Ngotot Galian C Ditutup, Petani Kepuk Jepara Bakal Ngadu ke Gubernur

Pejabat dari Dinas ESDM Provinsi saat meninjau lokasi galian C di Desa Kepuk (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Pejabat dari Dinas ESDM Provinsi saat meninjau lokasi galian C di Desa Kepuk (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

 

   MuriaNewsCom, Jepara – Pejabat bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah didampingi pejabat di lingkungan Pemkab Jepara telah turun ke Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara dan melihat secara langsung ke lokasi galian C. Namun hal itu tidak lantas membuat para warga dan petani puas. Mereka tetap menginginkan agar aktifitas galian C di desa setempat ditutup.

Perwakilan petani Desa Kepuk, Purwono mengatakan, pihaknya tidak puas terhadap apa yang disampaikan Kepala Balai ESDM Kendeng Muria yang secara langsung hadir di Balai Desa Kepuk dan ke lokasi galian C. Sebab, keinginan petani agar aktifvitas galian C ditutup belum terwujud.

“Keinginan kami adalah galian C itu ditutup karena telah merugikan petani. Kami berharap agar ESDM Provinsi melalui Balai ESDM Kendeng Muria itu bisa menutup. Tetapi nyatanya belum ditutup,” ujar Purwono kepada MuriaNewsCom, Jumat (10/6/2016).

Menurutnya, awal pekan depan pihaknya berencana mengadu ke Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Hal itu dirasa perlu dilakukan agar persoalan galian C tersebut ada penyelesaian, dan keinginan petani dapat direalisasikan.

Sementara itu, Kepala Balai ESDM Kendeng Muria Imam Nugraha mengatakan, pihaknya tidak bisa secara langsung melakukan penutupan. Rencananya, pihaknya mengundang pemilik galian C tersebut untuk kemudian diminta menutup sendiri.

“Kami masih perlu mengkaji aktivitas penambangan tersebut. Jika memang dampak kerusakan yang terjadi besar, maka akan dilakukan tindak lanjut. Eksekutor masalah ini ada pada pihak kepolisian,” katanya.

 

Editor : Kholistiono

 

 

ESDM Jateng Minta Galian C di Desa Kepuk Jepara Ditutup Sementara

Tim pertambangan dari Provinsi Jateng saat meninjau lokasi pertambangan (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

Tim pertambangan dari Provinsi Jateng saat meninjau lokasi pertambangan (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Setelah mendengarkan aspirasi dari warga di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara, Kepala Balai ESDM Jawa Tengah wilayah Kendeng Muria, Imam Nugraha menyatakan, keluhan yang disampaikan warga terutama petani akan dipelajari. Sebab, pengusaha penambangan yang dikeluhkan petani mengantongi izin eksplorasi hingga Juli 2017.

Terkait dengan tuntutan petani, Imam mengatakan, agar tidak menjadi gejolak di masyarakat. Pihaknya akan meminta pengusaha tambang galian C di Desa Kepuk untuk berhenti sementara. Itu sembari mempersiapkan pengajuan perpanjangan izin dan pengurusan izin lainnya.

“Kami akan minta pada yang bersangkutan untuk berhenti sementara sambil menunggu kepastian layak dilanjutkan atau tidak,” kata Imam kepada MuriaNewsCom, saat meninjau lokasi galian C, Kamis (9/6/2016).

Menurutnya, dalam waktu dekat ini pihaknya akan memanggil pemilik galian C tersebut. Sebab, ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi berdasarkan keluhan warga dan pantauan di lokasi. Terlebih, untuk memperoleh izin secara lengkap banyak syarat yang harus dipenuhi pengusaha tambang.

“Seperti harus ada izin lingkungan, tidak menggangu aliran sungai, dan masih ada material yang ditambang. Berdasarkan keluhan warga, perlu kiranya kita klarifikasi ke pihak pemilik secara langsung, karena hari ini dia tidak hadir,” terangnya.

Sukar, petani warga RT 2 RW 1 Desa Kepuk menyampaikan, pihaknya beserta puluhan petani lainnya menghendaki aktivitas penambangan dihentikan. Itu lantaran, aktivitas penambangan dinilai telah merusak lahan pertanian.“Karena telah merusak area sawah, kami berharap depo (galian C) dihentikan,” ujar Sukar di tepi sungai Dukuh Sawahan desa setempat.

Hal senada disampaikan Syaadi, petani warga RT 4 RW 1 desa setempat. Syaadi beserta puluhan petani lainnya mengingkan kondisi tanah pertanian dikembalikan seperti semula. Katanya, sebelum ada aktivitas tambang, petani dalam setahun mampu panen tiga kali. Kemudian saat musim kemarau, petani tak takut kekurangan air.“Kami petani ingin kembali seperti dulu, setahun bisa panen tiga kali, saat kemarau tidak kering,” kata Syaadi.

Saat melakukan peninjauan lokasi galian C, Tim ESDM Jawa Tengah di dampingi EDSM Kabupaten dan Satpol PP Jepara. Selain itu juga ada Muspika Kecamatan Bangsri dan sejumlah warga, baik yang kontra maupun yang pro terhadap keberadaan galian C tersebut.

Editor : Kholistiono

Tim Pertambangan Provinsi Jateng Turun ke Desa Kepuk Jepara Terkait Persoalan Galian C

Tim pertambangan dari Provinsi Jateng melakukan pertemuan di Balai Desa Keduk (MuriaNewsCom/Wahyu KHoiruz Zaman)

Tim pertambangan dari Provinsi Jateng melakukan pertemuan di Balai Desa Kepuk (MuriaNewsCom/Wahyu KHoiruz Zaman)

MuriaNewsCom, Jepara – Menindaklanjuti persoalan galian C di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara. tim pertambangan Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini Balai ESDM wilayah Pati dan sejumlah pejabat terkait di tingkat Kabupaten Jepara turun ke Balai Desa Kepuk.

Pihak Balai ESDM wilayah Pati, Imam mengatakan, pihaknya baru pertama kali ke wilayah Desa Kepuk. Kehadirannya dimaksudkan untuk menampung semua aspirasi, baik dari warga yang kontra maupun yang pro terhadap keberadaan galian C.

“Keberadaan tambang harus memberikan manfaat dan tidak boleh merusak lingkungan. Misal, ketika di sungai, tidak boleh merubah arah aliran sungai dan tidak boleh menghambat irigasi,” ujar Imam saat membuka pertemuan tersebut, Kamis (9/6/2016).

Katanya,tahap izin ada banyak, di antaranya memiliki wilayah izin pertambangan dan izin yang lain, termasuk dokumen lingkungan, berupa perjanjian tidak merusak lingkungan. Termasuk di dalam pertambangan maupun di luar lingkungan.”Pertambangan di sini tidak terlalu besar, sehingga izinnya juga menggunakan izin dari bupati. Untuk itu, kami akan memanggil pemilik tambang untuk masalah perizinannya,” terangnya.

Harapannya, harus disadari bahwa potensi yang ada harus dikelola dengan baik dan benar. Termasuk aktivitas penambangan, karena untuk mendukung pembangunan.”Untuk itu, kami ke sini bermaksud mendengarkan aspirasi dari kedua belah pihak, yakni warga maupun pihak pelaku galian C,” terangnya.

Dia menambahkan, sejak Oktober 2015, sektor pertambangan sudah dialihkan ke tingkat provinsi. Meski begitu, diperlukan kepedulian dari tingkat kabupaten.

Sementara itu, Kepala Bidang ESDM pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara Ngadimin mengatakan, pertemuan seperti ini diharapkan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebab, menurutnya, persoalan tambang galian C bisa mendapatkan solusi asal dirembug bersama.

“Prinsipnya, warga yakni petani juga memiliki kepentingan dalam rangka masalah pangan. Pihak penambang juga memiliki kepentingan demi percepatan pembangunan. Jadi masing-masing harus ditampung. Jika ada masalah, bisa dibicarakan dengan baik,” imbuhnya.

Editor : Kholistiono

 

Pemkab Jepara Tak Mampu Kabulkan Tuntutan Petani Kepuk Jepara Terkait Galian C

Bendungan sungai yang roboh akibat dampak aktifitas galian C di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bendungan sungai yang roboh akibat dampak aktifitas galian C di Desa Kepuk, Bangsri, Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mendapatkan aduan dari petani yang berada di Desa Kepuk, Kecamatan Bangsri, Jepara soal aktifitas penambangan galian C meresahkan. Meski begitu, Pemkab Jepara tak mampu mengabulkan tuntutan petani yang menginginkan agar aktifitas galian C ditutup.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebupaten Jepara Trisno Santosa menjelaskan, pihanya sebagai aparat di tingkat Kabupaten Jepara tidak memiliki wewenang terkait penambangan yang ada. Sebab, wewenang sudah diambil alih semua oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov).

”Untuk itu, kami dengan para warga dan petani sepakat masalah ini akan disampaikan ke Pemprov karena wewenang ada disana semua,” ujar Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Rabu (1/6/2016).

Menurut dia, mengenai keluhan dan tuntutan yang disampaikan oleh petani tersebut telah sampai di pucuk pimpinan Pemkab Jepara yakni Bupati Jepara. Pihaknya juga mengaku diperintahkan untuk mampu menjembadani masalah ini dengan Satpol PP Provinsi Jawa Tengah.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bidang ESDM pada Dinas Bina Marga Pengairan ESDM Jepara, Ngadimin yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Menurut Ngadimin, pihaknya akan berkordinasi dengan ESDM Provinsi. Bahkan, rencananya dalam waktu dekat akan dilakukan inspeksi mendadak oleh Pemprov ke sejumlah aktifitas galian C di Jepara.

”Kami sebenarnya sudah mulai berkoordinasi dengan Pemprov. Nantinya akan ditinjau ulang masalah aktifitas penambangan tersebut yang dianggap warga dan petani menganggu itu,” ungkap Ngadimin.

Dia menambahkan, berdasarkan informasi yang dia terima dari ESDM Provinsi Jawa Tengah, galian C yang dikeluhkan oleh petani Desa Kepuk tersebut mengantongi ijin. Hanya saja, ketika menganggu lingkungan, maka akan dilakukan peninjauan kembali.

Editor: Supriyadi

Pemerintah Akui Aktivitas Galian C di Jepara Sulit Diatasi

galian-c

Salah satu dampak dari aktivitas galian C (MuriaNewsCom/Wahyu Khoiruz Zaman)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Aktivitas penambangan galian C di Jepara cukup banyak dan tersebar di beberapa wilayah, khususnya di bagian utara dan selatan. Dari aktivitas tersebut, sebagian di antaranya ilegal.

Untuk mengatasi aktivitas penambangan C yang ilegal tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara mengaku mengalami kesulitan.

“Galian C yang bermasalah atau ilegal itu sulit diatasi. Karena, hal itu sudah menjadi wewenang pemprov sepenuhnya, dan penindakan langsung ditangani pihak kepolisian,” kata Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Dinas Bina Marga Pengairan dan ESDM Jepara, Ngadimin kepada MuriaNewsCom, Senin (15/2/2016).

Baca juga : Penindakan Galian C Bermasalah di Jepara Kini Jadi Urusan Polisi

Menurut dia, persoalan galian C ilegal tersebut sudah ada sejak lama. Tetapi penindakan yang sudah dilakukan bagi penambang ilegal pun belum mampu membuat jera. Pasalnya, ketika sudah diberi sanksi bahkan dilakukan penyitaan alat, para pelaku penambang ilegal tidak kapok.

“Sudah banyak upaya penindakan yang dilakukan. Dulu dari Satpol PP juga sering melakukan penindakan. Kemudian dari polisi juga demikian, telah melakukan penindakan. Tetapi tidak kemudian membuat mereka jera,” ungkapnya.

Dia menambahkan, khusus untuk di Kabupaten Jepara,aktifitas penambangan ada di wilayah utara dan selatan. Namun, untuk wilayah selatan tidak ada gejolak dari warga sekitar terhadap keberadaan aktivitas mereka. Sedangkan di wilayah utara memang diakuinya banyak laporan warga terkait masalah penambangan ilegal.

Editor : Kholistiono

Satpol PP Jepara Siap Bertindak Atasi Galian C Meresahkan

Salah satu aktivitas pertambangan galian C di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu aktivitas pertambangan galian C di Kabupaten Jepara. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Wewenang pengelolaan tambang yang sudah beralih sepenuhnya ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) tak membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jepara diam. Kepala satpol PP Jepara Trisno Santosa menyatakan siap proaktif untuk mengatasi masalah aktivitas pertambangan ilegal maupun meresahkan warga.

Menurut Trisno, penindakan dilakukan secara intensif melakukan razia dan memberi peringatan kepada usaha tambang ilegal, maupun yang legal tapi merusak lingkungan sekitar sehingga meresahkan masyarakat.

”Meski kami hanya memiliki wewenang untuk memberikan peringatan, kami akan melakukan kordinasi intensif dengan Satpol PP Provinsi dan mengusulkan segera melakukan penindakan tegas kepada tambang galian C yang tidak mengindahkan peringatan,” ujar Trisno kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, untuk saat ini, pihaknya baru melakukan verifikasi data berdasarkan laporan dari masyarakat dan data dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Jepara. Hal itu dilakukan untuk menentukan status tambang. Apakah tambang yang dikeluhkan warga murni meresahkan warga karena merusak lingkungan, atau memang juga tidak berizin.

Dia mengakui, meski usaha tambang galian C yang ilegal maupun merusak lingkungan di Jepara cukup tinggi, Satpol PP Jepara tidak bisa berbuat banyak. Pihakya hanya sebatas bisa memberikan peringatan atau teguran dan mendorong agar Satpol PP Provinsi melakukan tindakan tegas. (WAHYU KZ/TITIS W)

Aktivitas Galian C di Nalumsari Jepara Meresahkan Warga

Salah satu truk pengangkut hasil galian C dari Nalumsari melintas di Mayong, Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu truk pengangkut hasil galian C dari Nalumsari melintas di Mayong, Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Aktivitas penambangangalian C di wilayah Kecamatan Nalumsari ternyata cukup meresahkan warga. Tak hanya aktivitas yang mengancam kerusakan lingkungan akibat pengerukan tanah yang berlebihan, tetapi juga aktivitas penganggkutan yang menjadi persoalan yang tak kunjung usai.

Padahal, mengenai pengangkutan hasil galian C sudah kerap dirazia petugas kepolisian Polres Jepara. Tetapi nyatanya masih mudah dijumpai pengangkut hasil galian C melanggar peraturan lalu lintas, baik mengenai tonase maupun aturan kendaraan bermuatan lainnya.

Salah seorang warga dari Desa Daren, Kecamatan Nalumsari Muhlis mengatakan, aktifitas penambangan galian C di kawasan Kecamatan Nalumsari sudah berlebihan. Belasan truk pengangkut hasil galian C kerap memenuhi jalur alternatif Jepara – Kudus tersebut.

“Setiap kali melintas di Jalan Nalumsari, saya bisa menemukan belasan truk yang silih berganti mengangkut tanah hasil galian C,” ujar Muhlis kepada MuriaNewsCom, Sabtu (28/11/2015).

Dia menilai aktivitas galian C sejak bertahun-tahun lamanya itu sudah berlebihan. Bekas galian C yang berada di tengah sawah juga sudah terlalu dalam sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk pertanian lagi. Parahnya, area sawah yang tidak ditambang ikut dirugikan lantaran permukaan tanah yang sudah tidak seimbang.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa mengatakan, pihaknya mencatat, berdasarkan laporan dari masyarakat maupun data dari Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) Jepara, memang banyak terdapat tambang galian C yang meresahkan warga dan ilegal. Jenis tambang ini didominasi oleh galian C jenis tanah, pasir dan batu. Lokasinya banyak terdapat di Jepara baigan utara, tengah dan selatan.

“Di Jepara utara banyak terdapat di Kecamatan Kembang dan Keling, wilayah tengah di Kecamatan Batealit, dan wilayah selatan di Kecamatan Nalumsari,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ini Kronologi Kecelakaan Truk Dam Hingga Memakan Korban Jiwa

Sepeda motor bernopol K 5964 NC milik korban tewas Septian Febriyanto (15) masih diperiksa pihak kepolisian. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sepeda motor bernopol K 5964 NC milik korban tewas Septian Febriyanto (15) masih diperiksa pihak kepolisian. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Truk dam pengangkut hasil galian C di Kecamatan Nalumsari mengakibatkan salah seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia. Hal itu terjadi ketika kecelakaan lalu lintas terjadi di Desa Bendanpete, Kecamatan Nalumsari, Jepara tak jauh dari balai desa setempat, Minggu (15/11/2015). Dari hasil pemeriksaan para saksi-saksi, pihak kepolisian mengetahui kronologi peristiwa tersebut.

Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiyono menerangkan kronologi peristiwa tersebut. Menurut dia, peristiwa bermula dari korban meninggal bernama Septian Febriyanto (15) yang mengendarai sepeda motor bernopol K 5964 NC melaju dari arah utara (Jalan yang menghubungkan Desa Ngetuk – Desa Bategede), sesampai di tempat kejadian perkara (TKP), korban hendak menyalip truk dam. Tetapi, dari arah selatan (Bendanpete – Ngetuk) ada pengendara bernopol B 4142 JW yakni korban luka bernama Hernik Sulistiyowati (18).

”Kemudian terjadilah kecelakaan lalu lintas. Septian Febriyanto terjatuh dan terkena truk dam yang hendak disalipnya hingga meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar Sugiyono kepada MuriaNewsCom.

Menurut dia, usai kejadian truk dam melarikan diri. Sebagaimana keterangan para saksi, ada dugaan korban meninggal akibat terlindas truk dam yang memang bertonase tinggi.

Korban luka-luka dilarikan ke rumah sakit islam (RSI) Kudus, yang jaraknya relatif lebih dekat dari lokasi kejadian. Sedangkan supir truk dam sempat melarikan diri dan dalam proses penyelidikan pihak kepolisian.

”Setelah mendapatkan informasi, kami mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan terhadap para saksi-saksi. Ada dua saksi yang kami mintai keterangan dan memang kecelakaan melibatkan truk dam yang melintas,” imbuhnya. (WAHYU KZ/TITIS W)

Truk Dam Galian C Makan Korban Jiwa di Jepara

Pihak kepolisian melakukan olah TKP kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk dam hingga memakan korban jiwa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Pihak kepolisian melakukan olah TKP kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk dam hingga memakan korban jiwa. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Truk dam atau pengangkut hasil tambang galian C di wilayah Kecamatan Nalumsari memakan korban jiwa. Satu orang tewas akibat tertabrak truk dam dalam kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Desa Bendanpete, Nalumsari, Jepara.

Kapolsek Nalumsari Iptu Sugiyono menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (15/11/2015) siang. Dalam musibah tersebut, satu orang remaja tewas bernama Septian Febriyanto (15), warga Desa Pringtulis, RT 03 RW 03, Kecamatan Nalumsari, Jepara. Selain itu, korban lain yakni Hernik Sulistiyowati (18), warga Desa Muryolobo, RT 01 RW 06, mengalami luka-luka pada kaki kanannya.

”Korban bernama Septian meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP), yang tak jauh dari Balai Desa Bendanpete. Sedangkan korban lain yakni Hernik mengalami luka-luka di kaki kanannya,” ujar Sugiyono kepada MuriaNewscom.

Menurut dia, korban luka-luka dilarikan ke rumah sakit islam (RSI) Kudus yang jaraknya relatif lebih dekat dari lokasi kejadian. Sedangkan supir truk dam sempat melarikan diri dan dalam proses penyelidikan pihak kepolisian.

”Setelah mendapatkan informasi, kami mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan terhadap para saksi-saksi. Ada dua saksi yang kami mintai keterangan dan memang kecelakaan melibatkan truk dam yang melintas,” kata Sugiyono. (WAHYU KZ/TITIS W)

Warga Bangsri Jepara Protes Soal Truk Pengangkut Galian C

Spanduk yang dipasang warga Bangsri, sebagai bentuk protes terhadap truk pengangkut galian C (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Spanduk yang dipasang warga Bangsri, sebagai bentuk protes terhadap truk pengangkut galian C (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Warga Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara melakukan aksi protes terhadap keberadaan truk pengangkut hasil tambang galian C. Aksi protes tersebut dilakukan dengan cara memasang sejumlah spanduk.

Dari pantauan MuriaNewsCom, ada sejumlah spanduk yang bertuliskan ungkapan protes para warga tersebut. Bahkan mereka dalam protesnya juga menuntut agar aktifitas penggilingan batu dihentikan. Hal itu dilakukan atas kekecewaan para warga terhadap truk pengangkut yang melintas di jalan yang dipasangi spanduk itu.

Kepala Satpol PP Kabupaten Jepara Trisno Santoso menjelaskan, aksi protes warga tersebut dilakukan di RW 01 Desa Bangsri. Mereka menuntut perjanjian yang sebelumnya dibuat oleh penambang dengan warga ditepati, terkait uang kompensasi.

“Mereka menuntut uang kompensasi yang belum dibayar tiga tahun. Setahunnya Rp 15 juta, tapi warga hanya menuntut dua tahun saja yang dibayar,” ujar Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Rabu (11/11/2015).

Menurutnya, secara prinsip, aktivitas penambangan di kawasan Watu Lumpang Bangsri tersebut tidak menyalahi aturan. Pasalnya, penambang mengantongi izin. Selain itu, Trisno mengatakan, aktivitas tambang juga tidak merusak lingkungan. “Kami tidak bisa menekan karena sebelumnya sudah ada kesepakatan antara warga dengan pihak penambang,” katanya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Truk Bermuatan Galian C Kerap Ganggu Pengguna Jalan

Salah satu pengendara sepeda motor yang berbarengan dengan truk pengangkut tambang melintas di jalan Jepara - Kudus. Kondisi truk yang tanpa penutup muatan itu menganggu pengendara lain.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Salah satu pengendara sepeda motor yang berbarengan dengan truk pengangkut tambang melintas di jalan Jepara – Kudus. Kondisi truk yang tanpa penutup muatan itu menganggu pengendara lain.(MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Di jalan Nalumsari – Mayong Jepara, kerap dijadikan jalur distribusi hasil tambang Galian C dari wilayah Nalumsari. Namun, truk pengangkut hasil tambang itu kerap kali tak memenuhi standar pengangkutan barang, yakni tak menggunakan penutup. Akibatnya, tak jarang mengganggu pengguna jalan.

Salah satu pengguna jalan yang mengaku kerap terganggu adalah Daviq, warga Kalinyamatan Jepara. Menurut dia, setiap hari dirinya yang melintas di jalan raya Nalumsari – Mayong kerap berbarengan dengan truk yang mengangkut tanah.

“Kalau musim kemarau begini, tanahnya kemana-mana dan debu semakin bertambah. Otomatis mengganggu. Apalagi banyak yang muatannya tinggi-tinggi, dan muatannya sering jatuh,” ujar Daviq kepada MuriaNewsCom, Selasa (8/9/2015).

Menurutnya, tak hanya ketika musim kemarau seperti ini yang mengakibatkan bertambahnya debu di jalan. Namun juga ketika musim penghujan. Bahkan, ketika musim hujan, tanah yang jatuh ke tanah dari truk justru semakin membahayakan pengendara lain. ”Saya pernah terpeleset karena jalannya licin, ada tanah liatnya,” katanya.

Dari pantauan MuriaNewsCom, muatan berupa tambang tanah itu, kerap menimbulkan polusi di jalur provinsi yang menghubungkan Kudus – Jepara tersebut. Selain menimbulkan debu, tanah Galian C ini juga kerap tercecer di jalan. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Parah! Truk Bermuatan Galian C di Jepara Banyak yang Tak Gunakan Penutup

Sejumlah truk pengangkut hasil galian c di jalan Kudus-Jepara banyak yang melanggar aturan lalu lintas (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Sejumlah truk pengangkut hasil galian c di jalan Kudus-Jepara banyak yang melanggar aturan lalu lintas (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

 

JEPARA – Aktifitas distribusi hasil penambangan Galian C di wilayah Nalumsari Jepara banyak yang melanggar aturan tertib lalu lintas. Truk yang digunakan untuk mengangkut material tanah kerap tak diberi penutup muatan.

Dari pantauan MuriaNewsCom, truk pengangkut material tanah hasil tambang Galian C itu, setiap hari melintas di jalun Nalumsari – Mayong. Tak hanya segelintir truk saja, namun, dalam sekali jalan ada belasan hingga puluhan truk.

Menanggapi hal itu, Kasatlantas Polres Jepara AKP Andhika Wiratama mengatakan, pihaknya mengaku sudah kerap mendapatkan laporan mengenai truk Galian C itu. Namun, mereka kerap membandel dengan tetap tidak menggunakan penutup muatan.

“Kami sudah pernah melakukan penindakan, tapi masih saja ada yang bandel,” ujar Andhika kepada MuriaNewsCom.

Dia menerangkan, dasar hukum pelanggaran adalah Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Anggkutan Jalan. Ia menjelaskan, dalam UU tersebut diterangkan, jika pengemudi atau perusahaan angkutan umum barang wajib mematuhi ketentuan mengenai tata cara pemuatan, daya angkut, dimensi kendaraan dan kelas jalan.

“Kami mengimbau agar penambang tanah maupun sopir menutup muatan galian tanah itu dengan terpal yang utuh agar tak menimbulkan polusi,” katanya.

Dia menambahkan, dari hasil pantauannya, ada truk yang membandel dengan tak menggunakan tutup. Adapula yang sudah menutup, dengan tutup yang belum sempurna.

“Kami akan beruapaya untuk menertibkan bagi kendaraan Galian C yang belum memenuhi ketentuan lalulintas,” ucapnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Ada Satpol PP Datang, Pekerja Galian C di Desa Kaligarang Langsung Kabur

Petugas Satpol PP Jepara saat mendatangi lokasi galian C (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petugas Satpol PP Jepara saat mendatangi lokasi galian C (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara mengambil tindakan berkait aktivitas pertambangan galian C dengan mendatangi sejumlah lokasi pertambangan, Selasa (4/8/2015).

Namun, ketika mereka datang sejumlah pekerja galian C malah melarikan diri. Akibatnya, aparat tidak bisa mendapatkan banyak keterangan.

”Berdasarkan laporan dari masyarakat dan surat dari Pak Gubernur, kami melakukan razia tempat pertambangan galian C. Tapi, ketika kami datang, para pekerja langsung kabur,” ujar Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Selasa (4/8/2015).

Menurutnya, akibat para pekerja kabur, pihaknya tidak bisa mendapatkan banyak keterangan terkait keberadaan aktifitas mereka itu. Meski demikian, pihaknya memberikan peringatan kepada pemilik galian C itu untuk tidak beroperasi lagi lantaran ilegal.

”Aktivitas tambang galian C di Desa Kaligarang tak mengantongi izin. Selain itu, aktivitas tambang juga telah merusak aliran sungai dan tanah Perhutani,” kata Trisno.

Lebih lanjut dia mengemukakan, ada tiga lokasi tambang galain C yang didatangi, yaitu tambang galian C di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, di Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, dan di Desa Kaligarang, Kecamatan Keling. Satu galian C diberi peringatan, satu galian C sudah tak beroperasi dan satu galian C masih wajar dan ada izinnya.

”Untuk tambang galian C di Desa Tengguli, aktivitas tambang dinilai masih wajar dan mengantongi ijzin. Sedangkan yang di Desa Jenggotan aktivitas tambang sudah berhenti setelah ada kesepakan dengan warga desa setempat. Sementara yang di Kaligarang memang masih beroperasi, tapi saat kami datang pekerjanya langsung kabur semua,” terangnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Satpol PP “Hanya” Beri Peringatan Terhadap Pemilik Galian C Ilegal di Desa Kaligarang

Satpol PP mendatangi sejumlah lokasi aktifitas pertambangan galian C di Jepara, Selasa (4/8/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Satpol PP mendatangi sejumlah lokasi aktifitas pertambangan galian C di Jepara, Selasa (4/8/2015). (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Setelah menerima banyak keluhan dari masyarakat dan pemberitaan di media massa terkait keberadaan penambangan galian C ilegal, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Jepara akhirnya mengambil tindakan. Mereka mendatangi sejumlah tempat yang digunakan aktifitas pertambangan galian C di Jepara, Selasa (4/8/2015).

”Ada tiga lokasi yang kami datangi tambang galian C di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri, di Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, dan di Desa Kaligarang, Kecamatan Keling,” ujar Kepala Satpol PP Jepara Trisno Santosa kepada MuriaNewsCom, Selasa (4/8/2015).

Hasilnya, dari tiga lokasi galian C yang didatangi, satu pertambangan galian C akan diberi peringatan, karena dinilai telah merusak lingkungan. Tambang galian C yang diberi peringatan adalah galian C milik Yanto, warga Desa Kaligarang, Kecamatan Keling, Jepara. Galian C di Sungai Kaligarang itu tidak hanya merusak lahan milik warga, tetapi juga lahan milik Perhutani.

”Aktivitas tambang galian C di Desa Kaligarang tak mengantongi ijin. Selain itu, aktivitas tambang juga telah merusak aliran sungai. Selain itu juga sebagian berada di tanah milik Perhutani,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Galian C di Tanah Perhutani Dibiarkan, Kades Kaligarang : Ada Apa?

Bekas aktivitas galian C di kawasan Perhutani. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bekas aktivitas galian C di kawasan Perhutani. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Petiggi atau Kades Desa Kaligarang, Kecamatan Keling merasa terheran-heran adanya aktifitas pertambangan galian C yang berada di tanah milik Perhutani, namun dibiarkan saja. Padahal, dengan aktifitas itu, Perhutani jelas dirugikan lantaran banyak pohon yang rusak.

”Saya sangat heran, kenapa dibiarkan begitu saja. Padahal sudah berapa banyak pohon milik Perhutani yang rusak atau bahkan hilang akibat aktifitas itu,” ujar Petinggi Desa Kaligarang Sukono kepada MuriaNewsCom.

Menurutnya, selama ini pihaknya telah berupaya menanyakan hal itu kepada pihak perhutani, namun dia hanya janjikan akan menindaklanjuti masalah galian C itu. Tapi nyatanya sampai saat ini aktifitas galian C tersebut masih beroperasi.

”Saya sendiri sudah sempat menanyakan soal itu. Tapi jawabnya hanya nanti diupayakan untuk ditindaklanjuti,” kata Sukono.

Lebih lanjut Sukono mengemukakan, pihaknya lebih terheran-heran lagi lantaran ada salah satu warganya yang mengambil satu pohon milik Perhutani, namun sampai dipenjara hingga empat bulan. Tapi, dengan aktifitas galian C tersebut, sudah banyak pohon yang rusak dan hilang justru beluma ada tindaklanjut yang jelas.

“Warga saya ada yang harus dipidana hingga empat bulan. Tapi, adanya galian C yang merusak itu, sampai saat ini tenang-tenang saja. Sehingga warga sini sangat kesal,” ungkapnya.

Dia menambahkan, awalnya lokasi aktifitas pertambangan galian C di Desa Kaligarang tersebut hanya berada di tanah milik Perhutani. Namun, lama-lama merambah ke tanah milik warga. Bagi warga yang emosi, lanjut Sukono, tanah miliknya akan langsung dijual.

“Banyak warga yang emosi karena tanah mereka ikut rusak akibat galian C yang menggunakan alat berat itu. Jadi mereka menjual sekalian tanahnya. Padahal tak jarang yang masih menggantungkan hidup mereka dari lahan tersebut untuk bercocok tanam,” imbuhnya.

Sementara itu, pihak Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati yang membawahi Perhutani Jepara sampai saat ini belum dapat dikonfirmasi atas keluahan warga dan Petinggi Desa Kaligarang tersebut. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Soal Galian C, Ini Kata Kades Kaligarang

Bekas aktifitas galian C di Desa Kaligarang (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Bekas aktifitas galian C di Desa Kaligarang (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA –Aktivitas pertambangan galian C di Desa Kaligarang, Kecamatan Keling dinilai meresahkan warga. Bahkan, Petinggi atau Kepala Desa Kaligarang sendiri juga mengaku resah dengan keberadaan galian C tersebut. Pasalnya, pihaknya sempat mendapat desakan dan tuntutan dari warganya untuk mengatasi masalah keberadaan galian C tersebut.

“Warga pernah kumpul di balai desa, meminta kepada saya untuk menghentikan aktifitas galian C yang meresahkan warga,” kata Petinggi Desa Kaligarang Sukono kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/7/2015).

Menurutnya, setelah mendapatkan desakan dari para warganya, dia sempat melapor kepada sejumlah pihak. Termasuk ke pihak kepolisian, dan ke pemerintah di atasnya baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Namun, hasilnya masih nihil.

“Informasi yang saya dapat, urusan pertambangan sudah tidak di kabupaten, tapi langsung provinsi. Setelah mengetahui itu, saya pribadi jadi putus asa, karena bingung harus kemana lagi minta bantuan,” katanya.

Lebih lanjut dia mengemukakan, yang membuat warga resah terhadap keberadaan pertambangan itu adalah dampak yang ditimbulkan. Misalnya sebagian tanah milik warga terkena kerukan, dan kerusakan pada saluran pengairan bagi warga sekitar.

“Di arsip desa, tidak ada laporan izin mengenai aktifitas itu. Jadi saya sendiri juga tidak mengetahui siapa pemilik pertambangan galian C itu,” imbuhnya. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Tanah Dikeruk, Petani Kaligarang Protes Aktivitas Tambang Galian C

Bekas aktifitas tambang galian C di Desa Kaligarang, Keling, Jepara (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Setelah sebelumnya warga dan petani di Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara mengeluhkan aktifitas tambang galian C, dan bahkan sempat melakukan aksi memutus akses jalan ke lokasi pertambangan dengan membongkar jembatan, kini giliran warga Desa Kaligarang, Kecamatan Keling yang mengeluhkan aktifitas tambang galian C.

Salah satu warga desa setempat, Surpri mengatakan, aktifitas pertambangan galian C di area persawahan dan perkebunan telah meresahkan warga. Terutama para petani yang memiliki tanah di dekat lokasi aktifitas pertambangan. Sebab, tak sedikit lahan yang semestinya milik petani tapi malah ikut dikeruk.

”Punya adik saya mas, ikut dikeruk lebih dari sepuluh meter. Terus diperingatkan dengan keras baru berhenti. Kalau tidak, semuanya kena mas,” ujar Surpri kepada MuriaNewsCom, Kamis (30/7/2015).

Menurutnya, aktifitas pertambangan dengan mengeruk tanah untuk mengambil batu itu telah dimulai sejak sekitar empat tahun lalu dan hingga kini aktifitasnya masih berlangsung. Meski lokasinya cukup jauh dari pemukiman warga, namun dirinya menyesalkan lantaran dengan aktifitas itu, dia sulit mengairi sawah.

”Kalau tanah milik adek saya, terpaksa setelah dikeruk dengan kedalaman sekitar 10 meter itu ditanami lagi di bawah. Ini sangat merugikan,” keluhnya.

Dia mengeluhkan tidak tahu harus melapor ke siapa. Sebab, dia sudah melaporkan hal itu ke kepala desa. Namun kepala desa atau petinggi sendiri tidak mengetahui harus bagaimana. ”Saya orang kecil mas, tidak tahu apa-apa. Mau melapor ke siapa lagi, nda tahu mas,” tutupnya.

Lokasi pertambangan di Desa Kaligarang itu memang cukup jauh dari pemukiman warga. Justru lokasinya dekat dengan wilayah perhutani. Sebagian tanah yang telah dikeruk kini berlubang dengan kedalaman lebih dari 10 meter, dan membentuk jurang. Sebagian petani yang tanahnya terkena kerukan terpaksa kembali menanami tanah dengan kedalaman yang cukup curam itu. (WAHYU KZ/KHOLISTIONO)

Galian C di Kali Talang Jenggotan Meresahkan Petani

Petani di sekitar lokasi pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara kesal dengan aktifitas tambang yang berimbas pada keruh dan rusaknya kualitas air sungai yang biasa digunakan pengairan sawah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Petani di sekitar lokasi pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara kesal dengan aktifitas tambang yang berimbas pada keruh dan rusaknya kualitas air sungai yang biasa digunakan pengairan sawah. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Aktivitas pertambangan galian C di Kali Talang Desa Jenggotan, Kecamatan Kembang, Jepara tak hanya dianggap meresahkan warga saja. Tapi juga petani yang ada di sekitar lokasi pertambangan itu.

Salah seorang petani, Rohmad mengatakan, aktifitas pertambangan yang telah berjalan sekitar 4 tahun itu sangat merugikan petani. Sebab, selain merusak sebagian area pertanian sawah, juga merusak pengairan.

”Yang dikeruk dan diambil kan pasir dan batu yang ada di sekitaran kali dan area sawah. Batunya diambil, air jelas keruh dan rusak,” ujar Rohmad kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, selain merusak area persawahan, juga merusak sungai. Bahkan, sebagian area sawah milik petani yang menjadi ikut rata dengan sungai. ”Aktifitasnya sendiri juga sangat mengganggu,” katanya.

Dia menambahkan, selama ini para petani sudah bersabar dengan keberadaan aktifitas tambang itu. Namun, kali ini kekesalan sudah memuncak. Sebab, lahan yang dikeruk dianggap sudah sangat keterlaluan lantaran sudah banyak area sawah yang menjadi korban. Sehingga petani terpaksa memanfaatkan lahan sisa galian untuk ditanami. (WAHYU KZ/TITIS W)

Jembatan Akses Jalan Galian C di Desa Jenggotan Dirusak Warga

Beberapa warga masih berada di area jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara, menutup akses jalan dengan bongkahan batu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

Beberapa warga masih berada di area jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Jepara, menutup akses jalan dengan bongkahan batu. (MuriaNewsCom/Wahyu KZ)

JEPARA – Jembatan yang menghubungkan akses ke lokasi galian C di kali talang Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang Jepara, dirusak warga sekitar, Rabu (29/7/2015). Hal itu dilakukan warga karena kesal lantaran aktifitas pertambangan di lokasi tersebut tak kunjung usai, padahal sudah diperingatkan.

Salah seorang warga setempat, Sunarta mengatakan, ratusan warga menggeruduk lokasi galian C itu. Mereka menuntut aktifitas galian C distop lantaran sudah merusak lingkungan. ”Tadi pagi ratusan warga menggeruduk lokasi ini. Bahkan, mereka merusak jembatan satu-satunya yang digunakan akses jalan bagi truk pengangkut hasil tambang,” ujar Sunarta kepada MuriaNewsCom, Rabu (29/7/2015).

Menurutnya, selain merusak jembatan, warga juga nyaris merusak alat berat yang digunakan untuk aktifitas penambagan itu. Warga desa setempat terutama yang tinggal di kawasan aktifitas tambang itu sudah beberapa kali mengadu ke pihak berwajib dan pemerintah. Namun tidak ada respon yang baik. ”Warga sudah beberapa kali lapor, tapi tidak ada tindak lanjut,” katanya. (WAHYU KZ/TITIS W)