Pengangkatan Fosil Gajah Purba di Banjarejo Grobogan Ditunda, Ini Alasannya

Tim ahli purbakala masih melakukan proses pembuatan replika fosil hewan purba di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Rencana pengangkatan fosil gajah purba dari lokasi penemuan di Dusun Kuwojo, Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan, mundur pelaksanaannya.

Sedianya, pengangkatan fosil akan dilangsungkan pada pekan ini. Namun, jadwal terbaru, pelaksanaannya bakal dilakukan akhir Agustus mendatang.

“Ya, ada sedikit perubahan jadwal masalah pengangkatan fosilnya. Nanti, kita lakukan akhir bulan pelaksanaannya,” ungkap Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Sukronedi, saat berkunjung ke lokasi penemuan fosil gajah purba di Banjarejo, Rabu (16/8/2017).

Menurut Sukron, mundurnya jadwal pengangkatan fosil disebabkan proses pencetakan replika fosil hewan purba di lokasi penemuan belum selesai. Sesuai rencana, pembuatan replika hanya ditenggat selesai 10 hari, dari tanggal 8-18 Agustus 2017.

Namun, dari pengecekan ke lapangan, waktu 10 hari itu dirasakan belum cukup. Akhirnya, waktu pembuatan replika ditambah lagi 10 hari hingga 28 Agustus 2017.

Dijelaskan, perpanjangan waktu 10 hari itu bukan disebabkan adanya hambatan. Tetapi, hal itu dikarenakan jumlah fosil yang ada di lokasi ternyata tambah banyak. Terlebih setelah muncul fosil-fosil sepesies hewan baru di dekat fosil elephas yang ditemukan lebih awal.

“Jadi, dengan banyak fosil itu tidak cukup kalau pembuatan replika dikerjakan 10 hari saja. Makanya, kita tambah lagi waktunya agar semua fosil bisa dibuat replikanya dan hasilnya lebih sempurna,” jelasnya.

Sukron menyatakan, setelah waktu pembuatan replika rampung, baru dilakukan pengangkatan dan penyelamatan semua fosil dari lokasi untuk direkonstruksi. Rencananya, setelah diangkat, semua fosil akan ditempatkan sementara di rumah Kades Banjarejo Ahmad Taufik.

Setelah fosil selesai diangkat, hasil pembuatan replika akan ditaruh di lokasi dengan posisi persis seperti aslinya.

Editor : Ali Muntoha

Rekonstruksi Temuan Gading Gajah Purba Grobogan Kedua Hampir Kelar

upload jam 10 fosil (e)

Tim ahli BPSMP Sangiran sedang melakukan proses rekonstruksi gading gajah purba yang ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus. (istimewa)

 

MuriaNewsCom, Grobogan – Proses rekonstruksi temuan benda purbakala berupa gading gajah dalam waktu dekat akan segera selesai. Hal itu dikabarkan langsung oleh Kepala Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus Ahmad Taufik.

“Beberapa hari lalu, proses rekonstruksinya sudah mencapai 75 persen. Mungkin dalam beberapa hari lagi sudah selesai dan bisa disatukan seperti aslinya. Proses rekonstruksi ini dilakukan di Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran,” ungkapnya.

Gading yang direkonstruksi ini ditemukan tim ahli BPSMP Sangiran saat melakukan observasi lapangan, Selasa (22/3/2016) di Desa Banjarejo. Gading itu ditemukan di kebun jati di sebelah utara Dusun Barak. Fosil itu ditemukan pada kedalaman sekitar 1,5 meter pada longsoran tanah di pinggiran kebun jati tersebut.

“Tanah di pinggiran kebun berbatasan dengan parit sempat longsor ketika hujan turun. Saat coba digali pada sore hari setelah hujan, berhasil ketemu fosil gading gajah purba. Kebetulan saya ikut mendampingi tim dari BPSMP saat observasi lapangan,” kata Taufik.

Meski kondisinya terlihat cukup bagus, namun setelah diteliti lebih lanjut, fosil gading purba itu patah jadi 10 bagian. Patahnya fosil ini bukan karena terkena peralatan saat melakukan penggalian. Tetapi, kemungkinan karena lokasinya cukup dangkal sehingga barangnya mudah lapuk.

Masih dikatakan Taufik, pada November 2015 lalu juga ada penemuan gading purba berusia sekitar 1 juta tahun di pekarangan warga yang ada di Dusun Peting. Meski berhasil diangkat dari dalam tanah, namun fosil gading gajah purba itu juga tidak bisa utuh. Tetapi mengalami patah-patah hingga jadi 13 potong atau bagian.

“Saat melakukan penelitian di Banjarejo pertengahan hingga akhir Maret lalu, temuan gading purba yang pertama sudah berhasil direkonstruksi. Sementara temuan gading kedua belum bisa direkonstruksi karena waktu penelitian sudah selesai. Akhirnya, gading itu dibawa ke Sangiran untuk direkonstruksi,” jelasnya.

Ukuran dua gading purba yang ditemukan dalam waktu dan lokasi berlainan ini hampir sama. Panjangnya sekitar 2 meter. Kemudian, lebar pangkal gading sekitar 15 cm dan di bagian ujungnya 7 cm.

“Kalau rekonstruksinya selesai dan dikirim kesini, kita akan punya sepasang gading gajah purba. Ini, tentunya akan menambah daya tarik pengunjung,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

Warga Berharap Ada Tugu Identitas Gajah Purba di Desa Medalem Blora

Jpeg

Setyo Pujiono, Kepala Seksi Sejarah Kepurbakalaan DPPKKI Blora. (MuriaNewsCom/Rifqi Gozali)

 

MuriaNewsCom, Blora – Fosil gajah purba yang beberapa kali ditemukan di Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Blora, membuat warga desa setempat mengingingkan adanya bangunan tugu gajah purba sebagai idenditas atau maskot.

“Warga berharap di desa tersebut didirikan tugu yang menunjukkan kalau daerah tersebut kerap ditemukan fosil binatang purba. Tugunya menunjukkan, jika Medalem merupakan desa gajah purba,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Kabupaten Blora Slamet Pamuji melalui Setyo Pujiono, Kepala Seksi Sejarah Kepurbakalaan kepada MuriaNewsCom (05/4/2016).

Dijelaskannya, seperti sejumlah desa atau kelurahan lainnya yang sudah memiliki identitas, maka di wilayah tersebut perlu juga dibangun tugu sebagai maskot desa tersebut.

“Saya kira itu perlu juga. Contohnya di Kelurahan Kedunjenar yang terdapat gapura dengan tulisan Kedung Jenar Sentra Industri Keripik Tempe.Demikian juga di Desa Medalem, perlu ada tugu berkaitan dengan temuan fosil, ” ujarnya.

Dalam catatan dan hasil penelitian, menurutnya, di wilayah tersebut sudah empat kali ditemukan fosil gajah purba. Salah satunya di Dusun Sungon, Desa Medalem, yang ditemukan fosil gajah purba yang diperkirakan usianya sudah 200 ribu tahun. Tingginya mencapai lima meter dan berat 10 ton. Fosil gajah tersebut merupakan fosil temuan yang terbesar dan terlengkap di Indonesia.

Terakhir, fosil gading gajah purba yakni ditemukan oleh Panidi (40) dan Suwito (42) ketika menambang pasir. Lokasi diketemukannya lebih kurang 470 meter dari tepi sungai Bengawan Solo dengan kedalaman sekitar 2 meter.

Editor : Kholistiono