Usai KPK Tangkap Bunda Sitha, Kini Nursholeh Ditunjuk jadi Plt Wali Kota Tegal

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tampak diiringi Wakil Wali Kota Tegal Nursholeh saat berkunjung ke kota tersebut, Kamis. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Tegal – Wakil Wali Kota Tegal M Nursholeh menggantikan wali kota Siti Masitha yang non-aktif selepas ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Surat Keputusan (SK) Pelaksana Tugas Wali Kota Tegal diserahkan langsung Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Kamis ( 31/8/2017).

Penyerahan dilakukan tanpa prosesi khusus. Ganjar awalnya memberi pengarahan pada pejabat dan ASN Pemkot Tegal. Setelahnya SK langsung diserahkan pada Nursholeh. “Semalam saya mendapat surat dari Mendagri tentang penunjukan pelaksana tugas, pagi ini saya tanda tangani,” kata Ganjar.

Gubernur meminta Nursholeh memimpin penataan organisasi dengan berkoordinasi bersama Pemprov Jateng dan KPK. “Poin yang penting itu gimana melayani rakyat agar kita dipercaya rakyat, gimana caranya kita punya kesadaran, caranya sabar, piye carane musibah ini jadi pelajaran agar tidak terulang terus,” pesan Ganjar.

Dalam penataan organisasi, Ganjar berpesan agar jabatan yang masih dipimpin Plt segera didefinitifkan. “Proses seleksi secara terbuka, tidak ada lagi jual beli jabatan,” tegasnya. 

Sementara itu Nursholeh menyatakan siap bekerja sepenuh hati setelah mendapat surat keputusan menjadi Plt Wali Kota Tegal.  “Yang pertama saya lakukan adalah mengikuti arahan dari Gubernur Ganjar Pranowo untuk kembali menata birokrasi di Kota Tegal,” terangnya.

Dia pun berharap agar seluruh jajaran birokrasi mengambil hikmah dari operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK terhadap Siti Mashita Soeparno dan tidak melakukan hal serupa karena akan menampar seluruh aparat Pemerintah Kota Tegal. 

Nursholeh mengakui adanya OTT KPK tersebut sangat tidak menggembirakan meski ada sebagian yang melakukan sujud syukur atas kejadian tersebut. “Ada yang menganggap ini kemenangan rakyat Tegal, terutama bagi PNS yang non job,” terangnya. 

Ganjar dalam kesempatan itu menyumpah seluruh pejabat dan ASN Tegal termasuk Nursholeh untuk berikrar antikorupsi . Ganjar sendiri memimpin sumpah. Ia mengucapkan lima sumpah yang ditirukan ASN dan wakil wali kota. Pertama bersumpah tidak akan korupsi, kedua menolak gratifikasi, ketiga tidak ada lagi setoran dari siapapun dalam bentuk apapun, keempat penataan organisasi tanpa jual beli jabatan, serta kelima melayani masyarakat dengan responsif dan terbuka.

“Bapak ibu sudah disumpah dan dicatat Allah, mulai detik ini harus dilaksanakan semua yang diucapkan tadi,” kata Ganjar.

“Siap!,” serempak seluruh ASN menjawab.

Ganjar menyatakan dirinya sangat senang berbincang dan memberi pidato pembekalan serta motivasi pada ASN. Namun yang tidak ia sukai adalah ketika pidato tersebut disampaikan di depan ASN yang pemimpinnya ditangkap KPK.

Ganjar juga menyatakan jabatan para aparatur sipil negara (PNS) yang di-nonjob-kan oleh Walikota nonaktif Siti Masitha harus dikembalikan. Mereka harus menduduki jabatan semula seperti yang diperintahkan pengadilan.

“Yang nonjob nonjob itu kembalikan, angkat lagi, sudah ada keputusan oengadikan harus dilaksanakan sebagai bentuk konstitusionalisme. Kita taat aturan, bahwa nanti ada evaluasi dan penataan yang penting haknya kembalikan dulu,” katanya.

Kritikan tersebut berdampak serius. Pada 21 April 2015, Sitha menerbitkan Surat Keterangan (SK) nonjob dan pembebasan jabatan kepada 15 PNS eselon II dan III. Khaerul Huda salah seorang PNS yang di nonjobkan menyebut terdapat sepuluh PNS eselon II dan lima PNS eselon III. Khaerul dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan. Khaerul memang dikenal vokal mengkritisi pemerintahan Sitha.

Penerbitan SK ini direspons dengan aksi unjuk rasa sejumlah PNS dan aktivis Kota Tegal. Mereka menggelar orasi dan melakukan aksi mogok bekerja di sejumlah instansi pemerintahan. Bukannya dicabut, jumlah PNS yang dicopot malah bertambah. Adalah Direktur Utama (Dirut) PDAM Kota Tegal, Bambang Sugiarto yang harus rela dicopot dari jabatannya pada 7 Mei 2015. Alasan Bambang dicopot diduga karena dirinya ikut serta dalam beberapa kali aksi menolak kepemimpinan Siti Masitha.

Mereka yang dinonjobkan kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dan menang. Masitha banding ke PTUN Surabaya namun kemenangan berpihak pada PNS. Hingga Masitha mengajukan peninjauan kembali ke Mahmakah Agung, keputusan tetap berpihak PNS. Meski demikian, sejak putusan berkekuatan tetap pada 2016, Masitha tak juga mengembalikan jabatan PNS.

Editor : Akrom Hazami

Kartu Jateng Sejahtera Diharapkan Sampai Ke Pelosok Daerah

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat membuka Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara. (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Kartu Jateng Sejahtera (KJS) tahun 2017 diluncurkan bersamaan dengan Pesta Rakyat Jateng di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017).

Dengan program tersebut, diharapkan masyarakat berkategori miskin, lansia, dan berkebutuhan khusus yang belum di-cover layanan kesehatan atau sosial lain dapat terbantu.

“Dengan kartu ini diharapkan bisa membantu terutama mereka yang dalam kondisi tua, dan sebagainya namun belum tercover bantuan apapun, dapat kita bantu,” ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. 

Ia menjelaskan, tahun ini program tersebut disokong oleh pemerintah provinsi. Sebelumnya, program tersebut didukung sepenuhnya oleh Bank Jateng. 

Terpisah Founder dan Inisiator Komunitas Sahabat Difabel Noviana Dibyantari berharap program tersebut dapat menyentuh mereka yang berada di pelosok wilayah Jawa Tengah. Karena, secara riil banyak sekali mereka yang membutuhkan akan tetapi tidak mendapatkan haknya. 

“Banyak sekali terutama mereka yang berkategori orang dengan kecacatan berat, di setiap kelurahan banyak yang tidak tercover (bantuan kesehatan atau sosial). Hal itu seringkali disebabkan karena pemerintahan setempat dalam hal ini RT, Lurah ataupun TKSK yang kurang responsif. Sehingga akhirnya mereka tak mendapatkan, padahal mereka berhak,” kata dia. 

Namun demikian, ia menyambut baik upaya pemprov Jateng tersebut. Akan tetapi ia menginginkan agar informasi ini disebar, agar warga didaerah pelosok mengetahui terkait program tersebut. Selain itu, dirinya juga ingin agar program ini dilaksanakan tepat sasaran. 

“Pemerintah sudah melaunching program ini, sekarang tugas kita sebagai warga adalah menyebarkan informasi ini. Agar masyarakat mengetahui dan setelahnya turut berpartisipasi, sehingga mereka mendapatkan haknya,” tuturnya. 

Editor: Supriyadi

Nembang di Pesta Rakyat Jateng, Siswi SMK NU Banat Kudus dapat Laptop dari Gubernur

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kanan) saat mendengarkan tembang dari salah satu peserta Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). (MuriaNewsCom/Padhang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bagi-bagi hadiah berupa sepeda dan laptop, disela pembukaan Pesta Rakyat Jateng 2017 di Alun-alun Jepara, Jumat (25/8/2017). 

“Ayo siapa siswa atau siswi di sini yang bisa nembang  macapat maju saya kasih hadiah, ayo cepat. Hadiahnya sepeda dan laptop. Satu orang saja, ayo cepat naik panggung,” kata Ganjar melalui pelantang suara.

Tawaran itu mulanya disambut dingin, namun setelah mendengar hadiah disebutkan setidaknya ada tiga orang yang merangsek menuju panggung utama. Peserta pertama kuis tersebut adalah Iko Abdullah, siswa dari SMK Islam Jepara. Namun sayang, rupanya ia tak mendengar tantangan Ganjar secara utuh. 

“Enggak saya gak bisa nyanyi macapat pak,” jawabnya menjawab pertanyaan Ganjar. 

Peserta kedua adalah siswi SMK NU Bannat Kudus Annisa Intan Barokah. Disaksikan Ganjar dan ratusan pengunjung Pesta Jateng 2017 ia menyanyikan sebuah tembang pocung. Namun hal itu tak membuat Gubernur puas. 

“Saya kok belum pernah mendengar pocung yang seperti itu ya, coba nyanyi yang lain,” ujar Ganjar. 

Annisa pun diminta untuk menyanyikan lagu lain. Kemudian siswi kelas XII jurusan fashion itu menyanyikan lagu khas Kudus yang menceritakan tentang perjuangan Sunan Muria dan lagu mars sekolahnya. Setelahnya ia pun disuruh memilih hadiah. 

“Saya mau laptop pak,” kata dia sambil tersenyum. 

Ganjar kemudian meloloskan permintaan siswi berumur 17 tahun itu.  

Editor: Supriyadi

Petani Tawangmangu Karanganyar Tiba di Boyolali

Petani tampak melakukan jalan kaki dari Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Boyolali – Petani Tawangmangu yang sedang laku jalan kaki menuju Kota Semarang, sampai di Boyolali, Selasa (15/8/2017) siang.  Mereka berencana mampir di rumah dinas Bupati Boyolali Seno Samodro.

Sebelumnya, rombongan sampai di Solo pada Senin (14/8/2017) malam. Mereka dipersilakan menginap di rumah pribadi Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Tiba di rumah Rudi (sapaan Hadi Rudyatmo) di Pucangsawit, Jebres, Solo, pukul 23.00 WIB. Ada 20 orang peserta jalan kaki langsung dipersilakan makan. Setelah kenyang, mereka pun beristirahat.

Pagi harinya, Selasa sekitar pukul 06.00 WIB, para petani sudah siap melanjutkan perjalanan. Rudi berkesempatan melepas keberangkatan dengan menitipkan beberapa pesan.

“Semoga bapak dan ibu semua diberi kelancaran dalam perjalanan, selalu menjaga kesehatan, istirahat secara berkala dan jangan memaksakan kaki, semoga selamat sampai tujuan,” kata Rudi.

Sebelumnya Ketua DPC PDIP Solo itu lebih dulu ngobrol dengan para petani. Ia mengapresiasi kesungguhan dan tekad petani dalam mendukung Ganjar Pranowo pada pencalonan Pilgub Jateng 2018. Rudi pun menitipkan salam untuk orang nomor satu di Jateng itu. “Kalau sudah sampai Semarang sampaikan salam untuk pak gubernur, nggih,” katanya.

Para petani yang memberi nama dirinya “Sedulur Tani Tawangmangu” berjalan kaki dari Tawangmangu ke Semarang untuk menemui Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Rombongan tersebut berangkat dari Tawangmanggu pada Senin (14/8) sore dan direncanakan tiba di Semarang, Kamis (17/8/2017). Mereka akan menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo usai upacara HUT RI ke 72.

Para petani berjalan kaki sebagai bentuk dukungan pada Ganjar dalam Pilgub Jateng 2018. Mereka ingin bertemu secara langsung sebagai perwujudan dukungan moral dari petani lereng Gunung Lawu.

Salah seorang pelaku jalan kaki, Suratno mengatakan, aksi jalan kaki tersebut merupakan bentuk syukuran atas kepastian Ganjar Pranowo maju sebagai bakal calon gubernur melalui DPD PDIP Jateng. Pihaknya merasa lega karena Ganjar telah mengembalikan formulir pendaftaran di kantor DPD PDIP Jateng, Jumat (11/8/2017) lalu.

“Kami para kadang tani berangkat sebagai relawan menuju Semarang untuk memberikan dukungan moral kepada Ganjar Pranowo bertarung di Pilgub yang akan datang. Begitu sampai di Semarang, kita nanti akan bergabung dengan relawan se-Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng,” kata Suratno asal Tawangmangu ini.

Hal senada juga disampaikan peserta aksi lainnya, Sutardi. Ia mengaku, keterlibatannya untuk berjalan kaki dari Karanganyar ke Semarang sebagai pelunas janji. Sebab, sebelum beberapa jam penjaringan internal PDIP ditutup, Ganjar Pranowo akhirnya bersedia mendaftarkan diri.

“Ini nazar saya mendukung Ganjar Pranowo kembali mengikuti Pilgub Jateng 2018. Meski rekomendasi belum turun, saya yakin jika Ganjar kembali dicalonkan PDIP akan memenangkan Pilgub. Pokoknya nek ora Ganjar ora,” ucapnya optimis.

Para peserta berjalan kaki mengenakan caping dan membawa bendara merah putih. Satu spanduk bertuliskan “Masyarakat Tawangmangu Peduli’ nampak dipegang oleh peserta kalan kaki  di barisan terdepan.

Editor : Akrom Hazami

Ganjar Ajak Keroyok Kemiskinan di Jateng

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menandatangani deklarasi antiradikalisme dan terorisme usai upacara HUT ke-67 Provinsi Jateng, Selasa (15/8/2017). (Humas Pemprov Jateng)

MuriaNewsCom, Semarang – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengajak semua pihak terutama pemerintah kabupaten/kota di Jateng untuk lebih serius menurunkan angka kemiskinan. Pasalnya, jumlah warga miskin di provinsi ini masih sangat banyak, dan angkanya jauh lebih tinggi dari angka nasional.

“Saya sampaikan di pidato saya tadi, kemiskinan masih tinggi, mesti dikeroyok bersama-sama,” kata Ganjar usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Jadi ke-67 Provinsi Jawa Tengah, di Lapangan Pancasila (Simpang Lima) Semarang, Selasa (15/8/2017).

Angka kemiskinan di Jawa Tengah saat ini masih berada pada angka 13,19 persen atau lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 10,70 persen. Ganjar mengaku, kondisi ini menjadi perhatian serius.

Karena, meski tiap tahunnya angka kemiskinan selalu mengalami penurunan namun angkanya masih belum terlalu signifikan.

Menurutnya, peran serta dan partisipasi kabupaten/ kota sangat penting untuk mengoptimalkan penurunan kemiskinan. Karena data yang ada selama ini selalu berubah dan berbeda-beda.

”Sehingga perlu keberanian melakukan introspeksi diri untuk memperbaiki kekurangan yang ada di birokrasi, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” ujarnya.

Selain kemiskinan, masih ada beberapa hal yang harus terus didorong dan dioptimalkan. Di antaranya pemberantasan pungli, peningkatan integritas, dan antikorupsi.

Karenanya, pemerintah harus mau berhijrah menjadi pemerintah yang responsif dan cepat merespon persoalan yang ada di masyarakat. “Inilah perbaikan yang sebenarnya kita harapkan dan masyarakat menunggu itu,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

Petani Jalan Kaki dari Tawangmangu Karangangar ke Semarang, Ternyata Demi Ini…

Petani Tawangmangu saat melakukan aksi jalan kaki dari Tawangmangu, Karanganyar, ke Kota Semarang. (Facebook)

MuriaNewsCom, Karanganyar – Ada yang beda dengan aksi petani ini. Adalah puluhan petani menggelar aksi jalan kaki dari Tawangmangu, Karanganyar, menuju Kota Semarang, Senin (14/8/2017). Rencananya mereka akan menemui Gubernur Jateng Ganjar Pranowo pada Kamis (17/8) usai upacara HUT RI ke 72.

Para petani berjalan kaki sebagai bentuk dukungan pada Ganjar dalam Pilgub Jateng 2018. Mereka ingin bertemu secara langsung sebagai perwujudan dukungan moral dari petani lereng Gunung Lawu.

Salah seorang pelaku jalan kaki, Suratno mengatakan, aksi jalan kaki tersebut merupakan bentuk syukuran atas kepastian Ganjar Pranowo maju sebagai bakal calon gubernur melalui DPD PDIP Jateng. Pihaknya merasa lega karena Ganjar telah mengembalikan formulir pendaftaran di kantor DPD PDIP Jateng, Jumat (11/8/2017) lalu.

“Kami para kadang tani berangkat sebagai relawan menuju Semarang untuk memberikan dukungan moral kepada Ganjar Pranowo bertarung di Pilgub yang akan datang. Begitu sampai di Semarang, kita nanti akan bergabung dengan relawan se-Jawa Tengah di kantor Gubernur Jateng,” kata Suratno asal Tawangmangu ini.

Hal senada juga disampaikan peserta aksi lainnya, Sutardi. Ia mengaku, keterlibatannya untuk berjalan kaki dari Karanganyar ke Semarang sebagai pelunas janji. Sebab, sebelum beberapa jam penjaringan internal PDIP ditutup, Ganjar Pranowo akhirnya bersedia mendaftarkan diri.

“Ini nazar saya mendukung Ganjar Pranowo kembali mengikuti Pilgub Jateng 2018. Meski rekomendasi belum turun, saya yakin jika Ganjar kembali dicalonkan PDIP akan memenangkan Pilgub. Pokoknya nek ora Ganjar ora,” ucapnya optimis.

Aksi jalan kaki dari pendukung Ganjar di tanah kelahirannya di kaki Gunung Lawu itu mengambil start di pertigaan Jalan Pringgo Sari Dusun Karangsari, Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangamanggu atau depan Rivel Hill pintu II grojokan Sewu. 

Sebelum berangkat, mereka menggelar prosesi upacara pelepasan yang dihadiri tokoh masyarakat setempat. Pemberangkan dilaksanakan sekitar pukul 16.00 WIB. Para peserta berjalan kaki mengenakan caping dan membawa bendara merah putih. Satu spanduk bertuliskan “Masyarakat Tawangmangu Peduli’ nampak dipegang oleh peserta jalan kaki  di barisan terdepan.

“Rencananya, kami akan mampir di rumah pribadi Pak Rudi (Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo)  malam ini. Rabu siang, kami juga berencana mampir di rumah dinas Pak Seno (Bupati Boyolali Seno Samodro),” tegas Sutardi.

Sebelumnya aksi dukungan muncul dari berbagai daerah setelah Ganjar memastikan mendaftar di DPD PDIP, Jumat (11/8). Di antaranya aksi nelayan di Rembang, petani tembakau Temanggung, Dulur Ganjar Banyumas, relawan Ganjar Kabupaten Semarang serta Demak. 

Editor : Akrom Hazami

 

Pasar Wergu Kudus Disidak Gubernur

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat melakukan sidak di Pasar Wergu di Kabupaten Kudus, Selasa (14/3/2017). (ISTIMEWA)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melakukan sidak pasar baru Wergu Kudus, Selasa (14/3/2017). Ganjar masih menemukan beberapa bagian pasar yang perlu pembenahan sebelum nantinya diresmikan akhir Maret 2017. 

Kondisi lantai keramik yang sudah pecah di Pasar Wergu. (ISTIMEWA)

 

Proyek senilai Rp 25 miliar dari Bantuan Keuangan Pemprov Jateng, tersebut menyisakan masalah berupa tembok retak dan lantai keramik pecah. Kondisi demikian tampak menyebar di gedung pasar. “Kontraktor harus tanggung jawab ini. Harus perbaiki yang rusak-rusak ini. Sebenarnya pasarnya bagus tapi listriknya pating crantol (semrawut),” kata Ganjar.

Tembok yang sudah retak di Pasar Wergu Kudus. (ISTIMEWA)

 

Pantauan di lokasi, tembok yang retak ada di kios pasar nomor 23, 25, 28, 31,32,  35, 36, 119, 133, dan 135. Sedangkan lantai keramik pecah terlihat di beberapa bagian, baik bagian depan maupun belakang. Tidak berhenti di situ, toilet pasar juga kotor. Di toilet itu, saluran air dan keran juga belum terpasang. “Baunya pesing,” ungkap Ganjar.

Kondisi pasar masih sepi aktivitas. Belum semua pedagang memindahkan barang. Hanya sejumlah pedagang sedang menambahkan pintu dan dasaran. Dalam kesempatan itu, Ganjar menuturkan, tahun 2016 Pemprov memberi bantuan pada Pemkab Kudus untuk revitalisasi tiga pasar tradisional. Tiga pasar itu adalah Pasar Piji, Pasar Wergu, dan Pasar Jekulo. Untuk dua pasar yakni Pasar Piji, mendapat bantuan provinsi Rp 15 miliar dan Pasar Wergu Rp 14,2 miliar.

“Tadi saya juga ngecek Pasar Piji belum jadi, yang di Pasar Wergu katanya sudah jadi tapi menurut saya belum karena masih ada banyak PR untuk kontraktor,” katanya.

Ini kondisi toilet baru yang tak layak pakai di Pasar Wergu Kudus. (ISTIMEWA)

 

Ganjar mendesak kontraktor Pasar Wergu untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang ada. Bahkan, seharusnya kontraktor memperbaiki sebelum aktivitas pasar resmi dimulai.

Tercatat, pasar di Kelurahan Wergu Wetan itu nantinya bisa menampung sekitar seribu orang pedagang. Pasar yang berdiri di area sekitar 22.000 meter persegi itu diproyeksikan jadi pasar induk atau grosir sayur dan beras.

Editor : Akrom Hazami

 

Ganjar : Kudus Aneh, Kemiskinan Rendah tapi Pengangguran Tinggi


Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memaparkan kondisi wilayah di provinsi setempat di Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memaparkan tentang kondisi wilayah Jateng yang masih banyak memiliki pekerjaan rumah (PR). Seperti tugas dalam mengentaskan kemiskinan yang masih menjadi persoalan bagi pemerintah.

Ganjar menyebutkan, di wilayah Eks Keresidenan Pati, Kudus adalah salah satunya. Baginya Kudus merupakan kota yang aneh. Kudus merupakan kota dengan tingkat kemiskinan yang rendah, tapi justru penganggurannya tinggi.

“Ini aneh, Kudus itu kemiskinan rendah. Bahkan dibandingkan dengan wilayah lain merupakan wilayah yang baik. Tapi anehnya itu pengangguran kok tinggi,” katanya saat sambutan di Pendapa Kabupaten Kudus dalam acara Musrenbang Wilayah, Selasa (14/3/2017).

Bahkan tingkat pengangguran di Kudus tertinggi di Eks Kerisidenan Pati.  Meski begitu, dia meyakini jika para penganggguran yang ada merupakan kalangan yang tak punya keterampilan. Sebab diketahui, di sektor bordir Kudus amat membutuhkan tenaga.

Secara general, Jateng masih mempunyai PR dalam hal pengetasan kemiskinan. Dirinya mengklaim menjadi gubernur yang gagal dalam mengentaskan kemiskinan.

“Mengenaskan kemiskinan beratnya minta ampun, saya harus mengakui gagal dan kok ya gak habis-habis itu kemiskinan di Jateng,” ucapnya .

Editor : Akrom Hazami

 

Gubernur Kunjungi Kudus Disambut Biola Bambu

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo berfoto bersama dengan pedagang dengan diiringi alunan biola bambu di pendapa Pemkab Kudus, Selasa. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, berkunjung ke Kudus, Selasa (14/3/2017). Kedatangan Ganjar di Pendapa Kabupaten Kudus, disambut dengan hiburan biola bambu lokal. 

Kedatangan Ganjar ke Kudus dalam rangka Musrenbang wilayah Jateng. Bertempat di Pendapa Kudus, Gubernur Jateng duduk bersama dengan Bupati se-Keresidenan Pati datang ke Kudus.

Gubernur nampak sumringah saat biola bambu dibunyikan. “Nah kalau ini tidak asing lagi, biola bambu Kudus. Sudah beberapa kali bertemu dengan ini. Ini biola bambu,” kata Ganjar.

Selain dihibur dengan biola bambu, Ganjar juga mendatangi sejumlah stan UMKM yang disiapkan khusus untuk kegiatan tersebut. Di antaranya adalah produk jenang, kerajinan tangan, konveksi Kudus serta stan pendidikan.

Ganjar juga mengaku kagum dengan SMK yang ada di Kudus, Yang mana mampu menunjukkan hal yang bagus dan inovatif. Seperti halnya SMK 1 Kudus yang ahli soal kulinernya, SMK Wisudha Karya (Wiskar) yang spesial pada maritim dan SMK Raden Umar Said (RUS) yang unggul dalam bidang animasi. 

Sejumlah pedagang menyambutnya serta meminta foto bersama dengan Gubernur. Dalam kesempatan itu, gubernur mempersilakan warga untuk memanfaatkan Musrenbang untuk pembangunan daerah. Mulai dari jalan rusak, pengembangan UMKM dan lainnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ganjar Temui Puluhan Nelayan di Juwana Terkait Kapal Cantrang

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Plt Bupati Pati Haryanto berdialog dengan nelayan di Kantor Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (18/1/2017) pukul 16.00 WIB. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo didampingi Plt Bupati Pati Haryanto berdialog dengan nelayan di Kantor Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (18/1/2017) pukul 16.00 WIB. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati Budiyono menemui puluhan nelayan di Kantor Kecamatan Juwana, Pati, Rabu (18/1/2017) sekitar pukul 16.00 WIB. Ganjar mendengarkan berbagai keluhan nelayan terkait dengan pelarangan kapal cantrang yang saat ini diberikan toleransi selama enam bulan.

Hadi Sutrisno, salah satu nelayan yang tergabung dalam komunitas nelayan Jawa Tengah meminta kepada Ganjar agar bisa mendorong pemerintah pusat untuk memperpanjang batas toleransi selama setahun. Perpanjangan toleransi diharapkan bisa dimanfaatkan nelayan untuk mengganti alat tangkap, termasuk modifikasi yang menghabiskan biaya mencapai Rp 3 Miliar.

“Kapal ikan menjadi sumber ekonomi masyarakat banyak, mulai dari bakul-bakul ikan, pekerja freelance, pasar, nahkoda, dan masih banyak lagi sumber ekonomi yang terdampak. Kami minta kepastian dan kejelasan soal masalah yang kami hadapi,” ujar Hadi.

Menurutnya, ada empat opsi utama yang bisa dilakukan nelayan cantrang. Pertama, persoalan peralihan alat tangkap. Di Juwana, hanya 30 persen nelayan yang sanggup beralih alat tangkap.

Kedua, mereka yang punya kapal cantrang dan tidak punya kapal lain terpaksa harus hutang kepada bank. Ketiga, mereka yang tidak bisa hutang bank lantaran terbentur aset atau agunan, satu-satunya cara adalah bekerja sama dengan investor atau nelayan lain.

Keempat, nelayan yang hanya memiliki kapal cantrang harus menjual kapalnya untuk mengganti alat tangkap sesuai dengan spesifikasi. “Pelarangan kapal cantrang berdampak besar pada sumber ekonomi perikanan. Kami berharap, pemerintah benar-benar memperhatikan nasib kami,” harapnya.

Menjawab keluhan tersebut, Ganjar berjanji akan mendatangkan pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI ke Juwana untuk mencari pemecahan solusi terhadap masalah yang membelit nelayan cantrang. “Saya akan menjembatani dengan menghadirkan KKP di sini,” kata Ganjar.

Editor : Kholistiono

Di Depan Marhaenis, Ganjar Ngaku Pernah Diminta Jatah Setoran Gubernur

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku pernah diminta jatah setoran Gubernur di depan Marhaenis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku pernah diminta jatah setoran Gubernur di depan Marhaenis. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

PATI – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku pernah diminta jatah setoran untuk jabatannya sebagai gubernur. Hal itu diungkap di depan Marhaenis dalam kegiatan temu kangen Keluarga Besar Marhaenis di Salza Convention Hall, Pati, Sabtu (16/1/2016).

”Salah satu teman saya pernah bilang, mana setoranmu jadi gubernur?” ungkap Ganjar. Namun, Ganjar mengaku tidak memberikannya.

Itu dijelaskan Ganjar saat membahas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang ditujukan pada Marhaenis. ”Kalau memang ngaku Marhaenis, harus berani menolak dengan apa yang namanya korupsi, kolusi, dan nepotisme,” tuturnya.

Ia menambahkan, Marhaenisme merupakan ideologi dari Ir Soekarno yang mestinya bukan hanya dijadikan sebuah pandangan imajinatif yang acapkali diucapkan, tetapi minim diterapkan. ”Perkataan dan perbuatan harus sama. Jangan pintar berpidato, tapi perbuatannya tidak sesuai,” tambahnya.

Pada akhir penjelasan, Ganjar mengajak kepada Marhaenis agar bisa belajar keteladanan dari perjuangan keras Bung Karno untuk Indonesia. ”Jangan sampai Bung Karno menangis di sana,” tutupnya. (LISMANTO/TITIS W)

Perbaikan Pascabanjir, Pemprov Butuh Ratusan Miliar

KOTA SEMARANG-Gubernur Jateng Ganjar Pranowo memperkiraka perbaikan pasca banjir, yang terjadi di wilayahnya mencapai ratusan miliar rupiah. Saat ini pemerintah sedang menginventarisasi kerugian materiil maupun nonmaterial.
Selama Januari 2014 bencana banjir melanda 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah, antara lain Kudus, Pati, Kebumen, Purworejo, Banyumas, Tegal, Batang, Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang, Kendal, Demak, Kota Semarang, dan Grobogan.
Menurut Ganjar, banjir yang terjadi di beberapa wilayah tersebut tak hanya mengakibatkan kerusakan infrastruktur tapi juga puluhan ribu hektare lahan pertanian. Namun, saat ini dia belum bisa mengkalkulasi dana yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan.
“Kami juga sudah punya dana pascabencana. Berapa dana yang dibutuhkan untuk perbaikan belum terlihat tapi jumlahnya kemungkinan bisa mencapai ratusan miliar,” katanya usai menghadiri peresmian instalasi pengolahan daur ulang sampah di kompleks Arhanudse 15, kemarin.
Saat ini, pemprov sedang menginventarisasi secara menyeluruh kerusakan yang diakibatkan bencana banjir dalam rentang dua pekan terakhir. Inventarisasi tersebut,bukan hanya infrastruktur tapi juga lahan pertanian.

Lanjutkan membaca