Hendak Ambil Beras, Warga Desa Mangunrejo Grobogan ini Kaget Lihat Suaminya Gantung Diri

Polisi memeriksa korban gantung diri yang dilakukan warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi lagi di Grobogan, Jumat (25/8/2017). Seorang warga Dusun Mamboyo, Desa Mangunrejo, Kecamatan Pulokulon ditemukan tewas gantung diri di rumahnya sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku gantung diri diketahui bernama Suwardi, seorang kakek berusia 70 tahun.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, korban masih sempat ngobrol dengan istrinya Saliyem (65) di dalam rumah. Kemudian, sekitar pukul 07.00 WIB, Saliyem pamit mau ngarit atau mencari rumput ke sawah.

Sekitar dua jam kemudian, Suliyem pulang karena sudah dapat sekeranjang rumput buat pakan ternaknya. Setelah menaruh rumput dan cuci tangan, ia bermaksud mengambil beras di dalam kamar lantaran mau memasak nasi buat makan siang.

Saat masuk kamar penyimpanan beras, Suliyem sontak kaget. Sebab, di dalam kamar itu, ia mendapati tubuh Suwardi sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terjerat tali.

Melihat kenyataan itu, Saliyem selanjutnya lari keluar rumah sambil berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Pulokulon AKP Juhari menyatakan, setelah menerima laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Pulokulon dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Mau Bersih-bersih, Penjaga MI di Grobogan Kaget Temukan Orang Gantung Diri di Kebun Jati

Sejumlah petugas sedang memeriksa kondisi pelaku gantung diri di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari, Grobogan, Rabu (23/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, GroboganSeorang penjaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Dusun Jetis, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Wirosari sempat dibikin kaget saat melakukan aktvitas rutin, Rabu (23/8/2017). Saat hendak bersih-bersih di sekitar sekolahan, penjaga dan petugas kebersihan berusia 32 tahun itu melihat ada pemandangan yang membuatnya merinding.

Sebab, ia melihat ada sosok orang yang tergantung di sebuah pohon jati dengan leher terjerat tali plastik. Selanjutnya, Eko segera menghubungi warga untuk mengabarkan apa yang sudah dilihatnya tersebut.

Setelah dapat kabar, sejumlah warga kemudian berdatangan menuju lokasi kebun jati di dekat madrasah tersebut. Beberapa warga, kemudian mencoba mengecek kondisi orang yang gantung diri tersebut. Saat diperiksa, kondisi orang tersebut sudah tidak bernyawa.

Pelaku gantung diri itu diketahui bernama Supir (70), warga setempat. Lokasi gantung diri dilakukan di kebun jati miliknya sendiri. Peristiwa itu selanjutnya dilaporkan warga pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Wirosari AKP Toni Basuki membenarkan adanya peristiwa gantung diri di Desa Tanjungrejo tersebut. Menurutnya, setelah dapat laporan, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa kondisi korban.

Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Wirosari dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya.

Editor: Supriyadi

Ini Pesan Terakhir Pemuda Pati yang Tewas Gantung Diri di Kudus

Polisi dan warga tengah mengevakuasi mayat yang tergantung di pintu kamar kos di Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. (Foto : Polsek Bae)

MuriaNewsCom, Kudus – Johan Rudianto (23), warga Desa Banyutowo RT 03 RW 02, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dalam kamar kos miliknya di Desa Dersalam, Kecamatan Bae ternyata sempat meninggalkan pesan.

Pesan tersebut tertulis dalam aplikasi WhatsApp yang ditujukan kepada sebuah nomor di hpnya. Sayang nomor tersebut tak bernama dan belum bisa dihubungi.

Kapolsek Bae AKP Sardi mengatakan, pesan tersebut diketahui saat petugas memeriksa handphone yang disimpan dalam saku celana. Setelah diperiksa percakapannya, ternyata korban sempat mengirim pesan ke salah satu nomor.

“Dalam pesan tertulis tolong rawat mayatku. Sayangnya, dalam nomor tersebut tak dikasih nama, sehingga tidak diketahui siapakah pemilik nomor telepon,” katanya saat dihubungi MuriaNewsCom.

Baca Juga: Warga Kudus Ini Syok Lihat Mayat Tergantung di Pintu Kamar Kosnya

Pihak kepolisian juga tengah menyelidiki siapa pemilik nomor tersebut. Namun hingga kini masih belum bisa ditemukan siapakah pemilik dari nomor tersebut. Hanya, dia menduga kalau pemilik nomor merupakan orang yang sangat disayangi hingga disayangi olehnya.

Dugaan sementara, korban meninggal karena sakit hati atau putus cinta. Hal itu juga kalau melihat usia yang masih muda. Hanya saja dugaan tersebut masih belum pasti. Saat ini pihaknya bersama petugas lainnya masih melakukan penyeledikan.

“Yang pasti, bunuh diri itu tak akan menyelesaikan masalah. Karena itu, jangan berpikir pendek,” ungkap dia.

Editor: Supriyadi

Miris, Kakek di Taruman Grobogan Ditemukan Gantung Diri 

Polisi memeriksa lokasi gantung diri yang dilakukan warga Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan. (MuriaNewsCom /Dani Agus)

MuriaNewsCom,  Grobogan – Peristiwa orang gantung diri terjadi di Dusun Lengki, Desa Taruman, Kecamatan Klambu, Grobogan, Jumat (11/8/2017). Seorang kakek berusia 83 tahun bernama Rusban ditemukan gantung diri di kamar tidur.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa gantung diri kali pertama diketahui oleh anak korban bernama Ari (39). Ceritanya, menjelang magrib Ari tidak mendapati ayahnya di rumahnya. Sebelumnya, Rusban memang berada di rumahnya sejak siang hari.

Selanjutnya, Ari menuju ke rumah ayahnya yang berada di sebelah utara tempat tinggalnya. Saat dipanggil, tidak ada jawaban dari dalam rumah. Selanjutnya, ia mencoba mencari ayahnya ke dalam kamar.

Saat membuka tirai, Ari sontak kaget. Sebab, ia mendapati tubuh ayahnya tergantung di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali plastik.

Melihat kenyataan itu, Ari selanjutnya berteriak minta pertolongan warga. Mendengar teriakan tersebut, warga langsung berdatangan ke lokasi kejadian.

Saat diperiksa, korban diketahui sudah dalam keadaan meninggal dunia. Selanjutnya, warga melaporkan kejadian itu pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian.

Kapolsek Klambu AKP Asep Priyana menyatakan, saat petugas tiba di lokasi, posisi korban sudah diturunkan dan ditempatkan di meja ruang tamu. Setelah dilakukan pemeriksaan dari tim medis Puskesmas Klambu dan inafis Polres Grobogan, tidak ditemukan tanda penganiayaan pada tubuh korban.

“Korban murni bunuh diri dan tidak ada bekas kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban. Pihak keluarga sudah menerima dan jenazahnya sudah kita serahkan untuk dimakamkan,” jelasnya, Sabtu (12/8/2017).

Editor : Akrom Hazami 

Remaja Asal Mojolawaran Pati Nekat Gantung Diri, Ini Penyebabnya

Polisi dan tim medis saat memeriksa kondisi korban gantung diri di Desa Mojolawaran, Gabus, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Remaja berusia 17 tahun asal Desa Mojolawaran, Kecamatan Gabus, Zamroni, ditemukan meninggal dunia dalam keadaan gantung diri di rumahnya, Senin (10/7/2017).

Korban ditemukan pertama kali oleh ayahnya, Sudarminto. Saat itu, korban mengalami sakit perut karena tidak bisa buang air besar (BAB).

Korban sempat diajak berobat sekitar pukul 14.00 WIB. Keluarga tidak menyangka bila setelah itu, Zamroni nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Pasalnya, seusai berobat, dia sempat membeli es di rumah tetangga. Sekitar pukul 15.00 WIB, Sudarminto memanggil anaknya, tetapi tidak kunjung ada jawaban.

“Ayah korban masuk ke kamar korban dan menemukan anaknya sudah dalam keadaan tergantung menggunakan tali plastik. Ayah korban langsung menangis histeris,” ungkap Kabag Ops Polres Pati Kompol Sundoyo.

Beberapa keluarga yang mendengar teriakan sang ayah langsung mendekat. Setelah dicek, korban ternyata sudah tidak bernyawa.

Dr Findi, tim medis yang memeriksa korban menyatakan bahwa korban meninggal dunia murni karena gantung diri. Sebab, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban.

Polisi menyimpulkan, korban diduga nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi dengan penyakitnya yang tidak bisa sembuh. Korban sempat mengeluh kesakitan pada bagian perut karena tidak bisa BAB.

Editor : Kholistiono

Pamit Salat Magrib, Bujangan Asal Pojok Grobogan ini Ditemukan Tewas Gantung Diri

Ilustrasi

MuriaNewsCom, Grobogan – Seorang pemuda bernama Eko Agus Wahyudi, warga Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon, Grobogan nekat mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri, Jumat (7/4/2017). Ironisnya, tindakan bunuh diri pemuda 27 tahun itu dilakukan di rumah Budhenya Riyati (60) yang tinggal di Desa Jatiharjo, Kecamatan Pulokulon.

Informasi yang didapat menyebutkan, peristiwa bunuh diri itu diketahui menjelang Isya, sekitar pukul 18.45 WIB. Agus diketahui gantung diri di kamar belakang rumah budhenya yang biasa digunakan untuk tempat salat.

Sebelum gantung diri, sekitar pukul 18.00 WIB, Agus sempat pamit mau salat magrib. Setelah mengambil air wudhu, ia kemudian mengenakan peci putih, kaos hitam yang dirangkapi baju lengan panjang warna cokelat dan memakai sarung.

Menjelang Isya, Riyati mencoba memanggil keponakannya untuk diajak makan malam. Beberapa kali dipanggil, tidak ada jawaban. Kemudian, Riyati bersama anak perempuannya Uki Aryanti (30) menuju kamar belakang.

Saat membuka pintu kamar yang sebelumnya tertutup, keduanya sontak kaget dan langsung berteriak histeris. Sebab, mereka mendapati tubuh Agus sudah tergantung di bawah belandar dengan leher terlilit sarung.

Warga sekitar yang mendengar teriakan tersebut berhamburan ke lokasi kejadian. Beberapa orang di antaranya kemudian mengecek kondisi pelaku yang diketahui sudah tidak bernyawa.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono ketika dimintai komentarnya menyatakan, dari olah TKP dan pemeriksaan yang dilakukan, pelaku dinyatakan murni bunuh diri. “Tidak ada tanda kekerasan. Pelaku gantung diri pakai sarung yang difungsikan sebagai tali. Untuk motif bunuh diri masih kita dalami,” jelasnya pada wartawan.

Dijelaskan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi, Agus diketahui sudah dua hari berada di rumah budhenya. Selain bersilaturahmi, salah satu tujuannya ke tempat budhenya adalah untuk minta informasi pekerjaan sebagai buruh bangunan proyek karena sudah cukup lama menganggur.

Editor : Kholistiono

Diduga Frustasi, Kakek Ini Nekat Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri di Pohon Mangga

Banus, kakek asal Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, yang ditemukan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Banus, kakek asal Desa Wedelan, Kecamatan Bangsri, Jepara, yang ditemukan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Jepara – Banus (80), Warga Desa Wedelan RT 2 RW 9, Kecamatan Bangsri, Jepara, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon mangga belakang rumahnya pada Selasa (31/1/2017) malam, sekitar pukul 19.15 WIB.

Belum diketahui secara pasti motif pelaku. Namun, sebelum melakukan aksinya tersebut, pelaku sempat mengaku bosan hidup kepada istrinya yang bernama Parti.

“Banus ditemukan tewas oleh istrinya sendiri, Parti (67). Dari keterangan sang istri, sebelum bunuh diri sekitar pukul 18.30 WIB, korban sempat tiduran bersama istrinya di kamar. Korban sempat mengeluh mengenai kondisinya sudah tua namun tak kunjung meninggal. Sudah tua, mengapa tidak mati-mati,” ujar Kapolsek Bangsri AKP Timbul Taryono. 

Sementara itu, sang istri tertidur terlebih dahulu. Setelah itu, lalu bangun sekitar pukul 19.15 WIB. Namun, suaminya tak lagi di sisinya. Parti berniat mencarinya, namun ia sudah mendapati suaminya tergantung di belakang rumah. 

Informasinya, pelaku gantung diri menggunakan tali sepanjang empat meter. Tinggi ranting pohon untuk mengikat tali sekitar 3,5 meter. Korban diduga naik ke pohon menggunakan tangga.  Hal itu terlihat dari tangga yang masih di pohon samping korban saat ditemukan.

Mendapati laporan adanya orang gantung diri,  petugas dari Polsek Bangsri bersama pihak desa dan puskesmas mendatangi lokasi. Korban langsng dievakuasi dan dilarikan ke Puskesmas Bangsri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, tak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh pelaku. Jenazah pelaku langsung dikebumikan saat itu juga oleh pihak keluarga. ”Pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi. Akhirnya kami minta untuk mengisi surat pernyataan,” ucapnya.

Ia mengimbau agar kejadian serupa tak terulang kembali. Sebab setiap masalah hidup pasti ada penyelesaian.  ”Masalah dalam hidup atas frustasi itu wajar. Tapi jangan sampai mengakhiri hidup dengan melakukan bunuh diri,” imbaunya.

Editor : Kholistiono

Ini Hasil Visum Korban Gantung Diri di Trangkil Pati

 Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo meninjau langsung korban gantung diri di Desa Trangkil, Senin (29/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)


Kapolres Pati AKBP Ari Wibowo meninjau langsung korban gantung diri di Desa Trangkil, Senin (29/8/2016). (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Rohalim (65), warga Desa Trangkil RT 4 RW 5 tewas gantung diri di tiang belandar belakang rumah miliknya, Senin (29/8/2016). Kejadian tersebut sempat menggemparkan warga setempat, karena tidak mengira bila Rohalim nekat menghabisi nyawanya sendiri.

Kapolsek Wedarijaksa AKP Rochana Sulistyaningrum mengatakan, korban sebetulnya baru saja keluar dari RSI Margoyoso untuk menjalani perawatan medis karena menderita penyakit pada bagian usus. Namun, korban memaksa untuk pulang ke rumah.

“Menurut pengakuan keluarga, korban nekat mengakhiri hidup karena sakit usus yang diderita tidak sembuh-sembuh. Tidak tahan dengan penyakit yang tak kunjung sembuh tersebut, akhirnya korban memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup dengan gantung diri,” kata AKP Sulistyaningrum.

Saat ditemukan, korban yang memiliki tinggi badan 160 cm ini mengenakan celana pendek warna biru, terdapat tato kalajengking pada dada sebelah kanan. Untuk mengetahui penyebab sesungguhnya kematian korban, visum dilakukan Tim Medis dari Puskesmas Trangkil yang dipimpin dr Heni Indriastuti.

Dari hasil visum, terdapat pembesaran pada leher, kelopak mata bagian kiri membesar, perut membesar, jari tangan pada ujung mengalami kebiruan, ujung kaki mengalami kebiruan dan kaku, dubur normal, serta alat kelamin keluar cairan. “Dari hasil visum yang kami lakukan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan. Korban sudah meninggal tiga jam yang lalu sejak ditemukan pada pukul 06.30 WIB,” tutur dr Heni.

Editor : Kholistiono

Kakek di Jekulo Ini Gantung Diri, Karena Sakitnya yang Tak Kunjung Sembuh

Ilustrasi

Ilustrasi

 

MuriaNewsCom, Kudus – Kejadian bunuh diri, kembali terjadi di Kudus. Kali ini kejadian yang mengakhiri diri sendiri itu terjadi di Desa Honggosoco RT 4 RW 1 Kecamatan Jekulo, Kudus.

Hal itu diutarakan Kapolsek Jekulo AKP Mardi. Menurutnya, kejadian bunuh diri itu terjadi pada Kamis (29/1/2015) sekitar pukul 17.00 WIB. Dari keterangan yang dihimpun, ternyata kakek tersebut, Abdul Basir (70) sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu gagal.

”Dari keterangan yang kami dapat dari istrinya, Jumini, korban sudah tiga kali mencoba untuk bunuh diri. Namun selalu digagalkan lantaran diketahui anggota keluarga,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Kejadian pertama, kata dia mencoba bunuh diri dengan racun serangga. Saat itu diketahui oleh istrinya dan berhasil dicegah. Namun hal itu tidak mengurungkan niat untuk bunuh diri, sehingga percobaan kembali dilakukan kali kedua dengan cara memakan obat sakit kepala jenis Bodrex langsung enam biji ditambah dengan minuman bersoda jenis sprite.

Kejadian percobaan kali kedua juga kembali digagalkan lantaran diketahui oleh anggota keluarga. Namun kemarin, saat kondisi rumah dalam keadaan sepi, kembali sang kakek mencoba untuk kembali bunuh diri dengan menggantung pada rumah bagian tengah.

”Kemarin rumah pas keadaan kosong. Sehingga aksi bunuh dirinya tidak ada yang melarang dan menghentikan,” ujarnya.

Kejadian itu diketahui kali pertama oleh Riana Anggraeni yang juga sebagai menantu korban. Saat itu saat pulang kerja, kaget karena melihat mertuanya sudah terbujur kaku dengan tali berbahan kain yang mengikat pada lehernya.

Melihat hal itu, lanjutnya, menantu langsung mencari ibu mertuanya yang tidak berada di rumah. Namun di tengah jalan bertemu dengan suaminya sehingga langsung diberi tahu kalau ayahnya sudah meninggal.
Mendengar hal itu dia langsung pulang untuk melihatnya. Setelah itu, mereka meminta bantuan tetangga Nono, untuk melaporkan kejadian itu kepada kantor polisi Jekulo.

”Kemudian petugas datang untuk melihat kondisi. Setelah itu petugas langsung membawa ke puskesmas Jekulo untuk diperiksa,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter Ani Fatmawati, korban murni melakukan bunuh diri. Sebab tidak ada luka lain selain bekas gantung diri yang menjerat pada leher bagian kiri.

Dari keterangan yang dihimpun kepolisian. Korban memang mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Bahkan selama hidupnya kakek itu harus rutin mengonsumsi obat.

Editor : Titis Ayu Winarni

Diduga Depresi, Seorang Suami di Grobogan Nekat Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

 

GROBOGAN – Peristiwa bunuh diri kembali terjadi di Grobogan. Sekitar pukul 14.00 WIB, Isngadi (35) warga Desa Tahunan, Kecamatan Gabus ditemukan tewas gantung diri.

Informasi yang didapat menyebutkan, sebelum kejadian, istri korban Farsilah sempat pamit pada suaminya untuk cari rumput buat pakan ternak. Sekitar dua jam kemudian, dia sudah kembali ke rumah dengan membawa rumput segar.

Setelah menaruh rumput di kandang, Farsilah kemudian menuju ke kamar untuk ganti pakaian. Namun, ketika masuk kamar, dia mendapati suaminya sudah tergantung di bawah pasak rumah dengan leher terjerat tali.

Melihat kejadian itu, istri korban kemudian berteriak minta tolong. Warga yang mendengar jeritan itu bergegas menuju rumah korban.

Sayangnya, saat diperiksa warga, korban didapati sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Kejadian itu selanjutnya dilaporkan pada perangkat desa dan diteruskan pada pihak kepolisian setempat.

Kapolsek Sulursari Iptu Abbas ketika dimintai komentarnya membenarkan adanya peristiwa gantung diri tersebut. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan korban murni melakukan tindakan bunuh diri dan tidak ditemukan bekas penganiayaan.

“Setelah kita periksa, korban kita serahkan pada keluarga untuk dimakamkan. Mengenai latar belakang, kemungkinan korban depresei lantaran masalah ekonomi,” katanya. (DANI AGUS/KHOLISTIONO)

Siswi SMA dan Pria 47 Tahun Bunuh Diri di Hari yang Sama

Ilustrasi Gantung Diri

Ilustrasi Gantung Diri

 

GROBOGAN – Peristiwa orang bunuh diri di Grobogan tampaknya perlu mendapat perhatian serius dari instansi terkait. Karena, sampai sekarang masih muncul kasus tersebut di beberapa tempat.

Hari Senin (21/12/2015) lalu misalnya, ada dua orang yang dilaporkan bunuh diri dalam waktu dan tempat berlainan. Peristiwa pertama terjadi di Desa Sulursari, Kecamatan Gabus sekitar pukul 09.00 WIB. Pelaku bunuh diri diketahui bernama Soegiman, warga setempat.

Pria 47 tahun itu ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya. Saat ditemukan, didekat tubuh korban terdapat sebuah botol racun serangga yang sudah kosong isinya.

Kapolsek Gabus Iptu Abbas ketika dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa orang meninggal dengan minum racun tersebut. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, orang tersebut memang murni meninggal dengan jalan bunuh diri.

“Mengenai latar belakangnya kemungkinan masalah rumah tangga. Sebelum bunuh diri, korban sempat SMS pada anak dan istrinya yang sudah cukup lama tinggal di Jakarta,” katanya pada wartawan.

Peristiwa orang bunuh diri kedua terjadi di Desa Kalisari, Kecamatan Kradenan sekitar pukul 16.30 WIB.

elakunya, seorang perempuan berusia 16 tahun yang diketahui bernama Distarisa. Pelajar SMA itu ditemukan tewas dengan cara gantung diri di kamar tidurnya. (DANI AGUS/AKROM HAZAMI)

Diduga Tak Bisa Bayar Hutang Lising, Warga Asal Blora Ini Gantung Diri

Gantung diri

Korban sedang dalam penangananan dokter dan petugas kepolisian di TKP. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

BLORA – Seorang laki-laki bernama Jojok Wahyu Heryanto (33) ditemukan gantung diri tak bernyawa oleh istrinya, Meti sekitar pukul 10.30 WIB. Korban ditemukan dalam kondisi leher tergantung di ruang depan pada rumah kontrakannya di Jalan Gatot Subroto Rt 03 RW 02, Kelurahan Kajangan, Kecamatan Blora.

Laki-laki yang beralamat asli Desa Jetis, RT 07 RW 02 Blora ini, nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Penyebab ia mengakihiri hidupnya masih belum diketahui pasti.

Kapolsek Blora, AKP Sudarno mengatakan dugaan korban melakukan gantung diri karena ada masalah internal keluarga. ”Ini murni gantung diri setelah dilakukan visum oleh tim medis di lokasi kejadian,” ujar Sudarno.

Warga sekitar tidak tahu pasti apa yang menyebabkan korban mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Karena korban memang jarang sekali komunikasi dengan warga.

”Tadi pagi ada lising yang datang ke rumahnya. Mungkin untuk menagih pembayaran motor. Tidak tahu setelah itu kelanjutannya, tahu-tahu ya sudah gantung diri,” tutur Ahmad warga sekitar. (RIFQI GOZALI/TITIS W)

Lansia di Rembang Ditemukan Tewas Gantung Diri

gantung_diri

 

REMBANG – Diduga stres,  seoarang petani di ketahui bernama Srikatun (65) warga Desa  Bangunrejo, RT 02/RW 02 Kecamatan Pamotan, Rembang, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara  gantung diri di langit-langit rumah dengan tali plastik, pada  Jumat  (2/10/2015) 18.30 WIB.

Berdasarkan informasi yang dihimpun,  korban pertama kali diketahui dalam posisi tergantung  di ruang tengah rumahnya oleh salah satu tetangganya bernama  Nur Kholisah (30) saat  menyalakan lampu dirumah korban yang dalam kondisi gelap  tidak  seperti  biasanya.Begitu listrik dinyalakan, Kholisoh mencoba masuk rumah dengan maksut mencari Srikatun, namun, alangkah terkejutnya, ketika masuk sampai diruang tengah, Kholisoh  melihat tubuh korban sudah dalam posisi tergantung  dengan seutas tali plastik  yang dikaitkan di langit-langit  rumah.

Melihat kondisi itu,  Kholisoh  langsung berteriak meminta tolong.  Sejumlah tetangga korban yang mendengar teriakan itu langsung berhamburan keluar rumah menuju rumah korban.Selanjutnya warga  langsung menurunkan jasad korban dengan  memotong tali yang menjerat leher korban.  Kemudian, tetangga korban menghubungi perangkat dan  kepala desa serta  Polsek Pamotan

Kapolres Rembang AKBP Winarto melalui Kasat Reskrim AKP Eko Adi Pramono saat dikonfirmasi mengatakan, berdasarkan hasil olah TKP dan hasil pemeriksaan  tim medis dari  Puskesmas Pamotan, bahwa korban meninggal  karena murni gantung diri.Hal itu  dibuktikan dengan adanya luka bekas di leher dan lidah yang menjulur.

”Di itubuh korban tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan.  Menurut keterangan keluarga dan tetangga, korban mempunyai  riwayat sakit jiwa dan  kadang-kadang sering kambuh. Selama ini korban  tinggal di rumah sendirian,” katanya. (KHOLISTIONO)

Depresi, Seorang Janda Asal Desa Mojoagung Gantung Diri

Petugas kepolisian dibantu keluarga korban, mengevakuasi jenazah S dari rumah khusus yang disediakan keluarganya di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Pati, Minggu (26/7/2105). (MuriaNewsCom/Lismanto)

Petugas kepolisian dibantu keluarga korban, mengevakuasi jenazah S dari rumah khusus yang disediakan keluarganya di Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil, Pati, Minggu (26/7/2105). (MuriaNewsCom/Lismanto)

PATI – Seorang janda berinisial S (34), warga Desa Mojoagung, Kecamatan Trangkil ditemukan tewas gantung diri, Minggu (26/7/2015). Dari keterangan pihak keluarga, S nekat gantung diri lantaran depresi.

Keluarga korban juga mengaku, S sudah mencoba bunuh diri dengan menceburkan diri ke sumur setahun yang lalu. Namun, S berhasil diselamatkan keluarga.

Korban ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan posisi menggantung pada ketinggian 4 meter. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan jeratan hitam melingkar di lehernya.

”Tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. Lidah tidak menjulur, karena terjerat dengan selendang. Dari keterangan keluarga, S memang depresi sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidup,” ujar Kapolsek Wedarijaksa AKP R Sulistyaningrum kepada MuriaNewsCom.

Dari informasi yang dihimpun, korban menderita depresi lebih dari 13 tahun dan sering mendapatkan pengobatan dokter Puskesmas di Kecamatan Trangkil. Lantaran pernah mencoba bunuh diri, korban ditempatkan keluarga di rumah khusus dengan ukuran 3×4 meter dan dikunci dari luar.

Pihak keluarga korban sudah mengikhlaskan kepergian S dengan membuat surat pernyataan di atas materai yang ditandatangani ayah korban dan diketahui kepala desa setempat. Selanjutnya, korban dimakamkan di tempat pemakaman setempat. (LISMANTO/TITIS W)

Keluarga Mengikhlaskan Kepergian Sudirjo

Suasana duka masih nampak di kediaman P. Sudirjo, pihak berwajib masih menelusuri penyebab Sudirjo bunuh diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana duka masih nampak di kediaman P. Sudirjo, pihak berwajib masih menelusuri penyebab Sudirjo bunuh diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Dengan meninggalnya Sudirjo (55) warga Desa Wates Kecamatan Undaan dengan cara gantung diri, Syaifudin salah satu putra almarhum mewakili pihak keluarga meminta supaya masalah ini tidak dibesar-besarkan.  Lanjutkan membaca

Jual Beli Tanah Berakhir Gantung Diri

Suasana duka masih nampak di kediaman P. Sudirjo, pihak berwajib masih menelusuri penyebab Sudirjo bunuh diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Suasana duka masih nampak di kediaman P. Sudirjo, pihak berwajib masih menelusuri penyebab Sudirjo bunuh diri. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

KUDUS – Terkait tewasnya Sudirjo (55) warga Desa Wates, Kecamatan Undaan tadi malam memang sempat menghebohkan warga sekitar. Sebab di sisi lain pria tersebut juga dikenal sebagai pribadi pendiam dan taat beribadah.  Lanjutkan membaca