Optimalkan Pertanian Off Farm, Gapoktan Tani Makmur Jadi Nominasi Terbaik Pati Kota

Gapoktan Tani Makmur Desa Winong, Kecamatan Pati dalam suatu acara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gapoktan Tani Makmur Desa Winong, Kecamatan Pati dalam suatu acara beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Dunia pertanian ternyata tidak semata dengan bercocok tanam. Pengolahan hasil pertanian dan peternakan juga menjadi bagian dari dunia pertanian.

Hal itu yang ditunjukkan Gabungan kelompok tani (gapoktan) “Tani Makmur” Desa Winong, Kecamatan Pati. Kendati di desanya hanya memiliki lahan pertanian yang minim, tetapi kelompok taninya dianggap prestasi karena bisa memanfaatkan pertanian off farm.

Kepala Desa Winong Jarnawi kepada MuriaNewscom, Kamis (3/2/2016) mengatakan, lahan pertanian di Winong hanya berkisar di angka sepuluh hektare saja. Praktis, lahan tersebut sangat minim bila hanya mengandalkan pertanian on farm.

Dengan demikian, gapoktan setempat berupaya untuk mengoptimalkan peran off farm dengan mengandalkan olahan hasil pertanian dan peternakan. Jika tidak begitu, pertanian di Desa Winong tidak akan pernah maju.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Tani Makmur Eko Jati Hartini mengaku, mereka lebih banyak bergiat dengan mengoptimalkan hasil pertanian di antaranya berdagang sayur keliling, membuka kios di pasar, hingga di rumah-rumah.

”Hasil pertanian juga dimanfaatkan bakul nasi dan lontong, serta beberapa di antaranya dibuat makanan kecil misalnya tempe dan rempeyek. Pemanfaatan hasil tani itulah yang dinamakan off farm, mengingat lahan pertanian di desa kami sangat minim,” imbuhnya.

Prestasi itu membuat gapoktan Tani Makmur sempat mendapatkan dana hibah program usaha agribisnis pedesaan (PUAP) senilai Rp 100 juta. Dana itu disalurkan kepada anggota gapoktan yang memiliki usaha pertanian, peternakan, dan usaha lain berbasis pertanian.

Editor: Titis Ayu Winarni

300 Kelompok Tani di Pati Bakal Terima Hibah pada 2016

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Bupati Pati Haryanto mencoba alat pertanian harvester setelah diserahkan kepada Kelompok Tani Margo Makmur Margorejo beberapa waktu lalu. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Sedikitnya 300 kelompok tani di Kabupaten Pati bakal menerima hibah pada 2016. Tak seperti tahun sebelumnya, mereka saat ini sudah berbadan hukum sehingga sudah siap menerima hibah.

“Sekitar 300 kelompok tani di Pati pada November 2015 lalu sudah mengajukan badan hukum ke Kementerian Hukum dan HAM. Waktu masih masa transisi itu, mereka belum bisa menerima dana. Sekarang, mereka sudah siap menerima hibah karena sudah berbadan hukum,” kata Kepala Dispertanak Pati Mochtar Effendi kepada MuriaNewsCom.

Ia mengatakan, ada empat pos besar alokasi dana dari Dispertanak Pati yang disalurkan melalui kelompok tani. Salah satunya, pembangunan jaringan irigasi tersier, rehabilitasi pembangunan fisik di pertanian yang rusak, pembangunan sumber air seperti sumur yang dangkal, embung atau pengadaan pompa penyedot air untuk irigasi, dan pembangunan akses jalan di sawah untuk petani.

Saat ditanya soal dana anggaran dari dinas dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) 2015, pihaknya masih belum bisa memastikan secara pasti. Pasalnya, dana tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan pada sektor pertanian saja, tetapi juga sektor pangan dan peternakan. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)

Kelompok Tani di Pati Banyak Tak Berbadan Hukum, Serapan Anggaran di Dispertannak Rendah

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah traktor diserahkan kepada petani beberapa bulan yang lalu di Dispertanak Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Salah satu alasan serapan anggaran Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan (Dispertanak) Pati rendah, antara lain masih banyaknya kelompok tani yang belum berbadan hukum. Akibatnya, dana hibah untuk kelompok tani tidak sepenuhnya tersalurkan.

Kepala Dispertanak Pati Mochtar Affendi mengakui hal itu. Ia mengatakan, rendahnya penyerapan anggaran sepanjang 2015 disebabkan dana hibah untuk kelompok tani yang tidak sepenuhnya tersalurkan.

“Masih banyak kelompok tani di Pati yang masih belum berbadan hukum. Jadi, dana hibah tidak bisa sepenuhnya tersalurkan. Memang ada beberapa kegiatan yang tersendat dari dinas ini. Itu disebabkan masalah administrasi kelompok tani yang mestinya harus berbadan hukum,” kata Mochtar kepada MuriaNewsCom.

Ia menambahkan, dana paling besar dari Dispertanak diperuntukkan kelompok tani. Saat kelompok tani masih belum berbadan hukum, akhirnya dana tidak tersalurkan dengan baik yang pada akhirnya menyebabkan serapan anggaran di Dispertanak rendah. (LISMANTO/AKROM HAZAMI)