogram, dari sebelumnya Rp 3000 per kilogram.

Hal itu disampaikan seorang petani garam, di Jepara, Agus. Menurutnya penurunan harga garam dimulai sejak awal minggu ini.

“Sejak tiga hari belakangan (Selasa, 8/8/2017) harga mulai turun. Saat ini garam punya saya dihargai sekitar Rp 200.000 per tombong (kemasan 80 kilogram) untuk yang warnanya agak cokelat, sementara yang putih mencapai Rp 250.000 per tombong,” ujarnya, Jumat (11/8/2017).

Ia mengatakan, penurunan harga garam tersebut disebabkan dua hal. Pertama imbas dari impor garam dan kedua panen raya garam. Dirinya memperkirakan, harga di tingkat petani bisa kembali anjlok, sebab kini produksi garam petani lokal kian meningkat seiring dengan panen raya.

“Penyebab turun harga kemungkinan karena impor garam kemarin dan saat ini kan sedang panen garam sebagian besar petani,” tuturnya yang bertani di sekitar Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung itu.

Agus mengatakan, melimpahnya pasokan garam juga menyebabkan harga tidak sama. Di beberapa tempat ia menyebut, harga garam bisa mencapai Rp 150.000 per 80 kilogram.

“Perbedaan harga tersebut dipengaruhi juga karena faktor tempat, misalnya di tempat saya kan dekat jalan harganya bisa segini (Rp 2500 per kilogram) sementara di sana (Bulak Baru) harganya bisa semakin turun. Pertama pasokan melimpah dan kedua yang punya lahan di tempat agak dalam kan terpaksa menjual agak murah, yang penting garamnya laku,” urai dia.

Terakhir ia menuturkan agar pemerintah membantu para petani supaya harga garam stabil dan tak kian anjlok. 

Editor : Akrom Hazami

 

Petani Garam Jepara Harapkan Bantuan Plastik Geo Membran

Petani mempergunakan lapisan plastik hitam (geo membran) pada lahan garamnya di salah satu lokasi di Kabupaten Jepara, Sabtu (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, berharap pemerintah memberikan bantuan plastik geo membran. Hal itu untuk mengantisipasi musim yang tidak menentu. Sehingga panas tak bisa maksimal memanaskan air laut yang nantinya akan dipanen menjadi garam. 

Hal itu diungkapkan oleh Saroni (48). Petani garam asal Desa Panggung-Kedung itu mengungkapkan, dengan penggunaan plastik geo membran dapat memaksimalkan panas matahari yang tidak menentu seperti sekarang ini. 

“Kalau pake geo membran, pemanasannya bisa maksimal. Agak siangan saja, kita kalau menginjak geo membran pasti kakinya tak kuat karena panas. Tapi kalau tidak memakainya hanya beralas tanah panasnya kurang,” tuturnya, Sabtu (5/8/2017).

Ia mengatakan penggunaan plastik berwarna hitam tersebut sudah mulai diaplikasikan pada lahannya sekitar 4 tahun lalu. Berawal dari bantuan pemerintah, ia merasakan manfaat yang besar dari penerapan teknologi sederhana itu. 

Saroni menyebut, jika membeli geo membran di pasaran harganya cukup mahal. Per gulung dengan ukuran panjang 42 meter dan lebar 4,4 meter dijual sekitar Rp 2,4 juta. Dengan hal itu, ia mengatakan biaya terbesar dari panen garam adalah penyediaan geo membran. 

Dirinya mengatakan, dibanding bantuan lain seperti slender mesin dan sebagainya, geo membran dirasa lebih berguna untuk bertani garam.  “Ya kalau dibandingkan bantuan yang lain, geo membran lebih bermanfaat bagi kami,” tutup dia.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Gubernur Dapat Penjelasan Cara Pembuatan Garam di Jono Grobogan

Kades Jono Eka Winarna (baju putih) menerangkan proses pembuatan garam pada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni saat mengunjungi desanya. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Saat berkeliling, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Grobogan sempat mendapat penjelasan singkat proses pembuatan garam dari Kades Jono Eka Winarna, Rabu (2/8/2017).

Dalam proses pembuatan garam itu ada beberapa tahapan. Sebelum memulai pembuatan garam, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan lebih dulu.

Pertama, mengisi bak penampungan air terlebih dahulu sampai penuh. Bak penampungan ini letaknya di bawah gubuk yang ada di sentra pembuatan garam.

Bak penampungan ini dibuat dengan cara menggali tanah di bawah gubuk tersebut. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dengan kedalaman sekitar 2,5 meter.  

Bak ini diisi air dari sumber utama yang ada di sebelah timur sentra pembuatan garam. Dari sumber utama, air dialirkan lewat pipa ke bak penampungan. Dengan sudah adanya pipa ini, para petanigaram bisa mengisi bak penampungan tiap saat.

Setelah bak penampungan terisi, persiapan lain yang dilakukan adalah membuat sarana pembuatan garam. Kebutuhan utama adalah membuat klakah (bambu yang dibelah) sebagai media pembuatan garam. Klakah ini rata-rata panjangnya 2 meter.

Proses pembuatan garam diawali dengan menata klakah diatas bak penampungan. Klakah ini disusun berjajar dan bertumpuk tetapi tidak sampai menutup seluruh bak. Masih terlihat ada sedikit celah yang digunakan untuk mengambil air dengan gayung.

Setelah tertata rapi, klakah pada tumpukan paling atas, satu persatu diisi air dari bak penampungan hingga penuh. Selanjutnya, tumpukan klakah paling atas dipindahkan ke lahan penjemuran di depan atau di belakang gubuk.

Untuk memindahkan klakah yang sudah terisi air ke lahan penjemuran harus dilakukan dua orang. Masing-masing mengangkat ujung klakah dan membawanya dengan hati-hati ke lahan penjemuran. “Untuk mindah klakah ke lokasi jemur sulit dilakukan satu orang saja. Soalnya, klakah harus dijaga jangan sampai airnya tumpah,” jelas Eka.

Proses pengisian air dan pemindahan ke lahan penjemuran ini terus diulang sampai tumpukan klakah habis. Setiap produksi, rata-rata ada 300-400 klakah yang disiapkan.

Pengisian air ke dalam klakah hingga memindahkan ke lahan penjemuran sepanjang 20 meter ini memerlukan waktu 3-4 jam. Lamanya waktu ini tergantung berapa banyaknya klakah yang akan diisi. Proses pengisian klakah ini biasanya dilakukan pagi-pagi. Tujuannya, supaya klakah yang sudah diisi air bisa dapat sinar matahari secepat mungkin.

Setelah seharian terkena panas matahari, klakah tersebut kemudian dipindahkan lagi ke dalam gubuk satu persatu dan ditata seperti semula. Saat memindahkan ini, klakah juga dicek kondisinya. Jika ada ruas klakah yang airnya berkurang langsung diisi lagi sampai penuh.

Keesokan harinya, klakah ini dipindahkan lagi ke lokasi penjemuran dan sore hari kembali dimasukkan ke tempat semula. Proses ini diulang-ulang hingga beberapa hari. Saat musim kemarau, proses pembuatan garam ini butuh waktu sekitar lima hari. Tetapi saat musim hujan, prosesnya jadi lebih lama, bisa makan waktu 10-15 hari.

“Cepat atau lamanya pembuatan garam tergantung sinar matahari. Kalau cuaca panas bisa cepat dan sebaliknya kalau sering mendung atau hujan maka pembuatan garam lebih lama,” katanya.

Masa panen garam dilakukan setelah kondisi klakah terlihat penuh butiran berwarna putih. Garam yang sudah terlihat pada klakah ini kemudian dikeruk berikut air yang tersisa dan dimasukkan dalam ember.

Garam yang sudah dipanen kemudian dimasukkan dalam karung yang sudah disiapkan sebelumnya. Sedangkan sisa air dalam klakah yang tidak ikut mengkristal jadi garam, tidak dibuang tetapi juga ditaruh dalam jeriken maupun gentong plastik atau tanah liat.

Oleh petani garam dan warga setempat, sisa air yang tidak jadi garam ini dinamakan bleng. “Jadi hasil panen di sini ada dua macam. Yakni, garam dan bleng yang biasa dipakai untuk bahan membuat kerupuk,” jelas Eka.

Dari tiap lahan, para petani bisa menghasilkan garam sekitar 10 kg dan bleng sekitar dua jeriken bleng (40 liter). Harga jual garam saat ini Rp 10.000 per kilogram. Sedangkan cairan bleng laku Rp 17 ribu per jeriken kapasitas 20 liter.

Garam dan bleng yang dihasilkan di situ biasanya dibeli warga setempat dan warga desa sekitar. Jika masih ada sisa, biasanya disetorkan pada pengepul yang jadi langganan petani garam. “Wah, proses pembuatannya ternyata butuh waktu lama. Tetapi, sentra garam di sini memang sangat menarik dan unik,” kata Ganjar, sebelum meninggalkan lokasi.

Editor : Akrom Hazami

Gubernur Penasaran dengan Produksi Garam Darat di Jono Grobogan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni mengunjungi sentra pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Usai menghadiri penutupan TMMD Reguler ke-99 tahun 2017 di lapangan Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melangsungkan agenda lain bersama Bupati Grobogan Sri Sumarni. Yakni, mengunjungi sentra pembuatan garam di Desa Jono, Kecamatan Tawangharjo.

Sejak beberapa waktu lalu, Ganjar sudah mengetahui adanya pembuatan garam yang bahan bakunya bukan diambilkan dari air laut tersebut. Hal itu membuatnya merasa penasaran dan ingin melihat langsung proses pembuatan garam tersebut.

“Kabupaten Grobogan punya potensi luar biasa yang belum tentu dimiliki daerah lain. Pembuatan garam dari air sumur tanah inilah keunikan yang dimiliki Grobogan,” katanya.

Saat berada di lokasi, Ganjar sempat berdialog dengan petani garam. Setelah itu dilanjutkan melihat hamparan pembuatan garam yang sudah berlangsung ratusan tahun tersebut.

Ganjar menyatakan, adanya garam di Jono ini bisa jadi salah satu solusi mengatasi kelangkaan garam yang terjadi saat ini. Untuk itu produksi garam di Jono harus perlu ditingkatkan dan dibantu pemasarannya.

“Pembuatan garam di sini saya rasa luar biasa sekali. Soalnya, dari air tanah bisa diproses jadi garam. Bahkan, rasa garam dari Jono ini cukup gurih dan agak beda dengan garam laut. Potensi ini harus terus dikembangkan,” katanya.

 

Editor : Akrom Hazami

Petani Garam di Jepara Setuju Ada Impor, tapi …

Petani garam di Jepara sedang memanen produknya, Rabu. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Petani garam di Jepara tak mempermasalahkan impor garam yang dilakukan oleh pemerintah. Hanya, mereka tak ingin jumlah garam yang didatangkan dari luar negeri terlalu berlimpah. Hal itu karena akan menyebabkan harga jual produk mereka anjlok. 

“Impor boleh-boleh saja jika memang kekurangan namun jangan terlalu banyak. Ini (produksi) garam jika cuaca panas terus pasti akan berlimpah dan otomatis menurunkan harga jual garam. Namun kalau impornya kebanyakan sementara di sini juga sedang panen, harganya bisa terpuruk,” kata Saroni (48) petani garam asal Desa Panggung, Kecamatan Kedung, ditemui di lahan tambaknya di Bulak Baru, Jepara, Rabu (2/8/2017). 

Dirinya mengatakan, saat ini harga jual garam krosok per tombong (80 kilogram) masih tinggi yakni Rp 300.000. Artinya, setiap kilogram dihargai Rp 3.750. Sementara sebelumnya garam hanya diharga sekitar Rp 300- Rp 400 per kilogram. 

Dirinya mengakui, harga tersebut adalah yang tertinggi semenjak dirinya bertani garam. Saroni menyebut, harga garam memang pernah tinggi namun tak lebih dari Rp 100.000 per tombong. 

Petani lain, Khamsani (45) mengakui hal serupa. Kini harga garam masih berada di angka penjualan tersebut. Terkait impor garam, ia sendiri telah mengetahuinya dari berita di televisi. Bahkan ia sempat disurvei dari pihak kepolisian.

“Baru kemarin ada pak polisi, tanya tentang pasokan garam bagaimana. Ya saya jawab saja masih balapan dengan hujan, belum bisa maksimal panennya. Menurut polisi, ia disuruh untuk mengecek ke lapangan karena presiden sudah turun tangan untuk menyiasati harga garam yang bergejolak,” tutur dia. 

Lebih lanjut ia mengatakan, hingga kini dirinya belum memiliki stok garam. Hal itu karena setiap kali panen, pengepul selalu saja sudah menunggu produknya.  “Ini saja saya sudah dibayar duluan, baru saya panen. Sehingga saya memang belum bisa memiliki simpanan garam di gudang,” terangnya. 

Khamsani berujar dirinya sudah memanen sekitar 13 tombong garam dari lahan miliknya. Sementara itu Saroni telah memanen 35 tombong dari lahannya seluas lebih kurang dua hektar. 

Adapun, peruntukan garam produksi warga Kedung itu lebih banyak dipergunakan untuk bidang industri. Seperti pengawetan ikan, bumbu kacang asin dan sejenisnya. Akan tetapi, garam tersebut pun bisa dikonsumsi untuk harian. 

Editor : Akrom Hazami

 

Cuaca Tak Menentu, Petani Garam di Rembang Gelisah

Salah satu petani garam sedang menggarap lahannya untuk membuat garam.(MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Meski telah memasuki musim kemarau sejak awal bulan Juni lalu. Namun saat ini  petani garam di Rembang masih belum bisa memanen hasilnya.

Pasalnya, proses produksi garam hingga pertengahan Juli ini belum membuahkan hasil. Hanya ada beberapa petani yang berhasil panen garam, itupun dengan jumlah dan kualitas yang jauh di bawah standar.

Jika cuaca dalam kondisi normal, biasanya petani garam sudah bisa panen sebanyak tiga kali. Namun, lantaran anomali cuaca yang masih belum menentu, sebagian besar petani masih belum bisa memproduksi garam.

Salah satu petani garam, Jasman, warga Desa Waru, Kecamatan Rembang mengaku sejak awal proses penggarapan tambak garam miliknya pada awal bulan Juni lalu, pihaknya baru berhasil memanen garam satu kali. Itupun hanya mampu menghasilkan 20 karung garam atau sekira 1 ton garam dari tiga petak tambak miliknya.

“Harusnya sudah tiga kali panen, tapi kemarin masih saja ada hujan, sehingga harus mengulang lagi dari awal proses penggarapan tambak. Selama 1,5 bulan, baru sekali panen, itupun jumlahnya jauh dari harapan. Selain itu kualitasnya juga tidak sebaik jika kondisi cuaca normal,” ungkapnya.

Hal serupa juga diungkapkan Wakijan, warga Desa Banggi,Kecamatan Kaliori. Ia mengeluhkan, meskipun pihaknya telah menggunakan metode plastik dalam produksi garam, namun selama masuk musim kemarau ini selalu gagal dalam produksi.

“Harusnya sudah empat kali panen, tapi selama ini saya selalu gagal karena hujan. Tiap turun hujan, proses penambakan harus mulai kembali dari awal, mulai nylender untuk meratakan tanah sampai tuang air lagi,” ujarnya.

Ia mengaku hampir putus asa terkait kondisi cuaca yang tidak menentu. Kini pihaknya memaksakan untuk menggarap satu petak tambak garam, meskipun airnya masih tercampur dengan air hujan.

Hal ini, ternyata juga berimbas pada kenaikan harga yang cukup signifikan. Dari harga normal rata-rata petani hanya berkisar tak lebih dari Rp 1.000 per kilo, kini melonjak empat kali lipat. Harga berkisar Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per kilogram. 

Editor : Kholistiono

Harga Garam Tinggi, Petani Girang

Tingginya harga garam di tingkat petani membuat petani senang. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Tingginya harga garam di Jepara membuat petani garam tersenyum. Hal itu karena kini harga per kilogram mencapai Rp 3.500 dari sebelumnya hanya Rp 500. 

“Baru kali ini petani bisa merasakan (untung) sebelumnya kan harganya cuma Rp 300 sampai Rp 500 per kilogram,” kata Lafiq Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tirta Petani, Senin (17/7/2017). 

Tingginya harga garam disebabkan  karena pada tahun lalu petani  garam di Kawasan Kedung dan sekitarnya gagal panen. Hal itu tentu saja memengaruhi harga garam pada tahun ini. 

Di samping itu, faktor cuaca juga sangat berpengaruh pada produksi garam. Pada tahun ini, cuaca dianggap tak menentu. Hujan yang seringkali turun menyebabkan petani harus mengulang proses produksi.

“Harapannya paling tidak harganya stabil seperti sekarang. Menguntungkan bagi para petani. Namun kalau sampai ada impor ya harganya langsung anjlok. Sebab produksi garam susah, namun sudah dibanjiri barang dari luar negeri,” tambahnya. 

Editor : Kholistiono

Garam Beryodium Dibagikan Gratis di Puskesmas Keling Jepara

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

Pemberian secara gratis garam beryodium agar tak mengalami gangguan akibat kekurangan garam beryodium di Puskesmas Keling Jepara. (JEPARAKAB.GO.ID)

MuriaNewsCom, Jepara – Puskesmas Keling 2 Jepara memberikan apresiasi kepada para kadernya yang berperan maksimal dalam pembangunan kesehatan di wilayah kerja puskesmas tersebut.

Salah satu prestasi yang diraih adalah tidak adanya kasus Angka Kematian Ibu (AKI) dalam dua tahun terakhir. Kampanye mengkonsumsi garam beryodium dan pil tambah darah disebut sebagai dua program kunci menekan AKI, yang melibatkan para kader.

Kepala Puskesmas Keling 2 Suhadi mengatakan, momen kebersamaan dengan para kader di peringatan hari ibu Kamis (22/12/2016), dimanfaatkan untuk menyampaikan terima kasih kepada para kader dan seluruh stakeholder kesehatan di wilayah tersebut.

“Kami tidak memberi apa-apa. Hanya sepotong kain batik untuk setiap kader serta 250 gram garam beryodium yang kami berikan. Kain sebagai bingkisan dan garam untuk melanjutkan kampanye konsumsi garam beryodium,” kata Suhadi dikutip situs resmi Pemkab Jepara.

Penyerahan dilakukan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara dokter Aniek Rufaida. Total terdapat 270 kader yang hadir dalam peringatan hari ibu yang diisi dengan apel pagi, senam, jalan sehat, dan pembagian doorprize.

Mereka terdiri dari kader posyandu, posbindu, posyandu lansia, dan dukun bayi dari enam desa di wilayah kerja puskesmas. Yakni Desa Kaligarang, Tunahan, Gelang, Bumiharjo, Keling, dan Kunir. Seluruh unsur Muspika juga hadir dalam acara ini.

Suhadi menyebut, sukses nol AKI memang dicapai melalui dua program kunci, konsumsi garam beryodium dan upaya tambah darah sejak remaja putri.

Di semua desa, kader kesehatan membantu mengawal perkembangan ibu hamil hingga proses persalinan di lingkungan masing-masing. Mereka membangun kesadaran resiko kurang garam beryodium bisa menyebabkan keguguran atau setidaknya kelahiran beresiko. Yaitu bayi cacat fisik atau mengalami keterbelakangan mental.

“Maka setiap ibu hamil yang pertama kali periksa ke bidan,  diberikan secara gratis garam beryodium agar tak mengalami GAKI (gangguan akibat kekurangan garam beryodium)” katanya.

Sedangkan program pil tambah darah sasarannya remaja putri agar pada saat menstruasi minum obat tambah darah sulfa ferous yang diberikan gratis. Selain saat menstruasi juga seminggu sekali.

Kegiatan ini dilaksanakan di SMP dan MTs di wilayah kerja, sedangkan pil tambah darah diberikan gratis melalui PKS.

“Kami bersyukur kegiatan seperti ini didukung stakeholder termasuk Muspika. Jangan kaget kalau di wilayah kerja kami sampai melihat mobil operasional Polsek dimanfaatkan oleh anggota Polri membantu sosialisasi berbagai program kesehatan. Semua memang total mendukung,” pungkasnya.

Editor : Akrom Hazami

Ini Alasan Harga Garam di Jepara Anjlok

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Jalan rusak yang juga pengaruhi anjloknya harga garam di Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam dari petani di Kabupaten Jepara saat ini benar-benar semakin anjlok dan tak terkendali. Harga normalnya yang mencapai Rp 35 ribu per kwintal, saat ini harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu per kwintal. Kondisi ini disebabkan berbagai hal, termasuk faktor lokal maupun nasional. Terlebih isu anjloknya harga garam ini juga ramai di pusat.

Rusaknya infrastruktur jalan di Kecamatan Kedung, mulai dari Pecangaan – Kedung Malang – hingga ke kawasan sentra garam, menjadi alasan penyebab harga garam anjlok yang disodorkan para tengkulak saat menolak membeli garam dengan harga tinggi. Rusaknya akses jalan terdekat dari Kedung Malang, membuat transportasi harus dialihkan dari arah Jepara, yang jelas lebih jauh jarak tempuhnya. Dari sini, para tengkulak menyatakan harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transportasinya.

”Para tengkulak bilang harus keluar biaya transportasi lebih banyak, karena akses jalan rusak berat. Selain itu mereka bilang jika pabrik-pabrik belum mau membeli garam-garam produksi kami,” keluh Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Selain alasan lokal itu, secara nasional, isu anjloknya harga garam ini juga disoroti serius oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti. Anjloknya harga garam dituding lantaran masuknya garam impor lebih banyak. Pihak importir menambah jumlah garam impor masuk ke Indonesia untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

”Di media massa baru-baru ini memang ramai. Katanya ini akibat dari banyaknya garam impor, jadi garam lokal hanya dihargai murah-murahan,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Petani Garam Nekat Ambil Hutang, Tunggu Harga Garam Naik

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Kabupaten Jepara yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang mereka tentu sangat merugi. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Harga garam yang diproduksi para petani garam di Kabupaten Jepara, tahun ini mengalami penurunan terparah sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan harga yang terbentuk di pasaran hanya mencapai Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal.

Dampak bagi para petani garam dari anjloknya harga, sangat beragam. Satu sisi para petani mencoba untuk tetap bertahan. Namun disisi lain, kebutuhan hidup keluarga juga tidak bisa ditahan. Mereka yang tidak kuat atas tekanan kebutuhan hidup akhirnya memilih tetap menjual garam mereka, kendati sebenarnya harganya tidak masuk hitungan.

”Bagi para petani garam yang bekerja dengan sistem sewa lahan, situasi ini bagai simalakama. Jika tetap menjual dengan harga yang ada sekarang, maka mereka bisa dikatakan tidak akan mendapatkan jaminan untuk bisa membayar sewa tahun berikutnya, yang nilainya mencapai Rp 4 juta per-tahun,” ujar Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Garam Makmur Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Para petani yang masih bernyali, mengambil pinjaman hutang adalah solusi terburuk yang dipilih. Dana pinjaman itu mereka gunakan untuk membangun gudang-gudang untuk menyimpan garam mereka. Sedangkan mereka yang tidak cukup memiliki ‘daya’ memilih untuk menjual garamnya.

”Bagaimana kami bisa mendapatkan untung. Harga Rp 15 ribu yang terjadi sekarang ini, riilnya kami hanya akan mendapatkan Rp 10 ribu. Itu masih dipotong biaya angkut dari tambak ke truk dan ganti tombong yang dipakai,” ujar Kasmani (60) petani garam asal Desa Bulak Baru, Kedung Jepara di tambaknya. (WAHYU KZ/TITIS W).

Harga Garam Terus Anjlok, Petani Garam Jepara Geram

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani garam di Jepara saat melakukan produksi. Harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA –  Jika pekan kemarin harga garam di Kabupaten Jepara dari Rp 35 ribu menjadi Rp 25 ribu per kwintal. Kali ini, harga garam terus anjlok ke harga Rp 17 ribu bahkan Rp 15 ribu per kwintal. Harga ini membuat kalangan petani garam di Kabupaten Jepara terpukul. Berbagai daya upaya dilakukan oleh sebagian petani garam untuk tetap bisa ‘bertahan’. Namun tidak sedikitpula yang terpaksa menjual garamnya, karena kebutuhan hidup sudah tidak bisa kompromi.

”Per kwintal sampai ada yang dijual Rp 15 ribu, otomatis per kilogram hanya dihargai 150 rupiah saja,” kata Ketua Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) “Garam Makmur” Jepara, Sukahar kepada MuriaNewsCom, Kamis (6/8/2015).

Menurutnya, tahun ini, produksi garam di Jepara menghadapi masa suram menyusul anjloknya harga garam. Para tengkulak hanya berani membeli dengan harga Rp 25 ribu per kwintal untuk garam krosok yang diproses dengan teknik bio membran. Sedangkan harga krosok biasa harganya hanya Rp 15 ribu hingga Rp 17 ribu saja per kwintal. Di kawasan garam Kecamatan Kedung, sebagian besar merupakan petani garam dengan teknik konvensional. Sehingga tidak mengherankan, anjlognya harga garam ini membuat geram semua petani garam di Jepara.

Situasi buruk ini, diperkirakan akan semakin bertambah parah pada puncak panen raya September mendatang. Saat ini bisa dikatakan belum semua petani garam mencapai puncak produksi maksimalnya. Kekhawatiran ini bahkan sudah mulai diyakini oleh para petani garam bakal terjadi. (WAHYU KZ/TITIS W)